Tuesday, January 02, 2007

KONTEMPLASI TAHUN BARU

KALENDER BARU DI DINDING LAMA
-anno 2006

Toko-toko besar sedang
Berlomba obral cuci gudang
Paket travel akhir pekan
Kembali meriah ditawarkan
Meriuh karnaval di jalan
Kian macet pula kendaraan

Tetapi tak mampu menipu:
Hanya rutin berikut yang menunggu
Hanya rotasi dan revolusi
Dari bumi dan matahari
Yang telah bersama
Sejak kita belum bernama

Memang, kekalahan yang sama
Mari coba kita sejenak lupa
Harapan yang usang
Digumamkan berulang
Yang berbeda hanya
Kalender di dinding lama


SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
-anno 2006

Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna pula mengeluh

Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?


PANTUN TAHUN BARU 2001

Bunga api dan pesta mercon
Jerit trompet dan pekik klakson
Betapa makin dekat saat penghabisan
Sedangkan harapan, kian samar di kejauhan


CATATAN MALAM TAHUN BARU
-jalan braga, bandung, 2000

Di sebuah kota yang asing
Tanpa cinta yang meminta setia
Atau janji menanti dipenuhi
Ia menyusuri seruas jalan tua
Dengan bangunan-bangunan bergaya belanda
Dan lampu-lampu kuning pucat
Menyirami dinding merah batanya
Serta tiga pria tionghoa tua
Tak acuh bermain kartu
Bertaruh dengan waktu
Bertarung dengan sendu

Malam tahun baru,
Dan setahun kembali berlalu
Tetapi sengaja memang
Ia menghindar dari keramaian
Dari riuh pesta di pusat kota
Dan dari pasangan-pasangan muda
Yang melangkah berangkulan mesra
Sembari sesekali saling memagut.
Kegembiraan mereka
Adalah lecut rasa sakit baginya.

Ia menyenangi suasana itu :
Jalan tua yang lengang,
Cuaca yang tenang,
Arsitektur lama
Yang remang
(yang ketika larut malam tiba
hanya dihuni bayang hantu-hantu masa silam
yang teramat sayang kepada kenangan),
dan sinar kuning pucat dari lampu-lampu hias
yang berpendaran membias gemetar di trotoar
dalam udara malam yang dingin,
seperti lingkaran kuning cahaya
di sekeliling kepala para santa
yang dalam selubung jubah ungu
berdiri khusuk dan murung
mematung dalam kontemplasi :
renungan tentang yang fana
dan yang abadi.

Lelah berjalan, ia pun dahaga.
Setelah menghitung uang sisa di kantung celana
Dan sejenak tertegun,
Ia menyeberang perlahan
Dengan kedua tangan dalam saku
Masuk ke satu warung kedai
Yang tanpa pengunjung dan terabaikan
Memesan segelas kopi hitam kental
Lalu duduk menikmatinya
Dengan gerak lamban dan senyap
Dengan hirupan yang dalam
Sebagaimana ia juga menikmati
Menyiksa diri dengan sepi

Kawan-kaman lama
Telah memilih menyerahkan diri
Dan kini ditawan dalam rumah-rumah mungil
Dengan pelat nama tembaga
Berkilat di atas ambang pintunya
Ia lantas menyadari
Ia telah bertambah tua
Dan sendiri.
Dua tiga helai uban
Membubuhkan warna kelabu perak
Pada rambut ubun-ubun kepala
Dan garis-garis kerut
yang diguratkan oleh tahun-tahun lampau
kian dalam terukir
pada raut wajahnya yang letih.
Ya, masa lalu selalu membelenggu
Dan harapan kerap menipu,

Tak terasa,
Tuntas sudah diminumnya gelas kopi kedua
Dan dua milenium tanpa terasa
pun berlalu dalam lamunan.


MALAM TAHUN BARU
-1996

Malam ini malam tahun baru
seisi kota merayakannya penuh haru.
Dalam kamar aku mlungker di ranjangku
tidak tidur, hanya tak mau tahu.

Bukankah setiap hari adalah tahun baru
jika dihitung mulai dari setahun yang lalu.
Atau setiap hari bukanlah tahun baru
kecuali genap setahun dari saat lahirmu.


NAFAS WAKTU
-anno 2006

Nafas waktu menyentuh besi
Dan terali pagar itu berkarat

Nafas waktu menyentuh batu
Dan dinding bata itu lumutan

Nafas waktu menyentuh kayu
Dan kursi ayun itu melapuk

Nafas waktu menyentuh bunga
Dan melati di meja itu layu

Nafas waktu menyentuh insan
Dan aku terpaku di depan cermin


PERLAHAN, PERLAHAN
-anno 2006

Perlahan
Perlahan
Kami datang
Turun menghambur
Ke pengkuanmu
Yang terhampar terbuka
Dan gembur
Oleh cinta nan purba

Bumi yang lembut
Gelap dan basah
Ke pangkuanmulah
Resah kami menuju

Di musim ketiga
Ketika kita sepakat
Bertemu
Bercumbu
Menyatu

Keluh kecil terlontar
Dari mulut-mulut mungil kami
Sebelum kelu
Dibungkam kelam
Pelukan lenganmu

Tak pernah kami sangka
Akan begini
Nyatanya

Perlahan
Perlahan
Daun-daun
Tahun
Berjatuhan
Tak tertahan


RUANG WAKTU AKU

I.
Di manakah bertepi kegelapan ini
(ia membayangkan tujuh anak tangga
sampai mencapai singgasana dan di anak tangga pertama
bertebaran berlaksa-laksa piringan galaksi)

Tetapi setiap benda berada dalam ruang
yang mesti berbatas tepi dan setiap ruang materi
pasti dibaliknya terdapat ruang yang lebih besar lagi.
Berlapis-lapis ruang hingga tak terhingga, ‘kan begitu?

Kecuali jika memang benar semua itu
hanya ada di dalam dada-
nya sendiri. Begitu
bukan?

II.
Ia menyilang penanggalan,
menunggu minggu berlalu, membilang bulan,
dan menanti tahun berganti dengan setia, sampai mati.

Tetapi yang ada hanya matahari itu,
siklus dalam ruang yang kembali tanpa putus
bagai gelang api dalam gelanggang sirkus abadi.

Dan ia hanya keledai tolol--bukan singa--
yang harus bolak-balik menerobosnya sia-sia.

III.
Kalau begitu, siapa sih sampean di situ,
sampai berani-beraninya menanyakan ini dan menyangka itu.

Kok bisa-bisanya, meragukan segala sesuatu
dan bahkan meragukan keraguan itu sendiri;

memandang segalanya dan bahkan memandang
pandangan itu sendiri.

Hanya senoktah jasad renik pada satu sel semesta raya
ataukah memang pangeran mahkota dari sang maharaja?


USAHA MEMBEKUKAN WAKTU

Kita semua menyangka
Telah berhasil memerangkap waktu
Menyekapnya di kalender, memberikannya nama
Dan menghitung-hitung usianya

Tetapi, seperti arloji dalam lukisan Salvador Dali,
Waktu selalu lolos dari lubang kunci
Dan bagaikan tali-tali yang lentur terentang
Ia memanjang memendek bagi masing-masing orang.

Dan tiap-tiap kita, sendiri meniti di atasnya
Dari satu lubang gelap ke lubang gelap yang lain lagi
Melintasi jurang dalam kelam
Yang menganga seram dan hampa.


KENANGAN KANAK-KANAK

Telah kutelusuri kembali jalur hidupmu,
mundur ke tujuh puluh dua tahun lalu
yang seperti lembar halaman buku cerita
penuh gambar-gambar beraneka warna.

Di situ kutemukan kisah putri salju, telaga yang menggenang
dari sebatang lidi, malingkundang si pendurhaka, dan oedipus
yang berkelana serta ramayana dan mahabharata.
Juga cita-cita jadi presiden, mimpi tentang seorang nabi
yang dahaga dan terluka, angan superman,
dan pilot pesawat tempur yang perkasa,
hingga rasa kangen yang mendesak aneh untuk pertama kali
yang telah memaksamu menguntitnya setiap pulang sekolah
seperti kucing yang setia.
Dan juga,
basah pada celana
yang membuatmu resah malu ketika bangun pagi.

Sekarang engkau di sini : cemas menyilangi penanggalan
di dinding kamar yang dingin memar oleh lembab hujan,
dan gemar mendengar lagu-lagu lama serta membaca kisah
dengan tema-tema sederhana : semua yang sekedar gema,
bukan gempar gempa. Juga suka duduk termangu di ambang pintu,
tetapi bukan untuk menunggu seorang tamu
yang lama diimpikan bertemu,
karena telah lelah dan tahu : harapan hanya menipu
dan semuanya cuma semu.

Tetapi tak usah bersedih hati : tak ada mimpi
yang mati, tak ada angan yang tumbang
karena di sejumlah dunia yang lain sama sekali, saat ini,
engkau adalah semua yang pernah kau inginkan.
Sesuatu yang kini dikenangkan, dahulu telah menjadi riwayat
yang memilih berpisah dari kenyataan sehari-hari
kemudian berjalan merentangkan sejarahnya sendiri.
Sekarang, di sana, engkau adalah seorang presiden yang
telah dikalahkan, superman yang memilih kerja wartawan lalu menikah
dengan Lana, serta seorang pengiring nabi yang sejuk di tengah api.
Juga ada satu pesawat tempur jatuh kena gempur lalu terkubur
di tengah samudera yang mengabur dalam kabut.

Jadi, tak usah takut dan berduka. Mengapa tertunduk kuyu dan
menghela lesu. Berbaringlah setelah menutup pintu, menurunkan tirai,
dan memadamkan lampu. Tenanglah, tak akan lama perihnya.
Hanya sebentar saja. Telah kubaca semuanya.
Betapa nafasmu yang terengah kian perlahan tertahan-tahan
bersama tubuhmu yang terbujur lemas di pembaringan kayu
semakin melecut gemasku untuk melucuti hidupmu.

Kita akan pergi ke tengah samudera jauh,
menengok pilot pesawat tempur yang terjatuh itu ;
Kasihan, ia kesepian di sana,
hanya berteman ikan-ikan yang suka tak acuh
Ayo,

Nii-na bobo…
ooo nii-na bobo…


NYANYIAN AKHIR TAHUN

Mendung memang menggantung bagai helai-helai tirai tua
yang mengandung rahasia kemurungan di setiap lipatannya.
Tetapi geriap cahaya tak terbendung
meskipun cakrawala lindap bagai pelupuk perempuan,

mengembung oleh sisa kantuk persetubuhan malam.
Rebahkanlah kepalamu yang lelah pada dingin bantal.
Kelam ini sebentar dan tak mungkin kekal;
tak lama lagi badai selesai dan akan kau jumpai

pelangi yang kau kenal beserta seri bunga-bunga
yang basah gemerlap oleh basuhan hujan.
Lihatlah mereka pun telah bersiap
untuk sebuah pesta.

Tentu, segalanya akan kembali:
yang pahit dan yang manis,
pastilah berlalu.
Selalu begitu.

No comments: