Saturday, March 31, 2012

CATATAN PEJALAN, TAMALANREA

TAMALANREA, MALAM SEBELUM GERIMIS REDA

pohonan ki hujan dan jati belanda
juga flamboyan dan angsana
berjajar di sepanjang jalan
gemetar dijamah angin selatan

pendar cahaya lampu-lampu ukir
memang tak berdaya untuk mengusir
malam yang datang bawa senyap
menyihir kita jadi bayang gelap

sepasang wajah yang karib
sekarang musnah perlahan raib
saya takut, lembut cemasmu
pegang tanganku, sahutku

lenganmu yang penuh dan telanjang
sungguh membuatku meremang
rambutmu meruapkan wangi
lebih hunjam dari setanggi

maka selirih bisikan ada yang luruh
bersama rintik ketika tiba meruntuh
dan di halte kecil yang ditinggalkan
helai-helai kecupan pun bertanggalan...


EPISODE

Aku berjalan perlahan seorang diri
menyusuri tepi bulevar tamalanrea yang sepi
menembusi sisa-sisa gerimis
sehabis hujan sore hari.
Di tepi kanan-kiri jalan
lampu-lampu merkuri telah dinyalakan
membangkitkan kembali kenangan-kenangan lama
yang selama ini nyaris terhapus lupa.
Wangi tanah basah
dan harum rerumputan meruap
menggeletarkan seluruh atom tubuhku.
Sementara bunga-bunga merah kecil
dan dedaunan kuning tua
menderas berguguran dihembus angin senja
memenuhi batang jalan
--beberapa jatuh di atas kepalaku
dan sengaja tak kusapu.

Sebentar lagi malam.


PINTU DUA, TAMALANREA

Sayap-sayap langit kelam kelabu
menaungi rumah-rumah beratap merah bata
dan menyalakan cahaya kuning jingga
pada pucuk lampu-lampu jalan.
Lalu ia merentang dan mengepakkan sayap-sayapnya
karena mabuk oleh rasa senang yang entah datang dari mana
maka dengan tenang, bunga-bunga kuning mungil dari angsana
dan bunga-bunga merah kecil dari flamboyan
luruh berhamburan, cemerlang berbaur diaduk angin selatan.


TAMAN PARKIR REKTORAT UNHAS, TAMALANREA

oleh untaian tabir hujan
turun di akhir tahun
taman parkir kena sihir
seindah lukisan cat air

pohon-pohon samar
dan bangku-bangku gemetar
sedang di pelataran gedung
kami pun harus berlindung

ada yang mengumpat
oleh jadwal yang lat
ada yang resah cari arah
dan cara hindari basah

namun aku hanya tertegun
tak ingin bangun
dari pukau pesona
lukisanNya

(1992-2002)

CATATAN PEJALAN

1.
Seperti engkau kukenal melambai dan memanggil
Menghampir sesampai tapal penanggalan, antara april
Dan mei, dengan sengal dingin menggigit gigil

Hingga hijau warna hutan kecil bersalin suasana
Kuning jingga juga merah suasa, dan suara burung terdengar lain
Hingar melengking ke arah cuaca, namun lebih murung, mungkin

Meratap oleh ulah musim yang dikirim menggenapi
Upacara purba ini. Tetapi senyap sepimu menyekap surup hari;
Malam tumbuh kian larat lagi sedangkan redup pagi

Bertambah lambat, dari tiga kerat
Bulan yang sembab seolah selimut bulu, memberat
Disebabkan basah lembab dan gelap kelabu. Namun lihat,

Seperti ikal dedaun digelung surya
Tak mengeluh, bagai kelopak kemboja
Mengilaukan igal kilat terakhirnya

Saat tanggal berluruhan lalu terserak di tepian jalan
Aku pun akan tinggal tegak diam, membiarkan
Jemarimu kelak menelanjangi kelamku, kekal, perlahan.

2.
Pohonan berbisik di sepanjang lengang jalan ini
oleh rintik sesekali yang menorehkan melankoli
seakan sore bakal jadi sekekal rasa sesal
: jangan menoleh, atau engkau takkan sampai ke asal!

Tetapi kenapa sesal tiada kenal usai, kenapa sedih
bisa jadi lebih abadi dari harapan yang letih.
Dan memang, di penghujung jalan pun burung-burung
menghambur ke dalam jubah senja, sosok berselubung

yang turun berdiri menghadang dengan angkuh
merentangkan lengan-lengannya begitu kukuh
sehingga tiang-tiang lampu juga tak mampu menahan
jingga itu susut ke arah barat, perlahan.

Dan senja juga akan selesai sebelum ia tiba di sana,
akhirnya; membuat pohonan menggumamkan nubuat purba
yang telah lama terlupakan itu. Tirai-tirai gerimis lalu diturunkan
bersusun, menyihir jalan jadi lengang, kenangan sesepi impian

tuhan, tuanku, jangan aku kau tinggalkan...

3.
Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi

Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?

Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Serta segerombol orang
Yang memanggil melamabai
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti

Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu

4.
Aku masih setia di jalan
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih

Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut

Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu

5.
Lembut sayap-sayap kelam telah
Menyelubungi lengkung punggung bumi
Teduh rimbun malam pun luruh
Menudungi ubun hari yang lelah

Deras daras doa dalam darah
Mendebarkan kembali damba lama
Dengung lebah belantara kristal cahaya
Disebarkan angin semilir dingin membasah

Lalu kualirkan seribu daun perahu
Dari hulu hati ke arah hulu
Menuju pelukan cintaku yang dahulu
Kularung mereka dengan kemurungan

Yang sempurna, seakan bakal kekal
Bertarung mengarung arus digariskan
Sakal angin dan delapan cagak karang
Tegak menghadang garang dalam kegelapan

Selamatkanlah dedaun yang gerimis
Dari dadaku itu, masih kusebut namamu
Kekasih, meski sahutmu sungguh lembut
Mendesir lebih sembunyi dari sir rahasiaku

Selamatkanlah pula kenangan yang kian
Berkeping di tepi ingatan ini, sebelum
Menghambur debu, tinggal gaung hampa
Berulang meraung samar di relung lupa

Sayang, sekarang geletar pijar fajar mewarna
Di ufuk, bintang memudar sinarnya menyisih
Ke lubuk galaksi jauh, namun di tangkai tanganku
Tengah bermekaran: mawarmu

6.
Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin, angin, mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?

7.
Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku

8.
Apakah yang membawaku ke tempat ini:
Kerinduan yang menuntut bertemu,
Sepasang kaki yang menuntun tubuhku,
Ataukah senyum yang selalu membayang lembut
Di ujung garis bibirmu dan ramah
Yang mencerahi kelopak dan pelupuk matamu?

Aku tak tahu.Tetapi, kini, pohon-pohon begitu teduh
Dan burung-burung riuh mengiringi langkah
Dalam perjalanan. Putri malu pun melulu tersipu
Sementara kilat kelebat seekor kadal
Alangkah kontras dengan geliat malas cacing
Yang melata di sela bebatu. Bahkan
Bulir-bulir kerikil itu juga terguncang riang
Di sepanjang setapak yang kulalui

Siapakah yang menambatkanku di sini?
Entahlahlah. Masa depan
Menentukan apa yang terjadi
Di hari ini. Tujuan-tujuan
Mewujudkan sendiri jalan mereka.

Karena dalam pengetahuan Sang Maha Tahu
Segalanya telah selesai sebelum dimulai
Dan pejalan sudah sampai sejak saat
Sebelum lambaian pergi

(2005-2009)

Thursday, March 15, 2012

Proyek 1000 Haiku (Maret)

kaku kelabu kotak-
kotak ruko; seekor bangau
putih melintas terbang

(0310/2012)
*
kerlingan pertama
langit kemarau: kilau
hijau semangka

(0309/2012)
*
di sisi kembang sepatu
yang baru gugur daun satu,
hinggap bergeming: kupu kuning

(0308/2012)
*
cerah wajahnya
tak berjejak: amuk angin
semalam tadi

(0307/2012)
*
deru badai; akankah
ikan-ikan di akuarium
terus betah berabai?

(0306/2012)
*
bulan penuh
seorang nabi di tengah
para sahabatnya

(0305/2012)
*
bulan penuh
janganlah engkau berpaling
dari memandangku

(0304/2012)
*
bulan penuh
hembusan angin gurun
menimbuni rahasia

(0303/2012)
*
hutan malam
khusuk jemaah zikir
aneka satwa

(0302/2012)
*
setelah hujan
di lorong becek itu
derai tawanya

(0301/2012)
*
setelah hujan
apakah laut kini
terisi penuh?

(0300/2012)
*
deburan ombak
lapisan tepi gaunnya
dimainkan angin

(0299/2012)
*
rumah sengketa
rumput ilalang kembali
merebut lahannya

(0298/2012)
*