Tuesday, November 07, 2006

SERUMPUN SAJAK TENTANG SEJUMLAH PEREMPUAN (Dari arsip sajak lama)

PEREMPUAN

1.
Beri aku cermin kaca yang rata tak retak
atau telaga bening yang tenang airnya
atau genangan embun di telapak tangan bunga
atau bundar bola mata dara yang berbinar berpendaran

: untuk meyakinkan diri
bahwa aku memang nyata ada.

2.
Ketika pertama aku mendengar lembut suaramu menyapa
dan menatap teduh wajahmu bagai telaga kaca kala senja,
aku merasa ruh kita telah lama bersitatap sebelumnya
sejak dahulu kala, berjuta-juta tahun lamanya.

3.
Jangan pejamkan matamu sepanjang malam,
tetaplah menatapku agar aku senantiasa jaga.
Jangan pula berpaling muka begitu kejam,
pada telaga di matamu, biarkan aku berkaca.

4.
Menyimak wajahmu
bagai mengeja sebuah sajak
: senantiasa ada yang tak tergapai,
selalu ada yang tak selesai.

5.
Perempuan,
sekuntum maut putih
terselip di harum hitam rambutmu,
izinkan aku menciumnya !


ODE KEPADA TUBUH PEREMPUAN

Perempuan,
karena tubuhmu yang penuh
dan berkilatan oleh sepuhan kencana itu
memancarkan sinar cahaya
yang kemilaunya betapa menyilaukan mata,
maka
kutundukkan pandanganku.

Tubuhmu
adalah rahmat yang keramat.
Ia adalah rumah
bagi Nafas Tuhan.
Sucikan
dan muliakan Ia.

Tuhan
telah menciptakannya sendiri
sarat dengan pesona dan misteri.
Seluruh halus lekuknya
adalah sentuhan kelembutan Jemari Suci
WajahNya yang mulia tersenyum
tanganNya yang perkasa gemetar,
dan dadaNya gemuruh berdebar,
ketika membentukmu
di tengah Taman Kudus Surgawi.
Bahkan ia telah rela
meletakkan surgaNya
di bawah telapak kakimu.
Pelihara dan rahasiakan ia.

Ingatlah selalu,
tubuhmu yang jelita itu
telah jadi pelita bagi Adam dahulu
ketika ia tersuruk meraba-raba
dalam kelam gulita,
membangkitkan semangatnya
menempuh Padang Arafah
menuju Jabal Rahmah •)
Jangan biarkan ia
dijamah oleh cemar noda.

Betapa mahal dan sakral ia,
jangan kau jual dan rendahkan
sebagai barang obralan.
Jangan begitu gampang kau pajang ia
di trotoar sepanjang jalan,
di kebyar papan-papan iklan,
di lembar-lembar koran,
dan di layar televisi.
Tuhan terlalu cemburu
dan begitu menyayangimu.
Ia akan marah
bila hasil karyanya yang terindah
diperlakukan murah
dan serampangan.
Maka sucikan
dan muliakan Ia

dalam rahasia.


VANIA

Bagaikan semburat merah
pada buah apel yang ranum

bagaikan semburat merah
pada kuntum anggrek yang rekah

dan bagai semburat merah
pada wajah cakrawala senja

begitulah pula semburat merah
yang merebak di wajahnya setiap tertawa

karena guratan darah kehidupan menyembur deras
mengaliri seluruh urat pembuluh di paras gadingnya

ia, perempuan sutra, lemas dan lembut
namun kuasa mengusap tajam wajah pedang

perempuan sutra, halus dan gemulai
namun mampu meliuk menari dalam badai

seperti porselin ia
dalam keagungan rahasia, tegak diam sendiri

nampak rapuh hampa
namun telah ditempa dalam tungku api

dan sungguh penuh terisi ia
oleh padat kerasnya sunyi


SYAIR PUJAAN KEPADA KEINDAHAN

alangkah indahnya
senyum merekah merah
yang kelak terkatup membiru
dan murung melengkung pilu

alangkah indahnya
dendang merdu gelak tawa
yang kelak senyap bisu
tinggal angin meraung sendu

alangkah indahnya
pandang bening bola mata
yang kelak muram terpejam kelopaknya
dan tergulir jatuh tinggal rongga hampa

alangkah indahnya
tubuh semampai melenggang gemulai
yang kelak layu tumbang terkulai
lalu amis membangkai

alangkah indahnya
rambut hitam tebal tergerai
yang kelak putih kusam
dan kusut terburai

alangkah indahnya
kulit halus mulus kencang
yang kelak mengerut mengendur
lalu terkelupas berlepasan

alangkah indahnya
padat sintal daging
yang kelak leleh terurai
dirubung beribu belatung

alangkah indahnya
hangat gelegak darah
yang kelak surut
kering disadap bumi

alangkah indahnya
kukuh tegak tulang belulang
yang kelak luruh lungkrah
berserakan ditimpa sinar bulan

alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya


ENIGMA

Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Senantiasa nampak anggun pantas serta sempurna
Melihatnya pertama pasti tersentak oleh pesona

Begitu ramah ia bergaul, begitu luwes bertingkah
Di tengah gerumbul mawar ia termerah dan terindah
Namun di balik senyuman yang terbentuk ceria
Ada rapi tersimpan setumpuk rahasia

Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Samudera menyimpan pusaran dalam di lubuknya
Gunung mengandung bara magma pada lambungnya


KEPADA PEREMPUAN DENGAN LENGAN BERAJAH

kau tak pernah cerita
dan tiada kudengar berita
tetapi dari jerit mata
kutahu kau menderita

rambutmu adalah belukar
kulitmu sabana terbakar
sukmamu ringkik kuda liar
memekik luka sebelum terkapar

wahai, perempuan dengan lengan berajah
mari, biar kukatupkan dadamu terbelah
dan kukucup lukamu yang bernanah
hingga kuncuplah matamu yang marah

janganlah menampik sangat
jika kuminta sekedar nomor alamat
tak kau inginkankah ada yang sempat tercatat
dari kelumit percintaan kita yang gawat

sedang pada setiap lekuk landai
masih ada saja ceruk luput tertandai
dan selalu tersisa lembut dari belai
yang senantiasa tak kunjung sampai


dan biarkanlah kuda yang terluka
berlari nyari suaka di lembahku saja
berbaring tenang di samping telaga
semoga padam gelegak dahaganya.


TENTANG SEORANG WANITA

ia sudah tiga puluh dua
tetapi belum juga berdua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim perlahan bersalin

ketika kutanya kasihnya siapa
dan dimana gerangan dia berada
bibirnya tipis menggaris senyum
enggan seperti luka yang dikulum

ketika kutanya ada apa
ia hanya diam menatap saja
tetapi ketika aku terus mendesak
ia menjawab setelah tertawa ngakak :

jangan tanyakan tentang kekasih
karena aku cuaca yang beralih
bianglala di cakrawala telah pudar
lautan yang dulu kini tenang tawar

sudah jangan bertanya lagi
temani saja aku semalaman ini
tolong tuangkan lagi segelas
tetapi jangan padaku kau berbelas

toh, kita bersama takkan lama
dan kau hanya salah satu nama
kebetulan tubuhku rindu berbincang
dalam seru percakapan di ranjang

selanjutnya adalah sentuhan lembut
yang saling menyahut, saling menyambut
hingga datang gempa mengguncang gempar
dan sepasang mata bersitatap nanar

astaga, ia sudah tiga puluh dua
tetapi tetap kanak yang menolak tua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim telah jadi lain


PEREMPUAN BERJALAN MALAM

Ia melangkah terhuyung
Berjalan seperti orang linglung
Mengikuti arah angin kemana pergi
Kakinya diayun tak bertuju pasti

Sementara senja telah merona kota
Mulai jatuh pula hujan pertama
Orang-orang berlarian mencari teduh
Burung-burung berpulangan berhenti riuh

Namun ia hanya terus tak acuh
Meski dingin perlahan meringkus tubuh
Hujan yang jatuh mengendapkan debu
Air mata yang luruh menyingkapkan sendu

Bila dalam gelap kau jumpa ia
Akan kau tahu ia mendekap sendiri rahasia
Di tengah danau ada sepi terapung
biduk kecil patah dayung


NYANYIAN PEREMPUAN MERINDU

I.
Tahun demi tahun terus beredar
bagaimana kabarmu tak lagi kutahu
aku telah banyak belajar sabar
tak lagi sangat hasrat untuk bertemu.

Aku tiada yakin benar
apakah kau masih dapat mengenaliku
tetapi tetap saja dadaku berdebar
setiap mengiang sebutan namamu.

Betapa dahulu ingin kubersandar
pada bidang dada tegapmu
dan dalam rengkuhan lenganmu kekar
biar kupasrahkan diri dan nasibku.

Kadang pandang sayuku menyinar berpendar
saat di antara pejalan kulihat kelebat punggungmu
bergegas kuayun langkah untuk mengejar
berharap dapat sekedar menyapamu.

Tetapi, sungguh tatapanmu surya membakar
bagai bunga sepatu ku hanya menunduk malu
dan alangkah suaramu berat membawa getar
membuat lidahku kelu dan bibir mengatup bisu.

Seperti mawar di rumpun belukar
kupendam dalam perasaanku padamu
setelah bertahun, berita dirimu ingin kudengar
aku masih mengagumimu, seperti dahulu.

Waktu yang angkuh tak acuh saja berputar
kini pupus angan jadi kenangan lalu
tetapi bagai langit yang birunya tiada pudar
bayanganmu tinggal kekal menaungi sukmaku.

II.
Tetapi di manakah kamu, Sayang
di manakah alamat tempatmu berada sekarang
surat terakhir kau kirim dari negeri seberang
kubaca berulang-ulang dengan dada terguncang
setiap hari satu angka di penanggalan kusilang
mungkinkah engkau kembali setelah sekian tahun berbilang
kata orang cinta sejati tak akan pernah hilang
cintaku padamu tumbuh lebat menjulang berbunga bagai ilalang
di bawah langit senja bergoyang melambai bagai gelombang.

Tetapi di manakah kamu, Sayang
wajahmu tetap terbayang, swaramu kerap terngiang
mengenangmu membuat mataku basah berlinang
seperti telaga kesedihanku dalam diam menggenang
siang dan malam hari terasa lamban lagi panjang
terik matahari meradang garang, angin kelam tak henti mengerang
tak pernah kusut dan tetap bersih kain penutup ranjang
aku tak dapat berbaring tidur menunggumu kembali pulang
hanya duduk menunduk dalam redup cahaya dan remang ruang.

III.
Tangan halus manakah
yang akan membelai rambutku
Kembang bibir lembut manakah
yang sudi mengecup lukaku
Dan sepasang lengan hangat mana
yang sedia mendekap dukaku.

Hujan angin menjerit malam hari
tetapi lebih nyaring lengking rindu hamba
Badai menggila seakan tanpa henti
tetapi lebih amuk kecamuk hasrat damba
Betapa pembaringan terlalu luas untuk sendiri
dingin lembabnya menggeletarkan jiwa.


NYANYIAN ISTRI YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA

Sudah lewat tiga senja
tetapi aku masih di sini saja
duduk membisu dekat jendela
menatap nanap dan hampa.

Kunanti menginjak halaman langkah kakinya
kutunggu terdengar siulan dan senandungnya
kuharap di pintu depan berulang ketukannya
kudamba suaranya memanggil-manggil namaku mesra.

Telah berganti berkali nasihat keluarga dan tetangga
harus kurelakan ia istirah dengan tenang di alam baka
tetapi kutahu benar, salah besar mereka
lakiku tak mati, ia pergi kerja, sebentar lagi pasti tiba.

Memang tak biasanya ia pulang begini lama
namun kuyakin selalu hatinya senantiasa setia
entah hingga berapa kali lagi lewat senja
entah sampai kapanpun tetap kupercaya akan kembali ia.

Karena siapakah yang akan membuka pintu untuknya
bila ia tiba-tiba datang mengetuk di malam buta
ketika kantuk menusuki kedua matanya
dan angin dingin menampari wajahnya.

Siapakah pula yang akan menyiapkan meja untuknya
jika ia datang dengan lapar dahaga
dan siapa lagi yang akan menemani tidurnya
menyelimuti sukmanya dengan cinta tak bertara.

Sudah lewat tiga senja, sekarang telah malam pula
tetapi aku masih bertahan berjaga dekat jendela
duduk mematung menatap pekat gulita
sebentar lagi, tak lama lagi, ia pasti tiba, pasti tiba.


NYANYI UNTUK PERAWAN MENUA SENDIRI

Ia tanggungkan semua
sendiri saja, tiada berdua :
pilunya sembilu sendu dan rindu
yang bertahan bisu,
derita kecewa hampa dan damba
yang dipendam rahasia.

Ia tanggungkan semua
dengan sabar dada bunda
seperti kerang menyimpan pendar mutiara
dalam cangkangnya jauh di dasar laut raya,
seperti magma yang bergelung
di relung perut gunung.

Ia tanggungkan semua
walau senyum letih wajah tua tak dusta
jadi tuba direguk, jadi luka dikunyah
nikmat laknatnya sepi membarah
sampai suatu ketika, bumi
menyimpan dirinya jadi abadi, sendiri.


BALADA PEREMPUAN TUA YANG KECEWA

Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.

Sekarang matanya nanar
dan tangannya gemetar
tiap menatap gambar album
masa muda harum dan ranum.

Lelaki itu tinggi besar
tegap ia lagi kekar
tindak lakunya satria
tutur katanya cendikia.

Siapa tak tertawan
dan sanggup melawan
ia pun pasrah tak berdaya
menyerah pada tipu daya.

Dialah Laila Gila
yang telah serahkan segala
tetapi sehabisnya Malaikat Pemikat
lantas menjelma Iblis Jahat.

Sakit dan sesal
jadi siksa kekal
luka dan kecewa
hingga tua terbawa.

Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.

Iapun terus diam
memendam arus dendam
sedih dan pedih
ditelan tanpa rintih.

Hari demi hari
perlahan mati
tahun demi tahun
duka lara menimbun.

Kendur dan kerut
membalut tubuh susut
duhai, kemana pergi
kembang yang wangi.

Hingga di suatu senja
maut menjemput sempurna
ia diam kaku terbaring
tanpa ada yang mendamping.

Langit waktu itu gerimis
seakan turut nangis
sedang di sudut matanya
menitik jatuh sisa air mata.


PEREMPUAN YANG MEMBISU

“Aku telah bersalah,
maki dan tamparlah aku !”
hiba lelaki itu sembari bersimpuh
dihadapan perempuan yang membisu.

“Aku telah berselingkuh mengkhianatimu,
sumpahi dan jambaklah aku !”
rengek lelaki itu sampai bersujud
mencium kaki perempuan yang membisu.

Tetapi perempuan itu lebih perkasa
dari segala luka dan derita.
Sekian lama ia berdarah-darah setiap bulan
bahkan Ia telah merobek tubuhnya untuk lelaki itu
dan membelah dirinya berkali-kali
bagi kehadiran mahluk baru.

“Kutuki dan apa sajakanlah aku !”
jerit histeris lelaki itu dalam tangisnya
sembari berguling-guling di lantai
memukulmukuli kepalanya sendiri
dan menyentaknyentakkan kakinya.

Namun perempuan itu tetap membisu
kesenyapannya lebih mendera terasa
hingga membuat lelaki itu semakin putus asa.
Iapun bangkit sembari meraung-raung keras
berlari ke dapur, meraih pisau di atas meja
lalu menikam-nikam lambungnya.


HAWA, TENTANG ADAM

kulihat dia: si iblis,
tokoh antagonis
yang angkuh dan empiris,

menyamar sebagai ular
melingkar dari pangkal pohon
membujukku memetik khuldi

katanya inilah buah pengetahuan
memberi jalan ke arah keabadian
mengangkat derajat setara malaikat

begitu desis si penghasut
kepalanya menegak bergoyang di dekat buah
lidahnya menjulur menyembur goda

kuminta adam memetiknya untuk kami
demi pengetahuan, bagi keabadian,
dan kehidupan bagai malaikat tinggi

tetapi adam, dasar bocah lelaki,
ia lebih memilih buah dadaku
serta berpuas diri di pangkal paha saja

maka kuputuskan mengulurkan tanganku ...

No comments: