Monday, November 20, 2006

SEORANG IBU MENJEMUR BAJU

-Terpantik oleh baris haiku jurnalis L. Yulianti (http://www.myfawwaz.multiply.com)

1/
Seorang ibu menjemur baju
Harum baunya
Diterjen baru

2/
Seorang ibu menjemur baju
Angin dan matahari
Turut membantu

3/
Seorang ibu menjemur baju
Si kecil bergulingan
Berlumur keringat debu

4/
Seorang ibu menjemur baju
Meski tahu akan kembali kusut kotor
Tak pernah marah jemu

5/
Seorang ibu menjemur baju
Sehelai setangannya sendiri
Tak kunjung kering dari air mata

Sunday, November 19, 2006

SAJAK-SAJAK TERBARU, 2

POHON JAKARANDA

Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang hanya rangka


POKOK POHON ITU

Pokok pohon dari hutan itu
Terbaring kering dan kuyu
Sebagai sebatang kayu
Menanti datang waktu
Bangkit menjadi bangku
Setengah menantang berlagu
Setengah pula merayu
Manakah gergaji dan palu
Begitu ia seolah berseru
Kepada tukang tua itu
Tetapi sang tukang kayu
Hanya berdiri termangu lesu
Pesanan sekarang tak menentu
Juga hutang upah pada pembantu
Sudah ditangguh dua minggu
Dan tentang nasib si batang kayu
Teringat istrinya sedang menunggu
Hampir padam api di tungku


MENANGISLAH LANGIT

Menangislah langit
Sedih terlalu dalam
Begitu lama tersimpan
Jadi mengelam
Dalam bergumpal awan

Menangislah langit
Bahkan pohon flamboyan
Juga jakaranda dan akasia
Selalu meluruhkan bunga
Kala senja berlara hari

Menangislah langit
Menangislah
Biar bisa kusamarkan
Dalam gemuruh raungmu
Buraian bulir air mataku


TITIP PESAN

Bila engkau terlebih dulu
Sampai di sana, di kampung halaman
Yang lama, sampaikan salamku
Pada kerabat dan kenalan

Pesanku jangan saya dicemaskan
Meski bekal menipis dan hasil secuil hanya
Namun tawaku riang, langkahku ringan
Seperti iringan awan mega di cakrawala

Kadang memang tersuruk sesat di lebat belantara
Juga terjerumus jatuh di jurang dalam berbatu
Tetapi takut dan remuk hanya sebentar saja
Karena kutahu rumah lubuk siapa di sebalik itu

Perjalanan telah membawa ke berbagai negeri
Tetapi berangkat, singgah serta menetap diam
Semuanya semata bertempat di hati ini
Begitulah hikmah yang akhirnya kupaham

Tolong doakan selamat dan cepat sampai
Saya pun ingin segera bisa pulang
Kini pakaian badan ini kusut masai
Nanti ditinggal tanggal telanjang sisa tulang


KUATRIN MUSIM SEMI, 2

Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya


HEWAN TERLUKA

Apakah engkau sekarang berbahagia, sayang?
Panah yang kau arahkan padaku
Menancap tepat pada ceruk dada
Parah luka membuatku mabuk
Sepasang tandukku telah patah
Dalam demam panas kuerangkan namamu
Tetapi setiap pokok pohon dan rumpun rumput
Seperti berkeras menyamarkanmu
Siapa? Kami tak pernah tahu nama itu!
Di pelosok hutan mana kamu melihatnya?
Mengapa dahulu aku berlari ketika kau berseru: mari!
Berkedutan hulu nadi, merih menagih sembelih
Tuntaskan cintamu, Paduka
Biar lunas duka pada dadaku

Saturday, November 11, 2006

SAJAK-SAJAK TERBARU

PRACTICAL GUIDE ON HOW TO LOVE YOUR BELOVEDS MORE AND MORE FROM DAY TO DAY AND GETTING HAPPIER

Tataplah dengan lebih mesra
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menatap mereka
Dengan jauh lebih mesra
Sedangkan mereka telah tiada

Sapalah dengan lebih hangat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menyapa mereka
Dengan jauh lebih hangat
Sedangkan mereka telah tiada

Dekaplah dengan lebih erat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin mendekap mereka
Dengan jauh lebih erat
Sedangkan mereka telah tiada

Cintailah mereka yang kau kasihi
Dengan cinta yang lebih besar
Dari hari ke hari
Sebelum tiba masa
Cinta sebesar apapun
Seolah tiada berarti lagi


KUATRIN KEMBARA

Ah, di bawah langit yang lain ini
Bahkan angin dan bulan
Berbeda dingin serta bulatnya
Dengan angin bulan kotaku!


AFTERGLOW, 2

Selepas hempas nafsu
Selewat lesat hasrat itu
Masih adakah lagi yang bisa
Diharap tersisa

Tinggal sepenggal pegal di pinggul
Seleret lesi dan lesu, menyusul
Hembus nafas yang bisu
Dan tatap kuyu

Suaramu samar memanggil, terdengar janggal
Seolah pernah kukenal
Bahkan wajahmu pun kian maya
menghambur kabur dalam udara

Tak terusut
Di pelupukku yang susut
Perlahan tenggelam, membuta
Diliput kabut gulita

Jalas, aku tak mungkin berharap
Engkau akan masih tetap
Berbelas dengan gelas kopi di tangan
Kelak, jika aku memilih bangun


PERCAKAPAN SEPELE

Permisi, Tuan
Hari apakah kini

Kamis

Anda yakin?

Hmm, sebenarnya tidak juga
Tergantung dari hari yang mana
Anda sebut sebagai Senin

Ah, ya!
Terima kasih
Telah mengingatkan saya


SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU

Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna mengeluh

Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?


MALAM SEBELUM PERPISAHAN

Tiga belas gelas kesedihan yang murni
Telah tandas kuteguk, namun tak juga mabuk
Esok pagi tujuh lautan akan memisahkan kami
Tak ingin kukehilangan wajahnya, biar sejenguk


NYANYIAN BERPUAS HATI

Telah sempat kukecap segala lezat nikmat yang mungkin
Dan kini, terhadap dunia yang ini, kehilangan ingin
Secuilpun tak memberi puas, kutinggal bagai ampas
Biarlah tersisa bagi mereka yang terus merasa miskin
Kupilih buku sajak lalu membaca hingga terlelap pulas
Di bawah guguran bunga Flamboyan yang makin menderas

Malam aku terbangun, purnama telah sempurna

Thursday, November 09, 2006

KUATRIN MUSIM PANAS

Terik matahari menaik 40 derajat di atas nol;
Gelegak kepala bak tong anggur ngandung alkohol.
Pohonan di kejauhan membayang senyap seolah maya;
Bahkan mereka pun mohon menguap lenyap ke udara!

BUNGA-BUNGA DESI

Bunga-bunga Desi telah bersemi seperti dari mimpi.
Di halaman belakang, tumbuh mereka dalam kabut pagi
yang kini tak begitu tebal lagi,
tak begitu tebal lagi.

Kelopak-kelopak kuning nampak mengambang berkembangan.
Bagai sayap kupu, mengepak perlahan
siap menari lepas beterbangan,
lepas beterbangan.

Tuesday, November 07, 2006

MEDITASI DALAM AKSI (Dari arsip sajak lama)

NYANYIAN SI PENIDUR

Kilat yang menyayatkan ketakutan
Dan menorehkan harapan,
Angin yang berhembus membawa kabar
Dan membuat benih tersebar,
Air yang tercurah membawa kehidupan
Dan membersihkan noda kotoran,
Kutampung semuanya, kurengkuh lengkap
Dalam tidur yang dalam dan lelap

Ketika raga yang rapuh fana terbujur tinggal
ruh kembali luruh ke dalam genggaman Yang Tunggal
Indra telah disenyapkan, kesadaran insan dilenyapkan,
Pengalaman dan pengamatan pun terendapkan
Diri menjelma sehelai daun melayang dihembus angin,
Jadi batang kayu mengambang hanyut di arus sungai

Maka dadapun terbuka menjelma lembah
Terhampar menerima rahmat yang tercurah
Langit menyentuh bumi dengan perlahan mesra
Menumbuhkan bunga dan buah beraneka rupa
Karena hujan yang melantunkan mantera mistis
Telah menghanyutkanku menyatu dengan gelombang kosmis


MEDITASI BERJALAN KAKI

Kesadaran insan adalah badai puting beliung
Yang berputar berpusing menghisap sekeliling
Maka untuk menemukan diri yang hakiki
Aku menempuh kota sendirian berjalan kaki
Dengan berjalan kaki kuselami samudera semesta
Dalam senyap meditasi di tengah gegap suasana
Khusuk kualami alam yang mengitari
Untuk memilah memilih mana sampah mana sejati
Kubedah kesadaran yang telah hitam menggelembung
Dengan pisau perhatian yang tajam mengacung
Kemudian kukembalikan segalanya kepada yang berhak
Kuserahkan suara kepada irama, irama kepada gerak,
Gerak kepada daya, daya kepada kehendak saya
Kuserahkan pula warna kepada cahaya, cahaya kepada surya
Hingga yang tersisa hanyalah telapak yang menjejak tanah
Dengan otot yang berkelojot, nadi yang mengompa darah
Namun masih juga kucincang otot-otot, kurajang nadi-nadi
Lalu keselisik setiap sel tubuh dengan hati-hati
Hingga kutemukan ia dalam kesempurnaan hening :
Diri yang diam bersemayam di pusat kening
Namun sebelum sempat kupersembahkan salam
Bagai dewa yang sekejap menjelma, ia keburu silam
Tetapi badai yang berpilin sekarang telah usai berakhir
Tinggal aku yang berjalan tenang bagai angin semilir


PERHATIAN PENUH

Perhatikan dengan
tenang dan sayang
setan mungil di nadi
anjing kecil yang terus berliur
api reda yang seketika dapat melunjak
gelombang yang membubung
hanya untuk jadi buih di ujung pantai.

Perhatikan dengan
tenang dan sayang
seperti maling yang tertegun malu
saat melihat bayang diri di cermin
begitu juga nafsu perlahan padam
saat disadari dan dipandangi
dengan tenang dan sayang.


TUNTUNAN IBADAH MAKAN

Sebelum mulai makan
sebutkan dahulu Nama Tuhan.
Karena makan bukan untuk hidup semata
ia ritual yang sakral dan teramat mulia.

Di hadapan kita selain tersaji ikan ayam dan sayuran
juga ikut terhidang cacing yang dimakan ayam dan bebatuan.
Dunia mineral, tumbuhan, dan hewan melata,
menanti saat pembebasan dan kelahiran kembali mereka.

Perhatikan dulu apa-apa yang kau makan
perhatikan juga bagaimana ia kau dapatkan.
Lalu duduklah sopan tunduk khidmat tanpa bicara
segala yang dimakan akan turut membangun raga.

Santaplah yang halal baik tiada berlebihan
karena semua itu akan ikut menyusun kesadaran.
Apa-apa saja yang kau santap di meja
akan terangkat derajatnya jadi manusia.

Ya, betapa agung hakekat makan
ia ucapan syukur dan ibadah sembahyang kehidupan
Lebih daripada untuk menyambung nyawa,
ia lestarikan putaran roda eksistensi ciptaanNya.

Sesudahnya jangan lupa ucapkan
puji bagi Pemilik Semesta Kenyataan
di dalam perutmu, penuh riang-haru mereka
juga khusyuk bersyukur memujaNya.

SERUMPUN SAJAK TENTANG SEJUMLAH PEREMPUAN (Dari arsip sajak lama)

PEREMPUAN

1.
Beri aku cermin kaca yang rata tak retak
atau telaga bening yang tenang airnya
atau genangan embun di telapak tangan bunga
atau bundar bola mata dara yang berbinar berpendaran

: untuk meyakinkan diri
bahwa aku memang nyata ada.

2.
Ketika pertama aku mendengar lembut suaramu menyapa
dan menatap teduh wajahmu bagai telaga kaca kala senja,
aku merasa ruh kita telah lama bersitatap sebelumnya
sejak dahulu kala, berjuta-juta tahun lamanya.

3.
Jangan pejamkan matamu sepanjang malam,
tetaplah menatapku agar aku senantiasa jaga.
Jangan pula berpaling muka begitu kejam,
pada telaga di matamu, biarkan aku berkaca.

4.
Menyimak wajahmu
bagai mengeja sebuah sajak
: senantiasa ada yang tak tergapai,
selalu ada yang tak selesai.

5.
Perempuan,
sekuntum maut putih
terselip di harum hitam rambutmu,
izinkan aku menciumnya !


ODE KEPADA TUBUH PEREMPUAN

Perempuan,
karena tubuhmu yang penuh
dan berkilatan oleh sepuhan kencana itu
memancarkan sinar cahaya
yang kemilaunya betapa menyilaukan mata,
maka
kutundukkan pandanganku.

Tubuhmu
adalah rahmat yang keramat.
Ia adalah rumah
bagi Nafas Tuhan.
Sucikan
dan muliakan Ia.

Tuhan
telah menciptakannya sendiri
sarat dengan pesona dan misteri.
Seluruh halus lekuknya
adalah sentuhan kelembutan Jemari Suci
WajahNya yang mulia tersenyum
tanganNya yang perkasa gemetar,
dan dadaNya gemuruh berdebar,
ketika membentukmu
di tengah Taman Kudus Surgawi.
Bahkan ia telah rela
meletakkan surgaNya
di bawah telapak kakimu.
Pelihara dan rahasiakan ia.

Ingatlah selalu,
tubuhmu yang jelita itu
telah jadi pelita bagi Adam dahulu
ketika ia tersuruk meraba-raba
dalam kelam gulita,
membangkitkan semangatnya
menempuh Padang Arafah
menuju Jabal Rahmah •)
Jangan biarkan ia
dijamah oleh cemar noda.

Betapa mahal dan sakral ia,
jangan kau jual dan rendahkan
sebagai barang obralan.
Jangan begitu gampang kau pajang ia
di trotoar sepanjang jalan,
di kebyar papan-papan iklan,
di lembar-lembar koran,
dan di layar televisi.
Tuhan terlalu cemburu
dan begitu menyayangimu.
Ia akan marah
bila hasil karyanya yang terindah
diperlakukan murah
dan serampangan.
Maka sucikan
dan muliakan Ia

dalam rahasia.


VANIA

Bagaikan semburat merah
pada buah apel yang ranum

bagaikan semburat merah
pada kuntum anggrek yang rekah

dan bagai semburat merah
pada wajah cakrawala senja

begitulah pula semburat merah
yang merebak di wajahnya setiap tertawa

karena guratan darah kehidupan menyembur deras
mengaliri seluruh urat pembuluh di paras gadingnya

ia, perempuan sutra, lemas dan lembut
namun kuasa mengusap tajam wajah pedang

perempuan sutra, halus dan gemulai
namun mampu meliuk menari dalam badai

seperti porselin ia
dalam keagungan rahasia, tegak diam sendiri

nampak rapuh hampa
namun telah ditempa dalam tungku api

dan sungguh penuh terisi ia
oleh padat kerasnya sunyi


SYAIR PUJAAN KEPADA KEINDAHAN

alangkah indahnya
senyum merekah merah
yang kelak terkatup membiru
dan murung melengkung pilu

alangkah indahnya
dendang merdu gelak tawa
yang kelak senyap bisu
tinggal angin meraung sendu

alangkah indahnya
pandang bening bola mata
yang kelak muram terpejam kelopaknya
dan tergulir jatuh tinggal rongga hampa

alangkah indahnya
tubuh semampai melenggang gemulai
yang kelak layu tumbang terkulai
lalu amis membangkai

alangkah indahnya
rambut hitam tebal tergerai
yang kelak putih kusam
dan kusut terburai

alangkah indahnya
kulit halus mulus kencang
yang kelak mengerut mengendur
lalu terkelupas berlepasan

alangkah indahnya
padat sintal daging
yang kelak leleh terurai
dirubung beribu belatung

alangkah indahnya
hangat gelegak darah
yang kelak surut
kering disadap bumi

alangkah indahnya
kukuh tegak tulang belulang
yang kelak luruh lungkrah
berserakan ditimpa sinar bulan

alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya


ENIGMA

Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Senantiasa nampak anggun pantas serta sempurna
Melihatnya pertama pasti tersentak oleh pesona

Begitu ramah ia bergaul, begitu luwes bertingkah
Di tengah gerumbul mawar ia termerah dan terindah
Namun di balik senyuman yang terbentuk ceria
Ada rapi tersimpan setumpuk rahasia

Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Samudera menyimpan pusaran dalam di lubuknya
Gunung mengandung bara magma pada lambungnya


KEPADA PEREMPUAN DENGAN LENGAN BERAJAH

kau tak pernah cerita
dan tiada kudengar berita
tetapi dari jerit mata
kutahu kau menderita

rambutmu adalah belukar
kulitmu sabana terbakar
sukmamu ringkik kuda liar
memekik luka sebelum terkapar

wahai, perempuan dengan lengan berajah
mari, biar kukatupkan dadamu terbelah
dan kukucup lukamu yang bernanah
hingga kuncuplah matamu yang marah

janganlah menampik sangat
jika kuminta sekedar nomor alamat
tak kau inginkankah ada yang sempat tercatat
dari kelumit percintaan kita yang gawat

sedang pada setiap lekuk landai
masih ada saja ceruk luput tertandai
dan selalu tersisa lembut dari belai
yang senantiasa tak kunjung sampai


dan biarkanlah kuda yang terluka
berlari nyari suaka di lembahku saja
berbaring tenang di samping telaga
semoga padam gelegak dahaganya.


TENTANG SEORANG WANITA

ia sudah tiga puluh dua
tetapi belum juga berdua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim perlahan bersalin

ketika kutanya kasihnya siapa
dan dimana gerangan dia berada
bibirnya tipis menggaris senyum
enggan seperti luka yang dikulum

ketika kutanya ada apa
ia hanya diam menatap saja
tetapi ketika aku terus mendesak
ia menjawab setelah tertawa ngakak :

jangan tanyakan tentang kekasih
karena aku cuaca yang beralih
bianglala di cakrawala telah pudar
lautan yang dulu kini tenang tawar

sudah jangan bertanya lagi
temani saja aku semalaman ini
tolong tuangkan lagi segelas
tetapi jangan padaku kau berbelas

toh, kita bersama takkan lama
dan kau hanya salah satu nama
kebetulan tubuhku rindu berbincang
dalam seru percakapan di ranjang

selanjutnya adalah sentuhan lembut
yang saling menyahut, saling menyambut
hingga datang gempa mengguncang gempar
dan sepasang mata bersitatap nanar

astaga, ia sudah tiga puluh dua
tetapi tetap kanak yang menolak tua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim telah jadi lain


PEREMPUAN BERJALAN MALAM

Ia melangkah terhuyung
Berjalan seperti orang linglung
Mengikuti arah angin kemana pergi
Kakinya diayun tak bertuju pasti

Sementara senja telah merona kota
Mulai jatuh pula hujan pertama
Orang-orang berlarian mencari teduh
Burung-burung berpulangan berhenti riuh

Namun ia hanya terus tak acuh
Meski dingin perlahan meringkus tubuh
Hujan yang jatuh mengendapkan debu
Air mata yang luruh menyingkapkan sendu

Bila dalam gelap kau jumpa ia
Akan kau tahu ia mendekap sendiri rahasia
Di tengah danau ada sepi terapung
biduk kecil patah dayung


NYANYIAN PEREMPUAN MERINDU

I.
Tahun demi tahun terus beredar
bagaimana kabarmu tak lagi kutahu
aku telah banyak belajar sabar
tak lagi sangat hasrat untuk bertemu.

Aku tiada yakin benar
apakah kau masih dapat mengenaliku
tetapi tetap saja dadaku berdebar
setiap mengiang sebutan namamu.

Betapa dahulu ingin kubersandar
pada bidang dada tegapmu
dan dalam rengkuhan lenganmu kekar
biar kupasrahkan diri dan nasibku.

Kadang pandang sayuku menyinar berpendar
saat di antara pejalan kulihat kelebat punggungmu
bergegas kuayun langkah untuk mengejar
berharap dapat sekedar menyapamu.

Tetapi, sungguh tatapanmu surya membakar
bagai bunga sepatu ku hanya menunduk malu
dan alangkah suaramu berat membawa getar
membuat lidahku kelu dan bibir mengatup bisu.

Seperti mawar di rumpun belukar
kupendam dalam perasaanku padamu
setelah bertahun, berita dirimu ingin kudengar
aku masih mengagumimu, seperti dahulu.

Waktu yang angkuh tak acuh saja berputar
kini pupus angan jadi kenangan lalu
tetapi bagai langit yang birunya tiada pudar
bayanganmu tinggal kekal menaungi sukmaku.

II.
Tetapi di manakah kamu, Sayang
di manakah alamat tempatmu berada sekarang
surat terakhir kau kirim dari negeri seberang
kubaca berulang-ulang dengan dada terguncang
setiap hari satu angka di penanggalan kusilang
mungkinkah engkau kembali setelah sekian tahun berbilang
kata orang cinta sejati tak akan pernah hilang
cintaku padamu tumbuh lebat menjulang berbunga bagai ilalang
di bawah langit senja bergoyang melambai bagai gelombang.

Tetapi di manakah kamu, Sayang
wajahmu tetap terbayang, swaramu kerap terngiang
mengenangmu membuat mataku basah berlinang
seperti telaga kesedihanku dalam diam menggenang
siang dan malam hari terasa lamban lagi panjang
terik matahari meradang garang, angin kelam tak henti mengerang
tak pernah kusut dan tetap bersih kain penutup ranjang
aku tak dapat berbaring tidur menunggumu kembali pulang
hanya duduk menunduk dalam redup cahaya dan remang ruang.

III.
Tangan halus manakah
yang akan membelai rambutku
Kembang bibir lembut manakah
yang sudi mengecup lukaku
Dan sepasang lengan hangat mana
yang sedia mendekap dukaku.

Hujan angin menjerit malam hari
tetapi lebih nyaring lengking rindu hamba
Badai menggila seakan tanpa henti
tetapi lebih amuk kecamuk hasrat damba
Betapa pembaringan terlalu luas untuk sendiri
dingin lembabnya menggeletarkan jiwa.


NYANYIAN ISTRI YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA

Sudah lewat tiga senja
tetapi aku masih di sini saja
duduk membisu dekat jendela
menatap nanap dan hampa.

Kunanti menginjak halaman langkah kakinya
kutunggu terdengar siulan dan senandungnya
kuharap di pintu depan berulang ketukannya
kudamba suaranya memanggil-manggil namaku mesra.

Telah berganti berkali nasihat keluarga dan tetangga
harus kurelakan ia istirah dengan tenang di alam baka
tetapi kutahu benar, salah besar mereka
lakiku tak mati, ia pergi kerja, sebentar lagi pasti tiba.

Memang tak biasanya ia pulang begini lama
namun kuyakin selalu hatinya senantiasa setia
entah hingga berapa kali lagi lewat senja
entah sampai kapanpun tetap kupercaya akan kembali ia.

Karena siapakah yang akan membuka pintu untuknya
bila ia tiba-tiba datang mengetuk di malam buta
ketika kantuk menusuki kedua matanya
dan angin dingin menampari wajahnya.

Siapakah pula yang akan menyiapkan meja untuknya
jika ia datang dengan lapar dahaga
dan siapa lagi yang akan menemani tidurnya
menyelimuti sukmanya dengan cinta tak bertara.

Sudah lewat tiga senja, sekarang telah malam pula
tetapi aku masih bertahan berjaga dekat jendela
duduk mematung menatap pekat gulita
sebentar lagi, tak lama lagi, ia pasti tiba, pasti tiba.


NYANYI UNTUK PERAWAN MENUA SENDIRI

Ia tanggungkan semua
sendiri saja, tiada berdua :
pilunya sembilu sendu dan rindu
yang bertahan bisu,
derita kecewa hampa dan damba
yang dipendam rahasia.

Ia tanggungkan semua
dengan sabar dada bunda
seperti kerang menyimpan pendar mutiara
dalam cangkangnya jauh di dasar laut raya,
seperti magma yang bergelung
di relung perut gunung.

Ia tanggungkan semua
walau senyum letih wajah tua tak dusta
jadi tuba direguk, jadi luka dikunyah
nikmat laknatnya sepi membarah
sampai suatu ketika, bumi
menyimpan dirinya jadi abadi, sendiri.


BALADA PEREMPUAN TUA YANG KECEWA

Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.

Sekarang matanya nanar
dan tangannya gemetar
tiap menatap gambar album
masa muda harum dan ranum.

Lelaki itu tinggi besar
tegap ia lagi kekar
tindak lakunya satria
tutur katanya cendikia.

Siapa tak tertawan
dan sanggup melawan
ia pun pasrah tak berdaya
menyerah pada tipu daya.

Dialah Laila Gila
yang telah serahkan segala
tetapi sehabisnya Malaikat Pemikat
lantas menjelma Iblis Jahat.

Sakit dan sesal
jadi siksa kekal
luka dan kecewa
hingga tua terbawa.

Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.

Iapun terus diam
memendam arus dendam
sedih dan pedih
ditelan tanpa rintih.

Hari demi hari
perlahan mati
tahun demi tahun
duka lara menimbun.

Kendur dan kerut
membalut tubuh susut
duhai, kemana pergi
kembang yang wangi.

Hingga di suatu senja
maut menjemput sempurna
ia diam kaku terbaring
tanpa ada yang mendamping.

Langit waktu itu gerimis
seakan turut nangis
sedang di sudut matanya
menitik jatuh sisa air mata.


PEREMPUAN YANG MEMBISU

“Aku telah bersalah,
maki dan tamparlah aku !”
hiba lelaki itu sembari bersimpuh
dihadapan perempuan yang membisu.

“Aku telah berselingkuh mengkhianatimu,
sumpahi dan jambaklah aku !”
rengek lelaki itu sampai bersujud
mencium kaki perempuan yang membisu.

Tetapi perempuan itu lebih perkasa
dari segala luka dan derita.
Sekian lama ia berdarah-darah setiap bulan
bahkan Ia telah merobek tubuhnya untuk lelaki itu
dan membelah dirinya berkali-kali
bagi kehadiran mahluk baru.

“Kutuki dan apa sajakanlah aku !”
jerit histeris lelaki itu dalam tangisnya
sembari berguling-guling di lantai
memukulmukuli kepalanya sendiri
dan menyentaknyentakkan kakinya.

Namun perempuan itu tetap membisu
kesenyapannya lebih mendera terasa
hingga membuat lelaki itu semakin putus asa.
Iapun bangkit sembari meraung-raung keras
berlari ke dapur, meraih pisau di atas meja
lalu menikam-nikam lambungnya.


HAWA, TENTANG ADAM

kulihat dia: si iblis,
tokoh antagonis
yang angkuh dan empiris,

menyamar sebagai ular
melingkar dari pangkal pohon
membujukku memetik khuldi

katanya inilah buah pengetahuan
memberi jalan ke arah keabadian
mengangkat derajat setara malaikat

begitu desis si penghasut
kepalanya menegak bergoyang di dekat buah
lidahnya menjulur menyembur goda

kuminta adam memetiknya untuk kami
demi pengetahuan, bagi keabadian,
dan kehidupan bagai malaikat tinggi

tetapi adam, dasar bocah lelaki,
ia lebih memilih buah dadaku
serta berpuas diri di pangkal paha saja

maka kuputuskan mengulurkan tanganku ...

SESISIR SYAIR (Dari arsip sajak lama)

SYAIR BERDANDAN

aku berdandan
untuk perhelatan agung
menanggalkan badan
gua gairah tinggal gaung

terik matari menyapukan
perak uban di kusut rambut
lalu waktu mengukirkan
alur kerut di kendur raut

darah telah bening
tersuling murni
daging telah kering
tersucikan kini

ngilu angin ngisi hampa tulang
iris pilu ingin yang tersia
damba lama pupus membayang
harus pula kulepas ia

langit tanpa awan
bulan di jendela
sempurna sudah riasan
kekasih kapankah tiba


SYAIR PURNAMA

Bulannya emas bulat penuh
Langitnya luas teramat biru
Bak perawan minta disentuh
Tergolek molek di tilam beledu

Berkilatan lantai beranda kayu
Oleh cahaya tercurah jatuh
Meskipun rumah tiada berlampu
Dan malam bertambah jauh

Namun lelaki memandang tak jenuh
Lamun ditingkah balam berlagu haru
Terpana begitu hingga jelang subuh
Paginya ditemukan terlentang biru


SYAIR KERIS

Sang Empu khusuk berkarya
pada malam lalu ia tak hirau.
Karena bulan begitu bercahaya
dan telaga bak kaca berkilau.

Dengan kepalan tangan
dan ujung jemari Sang Empu
logam ditempa di landasan
dan dibentuk jadi luk berliku

Diberinya kandungan wibawa
yang memancar-mancar bersinar.
Oleh bekal olah tapa rapal mantra
menyatu alam kembar kecil-besar.

Kini telah rampung ia
meski belum bersarung;
di lambung siapa kiranya
kelak ia mesti bersarang?


SYAIR DI BAWAH BULAN

di bawah bulan
kami hanya berduaan
berjalan perlahan
mengulur tujuan

tiada terlontar ucapan
diredam oleh degupan
dan dedaun bergesekan
pun mengalun nyanyian

maka ketika tiba di kelokan
terlindung lebat bayangan
kuseret ia ke rimbunan
kubekap ia dengan ciuman

awalnya: pekik tertahan
akhirnya: usahlah dikatakan
karena kami telah berduaan
luput dari intai bulan


SYAIR ANAK DARA

belaian busung dada perawan
bara bulan kembar bagi rawan angan
bualan cabul dan buaian gumul
bubung asap pada ubun mengepul

membangkit bukit di atas lembah pualam
angan membawa kembara ke ceruk curam
maka ingin jualah yang menuntun tangan
menelusur lengkung lembut dua jembatan

cumbu rayu kami saling bertukar
ciuman panjang-dalam membakar
cukuplah dengus keluh bicara
cuma untuk sehari saja


SYAIR BULAN BIRU

Bulan yang biru, bulan yang biru
bisu menatap di tinggi jauh
bak putri angkuh tak terengkuh

Bulan yang biru, bulan yang biru
buaian kabut selembut beludru
bualan lelembut bermata ungu

Bulan yang biru, bulan yang biru
buahan langit di gerumbul awan
burung bulbul hinggap di dahan

Bulan yang biru, bulan yang biru
bisu menatap di tinggi jauh
bagi baginda hati lah jatuh

ANGIN CERMIN RUMAH TUA (Dari arsip sajak lama)

RIWAYAT ANGIN

Angin yang senantiasa mengembara tanpa henti
selalu sama kapan dan dimana saja ia lalu,
berjuta tahun ia telah mengelilingi bumi ini
menengok setiap pelosok, menyusupi sudut-sudut sepi itu.

Ia mengendapkan segenap peristiwa
ia mencatat segala kata yang pernah terucap
semenjak saat yang pertama
ketika terang mentari menyingkap gelap.

Dipendamnya semua rahasia : jerit serta tawa kecil hawa
kala adam menariknya ke balik rumpun pohonan taman,
juga hiruk pikuk dahsyat perang purba yang sama sekali terlupa,
bahkan bau harum tubuh para peri yang pernah menghuni perbukitan.

Dan ketika kau terlelap di pembaringan malam hari ini
iapun menghembus masuk di terali jendela, perlahan
mengelilingi kamar tidurmu sekali, kemudian berhenti
lalu bergelung lembut di telingamu, membisikkan impian.


SAJAK-SAJAK CERMIN

1.
Apakah cermin juga menyimpan kenangan?
Berapa banyak wajah dan peristiwa telah menguap
di hadapannya. Dan meskipun ia jendela yang memperlihatkan
diriku padamu, engkau tetap menolak menjawabku ketika aku
bertanya kepadanya. Engkau hanya mengabur
mengubur rahasianya, ketika ia
mendekat kepadaku, katamu,
apakah aku juga menyimpan kenangan?

2.
Ia hanya mengilap di sana
diterpa cahaya ditimpa gelap
tetap setia menerima segalanya,
melepas tanpa bekas
semuanya
lenyap tak lekat padanya

3.
hatiku, cerminmu


RUMAH TUA

dinding-dinding daging mendingin fana
sulur-sulur urat terjulur lena
dan tiang-tiang belulang yang lekang
hampa kini kian merenggang

lumut menyelimuti di pojok sana
di sudut situ lelaba merajut rumahnya
meskipun sesekali angin yang datang
bikin jendela menjerit, pintu mengerang

SERUMPUN SAJAK CINTA (Dari arsip sajak lama)

TANPA CINTA

Tanpa cinta, kita tak akan pernah ada.
Karena cinta kepada diriNya,
Tuhan ciptakan insan menurut citraNya.

Bagai pelukis dalam khusyuk berkarya,
setiap goresan dan sapuan kuas di atas kanvasnya
adalah cerminan dirinya bagi mata pengamat seksama.

Tanpa cinta, dada kita tinggal rongga menganga hampa :
wajah kekasih, tanda mata kenangan, dan setangkai bunga
tinggal kumpulan sedih materi sepi terperangkap ruang dan kala.

Karena cinta membuka semua pintu serta jendela,
memberikan tempat bagi yang lain untuk masuk berdiam bersama
jiwapun meluas dan mendalam, masing-masing jadi bermakna.


SEBUAH SAJAK BERSAHAJA

inilah sajakku yang bersahaja saja
untukmu : perempuan bermata telaga
dengan rimbun rumpun cemara
pada tepinya

inilah sajakku untukmu :
nyanyian hujan penghujung tahun kelabu,
yang jatuh di tengah hutan yang jauh itu
dan kau, tak pernah tahu


PERTEMUAN

Seperti gerimis yang bernyanyi perlahan
dalam temaram impian, engkau telah meledakkan
sesuatu dalam diriku ketika pada suatu senja
mendadak kau menyapa dan sejenak aku diam terpana.

Alangkah sedihnya, sejak saat itu
aku pun menjelma adam : yatim piatu
yang dikutuk untuk berdua, yang didera sepi
berduka, sejak Tuhan mengajarinya arti sendiri.


KARTU BERGAMBAR

masih dengan dada berdebar seperti waktu pertama dahulu,
lebaran ini kembali kukirimkan selembar kartu bergambar untukmu
dengan latar biru seperti tahun-tahun lalu
hanya tertera nama serta tandatanganku di situ
yang kugoreskan dengan jemari gemetar dan perasaan tak menentu
meski ada begitu banyak hal yang aku ingin kamu tahu
mesti menulis apa, aku selalu ragu
walau kuingin benar mendengar kabarmu
setelah sekian lama tiada pernah bertemu
balasannya tak lagi terlalu kutunggu
karena telah mengerti : itu tak perlu


TERBANGUN DARI TIDUR SORE

Aku tersentak bangun dari tidur pendek oleh sebuah lagu lama
begitu nglangut mengalun dari radio, membuatku tertegun
lalu termangu lesu. Sudah jam berapa ?

Di jendela: ada langit
sarung tua yang luntur oleh cucuran waktu
murung, usang, dan kelabu.

Juga ada angin,
meluncur dingin dari busur malam
memburu burung-burung.

Sedang di halaman, gerimis yang bergumam
mulai menjejakkan kaki-kaki kecilnya
dengan malu dan ragu-ragu.

Senyap dan gelap merayap. Senja muram
menyapa di buram kaca jendela. Dan entah mengapa
tiba-tiba saja, aku teringat padamu.


SAJAK KECIL

Aku selalu membisikkan namamu
dalam setiap doaku yang sederhana
dan tentu juga
bersama beberapa harapan lain yang lucu-lucu,
yang membuatku malu dan tersipu sendiri
karena merasa,
ketika kusebutkan semua itu,
mungkin saja
jauh di atas sana
Tuhan hanya mengulum senyum
dan menahan tawaNya.


DI PUNGGUNG GUNUNG

Kata Khairil, Nasib itu kesunyian masing-masing
maka ketika lambaianmu memanggil (betapa ajaib dan asing!),
aku hanya tertegun hingga engkaupun gaib di cakrawala jauh.
Entah apa yang menahan: takutkah atau angkuh
atau semata keengganan tak pasti. Tetapi matahari yang melindap
meninggalkan bisik rahasianya pada jajaran pohonan yang senyap.
Sebentar kemudian gelap yang merayap mengendus jejak telah tiba,
kunyalakan api menjaga bayangku tetap bersama.
Esok ketika kokok ayam hutan bergema bersahutan, aku harus terus lagi
meninggalkan tumpukan hangus kayu dan torehan di pokok jati.


DINGIN HUJAN ANGIN

Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa

Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba

Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada !


UNDANGAN

Cahaya Fajar bagi mataku yang menua, mari, rebahlah sebentar saja
bersandar pada lapang dada yang setia mendamba,
dan menyerahlah kepada sepasang lengan yang sedia menjaga.

Bila kau benar jawaban bagi sengal doa
akan kukekalkan engkau dari ajal,
kuluputkan dari lupa.

Biarkan sang Maut, pemburu yang cemburu itu,
sesat tak kuasa kehilangan alamatmu dan Waktu
sia-sia mengenduskan moncongnya melacak jejakmu

karena telah kuselamatkan engkau
ke dalam taman suaka rahasia
di hatiku.


PERMOHONAN MAAF

Maafkan,
Aku masih selalu mengingatmu
Ketika engkau telah merasa tenang dalam kenangan,
Aman tak terjangkau pada masa lampau.
Yang lebih terlalu lagi :
Aku mengingatmu dengan sesungging senyuman rahasia,
Keluh tertahan, dan hati berluruhan.

Maafkan,
Aku belum dapat melupakanmu
Setelah sekian lama silam berlalu.
Bagaimanakah ikan sanggup mengabaikan lautan,
Mampukah kupu-kupu menghalau angin,
Dan mungkinkah bunga menghapus cahaya
Dari ingatan
Setelah mereka terpisahkan ?

Maafkan,
Atau beri tahu aku caranya.


KARENA GADISKU SEMALAM

Maafkan
Karena hembusan nafas gadisku
Yang menyembur hangat
Di leher dan dadaku tadi malam
Membuatku membenci
Angin pagi yang datang
Mengetuk daun jendela

Maafkan
Karena merdu bisikan gadisku
Yang lirih mengalun telingaku semalam
Membuatku menyesali
Kicau burung-burung
Yang baru bangun dari sarangnya

Maafkan
Karena sayu tatapan mata gadisku
Yang menahanku tak terpejam sepanjang malam
Membuatku mengumpati
Matahari yang rekah
Di ufuk sana

Maafkan, maafkan
Karena dekapan erat gadisku
Yang menjerat tubuhku hingga subuh
Telah membuatku bertanya-tanya
Mengapa pagi
Kembali lagi


SAJAK CINTA

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Yang berarti ia telah meruh.
Jauh jarak ruang dan waktu
ia tempuh dengan angkuh
bagai bahtera dengan tiang layar tinggi kukuh
dan layar-layar putih lebar berkilauan disepuh mentari
melaju membelah ketujuh samudera,
sementara di kedua lambungnya gemulung gelombang ombak
menghantam dan pecah.
Namun ia tetap tabah tiada bimbang ragu
bertahan menuju pada arahnya
seakan tak kan pernah berubah.

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Kuhirup perlahan, dalam, dan berirama
saat duduk bersila memejamkan mata
di tengah larut malam buta.
Yang lalu menjadi energi
mengisi hampa rongga dada
dan meniup bara api hidup
yang dahulu perlahan redup
hingga kembali menggeletar berpijar
menyala berkobaran.

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Walau ia tak tampak bagi kedua mata
ia teramat nyata serta ada di mana-mana.
Menyentuh seluruh sudut dan penjuru,
meliputi segala sesuatu tanpa ada terluput,
dan dapat kau rasakan ia
merasuk sukma.


KEPADA ORANG ASING

Pagi tadi aku membuat segelas kopi saja
tanpa krim dan sedikit gula, seperti kesukaanmu. Betapa aneh
terasa, tanpa suara guyuran air dan senandung dari kamar mandi.
Aku lalu mencoba menonton pesawat televisi seharian seorang diri,
memain-mainkan remote control seperti seorang tolol
lalu merasa sewot sendiri. Tetapi aku tetap tak mampu berhenti
memikirkanmu.
Siapakah kamu, orang asing yang berbaring
di sampingku semalaman. Siapakah kamu.
Seperti sepasang ular jalang di liang sempit
kita telah saling melilit dan menggigit.
Telah kuhirup aroma khas kulitmu
dan bau harum rambutmu yang menyembur saat kau geraikan
telah membawaku ke tengah padang rumput di lembah
pada suatu pagi hari yang basah seusai reda
hujan musim semi yang pertama.
Setiap senti tubuhmu yang menerbitkan beribu mimpi
telah kutelusuri dengan jemari gemetar, dengan dada berdebar keras,
dan peluh yang menderas,
tetapi kau hanya tertawa serta mengangkat bahu
saat aku berkeras ingin tahu masa lalumu
dan meminta catatan alamat
ketika kau bergegas berkemas sebelum berangkat pergi.

Ah, seperti kali kecil, kau selalu menolak bercermin.
Seperti warna-warni mentari dalam lukisan impresionis,
kau beralih berganti tanpa letih.
Dan kemarin ketika aku meminta selembar gambarmu,
dengan ringan kau berkata tak acuh : ”Jangan menyimpan
kenangan masa lalu, itu semacam kecengengan yang tak perlu.”
Aduh ! Akupun tahu
hubungan kita tak punya masa depan. Harapan hanya impian.

Kini senja menyusut di jendela dan malam merambat perlahan.
Kurasakan betul
dingin menyelusup masuk lewat celah bawah pintu
mengendap dan menebal di lantai batu.

Untuk apa menyalakan lampu. Alangkah mengerikan
bila dalam terang aku hanya memergoki diri sendiri yang sepi.
Dalam temaram dan kelam aku merasa lebih tenteram dan aman. Seolah-olah
kau masih hadir di sini, diam di dekatku.
Menatap lekat dan lama tanpa berkata,
menemani.

Seperti seekor ikan menggelepar-gelepar
di atas pecahan-pecahan es, sukmaku yang telah menerima
kutukan itu akan menggeletar tak sabar menanti tiba
kabar berita darimu. Meski hanya selembar kartu pos,
mungkin dari suatu tempat yang jauh
di mana salju selalu jatuh dan matahari begitu pemalu
dan melulu berteduh.
Aku tidak berani memintamu untuk setia
--itu terlalu mustahil dan menggelikan bagimu, tentu--
hanya saja,
tolong, jangan lupakan saya...


MENANGISLAH DI DADAKU

menangislah di dadaku
tuangkan air mata ratapmu
ke dalam cawan senyap hatiku

di sini kita selamanya terasing
dari bising, desing, dan lengking sekeliling
jiwa kita : merpati di atas puing-puing

yang selamanya mendamba kembara
telah terlalu lama dibakar cinta membara
selalu rindu pada sarang di pohon purba

menangislah di dadaku
biar kuurapi rambutmu lembut beledu
dengan air mata kasihku

karena selain dari harum tubuhmu
dan lenganku kukuh merengkuhmu,
segalanya hanya bayang yang melintas semu


KEPADA PEREMPUAN YANG MENANGIS

Berhentilah membunuh diri
Cinta yang engkau tutupi
penuh kegugupan, sungguh
membuatku trenyuh.

Dik, jangan lagi
mengiris nadi
Jantung yang berdetak itu
melagukan pagi baru.

Tak ada padamu salah
selain percaya dan pasrah
-- bunda maria juga menyerah menerima
ketika cakrawala memberi bianglala.

Berhentilah membunuh diri
kini engkau tidak lagi sendiri,
Cinta yang bersemayam dalam tubuhmu
itu kristal embun langit jiwaku.


JANGAN HAPUS AIR MATAMU

Jangan hapus air matamu
ujung puncak segala rasa itu.
Segala suka, segala duka, segala luka
ujung puncaknya air mata juga.

Biarkan ia terbit mengalir
dan ricik nyanyiannya disebar angin semilir.
Biar ia basahkan lembah padas panas jiwamu
dan membelah bongkah cadas keras hatimu.

Biarkan terbit mengalir ia
lalu menggenang menjelma telaga.
Kobaran api neraka olehnya kan padam
dan menjelma kerindangan surga nan tentram.


MALAM BELUDRU

Lenganmu yang mengulur lemas bagai berduka
bagi kecemasan liarku, menjanjikan suaka.
Dalamnya pelukmu merengkuh lukaku
tentram dadamu menjadi Taman Getsemaniku• .

Kita begitu dekatnya, teramat lekat
hembusan nafasmu betapa hangat.
Tubuhku telah berpijar oleh baramu
namun masih juga kuserukan namamu.

Hingga kubenamkan matahariku
ke penghujung samudera malammu.
Berjuta bintangpun terbit di langit tinggi
malam raya semarak bertabur bunga api.


PARADISE REGAINED

Impian memadat dalam tubuhmu
sejak dipahat kau dari rusukku satu.
Dan taman surgapun jadi tak semenawan dahulu
Setelah pertama kali kujelajah perawan belantaramu.

Maka ketika lebar-lebar gerbang ke luar terbuka
kita melangkah turun namun tetap mengangkat kepala.
Dipermainkan angin, berkibaran jubah dan rambut kita
di hadapan : terhampar megah padang luas penuh bunga


KEINGINAN SEDERHANA PENGANTIN TUA

sedari pertama kali kita terpikat
sepasang sepi telah ditakdirkan untuk terlibat
dan akhirnya, bagai rumpun rambat, saling terikat

meski lenganku kekar tak kebal ajal
dan kembang dadamu tiada bakal kekal
tetapi sayang kita sungguh teramat bengal

kau tak ingin aku pergi, kau tak akan kubiarkan mati
seperti sepasang beringin, kita impikan abadi
berdiri berdampingan, melihat abad berganti


SUNGAI NAFASMU

sungai nafasmu
halus menjuntai di dadaku

arus rambutmu yang sejuk
menggerus bebatuan di perutku

dan riak-riak jemarimu
mengelus lembut relung purba itu

aku lembah yang rengkah
terima kasih telah membelahku


PEREMPUAN LAUT

Tubuhmu menyemburkan gelombang samudera
melanda dan menggulungku
hingga ke palung laut paling biru.

Tolong jangan biarkan arus membawaku
kembali ke atas sana; aku ingin terus
terbaring saja selamanya di sini

--di antara ganggang dan karang
bersama kerang dan ikan-ikan
yang tak pernah melihat terang,

selain biru yang paling kelam--
di lubuk terdalam
mautmu


QAYLA

Kami, Qays dan Layla,
bukanlah majenun;
tetapi kewarasan Cinta
adalah kegilaan bagi kalian
--apatah lagi bila kegilaannya!

Sejak Cinta menyapih kami
terbukalah kelopak dalam dada
kami pun melihat dunia yang kalian kenal
tak lagi dengan pandangan Dajjal
--mata dan hati kami sama bercahaya!

Jalan Cinta tidaklah meminta,
Jalan Cinta adalah memberi,
menyerahkan merih untuk disembelih
untuk jadi persembahan di altarNya
--yaitu meniada untuk mengada!

Bila kalian bertanya, inilah rahasia:
kelopak terpejam Ismail, tangan gemetar Ibrahim,
dan belati yang berkilatan dalam genggamannya,
adalah cinta semata juga yang menjelma
--untuk menuntunmu ke Jalan ini!

SAJAK-SAJAK BENCANA (Dari arsip sajak lama)

KETIKA BERITA BENCANA TIBA

ketika berita bencana tiba
dengan segera saya merasa prihatin
sembari dalam batin diam-diam bersukur
karena jatuh nun jauh di sana
dan bukannya terjadi di sekitar saya

tidak hanya itu
dengan segera saya merasa perlu mengusut
apakah ini buah dari ulah serakah manusia
ataukah tulah dari Tuhan atas kaum durhaka
atau mungkin hanya polah dari alam semesta
yang semakin ringkih oleh usia renta

ketika berita bencana tiba
saya tetap tidak berani bertanya
“bagaimana kalau saya...?” apalagi meminta
“mengapa harus dia dan bukan saya...?”


SEUSAI BADAI DI TELUK

Langit mendengus geram
Dan menghunus dendam kelamnya
Untuk ditikamkan berulang ke busung dadamu
Yang putih terbuka menantang malam

Amuk belalai badai membantai, gemuruh
Beribu guruh menyerbu, cambuk petir mengamuk,
Dan berjuta panah hujan susul-menyusul
Menggempur gempar telukmu, tak berampun.

Tetapi cagak karang hitam itu
Yang menyimpan karat waktu berabad-abad
Tetap tegak terpejam membisu di tengah seru deru
Bersabar menerima bagai biksu tua yang telah tahu

Maka setelah lelah segala tumpah
Kembali, dari balik rumpun pohonan yang terpilin,
Keluar dari semak belukar yang terbongkar,
Hening perlahan merayap menyisir pasir dan mengendap

Di wajahmu yang kuyup menyimpan denyut sisa geletar
Tinggal mengapung berserak pecahan papan,
Patahan tiang, dan sobekan layar : jejak yang sebentar
Akan diraup hapus oleh arus laut ke selatan

Sementara langit jadi lebih pias dari semula
Lebih kuyu dan sayu, lalu bergulung menjauh, letih
Oleh lampias liar dari amarah gairah sendiri
Kini, ia merasa bertambah dingin dan semakin sepi


RINTIHAN BUMI

Betapa pedihnya
pukulan cangkul, irisan linggis,
dan garukan garumu

betapa perihnya
kucur cuka, tabur serbuk tuba,
dan jalar api bakarmu

di wajahku
kurasakan,
kutahankan

maka, ngalir air mata
dari pelupukku
untuk menghapus hausmu

menggumpal nanah luka
dalam umbi ubiku
untuk menebus laparmu

dan menyembur darah kental hitam
dari lubuk jantungku
nyalakan pelita untukmu

bagimu
kuserahkan
kupasrahkan


BAHTERA NUH

Bumi yang purba,
Bahtera nuh kita,
Bertahan mengapung
Di samudera waktu
Di dera arus dan gelombang
Murung termangu
Seperti jantung berlemak
Yang ungu kehitamhitaman

Helaan nafasnya
Perlahan, dangkal, dan berat
Kelopak matanya mengatup
menghindari cahaya matahari
yang kejam merajam


tubuhnya
kita cacah kita sayat
kita garuk kita cakar
wajahnya
kita injaki kita ludahi
kita kencingi kita beraki
ia diam saja
bertahan setia
meski menderita

hanya terkadang sekali dua
bersin dan batuknya
(yang susah payah coba ditelannya)
pecah tak kuasa tertahankan
dan kita lalu menjerit-jerit melengking
menudingnya
tak lagi mau bersahabat
dengan kita manusia

Lihat,
pada pelupuknya
yang diseliputi lendir tebal katarak tua,
Air mata keruh berlinang
Ia tak lagi bisa berkata-kata
Membela diri
Tetapi dari kernyit retak keningnya,
Denyutan di kerut kelopaknya,
Dan dari suara erangnya
Yang serak oleh dahak mengerak
Adalah isyarat tanda
Yang memberitakan derita
Lebih jelas tegas
dari kata

Astagafirullah !
Bagaimana kalau suatu waktu
Ia memutuskan untuk menyerah takluk saja
Kepada gerogot usia,
Menyahuti jemputan maut,
Mengangguk kepada telunjuk ajal
Kemudian memejamkan mata selamanya
Lalu melenyap tenggelam ke dasar samudera tiada
Damai terbaring dalam cahaya biru temaram
Tenteram senyap
dari arus dan gelombang waktu

Jika kapal layar karam
di laut berpalung
Dengan apa kita
mengapung bergantung,
Bagaimana kita
sampai mencapai tanjung ?


BAGI BOCAH YANG MATI

Maafkan, aku tak bermaksud untuk luruh
lalu menggulung dan menindih bocah itu
dalam runtuhanku. Sungguh, aku telah mencoba
bertahan bergantung di punggung gunung sana,
aku bahkan telah menggigit kaki-kaki rumput
yang kering itu setelah orang-orang kampung
datang membuntungi lengan-lenganku
dan membakar sisa-sisa akar.

Akupun mencintainya.
Bocah lincah dan lucu itu
dahulu sering bermain di lerengku
memetik bunga-bunga.
Biarkan aku menyelimuti jasadnya
yang kedinginan sendiri di kaki gunung ini
dengan rumput paling lembut wangi.
Bunga-bunga kesayangan terindah
akan kutumbuhkan untuk menghiasi tidurnya.


PERCOBAAN

Belati yang diulurkan kekasih
bagaimana bisa dielakkan.
Cawan tuba yang disodorkannya
bagaimana bisa ditolakkan.

Mendung dan badai
akhirnya tergulung dan usai: sekedar bukti
insan lebih tinggi dari gelapnya
lebih besar dari hempasannya.

Dan kini tinggallah ia sendiri berdiri tegak
di bawah surya berpijar. Hanya tubuhnya telanjang
berkilatan, bagai patung tembaga, dengan rambut tergerai
dimainkan angin yang lembut dan ringan,
yang bertambah lemah dan perlahan.

2004

PROKLAMASI ADAM

aku satu dari bermilyar jasad renik
yang merayapi setitik partikel debu
mengitari secuil sel cahaya

walau pijar surya betapa mudah membinasakan
aku tahu
masing-masing kami berbahaya

kami bukan bibit kanker
bagi semesta
semoga saja


DONGENG LAUT

Setelah gerak di kerak samudera
lautpun bangkit memagut kota
sedangkan siut sapuan ekornya
membongkar pesisir jauh.

Bukit terungkit, jalan terpilin.
Kota terserak mengerang
oleh sisa bisa bibirnya.
Maut berpesta, bagai capung

di tengah telaga, memungut ruh
dari tubuh-tubuh yang terapung busung
dan membusuk setelah hanyut tergulung.
Cuaca bercadar, surya seakan cedera.

Hari pun kuyu dalam kuyup.
Sisa pekik dari dada yang pecah
dan nanap tatap tak percaya
dari mata yang membeliak itu

masih menggantung di kaki langit
bersama bau yang sengit.
Lanskap tinggal bingkai bagi
bangkai dan sampah bengkalai.

Namun sehari kemudian, gelombang akan
tenang seperti si pelamun tua: mengantuk dan
melupa. Sementara seorang anak, akan duduk
di hujung perahu, bersenandung “lautku nan biru...”


ARITMATIKA PENDERITAAN

Di dalam derita
terasa insan
betapa sendiri
dan sepi.

Kesedihan
tak dapat dibandingkan.
Juga tak terganti
tak terbagi.

Tak ada duka bersama,
selain dari sejumlah orang
yang sama berduka
sendiri-sendiri.

Simpati dan empati
tak dapat mengurangi.
Tetapi pengabaian
pasti jadi siksaan.

Keprihatinan
adalah penebus batin
dari rasa sesal oleh malu dan salah
bagi mereka yang aman selamat.

Luka di badanku
tak berdarah padamu,
tangis di mataku
bukanlah air matamu.

Ulurkanlah tanganmu, Tuan Penolong
akan kusambut jemarimu.
Bila itu memang membantu
menenangkan hatimu.


SAYA INGIN PERCAYA

Saya ingin percaya
bukanlah ayun pedang itu
yang menebas pokok pohon.
Batang kayu sendirilah
yang telah rela membelah diri
demi memberi celah bagi bilah baja tajam
agar dapat melewatinya.

Saya ingin percaya
bukanlah hembusan musim
yang merontokkan bunga-bunga.
Kuntum-kuntum itulah yang menggigil hatinya
terjun dari ketinggian tebing angin
meninggalkan rangka tangkai sendiri
ingin bermain bermandikan cahaya di bawah sana.

Ya, saya ingin percaya.


THE HISTORY OF SIPILIZATION

Di atas serakan kerak setipis ari dari segumpal api yang terus bergerak dalam proses evolusi sejumlah jasad renik bekerja keras membangun koloni tanpa henti sepanjang siang dan malam hari mereka harus mendirikan surga di bumi karena hidup hanya sekali sudah itu lewat dan tak ada kebangkitan setelah mati apalah lagi surga sehingga lezat paling nikmat harus tamat direguk jasad selama berhayat di dunia mereka mesti mewujudkan supremasi diri karena tak ada tuhan yang zat sedangkan ilah hanyalah kemungkinan tertinggi dari manifestasi potensi insani akal universal yang kekal mereka menulis kitab sendiri karena yakin bahwa kitab langit hanyalah kumpulan dongeng yang koyak moyak oleh sayatan pisau analisis kritis dan porak poranda oleh strategi pembacaan dari para ahli mimpi mereka tanpa tepi meski ukuran dan umur mereka hanya senoktah cahaya perak di layar hitam sinema maka alam jadi lain dan inferior ketika di atas lapisan labil dari sistem geologis yang tertutup mereka mendirikan menara-menara babel dan hamam yang mencuat tinggi dan runcing bagai hamparan paku setelah mereka pangkas habis rambutnya lebih dulu lalu mereka kentuti sejengkal ruang udara yang mereka hirup sendiri mereka ludahi jantung nadi dan hati dimana mengalir air asal kelahiran sendiri seperti para pemabuk mereka obokobok mulut rongga rahimnya mereka tusuk dan sayat kulitnya mereka keruk dagingnya mereka kerkah rangkanya mereka sesap sumsumnya hingga menggerowong mereka hisap sari madu mereka muntahkan sampah mereka.tabur tuba dan curah cuka pada liang lukalukanya, ya:

dengan terencana dan sistematis mereka sedang menghabisi diri sendiri.


STATISTIK KORBAN

1000 tewas oleh bencana
dan warga dunia guncang karenanya
seorang pengemis terbujur ditutupi koran
kita menyerahkannya pada dinas kebersihan

1000 nyawa dicabut secara massal
dan 1 nyawa meregang sepi di bangsal
tentu dengan berita yang pertama kita tersentak
dan Maut lantas jadi selebritas mendadak

karena dalam statistik negara
dan matematika demokrasi sederhana
1000 jelas lebih signifikan dan dominan
jika dengan hanya 1 dibandingkan

tetapi dalam timbangan keadilan
duka seorang ataupun 1000 kurban
sama besar dan beratnya
sama sedih dan sepinya

maka hormatilah
setiap tetes air mata yang tumpah
setiap titik darah dari luka
: ia keramat dan mulia


KEMARAU PANJANG

hujan turun malam-malam
ketika mata-mata pejam
dan semua telinga redam

bukan untuk para raja atau kawula
tetapi bagi sehelai rumput kering merana
yang mulut kecilnya tak putus terus mendoa

ya, hujan turun kala malam telah larut
dan insanpun terselamatkan dari jaring maut
bukan oleh malaikat, melainkan sehelai rumput

MUNAJAT BENCANA

Bila dalam sejuk semilir dan rinai rintik
tak kami lihat senyumMu ramah menyapa,
adakah amuk badai dan arus bah melanda ini
seringai amarahMu? Bila lirih himbauMu
tak juga dihiraukan para hamba,
inikah geram mautMu yang menghalau kembali?

Dan bila pemuliaanMu atas lempung hina ini
hanya membuatnya angkuh bangga,
akankah kau hempaskan ia ke atas tanah
hingga nyaris binasa agar mampu mengakui rapuhnya?

Wahai, Sang Pencurah Rahmat,
jadilah kehendakMu
dalam kemahalembutanMu!

MEDITASI SETELAH BENCANA

setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa bersukur dan percaya
berada pada golongan yang benar
karena darinya dapat terhindar

sementara di atas langit, malaikat bala
menatap prihatin dan menggelengkan kepala:
justru karena dan untuk kalianlah petaka ditimpakan
agar dapat sadar dan mengambil pelajaran!

setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa diperlakukan dengan semena
yang tak berdosa bergelimpangan mati dan sekarat
sedangkan yang keji malah aman dan selamat

hingga malaikat bala berbisik kepadaku
adakah aturan ciptaan pada pencipta berlaku
sementara kalian kepada sesama berbuat tak patut
pun tanpa tanya dan pilih, membakar sarang semut

setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa kecewa dan gundah gulana
apakah sia-sia saja telah beriman
mengapa percaya tak membawa keselamatan

dan malaikat bala tertawa menggema lalu bersabda
apa keyakinan kalian menuntut balas jasa dan imbal guna
seperti pedagang ajimat bermain tawar menawar
bila merugi lantas gusar dan ingin ingkar!


SAJAK RINO

kalau tiba musim hujan
dan banjir datang
Rino suka main air genangan
atau tanding bola di lumpur berkubang

biasanya sekolah akan tutup
barang sehari dua
Rino dan kawan puas berkuyup
tertawa-tawa bersama

kadang ayah marah datang mencari
dengan membawa sebatang lidi pecut
dan di rumah ibu akan menyuruh mandi
lalu menghukum di bawah selimut

pagi ini Rino bangun kesiangan
lihat orang sedusun basah berlumpur
kemanakah ayah ibu gerangan
mereka terus tidur seperti bulan libur


BILA DATANG DUKA BENCANA

Bila datang duka bencana
Janganlah keburu berburuk sangka

Mengira Tuhan sedang menghinakanmu
Dan alam mengkhianatimu

Sungguh kemuliaan dan kedekatan
Tidaklah terkait dengan kesenangan

Lihatlah dulu siapa dirimu sendiri
Dan bagaimana sikapmu menghadapi

Satu bencana yang sama
Berbeda makna dan manfaatnya

Sakit perih yang mendera diri
Adalah azab bagi pendosa keji

Bagi yang lalai khilaf teguran peringatan
Namun jadi ujian di hati yang beriman

Sedangkan untuk para wali rezeki
Dan perhiasan mahkota bagi nabi


IA TAK LAGI BERANI MENDUGA-DUGA TENTANG ANGIN

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang angin
Sejak gelisah yang berpusing itu datang
Menerjang membuat terban rebah
Segala yang pernah ditegakkannya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang tanah
Sejak kesabaran itu retak rekah
Menelan lenyap segala
Yang pernah disemainya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang api
Sejak amarah yang menyembur itu
Menghangusmusnahkan segala
Yang pernah dipunyainya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang air
Sejak ketenangan itu bangkit menggelombang
Menyapu pupus segala yang pernah
Ia sebut sebagai kesayangan

Ia tak lagi berani menduga-duga
Tentang angin, tanah, api dan juga air
Sejak ia merasa bahwa keempatnya kini
Sedang bersiasat untuk mengingatkannya


SANTAP SIANG SEORANG FILSUF

Saya telah melihat anak tak bersalah
Menderita sakit parah lantas tergeletak mati
Mesti ada penjelasan atas ini masalah
Kezaliman yang sungguh menyakitkan hati

Setelah tercenung sejenak di ujung renung
Ia memutuskan kembali nikmati lezat santapan
Menu sajian favoritnya: kerang segar bertempurung
Yang diperasi jeruk hingga mengerut perlahan

LIRIK-LIRIK LIRIH (Dari arsip sajak lama)

NYANYIAN AKHIR TAHUN

Mendung memang menggantung bagai helai-helai tirai tua
yang mengandung rahasia kemurungan di setiap lipatannya.
Tetapi geriap cahaya tak terbendung
meskipun cakrawala lindap bagai pelupuk perempuan,

mengembung oleh sisa kantuk persetubuhan malam.
Rebahkanlah kepalamu yang lelah pada dingin bantal.
Kelam ini sebentar dan tak mungkin kekal;
tak lama lagi badai selesai dan akan kau jumpai

pelangi yang kau kenal beserta seri bunga-bunga
yang basah gemerlap oleh basuhan hujan.
Lihatlah mereka pun telah bersiap
untuk sebuah pesta.

Tentu, segalanya akan kembali:
yang pahit dan yang manis,
pastilah berlalu.
Selalu begitu.


DALAM KABUT GERIMIS

Dalam kabut gerimis
sungai cahaya mengalir tenang
arusnya terus tak pernah putus
membelah kota, anggun penuh pesona.
Di kedua tepinya lampu-lampu merkuri
setia menjaga nyalangkan mata.

Dalam kabut gerimis
deru kendaraan dan lengking klakson
padu dan merdu bersahutan berlagu
bernyanyi menyambut malam hari.
Berteduh di pelataran toko yang sepi pengunjungnya :
lelaki sendiri berdiri termangu.

Dalam kabut gerimis
segala yang fana
membuat terpana
dan segala yang sederhana
jadi indah
dan bermakna.


TERBANGUN DARI TIDUR SORE

Aku tersentak bangun dari tidur pendek oleh sebuah lagu lama
begitu nglangut mengalun dari radio, membuatku tertegun
lalu termangu lesu. Sudah jam berapa ?

Di jendela: ada langit
sarung tua yang luntur oleh cucuran waktu
murung, usang, dan kelabu.

Juga ada angin,
meluncur dingin dari busur malam
memburu burung-burung.

Sedang di halaman, gerimis yang bergumam
mulai menjejakkan kaki-kaki kecilnya
dengan malu dan ragu-ragu.

Senyap dan gelap merayap. Senja muram
menyapa di buram kaca jendela. Dan entah mengapa
tiba-tiba saja, aku teringat padamu.


TAMALANREA, MALAM SEBELUM GERIMIS REDA

pohonan ki hujan dan jati belanda
juga flamboyan dan angsana
berjajar di sepanjang jalan
gemetar dijamah angin selatan

pendar cahaya lampu-lampu ukir
memang tak berdaya untuk mengusir
malam yang datang bawa senyap
menyihir kita jadi bayang gelap

sepasang wajah yang karib
sekarang musnah perlahan gaib
saya takut, lembut cemasmu
pegang tanganku, sahutku

lenganmu yang penuh dan telanjang
sungguh membuatku meremang
rambutmu meruapkan wangi
lebih hunjam dari setanggi

maka selirih bisikan ada yang luruh
bersama rintik ketika tiba meruntuh
dan di halte kecil yang ditinggalkan
helai-helai kecupan pun bertanggalan...


DI PEREMPATAN JALAN

Cuaca sore membiru, kelopak cakrawala memberat
lalu luruh dikatupkan kantuk di pelupuknya.
Gegas lalu lintas mendesak-desak ke batas tepi
menakutimu ke seberang jalan itu. Hujan bertaburan

mengaburkan pandang, menggiring pejalan kaki
menyusuri koridor pertokoan yang telah tutup lebih cepat.
Anak-anak kecil bernyanyi dangdut dalam kuyup, sementara
seorang orang tua membereskan serakan keping recehan.

Dan klakson-klakson saling bersahutan memekakkan telinga,
seakan pekik terakhir dari sisa laskar yang terusir putus asa,
sebelum akhirnya mereka mereda menyerah senyap
dan rebah menerima malam dengan dada reda,

membiarkan lampu-lampu meledakkan mata mereka
melubangi kota dengan tikaman-tikaman cahaya.


VIA DOLOROSA

Pohonan berbisik di sepanjang lengang jalan ini
oleh rintik sesekali yang menorehkan melankoli
seakan sore bakal jadi sekekal rasa sesal
: jangan menoleh, atau engkau takkan sampai ke asal!

Tetapi kenapa sesal tiada kenal usai, kenapa sedih
bisa jadi lebih abadi dari harapan yang letih.
Dan memang, di penghujung jalan pun burung-burung
menghambur ke dalam jubah senja, sosok berselubung

yang turun berdiri menghadang dengan angkuh
merentangkan lengan-lengannya begitu kukuh
sehingga tiang-tiang lampu juga tak mampu menahan
jingga itu susut ke arah barat, perlahan.

Dan senja juga akan selesai sebelum ia tiba di sana,
akhirnya; membuat pohonan menggumamkan nubuat purba
yang telah lama terlupakan itu. Tirai-tirai gerimis lalu diturunkan
bersusun, menyihir jalan jadi lengang, kenangan sesepi impian

tuhan, tuanku, jangan aku kau tinggalkan...


BANGUN TIDUR

Di biru subuh
separuh bulan
berlabuh perlahan.

Sisa kuyup hujan
menyusupkan dingin
dan lembab pada bantal.

Impian yang telah tahu sebentar
harus pergi, menggeletarkan sayap. Kecupnya
lembut bagai sayup lambaian slamat tinggal.

Dan basah hawa pun memetakan kembali
tepi-tepi tubuhmu. Terawang matamu berembun
mencari-cari dirimu di tengah temaram ruang,

setelah semalam menghambur dan mengabur
dalam kabut alpa. Mengumpulkan kembali
yang dihanyutkan laut lupa, setengah terengah engkau

menggapai-gapai dari tubir tidur.
Kun! Bangunlah, untuk sehari
lagi.


REKUIM MUSIM GUGUR

Seperti engkau kukenal melambai dan memanggil
Menghampir sesampai tapal penanggalan, antara april
Dan mei, dengan sengal dingin menggigit gigil

Hingga hijau warna hutan kecil jadi bersalin
Kuning jingga juga merah suasa, dan kicau burung terdengar lain
Hingar melengking ke arah cuaca, namun lebih murung, mungkin

Meratap oleh ulah musim yang dikirim genapi
Upacara purba ini. Tetapi senyap sepimu menyekap surup hari;
Malam tumbuh kian larat lagi sedangkan redup pagi

Bertambah lambat, dari tiga kerat
Bulan yang sembab seolah selimut bulu, memberat
Disebabkan basah lembab dan gelap kelabu. Namun lihat,

Seperti ikal dedaun digelung surya
Tak mengeluh, bagai kelopak kemboja
Mengilaukan igal kilat terakhirnya

Saat tanggal berluruhan lalu terserak di tepian jalan
Aku pun akan tinggal tegak diam, membiarkan
Jemarimu kelak menelanjangi kelamku, kekal, perlahan.

SERUMPUN SAJAK TENTANG POHON YANG PERNAH KUJUMPAI (Dari arsip sajak lama)

ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN

Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu
tak henti-hentinya kupuja.
Ketika musim hujan deras turun
meluruhkan daun-daunnya,
dengan megah ia rekahkan bunga-bunga merah cerah.
Dan saat kemarau panas begitu beringas
menggugurkan bunga-bunganya,
dengan anggun ia rimbunkan kembali
daun-daunnya yang hijau kemilau .
Berulangkali kudendangkan tembang pujaan
bagi pohon flamboyan itu,
ia mengatasi waktu dan maut
dengan begitu lembut dan perkasa.


ODE KEPADA BUNGA SEMAK-SEMAK

Berbahagialah bunga-bunga semak
yang tumbuh liar di pinggiran jalan
membiarkan angin bersama orang-orang
sibuk lalu lalang dalam hiruk pikuk
ia tak pernah memekik
untuk menarik perhatian mereka.

Berbahagialah bunga-bunga semak
yang menjadikan kelokan selokan sebagai cermin
mereka memang tidak seperti angsoka atau anggrek
yang kolokan dan suka merengek itu,
atau seperti melati yang tinggi hati
dan suka mengolok-olok dirinya
yang jorok serba kotor,
ia pun hanya cuek
ketika cocor bebek itu mengejek
rupanya yang jelek,
ia tak pernah tahu dan memaksa
mereka-reka keindahannya sendiri.

Berbahagialah bunga-bunga semak
yang tumbuh tanpa ada yang menanti,
tanpa tempat berteduh,
tanpa pernah sempat tersentuh jemari halus
wanita pemilik taman itu.
Sejenak saja ia membuka kelopak-kelopaknya
lalu luruh tanpa keluh.
Kemudian berlalu diam-diam
tanpa ada yang tahu dan merasa kehilangan
: ia lebih tulus, lebih kudus.


POTRET MURNI

Siang jam dua belas
angin panas, kering dan malas.
Rumah-rumah batu
berderet bisu.
Jalan panjang
berdebu dan lengang.
Di ujung pohon mati
terbakar matahari.


POTRET

Mentari ngantuk dan memberat
memerah nun di ufuk barat.
Ada rumah panggung tegak sendiri
dekat kali coklat yang lirih bernyanyi.

Pohon flamboyan menyala dalam senjakala
di tepian sana ia mekar membakar warnanya.
Dihembus angin bunga-bunga merah kecil berluruhan
jatuh bertebaran dan terus hanyut dibawa arus perlahan.

Begitu anggun malam turun dan datang
burung-burungpun berterbangan pulang.
Aku bertanya-tanya di dalam hati
kemana gerangan mereka dibawa pergi.


EPISODE

Aku berjalan perlahan seorang diri
menyusuri tepi bulevar tamalanrea yang sepi
menembusi sisa-sisa gerimis
sehabis hujan sore hari.
Di tepi kanan-kiri jalan
lampu-lampu merkuri telah dinyalakan
membangkitkan kembali kenangan-kenangan lama
yang selama ini nyaris terlupa.
Wangi tanah basah
dan harum rerumputan meruap
menggeletarkan seluruh atom tubuhku.
Sementara bunga-bunga merah kecil
dan dedaunan kuning tua
menderas berguguran dihembus angin senja
memenuhi batang jalan
--beberapa jatuh di atas kepalaku
dan sengaja tak kusapu.

Sebentar lagi malam.


JALAN SETAPAK

jalan setapak yang terlupakan
terkapar dibakar matahari
semak belukar di kedua tepi
berlomba menghapusnya

sejak jalan aspal datang
mengiris punggung bukit bunga
para peladang di hutan
lama tak lagi melintasi

ia berharap semoga ada bocah
yang tersesat di padang sana
biar nanti para pencari
kembali lalulalang di atasnya

di mulutnya dulu aku berdiri terpaku
tak tahu arah mana menuju rumahku
bila kini kalian datang mencari
temukan aku di dahan pohon kayu


TUGAS MENYAPU HALAMAN

Andai kita bersedia sabar beberapa lama lagi
tentu daun-daun jatuh dan reranting patah
yang bertebar disekeliling kaki pohon besar itu
akan dapat kembali lahir pada musim mendatang.

Andai kita bersedia sabar beberapa lama lagi
pastilah wajah bumi tak akan mengernyit nyeri begini
digarit-garit oleh batang-batang runcing sapu lidi
yang kuayunayunkan mencederai kulitnya.

Andai kita bersedia sabar beberapa lama lagi.
Tetapi sore ini halaman rumah mesti segera kubersihkan,
mematuhi suruhan ayah meski sembari bertanya-tanya
apakah benar daun terayun jatuh dan ranting kering patah adalah kotoran.


RIMBA RAYA

Ada pokok pohon kayu tua
dengan pasrah rela
berderak tumbang sendiri
di tengah rimba raya.

Hatinya rekah
bagai mawar merah
mekar membuka
menampung cahaya.

Hewan dan tetumbuhanpun
tersentak senyap sejenak
mendengar jerit terakhirnya
yang pecah ketika rebah.

Tanpa doa dan upacara
setitik hidup
kembali lenyap
dihirup waktu.

Hanya rimba raya
taburkan cendawan & anggrek hutan
disekujur jasad terkapar
dengan cinta yang gemetar.

Dan kemudian setia
menyimpan gema jeritnya
abadi bagai kenangan kecil lembut
di dada bunda yang duka.


SAJAK BERKEBUN

Atas nama kegenitan dan kecemasan berlebihan
akan soal keindahan dan kebersihan
kita memangkas, memotong, dan menebang
tetumbuhan yang sementara meriap rimbun dengan riang

Padahal setiap pori-porinya yang mengembang menguncup
juga menghirup dalam-dalam hawa hidup.
Padahal setiap helai daunnya
adalah mulut kecil yang tak henti bertasbih memuja

Padahal setiap ranting dan pokoknya
meliuk rukuk menunduk sujud dengan setia.
Padahal mereka menyaksikan peristiwa, merasakan dan mengenal,
padahal mereka juga menyimpan tanda jejak tangan Yang Kekal...


KUATRIN POHON TUA

pabrik-pabrik terus memuntahkan jelaga
mobil-mobil terus meludahkan timah hitamnya
tetapi pohon tua di sudut jalan tak terjaga
terus saja tulus menabur bunga-bunga


ORANG IBA HATI

Hanya sehelai daun
Yang lepas dan gugur
Membuatnya larut tertegun
Cemas dan turut hancur

Cuma sebutir kerikil
Yang tercerabut terlontar
Memencilkannya hingga terkucil
Ikut resah dan gemetar

Bahkan air mata
Yang mengucur berderai
Bukan untuk jemarinya luka
Tetapi bagi mawar yang melukai

Ia sedih-tangiskan
Nasib malang rumpun bunga
Walau begitu indah rupawan
Digariskan Alam berduri tubuhnya


HALAMAN RUMAHKU

Di halaman rumahku
Rerumputan melebat, pepohonan merimbun
Ranting dan dedaunan kering berserakan
Tak pernah disapu, timbun menimbun

Tak apalah,
Kami telah begitu dekat dan bersahabat
Bersama berbagi
tanah, air, udara, dan cahaya

Mereka beri aku
Aneka warna bunga
Teduh rindang
Dan merdu desikan

Toh,
yang kuperlukan
hanyalah setapak jalan
untuk dilalui


NYANYIAN POHON TUA

Telah berpuluh-puluh tahun
Aku tegak hadir di sini
Telah gugur beribu helai daun
Dari rantingku ke wajah bumi

Tetapi tak ada yang kutangisi
Karena tahu, tiada yang pernah lenyap
Setelah dicerna diolah oleh rahang bumi
Sari mereka oleh akarku akan kembali diserap

Namun sekarang, semenjak kota kian gemerlap
Udara berserbuk racun berpercik biji api
Di hadapanku dibangun jalan aspal berkilap
Di belakangku trotoar untuk pejalan kaki

Maka sejak itu pulalah bermula perih deritaku
Menyaksikan betapa daun-daunku menguning gugur
Hanya untuk terbaring sia-sia dan tersiksa di depan mataku
Mengering dan mengerang putus asa tak kunjung hancur

Kadang ada yang diinjak dilindas, kadang oleh angin disapu
Yang paling sakit menyaksikan banyak yang ditumpuk dibakar
Dalam bak sampah yang masih dibawah naungan bayang rindangku
Mengerutlah sekujur tubuhku, akar-akarku berdenyutan menggeletar

Kulihat tanpa daya mereka dikerkah taring api yang berkobar
Kudengar tanpa daya keluh terakhir mereka menyayup sendu
Hingga akhirnya tuntas mengabu lalu musnah tersebar
Sayatnya lebih tajam dari tetakan mata kapak beribu-ribu !


PERINGATAN BAGI PARA PENGGUNA JALAN

siapapun engkau yang sedang melangkah
menyusur sepanjang batang jalan ini
tapakkanlah telapak kakimu
dengan perlahan dan hati-hati

berbelaskasihlah kepada mereka :
daun-daun gugur kuning terhampar
yang sedang sengal menghadapi ajal

tak kau dengarkah engah nafas terakhir
lepas menguap lenyap di udara,
tak kau lihatkah cerlang hijau terakhir
terpancar dari tubuh-tubuh terbujur
yang lalu tergelung pelan-pelan
digulung oleh jemari maut ?

siapapun engkau
tapakkanlah telapak kakimu
dengan perlahan dan hati-hati
di jalan ini


BURUNG MALAM

Burung yang berkidung di larut malam berembun,
Untuk siapa gerangan lagumu mengalun?
Terdengar berulang merdu berirama
Seakan datang dari lain dunia !

Adakah kau tangisi sepasang kekasih setia
Yang terbujur lemas terpejam pulas ?
Tidak, mereka tidak mati membunuh diri
Esok hari, pasti terbangun lagi !

Adakah kau ratapi kutuk bencana akan jatuh
menimpa menumpas rata segala menjelang subuh?
Jangan; mohonkan pada Yang Kuasa
Untuk menjauhkan atau menangguhkan beberapa lama!

Adakah kau tengah bertukar sapa
Dengan para peri yang bermunculan menghuni dahan kemboja?
Ah, bahagianya engkau dapat bertemu kembali
Dengan kawan yang pergi menghilang sembunyi!

Ataukah kau tengah bernyani memuja dalam pesta cahaya purnama
Dan merayakannya bersama mereka yang turut berjaga?
Jika benar, sembunyikanlah ihwal kisah ini
Agar tak cemburu dengki mereka yang tertinggal rugi!


SELENDANG SATIN, ULAR PUTIH, DAN KABUT

Selendang tipis berenda dari satin
Meliuk-liuk dipermainkan angin
Perlahan melayang rendah
Sejengkal di atas tanah basah

Peri yang semalam bernyanyi
Tanpa sengaja meninggalkannya di sini
Ketika ia bergegas terbang melenyap
Raib dalam sisa cahaya bulan yang senyap

Selendang tipis berenda milik peri gaib
Meliuk-liuk bagai ular putih yang ajaib
Lalu melata lamban dalam cuaca lembab berembun
Merayap meliliti pohon purba yang lebat merimbun

Paginya, ketika sang surya terbit meninggi
Dan dengan pongah mulai melecutkan cemeti api
Seorang bocah tersentak bangun dari buaian impian
Lalu berseru-seru : hei, lihat, ada kabut ketinggalan.


SEHELAI DAUN MANGGA

Mendung memang menyelubungi sore itu kembali
dan kibasan jubahnya mengirimkan dingin bagi angin
tetapi di atas pelataran batu yang hijau kelam serta kelabu
oleh lumut dan waktu itu,
sehelai daun mangga kering yang baru gugur
bercahaya begitu kuning dan cemerlang.


KENANGAN HUTAN KECIL

Dahulu jalan itu hanya setapak kecil yang berliku
meliuk di antara lebat pohon-pohon nangka dan mangga liar
yang bagai para raja yang royal membiarkan buah mereka
buat para pelintas, rampok yang bergegas, dan hewan hutan.

Dan guguran kapas dari kapuk randu dan sisa kabut semalam
bertaburan melayang lepas lalu meluncur turun
untuk mendekap bunga-bunga rumput
sebelum bergegas melenyap.

Seperti kekasih gelap yang tergesa
meninggalkan para dara dan janda bersungut-sungut
membetulkan kain yang kusut,
menenangkan nafas yang memburu.

Lalu kemanakah pergi para peri dan hantu
yang dahulu bergelantungan di dahan pohon itu?
Di mana gerangan mereka
sekarang?


REKUIM KEMATIAN SEBATANG POHON

sebatang pohon nangka rimbun kukuh
yang telah berpuluh tahun bertahan tumbuh
di dekat pengkolan jalan itu akhirnya
harus ditebang hingga ke pangkalnya

“ia merusak jalan, bagi kabel listrik berbahaya,
dan menghalangi cahaya ke rumah-rumah kita”,
begitu kata bapak bertubuh tambun itu
sembari mengayun-ayunkan kapak ke batang kayu

tetapi pohon itu telah berdiri di situ
semenjak lahan ini masih berupa alas lebat dahulu,
sebelum hutan dibabat dan jalan aspal dibentangkan
lalu kabel diulur-rentang, dan tiang-tiang dipancangkan

ia bahkan lebih dulu berhak atas matahari
yang melimpah ruah sinarnya di setiap pagi hari;
tetapi mengapa jalan, kabel, dan juga rumah-rumah
membuatnya harus terpangkas dan rebah?


GUGURAN DAUN

daun-daun berguguran
jatuh berhamburan di atas pekuburan
tangan siapa yang mematahkan
rencana apa yang sedang berjalan

adakah dahan telah enggan beri tautan?
oleh ulah angin yang menghembus perlahan?
mungkin karena tulah mentari yang menghanguskan?
ataukah semata lengan yang tak lagi kuasa bertahan?

tanpa tawaran, tak ada jawaban
hingga para peziarah berpulangan
hanya daun, dahan, dan angin perlahan
yang mengendap dalam senyap bisikan


REPORTASE DARI MAL BARU

Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar

Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya diam acuh

Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya

Monday, November 06, 2006

TERJEBAK BAHASA

Untuk meringkas rasa
Merangkum dunia
Moyangku menatah kata
Menggubah bahasa

Kini kutemukan diriku
Tersesat sendiri
Dalam lebatnya
Belantara tanda

Sibuk menduga dunia
Asik menerka rasa
Lewat kata yang
Dikatakan Kata

PETISI SEORANG WARGA KOTA

Jika untuk memilih presiden saja
Kita sudah bisa melakukannya
Secara langsung dan sungguh-sungguh
Apatah lagi memilih walikota

Kota mesti diurus lebih serius,
Tidak tanggung-tanggung.

Kelahiran dan kematian
Terjadi di kota
Pekerjaan dan pengangguran
Hadir di kota
Wabah dan bencana
Juga menimpa di kota

Bila rusuh negaraku
Akan kujaga teduh kotaku
Bila diserbu negaraku
Akan kubela sungguh kotaku
Bila rubuh negaraku
Akan kusokong teguh kotaku

Karena satu negaraku
Hanya akan sejahtera
Bila seribu kota desanya
Telah makmur dan adil merata

Biarlah yang jadi pemimpinnya
Hanya orang yang bisa memelihara
Tanah dan air, menjaga
Udara dan apinya

Orang yang mengerti
Bahwa membangun bukan berarti
Sekedar meruntuhkan gedung lama
Dan kemajuan tidaklah identik
Dengan segala yang baru
Bahwa pertumbuhan
Bukanlah padatnya pusat perbelanjaan
Macetnya jalan raya
Serta habis terpangkasnya
Pohon akasia

Ya, saya percaya itu
Kalian pula,
Bukan

Tertanda
Seorang warga

Sunday, November 05, 2006

KUATRIN MUSIM SEMI

Melihat mekarnya bunga-bunga bertebar
Geliat geletar lama tak lagi sama menjalar
Setelah kuukur jarak, kutelusur pula dari akar
Terus memucuk, hingga ke hujung daun terbakar

: silih musim, alih angin, tak mungkin ingin setia