Tuesday, November 07, 2006

SERUMPUN SAJAK TENTANG POHON YANG PERNAH KUJUMPAI (Dari arsip sajak lama)

ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN

Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu
tak henti-hentinya kupuja.
Ketika musim hujan deras turun
meluruhkan daun-daunnya,
dengan megah ia rekahkan bunga-bunga merah cerah.
Dan saat kemarau panas begitu beringas
menggugurkan bunga-bunganya,
dengan anggun ia rimbunkan kembali
daun-daunnya yang hijau kemilau .
Berulangkali kudendangkan tembang pujaan
bagi pohon flamboyan itu,
ia mengatasi waktu dan maut
dengan begitu lembut dan perkasa.


ODE KEPADA BUNGA SEMAK-SEMAK

Berbahagialah bunga-bunga semak
yang tumbuh liar di pinggiran jalan
membiarkan angin bersama orang-orang
sibuk lalu lalang dalam hiruk pikuk
ia tak pernah memekik
untuk menarik perhatian mereka.

Berbahagialah bunga-bunga semak
yang menjadikan kelokan selokan sebagai cermin
mereka memang tidak seperti angsoka atau anggrek
yang kolokan dan suka merengek itu,
atau seperti melati yang tinggi hati
dan suka mengolok-olok dirinya
yang jorok serba kotor,
ia pun hanya cuek
ketika cocor bebek itu mengejek
rupanya yang jelek,
ia tak pernah tahu dan memaksa
mereka-reka keindahannya sendiri.

Berbahagialah bunga-bunga semak
yang tumbuh tanpa ada yang menanti,
tanpa tempat berteduh,
tanpa pernah sempat tersentuh jemari halus
wanita pemilik taman itu.
Sejenak saja ia membuka kelopak-kelopaknya
lalu luruh tanpa keluh.
Kemudian berlalu diam-diam
tanpa ada yang tahu dan merasa kehilangan
: ia lebih tulus, lebih kudus.


POTRET MURNI

Siang jam dua belas
angin panas, kering dan malas.
Rumah-rumah batu
berderet bisu.
Jalan panjang
berdebu dan lengang.
Di ujung pohon mati
terbakar matahari.


POTRET

Mentari ngantuk dan memberat
memerah nun di ufuk barat.
Ada rumah panggung tegak sendiri
dekat kali coklat yang lirih bernyanyi.

Pohon flamboyan menyala dalam senjakala
di tepian sana ia mekar membakar warnanya.
Dihembus angin bunga-bunga merah kecil berluruhan
jatuh bertebaran dan terus hanyut dibawa arus perlahan.

Begitu anggun malam turun dan datang
burung-burungpun berterbangan pulang.
Aku bertanya-tanya di dalam hati
kemana gerangan mereka dibawa pergi.


EPISODE

Aku berjalan perlahan seorang diri
menyusuri tepi bulevar tamalanrea yang sepi
menembusi sisa-sisa gerimis
sehabis hujan sore hari.
Di tepi kanan-kiri jalan
lampu-lampu merkuri telah dinyalakan
membangkitkan kembali kenangan-kenangan lama
yang selama ini nyaris terlupa.
Wangi tanah basah
dan harum rerumputan meruap
menggeletarkan seluruh atom tubuhku.
Sementara bunga-bunga merah kecil
dan dedaunan kuning tua
menderas berguguran dihembus angin senja
memenuhi batang jalan
--beberapa jatuh di atas kepalaku
dan sengaja tak kusapu.

Sebentar lagi malam.


JALAN SETAPAK

jalan setapak yang terlupakan
terkapar dibakar matahari
semak belukar di kedua tepi
berlomba menghapusnya

sejak jalan aspal datang
mengiris punggung bukit bunga
para peladang di hutan
lama tak lagi melintasi

ia berharap semoga ada bocah
yang tersesat di padang sana
biar nanti para pencari
kembali lalulalang di atasnya

di mulutnya dulu aku berdiri terpaku
tak tahu arah mana menuju rumahku
bila kini kalian datang mencari
temukan aku di dahan pohon kayu


TUGAS MENYAPU HALAMAN

Andai kita bersedia sabar beberapa lama lagi
tentu daun-daun jatuh dan reranting patah
yang bertebar disekeliling kaki pohon besar itu
akan dapat kembali lahir pada musim mendatang.

Andai kita bersedia sabar beberapa lama lagi
pastilah wajah bumi tak akan mengernyit nyeri begini
digarit-garit oleh batang-batang runcing sapu lidi
yang kuayunayunkan mencederai kulitnya.

Andai kita bersedia sabar beberapa lama lagi.
Tetapi sore ini halaman rumah mesti segera kubersihkan,
mematuhi suruhan ayah meski sembari bertanya-tanya
apakah benar daun terayun jatuh dan ranting kering patah adalah kotoran.


RIMBA RAYA

Ada pokok pohon kayu tua
dengan pasrah rela
berderak tumbang sendiri
di tengah rimba raya.

Hatinya rekah
bagai mawar merah
mekar membuka
menampung cahaya.

Hewan dan tetumbuhanpun
tersentak senyap sejenak
mendengar jerit terakhirnya
yang pecah ketika rebah.

Tanpa doa dan upacara
setitik hidup
kembali lenyap
dihirup waktu.

Hanya rimba raya
taburkan cendawan & anggrek hutan
disekujur jasad terkapar
dengan cinta yang gemetar.

Dan kemudian setia
menyimpan gema jeritnya
abadi bagai kenangan kecil lembut
di dada bunda yang duka.


SAJAK BERKEBUN

Atas nama kegenitan dan kecemasan berlebihan
akan soal keindahan dan kebersihan
kita memangkas, memotong, dan menebang
tetumbuhan yang sementara meriap rimbun dengan riang

Padahal setiap pori-porinya yang mengembang menguncup
juga menghirup dalam-dalam hawa hidup.
Padahal setiap helai daunnya
adalah mulut kecil yang tak henti bertasbih memuja

Padahal setiap ranting dan pokoknya
meliuk rukuk menunduk sujud dengan setia.
Padahal mereka menyaksikan peristiwa, merasakan dan mengenal,
padahal mereka juga menyimpan tanda jejak tangan Yang Kekal...


KUATRIN POHON TUA

pabrik-pabrik terus memuntahkan jelaga
mobil-mobil terus meludahkan timah hitamnya
tetapi pohon tua di sudut jalan tak terjaga
terus saja tulus menabur bunga-bunga


ORANG IBA HATI

Hanya sehelai daun
Yang lepas dan gugur
Membuatnya larut tertegun
Cemas dan turut hancur

Cuma sebutir kerikil
Yang tercerabut terlontar
Memencilkannya hingga terkucil
Ikut resah dan gemetar

Bahkan air mata
Yang mengucur berderai
Bukan untuk jemarinya luka
Tetapi bagi mawar yang melukai

Ia sedih-tangiskan
Nasib malang rumpun bunga
Walau begitu indah rupawan
Digariskan Alam berduri tubuhnya


HALAMAN RUMAHKU

Di halaman rumahku
Rerumputan melebat, pepohonan merimbun
Ranting dan dedaunan kering berserakan
Tak pernah disapu, timbun menimbun

Tak apalah,
Kami telah begitu dekat dan bersahabat
Bersama berbagi
tanah, air, udara, dan cahaya

Mereka beri aku
Aneka warna bunga
Teduh rindang
Dan merdu desikan

Toh,
yang kuperlukan
hanyalah setapak jalan
untuk dilalui


NYANYIAN POHON TUA

Telah berpuluh-puluh tahun
Aku tegak hadir di sini
Telah gugur beribu helai daun
Dari rantingku ke wajah bumi

Tetapi tak ada yang kutangisi
Karena tahu, tiada yang pernah lenyap
Setelah dicerna diolah oleh rahang bumi
Sari mereka oleh akarku akan kembali diserap

Namun sekarang, semenjak kota kian gemerlap
Udara berserbuk racun berpercik biji api
Di hadapanku dibangun jalan aspal berkilap
Di belakangku trotoar untuk pejalan kaki

Maka sejak itu pulalah bermula perih deritaku
Menyaksikan betapa daun-daunku menguning gugur
Hanya untuk terbaring sia-sia dan tersiksa di depan mataku
Mengering dan mengerang putus asa tak kunjung hancur

Kadang ada yang diinjak dilindas, kadang oleh angin disapu
Yang paling sakit menyaksikan banyak yang ditumpuk dibakar
Dalam bak sampah yang masih dibawah naungan bayang rindangku
Mengerutlah sekujur tubuhku, akar-akarku berdenyutan menggeletar

Kulihat tanpa daya mereka dikerkah taring api yang berkobar
Kudengar tanpa daya keluh terakhir mereka menyayup sendu
Hingga akhirnya tuntas mengabu lalu musnah tersebar
Sayatnya lebih tajam dari tetakan mata kapak beribu-ribu !


PERINGATAN BAGI PARA PENGGUNA JALAN

siapapun engkau yang sedang melangkah
menyusur sepanjang batang jalan ini
tapakkanlah telapak kakimu
dengan perlahan dan hati-hati

berbelaskasihlah kepada mereka :
daun-daun gugur kuning terhampar
yang sedang sengal menghadapi ajal

tak kau dengarkah engah nafas terakhir
lepas menguap lenyap di udara,
tak kau lihatkah cerlang hijau terakhir
terpancar dari tubuh-tubuh terbujur
yang lalu tergelung pelan-pelan
digulung oleh jemari maut ?

siapapun engkau
tapakkanlah telapak kakimu
dengan perlahan dan hati-hati
di jalan ini


BURUNG MALAM

Burung yang berkidung di larut malam berembun,
Untuk siapa gerangan lagumu mengalun?
Terdengar berulang merdu berirama
Seakan datang dari lain dunia !

Adakah kau tangisi sepasang kekasih setia
Yang terbujur lemas terpejam pulas ?
Tidak, mereka tidak mati membunuh diri
Esok hari, pasti terbangun lagi !

Adakah kau ratapi kutuk bencana akan jatuh
menimpa menumpas rata segala menjelang subuh?
Jangan; mohonkan pada Yang Kuasa
Untuk menjauhkan atau menangguhkan beberapa lama!

Adakah kau tengah bertukar sapa
Dengan para peri yang bermunculan menghuni dahan kemboja?
Ah, bahagianya engkau dapat bertemu kembali
Dengan kawan yang pergi menghilang sembunyi!

Ataukah kau tengah bernyani memuja dalam pesta cahaya purnama
Dan merayakannya bersama mereka yang turut berjaga?
Jika benar, sembunyikanlah ihwal kisah ini
Agar tak cemburu dengki mereka yang tertinggal rugi!


SELENDANG SATIN, ULAR PUTIH, DAN KABUT

Selendang tipis berenda dari satin
Meliuk-liuk dipermainkan angin
Perlahan melayang rendah
Sejengkal di atas tanah basah

Peri yang semalam bernyanyi
Tanpa sengaja meninggalkannya di sini
Ketika ia bergegas terbang melenyap
Raib dalam sisa cahaya bulan yang senyap

Selendang tipis berenda milik peri gaib
Meliuk-liuk bagai ular putih yang ajaib
Lalu melata lamban dalam cuaca lembab berembun
Merayap meliliti pohon purba yang lebat merimbun

Paginya, ketika sang surya terbit meninggi
Dan dengan pongah mulai melecutkan cemeti api
Seorang bocah tersentak bangun dari buaian impian
Lalu berseru-seru : hei, lihat, ada kabut ketinggalan.


SEHELAI DAUN MANGGA

Mendung memang menyelubungi sore itu kembali
dan kibasan jubahnya mengirimkan dingin bagi angin
tetapi di atas pelataran batu yang hijau kelam serta kelabu
oleh lumut dan waktu itu,
sehelai daun mangga kering yang baru gugur
bercahaya begitu kuning dan cemerlang.


KENANGAN HUTAN KECIL

Dahulu jalan itu hanya setapak kecil yang berliku
meliuk di antara lebat pohon-pohon nangka dan mangga liar
yang bagai para raja yang royal membiarkan buah mereka
buat para pelintas, rampok yang bergegas, dan hewan hutan.

Dan guguran kapas dari kapuk randu dan sisa kabut semalam
bertaburan melayang lepas lalu meluncur turun
untuk mendekap bunga-bunga rumput
sebelum bergegas melenyap.

Seperti kekasih gelap yang tergesa
meninggalkan para dara dan janda bersungut-sungut
membetulkan kain yang kusut,
menenangkan nafas yang memburu.

Lalu kemanakah pergi para peri dan hantu
yang dahulu bergelantungan di dahan pohon itu?
Di mana gerangan mereka
sekarang?


REKUIM KEMATIAN SEBATANG POHON

sebatang pohon nangka rimbun kukuh
yang telah berpuluh tahun bertahan tumbuh
di dekat pengkolan jalan itu akhirnya
harus ditebang hingga ke pangkalnya

“ia merusak jalan, bagi kabel listrik berbahaya,
dan menghalangi cahaya ke rumah-rumah kita”,
begitu kata bapak bertubuh tambun itu
sembari mengayun-ayunkan kapak ke batang kayu

tetapi pohon itu telah berdiri di situ
semenjak lahan ini masih berupa alas lebat dahulu,
sebelum hutan dibabat dan jalan aspal dibentangkan
lalu kabel diulur-rentang, dan tiang-tiang dipancangkan

ia bahkan lebih dulu berhak atas matahari
yang melimpah ruah sinarnya di setiap pagi hari;
tetapi mengapa jalan, kabel, dan juga rumah-rumah
membuatnya harus terpangkas dan rebah?


GUGURAN DAUN

daun-daun berguguran
jatuh berhamburan di atas pekuburan
tangan siapa yang mematahkan
rencana apa yang sedang berjalan

adakah dahan telah enggan beri tautan?
oleh ulah angin yang menghembus perlahan?
mungkin karena tulah mentari yang menghanguskan?
ataukah semata lengan yang tak lagi kuasa bertahan?

tanpa tawaran, tak ada jawaban
hingga para peziarah berpulangan
hanya daun, dahan, dan angin perlahan
yang mengendap dalam senyap bisikan


REPORTASE DARI MAL BARU

Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar

Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya diam acuh

Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya

No comments: