Saturday, August 05, 2006

IA TAK LAGI BERANI MENDUGA-DUGA TENTANG ANGIN

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang angin
Sejak gelisah yang berpusing itu datang
Menerjang membuat terban rebah
Segala yang pernah ditegakkannya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang tanah
Sejak kesabaran itu retak rekah
Menelan lenyap segala
Yang pernah disemainya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang api
Sejak amarah yang menyembur itu
Menghangusmusnahkan segala
Yang pernah dipunyainya

Ia tak lagi berani menduga-duga tentang air
Sejak ketenangan itu bangkit menggelombang
Menyapu pupus segala yang pernah
Ia sebut sebagai kesayangan

Ia tak lagi berani menduga-duga
Tentang angin, tanah, api dan juga air
Sejak ia merasa bahwa keempatnya kini
Sedang bersiasat untuk mengingatkannya

NAH, ADAKAH KAU TELAH TELANJUR

Nah, adakah kau telah telanjur menyusur jauh ke dalam
Lurung gua yang kau gali dengan kelingkingmu sendiri
Yang mulutnya kini berkubur guguran batu
Yang runtuh dan kau tak bisa lagi berpaling kembali

Barangkali di depanmu sekarang
Tegak menghadang naga dengan sembilan kepala
Dan delapan belas matanya merah saga
Mencorong nyala dalam kegelapan

Nafasmu terengah kudengar
Mungkin kini engkau tengah terbelit
Dalam lilitannya; sisiknya yang ungu
Keras dan kasar melendat kulitmu

Nah, aku tentu tak masuk membantu
Karena mulut gua yang tertutup rapat
Oleh tumpukan batu gunung itu
Sungguh tidak mampu kutembus

Semoga kau masih sempat ingat
Menusukkan kedua telunjukmu ke mata
Dari kepala yang kelima itu
Dan sekaligus menaklukkannya

Atau mungkin dadamu akhirnya pecah
Dan belulangmu keburu retak
Sebelum taring-taringnya mengerkah kepalamu
Dan cakar-cakarnya mencabik tubuhmu jadi serpihan

Nah, jika itu yang terjadi
Aku hanya akan menunggumu membuka mata
Barangkali juga menyodorkan segelas air dingin
Serta menyeka keringat keningmu dengan setangan ini

Berulang kali untuk menenangkanmu
Akan kubisikkan: cuma mimpi, cuma mimpi
Dan kamu bukan sendiri: lima milyar pasang mata
Saat ini juga masih sedang bermimpi tentang dunia

SUDAH GERIMIS, NYARIS HUJAN

Sudah gerimis, nyaris hujan
Masih kutaruh kain di jemuran
Bila awan mendung membasahinya lagi
Biar matahari ganti mengeringkannya nanti

EMPAT EKOR KAKATUA

Empat ekor kakatua
Riang dan riuh
Di dahan pohon kayuputih
-- Bisakah juga mereka
Merasa sedih serta kecewa?

DI SEBUAH JALAN SEPI

Di sebuah lereng sepi
Jarak semalam dari puncak tinggi
Dua pejalan bertemu
Bertanya yang satu
Kepada yang lain

Apakah tuan santu
Atau hantu?

Terserah bagaimana
Engkau memandangku
Dan menyusun anggapan
Dari pandanganmu
Semua itu
Hanya terbayang
Dalam benakmu
Tak sedikitpun menyentuh
Hakikat sejatiku

Tuan sangat rendah hati
Tentulah tuan santu

Bila engkau menaksirku
Lebih dari nilaiku sesungguhnya
Aku berlindung dari tuntutan
Mempertanggungjawabkan derajat itu
Di hadapan mahkamah Tuhan
Sekaligus aku berharap
Kiranya persangkaanmu itu
Semacam doa bagiku,
Semoga

Kalau begitu
Kamu pasti hantu

Nah
Bila engkau menakarku
Di bawah dari nilaiku sesungguhnya
Kumaafkan engkau
Karena sesungguhnya
Engkau tidak mengetahui
Begitu juga aku
Terhadap diri sendiri
Sering salah mengerti
Tetapi bukankah bahkan terhadap Tuhan
Kita sering salah sangka
Dan seenaknya?

Namun aku juga berharap
Semoga dengan merendahkan diriku
Engkau tidak merasa lebih tinggi
Dengan dirimu sendiri
Karena jika demikian,
Maka engkau telah melakukan
Dua dari kesalahan besar Iblis
Yaitu takjub atas dirinya sendiri
Dan takabur terhadap Adam

Lah, lalu siapakah anda sesungguhnya

Kawan, aku hanya cermin
Temuilah dirimu sendiri

DI KELOK KELAM JALAN NAUGHTON AVENUE ITU

Di kelok kelam jalan Naughton Avenue itu
Hawa dingin bergulung sunyi membungkusku
Maka kenangan pun mendadak datang merubung
Dengan tangkas meringkus hatiku yang letih

Alangkah jauh langkah kaki telah diayun
Masih sukmaku nyangkut padamu
Seperti Lontar akarnya menjalar
Menggenggam lubuk jantungmu, Makassar

Kotaku yang jauh
Lewat angan lenganku mengulur
Untuk merengkuh pinggul panyingkulmu
Penuh rindu dan sedu tertahan

Lembut sarung sutra dan jemari pakkarena
Tajam badik dan gemuruh gandrang bulo
Garang ruap konro coto dan pallubasa
Gurih sedap sarabba dan goreng ubi

Gerombol tedong melenggang memotong jalan
Melangkah lamban menuju Pa’molongan
Di depan gembala melolongkan kelong lama
Serak paraunya berbaur lenguh dan bau

Copet memepet di Pasar Sentral
Biduan orgen tunggal asik megal megol
Perang panah anak preman Abubakar Lambogo
Ditingkahi spiker penjual obat dari Borneo

Markas tentara kentara dimana-mana
Gubuk gamacca punah dimakan api
Hentak ekstasi di Zigzag dan M-Klub
Alun Barasanji menyayup merdu

Orang gila dan pa’doja di simpang jalan
Eksekutif muda di panakkukang dan tanjung bunga
Makelar dan calo di warung tenda
Pejabat dan anggota dewan terbahak bersama

Meski semerbak arak tuakmu
Kini berganti bau memualkan dari mal-mal
Dan para pemimpin partai
Berlomba mewarnai tubuhmu tembaga

Makian jorok daeng becak dan mahasiswamu
Kini terngiang jenaka dan riang di telingaku
Walau pak polisimu rajin sembunyi di pojok jalan
Dan loket-loketmu ringan tangan menerima sogokan

Namun debu yang menyelimuti kemaraumu
Dan banjir yang melimpahi penghujanmu
Kini juga menyaput mataku
Menggenanginya dengan kesedihan

Tenteramlah engkau nun di sana
Di balik selat yang selalu bergelora
Semoga Karaengta’ selalu menjagamu
Dari segala cedera dan bencana

KENANGAN GERIMIS DALAM REMANG SENJA

Kenangan gerimis dalam remang senja
Segelas nelangsa tumpah tak sengaja
Surat-suratmu bertebaran di atas meja
Belum semua kubaca, tak selesai ku eja

Akankah semua rahasia akhirnya terburai
Sebelum untai nafasku jatuh bercerai berai
Atau keburu kaupun datang dan melambai
Mengingatkan saatnya untuk selesai

SEPASANG BIBIR ITU BEGITU BIRU

Sepasang bibir itu, aduh, begitu biru
Dan teramat merah nganga liang luka itu
Ah, bianglala bagi langit jiwa ibu
Alangkah sepimu di tengah mayit beribu

Bintang terbakar hangus padam perlahan
Dengan rambut berkibaran berlayar bulan
Mengapa garba ini tak mereka renggutkan
Dan merih ini tak disembelih sekalian

Sepasang daun yang menjuntai kelu
Sekuntum mawar kembang yang sendu
Biar kukarang dalam dekap kenangan
Menunggu waktu kembali ke pangkuan

SEJUTA MORTIR BAGAI KUMBANG MENYERBU

Sejuta mortir bagai kumbang
Riuh bertaburan menyerbu
Seribu julangan menara rebah
Seratus bungkah kubah rekah
Dan setangkai martir
Kembang mekar di tanah berdebu
Tuan Junaid dan Jilani, kotamu
Dirampok para penjarah tak bermalu
Yang lalu menceramahi anak cucumu
Untuk tak berebut ampas remah
Para pemabuk dan pezinah
Yang sibuk memberi kuliah
Tentang hak-hak asasi manusia
Dan para pedagang
Asyik berbagi jatah ladangmu

Setelah mongolia, persia, dan osmania
Kini gerombolan tiga raja jahat
Bersekongkol datang dari arah barat
Dipimpin seseorang bertampang tolol
Yang mengaku nabi dengan kuasa wahyu
Untuk memulai episode armagedon
Megaperang di akhir zaman
Gerbang kota mereka gebrak
Pintu rumah-rumah mereka dobrak
Tirai jendela-jendela disobek
Dan hijab putri-putrimu dicabik
Sedangkan putra-putramu yang dulu perkasa
Digiring ditelanjangi paksa
Di hadapan barisan tentara
Dengan senjata menegang ke udara
Yang memandangi mereka
Sembari mengelus-elus gagang senapan
Dan jakun-jakunnya bergerak turun naik

Baghdad, Baghdad, Baghdad
Kota kado dari kemurahan hati Tuhan
Garba purba dari peradaban insan
Di sepanjang jembatan yang mengiris Tigris
Dan di kelok liku lorong-lorong kota lama
Impian 1001 tahun silam
Dan angan masa depan
Pernah berjalan berdampingan
Sedang sekarang senjakala merah pekat
Tetapi bukan mawar kembang di cakrawala
Kepulan debu membubung di sana
Semoga itulah balatentara Mahdi
Yang akan datang membebaskanmu
Mensucikanmu

JALAN-JALAN KE MALL (dari arsip sajak lama)

ZIARAH KOTA

di dalam gedung mall yang megah
kita berduyun-duyun berziarah
khusyuk menelusuri lantai demi lantai
yang bersusun mengelilingi atrium kekosongan

mencari ketenangan di tengah genangan benda
menggapai kedamaian di pusat keramaian massa
mengejar kepuasan di atas reruntuhan putus asa
dalam kepungan tata cahaya dan suara memperdaya

mengikuti arus putaran tawaf
berdebaran dada, bergetaran seluruh saraf
kita takjub memandang ke arah luar, ke tepi
karena di dalam, pada inti, hanya hampa sepi

di sekeliling lingkaran luar ada etalase gemerlapan
sedangkan ditengah adalah susunan kehampaan
tetapi dahaga jiwa hanya terpenuhi oleh yang Jiwa
dapatkah sesamudera air laut memupus haus kita?


ESCAPE FROM WONDERLAND

Desember menggambar sebuah kota pada temaram matanya :
matahari pudar berteman berkas bianglala yang sebentar hilangtak berbekas, lembar langit kuyup, lampu-lampu redup,jalan terkapar basah, dan patung taman yang gemetar.
Sendirian di sebuah kota yang dikepung mendungadalah nyeri yang paling ngeri, adalah piluyang paling ngilu. Begitu merintik bisik hujan. Bocah di dalam dadanya meringkukterisak tersedu didesak rindu kepada ibu.
Ibu yang tahu bagaimana melipur duka mengubur luka.

Tetapi seperti pelangi jejak ibu tak terlacak lagisejak para lelaki berseragam menghunus sangkurdan meringkus keharuan dengan geram.
Belantara plaza, balaikota, lantai bursa,
dan kawasan industri serta niaga
telah berkomplot menyembunyikannya.
Belum lagi orang-orang tanpa kepala
yang hanya dengan bekal kepalan menyita buku-buku.Dan di halaman peta parawisata,
huruf-huruf namanya diacak berhamburan
tinggal serakan aksara tak bermakna.
“Ibu, ibu, dimanakah kamu 1.000 tahun dicari tak ketemu setiap wanita kusangka ibu setiap kali pula aku tertipu…”

Malamnya, bulan ditelan papan iklan dan kota menjelmajadi catwalk yang sangat panjang dan lebar.
Di atasnya melayang perempuan-perempuan
berambut aneka warna
melengganglenggokkan tubuh ranum mereka
mengikuti dentum musiktak putus-putusnya membius
menebar debar dan harum parfum
dalam siraman cahaya blitz yang tak habis-habis.Kelenjar hormon berkelejat menggeletar,testosteron muncrat deras memancar.
“Kita tak lagi menduga-duga kini surga telah tercipta sekarang juga di sini selamat datang, inilah parade karnaval kekal kami,
inilah lapangan komidi putar yang abadi !”

Begitu lantang pekik sang Pemandu Acara
lewat jaringan tata suara kota.Iapun meradang, iapun mengerang.
Menjelang pukul nolnol ia terhuyung di trotoardengan tubuh mengepulkan uap alkohol. Melangkah tersurukmasuk ke dalam taman kota, di antara pasangan-pasangan isengyang sedang asyik saling menggelayut gemas dan memagut ganasdi sudut-sudut gelap. Hingga akhirnya, ia tersungkur mabuk,terpuruk di tumpukan kondom bekas beraroma nenasdan celana dalam renda warna merah menyala dengan bau khas.
Dari nglindur tidurnya lirih meluncur lagu keluhnya :

“Tuhan, beri aku Eva lagi
beri aku khuldi lagi juga beri ular itu lagi biar aku terusir kembali…”


CATATAN DARI BANDUNG INDAH PLAZA

1. Plaza

Tuhan adalah barang dagangan
yang dipajang indah pada etalase megastore mentereng
dalam interior berselera tinggi
bersimbah aneka cahaya mempesona.
Yang nabinya adalah para ahli strategi pemasaran,
khutbahnya iklan warna-warni,
dan kitab sucinya katalog produk baru dalam cetakan mewah.
Yang tanah ziarahnya adalah pusat perbelanjaan dunia,
rumah ibadahnya mal dan plaza,
sembahyangnya belanja
dan para malaikat serta bidadarinya
adalah armada wiraniaga yang gagah memikat dan cantik seksi.

Lihat lihat lihat
saban malam kita berduyun-duyun menyesaki rumah ibadahnya.
Dengan khusuk dan khidmat bertransaksi
Sembari berulang-ulang penuh takzim melapalkan syahadat :
“Aku adalah yang aku punya karenanya aku belanja agar aku adaAku adalah yang aku punya karenanya aku belanja agar aku adaAku adalah …””

Dan dengan dalih demi pelayanan untuk kepuasan pelanggan
para pemilik modal dan pengelola industri terus berkomplot
selalu merancang tuhan-tuhan baru
mengalirkannya dari ruang-ruang pabrik mereka
membanjiri pasar.
Agar daur hidup produk terjaga abadi
mengatasi tempat dan waktu.
Dan demi menjaga
pertumbuhan nilai saham mereka di lantai bursa.

2. Di Tempat Permainan Dindong

Di tengah-tengah hiruk denging monitor dan gemirincing koin
dengan khusuk anak-anak menikmati pelajarannya, menyimak permainannya:
Bahwa prestasi dan kemenangan hanya dapat diraih
dari tubuh lawan yang tercabik-cabik dan darah bermuncratan

Dalam tata warna dan suara yang fantastik,
rangkaian pembantaian jadi begitu artistik menawan hati
Tanpa pertimbangan matang selain refleks naluri murni
Tanpa tuntutan tanggung jawab dan penyesalan yang mengikuti

Sementara itu,
berdiri di belakang mereka,
para orang tua dengan wajah penuh cinta dan sumringah bangga
memberi semangat dan arahan kepada anak-anaknya.


WC DAN WTC

1.
betapapun megah pasar mimbarnya setan
betapapun mewah kakus ranjangnya setan
begitulah kita telah diajarkan
begitu pula kusaksikan

2.
makan dan keluarkan, kumpul dan hamburkan
kumpulkan makanan dan keluarkan berhamburan
inilah iman dan ideologi dari para hewan
antara pasar-kakus mereka berseliweran


MEDITASI DI ATRIUM MALL

sosok tinggi kurus semampai
roknya mini halus melambai
duhai siapakah engkau perempuan
puan hantu ataukah tuhan


SKETSA METROPOLITAN

1.
pada mulanya
adalah keluasan raya dan lanskap yang rata
lalu orang-orang datang membangun rumah dan pagar
menandai apa yang tak boleh kau masuki
menggaris jalan dan lorong
menandai mana yang harus kau lalui
lalu membubuhkan rambu dan lampu
untuk menjaga aturan ini aturan itu
kaupun berjalan terhuyung
seperti seekor tikus putih dalam labirin
di kirikanan berdiri barisan cemerlang mal dan plaza,
dengan atrium, menara menjulang, dan tangga terpilin
dengan sulur dan belalai yang siap membelit
melilitmu dengan yang maya memperdaya

2.
namun lihatlah, disepanjang sayatan-sayatan jalan
tegak pohon-pohon kekar dengan akar-akar perkasa
mereka menantang rencana tatakota
mendobrak trotoar begitu digjaya
mengotori jalan dengan serakan ranting dan daun-daun kering
dan pedagang kaki lima dengan sembilan nyawa
menggelar dan menawarkan dagangan mereka
meski berkali dibongkar, berulang dibakar
mereka moksa lalu menjelma kembali
menjadi mimpi buruk bagi tibum
menjadi hantu momok bagi penguasa
menjadi kutu busuk yang lincah
menyusupi setelan jas calon investor

3.
demikianlah: di dalam taman buatan yang menjengkelkan
di tengah keindahan yang tertata membosankan
akan selalu bermunculan gairah dan daya kehidupan
kuntum-kuntum jamur, lelumut dan benalu
bekerja menghancurkan batu kelabu
melunakkan bebal kalbumu


DI KOTAKU

Kotaku belantara toko-toko raksasa
Terisi penuh segala ada di pasaraya
Semuanya tersedia, terpajang menggoda
Semuanya, kecuali uang di saku saya


DI RIMBA MAL

Di dalam labirin pusat belanja ini
engkau adalah tikus yang digiring
meski lelah dipaksa terus berjalan mengendus
melewati etalase demi etalase, harus melihat
dan mencatat belantara benda-benda.

Suara-suara berirama bergema,
wewangian bergulung menyebar,
dan warna-warna berpendar,
membuat terpana. Berapa lantai lagi
mesti ditempuh?

Tubuh-tubuh indah, harum, dan mahal
bagai hantu melayang-layang cepat
--dua senti di atas lantai mengilat--
membuatmu kepayang. Jimat leluhurmu,
masihkah mengalungi leher?


REPORTASE DARI MAL BARU

Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar

Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya diam acuh

Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya


SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR

masih belum tidur, sayang?
ketika aku berjalan kaki
di sepanjang jalan ahmad yani
yang telah dibongkar trotoarnya
matamu yang nyalang menyorot-nyorot
bagai lampu menara penjara
sementara di wajahmu semut-semut besi berapi
merayap dan menderum mengepulkan asap dan debu

manisku, siapa namanya si walikota
yang telah berani menggunduli habis
pohon-pohon asam dan akasia di kedua bahumu?
keisengan atau kebodohankah yang telah meringankan tangannya?
siapa namanya si pengusaha
yang dengan bebal meruntuhkan rumah dan gedung belandamu,
menggantinya dengan mal dan gudang
dan bahkan ingin mendirikan asrama di lapanganmu?

aku pergi tidak begitu lama
dan ketika kembali aku terperangah
melihat engkau begitu jauh berubah
ular-ular aspal melilit tubuhmu
mal dan markas orang bersenjata
tumbuh memenuhi dadamu
sementara anak-anakmu
memaparkan pusar mereka
dan memamerkan belahan bokong
bercintaan di pojok angkutan kota

dan betapa mencekam,
ketika mendadak disekelilingku
bermunculan pasar dan plasa
timbul dari lubuk bumi
bagaikan para siluman raksasa
nongol membelah perut ibunya
lalu tumbuh sebagai raksasa tambun
dengan perut buncit dan punggung membungkuk
yang bangun terhuyung-huyung
sembari meraung minta makan
dan para liliput mengalir
datang dari setiap sudut-sudut kota
memasuki mulut mereka yang menganga lebar
dan menebarkan bau aneh

aih, aih, aih, sedihnya sayang,
keningmu berkerut merut
dan matamu keruh berkabut
jadi engkau juga harus ikut menjual diri
demi dolar dan rupiah
demi catatan prestasi pejabat
menggaet dana investasi
demi komisi dan promosi
demi masa jabatan kedua kali
sementara aku justru merasa
lebih aman dan nyaman
dengan kesederhanaanmu yang dulu?

lihatlah, aku berjalan kaki di ahmad yani
dengan perasaan takut serta asing
setelah daeng-daeng becak
yang dahulu mangkal di sini
sembari minum jerigen ballo dan main domino
telah digusur pergi
jalananmu ini bukan untukku lagi
percintaan kita telah jadi mimpi
sejak trotoarmu dicungkil pepohonanmu dicukur
jalan-jalan lama diperlebar dan jalan-jalan baru dibuka
sementara pejalan kaki dibiarkan
dicincang tajamnya panas mentari
dilumuri debu dan polutan
diintai sambaran maut dari semut-semut besi berapi
yang melaju angkuh dan perkasa

masih belum tidur, sayang?
berapa butir penenang yang mesti kau tenggak lagi
sebelum cemas dan gegasmu dapat reda dalam alun tidur
tatapanmu kian jauh dan tak acuh
seperti papan-papan iklan
yang megah tinggi tak tersentuh
mengangkangi si gila yang tersedu-sedu
duduk mencangkung dibawahnya
kau mungkin bahkan tak peduli
bahwa aku telah kembali
dan kehilangan kamu

aku menangis,
manisku


SAJAK KOTA-KOTA BESAR KITA

aku melihat kota-kota bertumbuh
seperti cendawan di atas sampah
menutupi kekumuhan kampung-kampungnya
menyembunyikan keacuhan para pengurusnya

tetapi jangan disalahkan jika pemimpinnya
lebih gemar menukar sekolah demi pasaraya,
menggusur sawah untuk lapangan golf,
dan mengganti taman dengan apartemen

serta lebih bersemangat mendekati investor
daripada mengurusi banjir dan kemacetan
karena mana ada sih sawah yang bisa dipungli
atau banjir ngasih uang jasa dan jatah komisi

bahkan benda dan tanda budaya dihancurkan
berganti dengan rongsokan selera rendah
tanah lapang tempat bermain hilang
berubah kakus bertarif lima ratus rupiah

merebut, mempertahankan, dan menikmati jabatan
inilah cita-cita luhur penguasa dan anggota dewan kota
kapling lahan, nikmati fasilitas, dan gerogoti anggaran
adalah program kerja utama yang paling pertama

sengit berdebat soal proyek dan pertanggungjawaban
lalu ketawa ketiwi saat melahap jatah konsumsi
sementara rakyatnya jungkir balik sendiri hampir mati
menyambung hidup, mengolah persoalan

atasan asyik mengurus bola dan kelab malam
para bawahan sibuk memeras masyarakat
sementara pejalan kaki kepanasan dan diincar maut
dan pengemudi mersi dimangsa di lampu merah

namun masih juga mereka terus ngoceh
tentang slogan-slogan yang dipaksakan dan aneh
saat di loket-loket pelayanan kita kesemutan berdiri
dan para staf menengadahkan tangan minta amplop

ya, kota terus bertumbuh
bermula dari kepala kosong pejabatnya
hingga akhirnya tak lagi dikenali
oleh warga penghuninya sendiri

tanpa identitas, tanpa wajah, tanpa karakter
terlepas dari masa lalu, tak jelas masa depannya
bahkan kota-kota kolonial dan primitif dahulu
lebih baik darinya

maka engkaupun melihat
lampu-lampu hias dipecahkan
rambu-rambu yang dicopot
dan kursi besi antik yang dicuri

dari manakah angan dan mimpi itu terlahir
dari khayalan sisa-sisa ilusi pil ekstasi pesta semalam
ataukah saat tersentak bangun di ranjang empuk hotel
dari tidur siang singkat namun pulas disampng staf

mal dan plasa memang bertambah
namun pengangguran pun tak berkurang
sementara barang mewah dipajang berlimpah
merayu menunggu untuk dijarah

pengemis, preman, dan pelacur dijaring
tetapi hasil pembangunan tak disebar merata.
irama kekerasan dimainkan kian nyaring,
dan pemujaan tubuh serta benda terus dirayakan

namun kota-kota telah dan terus bertumbuh
dalam pakaian tambal sulam
dengan dandanan yang canggung
bergaya tanggung ala metrokampung

SURAT TERBUKA KEPADA TUAN TERORIS (dari arsip sajak lama)

DI LEGIAN

Dua ratus mulut
tak mampu lagi mengucap rayu
empat ratus mata
tak sanggup lagi bersitatap sayu
delapan ratus tangan-kaki
tak kuasa lagi melantai menari
dan dua ribu jemari
tak bisa lagi saling jalin dan belai.

sejak mereka tercerai berai
setelah dua ledakan saja
meluluhlantakkan malam pesta.


DOA KEKASIH SETIAP PAGI
-uci dan muhary

semoga tak ada kekasih lain
yang melambai untuk merebutmu
di setiap kelokan jalan

dan semoga tak ada bom waktu lain
yang mengintai untuk meleburkanmu
di setiap tujuan


SURAT TERBUKA KEPADA TERORIS

engkau yang aman tersembunyi
engkau yang menekan tombol kendali
perang apakah yang coba kau jalarkan kemari?
surga macam apakah yang kau kejar dan cari?

bahkan Sang Nabi Panglima Agung
melarang mematahkan dahan menggantung
sementara engkau yang menjeritkan kesucian
bagai kerasukan menghambur buta ke kerumunan

perang siapakah? sucikah ia?
siapa yang memaklumkan dan menasbihkannya?
sehaus darah itukah sangkamu ia yang kau sembah?
alangkah sepinya surga kau huni sendiri

engkau yang aman tersembunyi
engkau yang menekan tombol kendali
kebaikan yang engkau dalihkan
akankah lahir dari laku penghancuran?

Tuhan Yang Mahamemelihara
menjaga dunia dari aniaya binasa
tetapi senyummu yang ramah namun aneh
menujumkan rumah runtuh dan tubuh leleh


KUTA, SEBUAH KAFE, SUATU SENJA

Di kafe yang hampir tutup
Kita singgah melengkapkan kenangan
Yang penghabisan memanggil
Meski nyaris kuyup dan gigil
Oleh hujan penghujung tahun
Yang meraung di paruh malam
Sejak menjejak senja
Cangkir kopi erat mendekap hangat
Cengkraman jemari hitam kita
Sloki teh keemasan boleh cemas menanti
Menawarkan tajam pahitnya
Tetapi pramusaji yang manis itu
Masih tak kunjung letih
Tersenyum ramah seolah menyajikan janji
Namun kafe memang lebih lengang waktu itu
Dengan cahaya yang telah memberat
Dari lampu yang setengah melamun
Mungkin juga merabun buta oleh kantuknya
Namun kuta yang kelam dan tua
Masih senantiasa bertahan dalam setia
Berbisik dari balik gerimis yang tempiasnya
Memburamkan kaca jendela
Membiaskan pendar warna
Seakan ingin membersihkan cerita
Dari dusta di brosur wisata
Ah, sengkarut dunia yang renta
Jerit tengkar derita insan yang fana
Diselingi teriakan para maniak
yang gemar merakit bencana,
Dan percaya punya hak
rencanakan kiamat lebih mula
Sedangkan kita kerap hanya terpana tanpa daya
Seperti Sartre yang sibuk hilir mudik
Di dalam tempurung kepala
Antara ada dan tiada
Juga Beatles yang kali ini entah mengapa
Agak memelas sayu bernyanyi
Dan sajak-sajakku yang murung sunyi
Dua lelaki di sudut ruang temaram itu
Sejak tadi bertukar kisah dengan suara rendah mesra
Adakah mereka sepasang kekasih yang sedang kasmaran
Dan tengah menyusun janji-janji
Tetapi Kuta masih berbisik juga
Pun ketika seorang pria
Bergegas pergi menunggangi vespa butut
Setelah menyerahkan heroin
Di sela lipatan majalah
Berapa sumbu nikotin sudah disulut
Membatin di pembuluh darah dada
Ini malam terakhir sebelum penerbangan kedua
Mari kita cari Ari di selarut ini
Hujan telah berhenti sedari tadi
Maka bertiga di tepian kolam yang masih baru birunya
Kita pun telentang haru menyaksikan
Konstelasi bintang dan samar kabut galaksi
Di hujung jauh rentang bimasakti
Menelanjangi nanar masa lalu, ranting silsilah,
Membiarkan mimpi-mimpi terhuyung kesepian
Lalu termangu lesu di bibir tidur memutih letih
Dari fajar dini hari tinggal sebentar lagi
Ari, Rudi, biar sepanjang bentangan 1000 tahun
Ini kali yang pertama sekaligus terakhir
Kita bisa bersama
Begini

2005

PENGANTAR ILMU EKONOMI, ANTROPOLOGI, DAN STUDI PEMBANGUNAN (dari arsip sajak lama)

BALADA TUAN SAMUEL GREENBUCK: SUATU TINJAUAN STRUKTUR DAN MEKANISME SISTEM EKONOMI KAPITALIS

Malam ini
Tuan Samuel Greenbuck tertidur lelap tanpa mimpi
senyuman yang tipis menyungging di bibirnya
dan tubuhnya yang ramping tergolek dengan rileksnya.

Setelah lelah sehabis bermaraton keliling bola bumi
berunding dengan para calon mitra berinvestasi,
bernegoisasi dengan para kepala negara,
dan memberi donasi pada lembaga-lembaga nirlaba.

Ia telah merancang sejumlah proyek baru,
mengusulkan sejumlah perang, mendukung pemberontakan baru,
seraya menaikkan popularitas di mata masyarakat yang sinis
sebagai kapitalis moderen yang progresif dan filantropis.

Toh, tak ada salahnya membuang uang menyumbang sedikit
setelah habisnya hutan tropika dan bocornya ozon di langit
setelah tercemarnya laut dan mencairnya es di kutub bumi
setelah sekian juta pengangguran akibat otomasi dan spekulasi.

Tak ada lagi yang dipikirkannya
bukankah istrinya telah diceraikan dengan pesangon luar biasa
dan anak-anaknya terpencar jauh: dua telah bunuh diri,
yang tersisa sementara menghabiskan waktu di klinik rehabilitasi.

Ia dapat berpuas diri dan mengagumi kecerdasannya sendiri
mengelola kekayaan hingga berlipat dalam deret geometri
kalaupun Tuhan ada, inilah bukti penyelamatannya yang kekal
begitu batinnya di saat-saat memperoleh pencerahan transendental.

Ia percaya pada kekuatan modal dan pasar bebas
ia percaya kepada demokrasi dan perlunya pers yang bebas
ia percaya kepada hak-hak asasi baik manusia dan binatang
dan pada ide kehidupan setelah mati ia merasa bimbang.

Ia tertidur tanpa mimpi
karena segala mimpi telah ia cicipi
dan segala kenikmatan yang tak terbayangkan
telah ia reguk sampai bosan.

Dan meskipun belakangan ini
jemu dan depresi kadang datang menjalari
Ia dapat menghibur diri dengan membaca laporan keuangan
yang disiapkan oleh tim bankir, pialang, spekulan, dan akuntan.

Ia pun tak lagi berambisi apa-apa
meskipun sebagai selingan terkadang ia ingin juga
mencoba bersaing dengan presiden yang sekarang
meski berkawan, sekedar mengasah nalurinya untuk menang.

Betapa menyenangkan memiliki segalanya
dan dapat mengatur semuanya
seperti bermain menggantikan Tuhan
membuat skenario dan melihat segalanya lancar berjalan.

Dari hulu hingga muara, dari pangkal hingga hujungnya
Dari investasi, ekstraksi, produksi, distribusi, hingga promosinya
serta tak ketinggalan segala media informasi dan hiburan
semuanya ia kuasai lewat aneka trik dan taktik kepemilikan.

Mesin-mesin investasinya bekerja tanpa henti
siang dan malam berdenyut memompa darah ke seluruh nadi
di New York, London, Tokyo, Singapura, dan Canberra
semuanya terhubung lewat transmisi elektronika.

Teknologi riset dasar pun digalakkannya
untuk mendukung pengembangan industri semata.
Teknologi transportasi, telekomunikasi, dan informasi
terus dibangun pula untuk mendukung jalur distribusi.

Hingga segala jenis dan aneka merek barang
dapat secepatnya tersedia di setiap jendela pajang
kapan dan dimana saja, sekejap mata
serta terbaharui senantiasa.

Tentu saja: kredit produktif harus disuntikkan
agar mesin-mesin pabrik terus berjalan
dan kredit konsumtif mesti dibagikan ke setiap saku
membuat konsumen merasa mampu.

Juga ada iklan dirancang untuk membujuk mau
dan gaya hidup yang disebar untuk memaksa malu.
Mereka harus terus membutuhkan, menginginkan, menghasratkan,
mesti lebih bersegera dan lebih sering.melakukan pembelian.

Karena sesungguhnya logika nafsu tak mengenal pemenuhan
dipenuhi tak dipenuhi akan tetap menginginkan
maka dalam hal berkonsumsi tak ada yang kenal titik henti
bermimpi, membeli, dan mengkonsumsi, sampai mati.

Alangkah asyiknya melihat permainan ini
yang dimainkan oleh produsen dan konsumen dalam transaksi
bagaikan pingpong: setiap bola yang datang langsung disambar
lalu dipantulkan dengan kecepatan dan kekuatan lebih besar

Dan yang tak kalah pentingnya: memelihara moral para pekerja
agar tetap puas, tetap terlibat, dan tetap terikat setia
dengan aneka imbalan dan fasilitas serta insentif
biar bertambah efektif, semakin efisien, dan lebih kompetitif.

Begitulah sistemnya bekerja, bermula dari yang kecil sederhana
bertambah besar-kompleks hingga memiliki mekanisme swakelola
seperti sel-sel pada tubuhmu atau kode biner pada bahasa mesin
yang berinteraksi dan mengorganisasikan diri menjadi bukan main.

Hingga pada akhirnya dipandang sebagai kenicayaan
suatu alat yang mutlak ada demi berjalannya kehidupan
tidak hanya itu, pandangan dan cara hidup manusia
juga harus diselaraskan dengan logika kerjanya.

Ibarat seorang yang mengayuh pedal sepeda begitu cepatnya
hingga ganti pedallah yang sekarang menggerakkan kakinya
seperti seorang yang merawat kucing kecil sebagai peliharaan
namun akhirnya harus merelakan kepala dikerkah sang macan.

Bagaikan laba-laba yang akhirnya terjerat menggelepar
dalam jaring yang dianyamnya sendiri dengan penuh sabar
begitulah umat manusia akhirnya terperangkap tak bisa lari
dalam sistem cara hidup yang dahulu dipilihnya sepenuh hati

Ini semua semata demi lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi,
dan pelayanan bagi kenyamanan konsumen sendiri.
Semua ini agar roda terus berputar dan bergulir
agar arus uang tak terhambat hingga di saku pemodal.berakhir.

Ya, lebih banyak yang kerja, lebih banyak pula yang mengkonsumsi
lebih bertumbuh ekonomi, lebih bertambah pula daya tarik investasi
dan lebih nyaman serta manja konsumen hidupnya,
maka pasar akan tetap tersedia, terus turun temurun tercipta .

Agar pengembalian kredit berjalan lancar dan sehat
dan harga saham dapat meningkat.lebih pesat.
Agar Tuan Samuel Greenbuck bisa tidur lebih nyenyak lagi
malam ini.


BALADA SUKU IKAN SALMON *)

ketika telapak kaki kalian untuk pertama kali
menapak di hangat lembutnya pasir putih pantai kami
satu pulau barupun telah ditemukan
dan begitu pula kami menjadi temuan kalian

tetapi benarkah kami tak pernah ada
hingga kapal-kapal kalian menumpahkan para tentara
dan pulau kami resmi diterakan
dalam batas peta kalian?

padahal kamilah anak cucu manusia pertama
yang lahir dari sepasang ikan salmon purba
dan yang ketika meninggal
di puncak pohon sidar bersemayam tinggal!

namun kalian telah jauh menjelajah
dan kini habis-habisan menjajah serta menjarah
kekayaan kami kalian tumpuk dalam gudang-gudang
kebudayaan kami kalian simpan di museum usang

sejak beratus ribu tahun yang silam
di tanah ini para leluhur kami telah berdiam
kini anak-anak kami bernama seperti nama kalian
dan kami harus berhukum dengan hukum kalian

kami memang tak bisa baca tulis aksara
tak punya kitab pusaka dan tumpukan pustaka.
kami menyimpan pengalaman dan pengetahuan kami
dalam dongeng di kepala dan nyanyian dalam dada ini

ia mengalir bersama darah dan udara di tubuh kami
sementara ilmu yang kalian miliki
harus dicatat dalam serpihan kertas tipis
dan dikumpulkan dalam tumpukan buku jilid berlapis

kami hidup dengan bersahaja dan rendah hati
penuh hormat dan cinta kepada bumi
makanan kami dipetik dari hutan
atau dari sungai yang memberikan ikan-ikan

kami tak menggunduli hutan
tidak mengeruk perut bumi, tak menguras isi lautan
kami hanya punya perkakas sederhana yang praktis
tak ada mesin yang kompleks dan mekanis

karenanya keserakahan kami
dibatasi oleh kelelahan badan kami
dan alam pun punya waktu
untuk meremajakan dirinya telebih dulu

perkakas adalah ekstensi manusia,
mesin adalah ekspansinya terhadap dunia
dengan perkakas kerja dapat dipermudah
namun mesin membuat kerja manusia jadi musnah

kalian bilang kami primitif atau udik
hanya karena tak berbaju buatan pabrik
meski kami telah berhias kulit kayu
nyaman untuk hawa tropika, leluasa untuk berburu

kalian bilang kami terkebelakang dan nomaden
karena tak berumah batu dan semen:
rumah bagi kami tempat berteduh dan tidur saja
selebihnya kami tumbuh hidup di alam terbuka

kalian bilang kami terkucil
karena tak ada jalan raya dan mobil
apa perlunya bila segala kebutuhan kami
dapat terpenuhi dari lingkungan sendiri

ya, kalian mengimani ilusi-ilusi kemajuan
dan menjadikannya sebagai tahapan dan keniscayaan
sementara kami memandangnya sebagai alternatif
dan menolak kemajuan tidak berarti primitif

dan kalian bilang kami biadab dan ganas
bila berperang demi kehormatan suku yang dirampas
dengan kapak tombak, satu-satu berhadapan muka
hingga berhenti bila kelelahan atau malam tiba.

tetapi kalian antar bangsa menyulut perang demi perang
untuk tambang-tambang minyak jauh di negeri seberang
siang malam saling serang dengan mesin pembunuh
sembarang orang mati, hutan hangus, dan bukit runtuh.

dan kini, justru di tangan orang seperti kalian
nasib suku kami yang agung ditentukan
dan tanah kami yang suci
telah dipetak-petak berbatas kawat duri

untuk menanaminya dengan sebatang tunas
kami harus melakukannya dengan seizin otoritas
namun kalian dengan dalih hak guna hutan
menebang berhektar-hektar, meratakan perbukitan

hutan kami kini terpangkas, mengering sungai kami
seperti bangkai ular yang terkapar dibakar matahari
tanpa salmon dan julangan pohon sidar yang kekal
arwah leluhur dimanakah lagi akan tinggal?

di atas tanah suci pusar bumi kami
kalian bangun gedung tinggi;
melintasi jurang-jurang neraka
kalian bentangkan jembatan besi baja.

para tetua pemuka kami tinggal menganggur
di tenda-tenda preservasi mereka pada tidur
sedangkan para pemuda kesatria kami
jadi pemabuk keluyuran di lokalisasi.

bila tiba saatnya nanti kami mati
kemanakah lagi arwah kami mesti pergi
akankah kami hanya mengembara tak tentu arah
sebagai hantu-hantu membawa dendam amarah

tetapi pasti suatu saatnya akan datang
anak cucu kami akan bergerak dan berjuang
seperti gunung api terbangun dari tidur panjangnya
memuntahkan segala apa yang dipendamnya

gelombang bawah tanah pemberontakan kami
akan mengepung kota-kota, mengguncang tanpa henti
kami pasti akan mematahkan gedung-gedung tinggimu
dan memutuskan jembatan-jembatanmu

kami akan mengusir kalian
kembali ke bumi di seberang lautan
bukan karena kami membenci
atau berambisi untuk berkuasa kembali.

semata agar sepasang ikan salmon dengan damai
dapat kembali berjumpalitan di hulu sungai
dan sebatang pohon sidar tumbuh menjulang tinggi
di tengah tanah kami


LISTRIK, TELEVISI, JALAN, BANK, DAN ULAR
: Suatu Studi Tentang Kemajuanisme

Bab 1. Listrik, Energi yang Mengubah Dunia

Kemajuan dan pembangunan telah berhasil
menyulut listrik masuk ke rumahmu
untuk menyalakan televisi.
Televisi menyihirmu
membeli kulkas
(dan itu berarti
harus lebih banyak listrik lagi)
dan kulkas membujukmu
untuk mengisi penuh perutnya
dengan merek-merek
yang dipamerkan televisi.

Televisi tidak hanya menghasut kulkas
tetapi juga membuatmu merasa terpencil dan primitif
karena orang-orang di seluruh dunia
(sebagaimana yang tampak di layar tivi)
nampak begitu bahagia dan penuh gaya.
Tiba-tiba, engkau pun merasa
tidak bahagia dan tanpa gaya
dan agar berbahagia serta bergaya
engkau harus hidup seperti di layar kaca.
Juallah dirimu sebagai tenaga kerja
agar dapat memperoleh uang
dan kembalikan uangmu lewat mal
agar dapat membeli segala mimpi
yang dibisikkan televisi.
Betapa perkasanya,
tiang-tiang listrik kukuh menjulang
yang berderet di sepanjang jalan
merentangkan kabel-kabel
yang menjalarkan kekuatan.

Bab 2. Jalan dan Konstruksi Sosial

Jalan aspal membentang
untuk mempermudah dan mempercepat
pegawai sampai di kantor,
buruh tiba di pabrik
bahan ke gudang,
barang ke pasar,
dan juga anak-anak ke sekolah
(tempat berlatih jadi calon pegawai
atau buruh murah).
Tetapi, engkau sendiri
mesti berjalan di tepi benar
dan harus menunggu lengang
baru boleh menyeberang
sambil tetap waspada
menoleh was-was kiri kanan
demi keselamatan.

Jalan aspal membentang
penuh mobil dari dunia pertama
yang mengambil minyak, baja, dan karet
dari dunia kedua
lalu membuang polusi di dunia ketiga.
Maka, udara yang penuh timbal
akhirnya menuntut tumbal
orang-orang dewasa yang pemarah
dan melahirkan anak-anak yang kurang cerdas
(yang tidak akan mampu membuat mobil).
Lihatlah mobil-mobil cicilan berlalu lalang
mobil dengan delapan kursi
yang hanya diisi seorang saja.
betapa besar, berat, dan cepat
melaju menyambar-nyambar
--membuat jantungmu kencang berdebar-debar--
melalui jalan-jalan yang mendesis
sepanjang siang dan malam
mengantarkan orang-orang ke bank
.
Bab 3. Bank dan Komplikasi Sistem

Bank-bank didirikan
agar uang bisa mengalir dan meluncur
ke tempat dimana ia berbiak.
Seperti listrik mengalir
seperti mobil meluncur.
Bank-bank didirikan
bagai kabel mengalirkan listrik
bagai jalan meluncurkan mobil
seumpama labirin tanpa ujung
saling silang, jalin menjalin,
dan membelit erat.
Di pintunya tertulis antara lain:
menerima pembayaran tagihan listrik,
menyediakan Kredit Kepemilikan Mobil.

Awal mulanya sederhana,
dari satu sistem kecil saja.
Tetapi seribu sistem kecil saling berhubungan
menjelma megasistem yang otonom.
Mereka saling memberi dan menerima
bagai dalam permainan pingpong:
semakin keras mengembalikan bola,
kian jauh lebih cepat balasannya.
Dan engkau tak ubahnya serangga
merekat di jejaring laba-laba
yang berpikir:
bila kuputuskan benang keparat ini
aku akan jatuh entah di mana.

Siapa pengendara
siapa pula yang dikendarai?
Paculah kendaraanmu sekencang mungkin.
Roda akan mengambil alih kemudi
dan rem tak lagi berfungsi.
Pasrahkan dirimu
pada kecepatan
tanpa ujung.

Bab 4. Penutup

Lihatlah kotamu:
penuh kabel, penuh jalan, penuh jaringan bank.
penuh ular-ular yang menjalar buas,
yang mendesiskan bisa dan membelit rakus.

Ingatlah,
hanya oleh ulah seekor ular di Taman
leluhur dahulu terusir dari Firdaus.


*) Sajak ini sebagiannya terinspirasi oleh film dokumenter “The Salmon Tribe”. Meskipun demikian, suku asli yang dikisahkan disini merupakan representasi fiktif belaka. Tentunya, banyak detail antropologis yang tidak tepat dan tidak konsisten.

DISEBABKAN OLEH TELEVISI (dari arsip sajak lama)

PENGAKUAN SEORANG PEMIRSA TV

mungkin tetangga sebelah rumah
sudah merasa bersukur bisa makan sekali sehari
barangkali bocah kecil yang duduk di sampingku ini
diam-diam gemar menghirup lem dan uap bensin
siapa tahu mana kutahu
(tetapi sepertinya mereka baik-baik saja
walau kami memang tak banyak waktu
untuk saling menyapa apalagi bicara)
yang pasti, aku sungguh terharu
melihat tayangan tentang kelaparan di somalia sana
dan bergidik ngeri oleh keliaran remaja metropolitan dunia
yang semakin menggila di layar televisi kita.



DI DEPAN TELEVISI

Ia tak pernah merasa
bahwa mulutnya berbau
(dan itu mengganggu)
--sehingga ia seharusnya malu--
sampai menonton iklan penyegar itu.
Ia tak pernah mengira
bahwa tubuhnya kegemukan
(dan itu berbahaya)
--sehingga ia seharusnya takut--
sampai menonton iklan pelangsing itu.

Ya, ia tak pernah menyangka
bahwa gayanya sungguh udik
dan hidupnya ternyata tidak
bahagia--sebagaimana yang telah telanjur
ia percayai selama ini--dan bahwa keluarganya
jauh dari sempurna (tawa pasangan dan anak-anaknya
sekian lama, pastilah pura-pura), sampai ia
menonton rangkaian iklan itu.

Sampai ia mencicilnya,
kami juga tak pernah menduga
bahwa ia berani-beraninya mati seperti ini,
dengan menggantung diri di hadapannya,
televisi itu.


CERITA KELUARGA

Seperti biasa
kami berkumpul di ruang keluarga
setelah santap malam yang bahagia.
Dan seperti biasanya juga
tanpa permisi dan basa-basi
televisi menghadirkan promosi
iklan cairan untuk memperkuat
dan mengharumkan alat kelamin
serta obat yang dapat membuat
warna organ vital kewanitaan
segar kemerahan.

Ayah nampak agak jengah
berlagak tak melihat & tak mendengar.
Ibu sedikit tersipu namun berpura-pura
sibuk dengan jahitannya.
Aku, tentu saja merasa senang
melihat visualisasinya
yang norak dan lugu itu.
Sedangkan si bungsu
merengek-rengek minta dibelikan satu.


KEAJAIBAN TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI-TRANSPORTASI

1.
Keluarga kami sangatlah harmonis
saban malam di depan tivi duduk manis
tanpa percakapan, asyik dengan khayalan
kakak mimpi jadi jagoan, adik bintang iklan.

2.
Aku dan pacarku tinggal sekampung
hingga pembangunan jalan tol rampung;
jalan bebas hambatan penghubung dua kota
justru jadi penghalang bagi aku dan dia.

3.
Akhirnya kita sempat juga duduk berduaan
di hadapan, di atas meja, tersaji hangat hidangan;
namun masing-masing asik dengan henpon di tangan
aku terima dari Jepang, kamu dari Jerman.

4.
Tak perlu lagi pintu belakang atau lewat jendela
setiap kali kami kangen ingin berjumpa;
lewat pesan singkat atau obrolan komputer
kami ganas bercumbu, meski di sebelah ada Mas Her.

5.
Bagaimanapun juga, tiada pengganti percakapan
dua orang saling bertatap muka, duduk berhadapan
tiada distorsi pada suara, dipertegas bahasa tubuh
bau, aura, dan gelombang mereka pun saling sentuh.

6.
Dalam surat elektronik yang segera tiba siang ini
tak kutemukan debar dada yang merana menanti;
juga tiada getar goresan jemari penuh arti,
sisa titik air mata, dan jejak parfummu mewangi.


SAJAK-SAJAK DARI DEPAN TELEVISI

1.
sepertiga malam terakhir saatnya
disingkap takbir. Mendekatlah, menderaslah
daras adu dan doa. bertabur cinta dalam rahasia

tetapi di saluran nasional ada arifin dan emha
juga eko dan ulfa. Mereka sinyal yang juga gaib
namun mewujud ajaib di layar kaca

di ujung sahur, di jelang subuh, di terbit surya
ia terus memikat, terus mengikat
dengan sulur-sulur acara--di waktu wingit untuk wirid

2.
kebenaran dan fakta dalam 60 detik
argumentasi beradu berdesakan dengan
plot acara dan slot advertensi

siraman ruhani dalam 60 detik
jejak wali dijepit goyangan penyanyi kampung
yang melejit jadi ratu panggung

bagaimana memilih ketika sebenarnya aku telah
dipilih segmen rating dan waktu tayang utama
aku market yang dididik, target yang dibidik

3.
listrik. pada mulanya sederhana. seperti jalan.
ada jenius penemu. ada karya intelektual
yang ternyata bernilai jual. dan mahal.

maka jaringan disebar, alat-alat baru ditebar
beranak bercucu bercicit. cahaya menjalar membakar
kamar-kamar. ada yang tersamar: jalan hidup

dan ketika mendadak padam
kita malah berpikir menambah daya
bukannya memecahkan bola lampu


INTERLUDE

ketika firman suci
dan sabda nabi
terjepit rating tivi
dan bising advertensi

ketika hikmah sufi
dan petuah wali
terhimpit pasta gigi
dan minyak oli

bersabarlah, Tuhan kami,
jangan dulu beranjak pergi
biar yang satu ini
bisa lewat tanpa permisi

BALADA KARTINI (dari arsip sajak lama)

-Malam Solidaritas HIV-AIDS, Tamalanrea, 1995

Dari kamar hotel ke kamar hotel
bagai camar ia melayang dalam kabut.
Dari lampu merah ke lampu merah
bagai lebah ia menyengat parah.
Dan akhirnya terdampar ia
di sudut gelap sebuah bangunan tua
peninggalan Zaman Belanda
di Jalan Penghibur yang mengabur dalam gerimis
mengerang sekarat meregang nyawa.

Kartini, Kartini, Kartini
bagai bunga layu perlahan mati dan membusuk
terkapar ia dan menggelepar
dihajar oleh lapar dan dahaga
dirajam oleh sakit, dendam, dan amarah.
Dan seperti yang biasa terjadi
pada setiap orang yang akan pergi mati
bayang-bayang masa lalu
datang kepadanya
berdiri di sisi
tak mau pergi.

Kartini, Kartini, Kartini,
umur sebelas tahun kamu sudah kenal lelaki
ketika pamanmu mengendap masuk ke kamarmu
saat ayah dan ibumu belum pulang dari ladang.
Mulanya kamu memang meronta
tetapi sayang ia lebih perkasa
dan ketika kamu menangis sesudahnya
ia hanya tertawa
lantas memberimu kembang gula
lalu berlalu begitu saja
dengan sepatu di tangan.
Meninggalkan kamu di sudut kamar itu
tersedu-sedu tanpa baju
memanggil-manggil nama ibu.

Umur lima belas tahun kamu jadi istri jagoan pasar
tiga tahun kemudian kamu begitu saja disuruh pergi
karena lama tak bisa memberi keturunan
dan lagi kamu pernah menolak juga
ketika ia mabuk dan menyuruh kamu
melayani seorang sahabatnya
seorang tentara berpangkat prajurit dua
yang baru kembali dari Irian Jaya.

Dua tahun kemudian kamu ketemu seorang mahasiswa.
Dari lagaknya yang setia kamu akhirnya percaya
bahwa ia bisa diajak menempuh usia
hidup bersama selamanya.
Kamupun mulai memimpikan rumah teduh
dengan kain jendela berwarna berhias bunga renda
dan ramai oleh jerit tawa kanak-kanak
yang sekian lama kamu damba,
hingga delapan bulan kemudian
ia lari ke Jakarta
setelah meraih gelar sarjana
bersama perawan sma
tetangga sebelah rumah.

Akhirnya kamu memutuskan pergi ke kota
bukan untuk menyusul mencarinya
tetapi untuk mencoba memulai babak baru.
Kamu bawa luka, dendam, dan angan-angan,
tanpa bekal keterampilan dan pendidikan lumayan
seperti dalam kisah klise lama
yang sialnya
selalu saja terulang jadi nyata.

Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya :
berbekal bedak tebal dan harum parfum murahan
kamu meracuni malam dengan semerbak mimpi.
Kamu ternyata segera jadi terkenal, Kartini.
Wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang sintal
jadi rebutan tamu-tamu lelaki.
Dengan atasan yukensi
Dan bawahan rok ketat mini
Namamu Kartini disingkat Tini.

Tetapi kini kamu telah belajar banyak
agar tak nyenyak terlena begitu saja
tak ada orang yang dapat dipercaya
maka hanya kepada dirimu sendirilah
kamu gantungkan kepercayaan.
Perasaanmu kamu bunuh
hingga lelaki yang menidurimu pada terkicuh
kamu biarkan mereka mereka menyentuh badan
menjilati dan menggigitnya bagai anjing kesetanan
sementara jiwamu kamu ungsikan jauh-jauh
tetap utuh, angkuh, dan tak terengkuh.

“Aku bukan seorang wanita murahan.
Aku seorang pekerja !”
begitu kau pernah berkata
ketika diajak wawancara
oleh seorang wartawan muda
setelah terlebih dulu
ia mencicipi kamu.
“Ini masalah jual beli,
ini masalah hukum ekonomi,
ini soal permintaan dan penawaran.
Ada yang ingin dan mencari,
ada yang butuh dan bersedia memberi.
Jangan melulu kami dituduh
sedang pada kamu lelaki mereka tak acuh.
Toh, kalau kalian tahan puasa jajan
paling lama dalam waktu sebulan
lokalisasi ini pasti bangkrut dan tutup.
Mudah dan sederhana saja, bukan ?”

“Dulu aku memang terjebak
tetapi kini aku dapat melangkah tegak.
Kita memang mesti jadi orang baik selalu,
itu dari dulu juga aku tahu.
Tetapi kita harus bertahan hidup
terlebih dahulu.
Ada orang yang bekerja dengan pengetahuannya
seperti para dokter dan ahli ekonomi.
Ada yang bekerja dengan keterampilannya
seperti para tehnisi dan olahragawan.
Dan ada yang bekerja dengan perasaannya
seperti para seniman.
Aku pun bekerja dengan tubuhku
seperti halnya para buruh dan kuli.
Toh, tak kubiarkan mereka meniduriku
sebelum membayar lunas sewanya.

Dan ketika mereka telah hilang kesadaran
dengan mata nanar berputar,
hanya mendengus, mengumpat, dan mengerang,
aku tetap sadar diri
mataku tetap lebar terbuka
menatap langit-langit kamar.
Aku hanya tersenyum kecil
dan tertawa di dalam hati.
Ah, laki-laki sama saja
penguasa atau pengusaha,
tentara atau mahasiswa,
pejabat tinggi ataupun kuli,
alangkah lemahnya ternyata !”

Ya, ya, ya,
sekarang kamu bukan lagi korban, Kartini.
Kini kamu telah memilih jalan ini
dengan kesadaran
sebagai perlawanan menentang keadaan.

“Dan kepada mereka yang mengecam,
tolong Bung Wartawan tanyakan,
kenapa diharamkan bagi kami memakan bangkai
sementara hidangan santapan empuk bertumpuk
tersaji di atas meja makan mereka sendiri.
Dan juga kukatakan terus terang
tanpa mereka sadari mereka juga adalah germo
mereka menutup pintu kerja bagi kami
karena kami kurang terampil
dan tak punya pendidikan tinggi
sedang biaya untuk melatih kami
lebih baik dialihkan untuk investasi
dalam bentuk mesin dan komputer canggih.
Ya, merekalah yang melemparkan kami ke trotoar jalan,
membiarkan kami terlantar mencemari kota.
Tangan-tangan kukuh mereka menelanjangi tubuh kami,
menyumbat mulut,
dan memegangi kedua tangan dan kaki kami,
lalu menggeranyangi setiap senti tubuh kami.
Kemudian dengan penuh kepurapuraan
mereka lepaskan petugas kamtibmas
untuk mengejar-kejar kami
setelah puas mereka
melepas keinginan.”

Mendengar penuturan kamu
Bung Wartawan hanya mengerjapkerjapkan matanya.
Omongan kamu yang tandas dan cerdas
membuatnya melongo bego.
Tentu saja komentar kamu yang gagah itu
tidak layak jual buat dimuat di koran minggu.
Mana ada pembaca yang percaya
kamu bisa bicara begitu perkasa.
Orang macam kamu selalu disudutkan sebagai korban,
jadi sasaran umpatan ataupun curahan kasihan.
Dan bila kisahmu dimuat juga
bisa mencemari harkat martabat pejabat negara
yang bersih jujur dan berwibawa,
karena ternyata kamu beberapa kali
pernah dibooking berhari-hari
menemani pejabat tinggi dari ibu kota.

Maka daripada pusing kepala pikirkan itu semua
Bung Wartawan Mudapun memutuskan
untuk melupakan perkara wawancara.
Adapun isi rubrik kisah nyata
akan ia ganti dengan cerita rekaan saja.
Lalu dengan terburu-buru penuh nafsu
ia mengulum ibu jari kakimu
untuk kesekian kali
kamu hanya tersenyum
dan menatap langit-langit kamar
disana tergambar wajah ramah paman kamu,
wajah beringas jagoan pasar,
wajah kasar tentara prajurit dua,
wajah mahasiswa muda,
dan wajah-wajah lelaki lain
yang makin lama kian tak jelas
berbaur kabur.

Kartini, Kartini, Kartini.
Dari kamar hotel ke kamar hotel
bagai camar kamu melayang dalam kabut.
Dari lampu merah ke lampu merah
bagai lebah kamu menyengat parah
dan akhirnya terdampar kamu
di sudut gelap sebuah bangunan tua
di Jalan Penghibur yang kuyup dalam hujan.
Mengerang sekarat meregang nyawa.

Mungkin kamu memang menderita, Kartini
tetapi kamu juga tetap berbangga
lembah dosa yang kelam penuh nista
kamu rambah dengan mata menyala
perkasa dan penuh makna.

Kartini, Kartini, Kartini.
Orang-orang bijaksana, para pendeta dan ulama
mencaci kamu.
Mereka bilang kamu pendosa keji dan hina.
Orang-orang LSM, para cendikiawan, dan penyair
membela kamu.
Mereka katakan kamu hanya terpaksa dan tak berdaya.
Tetapi bagaimanapun juga, Kartini,
pendosa ataupun terpaksa
mereka tetap tak bisa tinggalkan kamu
menghitung sisa hari
sendiri
dalam sunyi.

NEGERI MIMPI BURUK (dari arsip sajak lama)

(catatan puitik sekelumit peristiwa tragedi: aceh, timika, semanggi dan trisakti, mei, juli, reformasi, banyuwangi, ambon, dan lainnya)


SAJAK ZAMAN EDAN

Sembari memiringkan kepala
dan menjulingkan kedua biji mata,
mari kita pandangi dunia rombengan
yang oleng mengapung di comberan.

Dari rahim zaman yang gawat dan celaka
telah lahir generasi tanpa cawat dan celana.
Yang memainkan kelamin sembari tertawa lebar
dan menyapa kehampaan dengan begitu manis dan sabar.
Yang mengulum valium
dalam senyum ganjil dan mesum.
Yang menjadikan tuhan arca kusam
di sudut museum yang suram.
Yang telah melupakan sama sekali
apa yang terjadi kemarin hari.
Yang diombang-ambing gelombang bimbang
dan gamang bila menatap masa datang
namun masih saja mencaci maki hari ini.
Dan siang tadi
setelah memperkosa Ibu sendiri
mereka menyembelih Bapak yang tak bisa membela diri.

Maka kala malam turun merekapun berbaris menangis
histeris oleh siksa segala herpes aids dan sipilis.
Kemudian perlahan bergerak berjalan pergi
memenuhi lambaian tangan-tangan sepi.

Ibu, tak perlu malu dan memalingkan wajahmu.
Mereka itu, juga anak-anakmu.


SYAIR KEBEBASAN & KEMERDEKAAN

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah layang-layang,
diulur atau ditarik tergantung
taktik dan strategi pemegang benang.

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah boneka wayang,
dimainkan atau dimatikan terserah
suasana hati sang dalang.

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah teka-teki,
artinya tak pasti
menurut situasi dan kondisi.

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah puisi
dalam kesamaran makna bahasa
masing orang merasa paling mengerti.


KUATRIN DULI TUAN KITA YANG MULIA & TULI·

Saat Duli Tuan Kita yang mulia lagi tuli lewat, rakyat sama berlutut
lalu sewaktu kepala mereka bersujud, seribu pantat pun turut kentut.
Sang Duli Tuan Kita yang mulia lagi tuli puas lihat rakyat penurut
menebar senyum lebar Ia, manggut-manggut dan mengelus janggut.


PANTUN-PANTUN 1996

1.
Ada semut memangku gajah,
ada hutan jadi tusuk gigi.
Kulihat Ibu Pertiwi bermuram durja
melati ditanam tumbuh belati.

2.
Ada pagar makan tanaman
ada kebun merimbun di ruang makan.
Kulihat kampus diserbu panser
dan para buruh diburu herder.

3.
Acara komedi kini tak laris lagi
para badut menangis tersedu di sudut.
Dagelan Bapak Tinggi Besar di televisi
jauh lebih yahud bikin semaput.

4.
Berbahaya , Nak, keluar malam
kata Pak Jaga berwajah seram.
Coba saja kalau situ tak percaya
nanti saya sikat baru tahu rasa.

5.
Banyak anjing gila berkeliaran di jalanan
Pak Dokter kini laku sekali.
Anjing-anjing gila dibiarkan berkeliaran
yang plihara Pak Dokter sendiri.

6.
Sang Bapak tak mau si anak baca buku
nanti banyak tahu lalu menuntut menggerutu.
Sang Bapak yakinkan bahwa ia belum dewasa,
si anak perlu selalu dijaga agar tetap tak dewasa.


NYANYI SUNYI HARI PROKLAMASI 1996

Langit senja
Gerimis sunyi
Ada bendera
Berkibar letih

Langit senja
Gerimis sunyi
Ada barisan
Berbalik pergi

Langit senja
Gerimis sunyi
Seorang Ibu
Menangis sendiri


DONGENG PENGANTAR TIDUR

Konon, pada suatu pagi di suatu tempat
matahari pernah terbit dari sebelah barat
keanehan ini menimbulkan panik hebat
dikalangan masyarakat dan birokrat.

Ada yang menganggapnya pertanda kiamat mendekat
dan bergegas memadati tempat-tempat ibadat.
Ada yang memandang sebagai alamat
bahwa ratu adil bakal datang bawa selamat.

Sementara itu, para tunanetra tenang-tenang saja
menurut mereka itu urusan orang-orang yang tidak buta
yang terbiasa melihat terbit sang surya di timur sana
dan menikmati tenggelamnya di barat kala senja.

Tetapi tetap saja tak ada alasan yang bisa diterima semua
untuk jadi dalil pegangan pendapat bersama
buat menjelaskan keganjilan fenomena alam raya
sampai ditemukan satu ide brilian dari walikota.

Maka dengan sebuah surat keputusan ditetapkan bahwa :
Ufuk tempat terbit matahari yang biasa
(yang dikenal sebagai ufuk timur), diganti namanya
menjadi ufuk barat saja, begitu pula sebaliknya.

Jadi matahari tetap saja terbit dari ufuk timur
sesuai dengan pemahaman sejak masa leluhur
tak perlu lagi ada silang pendapat yang serba kabur
semuanya dapat kembali tenang bekerja, makan, dan tidur.

Dan dengan resmi dinyatakan oleh walikota
bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi adanya
karenanya, tak perlu dicatat di dalam sejarah kota
dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.


TANGAN-TANGAN HIJAU

Tangan-tangan hijau
menghapus bianglala dari cakrawala
mencerabut bunga-bunga dari rimba raya
melumpuhkan kupu-kupu yang menggeletarkan sayapnya.

Tangan-tangan hijau
menghanguskan buku-buku dan catatan pustaka
menyilang sejumlah nama di daftar rahasia
menghilangkan potret wajah dari album keluarga.

Tangan-tangan hijau
membedah dada membelah kepala
merapikan mimpi-mimpi kala malam hari
menggeledah cita-cita di siang hari.

Tangan-tangan hijau
dengan cermat ketat mencatat
memantau merekam segala bunyi kicau
risau dan menggeram oleh setiap igau.

Tangan-tangan hijau
menjulur menyusup jauh
ke sudut-sudut tidurmu
semakin jauh dan kian dalam.


SAJAK-SAJAK TRAGEDI

1. Sajak Lampu Merah

Di bawah lampu merah yang menyala lama sekali
barisan panjang kendaraan berderet tak sabar menanti
maka dalam cuaca panas membara tanpa hawa
serentak sejuta klakson ganas meledak bersama.

2. Megatruh

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
menuju cakrawala senja
pulang ke tanah purba

dari Aceh Merdeka
hingga Timika Irian Jaya,
dari pelosok kampung-kampung kumuh
hingga pojok gedung-gedung kukuh

peluru yang tumpah
dan darah yang tercurah
akankah hanya akan kembali
terlupa dalam sunyi.

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
penuh belukar luka pada sayapnya
penuh bunga duka pada matanya.

3. Lagu Perkabungan

Angin memucat dalam senja lembayung
pohonan tunduk berpayung mendung
kuntum dan putik berluruhan berpusing
dari ranting tua rapuh dan kering.

Tak ada kur kanak-kanak lantang bernyanyi
hanya sederet unggas terbang berarak sunyi
di cakrawala barisan ruh leluhur melambai menanti
memanggil jiwa yang letih pulang kembali.

Maka malamnya purnama pun bertudung
dan burung kelam bersenandung murung
setelah sekian nama hilang dan mati
esok pagi giliran siapa lagi.

4. Sajak Orang-Orang Kalah

Orang-orang yang kalah
tak punya apa-apa
tak bisa apa-apa.
Suara dan kata
bukan milik mereka
juga hak untuk memilih
dan bermimpi.

Mereka bukan pemerintah
yang punya kuasa dan titah,
bukan mahasiswa
yang ahli menganalisis dan beretorika,
bukan tentara
yang punya senjata dan penjara,
bukan aktivis lembaga swadaya
yang piawai mengorganisasi unjuk rasa,
dan tentu saja bukan kelas menengah
yang penuh tata krama dan tata bahasa.

Orang-orang yang kalah
hanya punya badan sendiri
hanya punya mulut, kaki, dan tangan sendiri.
Tetapi,
mulut yang telah lepuh oleh keluhan dan permohonan
ternyata juga terampil mengumpat mencaci,
kaki yang lincah berlari menghindari razia petugas tibum·)
ternyata juga tangkas menyepak dan menendang,
tangan yang biasa tengadah dan mengais-ngais sampah sisa
ternyata juga jitu melempar batu serta memainkan belati baja.

Maka orang-orang kalah
lalu berunjuk rasa dengan badan mereka sendiri
untuk menunjukkan bahwa mereka nyata
dan bukan fenomena sosial semata,
bukan hanya angka
dalam data statistik kemiskinan.
Tanpa membentangkan spanduk serta mengajukan petisi
tanpa peduli apakah ada pihak ketiga menunggangi
dari lorong-lorong kumuh dan mesum,
dari gorong-gorong pengap bawah tanah.
mereka berhamburan ke jalan-jalan raya
Mereka menghamburkan serapah dan makian
mereka mencabut rambu-rambu,
mereka memungut batu
dan menyulut api.
Maka Jakartapun
menyala.

5. Surat Cinta Buat Meilani

Kamu telah merubah nama,
tetapi siapa yang bisa
menyembunyikan sendiri tubuhnya !

Ya, aku telah mengenalmu
sejak sekolah menengah dulu.
Aku mengajarkan bahasa dan sejarah kepadamu,

kamu memberi contekan matematika dan akuntansi.
Tetapi kita baru tersadar kini
ada jarak -- biar hanya setipis kulit sendiri --

yang memisahkan kita
hingga sejauh dua benua
dan dua wilayah waktu berbeda.

Adakah kau temukan juga salju,
taburan kapas di atas hamparan beledu ,
ganti panas kemarau dan kepulan debu ?

Padahal dulu tak kita pusingkan
karena tak punya kepentingan
dan beban kenangan.

Yang lantas menjelma semacam stigma trauma :
bekas luka yang nyerinya belum lepas terlupa
terasa tiap hawa dingin menimpa.

Bukankah pernah kita rasakan getar yang lebih purba
menjalar menghentak ketika tergeletak berdua
saat pori-pori kulitku mengecup pori-porimu begitu lekatnya.

Kupu-kupu beku di kelopak batu
sepasang sayapnya lumpuh
menempuh cuaca tak lagi mampu.

Tubuhmu dan tubuhku ternyata
cuma kenal satu bahasa
butuh damba dan dahaga yang sama !

Sekarang kamu bawa tubuhmu lari nyebrang samudera ke Australi
-- negeri yang kukenal hanya lewat serial cerita televisi dan berita koran pagi
tentang Pauline Hanson·) . Kapan kamu kembali ?

Aku tak perlu malu
mengaku selalu tersedu
bila tak berdaya kangen sama kamu.

6. Ruwatan Sembilan Delapan
(lirik untuk lagu)

Mega mendung menutup matahari
hawa angkara menutup matahati.
Iri dengki dan dendam benci
adalah neraka dalam dada ini.

Seperti air membanjiri desa
begitu api menjalari kota.
Seperti ular merayapi belukar belantara
begitu curiga menulari benak kepala.

Dari atas dan bawah siksa membara
di sekeliling pertikaian seru menyala.
Lapar dan takut jadi pakaian busana
menyelubungi segenap raga dan sukma.

Bumi kami bumi yang tandus
hati kami hati yang hangus.
Mendamba angin sejuk berembus
menanti hujan turun dari firdaus.

Darah telah dicurahkan
nyawa telah disembahkan.
Di altar telah dibakar korban
kini tinggal sesalan dan harapan.

Sebelum fajar menempuh malam
rimba terbakar semusimpun padam.
Bibit benih tersisa masih terpendam
menanti bersemi dari rahim alam.

7. Mencari Ibu

Ibu, Ibu, Ibu, di manakah kamu.
Telah beratus tahun kami lelah menunggu.
Ibu, Ibu, mengapa meninggalkan kami, Ibu.
Di jendela rumah piatu, berjuta wajah hanya termangu.

Mulut kami gagap, mata kami nanap, mencari.
Kami harus belajar mengenali kembali
wajah sendiri. Mencoba mengeja lagi
abjad yang menyusun nama sendiri.

Setelah aum yang memenuhi kota
setelah dentum mewarnai cakrawala
setelah moncong menyalak membuta
setelah semuanya menjadi tak berharga.

8. Bangsaku Terus Berjalan

Bangsaku terus berjalan
terhuyung dan sempoyongan
badan penuh luka tikam sejarah
kenangan penuh air mata dan darah.

Coba dipendamnya berlaksa dendam kelam
coba dilupanya beribu liang duka hitam
merah padam membasuh pucat wajahnya
beling dan senyuman dikulum bersama.

Bangsaku terus berjalan
terhuyung dan sempoyongan
nanar matanya gemetar langkahnya
menatap cakrawala alangkah jauhnya.


BAGI YANG MATI DI SEMANGGI

Sebutir peluru tajam menghunjamkan malam di pelupukmu.
Darah tercurah dari tubuh yang rubuh
menyiram kaki beton semanggi.Tetapi
tak akan tumbuh bunga esok hari di situ.
Dara kecil biar termangu mencarinya nanti.
Juga kupu-kupu. Tidak ada air mata. Namun
benakku menjelma radio larut (yang dahulu
biasa menemani anak muda itu melamunkan kekasihnya
hingga pukul tiga pagi), tergeletak di atas meja sendiri berteriak-teriak
serak memanggil gelombang dalam gulita. Seperti bendera
ditinggalkan angin. Bagaikan lagu kebangsaan
dilupakan kelompok paduan suara. Untuk apa.
Gerimis masih di jendela
terus menulis namamu, menyanyikan cinta
terkandaskan dari dadamu yang rekah
oleh keping timah.
Aku mungkin akan segera melupakanmu.
Aku tak pernah ada
di sana. Tidak pernah
ada. Tidak ...


ANGIN HITAM

Angin hitam bergelung menghembus datang
seribu kepala mekar lalu berguguran
terhambur jatuh memutuskan kenangan
dari seribu tubuh yang tinggal ranting sepi.

Angin hitam bergelung menghembus lalu
segalanyapun senyap bagai semula
tanpa jejak untuk dilacak
tanpa catatan untuk kenangan.

Angin hitam terus bergelung menghembus
beralih dari pohon ke pohon
berpindah dari hutan ke hutan
mengembara dari benua ke benua.

Angin hitam bergelung menghembus datang
angin hitam bergelung menghembus lalu
angin hitam terus bergelung menghembus
menyentuh maut di setiap jamahannya.


PURGATORI
Ada yang bersuci dengan air telaga
ada yang dengan kucuran peluhnya
ada yang bersuci dengan air mata
ada yang dengan curahan darah
dan api yang bernyala-nyala.

Maka ditepi sungai merah yang membelah lebar kota
7.000.000 lelaki kerdil berkepala gundul
duduk mencangkung meratap dan meraung
sementara langit makin hitam saja,
sementara langit makin hitam saja.


FRAGMEN IBU DAN ANAK

Ibu itu bukan perempuan yang melepaskan
bayinya hanyut di Sungai Nil beribu tahun lalu;
ia hanya gigil kecemasan yang menatap
anaknya perlahan larut hilang ditelan
belukar jalan-jalan kota yang hari itu
dipenuhi desis ular dan auman serigala.

Ia sengit berkata ; “Ia hanya pamit bermain
sebentar saja, seperti biasanya dulu!
Ia begitu manis dan manja padaku,
Bukan sejenis…” tetapi gelegar itu
dan hingar televisi setelahnya
mengabarkan lain.

“Cahaya mataku sirna padambiarkan selembar seragamnya menyaput kabut ini
walau mungkin
ia memang tak akan kembali lagi…”

(Anak itu tentu saja bukan Musa yang melawan perkasaatau Yusuf yang bertahan perjaka. Ia hanya mahasiswa tingkat tiga
yang memang sekarang lebih banyak turun ke jalan raya
bersama teman-temannya, membawa spanduk dan pamflet,
yang juga kangen dengan pacarnya yang belakangan sering alpa …)


MARS MAHASISWA BARU

o ibu dan ayah, selamat pagi
kami ke semanggi berdemonstrasi
revolusi tanpa henti sampai mati
begitu kata kakak senior kami

ibu ayah janganlah bersedih hati
kami hanya minta harga-harga tak dibiarkan meninggi
dan agar rakyat biasa tidak ditembaki lagi
dan kalau bisa pemimpinnya diganti kembali

ibu ayah janganlah menanti
jika kami tak pulang esok hari
jangan dicari jangan pula ditangisi
tak usahlah sibuk membentuk tim komisi

o ibu dan ayah, kini kami pergi
revolusi sampai mati begitu kata senior kami
dan bila telah tercapai tujuan revolusi nanti
biar yang masih hidup ganti menduduki kursi


IBU PERTIWI 1999

Aku melihat Ibu Pertiwi
sedang berduka hati.
Darah anak-anaknya
tumpah menggenang.
Emas intannya hilang
dirampok orang.

Hutannya hangus, gunungnya tandus,
sawahnya rengkah, lautnya susut.
Simpanan kekayaan
telah habis digadaikan.
Kini ibu sedang lara
Terhina dan tak berdaya.


DOA BAGI INDONESIA
- dalam 3 waktu

I.
Di dalam malam yang pekat tebal,
Diselubungi selimut keamanan yang mencekam
Dan kelengangan yang menegangkan,
Sengal kubisikkan harap yang sembab
Kepadamu :

Curahkanlah hujan
Untuk memadamkan api yang merebak di ladang
Dan guyurkanlah tidur
Untuk memejamkan mata yang membelalak nyalang
Agar terkulai membuka
Tangan kami yang tegak mengepal tegang.

Leraikan dan damaikanlah hati kami
Jangan ceraikan jemari kami
Dan kain yang ditenun bunda
Kiranya tak diberaikan.
Jangan biarkan kami bertanding
Tetapi ajarkan kami bersanding.

Beri kami kekuatan –
Bukan untuk saling menjagal,
Tetapi untuk saling menjaga.
Beri kami daya kritis –
Bukan untuk saling menuntut
Tetapi untuk saling menuntun.
Dan beri kami hikmah –
Bukan untuk saling menghakimi
Tetapi untuk saling memahami.

Jangan diamkan kami saling menjegal
Tetapi bimbing kami
Agar bisa berlomba-lomba bersama
Mengejar ujung helai kerudung biru cintamu.

II.
Di tengah fajar yang sedang mekar perlahan
Bersama mulut-mulut mungil bunga-bunga mawar dan kantil
Yang merekah memuji namamu,
Bercahayalah rahmatmu yang kekal menyinar
Menerangi pandangan kami yang nanar.

Kami mengaku :
Setiap kali amuk badai tiba
Hanyalah padamu kami tengadah meminta.
Dan setiap kecamuk mereda
Kerap pula kami bersuka hingga melupa.
Ya, kami memang senantiasa tergesa-gesa
Tetapi sering pula menyesali diri sendiri.

III.
Di bawah terik mentari siang yang memanggang
Masih tetap kubisikkan harap
Yang mengendap-endap
Dari ruang kamarku yang sempit pengap
Lalu melayang dan melenyap
ditelan gulungan gelombang asap.

Semoga doa yang tersisa ini
Selamat hingga tiba di hadiratmu,
Tak terperangkap oleh jerat para penangkap,
Tak tersesat hangus sia-sia
Di antara belantara kota yang membara,
Di tengah huru-hara jalan raya,
Di luar sana.

Amin.


RINTIH CUCU IBRAHIM

Ketika para pendeta dan ulama
Menjelma tukang catut surga
Dan para pengkhutbah penceramah
Jadi penghasut penuh amarah

Ketika orang-orang menjerit
Dari tiap corong menara mesjid
Dan dentang genta gereja
Menyebarkan amar siaga

Ketika namamu yang baik indah
Dipekikkan hingga kami panik gundah
Dan alunan firman-firman suci
Jadi sampiran bagi caci maki

Kepada siapakah lagi Tuhan sayang
Kami mencari teduh dan tenang
Dimanakah lagi kaki-kaki yang lelah
Lepas dari pelarian, menemukan istirah

Sedang pintu-pintu rumahmu di bumi
Telah dikunci rapat dengan rasa benci
Dipagari tinggi dengan angkuh bangga
Dan dijaga ketat oleh prasangka curiga

Kemanakah lagi Tuhan sayang
Kami melabuhkan jiwa yang gamang
Bimbang arah perjalanan kami
Bimbinglah menuju kemahmu kembali


NINA BOBO BAGI ANAKKU

Tidurlah anakku, tidurlah
Terang cahaya bara di cakrawala sana
Bukan terbit dari kebakaran besar di kota
Itu datang dari parade lilin dan pesta lampion
Menyambut lahirnya sang juru selamat dunia

Tidurlah anakku, tidurlah
Gelegar yang terdengar itu
Bukan ledakan bom serta rentetan senapang
Itu bunyi letusan mercon dan petasan
Menyambut lebaran fitri esok pagi

Tidurlah anakku, tidurlah
Raung menggaung dan pekik menggemuruh itu
Bukan erang sirene dan seru perkelahian di jalan-jalan
Itu lengking terompet serta sorak sorai peserta pawai
Menyambut datangnya tahun yang baru

Tidurlah anakku, tidurlah lelap
Teruslah bermimpi sementara kami harus bergegas
Membereskan serakan bangkai hangus,
Menyapu tebaran pecahan beling kaca,
Dan menyingkirkan gundukan puing-puing kota.


ACANG DAN OBET

dulu katong sama
panjat batang pohon kelapa
kini katong baku penggal kepala

dulu katong sama
bakar cakalang di pinggir pantai
sekarang baku bakar hunian

dulu katong sama
petik gitar dan nyanyi-nyanyi
kini ganti jerit pilu pekik serbu

jadi baku buru
karena nama dia obet
sedang beta acang


BALADA PAK KRAYAT

Pak Krayat, Pak Krayat, O, Pak Krayat
Alangkah sabar dan penuh maafnya kamu

Aku tahu kamu telah ditipu dan dikerjai berkali-kali
Sementara engkau menggadaikan diri kepada pemberi kerja
untuk upah yang akan segera habis kurang dari dua minggu,
Engkau diledek habis-habisan oleh kenaikan harga dan aneka pungutan,
oleh iklan-iklan gemerlapan, oleh kuis berhadiah jutaan rupiah
dengan pertanyaan remeh yang melecehkan akal sehatmu,
dan oleh gaya hidup para pejabat serta wakil rakyat
yang bukan main ajaib anehnya.
Tetapi, kamu tetap mampu tersenyum, meski kecut,
sembari mengurut dadamu yang ringkih.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat.
Berapa dalamnya samudera kesabaranmu,
Berapa tingginya langit pemaafanmu?

Meski Sang Ekonom yang logis dan empiris dengan wajah dingin
menggunting separuh dari secarik uangmu lusuh
tahun demi tahun, karena tahu dan yakin
engkau toh pasti masih akan sanggup
bertahan hidup, bagaimanapun juga caranya,
Meski Sang Perencana Kota penuh antusias
merancang peta yang akan menyingkirkanmu
demi jalan-jalan layang yang tak akan kau lalui,
demi pemukiman mewah yang memasang palang dan satpam
di gerbang masuknya untuk menghadangmu,
dan demi mal megah yang gemerlap lampu-lampunya saja
telah mampu membuatmu gelagapan,
Meski para pelayan masyarakat semakin galak memalakmu
dan aparat keamanan kian giat berlatih
untuk menyasarkan peluru menembus jidatmu,
Namun engkau tetap siap sedia untuk mati
sebagai relawan demi membela negara
yang tak pernah sungguh-sungguh membelamu.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat
Kesabaranmu lebih keras dari bukit cadas,
Pemaafanmu lebih luas dari samudera.

Walau mimpi adil makmur harus kau bawa
hingga ke liang kubur,
Di hari Senin pagi ini, kamu masih menyempatkan berhenti
dan berusaha berdiri tegak, meski gemetar
menahan nyeri lutut oleh rematik akut
Ketika di halaman upacara sebuah sekolah dasar
yang hampir runtuh atapnya,
Lagu Indonesia Raya dinyanyikan sayup sayu
dan Sang Saka dinaikkan perlahan
dengan merahnya yang ketakuttakutan
dan putih yang kebisubisuan.


PERTEMUAN DI SEMINAR

Hai, Nona
Bukankah Anda Virginia?
Kita pernah berjumpa
--kalau tak salah, di Wina,
atau Praha—entahlah,
aku agak lupa
kapan dan dimananya.

Yang jelas bertempat di salah satu seminar.
Remember, kita sempat bertengkar
sampai tarik urat leher
karena kau nyerocos bicara soal hak asasi
dan aku cuma bilang : “You’re so sexy.
Let’s spend the night together!”

Kau membelalakkan matamu yang hijau sejenak
Namun nganga mulutmu membuatku kian konak.
Akhirnya, malam itu kita bersama juga.
Tergeletak di ranjang, berbincang dan tertawa.
Bersama dalam kamar sewa
yang kubayar dengan duit beasiswa.

Kau bilang aku terlalu kurang ajar
untuk mengaku orang Asia.
Tentu, kau benar.
Maka ajarilah si lancang ini
memahami rahasia tubuhmu yang telanjang.

Diamput!
Sungguh suatu pengalaman maut
yang mampu membuatku semaput lunglai
hingga tak kuasa lagi menyahut
ketika kamu bangkit dari lantai
lalu mengenakan pakaianmu dengan santai
and saying goodbye.

Bukankah Anda Virginia?
Kita pernah berjumpa
--kalau tak salah, di Wina,
atau Praha—entahlah,
aku agak lupa
tempat dan saatnya.

Tak apa, Baby
kalau kau tak ingat lagi.
I can understand that.
Untuk kalian, orang barat,
It is not more than a one night stand.
Tetapi buat aku yang timur :
Mana tahan !

So, kapan berwisata ke negeriku ?
Kalau you bosan habis karena diuber winter,
please, come and have an adventure
Berenang-renang di laut peluhnya,
mengarungi sungai darahnya
dengan segala jeram jeritnya.
Kemudian kita bisa bersampan dengan tenang
di telaga air matanya yang menggenang.
Atau mendaki gunung-gunung puing yang tinggi
dan mendatangi bukit-bukit bangkainya.

And after that,
kita dapat menikmati
lezatnya air dan daging buah kepala
yang disedot disendok
langsung dari tempurung pecahnya.
Ups ! I mean : KELAPA, buah nusantara.
Bukan kepala.
Coco Nucifera. Coconut. Right !
Ah, you really made me nut
That night !

What ?
You’re not Virginia?But…
I’m so sorry. Aih, malunya !
I can’t think
clearly…
May be because the drink
at the cocktail party.
My name is Hendra. Not W.S Rendra.
And yours?Viagra?
Ooo, Viaraaa.
Indonesia? Indonesia, ha !
Blasteran sunda-cekoloswakia !
Jakarta ! Jatinegara!
Kalau begitu kita bertetangga !
Dari LSM mana ? Pinjam makalahnya yaaa.
Tak masalah kan ?
Mmm, Jeng, eh, Mbak
datang sendiri ?
Sehabis sesi ini
yok, cari taksi.


DOA MENJELANG PEMILU 2004

Inilah negara sirkus, negara taman safari
penuh berisi babi-babi berdasi,
tikus-tikus berbaju dinas dan
bajing-bajing bersafari
penuh musang-musang berjubah,
anjing-anjing berseragam
dan gerombolan bebek berbungkus armani
yang menetas 5 tahun sekali.

Inilah negara gosip dan bualan
negara mimpi paling absurd
tempat pungli dilakukan
oleh para calo, preman, dan pengemis
sembari ongkang-ongkang kaki
di tepi-tepi jalan, di kantor-kantor pelayanan
di istana-istana dan balai pertemuan
tempat hukum dan peraturan
ditulis berjilid-jilid untuk dilupakan
sedangkan lembaga-lembaga didirikan.
sekedar sebagai pelengkap dagelan.

Inilah negara dengan isi perut bumi berlimpah
namun rakyatnya makan sampah
kaya alamnya, besar penghuninya
namun paling korup dan primitif
dengan pemerintah yang bejat dan bebal
dan rakyat yang sontoloyo namun beringasan

Tuhanku,
betapa nikmatmu terbengkalai tersia-sia
di tangan para pembanyol dan peminta-minta
maka utuslah kembali cina mongol dan spanyol,
inggris dan portugis, juga belanda dan jepang
untuk menjajah negeri kami lagi ganti berganti
biar aparat serta kaki tangannya ditaklukkan
lalu dikirim kerja paksa di gurun sahara sana

Sedangkan kami, kami bersedia
jadi hamba sahaya saja
yang bangga dan bahagia.


VISI HARI KEBANGKITAN·

di hari kiamat
umat manusia bangkit
berkelompok-kelompok

mulai dari animis hingga atheis
dari politheis hingga monotheis
juga yang skpetis dan agnostis

masing-masing kelompok
akan berarak mengusung spanduk
dan memekikkan yel-yel mereka

begitulah, mereka berbaris
penuh percaya diri, menuju gerbang surga
yang berhias umbul-umbul selamat datang

sesampainya di depan surga
malaikat penjaga surga menjemput masuk
spanduk-spanduk yang mereka usung

dan mempersilakan rombongan pawai
belok kiri lalu lurus
terus menuju kobaran api


SEBUAH FABEL

bila serigala bertahta di rimba raya
maka rubah, musang, dan anjing
akan berkuasa
dan tikus-tikus berpesta pora

sedangkan kancil dan kelinci
mesti tahu diri


LEBIH DARI

lebih tragis dari tragedi
lebih konyol dari banyolan
lebih ajaib dari kegaiban
lebih meneror dari horor
adalah negerimu

dinegerimu
ribuan orang bisa hilang atau mati
tanpa pernah ditahu dimana kuburnya
dan siapa sebenarnya yang melakukannya
di negerimu
triliunan uang bisa melayang
lenyap bagai asap tanpa pernah terlacak
siapa sebenarnya yang menghisapnya
di negerimu
gedung dan bendungan bisa runtuh
ketika baru diresmikan tanpa pernah terungkap
siapa sebenarnya yang menggerogotinya
di negerimu
bahkan hutan, bukit, gunung dan pulau
bisa habis sirna tanpa tersentuh
siapa yang menelannya

begitu banyak yang tak pernah jelas
begitu banyak yang tak pernah selesai
meski pola modusnya telah terang
pak polisi yang pilon hanya berkilah santai
sembari mengusap-usap kumis dan kantongnya yang tebal:
“ini kriminal murni jangan gegabah berkesimpulan
kami propesional, loh.”


HARI TERAKHIR MANTAN PRESIDEN

saat itu mendung menggulung
namun hujannya urung
kotapun tersekap dalam pengap
hawa gerah dan cakrawala sembab

begitu pula suasana hati
presiden yang terguling kini
dan dalam suram kamar istana
ia membaca sendiri suratan hidupnya:

dahulu aku agung jaya
kini tak ubahnya kaum paria
seolah aku sendiri
tak mengenali sosokku kini

persangkaan, ketenaran, kekuasaan
kekayaan dan juga tindakan
bahkan seragam serta badan ini
adalah tabir yang melapisi

yang menciptakan aku yang dikenal
pada halaman koran internasional
namun menutupi diri-sejatiku
dari aku

dan setelah semuanya tanggal
apakah lagi yang tersisa tinggal
selain tubuhku yang rapuh menua
berbalut piyama berwarna biru tua

dengan status tahanan kota
terpenjara di kamar istana
jauh dari orang-orang dekatku
dekat dengan musuh-musuhku

sementara di luar sana,
protes rakyatku terus membahana
seakan mereka telah melupakan
sanjungan yang dulu mereka berikan

kini kusendiri berdiri di depan cermin
dan tak bisa lagi berbuat lain
sukmaku yang asali
harus dapat kembali kukenali

agar tak tertutup bagiku pintu langit
terkutuk ngembara sebagai demit
harus kukuak topeng terakhir
tubuh buruk penuh gelambir

dengan satu sayatan pisau cukur ini
kuputuskan nadi di tangan kiri
semoga nampak pada cermin
wajahku hakiki. amin.


PEGAWAI HITAM, POLISI HITAM, TENTARA HITAM DAN ORANG HITAM

Seorang yang berbakat jadi calo
dipungut oleh negara
disalurkan ke instansi-instansi
diberi meja dan kursi untuk melongo
diberi gaji sampai mati
jadilah pegawai negeri.

Seorang yang berbakat jadi preman
ditampung oleh negara
diberi seragam dan sempritan
diberi borgol sungguhan
dan mobil bersirene kesetanan
jadilah polisi.

Seorang yang berbakat jadi pembunuh
dipelihara oleh negara
diberi lencana dan senjata
diberi makanan bergizi
dan latihan lari saban pagi
jadilah tentara.

Seorang yang tidak berbakat jadi apa-apa
pontang-panting mengurusi nasibnya sendiri
dipungli di setiap meja pelayanan
diperas di setiap belokan jalan
akhirnya diamankan dalam plastik sampah
hanyut di laut utara.


SURAT UNTUK SEBUAH KOTA

jangan pernah kau lupakan, kota
di suatu ketika, pada suatu masa
pernah dilubukmu tertabur kutuk celaka
oleh pitam dan benci, kejam dan keji

di suatu ketika
ada yang diculik subuh, tak pulang kembali
ada pula yang dibidik ahli,
rubuh tergeletak mati

di suatu ketika
ada yang dibakar paksa, hangus tak terkenali
ada yang terkapar diperkosa,
berganti berkali

di suatu ketika
ada yang dirampok orang banyak sekali
ada yang digorok parang,
berkelojot mendelik bagaikan sapi

di suatu ketika
ada yang berlari dari tubuh sendiri
ada yang mencari liang sembunyi,
malam tanpa pagi akhiri mimpi

ya, di suatu ketika pada suatu masa
dari rahimmu yang purba
telah lahir raksasa kerdil
dengan ambisi membuta

dan dari genangan lendir ari
muncul berlari para perencana bencana
penghasut keji dan penyulut api
para perampok dan pemerkosa

mereka berpesta pora dengan sentosa
berlaku aniaya dan semena
mereka merampok dan memerkosa
semata untuk unjuk kuasa

jangan pernah kau lupakan, kota
meski gedung-gedungmu terus tumbuh berjulangan
meski jalan-jalanmu bertambah bersilangan
dan malam-malammu makin semarak berwarna

jangan pernah kau lupakan
yang mati sudah tentu tak kan hidup lagi
yang membunuh akan rindu untuk membunuh lagi
tetapi engkau, akankah tetap membisu tuli?


HIKAYAT RAKYAT

Negara-negara berdiri dan rubuh lalu mati
Para pemimpin diangkat dan jatuh berganti
Namun rakyat akan tetap abadi
Karena demikian adanya: ia adalah bumi
Padanya dicampakkan sampah dan polusi
Namun darinya tumbuh rumpun melati

Konon, Suara rakyat adalah firman, sabda orang bijak
Dan tangan tuhan berpihak pada orang banyak
Tetapi kenapa rakyat harus menjerit hingga serak
Hanya untuk kenaikan upah beberapa perak
Dan ketika mereka terpaksa turun bergerak
Herder siap menguber, seniper siaga menembak

Pernah seorang gubernur di Maluku Utara
Terpaksa diungsikan oleh para tentara
Karena ditolak sengit rakyatnya
Sementara di Bandung sana
Gedung dewan oleh polisi harus dijaga
Karena dikepung oleh rakyat yang murka

Jika benar para pemimpin mendapat mandat
Dari mereka yang dipandang rakyat
Dan anggota-anggota dewan diangkat
Demi dan atas nama mereka yang disebut rakyat
Lantas mengapa mereka memohon pada aparat
Untuk dilindungi dari yang bernama rakyat

Dan yang lebih membuat geli
Para pemimpin negeri
Setelah selesai diambil janji
Memilih mengunjungi orang mati
Atau mereka-reka arah mimpi
Daripada mendengarkan rakyat sendiri


GEDUNG BINATANG

Kotaku penuh gedung-gedung megah
dan kantor-kantor gagah
yang berdiri di atas tumpukan bangkai

batanya adalah batok-batok kepala,
penyangganya tiang-tiang belulang,
yang dipoles dengan darah dan air mata

di dalamnya penuh dengan
tikus-tikus bersafari, anjing-anjing berseragam,
dan babi-babi berdasi,

yang berkeliaran dan buang air di mana-mana,
menyeringai bijak dan menggeram ramah,
mengunyah dan muntah tanpa henti

setiap kali engkau melintasinya
dari balik terali akan kau dengarkan mereka
mencicit, menyalak, dan mengendusmu

berhati-hatilah,
kosongkan isi kantongmu
sebelum memasukinya.


PAMFLET PEGAWAI NEGERI

aku melihat kantor-kantor pemerintahan
sebagian besar dipenuhi mereka yang tidak kompeten
yang diangkat hanya karena kekeluargaan atau sogokan

mereka diberi makan bertahun-tahun
dan setelah tua dijamin pensiun
namun kerjanya ngopi dan ngegosip

dan bila diminta memberi pelayanan
yang memang merupakan tugas mereka
mereka merengut bersungut-sungut menggerutu

berdalih betapa beratnya beban kerja
dan ujung-ujungnya minta uang
tanpa rasa malu

mereka mengeluh akan kecilnya gaji
dan sulitnya hidup s’bagai pegawai negeri
sungguh penipu dan pendusta

buah jambu ditongkrongi ulat bulu
sudah tahu begitu dari dulu
kok tetap mau

mengapa dahulu
sampai merengek-rengek dan nyogok
hanya agar dapat diterima dan diangkat

masalahnya adalah niat buruk serta keserakahan
yang bercokol sejak permulaan
dan akhirnya dipandang sebagai kewajaran

kalau memang berniat baik
mestinya konsisten pada jalannya
dan konsekuen menerima akibatnya

jadi abdi jangan mimpi berlebihan
gaji pas-pasan napas ngos-ngosan
itu sudah risiko suratan

dan kalau memang tidak serakah
maka seharusnya kana-ah
agar hidup tenang penuh berkah

jangan malah menganiaya sesama orang kecil
hak mereka yang kau tahan dan makan
akan jadi api menembusi setiap pori-porimu

juga jangan berharap rezeki seperti pengusaha
hingga usia habis untuk mengemis dan menjilat
hanya demi mengumpulkan komisi dan upeti

ooo, betapa kantor-kantor penuh sesak
dengan calo, preman, dan pengemis
yang dipelihara dan dimanjakan oleh negara

yang tak kenal sikap jiwa profesional
menolak sistem kerja yang rasional
merasa nyaman dengan kemalasan

mereka menentang atasan formal
dan lebih tunduk kepada sang cantolan
yang dahulu mengumpulkan dan meneteki

mereka melahirkan aturan-aturan
lalu seperti badut-badut sirkus
mereka ramai-ramai berjumpalitan di atasnya

dan dengan dalih saling mengerti
mereka lebih setia pada perkoncoan
daripada prosedur resmi yang digariskan

air dari mata air mungkin dapat keruh
namun akan suci kembali
ketika sampai di lautan

namun air comberan
dalam selokan yang macet
selamanya tetaplah air comberan

orang yang tetap sama
demi memenuhi tuntutan reformasi
mesti dipaksa memakai seragam berbeda

betapa kikuk tindak tanduknya
seragam dan tata tertib baru
sungguh tak sejalan dengan tabiat nalurinya

sistem perekrutan yang amburadul
telah berhasil mendudukkan tuyul-tuyul
dan maling-maling kecil di atas kursi

dan jika mahluk-mahluk kerdil ini
kelak dapat giliran jadi petinggi negeri
akankah mereka berhenti berpolitik balas budi?

ya, ya, ya, aku tahu
engkau tentu mual
membaca sajak ini

tetapi sopan santun
serta basa-basi
telah gagal menyadarkan

semoga ini didengarkan
karena yang tuli, buta, dan tak berakal
itu lebih hina dari hewan melata

inilah sajakku yang kutulis penuh rasa muak
setelah mendengar cerita penderitaan kawan
yang pontang-panting cari pinjaman

dan terancam keluar dari kamar kontrakan
demi bayar sogokan
untuk memperlancar urusan

sementara kenalan yang lain
tunjangannya selama sebulan
dirampok orang kepegawaian.


TERPAKSA

maafkan kalau aku jadi nyinyir
sejak kau bisu
aku terpaksa berbicara bagimu

maafkan kalau aku jadi cengeng
sejak kau beku
aku harus terharu buatmu

dan maafkan kalau aku jadi liar
sejak kau batu
aku mesti menari untukmu

· Disyairkan dari sebuah anekdot Ethopia anonim.
·) Tibum = Ketertiban Umum
·) Seorang wanita pimpinan Partai Persatuan Bangsa, salah satu partai politik Austalia. Partai yang dipimpinnya bukanlah termasuk partai besar namun namanya cukup populer dan mengundang kontroversi karena gagasan-gagasannya yang berbau rasialisme.
· Sajak ini mula-mula ditulis sebagai anekdot oleh penyairnya dan dimuat di Rubrik Senggang, Koran Tempo hari minggu sekitar 2002-2003.