Sunday, September 10, 2017

SATU SAJAK YANG MENDUKUNG KEBERSIHAN KOTA


Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Sebagaimana berakmu di kakus
Sampahmu juga bertempat khusus

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Kau bukan tuan, selainmu bukan budak
Atas sampahmu kaulah yang bertindak

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Sampah yang kau tinggalkan
Tak akan lenyap diuapkan angin

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Kecuali kau niat mengundang nyamuk
Kecoak juga tikus sebagai tamumu

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Larutannya merembes meracuni sumurmu
Butirannya merubungi akar tumbuhanmu

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Itu akan mencekik parit selokan
Yang kelak mengirim balik limpahan

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Dia akan hanyut hingga ke laut
Membuat ikan tersedak semaput

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Tahukah bumi ini hamparan
Permadani dibentangkan Tuhan

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Tidakkah kau lihat di setiap jihat
Cahaya wajah-Nya memancar berkilat

Jangan di sembarang tempat
Kau campakkan sampahmu, teman
Jika sembilan alasan di atas tak kau paham
Entah di lubang apa kelak, kau pantas ditanam


CATATAN SEUSAI RAPAT-MERAPAT

Ia tak perlu menunggu seruan: buka! buka!
Ia hapal betul pada hentak seru irama keberapa
harus menjatuhkan potongan kain terakhir
yang masih membentengi antara dirinya dengan
dengus moncong-moncong basah oleh lendir .
(Tanpa tepuk tangan, ia nampak tak acuh
Akan dingin ac dan juga tatapan tajam menguliti).

Biduanita itu terus berlenggok,
Walau agak malas, mengikuti hentak musik
dan dengan sekali sentak, kini hanya
tumpukan rambut di satu dua tempat saja
masih tampak mencungkupi rahasianya:
(ia harus menghibur “dengan profesional dan proporsional”,
meminjam kelakar gemar dilontarkan petinggi hukum)

Tokh, para tokoh lokal itu butuh sedikit
Kelegaan setelah lelah bertengkar, mencari
Cara terbaik berbagi anggaran negara
Sembari tetap menghindari terungku
Demi merawat kehormatan ketua partai
beserta anak dan cucu beliau.

Di luar, purnama telah terperosok di selokan
Dan tidak lama lagi mereka akan bubar
Para tokoh akan segera pulang dan langsung ngorok
Sembari memunggungi istri-istri, walau ada juga
Masih sempat membelai kening putrinya
Yang terlelap di depan tivi sembari tetap
Mendekap erat-erat boneka beruang coklat.

Si biduan kita juga akan pulang
Walau sungguh lunglai, ia singgah dulu
Di minimarket lengang membeli susu
Dan permen bagi putra tercinta
Sekaligus sekotak tisu untuk menyeka
Pelupuk mata neneknya
Yang selalu berkabut.

Eh, masih ada satu wanita lagi
Yang juga terluka dalam kisah ini
Nyaris kulupakan, ibu pertiwi kita
Yang lumeran sedih hatinya
Mengucur sebagai embun, membasahi
Spanduk-spanduk kumal terentang
Sisa pemilu setahun lalu

Sunday, February 12, 2017

KEINGINAN KECIL


Telah kuhabiskan
pulsa tersisa
berbincang denganmu.

Kelak, ingin kulepaskan
nafas sebelum pulas
mendengar talkinmu.

Setelah pelupuk pun
tergulung kelam,
biarlah telapakmu:

hangat terakhir,
kukenang hingga
terlelap melupa.


(2017)