Thursday, December 03, 2009

BALADA KARTINI

-Malam Solidaritas HIV-AIDS, Tamalanrea, 1995/96 oleh Metastase

Dari kamar hotel ke kamar hotel
bagai camar ia melayang dalam kabut.
Dari lampu merah ke lampu merah
bagai lebah ia menyengat parah.
Dan akhirnya terdampar ia
di sudut gelap sebuah bangunan tua
peninggalan Zaman Belanda
di Jalan Penghibur yang mengabur dalam gerimis
mengerang sekarat meregang nyawa.

Kartini, Kartini, Kartini
bagai bunga layu perlahan mati dan membusuk
terkapar ia dan menggelepar
dihajar oleh lapar dan dahaga
dirajam oleh sakit, dendam, dan amarah.
Dan seperti yang biasa terjadi
pada setiap orang yang akan pergi mati
bayang-bayang masa lalu
datang kepadanya
berdiri di sisi
tak mau pergi.

Kartini, Kartini, Kartini,
umur sebelas tahun kamu sudah kenal lelaki
ketika pamanmu mengendap masuk ke kamarmu
saat ayah dan ibumu belum pulang dari ladang.
Mulanya kamu memang meronta
tetapi sayang ia lebih perkasa
dan ketika kamu menangis sesudahnya
ia hanya tertawa
lantas memberimu kembang gula
lalu berlalu begitu saja
dengan sepatu di tangan.
Meninggalkan kamu di sudut kamar itu
tersedu-sedu tanpa baju
memanggil-manggil nama ibu.

Umur lima belas tahun kamu jadi istri jagoan pasar
tiga tahun kemudian kamu begitu saja disuruh pergi
karena lama tak bisa memberi keturunan
dan lagi kamu pernah menolak juga
ketika ia mabuk dan menyuruh kamu
melayani seorang sahabatnya
seorang tentara berpangkat prajurit dua
yang baru kembali dari Irian Jaya.

Dua tahun kemudian kamu ketemu seorang mahasiswa.
Dari lagaknya yang setia kamu akhirnya percaya
bahwa ia bisa diajak menempuh usia
hidup bersama selamanya.
Kamupun mulai memimpikan rumah teduh
dengan kain jendela berwarna berhias bunga renda
dan ramai oleh jerit tawa kanak-kanak
yang sekian lama kamu damba,
hingga delapan bulan kemudian
ia lari ke Jakarta
setelah meraih gelar sarjana
bersama perawan sma
tetangga sebelah rumah.

Akhirnya kamu memutuskan pergi ke kota
bukan untuk menyusul mencarinya
tetapi untuk mencoba memulai babak baru.
Kamu bawa luka, dendam, dan angan-angan,
tanpa bekal keterampilan dan pendidikan lumayan
seperti dalam kisah klise lama
yang sialnya
selalu saja terulang jadi nyata.

Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya :
berbekal bedak tebal dan harum parfum murahan
kamu meracuni malam dengan semerbak mimpi.
Kamu ternyata segera jadi terkenal, Kartini.
Wajahmu yang cantik dan tubuhmu yang sintal
jadi rebutan tamu-tamu lelaki.
Dengan atasan yukensi
Dan bawahan rok ketat mini
Namamu Kartini disingkat Tini.

Tetapi kini kamu telah belajar banyak
agar tak nyenyak terlena begitu saja
tak ada orang yang dapat dipercaya
maka hanya kepada dirimu sendirilah
kamu gantungkan kepercayaan.
Perasaanmu kamu bunuh
hingga lelaki yang menidurimu pada terkicuh
kamu biarkan mereka mereka menyentuh badan
menjilati dan menggigitnya bagai anjing kesetanan
sementara jiwamu kamu ungsikan jauh-jauh
tetap utuh, angkuh, dan tak terengkuh.

“Aku bukan seorang wanita murahan.
Aku seorang pekerja !”
begitu kau pernah berkata
ketika diajak wawancara
oleh seorang wartawan muda
setelah terlebih dulu
ia mencicipi kamu.
“Ini masalah jual beli,
ini masalah hukum ekonomi,
ini soal permintaan dan penawaran.
Ada yang ingin dan mencari,
ada yang butuh dan bersedia memberi.
Jangan melulu kami dituduh
sedang pada kamu lelaki mereka tak acuh.
Toh, kalau kalian tahan puasa jajan
paling lama dalam waktu sebulan
lokalisasi ini pasti bangkrut dan tutup.
Mudah dan sederhana saja, bukan ?”

“Dulu aku memang terjebak
tetapi kini aku dapat melangkah tegak.
Kita memang mesti jadi orang baik selalu,
itu dari dulu juga aku tahu.
Tetapi kita harus bertahan hidup
terlebih dahulu.
Ada orang yang bekerja dengan pengetahuannya
seperti para dokter dan ahli ekonomi.
Ada yang bekerja dengan keterampilannya
seperti para tehnisi dan olahragawan.
Dan ada yang bekerja dengan perasaannya
seperti para seniman.
Aku pun bekerja dengan tubuhku
seperti halnya para buruh dan kuli.
Toh, tak kubiarkan mereka meniduriku
sebelum membayar lunas sewanya.

Dan ketika mereka telah hilang kesadaran
dengan mata nanar berputar,
hanya mendengus, mengumpat, dan mengerang,
aku tetap sadar diri
mataku tetap lebar terbuka
menatap langit-langit kamar.
Aku hanya tersenyum kecil
dan tertawa di dalam hati.
Ah, laki-laki sama saja
penguasa atau pengusaha,
tentara atau mahasiswa,
pejabat tinggi ataupun kuli,
alangkah lemahnya ternyata !”

Ya, ya, ya,
sekarang kamu bukan lagi korban, Kartini.
Kini kamu telah memilih jalan ini
dengan kesadaran
sebagai perlawanan menentang keadaan.

“Dan kepada mereka yang mengecam,
tolong Bung Wartawan tanyakan,
kenapa diharamkan bagi kami memakan bangkai
sementara hidangan santapan empuk bertumpuk
tersaji di atas meja makan mereka sendiri.
Dan juga kukatakan terus terang
tanpa mereka sadari mereka juga adalah germo
mereka menutup pintu kerja bagi kami
karena kami kurang terampil
dan tak punya pendidikan tinggi
sedang biaya untuk melatih kami
lebih baik dialihkan untuk investasi
dalam bentuk mesin dan komputer canggih.
Ya, merekalah yang melemparkan kami ke trotoar jalan,
membiarkan kami terlantar mencemari kota.
Tangan-tangan kukuh mereka menelanjangi tubuh kami,
menyumbat mulut,
dan memegangi kedua tangan dan kaki kami,
lalu menggeranyangi setiap senti tubuh kami.
Kemudian dengan penuh kepurapuraan
mereka lepaskan petugas kamtibmas
untuk mengejar-kejar kami
setelah puas mereka
melepas keinginan.”

Mendengar penuturan kamu
Bung Wartawan hanya mengerjapkerjapkan matanya.
Omongan kamu yang tandas dan cerdas
membuatnya melongo bego.
Tentu saja komentar kamu yang gagah itu
tidak layak jual buat dimuat di koran minggu.
Mana ada pembaca yang percaya
kamu bisa bicara begitu perkasa.
Orang macam kamu selalu disudutkan sebagai korban,
jadi sasaran umpatan ataupun curahan kasihan.
Dan bila kisahmu dimuat juga
bisa mencemari harkat martabat pejabat negara
yang bersih jujur dan berwibawa,
karena ternyata kamu beberapa kali
pernah dibooking berhari-hari
menemani pejabat tinggi dari ibu kota.

Maka daripada pusing kepala pikirkan itu semua
Bung Wartawan Mudapun memutuskan
untuk melupakan perkara wawancara.
Adapun isi rubrik kisah nyata
akan ia ganti dengan cerita rekaan saja.
Lalu dengan terburu-buru penuh nafsu
ia mengulum ibu jari kakimu
untuk kesekian kali
kamu hanya tersenyum
dan menatap langit-langit kamar
disana tergambar wajah ramah paman kamu,
wajah beringas jagoan pasar,
wajah kasar tentara prajurit dua,
wajah mahasiswa muda,
dan wajah-wajah lelaki lain
yang makin lama kian tak jelas
berbaur kabur.

Kartini, Kartini, Kartini.
Dari kamar hotel ke kamar hotel
bagai camar kamu melayang dalam kabut.
Dari lampu merah ke lampu merah
bagai lebah kamu menyengat parah
dan akhirnya terdampar kamu
di sudut gelap sebuah bangunan tua
di Jalan Penghibur yang kuyup dalam hujan.
Mengerang sekarat meregang nyawa.

Mungkin kamu memang menderita, Kartini
tetapi kamu juga tetap berbangga
lembah dosa yang kelam penuh nista
kamu rambah dengan mata menyala
perkasa dan penuh makna.

Kartini, Kartini, Kartini.
Orang-orang bijaksana, para pendeta dan ulama
mencaci kamu.
Mereka bilang kamu pendosa keji dan hina.
Orang-orang LSM, para cendikiawan, dan penyair
membela kamu.
Mereka katakan kamu hanya terpaksa dan tak berdaya.
Tetapi bagaimanapun juga, Kartini,
pendosa ataupun terpaksa
mereka tetap tak bisa tinggalkan kamu
menghitung sisa hari
sendiri
dalam sunyi.

1 comment:

Ratna said...

I remember this poem!