Wednesday, July 07, 2010

CATATAN PERJALANAN

(Untaian dari sejumlah sajak lama yang setema)

1.
Seperti engkau kukenal melambai dan memanggil
Menghampir sesampai tapal penanggalan, antara april
Dan mei, dengan sengal dingin menggigit gigil

Hingga hijau warna hutan kecil bersalin suasana
Kuning jingga juga merah suasa, dan suara burung terdengar lain
Hingar melengking ke arah cuaca, namun lebih murung, mungkin

Meratap oleh ulah musim yang dikirim menggenapi
Upacara purba ini. Tetapi senyap sepimu menyekap surup hari;
Malam tumbuh kian larat lagi sedangkan redup pagi

Bertambah lambat, dari tiga kerat
Bulan yang sembab seolah selimut bulu, memberat
Disebabkan basah lembab dan gelap kelabu. Namun lihat,

Seperti ikal dedaun digelung surya
Tak mengeluh, bagai kelopak kemboja
Mengilaukan igal kilat terakhirnya

Saat tanggal berluruhan lalu terserak di tepian jalan
Aku pun akan tinggal tegak diam, membiarkan
Jemarimu kelak menelanjangi kelamku, kekal, perlahan.

2.
Pohonan berbisik di sepanjang lengang jalan ini
oleh rintik sesekali yang menorehkan melankoli
seakan sore bakal jadi sekekal rasa sesal
: jangan menoleh, atau engkau takkan sampai ke asal!

Tetapi kenapa sesal tiada kenal usai, kenapa sedih
bisa jadi lebih abadi dari harapan yang letih.
Dan memang, di penghujung jalan pun burung-burung
menghambur ke dalam jubah senja, sosok berselubung

yang turun berdiri menghadang dengan angkuh
merentangkan lengan-lengannya begitu kukuh
sehingga tiang-tiang lampu juga tak mampu menahan
jingga itu susut ke arah barat, perlahan.

Dan senja juga akan selesai sebelum ia tiba di sana,
akhirnya; membuat pohonan menggumamkan nubuat purba
yang telah lama terlupakan itu. Tirai-tirai gerimis lalu diturunkan
bersusun, menyihir jalan jadi lengang, kenangan sesepi impian

tuhan, tuanku, jangan aku kau tinggalkan...

3.
Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi

Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?

Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Serta segerombol orang
Yang memanggil melamabai
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti

Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu

4.
Aku masih setia di jalan
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih

Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut

Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu

5.
Lembut sayap-sayap kelam telah
Menyelubungi lengkung punggung bumi
Teduh rimbun malam pun luruh
Menudungi ubun hari yang lelah

Deras daras doa dalam darah
Mendebarkan kembali damba lama
Dengung lebah belantara kristal cahaya
Disebarkan angin semilir dingin membasah

Lalu kualirkan seribu daun perahu
Dari hulu hati ke arah hulu
Menuju pelukan cintaku yang dahulu
Kularung mereka dengan kemurungan

Yang sempurna, seakan bakal kekal
Bertarung mengarung arus digariskan
Sakal angin dan delapan cagak karang
Tegak menghadang garang dalam kegelapan

Selamatkanlah dedaun yang gerimis
Dari dadaku itu, masih kusebut namamu
Kekasih, meski sahutmu sungguh lembut
Mendesir lebih sembunyi dari sir rahasiaku

Selamatkanlah pula kenangan yang kian
Berkeping di tepi ingatan ini, sebelum
Menghambur debu, tinggal gaung hampa
Berulang meraung samar di relung lupa

Sayang, sekarang geletar pijar fajar mewarna
Di ufuk, bintang memudar sinarnya menyisih
Ke lubuk galaksi jauh, namun di tangkai tanganku
Tengah bermekaran: mawarmu

6.
Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin, angin, mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?

7.
Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku

8.
Apakah yang membawaku ke tempat ini:
Kerinduan yang menuntut bertemu,
Sepasang kaki yang menuntun tubuhku,
Ataukah senyum yang selalu membayang lembut
Di ujung garis bibirmu dan ramah
Yang mencerahi kelopak dan pelupuk matamu?

Aku tak tahu.Tetapi, kini, pohon-pohon begitu teduh
Dan burung-burung riuh mengiringi langkah
Dalam perjalanan. Putri malu pun melulu tersipu
Sementara kilat kelebat seekor kadal
Alangkah kontras dengan geliat malas cacing
Yang melata di sela bebatu. Bahkan
Bulir-bulir kerikil itu juga terguncang riang
Di sepanjang setapak yang kulalui

Siapakah yang menambatkanku di sini?
Entahlahlah. Masa depan
Menentukan apa yang terjadi
Di hari ini. Tujuan-tujuan
Mewujudkan sendiri jalan mereka.

Karena dalam pengetahuan Sang Maha Tahu
Segalanya telah selesai sebelum dimulai
Dan pejalan sudah sampai sejak saat
Sebelum lambaian pergi

(2005-2009)

SAJAK-SAJAK ANAK KOS (DARI ARSIP SAJAK LAMA)

(Dua sajak pertama, kenang-kenangan nge-kos di Bumi Parahyangan, Bandung, antara 1999-2002. Khusus sajak pertama, telah dilebay-lebaykan sedikit. Sajak terakhir, memori nge-kos di Bumi Kanguru, Australia antara 2005-2007 dan tanpa pe-lebay-an)


BALADA JENAKA MAHASISWA PERANTAUAN

Alkisah adalah seorang mahasiswa
Datang bertandang ke rumah sang guru besarnya
Sengaja mencoba mengulur-ulur topik perbincangan
Menunggu ajakan malam malam bersama ditawarkan

Hingga kehabisan bahan, akhirnya cuma bisa terdiam
– eh, ternyata sudah lewat jam sembilan malam –
raut muka tuan rumahpun mengisyaratkan kekesalan
namun tawaran yang diharap tetap tak dilontarkan.

Mulut meringis kecut perut menangis keroncongan pamit pulang
Hanya mampu berjalan kaki sembari iseng berdendang sumbang
Lewati deretan panjang warung padang, sate madura, kantin fast-food
Langkahnya perlahan agak terseret menahan air selera hampir semaput

Sampai di kamar sewaan, sekujur tubuh basah keringatan
Sukur masih tersisa air + sebiji pisang biarpun agak lunak kecoklatan
Senyum-senyum sendiri gelar kasur lalu langsung tidur bermimpi
Esoknya bangun kesiangan, tapak tangan kaki terasa dingin sekali

Lalu muncullah pak pos mengetuk-ngetuk pintu
Isi surat : kiriman untuk bulan ini jangan terlalu ditunggu
Menyusul ibu kos nongol sambil ngamuk nagih sewa
Ultimatumnya : kalau masih nunggak lagi, good bye saja !

Tidak sempat mandi tetapi langsung nimbrung ikut perkuliahan
Hadirnya paling belakangan tapi pulangnya ngacir paling duluan
Sudah itu seharian nongkrong di perpustakaan sampai waktu habis
Baca-baca koran minggu, majalah, dan surfing internet, serba gratis

Duh aduh aduh, alangkah enaknya hidup mahasiswa bujangan
Susah senang sendirian, tidak usah pusing mikirin tanggungan
Terbiasa nglakoni hidup prihatin begini mungkin juga nanti berguna
Selain dapat gelar sarjana, sekalian jadi orang sakti mandraguna.


LELAKI YANG LAPAR

Langit malam berdandan anggun bagai perawan
Gaunnya indah bermanik bintang berenda awan
Tetapi mengapa lelaki muda mengumpat pahit
Di dadanya anak burung gempar menjerit

Di lambungnya bersarang seekor ular hitam
Dengan mata membara lidah menjulur tajam
Ular hitam yang garang meliar menggeliat
Mendesis panjang dan menyemburkan bisa laknat

Dengan perut berkeriuk kosong dan kedinginan
Lelaki muda terus berjalan tersuruk sempoyongan ;
Langit malam menatapnya cemas berdebaran duka –
Janganlah ular hitam menerkam anak burung dalam dada !


SELAMAT JALAN MUSIM DINGIN

Segera pergi dan sekalian selamat jalan, musim dingin
Semoga tak perlu bertemu pula di tahun depan
Kawan pemurung yang baik sebenarnya,
Sayang ia tamu yang datang berkunjung terlalu lama
Berminggu-minggu memunggungi matahari

Semoga silam malam-malam melamun di bawah 5 derajat
Dalam kamar lembab berdinding kayu tanpa penghangat
Berteman selimut dilipat dua yang lembut namun melulu
Serba salah: mencari panjang, kurang lebar ia
Mencari lebar, kurang panjangnya

Semoga berlalu pula hari-hari kelabu dan sendu
Dengan angin yang meratap dan menyayat selalu
Hampir seminggu sudah termangu tanpa sekeping dolar
Pun sekedar untuk interlokal:
“Halo, apa kabar. Beta baik-baik saja di sini”

Segera pergi dan selamat jalan, kawan
Adios, Compadre. Adieu. Goodbye, my friend.
Biarlah tinggal berkarat sebagai kenangan
Cerek perengek yang pekikannya memekakkan telinga
Dan panci dadar yang telah sudi jadi pemanas portebelku

(2007)