Sunday, December 27, 2009

MENGENANG SEJUMLAH BENCANA (Dari Arsip Sajak Lama)

DONGENG LAUT

Setelah gerak di kerak samudera
lautpun bangkit memagut kota
sedangkan siut sapuan ekornya
membongkar pesisir jauh.

Bukit terungkit, jalan terpilin.
Kota terserak mengerang
oleh sisa bisa bibirnya.
Maut berpesta, bagai capung

di tengah telaga, memungut ruh
dari tubuh-tubuh yang terapung busung
dan membusuk setelah hanyut tergulung.
Cuaca bercadar, surya seakan cedera.

Hari pun kuyu dalam kuyup.
Sisa pekik dari dada yang pecah
dan nanap tatap tak percaya
dari mata yang membeliak itu

masih menggantung di kaki langit
bersama bau yang sengit.
Lanskap tinggal bingkai bagi
bangkai dan sampah bengkalai.

Namun sehari kemudian, gelombang akan
tenang seperti si pelamun tua: mengantuk dan
melupa. Sementara seorang anak, akan duduk
di hujung perahu, bersenandung “lautku nan biru...”


ARITMATIKA PENDERITAAN

Di dalam derita
terasa insan
betapa sendiri
dan sepi.

Kesedihan
tak dapat dibandingkan.
Juga tak terganti
tak terbagi.

Tak ada duka bersama,
selain dari sejumlah orang
yang sama berduka
sendiri-sendiri.

Simpati dan empati
tak dapat mengurangi.
Tetapi pengabaian
pasti jadi siksaan.

Keprihatinan
adalah penebus batin
dari rasa sesal oleh malu dan salah
bagi mereka yang aman selamat.

Luka di badanku
tak berdarah padamu,
tangis di mataku
bukanlah air matamu.

Ulurkanlah tanganmu, Tuan Penolong
akan kusambut jemarimu.
Bila itu memang membantu
menenangkan hatimu.


SAYA INGIN PERCAYA

Saya ingin percaya
bukanlah ayun pedang itu
yang menebas pokok pohon.
Batang kayu sendirilah
yang telah rela membelah diri
demi memberi celah bagi bilah baja tajam
agar dapat melewatinya.

Saya ingin percaya
bukanlah hembusan musim
yang merontokkan bunga-bunga.
Kuntum-kuntum itulah yang menggigil hatinya
terjun dari ketinggian tebing angin
meninggalkan rangka tangkai sendiri
ingin bermain bermandikan cahaya di bawah sana.

Ya, saya ingin percaya.


THE HISTORY OF SIPILIZATION

Di atas serakan kerak setipis ari dari segumpal api yang terus bergerak dalam proses evolusi sejumlah jasad renik bekerja keras membangun koloni tanpa henti sepanjang siang dan malam hari mereka harus mendirikan surga di bumi karena hidup hanya sekali sudah itu lewat dan tak ada kebangkitan setelah mati apalah lagi surga sehingga lezat paling nikmat harus tamat direguk jasad selama berhayat di dunia mereka mesti mewujudkan supremasi diri karena tak ada tuhan yang zat sedangkan ilah hanyalah kemungkinan tertinggi dari manifestasi potensi insani akal universal yang kekal mereka menulis kitab sendiri karena yakin bahwa kitab langit hanyalah kumpulan dongeng yang koyak moyak oleh sayatan pisau analisis kritis dan porak poranda oleh strategi pembacaan dari para ahli mimpi mereka tanpa tepi meski ukuran dan umur mereka hanya senoktah cahaya perak di layar hitam sinema maka alam jadi lain dan inferior ketika di atas lapisan labil dari sistem geologis yang tertutup mereka mendirikan menara-menara babel dan hamam yang mencuat tinggi dan runcing bagai hamparan paku setelah mereka pangkas habis rambutnya lebih dulu lalu mereka kentuti sejengkal ruang udara yang mereka hirup sendiri mereka ludahi jantung nadi dan hati dimana mengalir air asal kelahiran sendiri seperti para pemabuk mereka obok-obok mulut rongga rahimnya mereka tusuk dan sayat kulitnya mereka keruk dagingnya mereka kerkah rangkanya mereka sesap sumsumnya hingga menggerowong mereka hisap sari madu mereka muntahkan sampah mereka tabur tuba dan curah cuka pada liang luka-lukanya, ya:

dengan terencana dan sistematis mereka sedang menghabisi diri sendiri.


BILA DATANG DUKA BENCANA

Bila datang duka bencana
Janganlah keburu berburuk sangka

Mengira Tuhan sedang menghinakanmu
Dan alam mengkhianatimu

Sungguh kemuliaan dan kedekatan
Tidaklah terkait dengan kesenangan

Lihatlah dulu siapa dirimu sendiri
Dan bagaimana sikapmu menghadapi

Satu bencana yang sama
Berbeda makna dan manfaatnya

Sakit perih yang mendera diri
Adalah azab bagi pendosa keji

Bagi yang lalai khilaf teguran peringatan
Namun jadi ujian di hati yang beriman

Sedangkan untuk para wali rezeki
Dan perhiasan mahkota bagi nabi


PERCOBAAN

Belati yang diulurkan kekasih
bagaimana bisa dielakkan.
Cawan tuba yang disodorkannya
bagaimana bisa ditolakkan.

Mendung dan badai
akhirnya tergulung dan usai: sekedar bukti
insan lebih tinggi dari gelapnya
lebih besar dari hempasannya.

Dan kini tinggallah ia sendiri berdiri tegak
di bawah surya berpijar. Hanya tubuhnya telanjang
berkilatan, bagai patung tembaga, dengan rambut tergerai
dimainkan angin yang lembut dan ringan,
yang bertambah lemah dan perlahan.


KETIKA BERITA BENCANA TIBA

ketika berita bencana tiba
dengan segera saya merasa prihatin
sembari dalam batin diam-diam bersukur
karena jatuh nun jauh di sana
dan bukannya terjadi di sekitar saya

tidak hanya itu
dengan segera saya merasa perlu mengusut
apakah ini buah dari ulah serakah manusia
ataukah tulah dari Tuhan atas kaum durhaka
atau mungkin hanya polah dari alam semesta
yang semakin ringkih oleh usia renta

ketika berita bencana tiba
saya tetap tidak berani bertanya
“bagaimana kalau saya...?” apalagi (tentu saja)
Meminta “mengapa harus dia dan bukan saya...?”


BAGI BOCAH YANG MATI

Maafkan, aku tak bermaksud untuk luruh
lalu menggulung dan menindih bocah itu
dalam runtuhanku. Sungguh, aku telah mencoba
bertahan bergantung di punggung gunung sana,
aku bahkan telah menggigit kaki-kaki rumput
yang kering itu setelah orang-orang kampung
datang membuntungi lengan-lenganku
dan membakar sisa-sisa akar.

Akupun mencintainya.
Bocah lincah dan lucu itu
dahulu sering bermain di lerengku
memetik bunga-bunga.
Biarkan aku menyelimuti jasadnya
yang kedinginan sendiri di kaki gunung ini
dengan rumput paling lembut wangi.
Bunga-bunga kesayangan terindah
akan kutumbuhkan untuk menghiasi tidurnya.


STATISTIK KORBAN

1000 tewas oleh bencana
dan warga dunia guncang karenanya
seorang pengemis terbujur ditutupi koran
kita menyerahkannya pada dinas kebersihan

1000 nyawa dicabut secara massal
dan 1 nyawa meregang sepi di bangsal
tentu dengan berita yang pertama kita tersentak
dan Maut lantas jadi selebritas mendadak

karena dalam statistik negara
dan matematika demokrasi sederhana
1000 jelas lebih signifikan dan dominan
jika dengan hanya 1 dibandingkan

tetapi dalam timbangan keadilan
duka seorang ataupun 1000 kurban
sama besar dan beratnya
sama sedih dan sepinya

maka hormatilah
setiap tetes air mata yang tumpah
setiap titik darah dari luka
: ia keramat dan mulia


MUNAJAT BENCANA

Bila dalam sejuk semilir dan rinai rintik
tak kami lihat senyumMu ramah menyapa,
adakah amuk badai dan arus bah melanda ini
seringai amarahMu? Bila lirih himbauMu
tak juga dihiraukan para hamba,
inikah geram mautMu yang menghalau kembali?

Dan bila pemuliaanMu atas lempung hina ini
hanya membuatnya angkuh bangga,
akankah kau hempaskan ia ke atas tanah
hingga nyaris binasa agar mampu mengakui rapuhnya?

Wahai, Sang Pencurah Rahmat,
jadilah kehendakMu
dalam kemahalembutanMu!


KUATRIN KETIKA BADAI

Di luar badai begitu riuh;
tetapi betapa sepi setetes air itu
perlahan menitik jatuh
dari lubang kecil atap kamarku.


MEDITASI SETELAH BENCANA

setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa bersukur dan percaya
berada pada golongan yang benar
karena darinya dapat terhindar

sementara di atas langit, malaikat bala
menatap prihatin dan menggelengkan kepala:
justru karena dan untuk kalianlah petaka ditimpakan
agar dapat sadar dan mengambil pelajaran!

setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa diperlakukan dengan semena
yang tak berdosa bergelimpangan mati dan sekarat
sedangkan yang keji malah aman dan selamat

hingga malaikat bala berbisik kepadaku
adakah aturan ciptaan pada pencipta berlaku
sementara kalian kepada sesama berbuat tak patut
pun tanpa tanya dan pilih, membakar sarang semut

setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa kecewa dan gundah gulana
apakah sia-sia saja telah beriman
mengapa percaya tak membawa keselamatan

dan malaikat bala tertawa menggema lalu bersabda
apa keyakinan kalian menuntut balas jasa dan imbal guna
seperti pedagang ajimat bermain tawar menawar
bila merugi lantas gusar lalu bertukar ingkar!


SAJAK RINO

kalau tiba musim hujan
dan banjir datang
Rino suka main air genangan
atau tanding bola di lumpur berkubang

biasanya sekolah akan tutup
barang sehari dua
Rino dan kawan puas berkuyup
tertawa-tawa bersama

kadang ayah marah datang mencari
dengan membawa sebatang lidi pecut
dan di rumah ibu akan menyuruh mandi
lalu menghukum di bawah selimut

pagi ini Rino bangun kesiangan
lihat orang sedusun basah berlumpur
ke manakah ayah ibu gerangan
mereka terus tidur seperti bulan libur


IA TAK LAGI BERANI MENDUGA-DUGA TENTANG ANGIN

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang angin
Sejak gelisah yang berpusing itu datang
Menerjang membuat terban rebah
Segala yang pernah ditegakkannya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang tanah
Sejak kesabaran itu retak rekah
Menelan lenyap segala
Yang pernah disemainya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang api
Sejak amarah yang menyembur itu
Menghangusmusnahkan segala
Yang pernah dipunyainya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang air
Sejak ketenangan itu bangkit menggelombang
Menyapu pupus segala yang pernah
Ia sebut sebagai kesayangan

Ia tak lagi berani menduga-duga
Tentang angin, tanah, api dan juga air
Sejak ia merasa bahwa keempatnya kini
Tengah bersiasat untuk mengingatkannya


JALAN SETAPAK

jalan setapak yang terlupakan
terkapar dibakar matahari
semak belukar di kedua tepi
berlomba menghapusnya

sejak jalan aspal datang
mengiris punggung bukit bunga
para peladang di hutan
lama tak lagi melintasi

ia berharap semoga ada bocah
yang tersesat di padang sana
biar nanti para pencari
kembali lalulalang di atasnya

di mulutnya dulu aku berdiri terpaku
tak tahu arah mana menuju rumahku
bila kini kalian datang mencari
temukan aku di dahan pohon kayu


SEUSAI BADAI DI TELUK

Langit mendengus geram
Dan menghunus dendam kelamnya
Untuk ditikamkan berulang ke busung dadamu
Yang putih terbuka menantang malam

Amuk belalai badai membantai, gemuruh
Beribu guruh menyerbu, cambuk petir mengamuk,
Dan berjuta panah hujan susul-menyusul
Menggempur gempar telukmu, tak berampun.

Tetapi cagak karang hitam itu
Yang menyimpan karat waktu berabad-abad
Tetap tegak terpejam membisu di tengah seru deru
Bersabar menerima bagai biksu tua yang telah tahu

Maka setelah lelah segala tumpah
Kembali, dari balik rumpun pohonan yang terpilin,
Keluar dari semak belukar yang terbongkar,
Hening perlahan merayap menyisir pasir dan mengendap

Di wajahmu yang kuyup menyimpan denyut sisa geletar
Tinggal mengapung berserak pecahan papan,
Patahan tiang, dan sobekan layar: jejak yang sebentar
Akan diraup hapus oleh arus laut ke selatan

Sementara langit jadi lebih pias dari semula
Lebih kuyu dan sayu, lalu bergulung menjauh, letih
Oleh lampias liar dari amarah gairah sendiri
Kini, ia merasa bertambah dingin dan semakin sepi


RINTIHAN BUMI

Betapa pedihnya
pukulan cangkul, irisan linggis,
dan garukan garumu

betapa perihnya
kucur cuka, tabur serbuk tuba,
dan jalar api bakarmu

di wajahku
kurasakan,
kutahankan

maka, ngalir air mata
dari pelupukku
untuk hapus hausmu

menggumpal nanah luka
dalam umbi ubiku
untuk tebus laparmu

dan menyembur darah kental hitam
dari lubuk jantungku
nyalakan pelita untukmu

bagimu
kuserahkan
kupasrahkan


BAHTERA NUH

Bumi yang purba,
Bahtera nuh kita,
Bertahan mengapung
Di samudera waktu
Didera arus dan gelombang
Murung termangu
Seperti jantung berlemak
Yang ungu kehitamhitaman
Berjuta tahun telah berlalu
Masih terus berdetak juga

Helaan nafasnya
Perlahan, dangkal, dan berat
Kelopak matanya mengatup
Menghindari cahaya matahari
Yang kejam merajam

Tubuhnya
Kita cacah kita sayat
Kita garuk kita cakar
Wajahnya
Kita injaki kita ludahi
Kita kencingi kita beraki
Ia diam saja
Bertahan setia
Meski menderita

Hanya terkadang sekali dua
Bersin dan batuknya
(yang susah payah coba ditelannya)
Pecah tak kuasa tertahankan
Dan kita lalu menjerit-jerit melengking
Menudingnya
Tak lagi mau bersahabat
Dengan kita manusia

Lihat,
Pada pelupuknya
Yang diseliputi lendir tebal katarak tua,
Air mata keruh berlinang
Ia tak lagi bisa berkata-kata
Membela diri
Tetapi dari kernyit retak keningnya,
Denyutan di kerut kelopaknya,
Dan dari suara erangnya
Yang serak oleh dahak mengerak
Adalah isyarat tanda
Yang memberitakan derita
Lebih jelas tegas
Dari kata dan berita
Dalam warta dunia

Astagafirullah!
Bagaimana kalau suatu waktu
Ia memutuskan untuk menyerah takluk saja
Kepada gerogot usia,
Menyahuti jemputan maut,
Mengangguk kepada telunjuk ajal
Kemudian memejamkan mata selamanya
Lalu melenyap tenggelam ke dasar samudera tiada
Damai terbaring dalam cahaya biru temaram
Tenteram senyap
Dari arus dan gelombang waktu

Jika kapal layar karam
Di laut berpalung
Dengan apa kita
Mengapung bergantung,
Bagaimana kita
Sampai mencapai tanjung ?

Thursday, December 10, 2009

DUA SAJAK CINTA (Dari Arsip Sajak Lama)

UCAPAN SELAMAT PADA PERKAWINAN KAWAN

Kawan, selamat untukmu kuucapkan
karena engkau telah berhasil mendapatkan
perempuan terindah di kota ini
tak ada lain yang seperti ia lagi

Tak ada lain yang seperti ia lagi
perempuan terindah di kota ini
yang bila duduk diam betapa anggun
yang kala berjalan membuat kita tertegun

Perempuan terindah di kota ini
tak ada lain yang seperti ia lagi
jaga dan jangan sakiti hatinya
setia serta percayalah kepadanya

Tak ada lain yang seperti ia lagi
perempuan terindah di kota ini
kami melepasnya dengan berat dan getir
meski hadirin membanjir, hidangan mengalir

Untukmu kuucapkan selamat
namun yang kukatakan harus kau ingat
karena aku pun mencintainya
lebih dari cintamu kepadanya


KELUHAN PRIA TUA

Musik yang sedih
dan lirik yang lirih
adalah racun sempurna
di senja yang segera.

Yang bayang terbayang
wajah yang tersayang:
parasnya betapa ranum
tubuhnya begitu harum.

Tetapi, kemana gerangan pergi
dara manja berkawat gigi
matanya bundar cemerlang
dan lengannya berpendar telanjang.

Atau perempuan beraut serius
dengan rambut panjang lurus
yang darinya kuberpaling
saat meminta harus terus seiring.

Dan, ah, betina garang
beserta pagutan dalam dan panjang
kini ibu panutan, ketua darmawanita,
setelah diperistri walikota.

Seluruhnya sisa kisah lalu
walau indah sudah berlalu
Tinggal aku seorang lelaki tua
masih terlunta, tiada berdua.

Sekarang kukenang mereka
semua dalam kepedihan yang sama;
tetapi aku tentu takkan pernah mengaku
kepada si jelita yang tengah kupangku!

TENTANG SEJUMLAH PENEMBAKAN ITU

(Antara 1997/1998 hingga kini, sejumlah insiden penembakan dan salah tembak telah terjadi. Yang bersalah telah terhukum-entah sepadan atau tidak. tetapi yang korban, terenggutkan selamanya dari matahari pagi, dari hangatnya hati orang-orang yang mencintai)

LELAKI YANG KEHILANGAN

Perempuan itu pamit keluar sebentar
Ketika tentara mengejar-ngejar petani
Kemudian penantianmu jadi sejauh keabadian

Para pembunuh telah berpulangan
Darah telah dibersihkan
Dan asap telah reda

Tetapi tak ada
Yang menghapus air matamu
Mereka malah menertawakan kesedihan

Para pembunuh telah dianugerahi bintang jasa
Para penuntut mengincar saat ganti berkuasa
Tetapi siapa yang akan mengingat kehilanganmu?

Ke jauh ujung jalan
Murung matamu jatuh tercenung
Apakah gerangan yang kau tunggu?

(2007)


BALADA PAK KRAYAT
-Agustus 2005

Pak Krayat, Pak Krayat, O, Pak Krayat
Alangkah sabar dan penuh maafnya kamu

Aku tahu kamu telah ditipu dan dikerjai berkali-kali
Sementara engkau menggadaikan diri kepada pemberi kerja
untuk upah yang akan segera habis kurang dari dua minggu,
Engkau diledek habis-habisan oleh kenaikan harga dan aneka pungutan,
oleh iklan-iklan gemerlapan, oleh kuis berhadiah jutaan rupiah
dengan pertanyaan remeh yang melecehkan akal sehatmu,
dan oleh gaya hidup para pejabat serta wakil rakyat
yang bukan main ajaib anehnya.
Tetapi, kamu tetap mampu tersenyum, meski kecut,
sembari mengurut dadamu yang ringkih.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat.
Berapa dalamnya samudera kesabaranmu,
Berapa tingginya langit pemaafanmu?

Meski Sang Ekonom yang logis dan empiris dengan wajah dingin
menggunting separuh dari secarik uangmu lusuh
tahun demi tahun, karena tahu dan yakin
engkau toh pasti masih akan sanggup
bertahan hidup, bagaimanapun juga caranya,
Meski Sang Perencana Kota penuh antusias
merancang peta yang akan menyingkirkanmu
demi jalan-jalan layang yang tak akan kau lalui,
demi pemukiman mewah yang memasang palang dan satpam
di gerbang masuknya untuk menghadangmu,
dan demi mal megah yang gemerlap lampu-lampunya saja
telah mampu membuatmu gelagapan,
Meski para pelayan masyarakat semakin galak memalakmu
dan aparat keamanan kian giat berlatih
untuk menyasarkan peluru menembus jidatmu,
Namun engkau tetap siap sedia untuk mati
sebagai relawan demi membela negara
yang tak pernah sungguh-sungguh membelamu.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat
Kesabaranmu lebih keras dari bukit cadas,
Pemaafanmu lebih luas dari samudera.

Walau mimpi adil makmur harus kau bawa
hingga ke liang kubur,
Di hari Senin pagi ini, kamu masih menyempatkan berhenti
dan berusaha berdiri tegak, meski gemetar
menahan nyeri lutut oleh rematik akut
Ketika di halaman upacara sebuah sekolah dasar
yang hampir runtuh atapnya,
Lagu Indonesia Raya dinyanyikan sayup sayu
dan Sang Saka dinaikkan perlahan
dengan merahnya yang ketakuttakutan
dan putih yang kebisubisuan.


NASIHAT BUAT ANGKATAN BERSENJATA
- penganiayaan mahasiswa UMI, 2004

lencana dan senjata
bukan lisensi bagimu
untuk semena-mena
merasa nomor satu

tanpa bertameng lencana
siapakah dirimu
tanpa menenteng senjata
bisa apakah kamu

hanya mengandalkan lencana
cuma berbekal senjatamu
alangkah pengecutnya
dirimu itu

di balik lencanamu
mestinya bijak cendikia
di belakang senjatamu
harusnya satria mulia

jaga hati dan kepala
pelihara tangan dan kaki
agar namamu terjaga
jauh dari caci maki

hindari kekerasan
yang tak terkendali
jauhi pemerasan
dan segala pungli

ingat-ingat sumpahmu
camkan ini nasihat
agar dunia akhiratmu
selamat dan afiat

jika tidak kau faham
maka dirimu alangkah kasihan
hanya preman berseragam
atau bocah sok jagoan


BAGI YANG MATI DI SEMANGGI

Sebutir peluru tajam menghunjamkan malam di pelupukmu.
Darah tercurah dari tubuh yang rubuh
menyiram kaki beton semanggi.Tetapi
tak akan tumbuh bunga esok hari di situ.
Dara kecil biar termangu mencarinya nanti.
Juga kupu-kupu. Tidak ada air mata. Namun
benakku menjelma radio larut (yang dahulu
biasa menemani anak muda itu melamunkan kekasihnya
hingga pukul tiga pagi), tergeletak di atas meja sendiri berteriak-teriak
serak memanggil gelombang dalam gulita. Seperti bendera
ditinggalkan angin. Bagaikan lagu kebangsaan
dilupakan kelompok paduan suara. Untuk apa.
Gerimis masih di jendela
terus menulis namamu, menyanyikan cinta
terkandaskan dari dadamu yang rekah
oleh keping timah.
Aku mungkin akan segera melupakanmu.
Aku tak pernah ada
di sana. Tidak pernah
ada. Tidak ...


(1998)


MEGATRUH

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
menuju cakrawala senja
pulang ke tanah purba

dari Aceh Merdeka hingga Timika Irian Jaya,
dari pelosok kampung-kampung kumuh
hingga kaki gedung-gedung kukuh

peluru yang tumpah
dan darah yang tercurah
akankah hanya kembali
terlupa dalam sunyi.

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
penuh belukar luka pada sayapnya
penuh bunga duka pada matanya.


(1997/1998)

Thursday, December 03, 2009

BALADA KARTINI

-Malam Solidaritas HIV-AIDS, Tamalanrea, 1995/96 oleh Metastase

Dari kamar hotel ke kamar hotel
bagai camar ia melayang dalam kabut.
Dari lampu merah ke lampu merah
bagai lebah ia menyengat parah.
Dan akhirnya terdampar ia
di sudut gelap sebuah bangunan tua
peninggalan Zaman Belanda
di Jalan Penghibur yang mengabur dalam gerimis
mengerang sekarat meregang nyawa.

Kartini, Kartini, Kartini
bagai bunga layu perlahan mati dan membusuk
terkapar ia dan menggelepar
dihajar oleh lapar dan dahaga
dirajam oleh sakit, dendam, dan amarah.
Dan seperti yang biasa terjadi
pada setiap orang yang akan pergi mati
bayang-bayang masa lalu
datang kepadanya
berdiri di sisi
tak mau pergi.

Kartini, Kartini, Kartini,
umur sebelas tahun kamu sudah kenal lelaki
ketika pamanmu mengendap masuk ke kamarmu
saat ayah dan ibumu belum pulang dari ladang.
Mulanya kamu memang meronta
tetapi sayang ia lebih perkasa
dan ketika kamu menangis sesudahnya
ia hanya tertawa
lantas memberimu kembang gula
lalu berlalu begitu saja
dengan sepatu di tangan.
Meninggalkan kamu di sudut kamar itu
tersedu-sedu tanpa baju
memanggil-manggil nama ibu.

Umur lima belas tahun kamu jadi istri jagoan pasar
tiga tahun kemudian kamu begitu saja disuruh pergi
karena lama tak bisa memberi keturunan
dan lagi kamu pernah menolak juga
ketika ia mabuk dan menyuruh kamu
melayani seorang sahabatnya
seorang tentara berpangkat prajurit dua
yang baru kembali dari Irian Jaya.

Dua tahun kemudian kamu ketemu seorang mahasiswa.
Dari lagaknya yang setia kamu akhirnya percaya
bahwa ia bisa diajak menempuh usia
hidup bersama selamanya.
Kamupun mulai memimpikan rumah teduh
dengan kain jendela berwarna berhias bunga renda
dan ramai oleh jerit tawa kanak-kanak
yang sekian lama kamu damba,
hingga delapan bulan kemudian
ia lari ke Jakarta
setelah meraih gelar sarjana
bersama perawan sma
tetangga sebelah rumah.

Akhirnya kamu memutuskan pergi ke kota
bukan untuk menyusul mencarinya
tetapi untuk mencoba memulai babak baru.
Kamu bawa luka, dendam, dan angan-angan,
tanpa bekal keterampilan dan pendidikan lumayan
seperti dalam kisah klise lama
yang sialnya
selalu saja terulang jadi nyata.

Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya :
berbekal bedak tebal dan harum parfum murahan
kamu meracuni malam dengan semerbak mimpi.
Kamu ternyata segera jadi terkenal, Kartini.
Wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang sintal
jadi rebutan tamu-tamu lelaki.
Dengan atasan yukensi
Dan bawahan rok ketat mini
Namamu Kartini disingkat Tini.

Tetapi kini kamu telah belajar banyak
agar tak nyenyak terlena begitu saja
tak ada orang yang dapat dipercaya
maka hanya kepada dirimu sendirilah
kamu gantungkan kepercayaan.
Perasaanmu kamu bunuh
hingga lelaki yang menidurimu pada terkicuh
kamu biarkan mereka mereka menyentuh badan
menjilati dan menggigitnya bagai anjing kesetanan
sementara jiwamu kamu ungsikan jauh-jauh
tetap utuh, angkuh, dan tak terengkuh.

“Aku bukan seorang wanita murahan.
Aku seorang pekerja !”
begitu kau pernah berkata
ketika diajak wawancara
oleh seorang wartawan muda
setelah terlebih dulu
ia mencicipi kamu.
“Ini masalah jual beli,
ini masalah hukum ekonomi,
ini soal permintaan dan penawaran.
Ada yang ingin dan mencari,
ada yang butuh dan bersedia memberi.
Jangan melulu kami dituduh
sedang pada kamu lelaki mereka tak acuh.
Toh, kalau kalian tahan puasa jajan
paling lama dalam waktu sebulan
lokalisasi ini pasti bangkrut dan tutup.
Mudah dan sederhana saja, bukan ?”

“Dulu aku memang terjebak
tetapi kini aku dapat melangkah tegak.
Kita memang mesti jadi orang baik selalu,
itu dari dulu juga aku tahu.
Tetapi kita harus bertahan hidup
terlebih dahulu.
Ada orang yang bekerja dengan pengetahuannya
seperti para dokter dan ahli ekonomi.
Ada yang bekerja dengan keterampilannya
seperti para tehnisi dan olahragawan.
Dan ada yang bekerja dengan perasaannya
seperti para seniman.
Aku pun bekerja dengan tubuhku
seperti halnya para buruh dan kuli.
Toh, tak kubiarkan mereka meniduriku
sebelum membayar lunas sewanya.

Dan ketika mereka telah hilang kesadaran
dengan mata nanar berputar,
hanya mendengus, mengumpat, dan mengerang,
aku tetap sadar diri
mataku tetap lebar terbuka
menatap langit-langit kamar.
Aku hanya tersenyum kecil
dan tertawa di dalam hati.
Ah, laki-laki sama saja
penguasa atau pengusaha,
tentara atau mahasiswa,
pejabat tinggi ataupun kuli,
alangkah lemahnya ternyata !”

Ya, ya, ya,
sekarang kamu bukan lagi korban, Kartini.
Kini kamu telah memilih jalan ini
dengan kesadaran
sebagai perlawanan menentang keadaan.

“Dan kepada mereka yang mengecam,
tolong Bung Wartawan tanyakan,
kenapa diharamkan bagi kami memakan bangkai
sementara hidangan santapan empuk bertumpuk
tersaji di atas meja makan mereka sendiri.
Dan juga kukatakan terus terang
tanpa mereka sadari mereka juga adalah germo
mereka menutup pintu kerja bagi kami
karena kami kurang terampil
dan tak punya pendidikan tinggi
sedang biaya untuk melatih kami
lebih baik dialihkan untuk investasi
dalam bentuk mesin dan komputer canggih.
Ya, merekalah yang melemparkan kami ke trotoar jalan,
membiarkan kami terlantar mencemari kota.
Tangan-tangan kukuh mereka menelanjangi tubuh kami,
menyumbat mulut,
dan memegangi kedua tangan dan kaki kami,
lalu menggeranyangi setiap senti tubuh kami.
Kemudian dengan penuh kepurapuraan
mereka lepaskan petugas kamtibmas
untuk mengejar-kejar kami
setelah puas mereka
melepas keinginan.”

Mendengar penuturan kamu
Bung Wartawan hanya mengerjapkerjapkan matanya.
Omongan kamu yang tandas dan cerdas
membuatnya melongo bego.
Tentu saja komentar kamu yang gagah itu
tidak layak jual buat dimuat di koran minggu.
Mana ada pembaca yang percaya
kamu bisa bicara begitu perkasa.
Orang macam kamu selalu disudutkan sebagai korban,
jadi sasaran umpatan ataupun curahan kasihan.
Dan bila kisahmu dimuat juga
bisa mencemari harkat martabat pejabat negara
yang bersih jujur dan berwibawa,
karena ternyata kamu beberapa kali
pernah dibooking berhari-hari
menemani pejabat tinggi dari ibu kota.

Maka daripada pusing kepala pikirkan itu semua
Bung Wartawan Mudapun memutuskan
untuk melupakan perkara wawancara.
Adapun isi rubrik kisah nyata
akan ia ganti dengan cerita rekaan saja.
Lalu dengan terburu-buru penuh nafsu
ia mengulum ibu jari kakimu
untuk kesekian kali
kamu hanya tersenyum
dan menatap langit-langit kamar
disana tergambar wajah ramah paman kamu,
wajah beringas jagoan pasar,
wajah kasar tentara prajurit dua,
wajah mahasiswa muda,
dan wajah-wajah lelaki lain
yang makin lama kian tak jelas
berbaur kabur.

Kartini, Kartini, Kartini.
Dari kamar hotel ke kamar hotel
bagai camar kamu melayang dalam kabut.
Dari lampu merah ke lampu merah
bagai lebah kamu menyengat parah
dan akhirnya terdampar kamu
di sudut gelap sebuah bangunan tua
di Jalan Penghibur yang kuyup dalam hujan.
Mengerang sekarat meregang nyawa.

Mungkin kamu memang menderita, Kartini
tetapi kamu juga tetap berbangga
lembah dosa yang kelam penuh nista
kamu rambah dengan mata menyala
perkasa dan penuh makna.

Kartini, Kartini, Kartini.
Orang-orang bijaksana, para pendeta dan ulama
mencaci kamu.
Mereka bilang kamu pendosa keji dan hina.
Orang-orang LSM, para cendikiawan, dan penyair
membela kamu.
Mereka katakan kamu hanya terpaksa dan tak berdaya.
Tetapi bagaimanapun juga, Kartini,
pendosa ataupun terpaksa
mereka tetap tak bisa tinggalkan kamu
menghitung sisa hari
sendiri
dalam sunyi.

Thursday, October 15, 2009

TIGA KUATRIN SEDERHANA

A TRIBUTE TO MBAH SURIP, 2

Mbah, kamu menggelandang kemana-mana
Dengan perut cuma terisi asap dan kopi
Kamu bahkan harus lari hingga ke akhirat sana
Hanya untuk menghindari kontrak dan royalti

(2009)


KUATRIN PERKAWINAN MEGAH

Pesta ini pasti acara yang sakral
Penuh dihadiri orang tak dikenal
Lihat, undangannya saja begitu luks
Semoga isi amplop nanti bisa menebus

(2009)


KUATRIN CINTA REMAJA, 2

Setengah bulan menjenguk dari bingkai jendela
Namun cahayanyapun telah cukup menerangi
Sudah berbulan, surat balasanmu tak kunjung tiba
Biarkanlah, agar harapanku beralasan untuk menanti

(2009)

Thursday, August 06, 2009

KUATRIN CINTA REMAJA

Di kejauhan, rumahmu bermandikan sinar lampu
Tungkaiku gemetar dan lidahku kering kelu
Meskipun malam mulai menyamarkan wajahku,
Kutakut, mungkin kau akan masih mengenaliku

(2009)

PERJANJIAN HARI MINGGU DENGAN PUISI

Kita berjanji bertemu
di petak sempit halaman budaya
meskipun harus terhimpit sesak
ditindih renungan mingguan,
disikut tinjauan kritik,
pada sisa sudut cerita pendek.

Maka datanglah dalam potongan yang pas
dan dandanan yang agak pantas
biarpun kumaklumi
honormu hanya sedikit berlebih
dari ongkos minum kopi, biaya angkot,
serta tarif cetak di rental warnet
--dan baru bisa diambil sebulan lagi.

Jangan mengingkari janji, ya.
Saya masih setia menanti dan mencarimu.
Hatiku gembira karena kita
akan segera bertemu di minggu pagi,
pada hari paling sedih dalam seminggu
(karena waktu berleha akan segera lewat).
Kutunggu kamu di sisa halaman
yang semestinya memuat
iklan obat kuat dan jasa pijat.

(2009)

Saturday, July 18, 2009

MENGENANG KEMBALI: TEROR (Dari Arsip Sajak Lama)

DI LEGIAN

Dua ratus mulut
tak mampu lagi mengucap rayu
empat ratus mata
tak sanggup lagi bersitatap sayu
delapan ratus tangan-kaki
tak kuasa lagi melantai menari
dan dua ribu jemari
tak bisa lagi saling jalin dan belai.

sejak mereka tercerai berai
setelah dua ledakan saja
meluluhlantakkan malam pesta.


SURAT TERBUKA KEPADA TERORIS

engkau yang aman tersembunyi
engkau yang menekan tombol kendali
perang apakah yang coba kau jalarkan kemari?
surga macam apakah yang kau kejar dan cari?

bahkan Sang Nabi Panglima Agung
melarang mematahkan dahan menggantung
sementara engkau yang menjeritkan kesucian
bagai kerasukan menghambur kutuk ke kerumunan

perang siapakah? sucikah ia?
siapa yang memaklumkan dan menasbihkannya?
sehaus darah itukah sangkamu ia yang kau sembah?
alangkah sepinya surga kau huni sendiri

engkau yang aman tersembunyi
engkau yang menekan tombol kendali
kebaikan yang engkau dalihkan
akankah lahir dari laku penghancuran?

Tuhan Yang Mahamemelihara
menjaga dunia dari aniaya binasa
tetapi senyummu yang ramah namun aneh
menujumkan rumah runtuh dan tubuh leleh


DOA KEKASIH SETIAP PAGI
-uci dan muhary, peledakan KFC Makassar

semoga tak ada kekasih lain
yang melambai untuk merebutmu
di setiap kelokan jalan

dan semoga tak ada bom waktu lain
yang mengintai untuk meleburkanmu
di setiap tujuan

MENGENANG KEMBALI: BALI (Dari Arsip Sajak Lama)

PARADISE LOST

Tari hilang rasa
Lagu hilang nada
Raga hilang jiwa
Pura hilang dewa

(Tersasar berputar
Kembara tanpa Peta)

Burung hilang kicau
Bunga hilang pukau
Angin hilang desau
Embun hilang kilau

(Terkapar nanar
Penyair tanpa Kata)

1995


BLACK CANYON CAFÉ, CENTRO, KUTA

Di kafe yang hampir tutup
Kita singgah melengkapkan kenangan
Yang penghabisan memanggil
Meski nyaris kuyup dan gigil
Oleh hujan penghujung tahun
Yang meraung di paruh malam
Sejak menjejak senja
Cangkir kopi erat mendekap hangat
Cengkraman jemari hitam kita
Sloki teh keemasan boleh cemas menanti
Menawarkan tajam pahitnya
Tetapi pramusaji yang manis itu
Masih tak kunjung letih
Tersenyum ramah seolah menyajikan janji
Namun kafe memang lebih lengang waktu itu
Dengan cahaya yang telah memberat
Dari lampu yang setengah melamun
Mungkin juga merabun buta oleh kantuknya
Namun kuta yang kelam dan tua
Masih senantiasa bertahan dalam setia
Berbisik dari balik gerimis yang tempiasnya
Memburamkan kaca jendela
Membiaskan pendar warna
Seakan ingin membersihkan cerita
Dari dusta di brosur wisata
Ah, sengkarut dunia yang renta
Jerit tengkar derita insan yang fana
Diselingi teriakan para maniak
yang gemar merakit bencana,
Dan percaya punya hak
rencanakan kiamat lebih mula
Sedangkan kita kerap hanya terpana tanpa daya
Seperti sartre yang sibuk hilir mudik
Di dalam tempurung kepala
Antara ada dan tiada
Juga beatles yang kali ini entah mengapa
Agak memelas sayu bernyanyi
Dan sajak-sajakku yang murung sunyi
Dua lelaki di sudut ruang temaram itu
Sejak tadi bertukar kisah dengan suara rendah mesra
Adakah mereka sepasang kekasih yang sedang kasmaran
Dan tengah menyusun janji-janji
Tetapi kuta masih berbisik juga
Pun ketika seorang pria
Bergegas pergi menunggangi vespa butut
Setelah menyerahkan heroin
Di sela lipatan majalah
Berapa sumbu nikotin sudah disulut
Membatin di pembuluh darah dada
Ini malam terakhir sebelum penerbangan kedua
Mari kita cari ari di selarut ini
Hujan telah berhenti sedari tadi
Maka bertiga di tepian kolam yang masih baru birunya
Kita pun telentang haru menyaksikan
Konstelasi bintang dan samar kabut galaksi
Di hujung jauh rentang bimasakti
Menelanjangi nanar masa lalu, ranting silsilah,
Membiarkan mimpi-mimpi terhuyung kesepian
Lalu termangu lesu di bibir tidur memutih letih
Dari fajar dini hari tinggal sebentar lagi
Ari, rudi, biar sepanjang bentangan 1000 tahun
Ini kali yang pertama sekaligus terakhir
Kita bisa bersama
Begini

2005


DENPASAR MEI 2007

Bukan hanya
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan

Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana

Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka

Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati

Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara

Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan

Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta

Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika
2007


DI KUTA, DI KUTA

Di kuta, di kuta
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Sengkarut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi

2007

Wednesday, July 15, 2009

PULANG, PULANGLAH JK

(Dalam masa kampanye Pilpres 2009, seorang kawan meminta saya mengarang sajak mendukung Jusuf Kalla. Meski memilihnya lebih dari kedua kandidat lain, saya tidak mau dan juga tidak mampu memenuhi permintaan itu. Namun, setelah suntuk seharian sehabis mengetahui pengumuman hasil hitung cepat, sajak inipun mengalirlah. Barangkali berlebih, tetapi biarlah saya katakan: dalam dirinya, seolah sosok Syahrir dan Hatta, dalam kadar tertentu, terpadu lahir kembali)


Pulang, pulanglah JK,
Membina keluarga,
Mengelola sekolah,
dan menegakkan mesjid;
Menjaga dan memelihara nilai-nilai
Yang lebih terhormat dan berharga
Dari hanya tahta
Dan sekedar harta

Pulang, pulanglah JK
Semasa teladan masih manis
Kelak anak cucu bugis
Akan mengurai mengulangnya
Tanpa habis
Sementara nusantara
Terbius buta untuk menilaimu
Menggilai kilap tampilan
Dari keahlian dan keterampilan

Pulang, pulanglah JK
Lugu lugas tangkasmu
Juga canda cerdasmu
Beserta songkok miring
Dan tipis mungil garis kumis
Alangkah karib hangat di hati
Meski tak sememukau
Janji jas dan dasi
Imaji basa-basi

Dengan kerah terbuka,
Lengan tergulung siaga,
Bolpen di kanan
Bloknot dalam genggaman
Engkau menyuruk bandar,
Jalan serta pasar
Memastikan gudang tetap berisi
Dan dandang rakyat mesti
Masih mengandung nasi

Sesengit saudagar, engkau
Menakar menawar
Agar neraca bangsa
Tak tekor di ujung hari
Dan setekun nene’ aji
Engkau menisik sobek bendera
Merawat cedera bunda bangsa
Menunda bubarnya
Janji bersama

Meskipun hanya segelintir
Yang mahir menaksir harga
Memang begitulah
Tabiat umumnya awam
Seperti ketika Habibie
Mereka biarkan diusir pergi
Nanti, nanti pi; tunggu mi
Ketika jiwa terjajah telah jadi
Bangkit mandiri
Penuh percaya diri

Kalla, engkau telah dikalahkan
Namun bahumu tegak tegar
Dan membusung dadamu
Dengan senyum terkulum mahfum
Dan binar di bola mata
Semoga engkau pula diselamatkan
Tercegah dari cela celaka,
tertegah dari reka mereka
Yang bersepakat menyudutkan
Untuk meninggalkanmu

Maka pulang, pulanglah JK
Membina keluarga,
Mengelola sekolah,
dan menegakkan mesjid;
Kembali ke Dasar
Menjaga yang Luhur
Tanah Bugis-Makassar
Wasiat warisan leluhur
Menantimu kembali

(2009)

PANTAI, DALAM DUA BABAK

Debur ombak
Desir angin
Dan desik nyiur

(Menepikan sepi
Di pesisir ini)

Apakah ombak:
Gelombang datang
Atau yang pulang

(Terus kau menebak
Terjebak sihir matahari)

Bila malam turun
Dan camar reda
Sedang pasang bangun

(Jejak tapakmu pun
Kelak sempurna lampus)

Lidah laut mengulumnya
Lubuk laut menelannya
Arus rahasia laut menggerusnya

(Mengurainya, agar tak tersisa
Yang bisa dibahasakan lagi)

Sebentar, gerimis rinai menari
Bagai berjuta helai tirai sutra
Terjuntai, tipis, berlapis

Dalam gerak ritmis nan mistis
Mengantarai mimpimu

(Dari pijar perak bulan)

2009

AMSAL BUKU

Meski
Bukan pintu
Buku itu juga
Menanti
Dibuka

Tetapi
Seperti pintu
Iapun akan
Menuntunmu
Pergi

(2009)

Sunday, June 28, 2009

PERTANYAAN PEJALAN

Apakah yang membawaku ke tempat ini:
Kerinduan yang menuntut bertemu,
Sepasang kaki yang menuntun tubuhku,
Ataukah senyum yang selalu membayang lembut
Di ujung garis bibirmu dan ramah
Yang mencerahi kelopak dan pelupuk matamu?

Aku tak tahu.Tetapi pohon-pohon begitu teduh
Dan burung-burung riuh mengiringi langkah
Dalam perjalanan. Putri malu pun melulu tersipu
Sementara kilat kelebat seekor kadal
Alangkah kontras dengan geliat malas cacing
Yang melata di sela bebatu. Bahkan
Bulir-bulir kerikil itu juga terguncang riang
Di sepanjang setapak yang kulalui

Siapakah yang menambatkanku di sini?
Entahlahlah. Masa depan
Menentukan apa yang terjadi
Di hari ini. Tujuan-tujuan
Mewujudkan sendiri jalan mereka.

Karena dalam pengetahuan Sang Maha Tahu
Segalanya telah selesai sebelum dimulai
Dan pejalan sudah sampai sejak saat
Sebelum lambaian pergi

(2009)

Friday, June 26, 2009

TAK GENDONG KE MANA-MANA

-A tribute to Mbah Surip, The Reggae Mbah

(Refrain:)

Tak gendong ke mana-mana
Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Takutku kenapa-napa

Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Akuku, ke mana-mana
Akuku, ke mana-mana

Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Anakku, biniku, ke mana-mana
Anakku, biniku, ke mana-mana

Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Rumahku, mobilku, perabotku, ke mana-mana
Rumahku, mobilku, perabotku, ke mana-mana

Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Temanku, relasiku, simpananku, ke mana-mana
Temanku, relasiku, simpananku, ke mana-mana

Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Statusku, prestisku, gengsiku, ke mana-mana
Statusku, prestisku, gengsiku, ke mana-mana

Tak gendong ke mana-mana
Takutku kenapa-napa
Mimpiku, ambisiku, obsesiku, ke mana-mana
Mimpiku, ambisiku, obsesiku, ke mana-mana

Ouw yea, ouw yea, ouwww yeaaaaaa

(Chorus, a la Gospel or Gregorian:)

Cintaku, hatiku, hidupku, matiku
Don’t ever leave me my dearthings
Swear: can’t live without ya all
Swear: can’t live without ya all

(Vokal, Rap:)

Biarku dibalut, dipendam, disumpal tanah
Tenangku, kenyangku gak bakal pernah
Love ya, love you all, love you total
Fully, truly, fooly, very very very much, mmmmmuachhhh

Minta kapling kubur jangan satu hanya
Biar semuanya kemuat terangkut serta
Surga neraka terserah asal terbawa
(Jika memang keduanya nyata ada)

Zekesig, zekesig, zekezekesig, zekezekezekesig
Aha, Aha, Uhu, Uhu, Oh yeaaa

(Back to refrain, in Reggae again:)


2009

Saturday, June 20, 2009

RAHASIA SEBATANG PUNTUNG

Sebatang puntung itu,
Yang dicampakkan di tepi jalan itu,
Masih bisa menyisakan nyalanya

Berkejap-kejap, disergap angin malam
Yang sedari tadi mengejar
Dan ingin segera dapat memadamkannya

Seperti masih ingin berkisah ia
Tentang seluruh kesah yang telah dikeluhkan
Oleh bibir merah itu,

Yang sedetik lalu masih berbisik mesra
Dan yang masih terasa lekat dan basah
Sepanjang punggung dan tengkuknya

(2009)

DUA KUATRIN

KAMPANYE

Kata-kata runcing berkilatan, berlesatan
Meluncur dari mulut besar berbau selokan
Dari rahang kasar persegi yang tanpa henti
Berganti nganga-ngatup mengunyah megapon

(2009)


AMSAL BERKEBUN

Benih tanpa lembaga
Akan lemah tak terjaga
Bila kau biarkan di atas tanah
Tumbuh ia tak akan pernah

(2009)

Thursday, June 11, 2009

HAIKU DALAM 15 KUARTO (1994 - 2009)

HAIKU MALAM

Burung malam terbang menjerit
menggarit kelam langit
sudah itu, sunyi menghimpit.


HAIKU SENJA

1.
dingin angin menyentuh
malampun jatuh, di telaga
sepasang gangsa berenang saling menjauh

2.
seekor unggas terbang bergegas
mengerang
diserang malam


HAIKU SUBUH PERTAMA BULAN PUASA

Beberapa anak asyik bercerita
tentang hidangan buka puasa
dan baju serta sepatu baru.


HAIKU KABUT

Di puncak gunung pada ujung subuh
langit biru bumi kelabu bersetubuh:
kabutpun tumbuh.


KABUT

engkaukah itu yang semalam begitu lirih bernyanyi
dalam sunyi mimpi,
membuatku terbangun tiba-tiba dan termangu lesu sendiri
letih dikepung sepi


DI KEBUN BINATANG

Sekerumunan orang menertawai
seekor monyet
yang menertawai sekerumunan orang.


ENAM HAIKU KUCING

1.
Tempat tidur busa baru,
kucing lelap bermalasan di atasnya
seharian.

2.
Terbangun tiba-tiba
di sebelahku :
kucing asyik bermimpi.

3.
Larut malam, lampu padam tiba-tiba
dalam kegelapan, seekor kucing
mengeong, sekali.

4.
Terbangun tengah malam;
di luar, di bawah jendela kamar
seekor kucing menangis.

5.
Ketika diberi ikan dan nasi basi
simpanan sisa kemarin pagi
si kucing melengos mengeong pergi.

6.
Semalam hujan deras tercurah
kucing yang tidur di teras rumah
pagi ini bersin-bersin dan muntah.


HAIKU KUCING DI ATAS ABU

Di atas tumpukan hitam kelabu abu sisa pembakaran
seekor kucing berbulu kuning terang
duduk tenang bersemayam
dan dengan mata terpejam
ia tersenyum


HAIKU ANAK KUCING KECIL

kucing kecil yang kemarin
kulihat di sudut itu menggigil dingin
di manakah engkau kini? masihkah dapat bermain?


DUA HAIKU LAUT

1.
Samodra Raya
dalam garam mengkristal
dibakar Sang Surya

2.
Tengadah menatap langit selalu
laut pun
biru


EMBUN DI BUNGA ROS

seperti tailalat di paras gadis manis
setitik sisa hujan dibubuhkan langit
menambah cerah wajah ros merah


TAKZIAH (1)

selama hidupnya dia tersia-sia
ketika mati kita rancang tangis bagi ia
besok, tertawa bahagia bagai sediakala


TAKZIAH (2)

“Almarhum orang baik. Saya pernah seproyek dengannya.”
“Oh, ya. Eh, kalau dibutuhkan, saya ingin ikut terlibat.”
“Pak Anu gimana sekarang? Masih menjabat?”


TELEGRAM DUKA

Tiba kabar pagi hari:
si anu telah mati;
aneh, aku tak beriba hati!


HAIKU PERIGI

yang mengalami penuh
dari dan di dalam
dirinya sendiri


EMPAT HAIKU DARI HALAMAN RUMAH

1.
Di bawah jendela :
keindahan bunga-bunga aneka warna
menyengat bau kotoran kucing.

2.
Di luar pagar
bunga-bunga juga subur mekar mempesona
minum air selokan tak mengalir.

3.
Ada angin datang mengirim dingin,
ada awan tiba membawa hujan,
dan bagai perawan bumipun berdandan.

4.
Dari dasar lumpur telaga biru
teratai tumbuh penuh rindu
menatap matahari selalu.


HAIKU BULAN MATI

Bulan mati—
laut
terus bernyanyi.


HAIKU MENYUSURI TEPI JLN. DR RATULANGI, U.P.

Dari celah-celah bata kelabu trotoar jalan
rumputan kecil hijau
bermahkota butiran air sisa hujan
meriap berkilau.


HAIKU HUJAN MALAM-MALAM

hujan kian tajam
di pelupuk hari yang pejam ;
berlarian, peri impian malam


HAIKU SYUKUR PAGI HARI

Pagi ini cukup bahagia
sepasang kaus kaki yang baru diganti
sejuk segar membungkus kakiku.


HAIKU PAGI HARI SETELAH HUJAN SEMALAMAN

Semalam hujan angin tanpa henti —
Pagi ini kujulurkan kedua kaki
Biar dihangati mentari


HAIKU MENJELANG SUBUH

Terangnya cahaya bulan
Membakar hangus diri
Dengan dingin seribu sembilu


HAIKU GENANGAN AIR

bahkan genangan sisa hujan
di lubang tepi jalan
memantulkan purnama berkilauan.


HAIKU DI BAWAH PURNAMA

di bawah purnama emas
lelaki tua berambut perak
sendiri menari-nari


HAIKU DESEMBER 2003

langit kelam kelabu
namun hujan jatuh satu-satu
menenangkan geliat debu


HAIKU TELEPON

tengah malam hari
telepon menjerit sendiri
takut akan sunyi


TUJUH HAIKU TENTANG KEMATIAN ITU

1.
Di hadapan jenazah
sepasang pengantin menikah
- ah !

2.
Malam ini oom iko menikah di gorontalo,
pukul sembilan kami melayat ke rumah oom oku--
ia meninggal sore tadi

3.
Yang datang sendiri
juga pergi sendiri, tiada kembali
di ruang menganga luka, meraung sepi.

4.
Melesat kuntaku
menembus tubuhmu rindu
-- hasratkan sarungnya !

5.
Mekar menyebar wangi semerbak
memutih ia menyibak kelam
: bunga sedap malam.

6.
Sehelai daun kuning dari ranting belimbing
jatuh berpusing perlahan begitu hening
-- bayi di buaian terbangun menangis nyaring.

7.
ada pohon, cabang-cabangnya tengadah membuka bagai memohon
pada dahan sepasang podang mendendangkan tembang perjodohan
dari rantingnya : bunga merah kecil luruh sendiri tanpa rintihan


HAIKU KUPU-KUPU

Kupu-kupu, kupu-kupu,
pernahkah kau sesali wujudmu dahulu
sbagai ulat kecil berbulu di dahan pohon jambu ?


HAIKU KEMATIAN

kristal ruh dipecahkan
cahayanyapun berpendaran—
sekuntum mawar, mekar pelahan.


HAIKU MATI LAMPU

lampu padam;
alangkah tajam
jerit jarum jam!


PETUNJUK MENYEBERANGI JALAN

bahaya memanglah tak tentu
tetapi melangkah mundur ataupun maju
jangan pernah ragu


TUJUH HAIKU

1. Cinta:
luka paling suka
di kedalaman
palung duka

2. Mesjid:
kesunyian telaga hijau
oleh sujud
melumut

3. Desa:
bukit-bukit bunyi
membait
sunyi

4. Kota:
kotak-kotak kaca
sesak
oleh kata

5. Mal:
kuil berhala
bagi tuhan paling ilahi:
birahi insan

6. Maut:
sekerat demi sekerat
berakar beruratkarat
saatnya sekarat

7. Badai:
deras hujanmu
deru anginmu:
desah kesahku


HAIKU MALARIA

hanya setitik gigitan nyamuk
dan prajurit itu bagai si gila ngamuk
terkapar ambruk, oleh maut dibekuk


SUMUR MALAM

di dasar sumur malam
jernih dan dalam
bersinar berpendaran
bulan


SAJAK-SAJAK NEWCASTLE

1.
Burung robin, wahai burung robin
Adakah engkau juga lapar dan dingin?
Mari ke sini,
berbagi roti ini
bila kau pun ingin.

19.
Bersajadahkan tanah
Bongkah batu
Sujud tanpa sudah

20.
Kelopak bibir pencinta
Tawarkan anggur
Paling garang

28.
Anak siapa yang tertawa menggoda
: Gagak ngakak ternyata
Di dahan pokok kemboja

29.
Musim gugur telah tiba
Sampai jumpa
Bunga-bunga

34.
Seharian dibakar surya
Langit biru memerah bara
Lalu leleh ke arah cakrawala

47
Tak henti-henti gelisah muara
Ingin mengisahkan rahasia
Bening matair mengalir hening

48.
Sebusur pelangi meluncur
Menyusuri lengkung punggung langit
Dua cerobong pabrik baja, menegang di bawahnya

49
Setangan kelam, lembab dan basah
Diulurkan malam, perlahan menyeka
Sembab merah pelupuk senja

50
Sulur-sulur air dijulurkan laut
Pada tiap pagutannya, pantai
Yang tadi, menghilang pergi

59.
Ada koran minggu pagi edisi puisi?
Tanyaku pada penjaga kios itu
Di sore hari rabu

67.
Setelah menampar pipi putranya
Ibu itu duduk
Membelai lembut rambut putrinya

68.
Dingin ubin menombak ubun
Basah menggenang di ranjang
Tinggal tungku yang masih setia

73.
(sebuah kuliah dalam hal nasionalisme)

Tak pernah akan cinta berdiam betah
Di tanah dimana percaya beserta setia
Telah jadi entah

74.
Bulan laut mati
Surut aku
Kembali padam-
Mu

78
Jalan bergegas melintasi taman—
Kopi dalam gelas kertas di tangan
Telah keburu dingin

79
Tinggal sendiri
Ia nyalakan lampu
Mengusir dingin

90
Runcing lembing dingin
Melubanglubangi langit
Meliang bintang-bintang

97
Menderu gugur daun
Lebih sedih dari hari yang lalu
-Kemana lantun burung kemarin itu?

98
Pohon, tunggu, jangan keburu gugur dulu
Tolong beri satu hari lagi
Bagi sepasang burung itu
Mencari dahan baru pengganti


EMPAT EKOR KAKATUA

Empat ekor kakatua
Riang dan riuh
Di dahan pohon kayuputih
-- Bisakah juga mereka
Merasa sedih serta kecewa?


IBU MENJEMUR BAJU
-Terpantik oleh baris haiku jurnalis L. Yulianti

1/
Seorang ibu menjemur baju
Harum baunya
Diterjen baru

2/
Seorang ibu menjemur baju
Angin dan matahari
Turut membantu

3/
Seorang ibu menjemur baju
Si kecil bergulingan
Berlumur keringat debu

4/
Seorang ibu menjemur baju
Meski tahu akan kembali kusut kotor
Tak pernah marah jemu

5/
Seorang ibu menjemur baju
Sehelai setangannya sendiri
Tak kunjung kering dari air mata


HAIKU BUNGA DI POT

Semakin kering tanahmu
Kian runcing
Merahmu

(2008)


HAIKU METROPOLITAN

Dalam kantung si pemabuk malam,
Sekeping bulan
Terguncang
Riang

(2008)


HAIKU SEUSAI HUJAN

Setelah hujan pergi
Berdenyut menggeliat lagi
Sungai mati

(2008)


HAIKU JALAN SUNYI

Di jalan yang jarang dilalui orang
Oleh tapak langkahku, berdesik terusik
guguran daun kering

(2008)


HAIKU HARUM PEREMPUAN

Diselundupkan angin malam
Lewat celah pintu : harum perempuan habis mandi
Lalu di jalan depan

(2008)


HAIKU SESUDAH ASAR

Hembusan sejuk angin
Selepas salat asar ini :
Sesegar sebelum fajar !

(2008)


HAIKU MENJELANG HUJAN

Awan berarak perlahan
Sekawanan burung bergerak ke selatan—
Di manakah gerangan ia sekarang?

(2008)


HAIKU MENUNGGU SESEORANG

Setangan basah oleh air mata
Semoga kering segera ia
Sebelum engkau keburu datang

(2008)


HAIKU KASIH IBU

Meskipun tak sakit
Ibu turut makan
Bubur dimasakkannya untukku

(2008)


HAIKU PENGORBANAN

Tertawalah
Biar air mataku
Tak sia-sia

(2008)


DUA HAIKU PAGI BUTA

1.
Alangkah rimbun kabut
Di ubun pagi buta, belum terbangun
Bunga-bunga kebun

2.
Setitik embun dibubuhkan angin
Terayun alun, tergulir jatuh
Sekuntum jasmin pun, terbangun

(2008)


HAIKU PAGI HARI

Derum motor lalu
Menggeram ngotori
Kicau burung pagi

(2008)


HAIKU HUJAN PAGI

Sejak turun hujan pagi
Kemarau bergerak perlahan
Dihalau pergi

(2008)


HAIKU JALAN RAYA

Terperangkap di tengah arus
Yang merayap lambat:
Meraung senyap, ambulans

(2008)


HAIKU KEMEWAHAN PAGI

Haiku di tangan, musik sapardi di telinga
Sedang malam tiga setengah di luar
: merimbun belukar sajak dalam benak

(2009)


HAIKU TIKUS SELOKAN

Tikus tanah di liang selokan, maafkan
Kami telah sematkan namamu
Pada si rakus serakah!

(2009)

KUATRIN DALAM 33 KUARTO (1994 – 2009)

KUATRIN PAGI HARI

Di cakrawala awan gemawan perak mulai perlahan berarak
angin ringan dengan riangnya membuat pucuk dedaunan bergerak-gerak
di samudera bergulung gelombang ombak, di telaga bergoyang riak
maka memulai kerja, manusia pun bangkit melangkah tegak.


KUATRIN MENJELANG HUJAN

Berdebaran gemetar menyimpan hujan langit kelabu
Memberah menahan beban curahan bagi bumi yang dirindu.
Wajah bumi tengadah bagai bunga rekah ingin menadah cumbu
bermadah ia datanglah yang membuat resah selalu ditunggu.


KUATRIN MENJELANG HUJAN SENJA HARI

Seekor burung tertinggal sendiri
melayang murung dikurung mendung, mencari.
Angin resah mendesah menggeliat gelisah
dan perlahan, jalanan pun mulai basah.


KUATRIN SENJA

Mentari merah tergulir jatuh ke tubir hari,
seorang bocah berhenti bermain menghitung jemari sendiri.
Ketika burung-burung kecil berhenti riuh terbang menjauh,
daun-daun dengan anggun luruh satu-satu tanpa keluh.


KUATRIN SETELAH MAGRIB

Merdu syahdu nyanyian gaib nan ajaib
mengalun dari puncak menara-menara magrib.
Kuntum-kuntum sedap malampun mekar membuka
menyebar semerbak wangi merasuk membakar sukma.


KUATRIN HUJAN TENGAH MALAM

Hujan malam larut menderas mendera
angin dingin runcing turut meraung menggila,
tetapi rumpun bunga kecil di tepi selokan pinggiran jalan sepi
bagai para peri bergaun ungu, dengan anggun menari-nari


GERHANA

Sebenarnya mereka ingin saling mendekap
tetapi hanya berhadapan tanpa kata saling menatap.
Matahari mengerti, selangkah ia mendekati rembulan pualam,
akan musnah terbakar diri kekasih hiasan mimpi malam.


KUATRIN KUCING MENANGIS MALAM HARI

Di larut malam hujan, seekor kucing menangis di luar rumah.
Ingin masuk berlindung ia, menggaruk-garuk daun jendela itu.
Tetapi berat mata dan badanku oleh kantuk, jendela tak kubuka.
Bagaimanakah nanti kalau aku yang mengetuk pintu rumahMu?


NYANYIAN LAUT

1.
Akulah laut kelam bergelora kala telah larut malam,
tak henti-henti menyebut namamu saat segala mata lelah terpejam.
Lewat gemulung ombak menghantam tanggul kotamu penuh dendam
yang tak pernah padam,
tak letih-letih kukabarkan kepadamu, debar rahasia purba
yang lama terpendam di palungku paling dalam.

2.
Ingin kusentuh dan kurengkuh engkau
lalu kubawa ke lubukku dalam tak terjangkau.
Telah kurentangkan lengan-lengan pantaiku menggapaimu
namun melulu tertolak terhempas kembali ke dadaku.


KUATRIN DANAU

di atasnya menatap sendu langit beledu & awan kelabu yang berserak
di wajahnya berkaca rembulan perak, retak bagai tubuh insan kelak
di tepinya sepi hampa, rindu damba, dan nyanyian lemah beradu
di dasarnya gelap dan dingin saling mendekap berpadu


SUNGAI DAN DANAU

sungai kecil berlari mencari laut
akhirnya juga bertemu lalu saling berpagut
danau kecil menggenang hanya sendiri
bila siang teramat nyeri, tiba malam alangkah ngeri


JEMBATAN

1.
ada jembatan batang bambu, melengkung murung
di atasnya atap langit senyap dan mendung merundung
di bawahnya : bagai buyung mendamba dada bunda kandung
kali kecil berlari terhuyung meraung mencari ujung

2.
ia hantarkan sebarang orang serta hewan ternak ke seberang
kali kecil bakal menemukan laut, langit sejenak lagi kembali terang
tetapi tetap di sana saja ia : terpancang
dipanggang garang sepi dan mengerang.


DUA KUATRIN UNTUK SEBUAH JALAN

1.
Aku pulang berjalan kaki sendiri lewat tengah malam
Jalan panjang berkelok sepi, ujungnya nganga mulut kelam
Di tepi kanan rumpunan bambu dan pepohonan berdesik oleh angin
Di kiri pekuburan tak terurus, saat hujan merintik nampak kian dingin

2.
Lain malam aku perlahan menyusuri jalan sunyi yang sama
Kali ini purnama, pohon-pohon tinggi tegak diam terkesima
Angin lembut menghembus, meremang bulu-bulu halus di tengkukku
Serakan nisan ditimpa sinar perak rembulan memaksaku sejenak terpaku


KUATRIN WADUK OMPO, SOPPENG

Pagi-pagi sekali kami berjalan kaki sekilo ke danau
masih sepi berkabut, kami lalu menyeberang ke pulau.
Membayang ganggang di dasar, lukisan pohonan di wajahnya
saat duduk beristirahat, di telinga mengiang sebuah sajak cina.


TORAJA, SEBUAH KUATRIN

inilah tanah asal muasal para raja
di tebing-tebing tinggi dan terjal mereka bertahta
ketika telah lelap tidur seluruh desa, di atas sana
mereka tetap nyalangkan mata, setia menjaga


MALINO

di sini, langit lembut menciumi wajah bumi yang tengadah
kabut putih pun melayang ringan di pagi hari yang basah
bagai para peri dan bidadari dengan jubah lebar berkibar megah
di sela-sela pohonan kayu tinggi, mereka merendah dan singgah


BANTIMURUNG, LARUT MALAM

ada nyanyian bening sungai dari bawah sana
dan serangga malam memainkan musik indah mempesona
di atas rumputan basah oleh embun aku berbaring tenang
memandangi bintang-bintang hingga mereka tenggelam menghilang


SAJAK-SAJAK DARI PATTONGKO
- untuk Farid dkk.

2.
Kami tinggal di rumah panggung kayu tak berlampu
di pesisir pantai yang damai, di lekuk teluk.
Sepanjang hari lautan bernyanyi begitu merdu
dan dari cakrawala mengalirlah hawa sejuk.

3.
Setiap menaiki satu rumah kami dijamu selalu
walau telah kenyang kuhabiskan juga karena tahu :
apa yang diberikan kepadamu karena cinta
terimalah pula dengan cinta semata.

4.
Gadis-gadis yang manis mencuri pandang
kilatan hitam mata mereka setajam pedang.
Gadis-gadis yang tersipu menunduk bimbang malu
wajahnya merah bersemu runduk kembang sepatu.

10.
Karena segala yang hidup dari air asal awalnya
maka samudera adalah bunda purba kita
Gelora gelombang dan deru ombaknya yang tiada henti
adalah seruan rindunya memanggil-manggil kita tuk kembali.

11.
Akhirnya sampai juga kepadaku seluruh keluh
yang engkau kirimkan lewat ombak dari samudera jauh.
Siang dan malam aku duduk sendiri di beranda
dengan mata basah dan amuk badai dalam dada.

12.
Di depan rumah sepanjang malam
lautan dan angin bernyanyi.
Gemanya menjelma mimpi kelam
tentang kristal garam yang menjerit sunyi.


KUATRIN CATATAN PERJALANAN
(Ujung Pandang - Gorontalo, Januari 1994)

1.
betapa jalan trans sulawesi menjulur panjang
berkelok mendaki, menurun menyusur tepi jurang berulang
ribuan kilometer merentang jauh dari ujung pandang
tetap terkenang teduh wajahmu, suaramu lembut kerap mengiang

2.
langit terang berhias gemintang dan purnama emas
di bawahnya hamparan sawah dan ladang membentang luas
bus terus merayap perlahan di atas jalan lurus
setiap jarak merebak, membakar rindu tiada pupus

3.
cahaya bulan jatuh di pangkuanku dari jendela kaca
pada pulas lain penumpang, hanya aku dan supir masih jaga
sebuah balada mengalun rendah dalam temaram dari tep mobil
kucoba pejamkan mata, membayang kau melambai memanggil

4.
di punggung gunung berkabut, bus merangkak perlahan saja
di kiri tebing tinggi, di kanan jurang dalam menganga
dari kelam lubuknya menjulang lebat pohonan tua penuh rahasia
ibu khusyuk berdoa, ada yang tunduk, ada yang palingkan muka

ah, betapa langkah maut tak dapat dicegah
bila bisa memilih, kusuka mati di tempat begini indah

5.
hampir magrib kami tiba di terminal
naik bendi bertiga kami mencari alamat kerabat
bercerita nenek tentang sejumlah nama tak kukenal
kupaksa mengangguk dengan mata yang makin berat

6.
kata orang keluarga bagai pohon besar
karenanya anak cucu mesti diajar mengenal akar
tetapi aku adam, sekian lama tersasar berputar di pusar kota
tanpa masa silam, telah lupa pula bahasa surga


KUATRIN SUATU SORE BULAN AGUSTUS

“Kalian cucu pejuang, Kakek almarhum seorang perintis
melihat merah putih berkibar, ia selalu terharu menangis !”
Begitu ayah bercerita saat menggunting kertas buat bendera.
Kutersenyum kecil lalu merasa bersalah, lupa hari ini tanggal berapa.


SAJAK JADWAL PEKERJA SWASTA

06.00 :
Mentari, langit, dan burung gereja
menjengukmu dari beranda dengan jenaka.
Sayang kau sedang tergesa seperti biasa
bahkan tak sempat balas menyapa.

11.00 :
Dalam ruang dingin berkarpet coklat muda
debu dan panas kemarau dihalau jauh di luar sana.
Terperangkap pada baris dan kolom angka-angka
jiwamu yang terasing megap tak berdaya.

17.45 :
Magrib sebentar lagi sempurna
cakrawala berhias pendaran aneka warna.
Sementara kau terpuruk dalam keremangan bis kota
hanya terkantuk-kantuk bersandar pada kaca jendela.

19.00 :
Kau berjalan di tengah kota
tetapi di benakmu rimba belantara.
Bahkan jika bersantai pada hari libur di tepi pantai
pun dalam dadamu menggelora samudera sangsai.

20.30 :
Setelah sendiri menyantap hidangan dingin di meja
Engkau jatuh tergeletak lemas di atas sofa.
Lantas lelap membiarkan tivi terus nyala ;
di luar, malam purnama betapa megahnya.

04.00 :
Hampir subuh terjaga karena dahaga
leher pahit kering, sedikit pening kepala.
Bahkan Tuhan Israel istirahat di hari ke tujuh juga
tetapi ini baru selasa dan mendadak weker berdering gila.

06.30 :
Mentari, langit, dan burung gereja
masih juga turun singgah menyapa dengan setia.
Namun setumpuk tugas dan jadwal kerja
melontarkanmu kembali ke jalan raya.

(1998)


KUATRIN JALAN MALINO-UJUNGPANDANG

Di sepanjang jalan adalah pesona yang purba :
pucuk-pucuk cemara dari lembah di bawah sana
bagai sosok-sosok mahluk berselubung kabut sunyi
menyembul mengepungmu dari lubuk jurang mimpi.


PUKUL TIGA MALAM DAN MASIH TERJAGA

semakin sepi dan kian dingin malam menggulita
bertambah pijar pula terang gugusan lampu kota di lembah sana
bersama rangkaian rasi bintang-bintang di angkasa raya
bersama noktah-noktah pelita nelayan di laut utara


DI TEMPAT SAMPAH

Tak hirau akan sengit amuk bau,
Burung-burung terus mencicit berkicau
Pohon-pohon dan semak bunga tetap menghijau
Dan dua ekor anjing bergulat bergulingan penuh mau


KUATRIN PAGI HARI SETELAH HUJAN SEMALAMAN

Lelah setelah tersedu sepanjang malam
Pagi ini cakrawala bangun sembab mata
Dari balik pelupuknya yang berat lebam
Mengintip mentari enggan bercahaya


MAWAR

Lihatlah lihat, kelopak-kelopak mawar
Berlapis berimpit mengelilingi sari
Ibarat majelis malaikat berlingkar-lingkar
Duduk memuji mengitari arsi


DUA KUATRIN BUNGA

1.
Perlahan pejam kelopak bunga melati itu
Membuta matanya, lalu mengungu layu
Tak kuasa ia menahan beban rasa malu
Didera tatapan perkasa matahari selalu

2.
Ketika dengan lembut angin datang menyentuhnya
Ia mengangguk pasrah lalu luruh lepas tanpa suara
Terbujur jasadnya, sewarna tanah menjelma coklat tua
Ingin menghapus seluruh jejak tanda bahwa ia pernah ada


ARSITEKTUR SUDUT KAMAR

Sarang laba-laba itu
Menggantung di sudut kamarku;
Alangkah indahnya ia
Ditimpa cahya surya!


KUATRIN POHON TUA

pabrik-pabrik terus memuntahkan jelaga
mobil-mobil terus meludahkan timah hitamnya
tetapi pohon tua di sudut jalan tak terjaga
terus saja tulus menabur bunga-bunga


KUATRIN- KUATRIN BULUDUA, SOPPENG

1.
jalang panjang mendaki lagi berliku
merentang menyusuri kaki sepasang bukit batu
awan kabut datang berkumpul selalu
lalu berguguran dalam hujan malu-malu

2.
kali kecil ini buihnya begitu cemerlang putih
sedang bebatuannya begitu berkilau hitam
padahal kemarin ia begitu kering dan letih
terkapar sekarat menunggu hujan datang menyiram

3.
gelas-gelas kopi hitam, lepat ketan merah, telur asin,
untuk mengusir dingin dihadapan kita meriah tersaji
tetapi kabut dari atas bukit sana ikut meluncur turun
masuk berbaur dengan asap kretek serta uap kopi


LAGU MUSIM SEMI

nafas Tuhan menghembus dalam hutan hujan jatuh
berlarian tujuh hantu gigil mengaduh memanggil teduh
daun-daun di dahan pun terbangun dari jauh tidur kemarau
di hujung tahun huyung bertahan kini mereka semarak berkilau


KHULDI

Mungkin aku tak akan pernah dapat mendekapmu erat
di bawah 4 juta matahari yang menyiram rahmat keramat
tetapi puisi ini adalah sebiji khuldi
: janji menjadikanmu abadi


DESEMBER

Kuntum bunga rekah luruh ke tanah
Ranum buah pecah jatuh ke tanah
Nun jauh di pusar rimba tak terambah itu
Keindahan berlalu musnah tiada yang tahu


PANTUN KANGEN

Hujan yang mereda pergi tinggalkan jejak bianglala
Kuntum bunga yang tadi dicumbunya mendesah hampa
Justru saat tiada engkau semakin nyata ada
Karena terpisah kita kian susah melupa


KERETA BANDUNG-JAKARTA

1.
Dari Bandung ke Jakarta
Melaju menderu kereta
Suaranya meraung menyeru
Menyebut hanya namamu

2.
Dari Jakarta ke Bandung
Kereta bergerak perlahan dengan murung
Menembus hujan senja dan gelap malam
Derak sepinya membuat mata tak dapat terpejam


SETIAP KALI MELIHATMU

Setiap kali melihatmu
Terlibat aku dalam dirimu
Bila kulipat kelopak mataku
Menyusup kau ke dalam diriku


KUATRIN KAWIN

Perempuan,cahaya putih yang terus memancar-mancar kudus
setelah kusibak tiraimu dan kau terima aku begitu tulus,
seketika mengingatkanku pada Cahaya yang pecah pertama
saat Tuhan dengan penuh kuasa perkasa bersabda : Adalah!


KUATRIN PERTEMUAN LANGIT-BUMI

langitku menggulung membakarmu
lautmu menggulung membenamku
maka akupun gigil dalam takjub
dan engkau sedu dalam haru


KORESPONDENSI II

Ketika menatap ia
kukenali diriku,
maka melalui aku
kutemui diriMu.


SILSILAH

apakah adam? kesadaran yang terpisah jadi diri!
apakah hawa? diri yang terpecah dari adam !
apakah aku ? kesadaran yang terpisah dari ia !
apakah kau ? yang terpecah dariku !


POTRET WAJAH TUA

Wajahnya jantung yang telah tercerabut
namun masih juga terus berdenyut
bersikeras bertahan mengembang menyusut
oleh gelombang yang menolak surut.


KUATRIN-KUATRIN KEFANAAN

I
Di pesisir pantai kita bangun istana pasir
walau tahu sebentar lagi badai tiba melanda.
Di sini kita memang hanya sesaat saja hadir
tetapi walau fana, segala justru jadi sarat makna.

II
Aku tak akan pernah mengerti,
teka-teki ini bakal kekal menjadi misteri abadi.
Bahkan sungai pun tak sempat dapat menatap wajah samudera
begitu sampai di muara, ia tumpah tercurah menjadi tiada.

III
Angin dingin memetik setangkai kemuning
Jiwa bening melindap perlahan begitu hening
Membubung tembang-tembang doa dan wangi kembang
Gapura terbuka, dalam terang cahaya hilanglah bayang


SEBUAH KUATRIN UNTUK SEPUPU YOLA
(ditulis setelah semalam melayat oom oku)

malam dan siang silih berganti
wajah-wajah datang dan pergi tak kembali
pernah tertawa cerah, pernah basah kedua pipi
semuanya dilewati, semuanya berlalu, seperti mimpi


BIANGLALA

Yang menjelma ada ketika hujan reda
dan kabut dan uap mengendap di cakrawala.
Yang indah beraneka warnanya menebar getar pesona
sebentar saja kemudian, memudar sirna dalam cahya surya.


KEPADA KAWANKU, SEBUAH KUATRIN

mengapa begitu ingin kamu
mengutuk angin yang selalu berlalu
untuk diam membeku
agar dapat kau peluk bagai batu!


KUATRIN RUMAH SAKIT

Kemarin aku datang ke rumah sakit
untuk membesuk kerabat yang sakit.
Berkata suster penjaga ia telah pergi mati
kumakan bawaan sendiri, merasa tak tentu di hati.


KUATRIN BERDAMAI DENGAN MASA LALU

Engkau mesti berdamai dengan seluruh masa lalu
Yakinlah Tuhan pasti mengampuni walau dosa seluas langit-bumi
Dan mungkin orang lain akan dapat memaafkan segala kekhilafanmu
Tetapi dapatkah engkau menerima dirimu sendiri?


SAJAK DAUN GUGUR

Kau kepung aku
di seluruh penjuru
Mengapung aku
dalam arusmu


DOA SEBELUM TIDUR

telah genaplah gelap,telah genap pula senyap
dan lanskap kini lengkap lenyap
akupun bersiap istirah dalam tidur yang lelap
smoga di dadamu, sukmaku sentosa dalam dekap


KUATRIN SEEKOR KAMBING

Seminggu lagi hari raya
Kambing dikandang mengembik saja
Adakah ia rindukan padang rumput
Atau merasa sebentar lagi dijagal maut


PANTUN TAHUN BARU 2001

Bunga api dan pesta mercon
Jerit trompet dan pekik klakson
Betapa makin dekat saat penghabisan
Sedangkan harapan, kian samar di kejauhan


KUATRIN-KUATRIN PEREMPUAN

1.
Beri aku cermin kaca yang rata tak retak
atau telaga bening yang tenang airnya
atau genangan embun di telapak tangan bunga
atau bundar bola mata dara yang berbinar berpendaran

: untuk meyakinkan diri
bahwa aku memang nyata ada.

2.
Ketika pertama aku mendengar lembut suaramu menyapa
dan menatap teduh wajahmu bagai telaga kaca kala senja,
aku merasa ruh kita telah lama bersitatap sebelumnya
sejak dahulu kala, berjuta-juta tahun lamanya.

3.
Jangan pejamkan matamu sepanjang malam,
tetaplah menatapku agar aku senantiasa jaga.
Jangan pula berpaling muka begitu kejam,
pada telaga di matamu, biarkan aku berkaca.

4.
Menyimak wajahmu
bagai mengeja sebuah sajak
: senantiasa ada yang tak tergapai,
selalu ada yang tak selesai.

5.
Perempuan,
sekuntum maut putih
terselip di harum hitam rambutmu,
izinkan aku menciumnya!


KUATRIN ASMARAGAMA

Perempuan,cahaya putih yang terus memancar-mancar kudus
setelah kusibak tiraimu dan kau terima aku begitu tulus,
seketika mengingatkanku pada Cahaya yang pecah pertama
saat Tuhan dengan penuh kuasa perkasa bersabda : Adalah!


PANTUN-PANTUN ASMARA

1.
Purnama bersinar terang
ganggang samar terbayang
padamu aku nanar terbayang
datanglah agar kutenang

2.
Sungai Tallo menjulur sampai ke laut
sungai darahku menjalar sampai ke maut
perahu berlayar, camar bersiut
tunggulah aku kau kujemput

3.
Ada sampan ada perahu
sama tertambat diam menunggu
lama menunggu akupun jemu
akankah segera kita bertemu.

4.
Isarat matamu kumengerti
senyum bekumu kupahami
mari, tusukkan hingga lubuk hati
belati yang kau asah dulu sekali


JENDELA DAN TELEVISI

di jendela akulah raja diraja nan digjaya
depan layar tivi aku hamba tanpa daya
di jendela aku bisa banyak membaca
depan layar tivi aku nyenyak didikte cuma!


KUATRIN DULI TUAN KITA YANG MULIA & TULI

Saat Duli Tuan Kita yang mulia lagi tuli lewat, rakyat sama berlutut
lalu sewaktu kepala mereka bersujud, seribu pantat pun turut kentut.
Sang Duli Tuan Kita yang mulia lagi tuli puas lihat rakyat penurut
menebar senyum lebar Ia, manggut-manggut dan mengelus janggut.


PANTUN-PANTUN 1996

1.
Ada semut memangku gajah,
ada hutan jadi tusuk gigi.
Kulihat Ibu Pertiwi bermuram durja
melati ditanam tumbuh belati.

2.
Ada pagar makan tanaman
ada kebun merimbun di ruang makan.
Kulihat kampus diserbu panser
dan para buruh diburu herder.

3.
Acara komedi kini tak laris lagi
para badut menangis tersedu di sudut.
Dagelan Bapak Tinggi Besar di televisi
jauh lebih yahud bikin semaput.

4.
Berbahaya , Nak, keluar malam
kata Pak Jaga berwajah seram.
Coba saja kalau situ tak percaya
nanti saya sikat baru tahu rasa.

5.
Banyak anjing gila berkeliaran di jalanan
Pak Dokter kini laku sekali.
Anjing-anjing gila dibiarkan berkeliaran
yang plihara Pak Dokter sendiri.

6.
Sang Bapak tak mau si anak baca buku
nanti banyak tahu lalu menuntut menggerutu.
Sang Bapak yakinkan bahwa ia belum dewasa,
si anak perlu selalu dijaga agar tetap tak dewasa.


SAJAK-SAJAK TRAGEDI MEI

1. Sajak Lampu Merah

Di bawah lampu merah yang menyala lama sekali
barisan panjang kendaraan berderet tak sabar menanti
maka dalam cuaca panas membara tanpa hawa
serentak sejuta klakson ganas meledak bersama.


WC DAN WTC

1.
betapapun megah pasar mimbarnya setan
betapapun mewah kakus ranjangnya setan
begitulah kita telah diajarkan
begitu pula kusaksikan

2.
makan dan keluarkan; kumpul dan hamburkan
kumpulkan makanan dan keluarkan berhamburan
inilah iman dan ideologi dari para hewan
antara pasar-kakus mereka berseliweran


KUATRIN-KUATRIN KABAR PERANG
-Bosnia

1.
Sebuah perang pecah di kota yang jauh kemarin hari
begitu kabar koran sebelum kusentuh sarapan tersaji.
Untuk kesekian kali perundingan damai tinggal basa basi
sebagai sopan santun para jenderal dan diplomat tinggi.

2.
Misil-misil telah diluncurkan sebelum pagi memanas
milisi-milisi besi berbaris menyanyikan lagu mars.
Berderap-derap ayunan langkah tegap bersepatu lars
: yang tersisih sunyi sendiri hari ini hanyalah cemas.

3.
Segalanya menjelma mimpi buruk di malam berpeluh :
puing-puing bangunan yang hangus berderak runtuh
dan disekitar bertebaran tubuh-tubuh terkulai luruh
bersama gugusan salju yang melayang-layang jatuh.

4.
Setelah rangkaian ledakan bom dan rentetan senjata api
sepi lalu menjadi samudera derita tak bertepi
Para pengungsi bergerak murung dan lamban sekali
dalam kabut tebal yang bagai ajal bergulung mengiringi

5.
Tetapi kita telah terlalu letih kini
untuk sekedar terharu dan bersedih hati.
Tersadar, kureguk kopi lalu meraup tangkup roti
di meja makan pagi, sudah berpikir tentang mati !


KUATRIN SAJAK MURNI

Bagi bumi fana ini ia mungkin tak benar berarti
bagai mimpi, ia gema berkumandang dari sabda Sang Abadi.
Kau pun dapat mendengarnya pada lengking tangis pertama bayi,
dan dalam rintihan menyayat serdadu terluka menjelang mati.


DUA KUATRIN TENTANG SAJAK

1.
Inilah taman, yang tak menjanjikan ketenteraman
kerna tanah berpijak retak dan terus bergerak perlahan
sedang patung-patung dan bunga-bunga menjelma tanda
senantiasa menyiksa, memaksamu bertanya-tanya.

2.
Inilah wilayah merdeka, ada tipu daya dan marabahaya
penuh tebing tinggi terjal yang dibakar cahaya
penuh jurang dalam curam yang menganga
maka dewasa dan waspadalah !


KUATRIN-KUATRIN PETUNJUK PRAKTIS MEMBACA SAJAK

1.
jadilah samudera yang bergelora merdeka
sigap mencari & menyergap berlaksa kemungkinan tak terduga,
jadilah lembah yang terhampar membuka pasrah
sedia menanti & menerima yang kan datang dari segala arah

2.
Jangan berpikir tentang pencipta
tatap saja pada apa yang dicipta.
Jangan cari penyair dalam puisi
telah lama ia mati membunuh diri.

3.
Tugasnya penyair menuang rasa menata kata
tugasmu hanya membaca bagai berkaca.
Tak usah mencari dirinya di balik ini
menarilah di atas jemari kakimu sendiri.

4.
Bagi yang tuli dan tak mengerti, igauan mimpi tak punya arti.
Bagi yang buta dan tak peka, isyarat pertanda tak punya makna.
Bila memang matamu sehat, dalam kelam kan terbiasa melihat.
Bila memang keduanya buta, terang pelita sama saja gulita.

5.
Segala yang ada terjadi dicipta
punya alasan tujuan tiada sia-sia.
Maka berendahhatilah membuka diri
ia kan masuk bagai sejuk angin pagi.

6.
Seluruh indera terbuka menyergap menyerap
lalu dicerna ruh dibiarkan mengendap.
Hingga ketika genap waktu syairpun lahir
seperti mata air, terbit lalu mengalir.

7.
Lelaki tuli matanya juling
sengit berkata matahari itu dua adanya.
Yang beruntung sempurna usah masam berpaling
jangan diminta si puntung turun turut berdansa.


PASENG

mereka yang sibuk tekun berkarya
takkan punya waktu untuk mencerca
mereka yang memiliki pengetahuan
takkan hirau menuntut pengakuan


EPIGRAM KEHIDUPAN DUNIA

Dunia : yang rendah, yang dekat, yang mudah
Hidup : permainan melalai, senda gurau, riuh rendah
Penuh kesungguhan marilah berkecimpung dalam permainan
Tetapi sunguh-sungguh bermain tak lantas berarti sungguhan


TAFSIR KHIDIR

1.
Wahai nelayan dalam pelayaran
Waspadalah menjaga perahu dan muatan
Karamkanlah hasrat di samudera biru
Agar tak dirampas raja bermata satu

2.
Ruh dan tubuh menyatu di cakrawala
Lahirlah jiwa yang disayang dimanja
Bila sekarang padamu ia membangkang
Penggallah batang lehernya dengan pedang

3.
Kerjakanlah kebaktian penuh ikhlas
Dari sesama manusia tak menuntut balas
Tegakkanlah rumah runtuh bertimbun
Dibawahnya ada tersimpan harta karun


TIGA KUATRIN MEMANDANG PURNAMA

1.
Apakah yang membuat seorang hamba
Bertahan menempuh rimba sekian lama
Selain harap menatap ia yang didamba
Senyata seterang purnama raya ?

2.
Bila wajah luka menatap paduka
Hilanglah duka, menetaplah suka
Hitam timah hatiku dalam rongga dada
Basuhbilaslah dengan cahaya hingga bara

3.
Malam ini sang purnama tertutup awan
Malam ini rasa hatiku teramat rawan
Segala niat rencana berserakan tak karuan
Masih dapatkah kelak kutatap wajahmu rupawan?


KUATRIN DEBU

Aku sebutir debu bergelayut di mulut batu
Rinduku pada hujan dalam rahim awan kelabu
Tercurahlah ia biar terhanyut aku
Dituntun lengannya menuju ke lautan biru


DI LEMBAH

Seribu burung bernyanyi nyaring dan tajam
membangunkan kantuk rumpun putri malu.
Hamparan kehijauan yang lebat dan dalam
mengisi penuh-penuh pelupuk mataku.


DI KOTAKU

Kotaku belantara toko-toko raksasa
Terisi penuh segala ada di pasaraya
Semuanya tersedia, terpajang menggoda
Semuanya, kecuali uang di saku saya


INTROSPEKSI

Ada hewan dalam diriku
mestinya kujinakkan jadi tunggangan.
Namun kadangkala justru ia menunggangiku;
seringkali kusangka ia itulah aku, bahkan.


KUATRIN BULIR-BULIR HUJAN

Tuhan telah menghamburkan
bulir-bulir hujan di tangkai bunga
apa peduliku untuk memperebutkan
milik kalian berupa intan permata


PANTUN PENGINGAT

1.
Taruhlah bila akan karam kapal
Tentu beban muatan akan dikurangkan
Tetapi semakin hari kian dekati karang ajal
Tetap saja dunia kukumpul kutumpukkan

2.
Taruhlah kita berdiri di depan raja
Tentulah khidmat laku kata kita
Tetapi meski diawasi yang mahameliputi
Tetap saja khayalku keji, tingkahku tak terpuji

3.
Taruhlah baju kusut sobek bernoda
Tentulah kita rapikan jahit dan bersihkan ia
Tetapi bertahun-tahun telah berlalu masa
Jiwaku bagai gombal kusam percuma

4.
Taruhlah kampung dalam bahaya
Tentulah warganya akan sedia waspada
Tetapi si setan tertawa kencingi telinga
Tetap saja aku masih asik terbaring lena


DUA SAJAK
-- latihan dengan rima dan irama

1.
si penipu yang selalu jadi lain
senyum tersipu di hadapan cermin
bersiap ia dalam dandanan pesta
lengkap berhias dengan dusta

2.
jalan yang kini telah larut kutempuh
jalan yang darinya orang lain menjauh
meski sungguh tak inginkan kau turut di sini
masih terangan bayang rautmu hingga kini


MEDITASI DI ATRIUM MAL

sosok tinggi kurus semampai
roknya mini halus melambai
duhai siapakah engkau perempuan
puan hantu ataukah tuhan


MUNAJAT PENYAIR

berapa lama hamba harus bertahan tabah
mengunyah angin, cahaya, air, dan tanah
hingga tubuh sahaya mampu menumbuhkan tunas
dan meledakkan kuntum bunga di musim panas


SEWAKTU SUJUD

tak pernah kutahu
betapa lutut, telapak tangan, dan wajahku
begitu cemburu pada kedua tapak kaki
sepanjang hari berbisik mesra dengan bumi


DI DEPAN CANDI

di ambang gerbangnya
kembara menimbang bimbang :
menempuh semampai tubuh Hawa
akankah sampai ia di Huwa?


KUATRIN PEREMPUAN JEPANG

putih lembut wajahnya sakura
kelam rambut hitamnya sutra
tatap tajam matanya samurai tapi
tanam tunjamnya dalam di hulu hati


EMPAT PANTUN KEBUN

1.
kecup kupu-kupu liar dan garang
hinggap hisap sarinya kembang
seperti rumah ramah kau terima aku
setiap datang aku bertandang padamu

2.
getah putih pada patah dahan
merah ranum buah berbelahan
terik panas tubuhmu tak teralahkan
tubuhkupun menitik cair perlahan

3.
belaian jemari waktu menyapu kebun
helai hari luruh dari tangkai tahun
apa yang dapat aku katakan untuk menahan
engkau tak takluk bahkan dengan pelukan

4.
lembutnya lumut di mulut batu
terang mekarnya si bunga sepatu
terpejamnya lembut kelopak mata
terkam tunjamnya maut disambut Kata


KUATRIN KETIKA BADAI

Di luar badai begitu riuh;
tetapi betapa sepi setetes air itu
perlahan menitik jatuh
dari lubang kecil atap kamarku.


PAGI-PAGI

terang cahaya matari telah masuk menyusup
namun dingin masih merasuk sesekali
di sudut kamar itu temaram meredup
samar terdengar erang lemah peri mimpi


SUMUR MALAM

di dasar sumur malam
jernih dan dalam
bersinar berpendaran
bulan


SYAIR RAYUAN

tubuh padat pualam pahatan
lembut sutra sari, kuning gading madu
bila melangkah ia di tengah taman
runduk layulah mawar dibakar malu


KUATRIN DARI SAJAK-SAJAK NEWCASTLE

1.
Burung robin, wahai burung robin
Adakah engkau juga lapar dan dingin?
Mari ke sini,
berbagi roti ini
bila kau pun ingin.

3.
Seperti tujuh puluh ekor kucing
Yang menangis ke bulan pucat
Badai Utara bersiut melengking
Dan udara tersayat-sayat

4.
Alangkah sedihnya
Terasing jauh dari yang dicinta
Demi memberi mereka
Sekedar bahagia

5.
Dasar hidup di negara kaya
Tak ada toko kelontong dan penjaja
Harus ke mal bila berbelanja
Bermobil pula mesti berkendara

6.
Begitu banyak kebaikanmu
Tersembunyi dari mataku
Sebanyak keburukanku
Tertutupi dari tatapanmu

7.
Sedihnya, untuk meyakinkan kebenaranku
Aku mesti membuktikan kesesatanmu
Pedihnya, untuk menunjukkan kemuliaanku
Aku harus mengumumkan kehinaanmu

8.
Di timur kutemui si timur
Yang lebih barat dari si barat
Di barat kujumpai si barat
Yang lebih timur dari si timur

9.
Di sepanjang jalur jalan setapak, harum merebak
Dari gerumbul pinus dan ekaliptus yang berdiri tegak
Ini senja ketiga di akhir musim panas
Memeluk dan menciumnya, masihkah pantas?

11
Setelah teduh gaduh berpuluh burung
Tinggallah rentang kabel terbengkalai murung
Jalan panjang berkelok sepi
Diam, menghitam dan bermimpi

12
Hidup hanya sesaat lewat memang
Sesingkat jingga senja yang singgah
Bersijingkat di jendela menanti remang
Hingga malam menghapusnya musnah

13
Kutahu musim akan berlalu
Dan aku akan kehilangan kamu
Meskipun aku tak akan pernah mengaku
Kenangan badanmu menggenang di tanganku

14.
Dadanya tengadah ramah menadah jamah
Lekuk pinggulnya meliuk memanggil peluk
Tetapi jangan dekati ia biar selangkah
Desisnya berbisa, tegak siaga mematuk

15.
Kita berdua sama asing
Dan di sini kitapun hanya singgah
Proton elektron masih akan terus bergetar berpusing
Tetapi sebentar: aku enyah, engkau entah

23.
Bertahun-tahun aku mengandung kata
Memperanakkan makna
Tetapi pena yang telah semena mengguratku
Tak pernah kembali membalas rindu

24
Hangat hawa menggeliat di bawah dada
Saat kuhirup nafasmu yang harum
Bulir embun berkilauan di pelupuk rambutmu
Gugur berhamburan ketika kusibakkan

25.
Jarak hari kian singkat
Telapak tangan kaki makin mendingin
Tak akan mungkin lagi kutulis surat
Pedihku kutitipkan di rintih angin

26.
Bila musim semi tiba nanti
Kepada bunga-bunga mekar berseri
Akan kukatakan:
Kenapa pula mau kembali kalian?

27.
Dari ngarai kecil menghampar di bawah sana
Suara hewan malam terdengar semarak membahana
Dengan takzim kumenabik: saya hendragunawan
Tak berniat jahat, hanya lewat jalan

26.
Semalaman pasti ia telah lama menunggu
Kulihat jejak nafasnya di kaca jendela
Bergegas ke depan kubuka pintu
Jalan masih lengang, namun kabut tiada

30.
Kami berdua bermain di halaman sore hari
Rambutnya panjang sebahu disisir berponi
Dari rumah panggung mengalun dendang lagu india
Aroma kue dipanggang ibunya mengharumi udara

31.
Kabut dingin telah pergi
Meluncur lalui jalan sepi
Siapa gerangan semalam tadi
Turut dibawanya pulang kembali?

33.
Tak ada polisi mengintai di tiap perempatan
Burung-burung bebas hinggap di bahu jalan
Bahkan tilpun umum pun ngasih kembalian teliti
Padahal dahulu kala ini tempat bagi napi

36
Bukit-bukit lalu membujur tidur
Berangkat kabur dalam alun beribu biru
Angin musim gugur pun datang meluncur
Pada jejaknya dedaun melayang, laun dan bisu

37
Matahari telah pergi
Bintang-bintang belum kembali
Di antara bebatang pohon yang samar sunyi
Cahaya runduk, menyamar sembunyi

44. (Aan)
Sekepal jantungnya ungu menggantung murung
Di ringkih rongga dada berulang meliang luka
Ia telah dengar kepak malam yang kian hingar
Keluhnya hanya: baru kutuntaskan halaman pembuka!

46
Rumah-rumah temaram meringkuk tentram
Tinggal tiga lampu jalan masih tegak terjaga
Lidah hawa dingin lekat menjilati punggungku
Namun kenangan tawamu menghangatkanku juga

56.
Mereka yang di tepi jejari
Jauh berjarak, saling mencaci
Mereka yang menuju sumbu
Dekat menyatu, sama mencumbu

64.
Sahaya hanya asimtot
Terus menelusuri sepanjang sumbumu
Mendekat menghampir begitu ngotot
Namun ditakdirkan tak menyatu

65.
Hawa dingin menggerus ruas jemariku
Hanya dengan hembusan uap dari mulutku
Mesti kutuliskan geletar puisi di jendela kaca
Meski kutahu persis, sebentar hapus juga

72.
Gadis terlalu remaja, begitu manis manja
Gemar mengunci diri ia dalam lembar diari
Betah menyepi sehari di sudut kamar puisi
Mari tamasya sama saya, berdua saja

74.
Bulan laut mati
Surut aku
Kembali padam-
Mu

75. (Seusai perang)
Para pembunuh telah kembali pulang
Tubuh-tubuh kukuh bersimbah darah
Mari kita rayakan dengan pesta panjang
Tahun depan anggarannya harus ditambah

77.
Kata-kata ini hanya anak haram
Lahir dari persetubuhan kelam dengan malam
Karena musim telah mengusir dari beranda
Dan angin beku memaku tanda di jendela

92
Telah datang berganti seribu lelaki
Bergilir menapak mendaki lalu pergi
Sisa setitik air mata bergulir jatu
Pelan berkilau di hitam hati batu

98
Pohon, tunggu, jangan keburu gugur dulu
Tolong beri satu hari lagi
Bagi sepasang burung itu
Mencari dahan baru pengganti

101
Asar telah bubar, hampir buka sudah
Udara senja penuh harum aroma juadah
Suara tua bergetar mengalunkan doa
Para bocah tak sabar menantinya


DI HALAMAN BELAKANG

Sunyi terburai: sepasang burung
Sedang bertarung garang
Di halaman belakang
Musim kembang


SUDAH GERIMIS, NYARIS HUJAN

Sudah gerimis, nyaris hujan
Masih kutaruh kain di jemuran
Bila awan mendung membasahinya lagi
Biar matahari ganti mengeringkannya nanti


DENGAN TULUS TANPA PRASANGKA

Dengan tulus tanpa prasangka
Bunga-bunga datang berduyun-duyun
Terbang hinggap di simpang dedaun
Berkembangan memenuhi panggilan musim semi

Untuk disembelih angin musim gugur nanti


KUATRIN MUSIM SEMI

Melihat mekarnya bunga-bunga bertebar
Geliat geletar lama tak lagi sama menjalar
Setelah kuukur jarak, kutelusur pula dari akar
Terus memucuk, hingga ke hujung daun terbakar

: silih musim, alih angin, tak mungkin ingin setia


DOA LEBARAN

Sebagaimana telah Engkau izinkan hamba bergembira
di kala berbuka puasa dan berhari raya
perkenankanlah pula hamba bisa berbahagia
ketika maut menjemput dan hari bangkit tiba.


KUATRIN KEMBARA

Ah, di bawah langit yang lain ini
Bahkan angin dan bulan
Berbeda dingin serta bulatnya
Dengan angin bulan kotaku!


KUATRIN MUSIM PANAS

Terik matahari menaik 40 derajat di atas nol;
Gelegak kepala bak tong anggur ngandung alkohol.
Pohonan di kejauhan membayang senyap seolah maya;
Bahkan mereka pun mohon menguap lenyap ke udara.

(2006)


MALAM SEBELUM PERPISAHAN

Tiga belas gelas kesedihan yang sungguh murni
Telah tandas kuteguk namun tak kunjung mabuk
Esok pagi tujuh lautan akan memisahkan kami
Tak ingin kukehilangan wajahnya, biar sejenguk


POHON JAKARANDA

Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang cuma rangka


KUATRIN MUSIM SEMI, 2

Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya


SUDAH PUKUL SEPULUH MATAMU

Makin malam hari di matamu
Makin penuh hujan hutan malam di matamu
Berjatuhan malai-malai berkilauan
Malam matamu betapa kelam gemerlapan

(2007)


KUATRIN KUCING SIAM

Kucing siam berbulu guguran salju
Duduk diam di tepi jalan menugu
Dalam curahan cahaya bulan perunggu
Hampir jam tiga; siapa gerangan ditunggu?

(2007)


PANTUN RAYUAN

Menderas hujan dari gerimis
Derunya seru mendera kota
Dara yang manis, mari kemari
Mendekat dan bersandar pada dadaku
Agar tak cedera

(2008)


KUATRIN KENANGAN, 1

Menyusuri hening koridor yang dulu
Masih kuingin kita bertemu berpapasan lalu
Tentu, tak patut lagi saya demikian berharap
Apa daya, bayangmu terus menghantu kerap

(2008)


KUATRIN KENANGAN, 2

Sekilas saja, sekilas saja engkau melintas lewat
Namun harum murnimu membuatku tersengat ingat
Dadaku keras berdebar, air mataku retas bertebar
Berapa lama, berapa lama lagi harus bersabar

(2008)


SEPULUH KUATRIN SEMBAHYANG

1.
Nabi dibedah dibasuh jantung-hatinya tiga kali
Demikian pula wudukku tiga basuhan jumlahnya
Basah tercuci wajah, tangan, kepala dan kaki
Dibersihkan, disucikan, disirnakan dalam cahaya

2.
Wajah: identitas persona, tangan: karya insani
Kepala: fakultas mental, kaki: kehendak merdeka,
Kusucikan dari kepalsuan hasrat nafsani
Kunisbahkan kepada kehendak Sangkuasa

3.
Di setiap lima waktu tertentu
Kuhadap wajah ke satu tuju
Aku pun faham di mana ku ada
ke mana pula harus kuarahkan muka

4.
Dua, tiga dan empat jumlahnya rakaat
Sebanyak itu pula sayapnya para malaikat
Melesat-lesat ruh menunggangi wujud cahaya
Ketika kaki kukuh menapak di sajadah bersahaja

5.
Maaf, malaikat yang mengiringi
Berhenti dan menantilah di sini
Aku akan melesat sendiri saja
Menghadap Raja, bermuka-muka

6.
Alif, ha, mim dan dal, adalah teladan salat diperlihatkan Ahmad;
Alif berdiriku, ha rukukku, mim sujudku, dal dudukku dekat:
Adalah penghadapanku, ketundukanku, penghapusanku,
Dan semuanya bermuara pada kekariban dengan Yang Satu.

7.
Satuku dalam qiyam shalat
Jadi kosong dalam sujud
Nihilku dalam tahiyat
Jadi ahad dalam tasyahud

8.
Kumulai sembah ini
Dengan namamu nan akbar
Usainya bakti ini
Semoga salammu kan kutebar

9.
Sajadah yang tergelar
Biarkanlah tinggal terhampar :
Kubur yang memendam hewani
Jalan yang menghantar kembali

10.
Takbir ini akan selalu kudengarkan
Hingga jasad ini terbujur disembahyangkan
Salam ini akan terus kugumamkan
Menjawabmu dari lubuk persemayaman

(2007-2008)


PENYAIR

Selalu, bagai yang pertama kalinya,
Ia jatuh cinta dan terpana haru
Pada indah dunia dan tingkah manusia
Yang seolah dialaminya baru

(2009)


KEFANAAN HUJAN

Hujan yang tergesa betapa segeranya menyapa
Ketika baru membuka segar daun jendela
Sebelum kita sempat berbuat suatu apa
Bahkan untuk sekedar menegur bertanya: mengapa?

(2009)


AMSAL BERKEBUN

Benih tanpa lembaga
Akan lemah tak terjaga
Bila kau biarkan di atas tanah
Tumbuh ia tak akan pernah

(2009)


KAMPANYE

Kata-kata runcing berkilatan, berlesatan
Meluncur dari mulut besar berbau selokan
Dari rahang kasar persegi yang tanpa henti
Berganti nganga-ngatup mengunyah megapon

(2009)