Wednesday, December 21, 2011

Proyek 1000 Haiku, Desember 2011

::
bulan, O, bulan
jangan dulu, janganlah
berlalu pergi

(0224/2011)
*
tak datang bulan
si dara di beranda
merenda sepi

(0223/2011)
*
candra purnama
bunga wangi membuka
seputih doa

(0222/2011)
*
terang purnama
si penjual martabak
menanti lingsir

(0221/2011)
*
jangan diciduk—
mengandung bulan
air tempayan

(0220/2011)
*
baju lembab oleh kabut
lebih lekat ia memeluk
mencari hangat

(0219/2011)
*
terlalu larut bermimpi—
rumput liar juga
panjangnya bertepi

(0218/2011)
*
niat baik ditampik—
biarkan rimbun bunga
sembunyikan gembur tanahnya

(0217/2011)
*
harapan ditertawai—
ku sandarkan lesu
di bawah rindang pohon

(0216/2011)
*
perjalanan berliku mendaki—
sendiri saja,
beban pun ringan

(0215/2011)
*
perjalanan nan panjang—
semoga dapat menatap wajahmu,
kembali padamu

(0214/2011)
*

catatan: no. 0213-0186 sedang dalam proses editorial penerbitan sehingga belum dapat diumumkan

*
kicau yang berbeda;
angin, pada dahan lain mana kini
burung kemarin hinggap memainkan nada?

(0185/2011)
*
memetik sebiji jambu
turut berluruhan: bulir-bulir
sisa embun

(0184/2011)
*
paras dwi-matra
tanganku tak kuasa
mengenangmu

(0183/2011)
*
matamata kita
bersitatap melintas ruang;
mauku kautau

(0182/2011)
*
bulan sabit
berkilauan punggung ikan
di kelam kolam

(0181/2011)
*
bulan sabit
tumpukan padi
habis panen

(0180/2011)
*
dangdut mendayu
berapa lagu lagi didendangkan
bertaut bebulu mata?

(0179/2011)
*
bilah-bilah bintang
membelahi bulan merah
berkilatan gelombang

(0178/2011)
*
tanpa benar-salah...
semut-semut menghambur dari liang
merubungi cecak buntung

(0177/2011)
*
ranting telanjang
tanpa dedaun dan bunga
namun berbuahkan bulan

(0176/2011)
*
belukar kabut pagi
pada setangkup roti bakar saya
terperangkap kuning surya

(0175/2011)
*
bunga disunting
sisa bintang turut terhambur
dalam luruhan embun

(0174/2011)
*
pohon tumbang melintang
akarnya kiri dikebiri selokan
kanan disunat galian

(0173/2011)
*
riang pasar sore
dangdut dan shalawat
sahut-menyahut

(0172/2011)
*
berpose sopan dengan
mahkota cahaya para santo:
politikus hedon

(0171/2011)
*
sosok tubuhmu
rimbun rumpun bambu
berdesik dalam angin

(0170/2011)
*
sembari mengendarai motor
perempuan itu merapikan
tepi kerudungnya

(0169/2011)
*
genangan air di mana-mana:
sampeyan sudah sampai di Venesia,
dengan sampan dan pengamen

(0168/2011)
*
bibir tipis mengerucut
hidung runcing menjulang: pengemis tua
meludahi hari sepi

(0167/2011)
*
perempuan tertidur pulas
bersandar pada bahu kursi dekat jendela;
purnama menyepuh wajahnya

(0166/2011)
*
bulan purnama
katak di tepi sumur dangkal
mengerjapkan matanya

(0165/2011)
*
sinar terakhir surya
sebelum terbenam, pamit menimpa
rimbun soka

(0164/2011)
*
bakal berudu dalam cerek,
lima bangkai lalat di dasar mangkuk:
tangguh perut rakyat cilik

(0163/2011)
*
hutan nipah menjulang sepi
sepanjang tepi sungai mengalir kelam
sang dara mencari saudaranya

(0162/2011)
*
pantai tujuh kilo ke utara—
parfum beraroma laut disemburkannya
mendeburkan debar dada

(0161/2011)
*
arus dari arah pulaumu
singgahkah ia lebih dulu, mengelus
betis dan telapakmu?

(0160/2011)
*
lampu padam
sejenak napas pun
tertahan

(0159/2011)
*
listrik padam—
tuk temukan lampu darurat,
sibuk mencari korek api

(0158/2011)
*
lampu padam
menderu masuk angin
dari pintu terbuka

(0157/2011)
*
mendung berhari
tak kukeluhkan bila teringat
terik kemarau

(0156/2011)
*
musim genangan air
kaki berkerut lebih renta
dari wajahku

(0155/2011)
*
deru angin, celetar halilintar,
seru seram meluncur bersusulan:
mulut berbuih tabib jalanan

(0154/2011)
*
berkerut-kerak menua
pangkal kaktus namun pucuknya
terus bercabang-bunga

(0153/2011)
*
pohon nyaris rubuh
sebatang dahannya bertahan
mencabang hijau

(0152/2011)
*
sendal jepit biru
lama tergeletak di bawah kursi
tanpa sepasang kaki

(0151/2011)
*
merah merona senja
truk sampah bak terbuka
turut serta mewarnai

(0150/2011)
*
dua nenek renta
di teras duduk bercakap--
senja akhir tahun

(0149/2011)
*

Sunday, December 11, 2011

R.I.P: Sondang

telah lelah mengutuki
gelap bebal dinding batu
ia memilih menyalakan lilin
batang tubuhnya sendiri

namun nun, di balik tirai balkon
seorang pria malah bertanya manja:
bukankah ulang tahun Papa
tak jatuh di bulan ini, Mama?

Monday, October 31, 2011

Proyek 1000 Haiku, November/Desember 2011

::
trotoar dibongkar
pejalan dan pohonan nyingkir
bagi mobil parkir

(0148/2011)
*
genangan banjir
pagar dan sempadan
tak dibedakan

(0147/2011)
*
radio transistor
hangat benderang malam
meski listrik padam

(0146/2011)
*
cincin safir biru
matanya menyimpan tatapan bapak
kini asyik kupandangi

(0145/2011)
*
semalaman sesat terkurung
dalam kamar, pagi ini kembali
capung berisik ingin ke luar

(0144/2011)
*
bau busuk di setiap sudut;
mungkin harus rajin saya
membasuh hidung sendiri

(0143/2011)
*
serangga betah duduk
di gundukan kotoran sendiri--
nikmatnya berkuasa

(0142/2011)
*
berdiri canggung
segugus rumah mewah
dikepung kampung

(0141/2011)
*
sapa-menyapa
sebelum lenyap dalam kabut:
asap rokok dan ruap kopi

(0140/2011)
*
si batu api tergeletak
di tepi jalan aspal basah―
betapa sepinya

(0139/2011)
*
penari bergaun merah
berdandan meriah; jemarinya
runcing menjabat dingin

(0138/2011)
*
lepas dari dentam
musik malam, debur ombak
melebur kelam sukma

(0137/2011)
*
seekor kecoak berlari
mencari tempat yang tepat
menelentang mati

(0136/2011)
*
riuh klakson bersahutan
sayup di latar jauh
burung-burung berkicauan

(0135/2011)
*
menghambur gugur
dalam baluran kabut sore
bunga-bunga bungur

(0134/2011)
*
serakan puing benteng tua
lengking pekik burung
menghunjami bebatuan

(0133/2011)
*
serakan puing benteng tua
kelebat burung-burung senja
menutupi jejak surya

(0132/2011)
*
pohon akasia
bunga-bunga kuningnya
lebur dalam cahaya surya

(0131/2011)
*
oleh hembusan angin
debu merasuk rabu―
jejak raga siapa?

(0130/2011)
*
lebih rendah dan muda
hijaunya, pohon tanjung terlindung
dilingkungi kakak akasia

(0129/2011)
*
tak membedakan
penjaga dan penjaja malam
bulan purnama

(0127/11-2011)
*
purnama kini meninggi
tangkas tingkah penjual martabak
seiring lengking lagu hindi

(0126/11-2011)
*
di atas fly-over
berpasangan singgah berkencan
memandang sungai jalan raya

(0125/11-2011)
*
kemurahan hati
gubuk kumuh, istana si kaya
sama dilimpahi cahaya purnama

(0124/11-2011)
*
jajaran nisan
limpahan cahaya
ditumpahkan purnama

(0123/11-2011)
*
tenteramlah para rangka
malam ini purnama
mengilap seputih tulang

(0122/11-2011)
*
keindahan terlontar
dari getar jemari entah
hanya lantaran

(0121/11-2011)
*
pertempuran malam usai
berserakan bangkai nyamuk
ular hijau mengabu

(0120/11-2011)
*
jam lima sore
dan wanita pekerja ini
masih berwangi pagi

(0119/11-2011)
*
ruang pamer teknologi
menyilangkan kaki kedinginan
wiraniaga berok minim

(0118/11-2011)
*
disepak yang empunya rumah
mengangkat kepala, memicingkan mata
kucing kuning gempal melenggang

(0117/11-2011)
*
terbaring di pinggir jalan
si gila ini masih juga sempat
menikmati gemintang

(0116/11-2011)
*
tanah mengurai dedaunan
akankah kulihat wajahmu kembali
di musim semi mendatang?

(0115/11-2011)
*
becak perlahan menjalani senja
sepasang opa dan oma
duduk berpegangan tangan

(0114/11-2011)
*
embah mungil ringkih
si cucu bertubuh tambun
beriringan dari sekolah

(0113/11-2011)
*
gelisah dikisahkan
lewat igauan resahnya
gerimis semalaman

(0112/11-2011)
*
tergeletak basah
selembar sarung lusuh
pagi trotoar jalan

(0111/11-2011)
*
hanya celah rekahan
di dinding parit kering
merambat rumputan

(0110/11-2011)
*
nyaring kicauan
kilau kilap kaca jendela
menguapkan mimpi

(0109/11-2011)
*
kerut jemari tua
mencengkeram erat kehangatan
cangkir teh porselen

(0108/11-2011)
*
tempat kembali
tanpa tembok dan gembok
kembara termangu

(0107/11-2011)
*
gemulai tarian jemari:
merupa aksara mengalir makna
gerak raga rasa bersama

(0106/11-2011)
*
ketuk tunggal-nada
pada papan ketik: bayi terlahir
di layar kaca cair

(0105/11-2011)
*
terbangun oleh kicauan
meluncuri batang krisantenum
embun pagi

(0104/11-2011)
*
burung-burung bangau
gugusan awan cemerlang
peziarah gurun air mata

(0103/11-2011)
*
burung baru bangun
pun sisa kabut: masih ingin
berpeluk ranting pagi

(0102/11-2011)
*
kupu tanpa kepak,
mawar yang tawar: aman abadi
dalam kotak kaca

(0100/11-2011)
*
tanggal di hari mendung
kuning sehelai daun mangga
alangkah cemerlang!

(0099/11-2011)
*
kupu-kupu,
selain dari taman tangkar ini,
nun, lembah dan rimba...

(0098/11-2011)
::
Hg::
::

Friday, September 30, 2011

Proyek1000Hg, Oktober 2011

Prolog: para penikmat haiku (sajak klasik Jepang yang ringkas) mengenal nama Matsuo Munefusa 'Basho' dan Kobayashi Yataro 'Issa' sebagai dua master haiku awal, di samping beberapa nama lainnya <'Basho' dan 'Issa' sebenarnya nama pena/haigo dari pembuat haiku/haijin. 'Basho' adalah 'pohon pisang' sedangkan 'Issa', 'cangkir teh'>. Menurut para peneliti dan penulis biografi mereka, Basho mewariskan sekitar 1.000 haiku sedangkan Issa mencapai lebih dari 20.000! Sebagai penikmat dan pembuat haiku ala-Indonesia, untuk memotivasi dan melatih diri sendiri, mulai dari tanggal 30 September 2011 di rumah saya, di Makassar, saya mencanangkan proyek pribadi: Proyek1000Hg. Mudah-mudahan bisa menghasilkan 1.000 haiku baru dalam setahun ke depan. Bismillah...

::
tak silau dan tak hirau--
tuk dunia seonggok bangkai cacat
enggan hati turut bertikai

(0097/2011)
*
melintasi genangan air
gadis berok mini masih juga
sedikit mengangkat tepi kainnya

(0096/2011)
*
takut terantuk
pria itu ikut merunduk
meski tak jangkung

(0095/2011)
*
bening kicau burung
meyakinkan pagi
walau tak bermentari

(0094/2011)
*
melati di arus parit
akankah terus hanyut hingga muara
menemu laut, bahkan samudera?

(0093/2011)
*
pohon manggamu, Bapak
mengering dari akar ke puncak
bersama engkau pergi

(0092/2011)
*
kata-kata bapakku
fasih kini kuucapkan
kepada keponakan

(0091/2011)
*
sesampai di lereng ini
apa yang nampak di mataku kini
telah kau pandangi dahulu

(0090/2011)
*
sayapmu cemerlang baru
jangan sampai kuyup lekat
ya, capung berpayung daun

(0089/2011)
*
capung kecil berteduh
adakah sejam hujan, bagimu
terasa bagai sehari lamanya?

(0088/2011)
*
kelopak melati
di hitam selokan kering
tanggal berserakan

(0087/2011)
*
menyeruak kelam tanah
tudung jamur
dengan kilau pagi

(0086/2011)
*
hujan yang turun
di musim penghujan, juga bukti
sukses pimpinan kami

(0085/2011)
*
‘kita menempuh cuaca buruk’—
kukencangkan ikat pinggang, kembali
terkantuk diayun awan

(0084/2011)
*
rumah tua nan usang
bunga-bunga merah jambu
berseri di halamannya

(0083/2011)
*
guruh mengguncang langit
sejenak senyap lalu setetes hujan
jatuh dan setetes lagi

(0082/2011)
*
kelepak kepak elang
kembang mekar berpusing
jatuh disunting angin

(0081/2011)
*
temaram senyap taman
rindang pohon-pohon tua
gerimis mengarsir senja

(0080/2011)
*
sayup tahlil dan salawat
sampai bergetar angin malam
menyampaikan sayupnya

(0079/2011)
*
sudut sepi perpustakaan
ternyata juga bisa menyakitkan
saat melewatinya, sendirian

(0078/2011)
*
nyaring denting sendok
nyaris pecahkan mangkuk bakso
di sunyi malam gerimis

(0077/2011)
*
kuning akasia, merah ki hujan
di halaman parkir
mekar bersandingan, tak saling maki

(0076/2011)
*
hanya setapak daun
cukuplah lapang bagi si capung
bernaung di kuyup hari

(0075/2011)
*
dua bulir sisa hujan di pucuk daun--
si capung yang hinggap
mungkin ingin berganti kaca mata

(0074/2011)
*
gemerlap jembatan ampera
meskipun gelap bisu, di bawahnya
kutahu musi masih mengalir

(0073/2011)
*
hujan yang ditunggu, berguguran
akhirnya--sungguh,
sehari dua, tak kan kami mengeluh

(0072/2011)
*
menyergap kelam hari
berluruhan bunga akasia
disentakkan angin

(0071/2011)
*
paku di sekujur batang
ki hujan tegar
tugur di sepanjang tahun

(0070/2011)

*
jejak surya tenggelam
dalam abu pembakaran sampah
masih tersimpan putih

(0069/2011)

*
mekar bibirmu, dara, dan
sungguh ranum dadamu--namun takzim
kau cium punggung tanganku...

(0068/2011)
*
cuma selapis tipis debu
di tepi gaunmu, tepislah lembut
bila ingin melupakanku

(0067/2011)
*
hilir mudik berpesta malam
putra-putri taipan; gelandangan gila
ngelindur di tepi jalan

(0066/2011)
*
si bos pesolek gemar berpose
para kaki tangan sibuk
memoles rupa di spa dan salon

(0065/2011)
*
tampilan eksklusif di baliho
tegak menampak
disokong bambu dan rafia

(0064/2011)
*
pas foto selebar layar tancap
rebah tiarap
di hari hujan berangin

(0063/2011)
*
pas foto selebar layar tancap
tempat yang pas
pengemis jalanan duduk bernaung

(0062/2011)
*
berseri ceria hijaunya
dalam hujan maupun terik hari
pohon kolbanda

(0061/2011)
*
terhalang tepi tenda pengantinan
hanya paha betis si artis nampak bergoyang
‘dibelah bang, dibelah...’

(0060/2011)

*
sang abid berdahi memar
turnera subulata
cemerlang di gerbang pagi

(0059/2011)
*
tak bersembunyi
dari matahari
embun di ujung daun

(0058/2011)
*
sarang lelaba
terjalin di dahan berhias embun
bumi Tuhan, dunia insan

(0057/2011)
*
hanya setitik embun
dunia manusia
meneteskan air mataku

(0056/2011)
*
lebih tua dari Shiki
apa lagi Chairil
hampa terhampar, kertasku

(0055/2011)
*
datang dan pergi
angin
menyajikan wangi akasia

(0054/2011)
*
prospektus dan brosur terbabar
di meja—dedaun
berguguran dalam cahya senja

rev:
prospektus dan brosur terbabar
di meja—dedaun gugur
bertebaran dalam cahya senja

(0053/2011)
*
silang sengkarut
dahan ranting pohonan:
purnama sesat dan nyangkut

(0052/2011)
*
melantun dari menara
tilawah sendu
meraung lari, sepeda motor

(0051/2011)
*
di bawah lampu neon
sayur melayu
pun nampak merayu

(0050/2011)
*
pos penjagaan depan markas
pak polisi bersin
kembali posisi siap bersiaga

(0049/2011)
*
di antara jajaran rak belanjaan--
pemerah pipi dan bibir si pramuniaga
tetap menyala; tapi matanya...

(0048/2011)
*
meskipun alisnya dipertautkan kerut
hingga jam tiga jumat sore
kemeja si bankir selicin habis disetrika

(0047/2011)
*
di tengah semarak mekar bebungaan
terkenang taman lama
semerbaknya, merebakkan air mata

(0046/2011)
*
gedung bongkaran sengketa:
hanya purnama
leluasa menyinari tetiang puingnya

(0045/2011)
*
ngumpet di balik pajangan busana trendi
pramuniaga berok mini
menyantap mi instan siang ini

(0044/2011)
*
dinyalakannya tivi
hanya karena tak lagi kuasa
menahan senja sunyi

(0043/2011)
*
ujung jalan hanya lengang
ia berpaling sekali lagi
sebelum menutup pintu

(0042/2011)
*
diselipkan lewat celah pintu
hanya seberkas dingin
kabarmu ingin benar kutahu

(0041/2011)
*
menderu angin
dedaunan apa sajakah
turut dibawanya?

(0040/2011)
*
hujan pertama senja hari—
betapa lama
tiba menyapa, dambaan hati

(0039/2011)
*
gemerlapnya lelampu kota--
tak dapat membaca gemintang
juga guratan di tapak tangan

(0038/2011)
*
dibentuk oleh angin, dibekukan waktu
pohon kayu meliuk
dengan reranting terentang

(0037/2011)
*
tanpa kekaguman ataupun kasihan
ulat menggali liang
ke jantung ranum apel

(0036/2011)
*
Memucat-putih semangka
di kios tepi jalan
menunggu giliran terbeli

(0035/2011)
*
semburat merah jambu
di putih kelopak cempaka—amboi
pemalunya dara di anak tangga

(0034/2011)
*
gulita kota oleh listrik padam
bulan yang purnama
lebih besar dan terang dari biasanya

(0033/2011)
*
lelampu jalan, aksara neon dan papan iklan
membutakan mataku
akan bintang-bintang berkilauan

(0032/2011)
*
tepi redup cahaya lampu jalan
kini batas cakrawala
sepasang burung ketinggalan

(0031/2011)
*
telah raib merah dari magrib
di atas lampu jalan
dua burung terbang berputaran

(0030/2011)
*
kepak tanpa kicau
terdengar seiring jalan
harum guguran bungur

0029/2011
*
setapak ke puncak
licin berlumut--dan kabut
merimba rimbunnya

0028/2011
*
seciduk bening telaga--
sejak kapan ya capung itu
di kelopak padma

0027/2011
*
telaga yang lama
kusinggahi lagi, hijau teduhnya
tetaplah sama

0026/2011
*
duduk ngangkang di becak
si abang ngaso
dengan ponsel bervideo

0025/2011
*
berkilauan bilah paha
sang nasabah kaya;
juru parkir, menelan ludah

0024/2011
*
di pekuburan, bagi orang-orang mati
pohon-pohon
boleh tumbuh merindang

0023/2011
*
tak ada lagi ratapi perang--
betapa rapi bunga-bunga rumput
nutupi kerak darah kering

0022/2011
*
seluruh embun
terpejam pulas segala mata
tenteram pula, debu jalan

0021/2011
*
lenggok lekuk penari legong
di halaman tetangga
pohon mangga

0020/2011
*
telat bangun bersubuh
sampai jam sebeginipun
Engkau tetap Tuhan yang kutahu

0019/2011
*
kepik kepinding penghuni kasur tua
ku tabik harus tidur
sesukamulah terus asyik bersuka

0018/2011
*
ceriut burung malam
akan pejam kedua mataku
merekapun saling bersalaman

0017/2011
*
lenalah pensil, pulaslah kertas
esok pagi lagi ya
jalan mencari hutan kayu

0016/2011
*
rimbun di tepi jalan kotaku
serumpun bambu
Gunung Wudan, nun di selatan

0015/2011
*
pukul dua dini hari
namun haiku-haiku dari hatiku
menarik jemari menari

0014/2011
*
santapan sengaja disimpankan
habiskan, demi mereka
mungkin tadi masih menginginkan

0013/2011
*
coklat sate dan kari
tak terlihat lagi
jejak hijau padang rumput

0012/2011
*
jambonnya tersesap tuntas
jadi sepia
kembang kertas setipis itu

0011/2011
*
ku kan ke luar
dinginkan dirimu
ya, kipas anginku

0010/2011
*
‘mama, merah ini mata
cuma kerna debu kemarau’
tersenyum mahfum, Bunda

0009/2011
*
lunglai melayu kembang
tak sengaja...
erat hangat genggamanku

0008/2011
*
hanya semusim bunga
keindahan itupun
berlalu dari pelukan

0007/2011
*
benderang neon komidi putar
ramai tenda judi dadu
di seberang kuburan kampung

0006/2011
*
‘aaassalaamu aleikumm’
kian panjang dan nyaring sesiang ini
pengemis di luar pagar

0005/2011
*
‘banyak rezeki, panjang umur, Nona’
merogoh cari recehan
serba salah oleh sebab doa

0004/2011
*
jendela lebar restoran
para pengemis cilik
serius menilik calon mangsa

0003/2011
*
tempatnya lumayan nyaman
dan cukup ramai
pengemis ambil posisi

0002/2011
*
seribu haiku dari Basho
dua puluh, Issa
si bodoh inipun sok meniru

0001/2011
::

Thursday, September 29, 2011

HAIKU-HAIKU MUSIM HUJAN

10.
kelabu gelap pantai
dikejar lidah ombak, kepiting tertinggal
berlari menuju liang

9.
dalam kabut derai hujan
beraneka warna
payung mengembang, mengambang

8.
tanah kering perlahan basah
di siang berubah mendung
pejalan riang bersenandung

7.
dengkung doa kodok--
kian dermawan
langit menumpahkan hujan

6.
banjir kecil--
meja makan, kain sarung:
sang kapten arungi samudera

5.
gelegar guruh sebelum hujan;
telaga tua
mengerjap lega

4.
ditimpa hujan runtuh
pori-poriku dan sumur
sama memekik riang

3.
luruh hujan pertama;
menggeliat bangun
sungai mati

2.
dedaun dipotongi buat payung:
pokok pohon pisang, bagai lilin
menggigil dingin dalam hujan

1.
cacing di ambang pintu:
tamu pertama
bersama banjir kecil

DUA HAIKU MEMANDANG KOTA DARI ATAS OJEK

1. (malam)

lanskap rekayasa cahaya
akan padam
bahkan sebelum pagi

2. (siang)

jalanan macet, terik, dan hiruk
di papan pamer
tetap menyeringai: pengincar kuasa

Monday, September 12, 2011

BAHAYA SASTRA

Lebih memperdaya dari wanita, harta dan tahta
adalah rayuan nikmat kata indah nan tertata.
Po Chu I dan Kamo no Chomei pun tak berdaya
apatah lagi pria malang ini yang hanya saya!
::
Hg::
::

---------------------------------------------------------------------------------
Keterangan:
Po Chu I (772 - 846) adalah salah seorang penyair besar Cina Klasik. Pernah menjadi pegawai Kekaisaran Cina, namun beberapa kali ia pernah diasingkan dari negerinya karena terang-terangan mengkritik kebijakan penguasa di masanya. Adapun Kamo No Chomei (1155?-1216) adalah penulis syair waka dan petapa Jepang. Jenuh oleh kedudukan dalam istana, ia memutuskan mengabaikan kehidupan duniawi dan meninggalkan ibu kota kekaisaran. Namun demikian, dalam kesendiriannya ia terus menulis dan membaca sajak-sajak. Pada masa akhir hidupnya ia menulis esai tentang sajak, Mumyosho.

Kedua penyair yang dididik dalam tradisi Budhis ini mengakui, meskipun telah memahami doktrin ilusi dan kehampaan dalam ajaran Budha, mereka tetap tak dapat menahan diri untuk menulis sajak-sajak.

Dalam tradisi Islam, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) seorang mahaguru sufi yanng menganut mahzab sunni-hanafiah dan taat kepada syariat, juga mengakui bahwa sebenarnya ia tidak begitu menghargai sajak-sajak. Namun ketika keadaan ekstasi mistis meliputinya, ia akan menari berputar-putar sembari membacakan sajak-sajaknya, yang dicatat oleh para muridnya. Ulama besar ini mewariskan kepada dunia, antara lain, dua kumpulan sajak Matsnawi (isinya 26.000 sajak) dan Diwan (terdiri dari lebih 35.000 bait sajak).

Saturday, September 10, 2011

HAIKU-HAIKU JALAN RAYA

1.
sang empu puas menilik karya
di tepian jalan raya
tukang pelat nomor kendaraan

2.
kembang kertas berduri
mekar menyala
di batas jalan raya

3.
gemuruh geram air bah
siap melanda—
lampu merah perempatan

4.
“tak berhak berbahagia”—
di pelataran toko
terkapar dihajar impian

5.
berjajar jajakan badan
para banci
depan pekuburan umum

6.
supir sangar asal tenggara
turut berdendang dian piesesha
anak lelap di pangkuannya

Friday, September 02, 2011

HAIKU-HAIKU PESISIR


1.
semakin dalam dan jauh
udang dan ikan; menjemput lampau:
Pulau Barrallompo

2.
bukan akar bakau,
goyah mencekau pantai:
kaki tetiang rumah

3.
empat belas ratus tahun
—lebih abadi dari si kura-kura—
hamparan sampah plastik

4.
bukan turis
bukan pula ikan duyung
penyelam lumpuh, dijemur terik

5.
dara di pesisir pulau—
lelampu kota, gemerlap menyihir
arus, rakus mengikis pantai

6.
disengat deduri matahari
dijilati tajam lidah laut
mengempis pulau

7.
padat oleng pulau
diombang gelombang, disenggol arus
--nganga rahang kota

Tuesday, August 30, 2011

HAIKU-HAIKU HARI LEBARAN,2


1.
meluncur takbir
dari langit, hinggap di bibir
tergelincir ke hati

2.
selepas takbir
betapa senyap tak bertepi
kelapangan hati

3.
selepas puasa
betapa luas terasa
Rumah Tuhan

4.
menyimak takbir
merebak air matanya:
janda tua

5.
kuhaturkan terima kasih--
tetapi bunga-bunga putihpun
berluruhan tanpa ampun

HAIKU-HAIKU HARI LEBARAN

1.
mereguk kopi, fanta:
masa kiniku merengkuh
masa kanakku rindu

2.
bocah berseri parasnya:
kue di tangan, permen dikulum
dan amplop dalam saku

3.
menziarahi bapak:
sebelum menerima tetamu
temui ia nan tak mati

4.
Keningnya basah
bekas basuhan; setitik air
di lentik bulu mata--
di antara ramai tetamu Rumah Tuhan
segera punggungnya, aku kehilangan.

HAIKU MALAM LEBARAN


kesekian malam takbiran--
sumbat batu di kerongkongan
kabut gerimis pada mata

Sunday, August 28, 2011

HAIKU-HAIKU LEBARAN


1.
setumpuk salju di jendela--
takbir dan bedug bertalu
dari pemutar mp3

2.
pagi hari raya
baju tahun kemarin
terasa lebih lega

3.
jubah cahaya
dibasuh sungai air mata
hiasan hari raya

4.
pun saling berampunan:
meski tak kenal,
tanpa ada kesalahan

5.
sehalnya orang-orang,
rumah-rumah
berbaju baru juga

KUATRIN MINGGU MALAM


Pada minggu malam, malam termurung
gemerlap kota redup kehilangan tenung.
Wahai, pelancong, tugas belum selesai
waktu berleha, sayang telah usai!


EMPAT TANKA


1.
Lupa perang lalu,
sekarang kita bercinta
mesra dan syahdu--
tanpa perlu lama menunggu
ribuan tahun berevolusi.

2.
Kepala ban mundur
dua titik: susut kusantap
isi badan sendiri--
makan buah jantung pada dada
minum telaga darah di hati.

3.
Ke mana gerangan
mengembara dalam angin
cinta yang kemarin?
Fajar yang janji pagi berbinar
ditelan kelam berkabut dingin!

4.
Tak terduga berjumpa
tergagap ia
menanya kabar cerita:
perempuan yang lama dikenalnya
tampak bercahaya kala hamil muda.

Thursday, August 25, 2011

DUA HAIKU, DUA TANKA

*
Cincin rembulan,
bening langit kemarau:
malam pengantin.
*
Betapa pekat malam—
menunggangi arus ke hilir,
halus semilir angin.
*
Di bawah purnama,
kubasuh bajuku nan lusuh;
berkilauan arus buih—
menghamburkan harum ke udara,
pohon kenanga di puncak bunga.
*
Bunga-bunga menari
meliuk, berpusing, mabuk
dalam hembusnya angin:
runduk terkulai melayu akhirnya
tersungging senyum, disunting musim
::
Hg::
::

Thursday, August 18, 2011

3 SAJAK 5 LARIK SEUNTAI

Berdirilah tegak
di belakang Sang Nabi
mengikuti jejak tapak:
kecintaan kepada keluarganya,
penghormatan kepada sahabatnya.

Terbanglah tinggi
ke hadirat Rabb segala alam
dengan kedua sayap di sisi:
hati yang membara oleh hasrat,
akal yang menyala oleh makrifat.

Diamlah tenteram
setelah jauh perjalanan
dalam dua surga hijau kelam:
taman kebahagiaan tanpa hingga,
sirna dalam tatapan Cinta.

Monday, August 15, 2011

TIGA HAIKU



1.
Siapakah semalaman
Mencuci dan mengilapkan
Daun dan dahan?

2.
Tak hadiri undangan berbuka--
Teh hangat,
Wajah berseri Ibunda

3.
Di lantai 14 apartemen,
Lebih dekat ke awan; adakah mimpimu
pun lebih menawan, Teman?

TANKA-TANKA MESRA

(Tanka, adalah bentuk sajak klasik Jepang yang lebih tua dari haiku. Dalam bahasa non-Jepang, ia selalu ditulis dalam lima larik)

1.
Keras serak spiker mesjid
letusan petasan, dan raung knalpot
membumbui langit malam ;
dengan mesra munajat lirih kupilih
sembunyi ngungsi di sudut sunyi hati.

2.
Di jendela angkot:
kota lekang oleh terik, mengerang
sehembus angin menerpa
helaian rambut dara lembut tergerai
meruap harum lebat hutan cendana

3.
Gelak pelawak, berisik musik
dan jerit penjaja
menyesaki ruang tengah;
kupilih: membaca surat-suratmu,
bercakap bersedap mesra denganmu.

4.
Bus kota mendenguskan ketus
kepulan asap debu
akupun terhuyung di trotoar—
semoga saja tak terhapus dari dada
jejak harum kala tadi ia bersandar!

5.
Di pintu keluar mesjid
sekelar tarawih,
lelaki terhenti sebentar;
pandang beredar: masihkah ada
selop putih bertali bunga?
::
Hg::
::

Sunday, August 14, 2011

DELAPAN HAIKU BULAN KEDELAPAN



1.
terkenang akan ayah
dan juga kakek, bulan ini
saya kibarkan bendera

2.
dahulu, selain para jugan ianfu
adakah juga haiku
melipur lara tuan serdadu?

3.
belajar mengisi kemerdekaan
dihibur radio Jepang
diterangi bohlam Belanda

4.
Buyut kami pernah seteru
kini kami bercinta
dengan duit beasiswa

5.
merahnya telah memucat putih
putih tercemar merah
--berapa kini bendera baru?

6.
buncit berdasi tetamu di tenda--
dari balik terali pagar
si veteran gemetar menghormat

7.
atas pengorbanan para leluhur,
dengan menumbalkan calon cucu cicit:
alangkah nikmat kemerdekaan!

8.
rayakan agustusan di bulan puasa
akankah arwah leluhur
turut hadiri malam tabur bunga?

Wednesday, August 10, 2011

KUATRIN RAMADHAN

ramadhan berpuas-puas hamba berpuasa
melahap rasa lapar dan mereguk dahaga
raga tanah hitam diupayakan mencahaya
batu hati juga diupami agar jadi mulia
::
Hg::
::

Friday, August 05, 2011

HIKAYAT TUJUH SUNGAI

satu mata air tersembunyi di relung pegunungan yang darinya mengalir tujuh sungai jauh bercecabang bersilangan beranak-cucu-cicit alirannya hingga tumpah ke lautan dan berjumpa di samudera yang sama dan ketika itu pulalah mereka menyadari bahwa yang tujuh sesungguhnya hanya satu dan bahwa samudera itu juga adalah mata air dan mata air itu pun samudera yang melahirkan mereka yang terhubung melalui saluran rahasia yang menyusupi tujuh kegelapan tanah lalu terbit sebagai mata air yang satu mata air tersembunyi di relung pegunungan yang darinya mengalir tujuh sungai jauh bercecabang bersilangan beranak-cucu-cicit alirannya hingga tumpah ke lautan dan berjumpa di samudera yang sama dan ketika itu pulalah mereka menyadari bahwa yang tujuh sesungguhnya hanya satu dan bahwa samudera itu juga adalah mata air dan mata air itu pun samudera yang melahirkan mereka yang terhubung melalui saluran rahasia yang menyusupi tujuh kegelapan tanah lalu terbit sebagai mata air yang satu

::
Hg::
::

HAIKU KEMEWAHAN

Di lantai 14 apartemen,
lebih dekat ke awan; apakah
mimpimu pun lebih menawan, Teman?

::
Hg::
::

Wednesday, August 03, 2011

HAIKU-HAIKU SOLO, DARI 9 TAHUN MEMORI

*
[Preskripsi: Sekitar tahun 2002 lalu, dari Bandung saya ke Solo dengan kereta untuk memenuhi undangan seorang teman. Karena teman itu wanita, dan hari telah terlalu larut ketika saya turun di Stasiun Balapan, Solo, saya memutuskan menunggu pagi berbaring di kursi tunggu penumpang di peron. Berbantalkan ransel bertudungkan langit malam. Di arah ujung kaki, seorang nenek tua penjual kacang kulit nampak terkantuk-kantuk menunggui jajaannya. Di udara yang basah, mengalun indah gending-gending jawa dari radio transistor. Malam yang mengesankan sembilan tahun lalu, yang kesan visualnya masih membayang-bayang terus. Baru sore ini, 3 Agustus 2011, bisa mewadag kembali, anehnya, dalam bentuk haiku.]

::
Gigir lampu sentir,
Serak getar tembang tua,
di Stasiun Balapan; melingsir malam
*
Jingga cahaya lampu;
Hanya kacang kulit ikut merasa
Keriput sepi simbah penjaja
*
Berapa lama lagi fajar?
Terkapar di kursi tunggu, bingung
Menafsir dengung nyamuk jawa
*
Lebar lengang jalanan pagi
Dari teras losmen
Sembab senyum putri ayu
*
Balairung megah
Meski sepi, luas halamannya
Bersih disapu
*
Sayur bayam, tempe bacem
Mengiring tengkleng daging—di dinding
Meneleng Srikandi, rikuh kutilik
*
Mencari pujangga
Bersurjan blangkon—takzim ngapurancang
Manekin etalase
::
Hg::
::

HAIKU-HAIKU DANGKAL

*
Menyimpan rapih stensilan
Aman tersembunyi
Hingga usai ramadan
*
Aku lapar dahaga
—Si anak jalanan
Asyik minum limun!
*
Melayang lamban, dalam
Soda langit biru:
Bumi sebuih gelembung
*
Aroma kue dalam oven
Mengharumi sore—
Oranye surya di horison
*
Aneka makanan minuman
Namun setelah tiga teguk teh
Hasratpun leleh
::
Hg::
::

Monday, August 01, 2011

HAIKU-HAIKU SPIRITUAL

*
Hop! Melompat ke sebelah diri
Ku selidik-jaga arah mana
Mata itu melirik
*
Yang lapar bukan aku
Itu kutahu—mentari mekar
Di sedap malam
*
Menolak ajak kehendak,
Sejenak daku merdeka
Dari diperbudak kuda sendiri
*
Kunyalakan lampu, kusapu
Lalu kuhiasi rumah hati
Menanti berjumpa
*
Rumah telah dihias
Diri sudah berias:
Kekasih, mari!
*
Di kaca ini semestinya
Tercermin wajahmu: harus
Kuhapus, parasku
*
Tak ada apa
Tapi tak hampa
Tanpa selain: hanya Ia!
::
Hg::
::

Saturday, July 30, 2011

SAJAK-SAJAK RAMADHAN (Dari Arsip Sajak Lama)

HAIKU SUBUH PERTAMA BULAN PUASA

Tiga anak asyik bercerita
Baju dan sepatu baru
--subuh pertama puasa


SAJAK-SAJAK DARI DEPAN TELEVISI

1.
sepertiga malam terakhir saatnya
disingkap tabir. Mendekatlah, menderaslah
daras adu dan doa. bertabur cinta dalam rahasia

tetapi di saluran nasional ada arifin dan emha
juga eko dan ulfa. Mereka sinyal yang juga gaib
namun mewujud ajaib di layar kaca

di ujung sahur, di jelang subuh, di terbit surya
ia terus memikat, terus mengikat
dengan sulur-sulur acara--di waktu wingit untuk wirid

2.
kebenaran dan fakta dalam 60 detik
argumentasi beradu berdesakan dengan
plot acara dan slot advertensi

siraman ruhani dalam 60 detik
jejak wali dijepit goyangan penyanyi kampung
yang melejit jadi ratu panggung

bagaimana memilih ketika sebenarnya aku telah
dipilih segmen rating dan waktu tayang utama
aku market yang dididik, target yang dibidik

3.
listrik. pada mulanya sederhana. seperti jalan.
ada jenius penemu. ada karya intelektual
yang ternyata bernilai jual. dan mahal.

maka jaringan disebar, alat-alat baru ditebar
beranak bercucu bercicit. cahaya menjalar membakar
kamar-kamar. ada yang tersamar: jalan hidup

dan ketika mendadak padam
kita malah berpikir menambah daya
bukannya memecahkan bola lampu


INTERLUDE

ketika firman suci
dan sabda nabi
terjepit rating tivi
dan bising advertensi

ketika hikmah sufi
dan petuah wali
terhimpit pasta gigi
dan minyak oli

bersabarlah, Tuhan kami,
jangan dulu beranjak pergi
biar yang satu ini
bisa lewat tanpa permisi


KENANGAN

Martabak yang kubeli di Pasar Daya
Tersaji di meja untuk berbuka puasa
Melihatnya, Ibu tertegun sendu lalu tersedu
“Ini pembuka kegemaran Bapakmu…”
“Ma, jangan menangis, kan masih ada saya!”
Kataku berpura-pura tabah dan ceria
Tetapi hatiku telah melesak naik ke tenggorokan
Dan mata yang membasah sengaja kukedipkedipkan


MEDITASI MALAM 27

rimba jadi ranting,
kota jadi puing

gunung tinggal palung,
lembah padang tergulung

bahkan laut susut
dan langit mengekerut

: firman turun.


LELAKI TERAPUNG

Lelaki yang terapung di laut mati,
ia dahaga. Ia bernyanyi dengan akar lidah
yang hunjam hingga di hujung jantung hati.

Bahkan malaikat penjaga tak kuasa mencatat
setiap gigil kata terjaga dari sunyinya.
Jibril pun berhenti di tapal terakhir.

Sayap-sayap cahaya mengepungnya.
Meliputinya dengan kelembutan selaput mata.
Salam. Salam. Salam. Bergema sabda menyambut.


DOA LEBARAN

Sebagaimana telah Engkau izinkan hamba bergembira
di kala berbuka puasa dan berhari raya
perkenankanlah pula hamba bisa berbahagia
ketika maut menjemput dan hari bangkit tiba.

DELAPAN PATAH KATA

kian jingga paras kota di jendela
teh panas warna tembaga di meja
dan dengan suara bariton
pria itu perlahan membaca buson

selarik haiku, selirih nyanyi:
"senja musim semi;
menyalakan lilin
dengan lilin lain"

keduanya sejenak larut terdiam
sementara senja turun temaram
setelahnya hembusan nafas lega
turut diiringi gelengan kepala

betapa, delapan patah kata
begitu sarat dengan pesona
seperti kelebat sabetan kuas
cukup melukis belantara luas

dan dalam di lubuk kalbu
lelaki itu bersyukur syahdu
atas jalan nasib dipilihnya
atas jalan lain ditolaknya

yang telah dapat memberi
kenikmatan yang tak terperi
menyelami mengalami pesona
dari hanya delapan patah kata

::
Hg::
::

HAIKU DI STASIUN KERETA

*
Di stasiun kereta
Hujan mengaburkanmu
Pada kaca jendela
*
Di stasiun kereta
Yang meninggalkan, melambai
Yang ditinggalkan, juga
*
Di stasiun kereta
Yang meninggalkan, pergi
Yang ditinggalkan, tinggal
*
Di stasiun kereta
Setelah gerbong terakhir
Menelan sedan, pulang
*
Di stasiun kereta
Hanya si gelandangan
Pulas tidur
::
HG::
::

HAIKU-HAIKU ANGIN

HAIKU-HAIKU ANGIN
*
Di atas meja: sehelai surat
Bergerak-gerak (oleh angin)
(Seolah) ingin segera berangkat
*
Surat baru tiba
Segera dibuka dibaca
-- menderu angin
*
Berjubahkan bongkah bukit
Membubung melayang
--angin padang pasir
*
Aiii, angin menyibak
Ujung tepi gaunnya
--lorong panjang sepi
*
Tangan seringan angin
Membubuhkan embun
Kerjap kelopak kejora
*
Berderak pagar,
Berkerik jangkrik:
Angin ngacir ke seberang kali!
*
Dentang genta angin
Tarian tirai jendela:
Menanti kedatangan
*
Matahari jatuh iba
Mengirimkan anginnya
--mengering keringat tengkuk
*
Selepas asar
Angin dihembuskan langit
Meredakan matahari
::
Hg::
::

Monday, July 25, 2011

DUA HAIKU AGRARIS

::
membakar kemenyan;
nyala bara, bubung asap
melenyap wangi
*
membelah-balik tanah lempung
tajam lempeng baja--
rumput tercacah, meruapkan harum
::
HG::
::

Sunday, July 24, 2011

HAIKU-HAIKU SYAKBAN

*
heningnya azan-
mu. bening-dingin sekujur tubuh
ditembus-tembusi cahaya
*
kepala yang tunduk sujud
hati yang turut khusuk: smoga nikmat ini
tak akan pernah dicerabut
*
kelepak sayap malaikat,
geletar udara:
ambang bulan cahaya
::
HG::
::

Saturday, July 23, 2011

HAIKU BERSIH SELOKAN

::
clap, clap, clap:
terburai ranjang air
hanya pasir tanah
*
parit kering;
kemana gerangan sembunyi
si kodok?
*
bau tahi kering, disebar
terik angin; lebar seringai
di baliho: walikota
*
kota kerontang hening
di kotak kaleng, sekeping kepeng
berdentang nyaring
*
dari bermalam-malam lalu
jemuran jemu
di kejang kawat, tersampir kaku
*
parit menganggur,
subur tumbuh rambatan--
siur angin, siut burung
*
sungguh tak puitik:
mengikis lamunan lumut,
menggaruk tenteram terma
::
HG::
::

Thursday, July 21, 2011

HAIKU AUTOBIOGRAFI

[merupakan tugas individual dari shensei Wahyu W. Basjir, pengelola situs padepokan Damselfly's Lament dan tembangcapung.com]

1.
Tiga auman menggema:
Dari langit Roma, gunung Cina
dan gurun Arabia

2.
Dua belas Rajab, pekik pertama
Bukan karena
Ketidakadilan, ketidakbenaran

3.
Minyak, garam: teman santapan
Tetapi kita bersama
Dan tertawa-tawa

4.
Mengabaikan harta tahta
Memilih asyik
Menatah kata-kata

5.
Sepuluh tahun lalu
Berharap cemas
Akan mati muda;

Kini hanya menikmati
Setiap matahari!

Thursday, July 14, 2011

TUJUH HAIKU JULI

1.
Dangdut koplo--
Jalanan lubang bergelombang
Menyamarkan goyangan

2.
Bahkan seteguk air es
Membakar leher;
Siang pukul satu

3.
Tiga kali ketukan—
Akupun berbalik pergi;
Leleh aspal jalan

4.
Matahari Juli—
Jalanan berganti kulit:
Kepulan debu

5.
Kuseret langkah
Tapak sepatu, aspal jalan
Enggan dipisahkan

6.
Kian belalak matari
Makin sipit
Matair sumur

7.
Sepuluh tahun lalu
Berharap cemas
Akan mati muda;

Kini hanya menikmati
Setiap matahari

Monday, July 11, 2011

DUA KISAH KESEPIAN

1. Pesan Seorang Ibu Kepada Anaknya

Ananda, dua belas jam Bunda tak bisa
Bersama; Kamu ngapain saja di sana—
Selain e-ol, mandi, mamam, nangis, ncucu,
Main, bobo, nonton, dan bosan dan menunggu?

Perawat bersertifikat dibayar lumayan mahal
Memastikan tubuhmu tumbuh layaknya mamal*
Moga selain beristirahat dan bersiap pergi lagi,
Kami mampu mengisimu dengan ilmu dan pekerti

Maafkan Bunda mesti turut meninggalkanmu
Agar tak sia-sia kuliah lima tahun dahulu
Dan selain mahalnya biaya serta gaya hidup kini
Bunda harus berjaga jika ditinggal cerai atau mati

Juga mengertilah, Bundapun harus merasa berarti
Yang tak terpenuhi dengan hanya ibu dan istri
Kelak, jika engkau selamat hingga usia dewasa
Pastilah akan mengalami dan memahami yang sama

Sudahlah, jangan cengeng dan manja, ya
Agar Nanda mandiri seperti anak di Amerika sana
Bunda telah cukup repot dan merasa bersalah
Please, beban ini janganlah lagi ditambah

*) mamal = mamalia, hewan menyusui

2. Nenek Tua

Nenek tua ditinggal sendiri seharian
Bungkuk keriput ia bagai cabai kerontang
Kesepian sangat mengajaknya ke alam ambang
Berceloteh kenangan, menyeru kawan khayalan

Saturday, July 09, 2011

KUATRIN-KUATRIN JALAN RAYA DAN SAJAK LAIN

KUATRIN-KUATRIN JALAN RAYA

1.
Setiap mereka yang berduit
Merasa lengkap dengan bermobil
Maka lihat jalan-jalan menyempit
Muat berdelapan, penumpangnya nihil

2.
Mobil bapak sesuai acara: rapat atau off-road
Mobil ibu serasi warna gaun: kuning atau coklat
Sedangkan mobil si kakak dan adik tipe city-car
Joknya masih lapang tuk bercengkerama sama pacar

3.
Berapa mineral bumi berapa bahan energi
Berapa kadar buangan dan tingkat kebisingan
Pula berapa meter per segi ruang dimonopoli
Inilah, bagi tiap pengguna, biaya lingkungan

4.
Ketika lampu padam, dayanya diperbesar
Ketika jalan macet, tepinya diperlebar
Kita memang lebih menuntut pemenuhan
Meskipun lebih mudah menahan keinginan

5.
Di jalan-jalan yang berulang diperlebar
Berderet antri seperti kartu gaple
Mobil-mobil anyar jualan negara luar
Eh, juga satu dua terselip: sang pengendara harley!

6.
menderas arus kendaraan tak putus bergelombang
menepikanmu berputus asa tak kuasa menyeberang
mungkinkah dikirimkan kembali Musa, Sang Utusan
membelah laut peradaban pemuja mesin dan kecepatan?

7.
Punya duit itu soal rezeki
Hal beli mobil itu hak asasi
Yang sial nasib si rakyat kecil:
Tak berduit, smaput disrempet mobil


PASAR TERBAKAR

Pasar-pasar lama runtuh dijalari api
Pasar-pasar baru riuh disesaki pembeli
O, kota yang membongkar dan membakar
Anganmu terbangun goyah tanpa akar!


HAIKU-HAIKU

1.
Aku berjalan, dan berjalan
Terus berjalan dengan dua kaki
Buatan Tuhan

2.
Berseri cerah
Menyambut matari
Pohon jambu

3.
setelah dera demam diare
bertambah lucu
kemenakan kecilku

4.
Sulapan alam: timbul tenggelam
Balon bulan bulat merah
Di antara rimbun pucuk pepohon

5.
Oleh telinga, hidung, dan mataku
Juga kumiliki
Ketentraman tamanmu

6.
Remasan resah jemari
Setangan kusut--
Ampas teh di dasar cangkir

7.
Di atas meja: sehelai surat
Bergerak-gerak oleh angin
Seolah ingin segera berangkat

8.
gegasnya lari kaki-kaki kecil
berlomba laron
kejar pendar cahaya

9.
tiba-tiba hujan:
masih adakah terlupa dibasahi
pada musim kemarin?

10.
Kayu memutih abu
Dandang menghitam arang--
Hangat percakapan pagi

11.
Alu beradu lesung, bertalu
Beras berserpih tepung;
Gelegak merah gula aren

Monday, June 27, 2011

SAJAK-SAJAK DARI PATTONGKO

- untuk Farid dkk.

(Pattongko adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Propinsi Sulawesi Selatan . Desa ini terdiri dari tiga dusun : Pakka, Talise, dan Lamberassa. Di Talise, dusun yang menghampar sepanjang pantai teluk Bone itulah, saya--bersama tujuh orang kawan lain--berdiam selama dua bulan. Mulai dari 5 September - 4 Oktober 1996, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata Unhas Gelombang ke-51. Pulau Sembilan adalah nama pulau perkampungan nelayan di lepas pantai Sinjai Timur.)

1.
Antara kaki bukit menjulang
dan bibir laut yang berdendang
dusun kami terbentang.
Di tengahnya tanah lapang
tenteram dan tenang.
Sekali kau datang
Akan abadi terkenang.

Di atas bukit ada sawah ada ladang
di luas laut perahu dengan layar terkembang
sedang di sepanjang pantai berkilau cemerlang
ada satu jalan batu menjulur panjang
berkelok mendaki dan bergelombang.
Di tepian rimbun tetumbuhan liar dan ilalang
bebungaannya mekar disentuh angin bergoyang.

Setiap pagi alam raya mulai damai berdendang
ada suara ayam dan bebek ramai di kandang,
juga ringkik kuda serta lembu melenguh panjang.
Dan ketika cakrawala menjelma cahya gemilang
laut dan langitpun luluh menyatu dalam pandang.
Sementara burung-burung camar terbang rendah melayang
jauh di utara, samar Pulau Sembilan indah membayang.

Bila senja tiba , semesta perlahan temaram lengang
dan di kejauhan nampaklah nyala lampu-lampu bagang.
Akupun berjalan perlahan sendiri dengan kaki telanjang
menyusuri pesisir landai berpasir berkarang
menikmati mentari yang perlahan hilang.
Dan saat bulan terbit meninggi gelombang pasang datang
bunyi ombaknya di sunyi malam menjadi mimpi kepayang.

Antara kaki bukit menjulang
dan bibir laut yang berdendang
demikian syair bersajak ini kukarang
mengabadikan kenangan tak berulang
sebelum aku berangkat pulang.
Meski jarak akan merentang
Namun hatiku disana berkalang.

2.
Kami tinggal di rumah panggung kayu tak berlampu
di pesisir pantai yang damai, di lekuk teluk.
Sepanjang hari lautan bernyanyi begitu merdu
dan dari cakrawala mengalirlah hawa sejuk.

3.
Setiap menaiki satu rumah kami dijamu selalu
walau telah kenyang kuhabiskan juga karena tahu :
apa yang diberikan kepadamu karena cinta
terimalah pula dengan cinta semata.

4.
Gadis-gadis yang manis mencuri pandang
kilatan hitam mata mereka setajam pedang.
Gadis-gadis yang tersipu menunduk bimbang malu
wajahnya merah bersemu runduk kembang sepatu.

5.
Aku terbangun tengah malam pukul satu
lalu turun berjalan ke tepi pantai. Ketika itu
bulan tengah purnama dan mencurahkan
cahayanya di sepanjang pesisir sepi, tak tertahankan.

Laut lalu jadi memutih berkilatan dan makin menggelora
ditimpa sinar keemasannya yang menyala-nyala.
Sementara di barat sana, bukit-bukit hitam samar
membayang di balik kabut putih tipis, diam bersabar.

Dan ketika pepohonan rimbun mendesir halus
disapu angin semilir sejuk menghembus,
bayang-bayangpun bergoyang perlahan.
Di kejauhan : kelap-kelip lampu nelayan.

(Aku berdiri gemetar sendiri
menyaksikan segala kemegahan ini
dan terpikir membangunkan kawan-kawan
yang nyenyak tidur sepanjang malam )

6.
Pagi pukul enam, di beranda
aku duduk sendiri saja
menulis sajak bersahaja.

Di hadapan ombak melantun
dan matahari baru bangun
sedang pasang belum lagi turun.

Lima belas menit berselang
unggas ribut di kandang
dan cicit burung jadi dendang.

Maka, ketika rampung ia
kutuliskan, matahari serta merta
melimpahkan cahya keemasannya.

7.
Pada rumah panggung kayu di tepi pantai
Kami berbaringan di lantai, bertelanjang dada.
Jendela lebar tak bertirai membuka diri
menampung angin,
debur ombak, dan cakrawala,
dengan leluasa.

“Kerja di mana nanti setelah rampung studi ?”
“Langsung menikah dan menumpang mertua
atau mau kemana dulu ?”
“Bagaimana dengan anak kepala desa ?”
Tanya sahut menyahut tanpa jawab
Hanya tawa ngakak pecah bersama

Ah, masa depan yang panjang dan jauh
Aku bersedia menggantimu
Dengan sesaat singkat disini

8.
Menatap warna-warna lembut senja temaram
di laut yang perlahan tenang menjemput malam
adalah menatap wajahmu yang selalu tersenyum itu
yang telah membuatku terpana sejak beribu tahun lalu
dan tak henti henti memancarkan rahasia
yang senantiasa sia-sia kuuraikan disepanjang usia
maka redalah reda, wahai badai dalam dada
maka teduhlah teduh, wahai rusuh pada jiwa.

9.
Apa yang dapat membuatku bosan
saat menatap lautan.
Warnanya beraneka memadu
coklat, hijau, biru, dan ungu.
Selalu bergerak bernyanyi ia
berganti marah, sedih, dan gembira.
Juga pasang serta surutnya
membuat lain setiap hari wajahnya.
Adapun keluasan dan kedalamannya
menyimpan rahasia tanya senantiasa.
Mengingatkanku
kepadamu.

10.
Karena segala yang hidup dari air asal awalnya
maka samudera adalah bunda purba kita
Gelora gelombang dan deru ombaknya yang tiada henti
seruan rindunya memanggil-manggil tuk kembali.

11.
Akhirnya sampai juga kepadaku seluruh keluh
yang engkau kirimkan lewat ombak dari samudera jauh.
Siang dan malam aku duduk sendiri di beranda
dengan mata basah dan amuk badai dalam dada.

12.
Di depan rumah sepanjang malam
lautan dan angin bernyanyi.
Gemanya menjelma mimpi kelam
tentang kristal garam yang menjerit sunyi.

13.
Biarkan aku hanyut tenggelam
lalu larut di laut dalam nan kelam.
Rambutku ikal mayang jadi ganggang lembut
bakal membayang kala tenang air surut.
Megap napasku akan menjelma buih
yang menghempas pecah di pasir putih.
Sedang kerinduanku yang gemuruh begitu
berulang bangkit selalu, menderu sepanjang waktu.

14.
Bulan mati --
laut
terus bernyanyi.

15.
Cintamu yang tulus
memancar tiada putus
dari lubuk hati nan kudus
segala kelam dendam pupus.

Tanpa menunggu alasan
tanpa menuntut balasan
tanpa membedakan
berabad-abad bertahan.

Di hadapanmu aku
berdiri terpaku
menatap tak jemu
membuta, terpukau wajahmu.

16.
Kupuja
ibu-ibu desa yang separuh baya dan yang tua
yang kurus, yang langsing, dan yang gemuk badannya
yang memadati pedati besi tua bermesin dengan barang dagangan beraneka
yang bicara dan tertawa dengan suara keras perkasa
yang matanya berkacakaca bangga waktu bercerita tentang sekolah anaknya
yang tak cakap membaca namun mahir menghitung jumlah harga
yang menghitam kerna nikotin rokok kretek bibir dan gigi-giginya
yang mengenakan arloji lelaki di pergelangan tangannya
yang berhiaskan cincin batu akik besar-besar jemarinya
Sungguh penuh kagum kupuja
terpesona aku pada sinar hidup yang nyala dalam mata
isarat semangat yang lebih gagah dan besar dari segala
yang mengatasi saat-saat maut duka dan kiamat dunia.

17.
Berangkat ke Pulau Sembilan pagi tadi
kini pulang kembali selepas senja hari
derum motor perahu berpadu debur ombak pasang
tak ada yang bercakap, hanya diam takjub memandang
bulan purnama perlahan naik dari cakrawala malam
daratan di depan masih jauh dan nampak hanya kelam
sedangkan di belakang tinggal hamparan lautan
biru berkilatan ditimpa cahaya keemasan.

18.
Sudah jauh lewat tengah malam
Seisi kamar dalam lelap telah tenggelam
Hanya ditemani debur ombak tanpa henti
Dan sorot senter yang meredup sesekali
Aku bersila duduk di lantai kayu tua
Dan dua buah sajak telah lahir ke dunia

19.
Sehabis makan malam sederhana
yang hangat nikmat diselingi senda,
berenam kita duduk di beranda yang luasnya tak seberapa.
Bau tembakau dan harum aroma kopi
tercium memenuhi rumah panggung kayu.
Sinar lampu petromaks yang melemah dari ruang tengah
masih juga mampu menerangi wajah kita.

Di halaman, malam tambah menebal
menghapus jejak unggas-unggas
yang terbang melintasi pantai senja tadi.
Tak ada bulan di malam itu
seperti ketika awal kedatangan kita 2 bulan lalu.
Hanya gelisah laut yang tinggal
terdengar menghempas berulang
seperti nyanyian maut yang kekal.

“Jadi, kalian akan kembali ke Ujungpandang,”
suara tua gemetar memecah sunyi
“Iyek, besok pagi ,”
jawabku pendek agak terbata.
Sudah itu tak ada yang berkata,
hanya mata kita yang nampak berkaca-kaca.
Lelaki tua itu lalu bangkit.
Tubuhnya yang sedikit bungkuk terguncang oleh batuk
saat ia pamit tidur lebih dulu
dan mengingatkan agar tidak begadang terlalu larut.

Sisa berlima kita di beranda,
tak ada yang berselera main kartu
seperti yang biasa kita lakukan
di malam-malam kemarin.
Dalam hati aku bertanya-tanya :
Besok, kembali pulang --
atau justru berangkat pergi ?

(1996)

Sunday, June 26, 2011

KUATRIN HAIKU

1.
Tubuhnya sengit condong ke depan
Kening berkerut keras, alis erat bertautan
Serius coba mengayuh ngebut sepenuh tenaga
Si bocah beraksi di atas sepeda roda tiga

2.
Seharian harus berdiri mengawasi
parfum mewah seharga tiga bulan gaji,
gadis penjaga toko yang belia itupun
bertopang dagu sendu, larut melamun

3.
merapikan rambut, menyapukan bedak
ditingkahi canda dan kikik tawa
para perempuan berbahu kekar tegak
berduyun menanti gerbang pabrik membuka

4.
Terus bergerak, bergeser, bergesekan, bergasakan
Lempeng bumi, arus samudera, hawa angkasa
Mencipta keseimbangan, setelah keguncangan
Keheningan damai, setelah gemuruh murka

5.
tuan, bantulah saya agar bisa
menghormatimu sepatutnya
telah nyata, anda hanyalah hamba
dari sesuatu yang kuanggap hina

(2011)

Monday, June 20, 2011

RAKYAT NEGERIKU BERHAMBURAN (Dari arsip sajak lama)

Rakyat negeriku berhamburan

Bapak-bapaknya
Merumput di trotoar
Dengan gerobak lapak seadanya
Yang kelak dibongkar
Kobaran api

Ibu-ibunya berhimpitan
Di lambung pesawat
Menuju rimba negeri orang
Dan pulangnya limbung jadi rebutan
Diperas habis-habisan
Para aparat bandara

Sedangkan anak-anaknya:
Menadahkan tangan
Menodongkan pisau
Menawarkan badan
Di simpang-simpang jalan
Nanti gantian digilir keamanan

Lihatlah mereka, 200 juta berdesak berhimpit
Bersusah payah mempertahankan kewarasan
Sementara para turis mancanegara
Yang di negara mereka dimanja
Dengan aneka tunjangan dan waktu luang
Oleh pemerintah mereka,
Tetap menuntut rakyat negeriku
Untuk terus tersenyum tulus dan polos
Seperti wajah cerah di kartu-kartu pos

Berakrobat jungkir balik, kalang kabut
Rakyat negeriku
Mesti mengurus nasib sendiri, setelah dikhianati
Orang-orang culas dan tak becus
Yang dahulu pernah bersumpah mati
Mampu mengurus nasib mereka:
Para penipu dan pencuri ulung
Atasannya korupsi besar-besaran
Bawahannya pungli kecil-kecilan
Dalamannya minta ampun
Sedangkan kaki tangannya
Rakus dan kerasnya bukan main

Diperdaya sekian lama
Dirampok berkali-kali
Dibunuh berulang-ulang
Mereka hanya tegak diam
Dengan mata pejam
Dan basah di pipi kusam

Mereka yang telah
Kehilangan suara
Akan menuntut balik
Menggugat dengan kebisuan
Yang lebih tajam dan mencekam
Daripada sejuta mata lembing

(2007)

Saturday, June 18, 2011

RUMAH CAHAYA

-Shinta Febriany dan Sukma Sillanan

Sudah separuh malam kuhirup dalam secangkir kopi.
Buih bir terakhir pun telah pecah di dasar gelas
yang seakan enggan melepaskan cengkeram bibirmu
dan masih ingin terus mengenangnya,
biarpun hanya dengan sisa desis lemah.

Sayang, mungkin cinta di bulan Februari ini memang
ditakdirkan hadir dengan kesedihan yaang sempurna:
gerimis yang tak henti menyirami lembar-lembar halaman
sekumpulan puisi putus asa, edisi luka pertama,
terbuka di atas meja, mekar di antara mata kita.

Ke mana lagi akan berumah,
begitu tanya yang terus tergurat, seperti setia
di tembok gedung tua yang ringkih kusam.
Juga di dinding hati kita yang letih legam
menggugat sebuah kota yang makin tak ramah.

Inilah dunia kita: citra silangan cahaya,
yang dicipta dan ditata Sukma, saling jalin
dalam ilusi tatap kagum, desah lirih pesona
dan tepuk tangan yang seolah abadi menggema di langit-
langit ruang yang kini cuma menanti runtuh

Menunggu, siapa yang betah bertahan
ketika perlahan sorot lampu-lampu surut dipadamkan
menyisakan terap kayu dan terpal berdebu
di halaman depan Societiet de Harmonie,
di tepian Jalan Ahmad Yani.

PESTA PERPISAHAN

menyepi dari gelak dan riuhnya pesta penutup yang girang
--dengan bir dan kacang garing, juga kola dan ayam goreng;
bersama petik gitar, ayun tari serta alun nyanyian--
ia memilih di luar menatap bulan, sendirian

bertanya-tanya: mengapa kesedihan dari perpisahan
(juga kian dekatnya kematian dari ultah), malah dirayakan?

Friday, June 10, 2011

HAIKU MALAM HABIS HUJAN

1.
Malam sehabis hujan
Pucat pecah bulan
Jatuh di lubang genangan

2.
Malam, hujan habis
Masih memburu, makin biru
Dengus dingin angin

3.
Sehabis malam hujan
Dalam remang bulir embun
Cemerlang di hujung daun

4.
Sehabis hujan malam
Sayup gemetar:
Penjual mi toktok

5.
Hujan sehabis malam
Moga cukup lama
Menutup jalan ke sekolah

6.
Hujan malam, habis
Saat membersihkan
Mimpi yang basah

(2011)

Tuesday, June 07, 2011

SAJAK-SAJAK

3 SAJAK TENTANG POHON

1. Ketabahan

ketika seekor ulat datang melata
lalu mulai menggerogoti sehelai daunnya,
pohon itu tidak pernah berniat
menggoyang-goyangkan rantingnya
untuk mengusir jatuh ulat itu.

hingga sehelai daun itu tinggal
urat-uratnya saja, dan puluhan, bahkan
mungkin ratusan, ulat lain berdatangan
dan rakus melahap seluruh helai dedaunnya,
pohon itu tetap bergeming,

tidak juga ia meronta, merentangkan
cabang, dahan dan rantingnya
kemudian menggetarkan mereka agar ulat-
ulat itu terlontar atau luruh bergeleparan
lalu mati kelaparan.

ia tetap percaya matahari
yang tidak buta itu masih akan
mengirimkan angin dan hujan
selepas musim yang aneh ini walaupun langit
kadang biru kadang kelabu tingkahnya

bahkan ketika pohon itu tinggal rangka sekali-
pun, ia tetap sopan tak memohon-mohon
matahari untuk mendandani dirinya kembali,
memulihkannya sebagai semula
sesegar dan sesegera mungkin

(sosoknya
yang agak membungkuk itu
memang mengingatkanku
akan ayub,
si tua yang ajaib setianya itu).


2. Kerelaan

pohon hijau menjulang indah berkilau
beraneka hijaunya, bersusun megah
tegak di tengah sawah tak terhirau
memberi dahan bagi burung kepompong
merelakan akar bagi semut bersarang

dedaunnya yang tua betapa kelam menelan
menawar terik dengan rimbun teduh
dan memberi naungan bagi rumput perdu,
dedaunnya yang muda lincah menyergap
cerah cahaya, terang gemilang di bawah surya

sedangkan dedaunnya yang telah gugur
bertebar sabar pada dada persada
rela terurai sebagai mulanya
coklat tembaga mereka berwarna
senada tanah yang akan mencerna

pohon hijau, pohon yang hijau
tegak di tengah sawah tak terhirau
setia ia memberikan diri meskipun ujung jalan
yang baru dibuka telah nampak di sana,
menganga, sedia memangsanya


3. Cinta Rahasia

Aku rasa aku telah jatuh cinta
Kepada sebatang pohon itu
Tumbuh di tengah petak sawah
Yang tersisa di dekat pemukiman
Lebih ramping, kukuh dan sepi ia
Daripada seorang gadis penyendiri

Sebatang pohon yang sederhana
Bahkan dengan mudah dapat digambar ditiru
Oleh kanak sekolah rendah kelas satu
Namun juga betapa indah dan anggun ia:
Sebatang pohon yang sungguh-sungguh tampak
Sebagaimana layaknya sebatang pohon harus tampak

Setiap melalui jalan kampung
Kusempatkan menoleh menatapnya
Penuh kagum dan terpesona
Ia pasti juga selalu
Menanti saat aku lalu dan berpaling
Atau sekedar mengerling kepadanya

Kini petak sawah telah terjual
Dan tengah dimatangkan
Dikeringkan dan ditimbun
Untuk pembangunan rumah
Semoga ia tidak ditumbangkan
Oleh sang pemilik baru

Aku tentu akan sangat kehilangan
Jika kembali melalui jalan
Di mana kami dahulu sering
Saling mengerling dan memandang
Meski tak pernah bertegur sapa
Bertukar kata

(2011)


KUATRIN HAIKU

Seharian harus berdiri mengawasi
parfum mewah seharga tiga bulan gaji,
gadis penjaga toko yang belia itu-
pun, larut dalam lamunan sendu

(2011)


TIGA HAIKU

#
digunting tadi pagi
sebatang ranting kemuning
kian lemah hijaunya kini

#
berhenti di tepi jalan
-tak ada apa, tanpa kenapa-
hanya menghirup wangi akasia

#
alangkah bersih indah kamarku
sampahnya beralih pindah
hingga sampai di tengah samudera

(2011)

Friday, June 03, 2011

PENGHANTAR DOA

Bukan emas, bunga
Atau unggas dan asap dupa
Yang mengawal doa
Senyap ini

Tetapi daging tubuh
Yang tersaring jadi darah
Darah yang tersuling
Jadi air mata

Air mata yang berderai
Lantas terburai jadi cahaya
Dalam cemerlang tajam
TatapanMu

Hanya air mata, sembab menghantar
Harap merayapi pelataran
Altar sembah. Terimalah ia
SeadaMu

(2011)

KUATRIN-HAIKU

1.
Tubuhnya sengit condong ke depan
Kening berkerut keras, alis erat bertautan
Mencoba mengayuh ngebut sekuat tenaga
Si bocah di atas sepeda roda tiga

2.
Merapikan rambut, menyapukan bedak
Ditingkahi canda dan kikik tawa
Para perempuan berbahu kekar tegak
Berduyun menanti gerbang pabrik membuka

(2011)

HAIKU-HAIKU BUKU SAKU

(Ini adalah kumpulan mini yang kedua, setelah Haiku-Haiku Hatiku-yang dapat dilihat dalam daftar postingan terdahulu)

1.
Buku saku baru ini
Ternyata penuh berisi haiku
Penaku mengikuti saja

2.
Rumah tua
Tak dijual tak dihuni
Apa salahnya?

3.
Tokek dan cecak
Yang satu mengaku
Satu takjub

4.
Sepedaku tua
Dibeli tangan kedua
Meski karatan, masih setia

5.
Tak ada angin lagi
Layangan mengawang
Makin tinggi saja

6.
Jendela tua
Bunga baru mekar
Di dahan yang dahulu

7.
Termangu di jendela
Bocah menunggu
Ayah ibu pulang kerja

8.
Belum terik siang
Bocah sudah merajuk: patua,
Lamanya mamaku pulang

9.
Pagi hari libur
Kenapa juga klakson
Tetap sengit nyaringnya?

10.
Di hari libur terjepit
Rumah sehat tutup
Tahan dulu sakit

11.
alangkah bersih indah kamarku
sampahnya beralih pindah
hingga sampai di tengah samudera

12.
Kawanan kerbau hutan
Berlarian dihalau setan:
Perempatan jalan metropolitan

13.
Terang terik mentari kemarau
Telapak sepatu memberat
Rekat di aspal jalan

14.
Semasa masih terang
Menampak mata, tapak kaki
mampu mencapai

15.
Alir air menyentuh batu
Di kolam resor, di selokan kotor
Sama merdu

16.
Kutu-kutu, silakan mana suka
Aku atau buku-bukuku
Di dipan sempit ini

17.
Langit bulan Mei berkilauan membuka
-irama hujan, harum tanah
dan sejuk hawa: sampai jumpa!

18.
Terik kering hari bulan Juni
--Kenangan penghujan panjang kemarin
Sungguh sejuk menyegarkan

19.
digunting tadi pagi
sebatang ranting kemuning
kian lemah hijaunya kini

20.
berhenti di tepi jalan
-tak ada apa, tanpa kenapa-
hanya menghirup wangi akasia

21.
seharian harus berdiri mengawasi
parfum harga tiga bulan gaji
gadis penjaga toko
larut dalam lamunan

(2011)


HAIKU MENGOLAH PRANA

1.
Duduk mengolah prana
Jumat pagi ini
Betapa manis segarnya!

2.
Duduk mengolah prana
Hanya makan hawa
Bagaimana pula para mahluk cahaya?

3.
Duduk mengolah prana
Upaya merebut sunyi
Dari kerubung bunyi

4.
Duduk mengolah prana
Menyibak aneka warna
Bagi yang nir-warna

5.
Duduk mengolah prana
Suara, warna: tersuling
Hening, bening

6.
Duduk mengolah prana
Macan melingkar berputar
Naga melesat dari pusar

7.
Duduk mengolah prana
Menguak cakra demi cakra
Memuncak di mahkota

8.
Duduk mengolah prana
Segala tapa segala japa
Intinya: hampa

9.
Duduk mengolah prana
Sepagi ini
Ada yang membakar sampah

(2011)


HAIKU JAM DINDING TUA

Bahkan 12 dentangannya pun
terdengar serak memelas
dan menyimpan gementar

(2011)


HAIKU BOCAH KERAS KEPALA

Tidak apa saya tak dapat!
Teriak si bocah angkuh
--titik air mata jatuh

(2011)


HAIKU RUMAH KOSONG

Sepasang kupu-kupu putih kecil
terbang berputaran, menari berpesta
di halaman yang ditelantarkan

(2011)


HAIKU PERSIAPAN

Telah ia persiapkan kafan
Entah kapan
Akan jadi pakaian

(2011)


HAIKU DI ATAS ANGKOT

Di dalam angkot: berbaur bau tubuh
rakyat penuh keringat, namun lebih harum terhormat
dari parfum anggota dewan

(2011)


HAIKU PEMIMPIN

Sekian lama berkuasa
Makin samar: mana negara mana saya
Serasa sama saja kini

(2011)


HAIKU SUMPAH MAFIA

Barang siapa tertangkap tangan mencuri
kawan yang lain mesti sigap
bersikap polisi

(2011)


HAIKU PENDIDIKAN

Bocah sekolah dasar berbonceng tiga
Di atas motor dinas tanpa helm, ngebut melambungi
Pak Guru tertatih berjalan kaki

(2011)


HAIKU HARI LIBUR

menghindari para politikus
batal membeli
koran minggu pagi

Saturday, May 21, 2011

CINTA RAHASIA

Aku rasa aku telah jatuh cinta
Kepada sebatang pohon itu
Tumbuh di tengah petak sawah
Yang tersisa di dekat pemukiman
Lebih ramping, kukuh dan sepi ia
Daripada seorang gadis penyendiri

Sebatang pohon yang sederhana
Bahkan dengan mudah dapat digambar ditiru
Oleh kanak sekolah rendah kelas satu
Namun juga betapa indah dan anggun ia:
Sebatang pohon yang sungguh-sungguh tampak
Sebagaimana layaknya sebatang pohon harus tampak

Setiap melalui jalan kampung
Kusempatkan menoleh menatapnya
Penuh kagum dan terpesona
Ia pasti juga selalu
Menanti saat aku lalu dan berpaling
Atau sekedar mengerling kepadanya

Kini petak sawah telah terjual
Dan tengah dimatangkan
Dikeringkan dan ditimbun
Untuk pembangunan rumah
Semoga ia tidak ditumbangkan
Oleh sang pemilik baru

Aku tentu akan sangat kehilangan
Jika kembali melalui jalan
Di mana kami dahulu sering
Saling mengerling dan memandang
Meski tak pernah bertegur sapa
Bertukar kata

(2011)

9 HAIKU

HAIKU MENGOLAH PRANA

1.
Duduk mengolah prana
Jumat pagi ini
Betapa manis segarnya!

2.
Duduk mengolah prana
Hanya makan hawa
Bagaimana pula para mahluk cahaya?

(2011)


HAIKU DI ATAS ANGKOT

Di dalam angkot: berbaur bau tubuh
rakyat penuh keringat, namun lebih harum terhormat
dari parfum anggota dewan

(2011)


HAIKU JAM DINDING TUA

Bahkan 12 dentangannya pun
terdengar serak memelas
dan menyimpan gementar

(2011)


HAIKU BOCAH KERAS KEPALA

Tidak apa saya tak dapat!
Teriak si bocah angkuh berlari menjauh
--titik air mata jatuh

(2011)


HAIKU SUMPAH MAFIA

Barang siapa tertangkap tangan mencuri
kawan yang lain mesti sigap
bersikap polisi

(2011)


HAIKU PENDIDIKAN

Bocah sekolah dasar berbonceng tiga
Di atas motor dinas tanpa helm, ngebut melambungi
Pak Guru tertatih berjalan kaki

(2011)


HAIKU RUMAH KOSONG

Sepasang kupu-kupu putih kecil
terbang berputaran, menari berpesta
di halaman yang ditelantarkan

(2011)


HAIKU PERSIAPAN

Telah ia persiapkan kafan
Entah kapan
Akan jadi pakaian

(2011)


KUATRIN HAIKU: KESUNGGUHAN

Tubuhnya sengit condong ke depan
Kening berkerut keras, alis erat bertautan
Mencoba mengayuh sepenuh tenaga
Si bocah di atas sepeda roda tiga

(2011)

Sunday, May 15, 2011

HAIKU-HAIKU

1.
Kawanan kerbau hutan
Berlarian dihalau setan:
Perempatan jalan metropolitan

2.
Terang terik mentari kemarau
Telapak sepatu memberat
Rekat di aspal jalan

3.
Alir air menyentuh batu
Di kolam resor, di selokan kotor
Sama merdu

4.
Semasa masih terang
Menampak mata, tapak kaki
mampu mencapai

5.
Kutu-kutu, silakan mana suka
Aku atau buku-bukuku
Di dipan sempit ini

6.
Langit bulan Mei berkilauan membuka
-irama hujan, harum tanah
dan sejuk hawa: sampai jumpa!

7.
Buku saku baru ini
Ternyata penuh berisi haiku
Penaku mengikuti saja

8.
Rumah tua
Tak dijual tak dihuni
Apa salahnya?

9.
Tokek dan cecak
Yang satu mengaku
Satu takjub

10.
Sepedaku tua
Dibeli tangan kedua
Meski karatan, masih setia

11.
Tak ada angin lagi
Layangan mengawang
Makin tinggi saja

12.
Jendela tua
Bunga baru mekar
Di dahan yang dahulu

13.
Termangu di jendela
Bocah menunggu
Ayah ibu pulang kerja

14.
Belum terik siang
Bocah sudah merajuk: patua,
Lamanya mamaku pulang

(catatan>pa tua: papa tua, paman kakak dari ibu)

15.
Pagi hari libur
Kenapa juga klakson
Tetap sengit nyaringnya?

16.
Di hari libur terjepit
Rumah sehat tutup
Tahan dulu sakit

17.
Sekian lama berkuasa
Makin samar: mana negara mana saya
Serasa sama saja kini

(2011)

HAIKU-HAIKU SETELAH KEDATANGAN TAMU

1.
Maaf, kawan, mesti berhimpit
Di kamar sesempit ini kita
Berebut tempat dengan buku-buku

2.
Tak ada ia teraba
Namun nyata terasa
Hadir nyala dalam dada

3.
Tepat waktunya, suci tempatnya,
Tertentu tujunya; lisan memuja, pula tindakan
Sementara fikir menyelami, rasa mengalami

4.
Ahay, sehembus angin
Selepas asar
Semesta bernafas lega

5.
Begini banyaknya nyamuk!
Kemarau benar tiba, para cicak
Tentu makmur dan bersyukur

6.
Nyamuk, hati-hati
Jika tertidur nanti, tak sadar
Mungkin ku akan meremukkanmu

7.
Kupadamkan lampu rumah
Menjemput purnama
Di beranda

8.
Terima kasih, Muhari
Kunjunganmu sore hari ini
Memberiku tujuh biji haiku

(2011)

Friday, May 13, 2011

WRITER'S BLOCK DAN SAJAK-SAJAK LAIN

WRITER’S BLOCK

Beberapa kali sempat berpacar
Inspirasi ngadat, puisi tak lancar;
Adakah gerangan sang dewi puisi
Cemburu pada si dara berkawat gigi?

(2011)


CINTA RAHASIA

Aku rasa aku telah jatuh cinta
Kepada sebatang pohon itu
Tumbuh di tengah petak sawah
Yang tersisa di dekat pemukiman
Lebih ramping, kukuh dan sepi ia
Daripada seorang gadis penyendiri

Setiap melalui jalan kampung
Kusempatkan menoleh menatapnya
Penuh kagum dan terpesona
Ia pasti juga selalu
Menanti saat aku lalu dan berpaling
Atau sekedar mengerling kepadanya

Kini petak sawah telah terjual
Dan tengah dimatangkan
Dikeringkan dan ditimbun
Untuk pembangunan rumah
Semoga ia tidak ditumbangkan
Oleh sang pemilik baru

Aku tentu akan sangat kehilangan
Jika kembali melalui jalan
Di mana kami dahulu sering
Saling mengerling dan memandang
Meski tak pernah bertegur sapa
Bertukar kata

(2011)


TRAGEDI HUJAN KOTA

Berpuluh kilo
telah ia tempuh
terengah
hanya untuk jatuh
karena mencintai tanah
ingin ia membasahi
segala jalan dan pekarangan kita

Namun aspal tebal
dan pelataran beton kota
berkomplot melontarkan ia
kembali ke selokan
terus mengalihkan alirnya
hingga berakhir tumpah
di lautan

Tersia datangnya
tanpa sempat berjumpa
sekedar mengusap
membasuh dan mengisi
kaki akar bunga
mulut sumur
hati bumi

Kepada lubuk samudera
berbisik ia
terisak mengadu
sedangkan langit
yang terbentang tahu
mengelabu mendung
membendung sedu

(2011)


HAIKU BOCAH BELAJAR MENULIS

Riang gembiranya, riya bangganya
Meski baru bisa
Membubuhkan senoktah titik tipis

(2011)


KERINDUAN

Rindunya bunga
Larut dalam tanah
Rindunya garam
Larut dalam samudera
Rindunya embun
Larut dalam angin
Rindunya bara
Larut dalam nyala
Rindunya bianglala
Larut dalam cahaya
Rindunya aku
Larut dalam-
Mu

(2011)



SEMOGA SAJAK-SAJAK INI ADALAH

Cambuk petir
Menghantam hutan
Dengan api
Membangunkan benih
Dari tanah

Tiang angin
Membadai berpusing
Mengukir kembali
Bukit lembah
Bentang gurun

Bubungan asap
Dari altar korban
Menjulang tinggi
Menggamit langit
Membujuk minta

Seuntai bianglala
Lengkung di cakrawala
Menguraikan
Rahasia warna
Sang surya

Sebatang sungai
Membawa desis
Rindu damba
Gunung pusat benua
Jauh ke jantung samudera

Spiral asam
Menyimpan sisa
Sidik jari
Dari masa
Mula penciptaan

Sehelai selendang
Milik bidadari
Yang sedang mandi
Dan berdendang
Di sendang

Setangkai ranting
Menating bunga
Menyamarkan
Garis langit
Dari pandangan

Atau sekedar
Seuntai pita
Di bungkus bingkisan
Menghias kejutan
Yang manis
Untukmu

Semoga

(2011)

KORUPTOR NAIK HAJI DAN SAJAK-SAJAK LAIN

KORUPTOR NAIK HAJI

Seorang koruptor berangkat haji
Sebelum pergi diwanti-wanti oleh kawannya
Untuk berhati-hati, karena amal saleh dan salah
Di sana, konon, sering kali dibalas kontan

Si koruptor tertawa, dasarnya tak percaya ia
Dan ternyata ia memang baik-baik saja
Si koruptor bertambah pede dan jumawa
Kepada kawannya bersemangat ia bercerita

Bukannya bersepakat, si kawan malah murung
Katanya: sungguh malang nasibmu teman
Bahkan anjing injak pekarangan kita teriak usir
Tetapi engkau, datang pulangmu tak lagi dihitung

(2011)


ISTIGHFAR ZAMAN EDAN

Astaga, mereka beli gaya dan tahta
Secara mencuri milik khalayak dan negara
Astaga, aneka reka dan naskah sandiwara dirancang
Demi selamatkan para preman, calo dan pencoleng

Astaga, demi menambah saldo dan isi pundi
Digadaikan masa depan dan nyawa anak bangsa
Astaga, perutnya busung mencapai tanah
Tetapi lapar serakahnya tak kunjung reda

Astaga, sisiran dan setelannya rapi sekali
Sayang kepala dan hati hanya berisi dedak padi
Astaga, aksi nyicip anggur ngisap cerutu bak aristokrat
Kelakuannya bukan main norak bikin malu

(2011)


SURAT TERBUKA KEPADA TERORIS, 2

Engkau yang bermimpi
Mendapatkan surga seluas langit-bumi
Disambut lambai gemulai 70.000 bidadari,
Dengan syarat tumbal seratus nyawa kami:

Siapakah Tuhanmu sesungguhnya,
Apakah agamamu sebenarnya,
Kemanakah arwahmu menuju akhirnya,
Setelah segala kehancuran dan kebinasaan?

Karena sungguh yang engkau sembah dengan takzim
Adalah iblis membiuskan kebencian, amarah dan laku zalim
Nafsumu sendiri, berdiri sembunyi di balik tabir setiap takbirmu
Yang histeris engkau jeritkan dengan tinju teracung tinggi

Tulus dalam niat dan lurus dengan ilmukah
Anganmu menegakkan agama? Justru engkau tengah
Menghancurkannya, menutupi sinar rahmatnya bagi semesta
Iapun menjelma fitnah, gerhana sejarah peradaban

Adakah karya yang dapat dirayakan
Di tengah serakan bangkai dan tumpukan puing?
Tak akan ada buah yang dapat dipetik dimakan
Jika engkau meracuni pohon dari akarnya!

Terhasunglah yang gemar memerangi orang lain
Namun lalai dari pertempuran di dalam diri
Sehingga setan si musuh sejati
Akhirnya merajalela dan berpesta di dalam hati

Sungguh, menghiasi hati dengan cinta kasih kepada ciptaan
Selalu lebih indah dari menghanguskannya dengan benci
Dan memuliakan tanganmu dengan membangun mencipta
Selalu lebih terpuji dari mencemarinya dengan kerusakan

Mimpimu menginjakkan kaki di gerbang kerajaan Tuhan
Setelah membongkar duniaNya, membakar ciptaanNya--
Semoga arwahmu tak sesat ke kerajaan jin samudera
Yang mengimingi surga maya sebelum kau menutup mata

Engkau yang bermimpi dan mabuk dalam ilusi
Siapakah tuhanmu sesungguhnya,
Apakah agamamu sebenarnya,
Kemanakah arwahmu menuju akhirnya

(2011)


TAAWWUDZ ZAMAN EDAN

Musim petik suara masih jauh
Tetapi wajah-wajah memualkan
Dengan seringai lebar menyebalkan
Dan obralan kata-kata gombal
Yang amburadul logika dan tata bahasanya,
Telah mencemari kota kami
Memenuhi sudut-sudut persimpangan
Membentangi batang-batang jalan

Tuhan, jangan lagi kami dibiarkan
Sesak tersiksa seperti sekian lama ini

Lihat, seorang tokoh dalam tujuh busana
Dan tujuh pose berbeda
Menyalurkan kegenitannya di jalan-jalan kami
Bagaimana bisa kami percayai
Para pesolek dan penderita megalomania ini
Mengurusi nasib dan masa depan kami?

Tuhan, engkau saksikan
Engkau saksikan, kami disia-siakan

Musim petik suara masih jauh
Namun di antara hiruk konvoi suporter bola
Dan para pengiring jenazah
Samar-samar telah terdengar
Jerit pekik gerombolan pawai kampanye
Menggetarkan tanah tempat kami berpijak

Tuhan, lindungi kami
Dari bujuk rayu para penipu

(2011)


KREDO GENERASI MILENIUM

Kami tak khawatir lagi
Akan pengaruh budaya barat
Seperti halnya yang ditakutkan orang tua kami
Pada tahun delapan puluhan

Kini kami telah sempurna barat
Di film-film, kami kesepian
Seperti halnya orang barat kesepian
Di iklan-iklan, keluarga kami
Berbahagia selayaknya keluarga barat bahagia
Di restoran dan kafe, menu dan desain
Sungguh meyakinkan kami di barat

Kami juga memaki, kaget dan heran
Mirip mereka memaki, kaget dan heran
Kurang apa lagi? Bahkan kami
Telah bercinta persis seperti mereka
Yaitu setiap ucapan I love you
Tentu disusul pagutan dan gumulan seru

Tidak, bukan lagi seperti, mirip dan persis
Tetapi kami juga adalah mereka
Karena kami pun percaya
Di dunia ini tak perlu ada
Rasa takut, hormat dan malu
Karena tak ada lagi
Yang keramat, suci dan luhur
satu-satunya pegangan yang berlaku
Adalah kesenangan tanpa saling menggangu

Kini kami barat
Lagak dan laku kami sungguh moderen
Kami hidup lebih beradab dan maju
Lebih maju mendekati jatuh
Ke dalam jurang yang sama pula

(2011)

Sunday, May 01, 2011

SAJAK-SAJAK 2011

HAIKU DARI BEDENG KAYU

Di tangga kayu bedeng darurat itu
Seorang ibu duduk menyisir rambutnya
Sendirian saja, sepagi ini

(2011)


HAIKU SEPATU BARU

Seperti kekasih terakhir
Masih erat peluknya
Mencengkeram telapak kaki

(2011)


ILUSI ATAP BOCOR

Dentaman pada pintu
Menghentakkan mimpiku: tiktik air hujan
jatuh ditampung loyang!

(2011)


LAHIRNYA PAHLAWAN BARU

Melintasi terik dan trafik jam satu
Bocah jalanan beraut serius itu
Melangkah nyeberangkan seorang dara
Dengan busung dada, dongak dagu berbangga

(2011)


SRI LAUT

Bertahun-tahun tabah bertahan ia, menerima
Limpahan limbah, simpanan sampah buangan kita
Tahu-tahu, hanya sekali sentakan pinggulnya
Rubuhlah tanggul pantai, luluhlantak pula kota

(2011)


INTEROGASI

Pesakitan duduk terpaksa
Di dalam kamar periksa
Adalah si aku
Yang harus mengaku

Lewat cermin searah
Kutahu engkau menatap
Meski tak akan pernah
Parasmu kutangkap

Biarpun hanya bayangku
Terkaca di situ, tak kuragu
Di sebaliknya, engkau
Tengah cermat mengamatiku

Mengapa mengusutku kini
Asal mula benang kusut ini
Engkau pun tahu
Dari mana berpangkal dahulu

(2011)


PENGINTAI

Seperti gula pasir
Di sela-sela air
Aku akan menyusup masuk
Tanpa menambah sesak
Penuhmu

Aku akan diam
Bagai batu
Membungkam
Agar tak kau sadari
Hadirku

Aku bahkan rela
Diselimuti lumut kelabu
Dilumatkan hingga mendebu:
Semoga pandangmu
Tak tercederai

Hingga tiba waktu, deru
Anginpun datang membantu:
Aku akan menyerbu
Sekedar untuk menodai
Ujung tepi gaunmu

(2011)


MADAH PANJANG SANG PENCINTA

Tatapan yang mendamba dan saling menyambut,
Sentuhan halus dan bisikan lembut beriring gigil kecil
Kapankah akan menjadi laku sembah
bagi sepasang kekasih kepada yang disebut
Sang Kasih itu sendiri?

Walau waktu mengulurkan sulur-sulurnya menjangkau
Cakrawala, langkah yang tertatih mestilah diteruskan
Meski letih dan terhalang kuala, karena bara cahaya
Telah menyemburat di sana, bagai lambaian putih
Lengan-lengan harapan yang cemerlang

Alangkah jauh rengkuhan angan, betapa
Singkat rapuh usia insan. Namun jika maut
Memagut di tikungan tak terduga itu,
Tiada lagi takutku karena telah bahagia
Dianugerahi cinta oleh Kekasih

Bagaimana bisa merahasiakan rasa cinta
Dan sukacita ini? Biarpun kupendam guci hatiku
Dan pintu mulutku kukatup rapat-rapat, tetapi
Siapa yang dapat menyamarkan binar pada mata
Dan semburat merah mesra pada sepasang pipi?

Langkah makin ringan bagai beralaskan awan
Dan tungkai terayun riang melalui jalan desa
Yang berbatu ini dan walau tak pernah kuumbar
Pohon-pohon dan arakan mega bergerak-gerak juga
Seakan telah tahu siapa kekasihku yang satu itu

Langit begitu jernih dan biru seperti satin
Terentang terang namun matahari tenang mengambang
Hangat dan ramah tak memanggang, seperti mengerti
Bahkan, sepanjang perjalanan ini rindu yang rindang
Turut membantu meneduhi

Lihatlah, pemukiman di sana
Bagai makam lama, samar tersembunyi dan sentosa
Andai saja aku adalah sebatang panah
Melesat secepatnya kuingin terbang
Agar segera tiba di ambang pintu Kekasihku

(2011)


MENANTI TIDUR

Kantuk yang iseng namun manja
Datang meniup dan mengusap kelopak mata

Menggelayut lembut merayu kemayu ia
Berayun di helaian bulu-bulunya

Lalu merekatkan kedua pelupuknya
Dengan imingan impian bahagia

Maka, bagai sepasang kekasih yang terpisah lama
Merekapun saling berpelukan, erat dan mesra

(2011)