Thursday, December 10, 2009

TENTANG SEJUMLAH PENEMBAKAN ITU

(Antara 1997/1998 hingga kini, sejumlah insiden penembakan dan salah tembak telah terjadi. Yang bersalah telah terhukum-entah sepadan atau tidak. tetapi yang korban, terenggutkan selamanya dari matahari pagi, dari hangatnya hati orang-orang yang mencintai)

LELAKI YANG KEHILANGAN

Perempuan itu pamit keluar sebentar
Ketika tentara mengejar-ngejar petani
Kemudian penantianmu jadi sejauh keabadian

Para pembunuh telah berpulangan
Darah telah dibersihkan
Dan asap telah reda

Tetapi tak ada
Yang menghapus air matamu
Mereka malah menertawakan kesedihan

Para pembunuh telah dianugerahi bintang jasa
Para penuntut mengincar saat ganti berkuasa
Tetapi siapa yang akan mengingat kehilanganmu?

Ke jauh ujung jalan
Murung matamu jatuh tercenung
Apakah gerangan yang kau tunggu?

(2007)


BALADA PAK KRAYAT
-Agustus 2005

Pak Krayat, Pak Krayat, O, Pak Krayat
Alangkah sabar dan penuh maafnya kamu

Aku tahu kamu telah ditipu dan dikerjai berkali-kali
Sementara engkau menggadaikan diri kepada pemberi kerja
untuk upah yang akan segera habis kurang dari dua minggu,
Engkau diledek habis-habisan oleh kenaikan harga dan aneka pungutan,
oleh iklan-iklan gemerlapan, oleh kuis berhadiah jutaan rupiah
dengan pertanyaan remeh yang melecehkan akal sehatmu,
dan oleh gaya hidup para pejabat serta wakil rakyat
yang bukan main ajaib anehnya.
Tetapi, kamu tetap mampu tersenyum, meski kecut,
sembari mengurut dadamu yang ringkih.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat.
Berapa dalamnya samudera kesabaranmu,
Berapa tingginya langit pemaafanmu?

Meski Sang Ekonom yang logis dan empiris dengan wajah dingin
menggunting separuh dari secarik uangmu lusuh
tahun demi tahun, karena tahu dan yakin
engkau toh pasti masih akan sanggup
bertahan hidup, bagaimanapun juga caranya,
Meski Sang Perencana Kota penuh antusias
merancang peta yang akan menyingkirkanmu
demi jalan-jalan layang yang tak akan kau lalui,
demi pemukiman mewah yang memasang palang dan satpam
di gerbang masuknya untuk menghadangmu,
dan demi mal megah yang gemerlap lampu-lampunya saja
telah mampu membuatmu gelagapan,
Meski para pelayan masyarakat semakin galak memalakmu
dan aparat keamanan kian giat berlatih
untuk menyasarkan peluru menembus jidatmu,
Namun engkau tetap siap sedia untuk mati
sebagai relawan demi membela negara
yang tak pernah sungguh-sungguh membelamu.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat
Kesabaranmu lebih keras dari bukit cadas,
Pemaafanmu lebih luas dari samudera.

Walau mimpi adil makmur harus kau bawa
hingga ke liang kubur,
Di hari Senin pagi ini, kamu masih menyempatkan berhenti
dan berusaha berdiri tegak, meski gemetar
menahan nyeri lutut oleh rematik akut
Ketika di halaman upacara sebuah sekolah dasar
yang hampir runtuh atapnya,
Lagu Indonesia Raya dinyanyikan sayup sayu
dan Sang Saka dinaikkan perlahan
dengan merahnya yang ketakuttakutan
dan putih yang kebisubisuan.


NASIHAT BUAT ANGKATAN BERSENJATA
- penganiayaan mahasiswa UMI, 2004

lencana dan senjata
bukan lisensi bagimu
untuk semena-mena
merasa nomor satu

tanpa bertameng lencana
siapakah dirimu
tanpa menenteng senjata
bisa apakah kamu

hanya mengandalkan lencana
cuma berbekal senjatamu
alangkah pengecutnya
dirimu itu

di balik lencanamu
mestinya bijak cendikia
di belakang senjatamu
harusnya satria mulia

jaga hati dan kepala
pelihara tangan dan kaki
agar namamu terjaga
jauh dari caci maki

hindari kekerasan
yang tak terkendali
jauhi pemerasan
dan segala pungli

ingat-ingat sumpahmu
camkan ini nasihat
agar dunia akhiratmu
selamat dan afiat

jika tidak kau faham
maka dirimu alangkah kasihan
hanya preman berseragam
atau bocah sok jagoan


BAGI YANG MATI DI SEMANGGI

Sebutir peluru tajam menghunjamkan malam di pelupukmu.
Darah tercurah dari tubuh yang rubuh
menyiram kaki beton semanggi.Tetapi
tak akan tumbuh bunga esok hari di situ.
Dara kecil biar termangu mencarinya nanti.
Juga kupu-kupu. Tidak ada air mata. Namun
benakku menjelma radio larut (yang dahulu
biasa menemani anak muda itu melamunkan kekasihnya
hingga pukul tiga pagi), tergeletak di atas meja sendiri berteriak-teriak
serak memanggil gelombang dalam gulita. Seperti bendera
ditinggalkan angin. Bagaikan lagu kebangsaan
dilupakan kelompok paduan suara. Untuk apa.
Gerimis masih di jendela
terus menulis namamu, menyanyikan cinta
terkandaskan dari dadamu yang rekah
oleh keping timah.
Aku mungkin akan segera melupakanmu.
Aku tak pernah ada
di sana. Tidak pernah
ada. Tidak ...


(1998)


MEGATRUH

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
menuju cakrawala senja
pulang ke tanah purba

dari Aceh Merdeka hingga Timika Irian Jaya,
dari pelosok kampung-kampung kumuh
hingga kaki gedung-gedung kukuh

peluru yang tumpah
dan darah yang tercurah
akankah hanya kembali
terlupa dalam sunyi.

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
penuh belukar luka pada sayapnya
penuh bunga duka pada matanya.


(1997/1998)

No comments: