Thursday, June 11, 2009

HAIKU DALAM 15 KUARTO (1994 - 2009)

HAIKU MALAM

Burung malam terbang menjerit
menggarit kelam langit
sudah itu, sunyi menghimpit.


HAIKU SENJA

1.
dingin angin menyentuh
malampun jatuh, di telaga
sepasang gangsa berenang saling menjauh

2.
seekor unggas terbang bergegas
mengerang
diserang malam


HAIKU SUBUH PERTAMA BULAN PUASA

Beberapa anak asyik bercerita
tentang hidangan buka puasa
dan baju serta sepatu baru.


HAIKU KABUT

Di puncak gunung pada ujung subuh
langit biru bumi kelabu bersetubuh:
kabutpun tumbuh.


KABUT

engkaukah itu yang semalam begitu lirih bernyanyi
dalam sunyi mimpi,
membuatku terbangun tiba-tiba dan termangu lesu sendiri
letih dikepung sepi


DI KEBUN BINATANG

Sekerumunan orang menertawai
seekor monyet
yang menertawai sekerumunan orang.


ENAM HAIKU KUCING

1.
Tempat tidur busa baru,
kucing lelap bermalasan di atasnya
seharian.

2.
Terbangun tiba-tiba
di sebelahku :
kucing asyik bermimpi.

3.
Larut malam, lampu padam tiba-tiba
dalam kegelapan, seekor kucing
mengeong, sekali.

4.
Terbangun tengah malam;
di luar, di bawah jendela kamar
seekor kucing menangis.

5.
Ketika diberi ikan dan nasi basi
simpanan sisa kemarin pagi
si kucing melengos mengeong pergi.

6.
Semalam hujan deras tercurah
kucing yang tidur di teras rumah
pagi ini bersin-bersin dan muntah.


HAIKU KUCING DI ATAS ABU

Di atas tumpukan hitam kelabu abu sisa pembakaran
seekor kucing berbulu kuning terang
duduk tenang bersemayam
dan dengan mata terpejam
ia tersenyum


HAIKU ANAK KUCING KECIL

kucing kecil yang kemarin
kulihat di sudut itu menggigil dingin
di manakah engkau kini? masihkah dapat bermain?


DUA HAIKU LAUT

1.
Samodra Raya
dalam garam mengkristal
dibakar Sang Surya

2.
Tengadah menatap langit selalu
laut pun
biru


EMBUN DI BUNGA ROS

seperti tailalat di paras gadis manis
setitik sisa hujan dibubuhkan langit
menambah cerah wajah ros merah


TAKZIAH (1)

selama hidupnya dia tersia-sia
ketika mati kita rancang tangis bagi ia
besok, tertawa bahagia bagai sediakala


TAKZIAH (2)

“Almarhum orang baik. Saya pernah seproyek dengannya.”
“Oh, ya. Eh, kalau dibutuhkan, saya ingin ikut terlibat.”
“Pak Anu gimana sekarang? Masih menjabat?”


TELEGRAM DUKA

Tiba kabar pagi hari:
si anu telah mati;
aneh, aku tak beriba hati!


HAIKU PERIGI

yang mengalami penuh
dari dan di dalam
dirinya sendiri


EMPAT HAIKU DARI HALAMAN RUMAH

1.
Di bawah jendela :
keindahan bunga-bunga aneka warna
menyengat bau kotoran kucing.

2.
Di luar pagar
bunga-bunga juga subur mekar mempesona
minum air selokan tak mengalir.

3.
Ada angin datang mengirim dingin,
ada awan tiba membawa hujan,
dan bagai perawan bumipun berdandan.

4.
Dari dasar lumpur telaga biru
teratai tumbuh penuh rindu
menatap matahari selalu.


HAIKU BULAN MATI

Bulan mati—
laut
terus bernyanyi.


HAIKU MENYUSURI TEPI JLN. DR RATULANGI, U.P.

Dari celah-celah bata kelabu trotoar jalan
rumputan kecil hijau
bermahkota butiran air sisa hujan
meriap berkilau.


HAIKU HUJAN MALAM-MALAM

hujan kian tajam
di pelupuk hari yang pejam ;
berlarian, peri impian malam


HAIKU SYUKUR PAGI HARI

Pagi ini cukup bahagia
sepasang kaus kaki yang baru diganti
sejuk segar membungkus kakiku.


HAIKU PAGI HARI SETELAH HUJAN SEMALAMAN

Semalam hujan angin tanpa henti —
Pagi ini kujulurkan kedua kaki
Biar dihangati mentari


HAIKU MENJELANG SUBUH

Terangnya cahaya bulan
Membakar hangus diri
Dengan dingin seribu sembilu


HAIKU GENANGAN AIR

bahkan genangan sisa hujan
di lubang tepi jalan
memantulkan purnama berkilauan.


HAIKU DI BAWAH PURNAMA

di bawah purnama emas
lelaki tua berambut perak
sendiri menari-nari


HAIKU DESEMBER 2003

langit kelam kelabu
namun hujan jatuh satu-satu
menenangkan geliat debu


HAIKU TELEPON

tengah malam hari
telepon menjerit sendiri
takut akan sunyi


TUJUH HAIKU TENTANG KEMATIAN ITU

1.
Di hadapan jenazah
sepasang pengantin menikah
- ah !

2.
Malam ini oom iko menikah di gorontalo,
pukul sembilan kami melayat ke rumah oom oku--
ia meninggal sore tadi

3.
Yang datang sendiri
juga pergi sendiri, tiada kembali
di ruang menganga luka, meraung sepi.

4.
Melesat kuntaku
menembus tubuhmu rindu
-- hasratkan sarungnya !

5.
Mekar menyebar wangi semerbak
memutih ia menyibak kelam
: bunga sedap malam.

6.
Sehelai daun kuning dari ranting belimbing
jatuh berpusing perlahan begitu hening
-- bayi di buaian terbangun menangis nyaring.

7.
ada pohon, cabang-cabangnya tengadah membuka bagai memohon
pada dahan sepasang podang mendendangkan tembang perjodohan
dari rantingnya : bunga merah kecil luruh sendiri tanpa rintihan


HAIKU KUPU-KUPU

Kupu-kupu, kupu-kupu,
pernahkah kau sesali wujudmu dahulu
sbagai ulat kecil berbulu di dahan pohon jambu ?


HAIKU KEMATIAN

kristal ruh dipecahkan
cahayanyapun berpendaran—
sekuntum mawar, mekar pelahan.


HAIKU MATI LAMPU

lampu padam;
alangkah tajam
jerit jarum jam!


PETUNJUK MENYEBERANGI JALAN

bahaya memanglah tak tentu
tetapi melangkah mundur ataupun maju
jangan pernah ragu


TUJUH HAIKU

1. Cinta:
luka paling suka
di kedalaman
palung duka

2. Mesjid:
kesunyian telaga hijau
oleh sujud
melumut

3. Desa:
bukit-bukit bunyi
membait
sunyi

4. Kota:
kotak-kotak kaca
sesak
oleh kata

5. Mal:
kuil berhala
bagi tuhan paling ilahi:
birahi insan

6. Maut:
sekerat demi sekerat
berakar beruratkarat
saatnya sekarat

7. Badai:
deras hujanmu
deru anginmu:
desah kesahku


HAIKU MALARIA

hanya setitik gigitan nyamuk
dan prajurit itu bagai si gila ngamuk
terkapar ambruk, oleh maut dibekuk


SUMUR MALAM

di dasar sumur malam
jernih dan dalam
bersinar berpendaran
bulan


SAJAK-SAJAK NEWCASTLE

1.
Burung robin, wahai burung robin
Adakah engkau juga lapar dan dingin?
Mari ke sini,
berbagi roti ini
bila kau pun ingin.

19.
Bersajadahkan tanah
Bongkah batu
Sujud tanpa sudah

20.
Kelopak bibir pencinta
Tawarkan anggur
Paling garang

28.
Anak siapa yang tertawa menggoda
: Gagak ngakak ternyata
Di dahan pokok kemboja

29.
Musim gugur telah tiba
Sampai jumpa
Bunga-bunga

34.
Seharian dibakar surya
Langit biru memerah bara
Lalu leleh ke arah cakrawala

47
Tak henti-henti gelisah muara
Ingin mengisahkan rahasia
Bening matair mengalir hening

48.
Sebusur pelangi meluncur
Menyusuri lengkung punggung langit
Dua cerobong pabrik baja, menegang di bawahnya

49
Setangan kelam, lembab dan basah
Diulurkan malam, perlahan menyeka
Sembab merah pelupuk senja

50
Sulur-sulur air dijulurkan laut
Pada tiap pagutannya, pantai
Yang tadi, menghilang pergi

59.
Ada koran minggu pagi edisi puisi?
Tanyaku pada penjaga kios itu
Di sore hari rabu

67.
Setelah menampar pipi putranya
Ibu itu duduk
Membelai lembut rambut putrinya

68.
Dingin ubin menombak ubun
Basah menggenang di ranjang
Tinggal tungku yang masih setia

73.
(sebuah kuliah dalam hal nasionalisme)

Tak pernah akan cinta berdiam betah
Di tanah dimana percaya beserta setia
Telah jadi entah

74.
Bulan laut mati
Surut aku
Kembali padam-
Mu

78
Jalan bergegas melintasi taman—
Kopi dalam gelas kertas di tangan
Telah keburu dingin

79
Tinggal sendiri
Ia nyalakan lampu
Mengusir dingin

90
Runcing lembing dingin
Melubanglubangi langit
Meliang bintang-bintang

97
Menderu gugur daun
Lebih sedih dari hari yang lalu
-Kemana lantun burung kemarin itu?

98
Pohon, tunggu, jangan keburu gugur dulu
Tolong beri satu hari lagi
Bagi sepasang burung itu
Mencari dahan baru pengganti


EMPAT EKOR KAKATUA

Empat ekor kakatua
Riang dan riuh
Di dahan pohon kayuputih
-- Bisakah juga mereka
Merasa sedih serta kecewa?


IBU MENJEMUR BAJU
-Terpantik oleh baris haiku jurnalis L. Yulianti

1/
Seorang ibu menjemur baju
Harum baunya
Diterjen baru

2/
Seorang ibu menjemur baju
Angin dan matahari
Turut membantu

3/
Seorang ibu menjemur baju
Si kecil bergulingan
Berlumur keringat debu

4/
Seorang ibu menjemur baju
Meski tahu akan kembali kusut kotor
Tak pernah marah jemu

5/
Seorang ibu menjemur baju
Sehelai setangannya sendiri
Tak kunjung kering dari air mata


HAIKU BUNGA DI POT

Semakin kering tanahmu
Kian runcing
Merahmu

(2008)


HAIKU METROPOLITAN

Dalam kantung si pemabuk malam,
Sekeping bulan
Terguncang
Riang

(2008)


HAIKU SEUSAI HUJAN

Setelah hujan pergi
Berdenyut menggeliat lagi
Sungai mati

(2008)


HAIKU JALAN SUNYI

Di jalan yang jarang dilalui orang
Oleh tapak langkahku, berdesik terusik
guguran daun kering

(2008)


HAIKU HARUM PEREMPUAN

Diselundupkan angin malam
Lewat celah pintu : harum perempuan habis mandi
Lalu di jalan depan

(2008)


HAIKU SESUDAH ASAR

Hembusan sejuk angin
Selepas salat asar ini :
Sesegar sebelum fajar !

(2008)


HAIKU MENJELANG HUJAN

Awan berarak perlahan
Sekawanan burung bergerak ke selatan—
Di manakah gerangan ia sekarang?

(2008)


HAIKU MENUNGGU SESEORANG

Setangan basah oleh air mata
Semoga kering segera ia
Sebelum engkau keburu datang

(2008)


HAIKU KASIH IBU

Meskipun tak sakit
Ibu turut makan
Bubur dimasakkannya untukku

(2008)


HAIKU PENGORBANAN

Tertawalah
Biar air mataku
Tak sia-sia

(2008)


DUA HAIKU PAGI BUTA

1.
Alangkah rimbun kabut
Di ubun pagi buta, belum terbangun
Bunga-bunga kebun

2.
Setitik embun dibubuhkan angin
Terayun alun, tergulir jatuh
Sekuntum jasmin pun, terbangun

(2008)


HAIKU PAGI HARI

Derum motor lalu
Menggeram ngotori
Kicau burung pagi

(2008)


HAIKU HUJAN PAGI

Sejak turun hujan pagi
Kemarau bergerak perlahan
Dihalau pergi

(2008)


HAIKU JALAN RAYA

Terperangkap di tengah arus
Yang merayap lambat:
Meraung senyap, ambulans

(2008)


HAIKU KEMEWAHAN PAGI

Haiku di tangan, musik sapardi di telinga
Sedang malam tiga setengah di luar
: merimbun belukar sajak dalam benak

(2009)


HAIKU TIKUS SELOKAN

Tikus tanah di liang selokan, maafkan
Kami telah sematkan namamu
Pada si rakus serakah!

(2009)

No comments: