Sunday, February 12, 2017

KEINGINAN KECIL


Telah kuhabiskan
pulsa tersisa
berbincang denganmu.

Kelak, ingin kulepaskan
nafas sebelum pulas
mendengar talkinmu.

Setelah pelupuk pun
tergulung kelam,
biarlah telapakmu:

hangat terakhir,
kukenang hingga
terlelap melupa.


(2017)

Friday, January 27, 2017

edisi khusus: Ringkasan Panduan ber-Haiku


Penyusun: Hendragunawan

Bersajak tanpa aturan bagai bermain tenis tanpa net (Robert Frost)

Keberlimpahan emosi, bahkan kegarangannya, 
telah terkendali dan ditinggikan oleh disiplin yang tak kenal ampun (D. Paul)

Pelajari aturan lalu lupakan (Basho)

Pengantar

Dalam penulisan haiku, sebagaimana halnya dalam penulisan puisi secara umum, ada tiga tahapan untuk ditempuh. Pertama, bagaimana menulis sesuatu yang dapat dinilai sebagai haiku oleh sebanyak mungkin pembaca berpengalaman (kriteria esensial). Tahapan selanjutnya, bagaimana agar haiku yang telah ditulis memenuhi cita rasa umum dalam hal keindahan (kriteria estetis). Terakhir, bagaimana menulis haiku dengan gaya dan nada tertentu yang khas (kriteria identitas/eksistensial).

A - Definisi:
  1.  “Puisi Jepang yang biasanya menggunakan sindiran dan perbandingan dalam menggambarkan sesuatu sehingga dapat membangkitkan emosi dan pandangan spiritual tertentu. Sajak haiku selalu sugestif, terdiri atas tujuh belas suku kata yang terbagi menjadi tiga larik, pertama lima suku kata, kedua tujuh suku kata, dan larik ketiga lima suku kata” (Kamus Istilah Sastra, Balai Pustaka)
  2. “Haiku is a short poem that uses imagistic language to convey the essence of an experience of nature or the season intuitively linked to the human condition” atau “haiku adalah puisi singkat yang menggunakan bahasa citraan untuk membungkus esensi dari sebuah pengalaman terkait alam atau musim yang secara naluriah terkait dengan keadaan manusiawi” (Haiku Society of America)
  3. Bentuk puisi klasik Jepang yang terdiri dari 17 on (gugus bunyi), memiliki kigo (penanda musim) dan kire (bunyi pematah).

B - Prinsip Filosofis

1.   Bertolak dari materialitas: benda yang berada dalam konteks ruang dan waktu tertentu, ditampilkan se-Ada-nya.
2.   Ditulis ketika perhatian penulis terpusat pada  dan tersedot oleh benda melalui jalan indrawi: penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pencecapan. Begiu pula, ketika dibaca meninggalkan jejak dan gema dalam benak pembaca, dan membuka kemungkinan lapis pemaknaan yang lebih mendalam terkait hakikat kenyataan dan kemanusiaan.
3.   Ketika kondisi kepenulisan di atas tercapai, semestinya ke-aku-an tidak lagi tegak dan kaku melainkan mengabur/melebur/beririsan dengan alam luar. Konkritnya: hindari kata aku, komentar/evaluasi, curahan hati.
4.   Spontanitas dalam penghayatan atas momen; ditulis dalam satu sapuan, juga dapat dibaca dalam satu hembusan nafas.

C - Prinsip Teknis

1.   Tulis dalam satu baris tetapi hendaknya jangan sampai menjadi satu kalimat sempurna S+P+O+K. Jane Reichhold mengembangkan teori fragmen-frasa. Fragmen terdiri dari satu atau dua patah kata, sedangkan frasa merupakan kalimat tidak lengkap.
2.   Sebaiknya terdapat jeda halus sesudah sepertiga awal atau sebelum sepertiga akhir. Jika memakai celah sepertiga awal, bagian selanjutnya biasanya berisi deskripsi. Sedangkan jika menggunakan celah sebelum sepertiga akhir, bagian terakhir biasanya merupakan solusi/sintesis tak terduga.
3.   Pangkas kata yang tidak perlu, yang abstrak. Perhatikan susunan kalimat atau pemunculan imaji.
4.   Patahkan kalimat yang telah dipangkas dan ditata menjadi tiga bagian: pendek-panjang-pendek. Syukur-syukur bisa memenuhi hitungan 5-7-5 suku kata.
5.   Disarankan, sebuah haiku tidak memiliki judul, tidak menggunakan huruf besar, dan tidak memakai tanda baca.

Contoh penerapan teori fragmen-frasa:

Contoh fragmen di awal:

hujan menderai
aliran listrik pun
nyala-padam

(Jane Reichhold)

Contoh fragmen di akhir:

pagar kuburan
tak dapat menahan
lili putih

(Jane Reichhold)

D - Pantangan
·       
1.  Hindari kata sifat (seperti: sepi, sedih, meriah), kata cara (contoh: lembut, anggun), kata konseptual (misal: keadilan, kebahagiaan).
2.  Hindari citraan jamak. Jika menggunakan citraan lebih dari satu, pastikan terdapat hubungan perbandingan/pertentangan/persesuaian/penjabaran  antara keduanya, yang dipadukan dalam citraan/suasana/peristiwa pada bagian awal atau akhir haiku.
3. Hindari dekorasi dan pengejaran efek. Dekorasi: penggunaan persanjakan, diksi arkais, personifikasi, perumpamaan. Efek: berupaya liris, sur-realis, pernyataan filosofis/ideologis/religius, penghakiman, curahan hati.

E - Teknik

Dari masa klasik, Fujiwara Teika memperkenalkan kepada para sastrawan semasanya, 10 teknik penulisan tanka, yang merupakan cikal bakal haiku. Jane Reichhold mengembangkan 24 teknik haiku dalam bukunya Writing and Enjoying Haiku. Berikut ini empat teknik dasar, yang diringkas, digabungkan dengan teknik lain, ataupun ditambahkan, beserta contoh penggunaannya:

1.     Jukstaposisi. Menggabungkan dua citraan yang tidak berhubungan, memiliki kemiripan, atau bahkan nampak berlawanan.

Contoh:
bunga azalea bermekaran
di desa gunung terpencil ini
nasi tanaknya putih

(Yosa Buson, 1715-1783)

sisir dan jepitan lucu
semuanya milik masa lalu—
guguran kamelia

(Nozawa Uko, wanita murid Basho, menceritakan menceritakan
  perubahannya menjadi biksuni yang berambut gundul,
  terj. Ing. Makoto Ueda)

2.     Teka-teki. Melontarkan pertanyaan yang tidak biasa untuk dijawab dengan hal yang biasa saja, secara langsung atau tidak langsung

bunga gugur
terbang kembali ke rantingnya!
oh, kupu-kupu

(Moritake, 1452-1549)

Kemana pergi
Bunga-bunga di setapak
Seusai musim panas

(Jane Reichhold)

3.     Observasi naif. Teknik ini diterapkan dengan melihat lanskap atau alam latar sebagai satu bidang datar. Mirip seperti yang dilakukan oleh anak Taman kanak-Kanak ketika menggambar di atas kertas gambarnya: gunung, jalan, sawah, pohonan  dan matahari nampak sama besar tanpa pembedaan perspektif jauh-dekat maupun kontur tinggi-rendah. Contoh:

langit juli
melebat oleh awan
pohon nan ranggas

Hendragunawan  (0279/2012)

memandangi bintang
kunang-kunang bergabung di
rasi kasiopea

(Jeanne Emrich)

4.     Reportase datar. Melaporkan suatu benda/peristiwa/suasana yang luar biasa, secara sambil lalu. Dalam haiku berikut, derita penyakit yang dialami penyairnya, diungkapkan tanpa melankoli dan bahkan cenderung mengundang kuluman senyum.

mata kananku
tak dapat melihat istriku
kutatap dengan yang kiri

(Hino Sojo, 1901-1956)

F – Kesan

Gabungan pemilihan objek, teknik, dan sudut pandang, akan menghasilkan kesan keseluruhan dalam sebuah karya. Berikut beberapa kesan penting yang berakar dalam estetika bangsa Jepang:

1.Wabi (keindahan dari kesederhanaan)

bazar akhir tahun
aku akan pergi dan membeli
obat nyamuk bakar

(Matsuo Basho, 1644-1694)

2.Sabi (keanggunan dari keusangan dan keterpencilan)

pagar bambu tua
seakan  mempersembahkan
bunga Keria.
(Issa, terj ing. Mackenzie).

3.Yugen (keagungan yang misterius)

di dahan ranggas
gagak hinggap
senja musim gugur

(Basho, terj ing. Henderson)

4.Shibumi (keanggunan yang timbul dari penggunaan teknik secara hemat, tepat, dan sempurna)

telaga
katak nyem-
plung

(Basho, terj. Ing. Blyth)

5.Karumi (keentengan hati, timbul dari sikap tawakal dan ridha)

lebih tinggi dari bulan
tak terbelenggu apapun
elang bernyanyi

(Basho, terj. Ing. Makoto Ueda)

G – Penutup

Demikian panduan dasar penulisan haiku. Jika ingin melanggar pantangan ataupun anjuran yang telah menjadi patokan klasik, lakukan dengan sebaik mungkin.


Yogyakarta, 29 Januari 2017

Tuesday, December 27, 2016

SAJAK AKHIR TAHUN YANG TERLALU DINI


Tahu-tahu, bertamu lagi: akhir tahun.
Memberitahu: bertambah sempit sisa
Usiaku, semakin purba pula
semestaku. Roda siksa dan nikmat
Silih berganti kuhikmati saja.
Jejak samarku mengecap halus
Di hamparan padas waktu.

Tiba-tiba bertemu lagi: Mahatuan.
Yang awal tanpa permulaan, yang akhir
Tanpa kesudahan. Yang mendahulukan,
Yang mengakhirkan segala sesuatu.
Aku tertegun entah di mana: tak tahu
Telah terlalu jauh
Dari atau kepada-Nya.

(27/12/2017)