Monday, November 23, 2015

REQUIEM FOR PAPUA



Di ujung timur sana
Kaki Ibunda Pertiwi dipaksa
Ngangkang

Dan jari-jari putih
Dan jari-jari coklat
Dan jari-jari hitam
Dan jari-jari kuning

Mengorek-ngorek
Liang termulianya
Setelah terlebih dulu
Anak-anaknya, kakak dan adik kita
Dihalau bagai kerbau lumpur
Melompat terjun
Ke rawa malaria
Tanpa kina

Tapi ibu tak lagi merintih
Tak juga ia menjerit
Hanya bening air mata
Bergulir pelan dari sudut mata

Sedangkan liang termulianya
Telah mengalirkan lendir hijau
Yang ditadah dan diseruput
Oleh mulut mesum para hina

Oh,
Berpuluh tahun kita
Yang seharusnya membela
Hanya berpangku malas
Hanya terlongo bego
Terpaku takjub
Menyaksikan para hina
Ganti berganti menindihnya

Dan kita hanya mampu
Menadahkan tangan
Memohon wang sewa
Setelahnya

Tak ada siksa
Yang mampu membersihkan
Kedurjanaan mereka,

Kedurhakaan kita.

Wednesday, June 10, 2015

SALAWAT LALAT KECIL


{Sulus Pertama}

Barisan panjang para pengidung
Telah menyanyikan puja dan sanjung
Terbelah dada mereka sebab dirundung
Dendam rindu tak terbendung

Di belakang bagal iringan terakhir
Yang mengibaskan ekor bagai mengusir
Lalat kecil ini ingin turut bersyair
Walau sumbang di telinga, sumbing di pikir.

Meski muskillah kalau ia bersenandung merdu
Hanya dengan dengungan kepak sayapnya ia mampu
Walau terhalau dari menghinggapi jubahmu, mencicipi porimu
Bahkan untuk sekedar menghidu wangi mawar peluhmu

Tetapi siapa kuasa menahan kata
Bila sengat kenangan mengaburi mata
Oh, sepiala anggur kasih suguhan Pencipta
Harum manisnya betapa sangat menggoda.

{Sulus Kedua}

Samar senyummu, fajar pertama itu
Menyingkap halus paras hari baru
Sedangkan kilas sorot gusarmu
Kilat mengalamatkan hujan ditunggu

Parasmu serupa matahari pukul delapan
Terang hangat namun tak menghanguskan
Sekaligus surya selepas asar yang mengumpulkan
Ruap seduhan kopi, akrab teduh perbincangan

Sosokmu bercahaya menundukkan purnama
Meredupkan unggun api dan bintang utara
Tetapi kilaunya sungguh tak mencederai mata
Lembut membelai retina, menembus batin jiwa

Adapun sabdamu pusaran sinar di puncak ubun
Memusnahkan bayang yang membuntut tekun
Padanya: keindahan-kebenaran berpeluk rukun
Terpahat di ingatan, awet melewati beribuan tahun

{Sulus Ketiga}

Selama alam berkerjapan lenyap-tercipta
Selama detik demi detik berdetak fana
Selama jantung atom berdenyut juga
Selama huruf terakhir belum tereja

Sebanyak noktah dari titik penyusun isi Kitab Agung
Sebanyak tahu yang diliputi tahunya Pengetahuan Agung
Sebanyak balatentara dikendali sang Panglima Mahagung
Sebanyak nikmat karunia Pengasih Paling Agung

Selama dan sebanyak itu semua
Digandakan selama dan sebanyak itu juga
Salawat dan salam deraslah melanda
Berkat dan rahmat tercurahlah pula

Atasmu, Sahabat Mulia yang Setia-Terkasih
Atasmu, Junjungan Penuh Perihatin dan Kasih
Atasmu, Pemilik Ruh Kudus dan Jasad yang Bersih
Atasmu, Mutiara Tersimpan Rapih lagi Terpilih

{Katamah}

Jikapun tersisih dari rombongan di bawah Panji berkibar
Terusir jauh dari telaga bening dengan cawan emas bertebar
Mohon berjanji Tuan menengok tolong di kobaran api terdasar
Raihlah ia, seonggok gosong memutih, dengan syafaat lebih besar.

(Tamam, 24 Syakban 1436 H)

Monday, May 25, 2015

KHAZANAH PERMATA



Perumpamaan Nabi Muhammad utusan Al-Hamid

dan mereka yang diridai dari sahabat dan ahli bait

adalah berlian intan dan lainnya bebatuan mulia

semuanya ciptaan namun bercirikan yang membeda.



Yang pertama dan terutama adalah berlian dari intan

sebaik-baik asahan dari padatan cahaya berkilatan

jernih dan bening, menyimpan kilasan aneka warna

ia yang terkeras, penghias idaman di paras wanita.



Yang lainnya juga adalah permata dengan satu warna

Zamrud hijau, rubi merah, yakut kuning, safir birunya.

Yang lembut-yang tegas, yang zuhud-yang makmur

Yang alim-yang abid ada, juga pedagang-ahli tempur



Nabilah rembulan yang memantulkan cahaya surya

Karenanya bintang-bintang akan nampak bercahaya

Ada yang menanda di utara, ada pula yang di selatan

Bagi bahtera-bahtera, penuntun mengarungi lautan



Perbedaan watak di antara mereka adalah berkat

Perbedaan ilmu di antara mereka adalah rahmat

Setiap kita pun menjadi mungkin meraih ketinggian

Dan terbuka jalan hukum, untuk memilih kemudahan



Dari khazanah yang menyimpan aneka permata

Berlimpahan cahaya, beruraian hikmah berjuta

Jangan hanya mengambil satu, lain kau campakkan

Sila menimang salah satu, yang lain tetap junjungan.



Mungkinkah seimbang tegaknya yang pincang

Dengan sebelah sayap, akankah burung terbang

Jika ingin kokoh dan dan mudah meniti sirat

Cintai serta muliakan keluarga dan sahabat

Saturday, April 11, 2015

DUA SAJAK


HIMNE PENGHINA

bahkan al-Khaliq sang pemilik mahamampu
tak menzalimi walaupun hanya sebutir debu
segala yang nyata ia tata sepenuh kasih teliti
apakah kamu, jiwa kerdil berlagak tirani

banyak yang dirampok hartanya, bahkan haknya
banyak yang dirampok harapnya, bahkan hidupnya
dan kamu masih tertawa, berlagak di atas pentas
berdasi berseragam, wa, tak bercelana yang pantas

tahta kamu rebut, tuk selamatkan perut cicit
harta kamu raup, tak sumpal moncong mencicit
ahya! kekuasaan dan kekayaan yang kau abdi
selapis serbuk tahi kering dilindas sendal kanan kiri

segala yang kau rampas, justru merampok jiwamu
sekalian yang kau tumpas, justru menabung sekaratmu
kini mengangkang hina, esok pasti tersungkur mati
mahluk renik yang tak layak ditakuti, palagi dikagumi


RAHASIA MIRAH SIAM

(Tak kutahu persis apa batunya
Namun anggaplah mirah semu
Tak kuhirau juga berapa harganya
Bertahun lampau, diberi ayahku)

Sebentuk cincin memeluk di jari
Bermata mirah siam berikat perak
Mirah siam batu dimatangkan matari
Disangga kembang empat kelopak


Butir merah padam bagai tetes darah
Bagai hati menggantung di balik rusuk
Warnanya berganti ungu jambon merah
Seperti berkisarnya rasa merasuk-rasuk


Selayaknya batu ia padat mengkristal
Dibekukan waktu, diupam sang pande
Padanya pandangmu tembus ke kekal
Tanah tanpa umpama, tak berandai


Sementara di paras bening berkilau
Segala rupa yang melintas terbayang
Karenanya itu harus selalu dihirau
Ke arah mana hati ini memandang


Adapun empat kelopak dari bunga
lelapis halus membungkus hati
sodar, kalbu, fuwad, lubub namanya
tempatnya islam, iman, ingat dan nurani


ataupun ia alam yang empat itu
yang gaib dan nyata, zahir batinnya
maka tugas insan yang tahu
menyibak tirai jadi penyaksinya


walaupun empat sulur erat membelitnya
sehingga empat sayapmu sulit mengepak
itulah setan jin-manusia, dan dunia benda
serta syahwat-hawa, dan nafsi nan tegak


(sebentuk cincin batu bergaya silam
mengetukkan ajaran ke benak saya
namun setiap menatapnya dalam
inginku dapati jejak mata ayah)