Saturday, August 05, 2006

NEGERI MIMPI BURUK (dari arsip sajak lama)

(catatan puitik sekelumit peristiwa tragedi: aceh, timika, semanggi dan trisakti, mei, juli, reformasi, banyuwangi, ambon, dan lainnya)


SAJAK ZAMAN EDAN

Sembari memiringkan kepala
dan menjulingkan kedua biji mata,
mari kita pandangi dunia rombengan
yang oleng mengapung di comberan.

Dari rahim zaman yang gawat dan celaka
telah lahir generasi tanpa cawat dan celana.
Yang memainkan kelamin sembari tertawa lebar
dan menyapa kehampaan dengan begitu manis dan sabar.
Yang mengulum valium
dalam senyum ganjil dan mesum.
Yang menjadikan tuhan arca kusam
di sudut museum yang suram.
Yang telah melupakan sama sekali
apa yang terjadi kemarin hari.
Yang diombang-ambing gelombang bimbang
dan gamang bila menatap masa datang
namun masih saja mencaci maki hari ini.
Dan siang tadi
setelah memperkosa Ibu sendiri
mereka menyembelih Bapak yang tak bisa membela diri.

Maka kala malam turun merekapun berbaris menangis
histeris oleh siksa segala herpes aids dan sipilis.
Kemudian perlahan bergerak berjalan pergi
memenuhi lambaian tangan-tangan sepi.

Ibu, tak perlu malu dan memalingkan wajahmu.
Mereka itu, juga anak-anakmu.


SYAIR KEBEBASAN & KEMERDEKAAN

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah layang-layang,
diulur atau ditarik tergantung
taktik dan strategi pemegang benang.

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah boneka wayang,
dimainkan atau dimatikan terserah
suasana hati sang dalang.

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah teka-teki,
artinya tak pasti
menurut situasi dan kondisi.

Kemerdekaan dan kebebasan
adalah puisi
dalam kesamaran makna bahasa
masing orang merasa paling mengerti.


KUATRIN DULI TUAN KITA YANG MULIA & TULI·

Saat Duli Tuan Kita yang mulia lagi tuli lewat, rakyat sama berlutut
lalu sewaktu kepala mereka bersujud, seribu pantat pun turut kentut.
Sang Duli Tuan Kita yang mulia lagi tuli puas lihat rakyat penurut
menebar senyum lebar Ia, manggut-manggut dan mengelus janggut.


PANTUN-PANTUN 1996

1.
Ada semut memangku gajah,
ada hutan jadi tusuk gigi.
Kulihat Ibu Pertiwi bermuram durja
melati ditanam tumbuh belati.

2.
Ada pagar makan tanaman
ada kebun merimbun di ruang makan.
Kulihat kampus diserbu panser
dan para buruh diburu herder.

3.
Acara komedi kini tak laris lagi
para badut menangis tersedu di sudut.
Dagelan Bapak Tinggi Besar di televisi
jauh lebih yahud bikin semaput.

4.
Berbahaya , Nak, keluar malam
kata Pak Jaga berwajah seram.
Coba saja kalau situ tak percaya
nanti saya sikat baru tahu rasa.

5.
Banyak anjing gila berkeliaran di jalanan
Pak Dokter kini laku sekali.
Anjing-anjing gila dibiarkan berkeliaran
yang plihara Pak Dokter sendiri.

6.
Sang Bapak tak mau si anak baca buku
nanti banyak tahu lalu menuntut menggerutu.
Sang Bapak yakinkan bahwa ia belum dewasa,
si anak perlu selalu dijaga agar tetap tak dewasa.


NYANYI SUNYI HARI PROKLAMASI 1996

Langit senja
Gerimis sunyi
Ada bendera
Berkibar letih

Langit senja
Gerimis sunyi
Ada barisan
Berbalik pergi

Langit senja
Gerimis sunyi
Seorang Ibu
Menangis sendiri


DONGENG PENGANTAR TIDUR

Konon, pada suatu pagi di suatu tempat
matahari pernah terbit dari sebelah barat
keanehan ini menimbulkan panik hebat
dikalangan masyarakat dan birokrat.

Ada yang menganggapnya pertanda kiamat mendekat
dan bergegas memadati tempat-tempat ibadat.
Ada yang memandang sebagai alamat
bahwa ratu adil bakal datang bawa selamat.

Sementara itu, para tunanetra tenang-tenang saja
menurut mereka itu urusan orang-orang yang tidak buta
yang terbiasa melihat terbit sang surya di timur sana
dan menikmati tenggelamnya di barat kala senja.

Tetapi tetap saja tak ada alasan yang bisa diterima semua
untuk jadi dalil pegangan pendapat bersama
buat menjelaskan keganjilan fenomena alam raya
sampai ditemukan satu ide brilian dari walikota.

Maka dengan sebuah surat keputusan ditetapkan bahwa :
Ufuk tempat terbit matahari yang biasa
(yang dikenal sebagai ufuk timur), diganti namanya
menjadi ufuk barat saja, begitu pula sebaliknya.

Jadi matahari tetap saja terbit dari ufuk timur
sesuai dengan pemahaman sejak masa leluhur
tak perlu lagi ada silang pendapat yang serba kabur
semuanya dapat kembali tenang bekerja, makan, dan tidur.

Dan dengan resmi dinyatakan oleh walikota
bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi adanya
karenanya, tak perlu dicatat di dalam sejarah kota
dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.


TANGAN-TANGAN HIJAU

Tangan-tangan hijau
menghapus bianglala dari cakrawala
mencerabut bunga-bunga dari rimba raya
melumpuhkan kupu-kupu yang menggeletarkan sayapnya.

Tangan-tangan hijau
menghanguskan buku-buku dan catatan pustaka
menyilang sejumlah nama di daftar rahasia
menghilangkan potret wajah dari album keluarga.

Tangan-tangan hijau
membedah dada membelah kepala
merapikan mimpi-mimpi kala malam hari
menggeledah cita-cita di siang hari.

Tangan-tangan hijau
dengan cermat ketat mencatat
memantau merekam segala bunyi kicau
risau dan menggeram oleh setiap igau.

Tangan-tangan hijau
menjulur menyusup jauh
ke sudut-sudut tidurmu
semakin jauh dan kian dalam.


SAJAK-SAJAK TRAGEDI

1. Sajak Lampu Merah

Di bawah lampu merah yang menyala lama sekali
barisan panjang kendaraan berderet tak sabar menanti
maka dalam cuaca panas membara tanpa hawa
serentak sejuta klakson ganas meledak bersama.

2. Megatruh

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
menuju cakrawala senja
pulang ke tanah purba

dari Aceh Merdeka
hingga Timika Irian Jaya,
dari pelosok kampung-kampung kumuh
hingga pojok gedung-gedung kukuh

peluru yang tumpah
dan darah yang tercurah
akankah hanya akan kembali
terlupa dalam sunyi.

sekawanan burung hijau
terbang tinggalkan negeri rantau
penuh belukar luka pada sayapnya
penuh bunga duka pada matanya.

3. Lagu Perkabungan

Angin memucat dalam senja lembayung
pohonan tunduk berpayung mendung
kuntum dan putik berluruhan berpusing
dari ranting tua rapuh dan kering.

Tak ada kur kanak-kanak lantang bernyanyi
hanya sederet unggas terbang berarak sunyi
di cakrawala barisan ruh leluhur melambai menanti
memanggil jiwa yang letih pulang kembali.

Maka malamnya purnama pun bertudung
dan burung kelam bersenandung murung
setelah sekian nama hilang dan mati
esok pagi giliran siapa lagi.

4. Sajak Orang-Orang Kalah

Orang-orang yang kalah
tak punya apa-apa
tak bisa apa-apa.
Suara dan kata
bukan milik mereka
juga hak untuk memilih
dan bermimpi.

Mereka bukan pemerintah
yang punya kuasa dan titah,
bukan mahasiswa
yang ahli menganalisis dan beretorika,
bukan tentara
yang punya senjata dan penjara,
bukan aktivis lembaga swadaya
yang piawai mengorganisasi unjuk rasa,
dan tentu saja bukan kelas menengah
yang penuh tata krama dan tata bahasa.

Orang-orang yang kalah
hanya punya badan sendiri
hanya punya mulut, kaki, dan tangan sendiri.
Tetapi,
mulut yang telah lepuh oleh keluhan dan permohonan
ternyata juga terampil mengumpat mencaci,
kaki yang lincah berlari menghindari razia petugas tibum·)
ternyata juga tangkas menyepak dan menendang,
tangan yang biasa tengadah dan mengais-ngais sampah sisa
ternyata juga jitu melempar batu serta memainkan belati baja.

Maka orang-orang kalah
lalu berunjuk rasa dengan badan mereka sendiri
untuk menunjukkan bahwa mereka nyata
dan bukan fenomena sosial semata,
bukan hanya angka
dalam data statistik kemiskinan.
Tanpa membentangkan spanduk serta mengajukan petisi
tanpa peduli apakah ada pihak ketiga menunggangi
dari lorong-lorong kumuh dan mesum,
dari gorong-gorong pengap bawah tanah.
mereka berhamburan ke jalan-jalan raya
Mereka menghamburkan serapah dan makian
mereka mencabut rambu-rambu,
mereka memungut batu
dan menyulut api.
Maka Jakartapun
menyala.

5. Surat Cinta Buat Meilani

Kamu telah merubah nama,
tetapi siapa yang bisa
menyembunyikan sendiri tubuhnya !

Ya, aku telah mengenalmu
sejak sekolah menengah dulu.
Aku mengajarkan bahasa dan sejarah kepadamu,

kamu memberi contekan matematika dan akuntansi.
Tetapi kita baru tersadar kini
ada jarak -- biar hanya setipis kulit sendiri --

yang memisahkan kita
hingga sejauh dua benua
dan dua wilayah waktu berbeda.

Adakah kau temukan juga salju,
taburan kapas di atas hamparan beledu ,
ganti panas kemarau dan kepulan debu ?

Padahal dulu tak kita pusingkan
karena tak punya kepentingan
dan beban kenangan.

Yang lantas menjelma semacam stigma trauma :
bekas luka yang nyerinya belum lepas terlupa
terasa tiap hawa dingin menimpa.

Bukankah pernah kita rasakan getar yang lebih purba
menjalar menghentak ketika tergeletak berdua
saat pori-pori kulitku mengecup pori-porimu begitu lekatnya.

Kupu-kupu beku di kelopak batu
sepasang sayapnya lumpuh
menempuh cuaca tak lagi mampu.

Tubuhmu dan tubuhku ternyata
cuma kenal satu bahasa
butuh damba dan dahaga yang sama !

Sekarang kamu bawa tubuhmu lari nyebrang samudera ke Australi
-- negeri yang kukenal hanya lewat serial cerita televisi dan berita koran pagi
tentang Pauline Hanson·) . Kapan kamu kembali ?

Aku tak perlu malu
mengaku selalu tersedu
bila tak berdaya kangen sama kamu.

6. Ruwatan Sembilan Delapan
(lirik untuk lagu)

Mega mendung menutup matahari
hawa angkara menutup matahati.
Iri dengki dan dendam benci
adalah neraka dalam dada ini.

Seperti air membanjiri desa
begitu api menjalari kota.
Seperti ular merayapi belukar belantara
begitu curiga menulari benak kepala.

Dari atas dan bawah siksa membara
di sekeliling pertikaian seru menyala.
Lapar dan takut jadi pakaian busana
menyelubungi segenap raga dan sukma.

Bumi kami bumi yang tandus
hati kami hati yang hangus.
Mendamba angin sejuk berembus
menanti hujan turun dari firdaus.

Darah telah dicurahkan
nyawa telah disembahkan.
Di altar telah dibakar korban
kini tinggal sesalan dan harapan.

Sebelum fajar menempuh malam
rimba terbakar semusimpun padam.
Bibit benih tersisa masih terpendam
menanti bersemi dari rahim alam.

7. Mencari Ibu

Ibu, Ibu, Ibu, di manakah kamu.
Telah beratus tahun kami lelah menunggu.
Ibu, Ibu, mengapa meninggalkan kami, Ibu.
Di jendela rumah piatu, berjuta wajah hanya termangu.

Mulut kami gagap, mata kami nanap, mencari.
Kami harus belajar mengenali kembali
wajah sendiri. Mencoba mengeja lagi
abjad yang menyusun nama sendiri.

Setelah aum yang memenuhi kota
setelah dentum mewarnai cakrawala
setelah moncong menyalak membuta
setelah semuanya menjadi tak berharga.

8. Bangsaku Terus Berjalan

Bangsaku terus berjalan
terhuyung dan sempoyongan
badan penuh luka tikam sejarah
kenangan penuh air mata dan darah.

Coba dipendamnya berlaksa dendam kelam
coba dilupanya beribu liang duka hitam
merah padam membasuh pucat wajahnya
beling dan senyuman dikulum bersama.

Bangsaku terus berjalan
terhuyung dan sempoyongan
nanar matanya gemetar langkahnya
menatap cakrawala alangkah jauhnya.


BAGI YANG MATI DI SEMANGGI

Sebutir peluru tajam menghunjamkan malam di pelupukmu.
Darah tercurah dari tubuh yang rubuh
menyiram kaki beton semanggi.Tetapi
tak akan tumbuh bunga esok hari di situ.
Dara kecil biar termangu mencarinya nanti.
Juga kupu-kupu. Tidak ada air mata. Namun
benakku menjelma radio larut (yang dahulu
biasa menemani anak muda itu melamunkan kekasihnya
hingga pukul tiga pagi), tergeletak di atas meja sendiri berteriak-teriak
serak memanggil gelombang dalam gulita. Seperti bendera
ditinggalkan angin. Bagaikan lagu kebangsaan
dilupakan kelompok paduan suara. Untuk apa.
Gerimis masih di jendela
terus menulis namamu, menyanyikan cinta
terkandaskan dari dadamu yang rekah
oleh keping timah.
Aku mungkin akan segera melupakanmu.
Aku tak pernah ada
di sana. Tidak pernah
ada. Tidak ...


ANGIN HITAM

Angin hitam bergelung menghembus datang
seribu kepala mekar lalu berguguran
terhambur jatuh memutuskan kenangan
dari seribu tubuh yang tinggal ranting sepi.

Angin hitam bergelung menghembus lalu
segalanyapun senyap bagai semula
tanpa jejak untuk dilacak
tanpa catatan untuk kenangan.

Angin hitam terus bergelung menghembus
beralih dari pohon ke pohon
berpindah dari hutan ke hutan
mengembara dari benua ke benua.

Angin hitam bergelung menghembus datang
angin hitam bergelung menghembus lalu
angin hitam terus bergelung menghembus
menyentuh maut di setiap jamahannya.


PURGATORI
Ada yang bersuci dengan air telaga
ada yang dengan kucuran peluhnya
ada yang bersuci dengan air mata
ada yang dengan curahan darah
dan api yang bernyala-nyala.

Maka ditepi sungai merah yang membelah lebar kota
7.000.000 lelaki kerdil berkepala gundul
duduk mencangkung meratap dan meraung
sementara langit makin hitam saja,
sementara langit makin hitam saja.


FRAGMEN IBU DAN ANAK

Ibu itu bukan perempuan yang melepaskan
bayinya hanyut di Sungai Nil beribu tahun lalu;
ia hanya gigil kecemasan yang menatap
anaknya perlahan larut hilang ditelan
belukar jalan-jalan kota yang hari itu
dipenuhi desis ular dan auman serigala.

Ia sengit berkata ; “Ia hanya pamit bermain
sebentar saja, seperti biasanya dulu!
Ia begitu manis dan manja padaku,
Bukan sejenis…” tetapi gelegar itu
dan hingar televisi setelahnya
mengabarkan lain.

“Cahaya mataku sirna padambiarkan selembar seragamnya menyaput kabut ini
walau mungkin
ia memang tak akan kembali lagi…”

(Anak itu tentu saja bukan Musa yang melawan perkasaatau Yusuf yang bertahan perjaka. Ia hanya mahasiswa tingkat tiga
yang memang sekarang lebih banyak turun ke jalan raya
bersama teman-temannya, membawa spanduk dan pamflet,
yang juga kangen dengan pacarnya yang belakangan sering alpa …)


MARS MAHASISWA BARU

o ibu dan ayah, selamat pagi
kami ke semanggi berdemonstrasi
revolusi tanpa henti sampai mati
begitu kata kakak senior kami

ibu ayah janganlah bersedih hati
kami hanya minta harga-harga tak dibiarkan meninggi
dan agar rakyat biasa tidak ditembaki lagi
dan kalau bisa pemimpinnya diganti kembali

ibu ayah janganlah menanti
jika kami tak pulang esok hari
jangan dicari jangan pula ditangisi
tak usahlah sibuk membentuk tim komisi

o ibu dan ayah, kini kami pergi
revolusi sampai mati begitu kata senior kami
dan bila telah tercapai tujuan revolusi nanti
biar yang masih hidup ganti menduduki kursi


IBU PERTIWI 1999

Aku melihat Ibu Pertiwi
sedang berduka hati.
Darah anak-anaknya
tumpah menggenang.
Emas intannya hilang
dirampok orang.

Hutannya hangus, gunungnya tandus,
sawahnya rengkah, lautnya susut.
Simpanan kekayaan
telah habis digadaikan.
Kini ibu sedang lara
Terhina dan tak berdaya.


DOA BAGI INDONESIA
- dalam 3 waktu

I.
Di dalam malam yang pekat tebal,
Diselubungi selimut keamanan yang mencekam
Dan kelengangan yang menegangkan,
Sengal kubisikkan harap yang sembab
Kepadamu :

Curahkanlah hujan
Untuk memadamkan api yang merebak di ladang
Dan guyurkanlah tidur
Untuk memejamkan mata yang membelalak nyalang
Agar terkulai membuka
Tangan kami yang tegak mengepal tegang.

Leraikan dan damaikanlah hati kami
Jangan ceraikan jemari kami
Dan kain yang ditenun bunda
Kiranya tak diberaikan.
Jangan biarkan kami bertanding
Tetapi ajarkan kami bersanding.

Beri kami kekuatan –
Bukan untuk saling menjagal,
Tetapi untuk saling menjaga.
Beri kami daya kritis –
Bukan untuk saling menuntut
Tetapi untuk saling menuntun.
Dan beri kami hikmah –
Bukan untuk saling menghakimi
Tetapi untuk saling memahami.

Jangan diamkan kami saling menjegal
Tetapi bimbing kami
Agar bisa berlomba-lomba bersama
Mengejar ujung helai kerudung biru cintamu.

II.
Di tengah fajar yang sedang mekar perlahan
Bersama mulut-mulut mungil bunga-bunga mawar dan kantil
Yang merekah memuji namamu,
Bercahayalah rahmatmu yang kekal menyinar
Menerangi pandangan kami yang nanar.

Kami mengaku :
Setiap kali amuk badai tiba
Hanyalah padamu kami tengadah meminta.
Dan setiap kecamuk mereda
Kerap pula kami bersuka hingga melupa.
Ya, kami memang senantiasa tergesa-gesa
Tetapi sering pula menyesali diri sendiri.

III.
Di bawah terik mentari siang yang memanggang
Masih tetap kubisikkan harap
Yang mengendap-endap
Dari ruang kamarku yang sempit pengap
Lalu melayang dan melenyap
ditelan gulungan gelombang asap.

Semoga doa yang tersisa ini
Selamat hingga tiba di hadiratmu,
Tak terperangkap oleh jerat para penangkap,
Tak tersesat hangus sia-sia
Di antara belantara kota yang membara,
Di tengah huru-hara jalan raya,
Di luar sana.

Amin.


RINTIH CUCU IBRAHIM

Ketika para pendeta dan ulama
Menjelma tukang catut surga
Dan para pengkhutbah penceramah
Jadi penghasut penuh amarah

Ketika orang-orang menjerit
Dari tiap corong menara mesjid
Dan dentang genta gereja
Menyebarkan amar siaga

Ketika namamu yang baik indah
Dipekikkan hingga kami panik gundah
Dan alunan firman-firman suci
Jadi sampiran bagi caci maki

Kepada siapakah lagi Tuhan sayang
Kami mencari teduh dan tenang
Dimanakah lagi kaki-kaki yang lelah
Lepas dari pelarian, menemukan istirah

Sedang pintu-pintu rumahmu di bumi
Telah dikunci rapat dengan rasa benci
Dipagari tinggi dengan angkuh bangga
Dan dijaga ketat oleh prasangka curiga

Kemanakah lagi Tuhan sayang
Kami melabuhkan jiwa yang gamang
Bimbang arah perjalanan kami
Bimbinglah menuju kemahmu kembali


NINA BOBO BAGI ANAKKU

Tidurlah anakku, tidurlah
Terang cahaya bara di cakrawala sana
Bukan terbit dari kebakaran besar di kota
Itu datang dari parade lilin dan pesta lampion
Menyambut lahirnya sang juru selamat dunia

Tidurlah anakku, tidurlah
Gelegar yang terdengar itu
Bukan ledakan bom serta rentetan senapang
Itu bunyi letusan mercon dan petasan
Menyambut lebaran fitri esok pagi

Tidurlah anakku, tidurlah
Raung menggaung dan pekik menggemuruh itu
Bukan erang sirene dan seru perkelahian di jalan-jalan
Itu lengking terompet serta sorak sorai peserta pawai
Menyambut datangnya tahun yang baru

Tidurlah anakku, tidurlah lelap
Teruslah bermimpi sementara kami harus bergegas
Membereskan serakan bangkai hangus,
Menyapu tebaran pecahan beling kaca,
Dan menyingkirkan gundukan puing-puing kota.


ACANG DAN OBET

dulu katong sama
panjat batang pohon kelapa
kini katong baku penggal kepala

dulu katong sama
bakar cakalang di pinggir pantai
sekarang baku bakar hunian

dulu katong sama
petik gitar dan nyanyi-nyanyi
kini ganti jerit pilu pekik serbu

jadi baku buru
karena nama dia obet
sedang beta acang


BALADA PAK KRAYAT

Pak Krayat, Pak Krayat, O, Pak Krayat
Alangkah sabar dan penuh maafnya kamu

Aku tahu kamu telah ditipu dan dikerjai berkali-kali
Sementara engkau menggadaikan diri kepada pemberi kerja
untuk upah yang akan segera habis kurang dari dua minggu,
Engkau diledek habis-habisan oleh kenaikan harga dan aneka pungutan,
oleh iklan-iklan gemerlapan, oleh kuis berhadiah jutaan rupiah
dengan pertanyaan remeh yang melecehkan akal sehatmu,
dan oleh gaya hidup para pejabat serta wakil rakyat
yang bukan main ajaib anehnya.
Tetapi, kamu tetap mampu tersenyum, meski kecut,
sembari mengurut dadamu yang ringkih.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat.
Berapa dalamnya samudera kesabaranmu,
Berapa tingginya langit pemaafanmu?

Meski Sang Ekonom yang logis dan empiris dengan wajah dingin
menggunting separuh dari secarik uangmu lusuh
tahun demi tahun, karena tahu dan yakin
engkau toh pasti masih akan sanggup
bertahan hidup, bagaimanapun juga caranya,
Meski Sang Perencana Kota penuh antusias
merancang peta yang akan menyingkirkanmu
demi jalan-jalan layang yang tak akan kau lalui,
demi pemukiman mewah yang memasang palang dan satpam
di gerbang masuknya untuk menghadangmu,
dan demi mal megah yang gemerlap lampu-lampunya saja
telah mampu membuatmu gelagapan,
Meski para pelayan masyarakat semakin galak memalakmu
dan aparat keamanan kian giat berlatih
untuk menyasarkan peluru menembus jidatmu,
Namun engkau tetap siap sedia untuk mati
sebagai relawan demi membela negara
yang tak pernah sungguh-sungguh membelamu.

Pak Krayat, Pak Krayat, O Pak Krayat
Kesabaranmu lebih keras dari bukit cadas,
Pemaafanmu lebih luas dari samudera.

Walau mimpi adil makmur harus kau bawa
hingga ke liang kubur,
Di hari Senin pagi ini, kamu masih menyempatkan berhenti
dan berusaha berdiri tegak, meski gemetar
menahan nyeri lutut oleh rematik akut
Ketika di halaman upacara sebuah sekolah dasar
yang hampir runtuh atapnya,
Lagu Indonesia Raya dinyanyikan sayup sayu
dan Sang Saka dinaikkan perlahan
dengan merahnya yang ketakuttakutan
dan putih yang kebisubisuan.


PERTEMUAN DI SEMINAR

Hai, Nona
Bukankah Anda Virginia?
Kita pernah berjumpa
--kalau tak salah, di Wina,
atau Praha—entahlah,
aku agak lupa
kapan dan dimananya.

Yang jelas bertempat di salah satu seminar.
Remember, kita sempat bertengkar
sampai tarik urat leher
karena kau nyerocos bicara soal hak asasi
dan aku cuma bilang : “You’re so sexy.
Let’s spend the night together!”

Kau membelalakkan matamu yang hijau sejenak
Namun nganga mulutmu membuatku kian konak.
Akhirnya, malam itu kita bersama juga.
Tergeletak di ranjang, berbincang dan tertawa.
Bersama dalam kamar sewa
yang kubayar dengan duit beasiswa.

Kau bilang aku terlalu kurang ajar
untuk mengaku orang Asia.
Tentu, kau benar.
Maka ajarilah si lancang ini
memahami rahasia tubuhmu yang telanjang.

Diamput!
Sungguh suatu pengalaman maut
yang mampu membuatku semaput lunglai
hingga tak kuasa lagi menyahut
ketika kamu bangkit dari lantai
lalu mengenakan pakaianmu dengan santai
and saying goodbye.

Bukankah Anda Virginia?
Kita pernah berjumpa
--kalau tak salah, di Wina,
atau Praha—entahlah,
aku agak lupa
tempat dan saatnya.

Tak apa, Baby
kalau kau tak ingat lagi.
I can understand that.
Untuk kalian, orang barat,
It is not more than a one night stand.
Tetapi buat aku yang timur :
Mana tahan !

So, kapan berwisata ke negeriku ?
Kalau you bosan habis karena diuber winter,
please, come and have an adventure
Berenang-renang di laut peluhnya,
mengarungi sungai darahnya
dengan segala jeram jeritnya.
Kemudian kita bisa bersampan dengan tenang
di telaga air matanya yang menggenang.
Atau mendaki gunung-gunung puing yang tinggi
dan mendatangi bukit-bukit bangkainya.

And after that,
kita dapat menikmati
lezatnya air dan daging buah kepala
yang disedot disendok
langsung dari tempurung pecahnya.
Ups ! I mean : KELAPA, buah nusantara.
Bukan kepala.
Coco Nucifera. Coconut. Right !
Ah, you really made me nut
That night !

What ?
You’re not Virginia?But…
I’m so sorry. Aih, malunya !
I can’t think
clearly…
May be because the drink
at the cocktail party.
My name is Hendra. Not W.S Rendra.
And yours?Viagra?
Ooo, Viaraaa.
Indonesia? Indonesia, ha !
Blasteran sunda-cekoloswakia !
Jakarta ! Jatinegara!
Kalau begitu kita bertetangga !
Dari LSM mana ? Pinjam makalahnya yaaa.
Tak masalah kan ?
Mmm, Jeng, eh, Mbak
datang sendiri ?
Sehabis sesi ini
yok, cari taksi.


DOA MENJELANG PEMILU 2004

Inilah negara sirkus, negara taman safari
penuh berisi babi-babi berdasi,
tikus-tikus berbaju dinas dan
bajing-bajing bersafari
penuh musang-musang berjubah,
anjing-anjing berseragam
dan gerombolan bebek berbungkus armani
yang menetas 5 tahun sekali.

Inilah negara gosip dan bualan
negara mimpi paling absurd
tempat pungli dilakukan
oleh para calo, preman, dan pengemis
sembari ongkang-ongkang kaki
di tepi-tepi jalan, di kantor-kantor pelayanan
di istana-istana dan balai pertemuan
tempat hukum dan peraturan
ditulis berjilid-jilid untuk dilupakan
sedangkan lembaga-lembaga didirikan.
sekedar sebagai pelengkap dagelan.

Inilah negara dengan isi perut bumi berlimpah
namun rakyatnya makan sampah
kaya alamnya, besar penghuninya
namun paling korup dan primitif
dengan pemerintah yang bejat dan bebal
dan rakyat yang sontoloyo namun beringasan

Tuhanku,
betapa nikmatmu terbengkalai tersia-sia
di tangan para pembanyol dan peminta-minta
maka utuslah kembali cina mongol dan spanyol,
inggris dan portugis, juga belanda dan jepang
untuk menjajah negeri kami lagi ganti berganti
biar aparat serta kaki tangannya ditaklukkan
lalu dikirim kerja paksa di gurun sahara sana

Sedangkan kami, kami bersedia
jadi hamba sahaya saja
yang bangga dan bahagia.


VISI HARI KEBANGKITAN·

di hari kiamat
umat manusia bangkit
berkelompok-kelompok

mulai dari animis hingga atheis
dari politheis hingga monotheis
juga yang skpetis dan agnostis

masing-masing kelompok
akan berarak mengusung spanduk
dan memekikkan yel-yel mereka

begitulah, mereka berbaris
penuh percaya diri, menuju gerbang surga
yang berhias umbul-umbul selamat datang

sesampainya di depan surga
malaikat penjaga surga menjemput masuk
spanduk-spanduk yang mereka usung

dan mempersilakan rombongan pawai
belok kiri lalu lurus
terus menuju kobaran api


SEBUAH FABEL

bila serigala bertahta di rimba raya
maka rubah, musang, dan anjing
akan berkuasa
dan tikus-tikus berpesta pora

sedangkan kancil dan kelinci
mesti tahu diri


LEBIH DARI

lebih tragis dari tragedi
lebih konyol dari banyolan
lebih ajaib dari kegaiban
lebih meneror dari horor
adalah negerimu

dinegerimu
ribuan orang bisa hilang atau mati
tanpa pernah ditahu dimana kuburnya
dan siapa sebenarnya yang melakukannya
di negerimu
triliunan uang bisa melayang
lenyap bagai asap tanpa pernah terlacak
siapa sebenarnya yang menghisapnya
di negerimu
gedung dan bendungan bisa runtuh
ketika baru diresmikan tanpa pernah terungkap
siapa sebenarnya yang menggerogotinya
di negerimu
bahkan hutan, bukit, gunung dan pulau
bisa habis sirna tanpa tersentuh
siapa yang menelannya

begitu banyak yang tak pernah jelas
begitu banyak yang tak pernah selesai
meski pola modusnya telah terang
pak polisi yang pilon hanya berkilah santai
sembari mengusap-usap kumis dan kantongnya yang tebal:
“ini kriminal murni jangan gegabah berkesimpulan
kami propesional, loh.”


HARI TERAKHIR MANTAN PRESIDEN

saat itu mendung menggulung
namun hujannya urung
kotapun tersekap dalam pengap
hawa gerah dan cakrawala sembab

begitu pula suasana hati
presiden yang terguling kini
dan dalam suram kamar istana
ia membaca sendiri suratan hidupnya:

dahulu aku agung jaya
kini tak ubahnya kaum paria
seolah aku sendiri
tak mengenali sosokku kini

persangkaan, ketenaran, kekuasaan
kekayaan dan juga tindakan
bahkan seragam serta badan ini
adalah tabir yang melapisi

yang menciptakan aku yang dikenal
pada halaman koran internasional
namun menutupi diri-sejatiku
dari aku

dan setelah semuanya tanggal
apakah lagi yang tersisa tinggal
selain tubuhku yang rapuh menua
berbalut piyama berwarna biru tua

dengan status tahanan kota
terpenjara di kamar istana
jauh dari orang-orang dekatku
dekat dengan musuh-musuhku

sementara di luar sana,
protes rakyatku terus membahana
seakan mereka telah melupakan
sanjungan yang dulu mereka berikan

kini kusendiri berdiri di depan cermin
dan tak bisa lagi berbuat lain
sukmaku yang asali
harus dapat kembali kukenali

agar tak tertutup bagiku pintu langit
terkutuk ngembara sebagai demit
harus kukuak topeng terakhir
tubuh buruk penuh gelambir

dengan satu sayatan pisau cukur ini
kuputuskan nadi di tangan kiri
semoga nampak pada cermin
wajahku hakiki. amin.


PEGAWAI HITAM, POLISI HITAM, TENTARA HITAM DAN ORANG HITAM

Seorang yang berbakat jadi calo
dipungut oleh negara
disalurkan ke instansi-instansi
diberi meja dan kursi untuk melongo
diberi gaji sampai mati
jadilah pegawai negeri.

Seorang yang berbakat jadi preman
ditampung oleh negara
diberi seragam dan sempritan
diberi borgol sungguhan
dan mobil bersirene kesetanan
jadilah polisi.

Seorang yang berbakat jadi pembunuh
dipelihara oleh negara
diberi lencana dan senjata
diberi makanan bergizi
dan latihan lari saban pagi
jadilah tentara.

Seorang yang tidak berbakat jadi apa-apa
pontang-panting mengurusi nasibnya sendiri
dipungli di setiap meja pelayanan
diperas di setiap belokan jalan
akhirnya diamankan dalam plastik sampah
hanyut di laut utara.


SURAT UNTUK SEBUAH KOTA

jangan pernah kau lupakan, kota
di suatu ketika, pada suatu masa
pernah dilubukmu tertabur kutuk celaka
oleh pitam dan benci, kejam dan keji

di suatu ketika
ada yang diculik subuh, tak pulang kembali
ada pula yang dibidik ahli,
rubuh tergeletak mati

di suatu ketika
ada yang dibakar paksa, hangus tak terkenali
ada yang terkapar diperkosa,
berganti berkali

di suatu ketika
ada yang dirampok orang banyak sekali
ada yang digorok parang,
berkelojot mendelik bagaikan sapi

di suatu ketika
ada yang berlari dari tubuh sendiri
ada yang mencari liang sembunyi,
malam tanpa pagi akhiri mimpi

ya, di suatu ketika pada suatu masa
dari rahimmu yang purba
telah lahir raksasa kerdil
dengan ambisi membuta

dan dari genangan lendir ari
muncul berlari para perencana bencana
penghasut keji dan penyulut api
para perampok dan pemerkosa

mereka berpesta pora dengan sentosa
berlaku aniaya dan semena
mereka merampok dan memerkosa
semata untuk unjuk kuasa

jangan pernah kau lupakan, kota
meski gedung-gedungmu terus tumbuh berjulangan
meski jalan-jalanmu bertambah bersilangan
dan malam-malammu makin semarak berwarna

jangan pernah kau lupakan
yang mati sudah tentu tak kan hidup lagi
yang membunuh akan rindu untuk membunuh lagi
tetapi engkau, akankah tetap membisu tuli?


HIKAYAT RAKYAT

Negara-negara berdiri dan rubuh lalu mati
Para pemimpin diangkat dan jatuh berganti
Namun rakyat akan tetap abadi
Karena demikian adanya: ia adalah bumi
Padanya dicampakkan sampah dan polusi
Namun darinya tumbuh rumpun melati

Konon, Suara rakyat adalah firman, sabda orang bijak
Dan tangan tuhan berpihak pada orang banyak
Tetapi kenapa rakyat harus menjerit hingga serak
Hanya untuk kenaikan upah beberapa perak
Dan ketika mereka terpaksa turun bergerak
Herder siap menguber, seniper siaga menembak

Pernah seorang gubernur di Maluku Utara
Terpaksa diungsikan oleh para tentara
Karena ditolak sengit rakyatnya
Sementara di Bandung sana
Gedung dewan oleh polisi harus dijaga
Karena dikepung oleh rakyat yang murka

Jika benar para pemimpin mendapat mandat
Dari mereka yang dipandang rakyat
Dan anggota-anggota dewan diangkat
Demi dan atas nama mereka yang disebut rakyat
Lantas mengapa mereka memohon pada aparat
Untuk dilindungi dari yang bernama rakyat

Dan yang lebih membuat geli
Para pemimpin negeri
Setelah selesai diambil janji
Memilih mengunjungi orang mati
Atau mereka-reka arah mimpi
Daripada mendengarkan rakyat sendiri


GEDUNG BINATANG

Kotaku penuh gedung-gedung megah
dan kantor-kantor gagah
yang berdiri di atas tumpukan bangkai

batanya adalah batok-batok kepala,
penyangganya tiang-tiang belulang,
yang dipoles dengan darah dan air mata

di dalamnya penuh dengan
tikus-tikus bersafari, anjing-anjing berseragam,
dan babi-babi berdasi,

yang berkeliaran dan buang air di mana-mana,
menyeringai bijak dan menggeram ramah,
mengunyah dan muntah tanpa henti

setiap kali engkau melintasinya
dari balik terali akan kau dengarkan mereka
mencicit, menyalak, dan mengendusmu

berhati-hatilah,
kosongkan isi kantongmu
sebelum memasukinya.


PAMFLET PEGAWAI NEGERI

aku melihat kantor-kantor pemerintahan
sebagian besar dipenuhi mereka yang tidak kompeten
yang diangkat hanya karena kekeluargaan atau sogokan

mereka diberi makan bertahun-tahun
dan setelah tua dijamin pensiun
namun kerjanya ngopi dan ngegosip

dan bila diminta memberi pelayanan
yang memang merupakan tugas mereka
mereka merengut bersungut-sungut menggerutu

berdalih betapa beratnya beban kerja
dan ujung-ujungnya minta uang
tanpa rasa malu

mereka mengeluh akan kecilnya gaji
dan sulitnya hidup s’bagai pegawai negeri
sungguh penipu dan pendusta

buah jambu ditongkrongi ulat bulu
sudah tahu begitu dari dulu
kok tetap mau

mengapa dahulu
sampai merengek-rengek dan nyogok
hanya agar dapat diterima dan diangkat

masalahnya adalah niat buruk serta keserakahan
yang bercokol sejak permulaan
dan akhirnya dipandang sebagai kewajaran

kalau memang berniat baik
mestinya konsisten pada jalannya
dan konsekuen menerima akibatnya

jadi abdi jangan mimpi berlebihan
gaji pas-pasan napas ngos-ngosan
itu sudah risiko suratan

dan kalau memang tidak serakah
maka seharusnya kana-ah
agar hidup tenang penuh berkah

jangan malah menganiaya sesama orang kecil
hak mereka yang kau tahan dan makan
akan jadi api menembusi setiap pori-porimu

juga jangan berharap rezeki seperti pengusaha
hingga usia habis untuk mengemis dan menjilat
hanya demi mengumpulkan komisi dan upeti

ooo, betapa kantor-kantor penuh sesak
dengan calo, preman, dan pengemis
yang dipelihara dan dimanjakan oleh negara

yang tak kenal sikap jiwa profesional
menolak sistem kerja yang rasional
merasa nyaman dengan kemalasan

mereka menentang atasan formal
dan lebih tunduk kepada sang cantolan
yang dahulu mengumpulkan dan meneteki

mereka melahirkan aturan-aturan
lalu seperti badut-badut sirkus
mereka ramai-ramai berjumpalitan di atasnya

dan dengan dalih saling mengerti
mereka lebih setia pada perkoncoan
daripada prosedur resmi yang digariskan

air dari mata air mungkin dapat keruh
namun akan suci kembali
ketika sampai di lautan

namun air comberan
dalam selokan yang macet
selamanya tetaplah air comberan

orang yang tetap sama
demi memenuhi tuntutan reformasi
mesti dipaksa memakai seragam berbeda

betapa kikuk tindak tanduknya
seragam dan tata tertib baru
sungguh tak sejalan dengan tabiat nalurinya

sistem perekrutan yang amburadul
telah berhasil mendudukkan tuyul-tuyul
dan maling-maling kecil di atas kursi

dan jika mahluk-mahluk kerdil ini
kelak dapat giliran jadi petinggi negeri
akankah mereka berhenti berpolitik balas budi?

ya, ya, ya, aku tahu
engkau tentu mual
membaca sajak ini

tetapi sopan santun
serta basa-basi
telah gagal menyadarkan

semoga ini didengarkan
karena yang tuli, buta, dan tak berakal
itu lebih hina dari hewan melata

inilah sajakku yang kutulis penuh rasa muak
setelah mendengar cerita penderitaan kawan
yang pontang-panting cari pinjaman

dan terancam keluar dari kamar kontrakan
demi bayar sogokan
untuk memperlancar urusan

sementara kenalan yang lain
tunjangannya selama sebulan
dirampok orang kepegawaian.


TERPAKSA

maafkan kalau aku jadi nyinyir
sejak kau bisu
aku terpaksa berbicara bagimu

maafkan kalau aku jadi cengeng
sejak kau beku
aku harus terharu buatmu

dan maafkan kalau aku jadi liar
sejak kau batu
aku mesti menari untukmu

· Disyairkan dari sebuah anekdot Ethopia anonim.
·) Tibum = Ketertiban Umum
·) Seorang wanita pimpinan Partai Persatuan Bangsa, salah satu partai politik Austalia. Partai yang dipimpinnya bukanlah termasuk partai besar namun namanya cukup populer dan mengundang kontroversi karena gagasan-gagasannya yang berbau rasialisme.
· Sajak ini mula-mula ditulis sebagai anekdot oleh penyairnya dan dimuat di Rubrik Senggang, Koran Tempo hari minggu sekitar 2002-2003.

No comments: