Monday, January 08, 2007

TERJEMAHAN SAJAK ROBERT FROST

STOPPING BY WOODS ON A SNOWY EVENING

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.


BERHENTI DI TEPI HUTAN KALA SENJA BERSALJU

Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.

Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.

Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.

Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.

Tuesday, January 02, 2007

KONTEMPLASI TAHUN BARU

KALENDER BARU DI DINDING LAMA
-anno 2006

Toko-toko besar sedang
Berlomba obral cuci gudang
Paket travel akhir pekan
Kembali meriah ditawarkan
Meriuh karnaval di jalan
Kian macet pula kendaraan

Tetapi tak mampu menipu:
Hanya rutin berikut yang menunggu
Hanya rotasi dan revolusi
Dari bumi dan matahari
Yang telah bersama
Sejak kita belum bernama

Memang, kekalahan yang sama
Mari coba kita sejenak lupa
Harapan yang usang
Digumamkan berulang
Yang berbeda hanya
Kalender di dinding lama


SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
-anno 2006

Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna pula mengeluh

Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?


PANTUN TAHUN BARU 2001

Bunga api dan pesta mercon
Jerit trompet dan pekik klakson
Betapa makin dekat saat penghabisan
Sedangkan harapan, kian samar di kejauhan


CATATAN MALAM TAHUN BARU
-jalan braga, bandung, 2000

Di sebuah kota yang asing
Tanpa cinta yang meminta setia
Atau janji menanti dipenuhi
Ia menyusuri seruas jalan tua
Dengan bangunan-bangunan bergaya belanda
Dan lampu-lampu kuning pucat
Menyirami dinding merah batanya
Serta tiga pria tionghoa tua
Tak acuh bermain kartu
Bertaruh dengan waktu
Bertarung dengan sendu

Malam tahun baru,
Dan setahun kembali berlalu
Tetapi sengaja memang
Ia menghindar dari keramaian
Dari riuh pesta di pusat kota
Dan dari pasangan-pasangan muda
Yang melangkah berangkulan mesra
Sembari sesekali saling memagut.
Kegembiraan mereka
Adalah lecut rasa sakit baginya.

Ia menyenangi suasana itu :
Jalan tua yang lengang,
Cuaca yang tenang,
Arsitektur lama
Yang remang
(yang ketika larut malam tiba
hanya dihuni bayang hantu-hantu masa silam
yang teramat sayang kepada kenangan),
dan sinar kuning pucat dari lampu-lampu hias
yang berpendaran membias gemetar di trotoar
dalam udara malam yang dingin,
seperti lingkaran kuning cahaya
di sekeliling kepala para santa
yang dalam selubung jubah ungu
berdiri khusuk dan murung
mematung dalam kontemplasi :
renungan tentang yang fana
dan yang abadi.

Lelah berjalan, ia pun dahaga.
Setelah menghitung uang sisa di kantung celana
Dan sejenak tertegun,
Ia menyeberang perlahan
Dengan kedua tangan dalam saku
Masuk ke satu warung kedai
Yang tanpa pengunjung dan terabaikan
Memesan segelas kopi hitam kental
Lalu duduk menikmatinya
Dengan gerak lamban dan senyap
Dengan hirupan yang dalam
Sebagaimana ia juga menikmati
Menyiksa diri dengan sepi

Kawan-kaman lama
Telah memilih menyerahkan diri
Dan kini ditawan dalam rumah-rumah mungil
Dengan pelat nama tembaga
Berkilat di atas ambang pintunya
Ia lantas menyadari
Ia telah bertambah tua
Dan sendiri.
Dua tiga helai uban
Membubuhkan warna kelabu perak
Pada rambut ubun-ubun kepala
Dan garis-garis kerut
yang diguratkan oleh tahun-tahun lampau
kian dalam terukir
pada raut wajahnya yang letih.
Ya, masa lalu selalu membelenggu
Dan harapan kerap menipu,

Tak terasa,
Tuntas sudah diminumnya gelas kopi kedua
Dan dua milenium tanpa terasa
pun berlalu dalam lamunan.


MALAM TAHUN BARU
-1996

Malam ini malam tahun baru
seisi kota merayakannya penuh haru.
Dalam kamar aku mlungker di ranjangku
tidak tidur, hanya tak mau tahu.

Bukankah setiap hari adalah tahun baru
jika dihitung mulai dari setahun yang lalu.
Atau setiap hari bukanlah tahun baru
kecuali genap setahun dari saat lahirmu.


NAFAS WAKTU
-anno 2006

Nafas waktu menyentuh besi
Dan terali pagar itu berkarat

Nafas waktu menyentuh batu
Dan dinding bata itu lumutan

Nafas waktu menyentuh kayu
Dan kursi ayun itu melapuk

Nafas waktu menyentuh bunga
Dan melati di meja itu layu

Nafas waktu menyentuh insan
Dan aku terpaku di depan cermin


PERLAHAN, PERLAHAN
-anno 2006

Perlahan
Perlahan
Kami datang
Turun menghambur
Ke pengkuanmu
Yang terhampar terbuka
Dan gembur
Oleh cinta nan purba

Bumi yang lembut
Gelap dan basah
Ke pangkuanmulah
Resah kami menuju

Di musim ketiga
Ketika kita sepakat
Bertemu
Bercumbu
Menyatu

Keluh kecil terlontar
Dari mulut-mulut mungil kami
Sebelum kelu
Dibungkam kelam
Pelukan lenganmu

Tak pernah kami sangka
Akan begini
Nyatanya

Perlahan
Perlahan
Daun-daun
Tahun
Berjatuhan
Tak tertahan


RUANG WAKTU AKU

I.
Di manakah bertepi kegelapan ini
(ia membayangkan tujuh anak tangga
sampai mencapai singgasana dan di anak tangga pertama
bertebaran berlaksa-laksa piringan galaksi)

Tetapi setiap benda berada dalam ruang
yang mesti berbatas tepi dan setiap ruang materi
pasti dibaliknya terdapat ruang yang lebih besar lagi.
Berlapis-lapis ruang hingga tak terhingga, ‘kan begitu?

Kecuali jika memang benar semua itu
hanya ada di dalam dada-
nya sendiri. Begitu
bukan?

II.
Ia menyilang penanggalan,
menunggu minggu berlalu, membilang bulan,
dan menanti tahun berganti dengan setia, sampai mati.

Tetapi yang ada hanya matahari itu,
siklus dalam ruang yang kembali tanpa putus
bagai gelang api dalam gelanggang sirkus abadi.

Dan ia hanya keledai tolol--bukan singa--
yang harus bolak-balik menerobosnya sia-sia.

III.
Kalau begitu, siapa sih sampean di situ,
sampai berani-beraninya menanyakan ini dan menyangka itu.

Kok bisa-bisanya, meragukan segala sesuatu
dan bahkan meragukan keraguan itu sendiri;

memandang segalanya dan bahkan memandang
pandangan itu sendiri.

Hanya senoktah jasad renik pada satu sel semesta raya
ataukah memang pangeran mahkota dari sang maharaja?


USAHA MEMBEKUKAN WAKTU

Kita semua menyangka
Telah berhasil memerangkap waktu
Menyekapnya di kalender, memberikannya nama
Dan menghitung-hitung usianya

Tetapi, seperti arloji dalam lukisan Salvador Dali,
Waktu selalu lolos dari lubang kunci
Dan bagaikan tali-tali yang lentur terentang
Ia memanjang memendek bagi masing-masing orang.

Dan tiap-tiap kita, sendiri meniti di atasnya
Dari satu lubang gelap ke lubang gelap yang lain lagi
Melintasi jurang dalam kelam
Yang menganga seram dan hampa.


KENANGAN KANAK-KANAK

Telah kutelusuri kembali jalur hidupmu,
mundur ke tujuh puluh dua tahun lalu
yang seperti lembar halaman buku cerita
penuh gambar-gambar beraneka warna.

Di situ kutemukan kisah putri salju, telaga yang menggenang
dari sebatang lidi, malingkundang si pendurhaka, dan oedipus
yang berkelana serta ramayana dan mahabharata.
Juga cita-cita jadi presiden, mimpi tentang seorang nabi
yang dahaga dan terluka, angan superman,
dan pilot pesawat tempur yang perkasa,
hingga rasa kangen yang mendesak aneh untuk pertama kali
yang telah memaksamu menguntitnya setiap pulang sekolah
seperti kucing yang setia.
Dan juga,
basah pada celana
yang membuatmu resah malu ketika bangun pagi.

Sekarang engkau di sini : cemas menyilangi penanggalan
di dinding kamar yang dingin memar oleh lembab hujan,
dan gemar mendengar lagu-lagu lama serta membaca kisah
dengan tema-tema sederhana : semua yang sekedar gema,
bukan gempar gempa. Juga suka duduk termangu di ambang pintu,
tetapi bukan untuk menunggu seorang tamu
yang lama diimpikan bertemu,
karena telah lelah dan tahu : harapan hanya menipu
dan semuanya cuma semu.

Tetapi tak usah bersedih hati : tak ada mimpi
yang mati, tak ada angan yang tumbang
karena di sejumlah dunia yang lain sama sekali, saat ini,
engkau adalah semua yang pernah kau inginkan.
Sesuatu yang kini dikenangkan, dahulu telah menjadi riwayat
yang memilih berpisah dari kenyataan sehari-hari
kemudian berjalan merentangkan sejarahnya sendiri.
Sekarang, di sana, engkau adalah seorang presiden yang
telah dikalahkan, superman yang memilih kerja wartawan lalu menikah
dengan Lana, serta seorang pengiring nabi yang sejuk di tengah api.
Juga ada satu pesawat tempur jatuh kena gempur lalu terkubur
di tengah samudera yang mengabur dalam kabut.

Jadi, tak usah takut dan berduka. Mengapa tertunduk kuyu dan
menghela lesu. Berbaringlah setelah menutup pintu, menurunkan tirai,
dan memadamkan lampu. Tenanglah, tak akan lama perihnya.
Hanya sebentar saja. Telah kubaca semuanya.
Betapa nafasmu yang terengah kian perlahan tertahan-tahan
bersama tubuhmu yang terbujur lemas di pembaringan kayu
semakin melecut gemasku untuk melucuti hidupmu.

Kita akan pergi ke tengah samudera jauh,
menengok pilot pesawat tempur yang terjatuh itu ;
Kasihan, ia kesepian di sana,
hanya berteman ikan-ikan yang suka tak acuh
Ayo,

Nii-na bobo…
ooo nii-na bobo…


NYANYIAN AKHIR TAHUN

Mendung memang menggantung bagai helai-helai tirai tua
yang mengandung rahasia kemurungan di setiap lipatannya.
Tetapi geriap cahaya tak terbendung
meskipun cakrawala lindap bagai pelupuk perempuan,

mengembung oleh sisa kantuk persetubuhan malam.
Rebahkanlah kepalamu yang lelah pada dingin bantal.
Kelam ini sebentar dan tak mungkin kekal;
tak lama lagi badai selesai dan akan kau jumpai

pelangi yang kau kenal beserta seri bunga-bunga
yang basah gemerlap oleh basuhan hujan.
Lihatlah mereka pun telah bersiap
untuk sebuah pesta.

Tentu, segalanya akan kembali:
yang pahit dan yang manis,
pastilah berlalu.
Selalu begitu.

PENYERAHAN

Engkau indah
Bagaikan keindahanmu
Yang begitu indah
Telapakku gemetar
Memahat hasrat
Pada pelosok sosokmu
Yang bercahaya

Engkau indah
Bahkan lebih indah
Dari keindahanmu
Pesonamu menyulutku
Mulutku megap
Menyalalah doa
Paling rahasia

Engkau indah
Kepunglah aku
Dengan pelukanmu
Kotaku telah takluk
Jatuh dengan suka cita
Sebelum engkau
Mengetuk gerbang

AKU DAN LABA-LABA

Laba-laba membangun sarangnya
Di jalur yang jarang kulalui

Itu artinya
Laba-laba cukup tahu diri
Untuk tidak membangun sarang
Di jalur yang sering kulalui
Dan bahwa aku harus melewati
Jalur yang memang sering kulalui

Atau kembali menggunakan
Jalur yang jarang kulalui itu
Bila tak ingin ia
Merajut jaringnya
Di situ

Aku rasa
Aku dan laba-laba
Kini lebih bisa
Saling memahami

DARI TIGA (JUDUL) LAGU KLASIK

1. Balada Si Malang Adelina

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Ada Adelina berjalan
Dan dengan tangannya
Menyisir dinding lumutan
Ingin ia rasakan kembali
Dingin waktu menghijau beku

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Ada Adelina berjalan
Menyusur kenangan
Yang terjulur panjang
Dan lembut basah
Bagai lidah impian

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Ada Adelina berjalan
Dengan senandung rendah
Sebelum tertegun bisu
Di kelok turunan itu
Di depan rumah yang dulu

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Adelina akan terus jalan
Meski bocah di jendela
Hanya berseru-seru
Ibu, Ibu, itu ada hantu
Berhenti di depan pintu

2. Romansa Asmara

Ia telah disembelih
Oleh kelembutan
Jemari cinta

Terbujur putih
Seperti redup pesona
Pagi yang perawan

Di kantungnya mimpi
Yang dititipkan
Sisa rembulan

Perjaka telah pergi
Dengan kereta ke utara
Ya, ke utara

Tanpa pernah tahu
Tak perlu lagi
Kembali

3. Untuk Elisa

Usiamu masih belasan, Elisa
Tetapi cumbumu
Sungguh tak berbelas kasih

Jantungku yang malas
Tercerabut, kau renggut
Tanpa ampun

Amboi, gairah dara
Penuh bara
Tanpa pura-pura

Usiamu belasan Elisa
Dan esok lusa
Mungkin namaku terlupa

Belia kisahmu penuh gelisah
Belum tuntas kucatat
Hingga kita terpisah

Tak apa
Aku tak meminta
Dan kau pun tak mencinta

Hanya kecuplah sekali lagi
Bibirku yang kering
Dan memutih ini

KETULUSAN IBU

Suamiku,

Mungkin kau akan merebut anak ini
Lalu menyebutnya dengan namamu
Barangkali pula kalian akan sempurna
Melupakanku

Aku lepaskan dengan ikhlas, meski jelas
Sepasang kelopak air mata akan mengembang
Di remang pelupukku
Berbelaslah, aku akan berpura-pura
Tak pernah ada
Setelah peluk terakhir ini

Telah kumiliki apa yang tak akan pernah dapat
Kubagi dengan kalian:
Perih nikmat ketika keindahan datang menikam
Menghunjam berulang
Jerih payah berbulan menjadi inang bagi pesona
Yang mendekam di liang rahim ini
Jerit pedih tertahan antara hidup mati
Ketika ia menyeruak lengkingkan tangis pertama
Dan redup kantuk turun selubungi tubuh sesudahnya
Yang membawaku lelap pulas dalam puas senyuman

Itulah semua kelezatan yang melekat
Bertahan pada sepanjang badan
Terkenang selalu oleh jemari tanganku
Bahkan teringat oleh keringat
Dan nafas hayatku

Ah, andaikan mungkin berbagi
Ingin kuberikan pula apa yang muskil
Kau miliki ini
Biar seutuhnya bisa penuh bahagiamu,

Pembacaku