Saturday, August 05, 2006

PENGANTAR ILMU EKONOMI, ANTROPOLOGI, DAN STUDI PEMBANGUNAN (dari arsip sajak lama)

BALADA TUAN SAMUEL GREENBUCK: SUATU TINJAUAN STRUKTUR DAN MEKANISME SISTEM EKONOMI KAPITALIS

Malam ini
Tuan Samuel Greenbuck tertidur lelap tanpa mimpi
senyuman yang tipis menyungging di bibirnya
dan tubuhnya yang ramping tergolek dengan rileksnya.

Setelah lelah sehabis bermaraton keliling bola bumi
berunding dengan para calon mitra berinvestasi,
bernegoisasi dengan para kepala negara,
dan memberi donasi pada lembaga-lembaga nirlaba.

Ia telah merancang sejumlah proyek baru,
mengusulkan sejumlah perang, mendukung pemberontakan baru,
seraya menaikkan popularitas di mata masyarakat yang sinis
sebagai kapitalis moderen yang progresif dan filantropis.

Toh, tak ada salahnya membuang uang menyumbang sedikit
setelah habisnya hutan tropika dan bocornya ozon di langit
setelah tercemarnya laut dan mencairnya es di kutub bumi
setelah sekian juta pengangguran akibat otomasi dan spekulasi.

Tak ada lagi yang dipikirkannya
bukankah istrinya telah diceraikan dengan pesangon luar biasa
dan anak-anaknya terpencar jauh: dua telah bunuh diri,
yang tersisa sementara menghabiskan waktu di klinik rehabilitasi.

Ia dapat berpuas diri dan mengagumi kecerdasannya sendiri
mengelola kekayaan hingga berlipat dalam deret geometri
kalaupun Tuhan ada, inilah bukti penyelamatannya yang kekal
begitu batinnya di saat-saat memperoleh pencerahan transendental.

Ia percaya pada kekuatan modal dan pasar bebas
ia percaya kepada demokrasi dan perlunya pers yang bebas
ia percaya kepada hak-hak asasi baik manusia dan binatang
dan pada ide kehidupan setelah mati ia merasa bimbang.

Ia tertidur tanpa mimpi
karena segala mimpi telah ia cicipi
dan segala kenikmatan yang tak terbayangkan
telah ia reguk sampai bosan.

Dan meskipun belakangan ini
jemu dan depresi kadang datang menjalari
Ia dapat menghibur diri dengan membaca laporan keuangan
yang disiapkan oleh tim bankir, pialang, spekulan, dan akuntan.

Ia pun tak lagi berambisi apa-apa
meskipun sebagai selingan terkadang ia ingin juga
mencoba bersaing dengan presiden yang sekarang
meski berkawan, sekedar mengasah nalurinya untuk menang.

Betapa menyenangkan memiliki segalanya
dan dapat mengatur semuanya
seperti bermain menggantikan Tuhan
membuat skenario dan melihat segalanya lancar berjalan.

Dari hulu hingga muara, dari pangkal hingga hujungnya
Dari investasi, ekstraksi, produksi, distribusi, hingga promosinya
serta tak ketinggalan segala media informasi dan hiburan
semuanya ia kuasai lewat aneka trik dan taktik kepemilikan.

Mesin-mesin investasinya bekerja tanpa henti
siang dan malam berdenyut memompa darah ke seluruh nadi
di New York, London, Tokyo, Singapura, dan Canberra
semuanya terhubung lewat transmisi elektronika.

Teknologi riset dasar pun digalakkannya
untuk mendukung pengembangan industri semata.
Teknologi transportasi, telekomunikasi, dan informasi
terus dibangun pula untuk mendukung jalur distribusi.

Hingga segala jenis dan aneka merek barang
dapat secepatnya tersedia di setiap jendela pajang
kapan dan dimana saja, sekejap mata
serta terbaharui senantiasa.

Tentu saja: kredit produktif harus disuntikkan
agar mesin-mesin pabrik terus berjalan
dan kredit konsumtif mesti dibagikan ke setiap saku
membuat konsumen merasa mampu.

Juga ada iklan dirancang untuk membujuk mau
dan gaya hidup yang disebar untuk memaksa malu.
Mereka harus terus membutuhkan, menginginkan, menghasratkan,
mesti lebih bersegera dan lebih sering.melakukan pembelian.

Karena sesungguhnya logika nafsu tak mengenal pemenuhan
dipenuhi tak dipenuhi akan tetap menginginkan
maka dalam hal berkonsumsi tak ada yang kenal titik henti
bermimpi, membeli, dan mengkonsumsi, sampai mati.

Alangkah asyiknya melihat permainan ini
yang dimainkan oleh produsen dan konsumen dalam transaksi
bagaikan pingpong: setiap bola yang datang langsung disambar
lalu dipantulkan dengan kecepatan dan kekuatan lebih besar

Dan yang tak kalah pentingnya: memelihara moral para pekerja
agar tetap puas, tetap terlibat, dan tetap terikat setia
dengan aneka imbalan dan fasilitas serta insentif
biar bertambah efektif, semakin efisien, dan lebih kompetitif.

Begitulah sistemnya bekerja, bermula dari yang kecil sederhana
bertambah besar-kompleks hingga memiliki mekanisme swakelola
seperti sel-sel pada tubuhmu atau kode biner pada bahasa mesin
yang berinteraksi dan mengorganisasikan diri menjadi bukan main.

Hingga pada akhirnya dipandang sebagai kenicayaan
suatu alat yang mutlak ada demi berjalannya kehidupan
tidak hanya itu, pandangan dan cara hidup manusia
juga harus diselaraskan dengan logika kerjanya.

Ibarat seorang yang mengayuh pedal sepeda begitu cepatnya
hingga ganti pedallah yang sekarang menggerakkan kakinya
seperti seorang yang merawat kucing kecil sebagai peliharaan
namun akhirnya harus merelakan kepala dikerkah sang macan.

Bagaikan laba-laba yang akhirnya terjerat menggelepar
dalam jaring yang dianyamnya sendiri dengan penuh sabar
begitulah umat manusia akhirnya terperangkap tak bisa lari
dalam sistem cara hidup yang dahulu dipilihnya sepenuh hati

Ini semua semata demi lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi,
dan pelayanan bagi kenyamanan konsumen sendiri.
Semua ini agar roda terus berputar dan bergulir
agar arus uang tak terhambat hingga di saku pemodal.berakhir.

Ya, lebih banyak yang kerja, lebih banyak pula yang mengkonsumsi
lebih bertumbuh ekonomi, lebih bertambah pula daya tarik investasi
dan lebih nyaman serta manja konsumen hidupnya,
maka pasar akan tetap tersedia, terus turun temurun tercipta .

Agar pengembalian kredit berjalan lancar dan sehat
dan harga saham dapat meningkat.lebih pesat.
Agar Tuan Samuel Greenbuck bisa tidur lebih nyenyak lagi
malam ini.


BALADA SUKU IKAN SALMON *)

ketika telapak kaki kalian untuk pertama kali
menapak di hangat lembutnya pasir putih pantai kami
satu pulau barupun telah ditemukan
dan begitu pula kami menjadi temuan kalian

tetapi benarkah kami tak pernah ada
hingga kapal-kapal kalian menumpahkan para tentara
dan pulau kami resmi diterakan
dalam batas peta kalian?

padahal kamilah anak cucu manusia pertama
yang lahir dari sepasang ikan salmon purba
dan yang ketika meninggal
di puncak pohon sidar bersemayam tinggal!

namun kalian telah jauh menjelajah
dan kini habis-habisan menjajah serta menjarah
kekayaan kami kalian tumpuk dalam gudang-gudang
kebudayaan kami kalian simpan di museum usang

sejak beratus ribu tahun yang silam
di tanah ini para leluhur kami telah berdiam
kini anak-anak kami bernama seperti nama kalian
dan kami harus berhukum dengan hukum kalian

kami memang tak bisa baca tulis aksara
tak punya kitab pusaka dan tumpukan pustaka.
kami menyimpan pengalaman dan pengetahuan kami
dalam dongeng di kepala dan nyanyian dalam dada ini

ia mengalir bersama darah dan udara di tubuh kami
sementara ilmu yang kalian miliki
harus dicatat dalam serpihan kertas tipis
dan dikumpulkan dalam tumpukan buku jilid berlapis

kami hidup dengan bersahaja dan rendah hati
penuh hormat dan cinta kepada bumi
makanan kami dipetik dari hutan
atau dari sungai yang memberikan ikan-ikan

kami tak menggunduli hutan
tidak mengeruk perut bumi, tak menguras isi lautan
kami hanya punya perkakas sederhana yang praktis
tak ada mesin yang kompleks dan mekanis

karenanya keserakahan kami
dibatasi oleh kelelahan badan kami
dan alam pun punya waktu
untuk meremajakan dirinya telebih dulu

perkakas adalah ekstensi manusia,
mesin adalah ekspansinya terhadap dunia
dengan perkakas kerja dapat dipermudah
namun mesin membuat kerja manusia jadi musnah

kalian bilang kami primitif atau udik
hanya karena tak berbaju buatan pabrik
meski kami telah berhias kulit kayu
nyaman untuk hawa tropika, leluasa untuk berburu

kalian bilang kami terkebelakang dan nomaden
karena tak berumah batu dan semen:
rumah bagi kami tempat berteduh dan tidur saja
selebihnya kami tumbuh hidup di alam terbuka

kalian bilang kami terkucil
karena tak ada jalan raya dan mobil
apa perlunya bila segala kebutuhan kami
dapat terpenuhi dari lingkungan sendiri

ya, kalian mengimani ilusi-ilusi kemajuan
dan menjadikannya sebagai tahapan dan keniscayaan
sementara kami memandangnya sebagai alternatif
dan menolak kemajuan tidak berarti primitif

dan kalian bilang kami biadab dan ganas
bila berperang demi kehormatan suku yang dirampas
dengan kapak tombak, satu-satu berhadapan muka
hingga berhenti bila kelelahan atau malam tiba.

tetapi kalian antar bangsa menyulut perang demi perang
untuk tambang-tambang minyak jauh di negeri seberang
siang malam saling serang dengan mesin pembunuh
sembarang orang mati, hutan hangus, dan bukit runtuh.

dan kini, justru di tangan orang seperti kalian
nasib suku kami yang agung ditentukan
dan tanah kami yang suci
telah dipetak-petak berbatas kawat duri

untuk menanaminya dengan sebatang tunas
kami harus melakukannya dengan seizin otoritas
namun kalian dengan dalih hak guna hutan
menebang berhektar-hektar, meratakan perbukitan

hutan kami kini terpangkas, mengering sungai kami
seperti bangkai ular yang terkapar dibakar matahari
tanpa salmon dan julangan pohon sidar yang kekal
arwah leluhur dimanakah lagi akan tinggal?

di atas tanah suci pusar bumi kami
kalian bangun gedung tinggi;
melintasi jurang-jurang neraka
kalian bentangkan jembatan besi baja.

para tetua pemuka kami tinggal menganggur
di tenda-tenda preservasi mereka pada tidur
sedangkan para pemuda kesatria kami
jadi pemabuk keluyuran di lokalisasi.

bila tiba saatnya nanti kami mati
kemanakah lagi arwah kami mesti pergi
akankah kami hanya mengembara tak tentu arah
sebagai hantu-hantu membawa dendam amarah

tetapi pasti suatu saatnya akan datang
anak cucu kami akan bergerak dan berjuang
seperti gunung api terbangun dari tidur panjangnya
memuntahkan segala apa yang dipendamnya

gelombang bawah tanah pemberontakan kami
akan mengepung kota-kota, mengguncang tanpa henti
kami pasti akan mematahkan gedung-gedung tinggimu
dan memutuskan jembatan-jembatanmu

kami akan mengusir kalian
kembali ke bumi di seberang lautan
bukan karena kami membenci
atau berambisi untuk berkuasa kembali.

semata agar sepasang ikan salmon dengan damai
dapat kembali berjumpalitan di hulu sungai
dan sebatang pohon sidar tumbuh menjulang tinggi
di tengah tanah kami


LISTRIK, TELEVISI, JALAN, BANK, DAN ULAR
: Suatu Studi Tentang Kemajuanisme

Bab 1. Listrik, Energi yang Mengubah Dunia

Kemajuan dan pembangunan telah berhasil
menyulut listrik masuk ke rumahmu
untuk menyalakan televisi.
Televisi menyihirmu
membeli kulkas
(dan itu berarti
harus lebih banyak listrik lagi)
dan kulkas membujukmu
untuk mengisi penuh perutnya
dengan merek-merek
yang dipamerkan televisi.

Televisi tidak hanya menghasut kulkas
tetapi juga membuatmu merasa terpencil dan primitif
karena orang-orang di seluruh dunia
(sebagaimana yang tampak di layar tivi)
nampak begitu bahagia dan penuh gaya.
Tiba-tiba, engkau pun merasa
tidak bahagia dan tanpa gaya
dan agar berbahagia serta bergaya
engkau harus hidup seperti di layar kaca.
Juallah dirimu sebagai tenaga kerja
agar dapat memperoleh uang
dan kembalikan uangmu lewat mal
agar dapat membeli segala mimpi
yang dibisikkan televisi.
Betapa perkasanya,
tiang-tiang listrik kukuh menjulang
yang berderet di sepanjang jalan
merentangkan kabel-kabel
yang menjalarkan kekuatan.

Bab 2. Jalan dan Konstruksi Sosial

Jalan aspal membentang
untuk mempermudah dan mempercepat
pegawai sampai di kantor,
buruh tiba di pabrik
bahan ke gudang,
barang ke pasar,
dan juga anak-anak ke sekolah
(tempat berlatih jadi calon pegawai
atau buruh murah).
Tetapi, engkau sendiri
mesti berjalan di tepi benar
dan harus menunggu lengang
baru boleh menyeberang
sambil tetap waspada
menoleh was-was kiri kanan
demi keselamatan.

Jalan aspal membentang
penuh mobil dari dunia pertama
yang mengambil minyak, baja, dan karet
dari dunia kedua
lalu membuang polusi di dunia ketiga.
Maka, udara yang penuh timbal
akhirnya menuntut tumbal
orang-orang dewasa yang pemarah
dan melahirkan anak-anak yang kurang cerdas
(yang tidak akan mampu membuat mobil).
Lihatlah mobil-mobil cicilan berlalu lalang
mobil dengan delapan kursi
yang hanya diisi seorang saja.
betapa besar, berat, dan cepat
melaju menyambar-nyambar
--membuat jantungmu kencang berdebar-debar--
melalui jalan-jalan yang mendesis
sepanjang siang dan malam
mengantarkan orang-orang ke bank
.
Bab 3. Bank dan Komplikasi Sistem

Bank-bank didirikan
agar uang bisa mengalir dan meluncur
ke tempat dimana ia berbiak.
Seperti listrik mengalir
seperti mobil meluncur.
Bank-bank didirikan
bagai kabel mengalirkan listrik
bagai jalan meluncurkan mobil
seumpama labirin tanpa ujung
saling silang, jalin menjalin,
dan membelit erat.
Di pintunya tertulis antara lain:
menerima pembayaran tagihan listrik,
menyediakan Kredit Kepemilikan Mobil.

Awal mulanya sederhana,
dari satu sistem kecil saja.
Tetapi seribu sistem kecil saling berhubungan
menjelma megasistem yang otonom.
Mereka saling memberi dan menerima
bagai dalam permainan pingpong:
semakin keras mengembalikan bola,
kian jauh lebih cepat balasannya.
Dan engkau tak ubahnya serangga
merekat di jejaring laba-laba
yang berpikir:
bila kuputuskan benang keparat ini
aku akan jatuh entah di mana.

Siapa pengendara
siapa pula yang dikendarai?
Paculah kendaraanmu sekencang mungkin.
Roda akan mengambil alih kemudi
dan rem tak lagi berfungsi.
Pasrahkan dirimu
pada kecepatan
tanpa ujung.

Bab 4. Penutup

Lihatlah kotamu:
penuh kabel, penuh jalan, penuh jaringan bank.
penuh ular-ular yang menjalar buas,
yang mendesiskan bisa dan membelit rakus.

Ingatlah,
hanya oleh ulah seekor ular di Taman
leluhur dahulu terusir dari Firdaus.


*) Sajak ini sebagiannya terinspirasi oleh film dokumenter “The Salmon Tribe”. Meskipun demikian, suku asli yang dikisahkan disini merupakan representasi fiktif belaka. Tentunya, banyak detail antropologis yang tidak tepat dan tidak konsisten.

No comments: