Sunday, September 09, 2007

SUDAH PUKUL SEPULUH MATAMU

Makin malam hari matamu
Makin penuh hujan hutan malam di matamu
Berjatuhan malai-malai berkilauan
Malam matamu betapa kelam gemerlapan

Tuesday, August 14, 2007

KUSENTUH LEKUK BIBIRMU

Kusentuh
Lekuk bibirmu
Yang melengkung indah
Maka merekahlah ia
Membuka diri
Dengan sepenuh bahagia
Sebelum kulepas
Pergi

Kusisipkan rahasiaku
Lembut dan perlahan
Ke dalam celahmu
Yang menelannya
Seperti kupercayakan
Seluruh usiaku
Beserta perasaan
Yang mungkin sia-sia
Dan tak bakal kekal

Biarlah
Setelah kujilati
Lidahmu yang lekat
Mulutmu akan menutup
Seperti mata yang terkatup
Oleh kantuk, seperti jemari
Menguncup dalam ucap doa
Di larut remang

Telapakku yang gemetar
Meraba seutuh hasrat
Merambati sudut-sudutmu
Yang kini memeluk hatiku
Teramat erat seolah pasti
Menepati janji
Lebih kukuh dari mati :
Sampaikanlah berita segala
Yang selain derita

Sampul suratku yang biru,
Berangkatlah dengan selamat
Dalam perjalanan yang lamban
Seperti bulan di lamun lautan
Semoga tangan-tangan jawatan pos indonesia
Mampu menampung amanat
Dan memperlakukanmu
Dengan khidmat dan bermartabat

KUTUNGGU KAU SELEWAT SIMPANG ITU

Dari simpang itu
Ke arah matahari tujuh pagi
Menujulah ke sana
Tanpa mesti tergesa
Dan sebelum langkah
Membuat nafasmu terengah
Akan kau temukan tanda
Di kaki pokok kemboja
Tanda yang sederhana
Seperti bukan dari dunia
Tanda bahwa aku pernah ada
Dan telah telanjur
Mencinta

KOTA SETENGAH TUJUH

Lihatlah
Kota yang semalam
Berdosa besar
Di pagi ini
Lihai benar
Berdusta
Dengan wajah bayi

Di pasar lama
Yang lebih perkasa
Dari sekian walikota
Riuh telah meriah
Sejak sebelum luruh
Embun terakhir
Meskipun sekarang
Agak mereda
Derumnya

Nenek tua
Dengan jualan seadanya
Bisa ngaso sebentar
Ngisap rokok
Dengan mok kopi besar
Sisa setengah terisi
Sementara pak haji
Setelah subuh dan mengaji
Kini menunggu dagangan
Sembari tasbih
Terus berputar di tangan
Parasnya masih berbekaskan
Jejak pijar fajar

Polisi memulai aksi
Di simpang yang semrawut
Dengan harapan sederhana
Semoga pungli hari ini
Lebih baik dari kemarin
Mencoba berdiri tegap ia
Dalam sikap sempurna
Setelah sibuk
Menaikkan ikat pinggang
Membetulkan posisi sarung pistol
Tergantung miring
Berisi handuk muka

Di tepi jalan itu
Anak sekolah
Dengan wangi sampo
Mengepul dari rambut kepang
Gelisah menunggu angkutan
Henpon berkerlip genit
Di genggaman segar jemari lentik
Dan seorang pekerja muda
Tersenyum profesional
Sigap penuh energi
Dalam setelan tersetrika rapi

Koran telah tiba
Tuhan
Semoga hari ini
Tak ada korban bencana

PEJALAN KAKI

Aku masih setia di jalan
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih

Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut

Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu

NARSISI

Bertahun-tahun
Betah aku membonsai
Diri sendiri

Kutolak tawaran
Meninggalkan malaikat
Terpaku di batas tertinggi

Kupilih derajat
Lebih rendah dari ternak
Lebih bebal dari batu

Yang ilusi dianggap hakiki
Yang sejati dicemooh
Dipandang cuma bayang fantasi

Yang remeh-temeh
Didekap segenap hati
Yang berharga dibengkalaikan

Kalaupun perlu tuhan
Atau semacam sesembahan
Bayanganku cukup membantu

Bila sedih dan sepi
Kuhibur diriku
Dengan filsafat humanisme

Ataupun puisi paling murung
Untuk membenarkan
Kecenderungan diri

Nyaman aku berkubang
Di tengah genangan
Kotoran sendiri

Mari, temanilah aku
Menikmati hari ini
Sebelum mati

Sunday, July 15, 2007

KELUHAN PRIA TUA (DARI ARSIP SAJAK LAMA)

Musik yang sedih
dan lirik yang lirih
adalah racun sempurna
di senja yang segera.

Yang bayang terbayang
wajah yang tersayang:
parasnya betapa ranum
tubuhnya begitu harum.

Tetapi, kemana gerangan pergi
dara manja berkawat gigi
matanya bundar cemerlang
dan lengannya berpendar telanjang.

Atau perempuan beraut serius
dengan rambut panjang lurus
yang darinya kuberpaling
saat meminta harus terus seiring.

Dan, ah, betina garang
beserta pagutan dalam dan panjang
kini ibu panutan, ketua darmawanita,
setelah diperistri walikota.

Seluruhnya sisa kisah lalu
walau indah sudah berlalu
Tinggal aku seorang lelaki tua
masih terlunta, tiada berdua.

Sekarang kukenang mereka
semua dalam kepedihan yang sama;
tetapi aku tentu takkan pernah mengaku
kepada si jelita yang tengah kupangku!

DELAPAN SAJAK

KEPADA BAPAK IBU

Bapak ibu yang terhormat
Kepada siapakah gerangan
Engkau pasrahkan
Nasib dunia akhirat
Anak-anakmu?

Kepada pengasuh bayaran
Berusia belasan
Yang upahnya kau aniaya?
Kepada tenung televisi
Yang menolongmu tak perlu bicara
Meski seharian duduk berdampingan?
Kepada guru-guru sekolah
Bersama puluhan murid lain
Yang mengajar
Sembari mencemaskan
Rumah tangga mereka sendiri?
Kepada teman-teman sepermainan
Yang mengajarinya menyuntik lengan
Dan mengumbar kelamin?
Kepada labirin mal dan jajaran etalase
Yang mengajarinya belanja
Demi menjadi orang lain?

Bapak ibu yang terhormat
Sungguhkah mereka
Anak-anakmu?


TELAGA RAHASIA

Paku dukamu menancap dalam
Dan dalam dekapan liang dadaku
Lukapun memawar merah
Semerbak segar merebak rekah

Linangan air mata yang menggenang
Menjelma jadi sendang, tenang dan bening
Berkilauan dibelai bulan
Para peri berdendang sendu di tepinya

Bila suatu saat kelak
Kau datang melintas lewat
Tak akan kau lihat lagi
Jejakku terbenam guguran bunga

Akan kutahan erat
Hatiku
Yang ingin melesat
Bersama jerit perihnya


SEBILAH BELATI

Sebilah belati
Yang diselipkan malam hari
Di sela lipatan hati
Betapa nyaring
Menyanyikan nyerinya
Bagi setiap mimpi

Dentingnya
Kilaunya
Dinginnya

Teramat nyata
Bagi mata
Kataku


RAKYAT NEGERIKU BERHAMBURAN

Rakyat negeriku berhamburan
Ibu-ibunya
Merumput di trotoar
Dengan gerobak lapak seadanya
Yang kelak dibongkar
Kobaran api

Bapak-bapaknya berhimpitan
Di lambung pesawat
Menuju hutan negeri orang
Dan pulangnya limbung jadi rebutan
Diperas habis-habisan
Para aparat pelabuhan

Sedangkan anak-anaknya:
Menadahkan tangan
Menodongkan pisau
Menawarkan badan
Di simpang-simpang jalan
Nanti gantian digilir keamanan

Berakrobat jungkir balik, kalang kabut
Rakyat negeriku
Mesti mengurus nasib sendiri, setelah dikhianati
Orang-orang culas dan tak becus
Yang dahulu pernah bersumpah mati
Mampu mengurus nasib mereka

Para penipu dan pencuri ulung
Atasannya korupsi besar-besaran
Bawahannya pungli kecil-kecilan
Dalamannya minta ampun
Sedangkan kaki tangannya
Rakus dan kerasnya bukan main

Diperdaya sekian lama
Dirampok berkali-kali
Dibunuh berulang-ulang
Mereka hanya tegak diam
Dengan mata pejam
Dan basah di pipi kusam

Mereka yang telah
Kehilangan suara
Akan menuntut balik
Menggugat dengan kebisuan
Yang lebih tajam dan mencekam
Daripada sejuta mata lembing


SURAT RAHASIA

Kutulis surat ini
Justru karena tahu
Kau tak akan pernah membacanya

Semalamam mataku mencair
Memikirkan kepergianmu
Semalaman lamanya

Kau tak melihatnya, tentu
Keburu telah kuhapus sebelum kau
Menghardikku agar tak sentimental

Aku tidak semurung ini
Sebelum bertemu kau
Sebelum mulutku mengulum madu katamu

Telah pernah kudengar katak merdu bernyanyi
Tetapi tak sekalipun engkau sudi
Melontarkan sepatah janji

Meski engkau akan berdusta
Tak mengapa, berdustalah saja
Aku akan rela

Tetapi
Janganlah pergi
Seperti ini

Semalaman hatiku mengembun
Tak henti menyesali kemalanganku
Semalaman lamanya

Maka kutuliskan surat ini
Meski tahu
Kau takkan pernah membacanya


SELAMAT JALAN MUSIM DINGIN

Segera pergi dan selamat jalan, musim dingin
Semoga tak perlu bertemu pula di tahun depan
Kawan pemurung yang baik sebenarnya,
Sayang ia tamu yang datang berkunjung terlalu lama
Berminggu-minggu memunggungi matahari

Semoga silam malam-malam melamun di bawah 5 derajat
Dalam kamar lembab berdinding kayu tanpa penghangat
Berteman selimut dilipat dua yang lembut namun melulu
Serba salah: mencari panjang, kurang lebar ia
Mencari lebar, kurang panjangnya

Semoga berlalu pula hari-hari kelabu dan sendu
Dengan angin yang meratap dan menyayat selalu
Hampir seminggu sudah termangu tanpa sekeping dolar
Pun sekedar untuk interlokal:
“Halo, apa kabar. Beta baik-baik saja di sini”

Segera pergi dan selamat jalan, kawan
Adios, Compadre. Adieu. Goodbye, my friend.
Biarlah tinggal berkarat sebagai kenangan
Cerek perengek yang pekikannya memekakkan telinga
Dan panci dadar yang telah sudi jadi pemanas portebelku


TIGA KUNTUM HITAM

Tiga kuntum kembang hitam menyala
dalam kekelaman malam. Gelombang hangat cahaya
bagai gerombol ombak yang mengayunayunkan jiwa
dengan lidah lembutnya. Akan terkenang lewat desir
rahasia menjamah pantai tua yang meremang
karena senja. Meski hanya pasir
dan sisa cangkang terserak di pesisir, bila tiba
musim, marilah kembali ke sini, menjilati
kaki karang yang retak ini. Hempasan buih
memutih akan cukup memulihkan perihnya.
Abad demi abad berkelebat di pelupuknya
Namun mata yang pejam hanya melihat kalian:
Tiga kuntum hitam yang akan terus menyala dalam
Kekelaman arus malam


TESTIMONI

Aku tahu
Tanpa setitik ragu
Semuanya
Akan baik-baik saja

Semuanya
Akan baik-baik saja
Meskipun langit meruntuh
Dan bumi berkeping

Biar langit bumi binasa
Semuanya pasti baik-baik saja
Selama Kasihku
Masih tersenyum padaku

Thursday, May 31, 2007

SEHELAI SURAT BERSEGEL RINDU UNTUK CINTAKU

Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?

Tuesday, May 29, 2007

SENANDUNG BURUNG

Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa

Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri

Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu

SULUK KESUHUDAN

Aku tak lebih tinggi dari debu
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga

Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku

O, dunia

Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya

Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera

SULUK KESAMARAN

Apakah yang tersamar
Di balik tubuhmu yang telanjang
Apakah yang terkandung
Dalam nafasku yang terguncang

Ah, sekilas Keindahan
Mampir ngumpet di situ
Dan secuil Kehendak
Sejenak pijar di sini

Tiada lain

KOTA KUYUP DALAM HUJAN

Kota kuyup dalam hujan
Deru derum kendaraan
Jadi sayup sebelum senyap
Dan kerlap lampu-lampu
Pun redup gemetar
Berpendaran sayu
Para pejalan bergegas
Berlalu mencari teduh
Burung-burung terburu
Telah mendapati sarang
Sedari tadi
Namun si majenun
Hanya berdiri tercenung
Ditenung nyanyian
Derai hujan
Mengapa harus
Turut sembunyi berlindung
Dari karunia
Yang turun
Tercurah beruntun?

MERENUNGI RELUNG MATAMU

Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku

Monday, May 14, 2007

DI KUTA, DI KUTA

Di kuta, di kuta
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Kusut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi

DENPASAR MEI 2007

Bukan hanya
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan

Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana

Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka

Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati

Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara

Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan

Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta

Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika

SEBELUM SILAM PUKUL LIMA

Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi

Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?

Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti

Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu

Newcastle, Maret/2007.

Monday, January 08, 2007

TERJEMAHAN SAJAK ROBERT FROST

STOPPING BY WOODS ON A SNOWY EVENING

Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.


BERHENTI DI TEPI HUTAN KALA SENJA BERSALJU

Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.

Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.

Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.

Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.

Tuesday, January 02, 2007

KONTEMPLASI TAHUN BARU

KALENDER BARU DI DINDING LAMA
-anno 2006

Toko-toko besar sedang
Berlomba obral cuci gudang
Paket travel akhir pekan
Kembali meriah ditawarkan
Meriuh karnaval di jalan
Kian macet pula kendaraan

Tetapi tak mampu menipu:
Hanya rutin berikut yang menunggu
Hanya rotasi dan revolusi
Dari bumi dan matahari
Yang telah bersama
Sejak kita belum bernama

Memang, kekalahan yang sama
Mari coba kita sejenak lupa
Harapan yang usang
Digumamkan berulang
Yang berbeda hanya
Kalender di dinding lama


SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
-anno 2006

Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna pula mengeluh

Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?


PANTUN TAHUN BARU 2001

Bunga api dan pesta mercon
Jerit trompet dan pekik klakson
Betapa makin dekat saat penghabisan
Sedangkan harapan, kian samar di kejauhan


CATATAN MALAM TAHUN BARU
-jalan braga, bandung, 2000

Di sebuah kota yang asing
Tanpa cinta yang meminta setia
Atau janji menanti dipenuhi
Ia menyusuri seruas jalan tua
Dengan bangunan-bangunan bergaya belanda
Dan lampu-lampu kuning pucat
Menyirami dinding merah batanya
Serta tiga pria tionghoa tua
Tak acuh bermain kartu
Bertaruh dengan waktu
Bertarung dengan sendu

Malam tahun baru,
Dan setahun kembali berlalu
Tetapi sengaja memang
Ia menghindar dari keramaian
Dari riuh pesta di pusat kota
Dan dari pasangan-pasangan muda
Yang melangkah berangkulan mesra
Sembari sesekali saling memagut.
Kegembiraan mereka
Adalah lecut rasa sakit baginya.

Ia menyenangi suasana itu :
Jalan tua yang lengang,
Cuaca yang tenang,
Arsitektur lama
Yang remang
(yang ketika larut malam tiba
hanya dihuni bayang hantu-hantu masa silam
yang teramat sayang kepada kenangan),
dan sinar kuning pucat dari lampu-lampu hias
yang berpendaran membias gemetar di trotoar
dalam udara malam yang dingin,
seperti lingkaran kuning cahaya
di sekeliling kepala para santa
yang dalam selubung jubah ungu
berdiri khusuk dan murung
mematung dalam kontemplasi :
renungan tentang yang fana
dan yang abadi.

Lelah berjalan, ia pun dahaga.
Setelah menghitung uang sisa di kantung celana
Dan sejenak tertegun,
Ia menyeberang perlahan
Dengan kedua tangan dalam saku
Masuk ke satu warung kedai
Yang tanpa pengunjung dan terabaikan
Memesan segelas kopi hitam kental
Lalu duduk menikmatinya
Dengan gerak lamban dan senyap
Dengan hirupan yang dalam
Sebagaimana ia juga menikmati
Menyiksa diri dengan sepi

Kawan-kaman lama
Telah memilih menyerahkan diri
Dan kini ditawan dalam rumah-rumah mungil
Dengan pelat nama tembaga
Berkilat di atas ambang pintunya
Ia lantas menyadari
Ia telah bertambah tua
Dan sendiri.
Dua tiga helai uban
Membubuhkan warna kelabu perak
Pada rambut ubun-ubun kepala
Dan garis-garis kerut
yang diguratkan oleh tahun-tahun lampau
kian dalam terukir
pada raut wajahnya yang letih.
Ya, masa lalu selalu membelenggu
Dan harapan kerap menipu,

Tak terasa,
Tuntas sudah diminumnya gelas kopi kedua
Dan dua milenium tanpa terasa
pun berlalu dalam lamunan.


MALAM TAHUN BARU
-1996

Malam ini malam tahun baru
seisi kota merayakannya penuh haru.
Dalam kamar aku mlungker di ranjangku
tidak tidur, hanya tak mau tahu.

Bukankah setiap hari adalah tahun baru
jika dihitung mulai dari setahun yang lalu.
Atau setiap hari bukanlah tahun baru
kecuali genap setahun dari saat lahirmu.


NAFAS WAKTU
-anno 2006

Nafas waktu menyentuh besi
Dan terali pagar itu berkarat

Nafas waktu menyentuh batu
Dan dinding bata itu lumutan

Nafas waktu menyentuh kayu
Dan kursi ayun itu melapuk

Nafas waktu menyentuh bunga
Dan melati di meja itu layu

Nafas waktu menyentuh insan
Dan aku terpaku di depan cermin


PERLAHAN, PERLAHAN
-anno 2006

Perlahan
Perlahan
Kami datang
Turun menghambur
Ke pengkuanmu
Yang terhampar terbuka
Dan gembur
Oleh cinta nan purba

Bumi yang lembut
Gelap dan basah
Ke pangkuanmulah
Resah kami menuju

Di musim ketiga
Ketika kita sepakat
Bertemu
Bercumbu
Menyatu

Keluh kecil terlontar
Dari mulut-mulut mungil kami
Sebelum kelu
Dibungkam kelam
Pelukan lenganmu

Tak pernah kami sangka
Akan begini
Nyatanya

Perlahan
Perlahan
Daun-daun
Tahun
Berjatuhan
Tak tertahan


RUANG WAKTU AKU

I.
Di manakah bertepi kegelapan ini
(ia membayangkan tujuh anak tangga
sampai mencapai singgasana dan di anak tangga pertama
bertebaran berlaksa-laksa piringan galaksi)

Tetapi setiap benda berada dalam ruang
yang mesti berbatas tepi dan setiap ruang materi
pasti dibaliknya terdapat ruang yang lebih besar lagi.
Berlapis-lapis ruang hingga tak terhingga, ‘kan begitu?

Kecuali jika memang benar semua itu
hanya ada di dalam dada-
nya sendiri. Begitu
bukan?

II.
Ia menyilang penanggalan,
menunggu minggu berlalu, membilang bulan,
dan menanti tahun berganti dengan setia, sampai mati.

Tetapi yang ada hanya matahari itu,
siklus dalam ruang yang kembali tanpa putus
bagai gelang api dalam gelanggang sirkus abadi.

Dan ia hanya keledai tolol--bukan singa--
yang harus bolak-balik menerobosnya sia-sia.

III.
Kalau begitu, siapa sih sampean di situ,
sampai berani-beraninya menanyakan ini dan menyangka itu.

Kok bisa-bisanya, meragukan segala sesuatu
dan bahkan meragukan keraguan itu sendiri;

memandang segalanya dan bahkan memandang
pandangan itu sendiri.

Hanya senoktah jasad renik pada satu sel semesta raya
ataukah memang pangeran mahkota dari sang maharaja?


USAHA MEMBEKUKAN WAKTU

Kita semua menyangka
Telah berhasil memerangkap waktu
Menyekapnya di kalender, memberikannya nama
Dan menghitung-hitung usianya

Tetapi, seperti arloji dalam lukisan Salvador Dali,
Waktu selalu lolos dari lubang kunci
Dan bagaikan tali-tali yang lentur terentang
Ia memanjang memendek bagi masing-masing orang.

Dan tiap-tiap kita, sendiri meniti di atasnya
Dari satu lubang gelap ke lubang gelap yang lain lagi
Melintasi jurang dalam kelam
Yang menganga seram dan hampa.


KENANGAN KANAK-KANAK

Telah kutelusuri kembali jalur hidupmu,
mundur ke tujuh puluh dua tahun lalu
yang seperti lembar halaman buku cerita
penuh gambar-gambar beraneka warna.

Di situ kutemukan kisah putri salju, telaga yang menggenang
dari sebatang lidi, malingkundang si pendurhaka, dan oedipus
yang berkelana serta ramayana dan mahabharata.
Juga cita-cita jadi presiden, mimpi tentang seorang nabi
yang dahaga dan terluka, angan superman,
dan pilot pesawat tempur yang perkasa,
hingga rasa kangen yang mendesak aneh untuk pertama kali
yang telah memaksamu menguntitnya setiap pulang sekolah
seperti kucing yang setia.
Dan juga,
basah pada celana
yang membuatmu resah malu ketika bangun pagi.

Sekarang engkau di sini : cemas menyilangi penanggalan
di dinding kamar yang dingin memar oleh lembab hujan,
dan gemar mendengar lagu-lagu lama serta membaca kisah
dengan tema-tema sederhana : semua yang sekedar gema,
bukan gempar gempa. Juga suka duduk termangu di ambang pintu,
tetapi bukan untuk menunggu seorang tamu
yang lama diimpikan bertemu,
karena telah lelah dan tahu : harapan hanya menipu
dan semuanya cuma semu.

Tetapi tak usah bersedih hati : tak ada mimpi
yang mati, tak ada angan yang tumbang
karena di sejumlah dunia yang lain sama sekali, saat ini,
engkau adalah semua yang pernah kau inginkan.
Sesuatu yang kini dikenangkan, dahulu telah menjadi riwayat
yang memilih berpisah dari kenyataan sehari-hari
kemudian berjalan merentangkan sejarahnya sendiri.
Sekarang, di sana, engkau adalah seorang presiden yang
telah dikalahkan, superman yang memilih kerja wartawan lalu menikah
dengan Lana, serta seorang pengiring nabi yang sejuk di tengah api.
Juga ada satu pesawat tempur jatuh kena gempur lalu terkubur
di tengah samudera yang mengabur dalam kabut.

Jadi, tak usah takut dan berduka. Mengapa tertunduk kuyu dan
menghela lesu. Berbaringlah setelah menutup pintu, menurunkan tirai,
dan memadamkan lampu. Tenanglah, tak akan lama perihnya.
Hanya sebentar saja. Telah kubaca semuanya.
Betapa nafasmu yang terengah kian perlahan tertahan-tahan
bersama tubuhmu yang terbujur lemas di pembaringan kayu
semakin melecut gemasku untuk melucuti hidupmu.

Kita akan pergi ke tengah samudera jauh,
menengok pilot pesawat tempur yang terjatuh itu ;
Kasihan, ia kesepian di sana,
hanya berteman ikan-ikan yang suka tak acuh
Ayo,

Nii-na bobo…
ooo nii-na bobo…


NYANYIAN AKHIR TAHUN

Mendung memang menggantung bagai helai-helai tirai tua
yang mengandung rahasia kemurungan di setiap lipatannya.
Tetapi geriap cahaya tak terbendung
meskipun cakrawala lindap bagai pelupuk perempuan,

mengembung oleh sisa kantuk persetubuhan malam.
Rebahkanlah kepalamu yang lelah pada dingin bantal.
Kelam ini sebentar dan tak mungkin kekal;
tak lama lagi badai selesai dan akan kau jumpai

pelangi yang kau kenal beserta seri bunga-bunga
yang basah gemerlap oleh basuhan hujan.
Lihatlah mereka pun telah bersiap
untuk sebuah pesta.

Tentu, segalanya akan kembali:
yang pahit dan yang manis,
pastilah berlalu.
Selalu begitu.

PENYERAHAN

Engkau indah
Bagaikan keindahanmu
Yang begitu indah
Telapakku gemetar
Memahat hasrat
Pada pelosok sosokmu
Yang bercahaya

Engkau indah
Bahkan lebih indah
Dari keindahanmu
Pesonamu menyulutku
Mulutku megap
Menyalalah doa
Paling rahasia

Engkau indah
Kepunglah aku
Dengan pelukanmu
Kotaku telah takluk
Jatuh dengan suka cita
Sebelum engkau
Mengetuk gerbang

AKU DAN LABA-LABA

Laba-laba membangun sarangnya
Di jalur yang jarang kulalui

Itu artinya
Laba-laba cukup tahu diri
Untuk tidak membangun sarang
Di jalur yang sering kulalui
Dan bahwa aku harus melewati
Jalur yang memang sering kulalui

Atau kembali menggunakan
Jalur yang jarang kulalui itu
Bila tak ingin ia
Merajut jaringnya
Di situ

Aku rasa
Aku dan laba-laba
Kini lebih bisa
Saling memahami

DARI TIGA (JUDUL) LAGU KLASIK

1. Balada Si Malang Adelina

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Ada Adelina berjalan
Dan dengan tangannya
Menyisir dinding lumutan
Ingin ia rasakan kembali
Dingin waktu menghijau beku

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Ada Adelina berjalan
Menyusur kenangan
Yang terjulur panjang
Dan lembut basah
Bagai lidah impian

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Ada Adelina berjalan
Dengan senandung rendah
Sebelum tertegun bisu
Di kelok turunan itu
Di depan rumah yang dulu

Senja begitu pelan
Dan di lorong lama
Adelina akan terus jalan
Meski bocah di jendela
Hanya berseru-seru
Ibu, Ibu, itu ada hantu
Berhenti di depan pintu

2. Romansa Asmara

Ia telah disembelih
Oleh kelembutan
Jemari cinta

Terbujur putih
Seperti redup pesona
Pagi yang perawan

Di kantungnya mimpi
Yang dititipkan
Sisa rembulan

Perjaka telah pergi
Dengan kereta ke utara
Ya, ke utara

Tanpa pernah tahu
Tak perlu lagi
Kembali

3. Untuk Elisa

Usiamu masih belasan, Elisa
Tetapi cumbumu
Sungguh tak berbelas kasih

Jantungku yang malas
Tercerabut, kau renggut
Tanpa ampun

Amboi, gairah dara
Penuh bara
Tanpa pura-pura

Usiamu belasan Elisa
Dan esok lusa
Mungkin namaku terlupa

Belia kisahmu penuh gelisah
Belum tuntas kucatat
Hingga kita terpisah

Tak apa
Aku tak meminta
Dan kau pun tak mencinta

Hanya kecuplah sekali lagi
Bibirku yang kering
Dan memutih ini

KETULUSAN IBU

Suamiku,

Mungkin kau akan merebut anak ini
Lalu menyebutnya dengan namamu
Barangkali pula kalian akan sempurna
Melupakanku

Aku lepaskan dengan ikhlas, meski jelas
Sepasang kelopak air mata akan mengembang
Di remang pelupukku
Berbelaslah, aku akan berpura-pura
Tak pernah ada
Setelah peluk terakhir ini

Telah kumiliki apa yang tak akan pernah dapat
Kubagi dengan kalian:
Perih nikmat ketika keindahan datang menikam
Menghunjam berulang
Jerih payah berbulan menjadi inang bagi pesona
Yang mendekam di liang rahim ini
Jerit pedih tertahan antara hidup mati
Ketika ia menyeruak lengkingkan tangis pertama
Dan redup kantuk turun selubungi tubuh sesudahnya
Yang membawaku lelap pulas dalam puas senyuman

Itulah semua kelezatan yang melekat
Bertahan pada sepanjang badan
Terkenang selalu oleh jemari tanganku
Bahkan teringat oleh keringat
Dan nafas hayatku

Ah, andaikan mungkin berbagi
Ingin kuberikan pula apa yang muskil
Kau miliki ini
Biar seutuhnya bisa penuh bahagiamu,

Pembacaku