Friday, May 13, 2011

WRITER'S BLOCK DAN SAJAK-SAJAK LAIN

WRITER’S BLOCK

Beberapa kali sempat berpacar
Inspirasi ngadat, puisi tak lancar;
Adakah gerangan sang dewi puisi
Cemburu pada si dara berkawat gigi?

(2011)


CINTA RAHASIA

Aku rasa aku telah jatuh cinta
Kepada sebatang pohon itu
Tumbuh di tengah petak sawah
Yang tersisa di dekat pemukiman
Lebih ramping, kukuh dan sepi ia
Daripada seorang gadis penyendiri

Setiap melalui jalan kampung
Kusempatkan menoleh menatapnya
Penuh kagum dan terpesona
Ia pasti juga selalu
Menanti saat aku lalu dan berpaling
Atau sekedar mengerling kepadanya

Kini petak sawah telah terjual
Dan tengah dimatangkan
Dikeringkan dan ditimbun
Untuk pembangunan rumah
Semoga ia tidak ditumbangkan
Oleh sang pemilik baru

Aku tentu akan sangat kehilangan
Jika kembali melalui jalan
Di mana kami dahulu sering
Saling mengerling dan memandang
Meski tak pernah bertegur sapa
Bertukar kata

(2011)


TRAGEDI HUJAN KOTA

Berpuluh kilo
telah ia tempuh
terengah
hanya untuk jatuh
karena mencintai tanah
ingin ia membasahi
segala jalan dan pekarangan kita

Namun aspal tebal
dan pelataran beton kota
berkomplot melontarkan ia
kembali ke selokan
terus mengalihkan alirnya
hingga berakhir tumpah
di lautan

Tersia datangnya
tanpa sempat berjumpa
sekedar mengusap
membasuh dan mengisi
kaki akar bunga
mulut sumur
hati bumi

Kepada lubuk samudera
berbisik ia
terisak mengadu
sedangkan langit
yang terbentang tahu
mengelabu mendung
membendung sedu

(2011)


HAIKU BOCAH BELAJAR MENULIS

Riang gembiranya, riya bangganya
Meski baru bisa
Membubuhkan senoktah titik tipis

(2011)


KERINDUAN

Rindunya bunga
Larut dalam tanah
Rindunya garam
Larut dalam samudera
Rindunya embun
Larut dalam angin
Rindunya bara
Larut dalam nyala
Rindunya bianglala
Larut dalam cahaya
Rindunya aku
Larut dalam-
Mu

(2011)



SEMOGA SAJAK-SAJAK INI ADALAH

Cambuk petir
Menghantam hutan
Dengan api
Membangunkan benih
Dari tanah

Tiang angin
Membadai berpusing
Mengukir kembali
Bukit lembah
Bentang gurun

Bubungan asap
Dari altar korban
Menjulang tinggi
Menggamit langit
Membujuk minta

Seuntai bianglala
Lengkung di cakrawala
Menguraikan
Rahasia warna
Sang surya

Sebatang sungai
Membawa desis
Rindu damba
Gunung pusat benua
Jauh ke jantung samudera

Spiral asam
Menyimpan sisa
Sidik jari
Dari masa
Mula penciptaan

Sehelai selendang
Milik bidadari
Yang sedang mandi
Dan berdendang
Di sendang

Setangkai ranting
Menating bunga
Menyamarkan
Garis langit
Dari pandangan

Atau sekedar
Seuntai pita
Di bungkus bingkisan
Menghias kejutan
Yang manis
Untukmu

Semoga

(2011)

No comments:

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...