Sunday, November 19, 2006

SAJAK-SAJAK TERBARU, 2

POHON JAKARANDA

Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang hanya rangka


POKOK POHON ITU

Pokok pohon dari hutan itu
Terbaring kering dan kuyu
Sebagai sebatang kayu
Menanti datang waktu
Bangkit menjadi bangku
Setengah menantang berlagu
Setengah pula merayu
Manakah gergaji dan palu
Begitu ia seolah berseru
Kepada tukang tua itu
Tetapi sang tukang kayu
Hanya berdiri termangu lesu
Pesanan sekarang tak menentu
Juga hutang upah pada pembantu
Sudah ditangguh dua minggu
Dan tentang nasib si batang kayu
Teringat istrinya sedang menunggu
Hampir padam api di tungku


MENANGISLAH LANGIT

Menangislah langit
Sedih terlalu dalam
Begitu lama tersimpan
Jadi mengelam
Dalam bergumpal awan

Menangislah langit
Bahkan pohon flamboyan
Juga jakaranda dan akasia
Selalu meluruhkan bunga
Kala senja berlara hari

Menangislah langit
Menangislah
Biar bisa kusamarkan
Dalam gemuruh raungmu
Buraian bulir air mataku


TITIP PESAN

Bila engkau terlebih dulu
Sampai di sana, di kampung halaman
Yang lama, sampaikan salamku
Pada kerabat dan kenalan

Pesanku jangan saya dicemaskan
Meski bekal menipis dan hasil secuil hanya
Namun tawaku riang, langkahku ringan
Seperti iringan awan mega di cakrawala

Kadang memang tersuruk sesat di lebat belantara
Juga terjerumus jatuh di jurang dalam berbatu
Tetapi takut dan remuk hanya sebentar saja
Karena kutahu rumah lubuk siapa di sebalik itu

Perjalanan telah membawa ke berbagai negeri
Tetapi berangkat, singgah serta menetap diam
Semuanya semata bertempat di hati ini
Begitulah hikmah yang akhirnya kupaham

Tolong doakan selamat dan cepat sampai
Saya pun ingin segera bisa pulang
Kini pakaian badan ini kusut masai
Nanti ditinggal tanggal telanjang sisa tulang


KUATRIN MUSIM SEMI, 2

Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya


HEWAN TERLUKA

Apakah engkau sekarang berbahagia, sayang?
Panah yang kau arahkan padaku
Menancap tepat pada ceruk dada
Parah luka membuatku mabuk
Sepasang tandukku telah patah
Dalam demam panas kuerangkan namamu
Tetapi setiap pokok pohon dan rumpun rumput
Seperti berkeras menyamarkanmu
Siapa? Kami tak pernah tahu nama itu!
Di pelosok hutan mana kamu melihatnya?
Mengapa dahulu aku berlari ketika kau berseru: mari!
Berkedutan hulu nadi, merih menagih sembelih
Tuntaskan cintamu, Paduka
Biar lunas duka pada dadaku

No comments: