Monday, October 17, 2016

MADAH PAGI BAGI PIPIT KEPODANG

Burung-burung yang berloncatan riang hati
Bagai pelompat tali di antara berkas cahaya pagi hari

Semoga kalian dapat pulang dengan paruh
Letih dan lambung penuh sebelum senja meluruh

Karena kemurungan turun bergegas merundungi dadaku
Setelah sempat terbuai alunan kicau merdu

Di tempat sesak ini, masih adakah bulir tercecer dari tampahan,
Madu di kantung bunga, buah bergantung di dahan pepohonan?

Pada tebaran palma plastik yang buruk, tiang iklan-kampanye pembujuk
Yang murahan, dan menara seluler menjulang seram

Masihkan Tuhan sudi menitipkan rezeki kalian
Setelah segala apa yang aku dan kaumku lakukan?

Masihkah ada, sehingga para nabi tetap absah bersabda:
“lihatlah burung-burung itu…”

Seolah salib salah dan malu pada punggungku menimpa membebani
Ku membungkuk sekedar mempersembahkan secabik remah roti

Beruntungnya kalian tanpa mulut rakus menganga
Dan sepasang tangan serakah menganiaya

Kaki-kaki kalian memang serapuh ranting kayu
Namun mampu menanggung tubuh sarat mengandung lagu

Walau tak kalian peduli, terima kasih beribu kali
Untuk penghiburan dan pengajaran sekalian

Terbanglah meninggi jauh, berkitaran bebas
Mengatasi kepala-kepala angkuh kami


(Yogyakarta, September 2016)

Tuesday, August 30, 2016

BEBERAPA SAJAK TERBARU

BERJALAN KE TIMUR DI PAGI YOGYA

Seperti dalam satu sajak Sapardi, pujangga asli asal Solo
Beta berjalan dari barat menuju timur
Pada suatu pagi cerah di kota Yogya.
Hari pertama pengarahan sekolah
Beta paksa diri berdandan mewah-istimewa:
Topi bertepi lebar agar kelembaban wajah terjaga,
Kaca mata rabun tebal berbingkai lebar pula,
Batik lungsuran yang mungkin nama motifnya
Adalah “Lelananging Jagad”. Juga, so pasti, 
Celana kain biru tua yang mulai mengharukan ketipisannya.
Iya sih, konservatif; tapi, pasti mantabh dan insviratip.

Di hadapan beta, di halaman sekolah dasar tepi jalan
Bocah-bocah bergerombol bersorak melambaikan tangan
Malah ada yang jejingkrakan dan manjat pagar.
Beta curiga, jelas beta bukan artis Jakarta,
Apalagi pejabat narsis lagi turba jelang kampanye.
Beta cemas, raba kain celana beta: kulit sentuh katun.
Takutnya beta lupa pakai ini seluar
Saking semangatnya keluar pagi pergi ke sekolah.
Ternyata, ada. Resleting, cek, okesip.
Alkhamdulillah.

Beta tengok ke belakang beta. Omamabae!
Ada dua remaja berambut pirang
Dengan kaca mata hitam adem ala holiwud
Dan tentu wajah terproteksi tabirsurya juga.
Keduanya berjalan santai dalam balutan
Busana tradisional khas musim panas
Dari kampung mereka nuuun di atas sana,
Jauuuh tinggiii di Bumi Utara.

Melenggang mereka berbincang 
Dalam bahasa yang membuat beta berhasrat 
Daftar les kelas Perancis atau Swedia sekalian 
Kalau bisa dapat itu beasiswa.
Dengan elegan mereka melenggang
Bagai dua bidadari—walaupun tanpa selendang—  
Dengan bermurah hati membiarkan
Matahari yang mulai memanjat tinggi
Mengulurkan sulur-sulur cahaya hangat
Memijati otot-otot betis, paha dan punggung
Yang sangat kaya akan kandungan protein itu.

Untunglah hari itu hari pertama pengarahan sekolah.
Beta musti mulai mengirit kegenitan,
Brenti mengobral kegombalan.
Beta harus tahan diri agar bisa mengolah potensi
Mental-intelektual, dan jadi murid pandai berprestasi.
Berbekal sarapan mi gelas instan, lahir-batin ini dilatih
Tahan banting, otak musti paten. Apa boleh bikin!
Umpama kesatriya tutup mata abaikan dewi-dewi nordika berbikini
Khusyuk bertirakat-tapa sampai mampus menggempakan kahyangan.
Leres, Laras, Beres. Jadi, mereka boleh aman; beta ingin amin.
Beta cuma nyengir kuda tidak bisa panjat.


Jadi ingat sajak tentang pagi yang belia di Soppeng
Buah pena Aslan Abidin, asli anak Bugis.



HAIKU-HAIKU YOGYA

1.
Beras minimarket:
bahkan kutu-kutunya pun, bule
berpunggung pirang.

2.
Setelah melibas
kesebelasan kutu beras:
nasi putih mengebul.

3.
Mengumpulkan receh kembalian,
aku berdoa kalian sentosa
di sana.

4.
Etalase toko—
kau adalah aku yang menjenguk
dari lain jendela.

(2016)




SAJAK EAAA

Disekap sepi, diperas perih, membuatmu filosofis.
Saya pun menatap ruang terentang sejauh pandang:
alangkah ajaibnya kekosongan gaib ini!
Sebab ada, ia tampaknya hampa. Karena tiada,
benda dapat berlandas padanya berada.

Tetapi benarkah ia tanpa suatu apa?
Kutatap seksama, howalala, betapa padat sesaknya
oleh debu dan hawa, oleh cahaya dan gelombang,
oleh daya yang merampati serapat-ratanya,
oleh alam-alam lain bertumpuk menindihnya.

Nyatanya, tiada gerowong kekosongan itu.
Tak ada yang terluang dari adaan ini.
Serentak aku tercenung: tanpa beda, kita hanyalah
kontur pada hamparan pengada; nampaknya
timbul menebal di sini, tenggelam menipis di sana.

Semesta raya pun serata dalam pijakan Sangmengada
Yang mahalembut, serbameliput, mahapenuh, nirwatas.
Satu sebutannya Sanghak: kenyataan, kesejatian, kebenaran.
Semua tak terluputkan, tak terlupakan, sehingga aku
sungguh tak pernah sendirian; tidak ada yang terpisahkan.

Dalam pandangan yang mahatahu seluruhnya nyata
Sebagaimana segalanya hidup dalam rangkulan yang mahahidup
Sebagaimana segalanya terang dalam tatapan yang mahacahaya
Sebagaimana segalanya tunduk dihadapan yang mahaperkasa
Sebagaimana segalanya baik dalam tangan yang mahabaik

Maknanya: walaupun jarak merebak antara kau-
aku namun debu rindu menderu, gelombang dambaku
merambat, dan cahaya cinta menjalar, untuk menjangkaumu.
Membuat hatiku tetap syahdu mencengkram hatimu, sukmaku
asyik merasuki sukmamu. Duh, pelipisku berpeluh memikirkan ini.

(2016)




PERTEMUAN PERTAMA

Terima kasih, Kota
Untuk lembut akrab tatapanmu
Pada saat pertama saling sapa
Tak kau tanya: siapa
Namun anggukmu, untukku

Terima kasih, Kota
Engkau yang membawa beban kenangan
Lebih berat dari takdir sendiri
Senyum dan kelambanan mengajarkan
Ramah dan mengalah bagi keberingasanku

Terima kasih, Kota
Untuk trotoar lebar bertebar di jalan-jalan besar
Dan sebrakros sabar terhampar: mereka rela
Menampung langkah-langkah sepatu tuaku
Yang berat-tegas walaupun terkelupas ujungnya

Terima kasih, Kota
Menyusuri jalananmu tanpa tergesa, aku seolah
Berkawan arwah Ronggowarsito dan Rendra,
Juga Kayam dan Damarjati—tentu,
Belum patut menyebut Katon dan Marzuki

Terima kasih, Kota
Cuaca hangat Agustusmu penuh daya
Menghimbauku kembali jadi seniman berbudaya
Terkadang, bahkan menggoda jadi buaya
Yang tak kalah ganas berbahaya

Terima kasih, Kota
Kayaknya aku telah jatuh cinta
Tepatnya aku akan mencintaimu dengan hati
Yang lain lagi; biarlah jantungku yang satu
Tetap tergantung di puncak pohon Tala

Nun, di tanah Mengkasar sana

(2016)



SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR II

Besok aku pergi meninggalkanmu di sini
Untuk beberapa tahun, mungkin
Jauh dari dirimu dan
Kembali sendirian.

Barangkali aku akan menengokmu sesekali saja
Bukan karena tak peduli
Namun lelaki mesti tahu 
Mengendalikan rindu
Mengolah hasratnya

Berjanjilah untuk bertahan
Walau beton, beling, dan bilah baja
Membelukar di paras indahmu
Walau nadi-nadimu dipadati kemacetan
Pusarmu digali menggerowong
Lekuk tubuhmu dikeruki dan diuruki
Dan dagingmu dicacah dijajakan.

Para pembelamu yang lain juga akan 
terus berkawan dan melawan
Pena mereka bakal menggurat lebih tajam
Pekikan mereka jadi bertambah lantang
Kepalan mereka mengeras

Menghantam wajah-wajah menganga 
Berlumuran lendir milik
Para pemimpi yang asyik mengukir patungnya sendiri
Para pengelola yang mengabdi di kaki pemodal
Para pedagang yang menyembah laba
Dan cerdik pandai yang setia melayani mereka
Serta aparat yang menyewakan kehormatannya dengan murah

Berjanjilah, akan bertahan dalam cinta
Dan aku mengekalkan setia
Aku pasti balik ke pelukanmu
Jika ada nasib baik

Aku tak ingin cengeng
Tetapi bahkan sebelum pergi
Aku sudah kangen

(2016)

Sunday, July 24, 2016

KASIH IBU

Ketika seorang pemuda
Datang bertanya kepada Baginda Nabi,
Ia dijawab: Berbaktilah bagi
Ibumu. Bagi ibumu. Ibumu, lalu, ayahanda.

Benarlah, sembilan bulan lamanya,
Aku adalah buah kesayangan ibuku.
Bergelung di garbanya tentram bagai mutiara
Bercahaya dikulum kelembutan cangkang kukuh.

Dan jika ayahku adalah tangan yang mencari
Maka ibu tangan yang menyajikan.
Bahkan, kupikir ayahku sekadar membantu
Agar ibu dapat menghidangkan sesuatu di mejanya.

Hingga ketika ayah sudah dipensiunkan
Ia seperti agak canggung karena kehilangan.
Tetapi peran ibu tak kunjung usai: mengusap lukaku,
Membelai sakitku, membekali ziarahku.

Maka tak mengherankan, aku haru tertegun
Tika suatu pagi, sembari mematut diri, ibuku berkata:
“Semalam datang ayahmu almarhum
Menyemburkan parfum ke tubuhku harum.

Carilah untukmu seseorang segera;
Ia merawatmu, engkau menjaganya.”
Ah, telah kulangkahi tiga benua
Tiada seluas tapak kasih Bunda.