Saturday, August 05, 2006

DISEBABKAN OLEH TELEVISI (dari arsip sajak lama)

PENGAKUAN SEORANG PEMIRSA TV

mungkin tetangga sebelah rumah
sudah merasa bersukur bisa makan sekali sehari
barangkali bocah kecil yang duduk di sampingku ini
diam-diam gemar menghirup lem dan uap bensin
siapa tahu mana kutahu
(tetapi sepertinya mereka baik-baik saja
walau kami memang tak banyak waktu
untuk saling menyapa apalagi bicara)
yang pasti, aku sungguh terharu
melihat tayangan tentang kelaparan di somalia sana
dan bergidik ngeri oleh keliaran remaja metropolitan dunia
yang semakin menggila di layar televisi kita.



DI DEPAN TELEVISI

Ia tak pernah merasa
bahwa mulutnya berbau
(dan itu mengganggu)
--sehingga ia seharusnya malu--
sampai menonton iklan penyegar itu.
Ia tak pernah mengira
bahwa tubuhnya kegemukan
(dan itu berbahaya)
--sehingga ia seharusnya takut--
sampai menonton iklan pelangsing itu.

Ya, ia tak pernah menyangka
bahwa gayanya sungguh udik
dan hidupnya ternyata tidak
bahagia--sebagaimana yang telah telanjur
ia percayai selama ini--dan bahwa keluarganya
jauh dari sempurna (tawa pasangan dan anak-anaknya
sekian lama, pastilah pura-pura), sampai ia
menonton rangkaian iklan itu.

Sampai ia mencicilnya,
kami juga tak pernah menduga
bahwa ia berani-beraninya mati seperti ini,
dengan menggantung diri di hadapannya,
televisi itu.


CERITA KELUARGA

Seperti biasa
kami berkumpul di ruang keluarga
setelah santap malam yang bahagia.
Dan seperti biasanya juga
tanpa permisi dan basa-basi
televisi menghadirkan promosi
iklan cairan untuk memperkuat
dan mengharumkan alat kelamin
serta obat yang dapat membuat
warna organ vital kewanitaan
segar kemerahan.

Ayah nampak agak jengah
berlagak tak melihat & tak mendengar.
Ibu sedikit tersipu namun berpura-pura
sibuk dengan jahitannya.
Aku, tentu saja merasa senang
melihat visualisasinya
yang norak dan lugu itu.
Sedangkan si bungsu
merengek-rengek minta dibelikan satu.


KEAJAIBAN TEKNOLOGI TELEKOMUNIKASI-TRANSPORTASI

1.
Keluarga kami sangatlah harmonis
saban malam di depan tivi duduk manis
tanpa percakapan, asyik dengan khayalan
kakak mimpi jadi jagoan, adik bintang iklan.

2.
Aku dan pacarku tinggal sekampung
hingga pembangunan jalan tol rampung;
jalan bebas hambatan penghubung dua kota
justru jadi penghalang bagi aku dan dia.

3.
Akhirnya kita sempat juga duduk berduaan
di hadapan, di atas meja, tersaji hangat hidangan;
namun masing-masing asik dengan henpon di tangan
aku terima dari Jepang, kamu dari Jerman.

4.
Tak perlu lagi pintu belakang atau lewat jendela
setiap kali kami kangen ingin berjumpa;
lewat pesan singkat atau obrolan komputer
kami ganas bercumbu, meski di sebelah ada Mas Her.

5.
Bagaimanapun juga, tiada pengganti percakapan
dua orang saling bertatap muka, duduk berhadapan
tiada distorsi pada suara, dipertegas bahasa tubuh
bau, aura, dan gelombang mereka pun saling sentuh.

6.
Dalam surat elektronik yang segera tiba siang ini
tak kutemukan debar dada yang merana menanti;
juga tiada getar goresan jemari penuh arti,
sisa titik air mata, dan jejak parfummu mewangi.


SAJAK-SAJAK DARI DEPAN TELEVISI

1.
sepertiga malam terakhir saatnya
disingkap takbir. Mendekatlah, menderaslah
daras adu dan doa. bertabur cinta dalam rahasia

tetapi di saluran nasional ada arifin dan emha
juga eko dan ulfa. Mereka sinyal yang juga gaib
namun mewujud ajaib di layar kaca

di ujung sahur, di jelang subuh, di terbit surya
ia terus memikat, terus mengikat
dengan sulur-sulur acara--di waktu wingit untuk wirid

2.
kebenaran dan fakta dalam 60 detik
argumentasi beradu berdesakan dengan
plot acara dan slot advertensi

siraman ruhani dalam 60 detik
jejak wali dijepit goyangan penyanyi kampung
yang melejit jadi ratu panggung

bagaimana memilih ketika sebenarnya aku telah
dipilih segmen rating dan waktu tayang utama
aku market yang dididik, target yang dibidik

3.
listrik. pada mulanya sederhana. seperti jalan.
ada jenius penemu. ada karya intelektual
yang ternyata bernilai jual. dan mahal.

maka jaringan disebar, alat-alat baru ditebar
beranak bercucu bercicit. cahaya menjalar membakar
kamar-kamar. ada yang tersamar: jalan hidup

dan ketika mendadak padam
kita malah berpikir menambah daya
bukannya memecahkan bola lampu


INTERLUDE

ketika firman suci
dan sabda nabi
terjepit rating tivi
dan bising advertensi

ketika hikmah sufi
dan petuah wali
terhimpit pasta gigi
dan minyak oli

bersabarlah, Tuhan kami,
jangan dulu beranjak pergi
biar yang satu ini
bisa lewat tanpa permisi

No comments: