Saturday, August 05, 2006

DI KELOK KELAM JALAN NAUGHTON AVENUE ITU

Di kelok kelam jalan Naughton Avenue itu
Hawa dingin bergulung sunyi membungkusku
Maka kenangan pun mendadak datang merubung
Dengan tangkas meringkus hatiku yang letih

Alangkah jauh langkah kaki telah diayun
Masih sukmaku nyangkut padamu
Seperti Lontar akarnya menjalar
Menggenggam lubuk jantungmu, Makassar

Kotaku yang jauh
Lewat angan lenganku mengulur
Untuk merengkuh pinggul panyingkulmu
Penuh rindu dan sedu tertahan

Lembut sarung sutra dan jemari pakkarena
Tajam badik dan gemuruh gandrang bulo
Garang ruap konro coto dan pallubasa
Gurih sedap sarabba dan goreng ubi

Gerombol tedong melenggang memotong jalan
Melangkah lamban menuju Pa’molongan
Di depan gembala melolongkan kelong lama
Serak paraunya berbaur lenguh dan bau

Copet memepet di Pasar Sentral
Biduan orgen tunggal asik megal megol
Perang panah anak preman Abubakar Lambogo
Ditingkahi spiker penjual obat dari Borneo

Markas tentara kentara dimana-mana
Gubuk gamacca punah dimakan api
Hentak ekstasi di Zigzag dan M-Klub
Alun Barasanji menyayup merdu

Orang gila dan pa’doja di simpang jalan
Eksekutif muda di panakkukang dan tanjung bunga
Makelar dan calo di warung tenda
Pejabat dan anggota dewan terbahak bersama

Meski semerbak arak tuakmu
Kini berganti bau memualkan dari mal-mal
Dan para pemimpin partai
Berlomba mewarnai tubuhmu tembaga

Makian jorok daeng becak dan mahasiswamu
Kini terngiang jenaka dan riang di telingaku
Walau pak polisimu rajin sembunyi di pojok jalan
Dan loket-loketmu ringan tangan menerima sogokan

Namun debu yang menyelimuti kemaraumu
Dan banjir yang melimpahi penghujanmu
Kini juga menyaput mataku
Menggenanginya dengan kesedihan

Tenteramlah engkau nun di sana
Di balik selat yang selalu bergelora
Semoga Karaengta’ selalu menjagamu
Dari segala cedera dan bencana

No comments: