Sunday, July 24, 2016

KASIH IBU

Ketika seorang pemuda
Datang bertanya kepada Baginda Nabi,
Ia dijawab: Berbaktilah bagi
Ibumu. Bagi ibumu. Ibumu, lalu, ayahanda.

Benarlah, sembilan bulan lamanya,
Aku adalah buah kesayangan ibuku.
Bergelung di garbanya tentram bagai mutiara
Bercahaya dikulum kelembutan cangkang kukuh.

Dan jika ayahku adalah tangan yang mencari
Maka ibu tangan yang menyajikan.
Bahkan, kupikir ayahku sekadar membantu
Agar ibu dapat menghidangkan sesuatu di mejanya.

Hingga ketika ayah sudah dipensiunkan
Ia seperti agak canggung karena kehilangan.
Tetapi peran ibu tak kunjung usai: mengusap lukaku,
Membelai sakitku, membekali ziarahku.

Maka tak mengherankan, aku haru tertegun
Tika suatu pagi, sembari mematut diri, ibuku berkata:
“Semalam datang ayahmu almarhum
Menyemburkan parfum ke tubuhku harum.

Carilah untukmu seseorang segera;
Ia merawatmu, engkau menjaganya.”
Ah, telah kulangkahi tiga benua
Tiada seluas tapak kasih Bunda.

Tuesday, June 14, 2016

HAIKU RAMADHAN 2016 M

hidangan siang ini
hanya angin, cahaya,
dan pengetahuan

Friday, April 29, 2016

RUTINITAS IBU SETIAP PAGI


Setiap pagi setelah membuka mata
Ia menunduk dan menyungkur
Menyembah dan memuja
Kemudian bangkit membuka jendela
Memberi matahari dan sejuk bagi rumah
Lalu menjerang air di atas kompor
Menyiapkan rezki bagi penghuni
Setelahnya, memberi makan kucing
Dengan sisa santapan semalam
Juga menyirami bunga-bunga di halaman
Dan memunguti sampah di sekitaran

Betapa sepagi ini
Ia sudah bekerja mengolah alam
Mengurus keempat unsur
Serta telah menjadi abdi dari berbagai:
Dari yang mati, yang tumbuh, yang bergerak
Hingga kepada yang berkehendak
Bahkan bagi Sang Mutlak.

Sebelum televisi dan koran
Tiba mengabarkan persekongkolan dan perampokan.


2016