Monday, June 27, 2011

SAJAK-SAJAK DARI PATTONGKO

- untuk Farid dkk.

(Pattongko adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Propinsi Sulawesi Selatan . Desa ini terdiri dari tiga dusun : Pakka, Talise, dan Lamberassa. Di Talise, dusun yang menghampar sepanjang pantai teluk Bone itulah, saya--bersama tujuh orang kawan lain--berdiam selama dua bulan. Mulai dari 5 September - 4 Oktober 1996, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata Unhas Gelombang ke-51. Pulau Sembilan adalah nama pulau perkampungan nelayan di lepas pantai Sinjai Timur.)

1.
Antara kaki bukit menjulang
dan bibir laut yang berdendang
dusun kami terbentang.
Di tengahnya tanah lapang
tenteram dan tenang.
Sekali kau datang
Akan abadi terkenang.

Di atas bukit ada sawah ada ladang
di luas laut perahu dengan layar terkembang
sedang di sepanjang pantai berkilau cemerlang
ada satu jalan batu menjulur panjang
berkelok mendaki dan bergelombang.
Di tepian rimbun tetumbuhan liar dan ilalang
bebungaannya mekar disentuh angin bergoyang.

Setiap pagi alam raya mulai damai berdendang
ada suara ayam dan bebek ramai di kandang,
juga ringkik kuda serta lembu melenguh panjang.
Dan ketika cakrawala menjelma cahya gemilang
laut dan langitpun luluh menyatu dalam pandang.
Sementara burung-burung camar terbang rendah melayang
jauh di utara, samar Pulau Sembilan indah membayang.

Bila senja tiba , semesta perlahan temaram lengang
dan di kejauhan nampaklah nyala lampu-lampu bagang.
Akupun berjalan perlahan sendiri dengan kaki telanjang
menyusuri pesisir landai berpasir berkarang
menikmati mentari yang perlahan hilang.
Dan saat bulan terbit meninggi gelombang pasang datang
bunyi ombaknya di sunyi malam menjadi mimpi kepayang.

Antara kaki bukit menjulang
dan bibir laut yang berdendang
demikian syair bersajak ini kukarang
mengabadikan kenangan tak berulang
sebelum aku berangkat pulang.
Meski jarak akan merentang
Namun hatiku disana berkalang.

2.
Kami tinggal di rumah panggung kayu tak berlampu
di pesisir pantai yang damai, di lekuk teluk.
Sepanjang hari lautan bernyanyi begitu merdu
dan dari cakrawala mengalirlah hawa sejuk.

3.
Setiap menaiki satu rumah kami dijamu selalu
walau telah kenyang kuhabiskan juga karena tahu :
apa yang diberikan kepadamu karena cinta
terimalah pula dengan cinta semata.

4.
Gadis-gadis yang manis mencuri pandang
kilatan hitam mata mereka setajam pedang.
Gadis-gadis yang tersipu menunduk bimbang malu
wajahnya merah bersemu runduk kembang sepatu.

5.
Aku terbangun tengah malam pukul satu
lalu turun berjalan ke tepi pantai. Ketika itu
bulan tengah purnama dan mencurahkan
cahayanya di sepanjang pesisir sepi, tak tertahankan.

Laut lalu jadi memutih berkilatan dan makin menggelora
ditimpa sinar keemasannya yang menyala-nyala.
Sementara di barat sana, bukit-bukit hitam samar
membayang di balik kabut putih tipis, diam bersabar.

Dan ketika pepohonan rimbun mendesir halus
disapu angin semilir sejuk menghembus,
bayang-bayangpun bergoyang perlahan.
Di kejauhan : kelap-kelip lampu nelayan.

(Aku berdiri gemetar sendiri
menyaksikan segala kemegahan ini
dan terpikir membangunkan kawan-kawan
yang nyenyak tidur sepanjang malam )

6.
Pagi pukul enam, di beranda
aku duduk sendiri saja
menulis sajak bersahaja.

Di hadapan ombak melantun
dan matahari baru bangun
sedang pasang belum lagi turun.

Lima belas menit berselang
unggas ribut di kandang
dan cicit burung jadi dendang.

Maka, ketika rampung ia
kutuliskan, matahari serta merta
melimpahkan cahya keemasannya.

7.
Pada rumah panggung kayu di tepi pantai
Kami berbaringan di lantai, bertelanjang dada.
Jendela lebar tak bertirai membuka diri
menampung angin,
debur ombak, dan cakrawala,
dengan leluasa.

“Kerja di mana nanti setelah rampung studi ?”
“Langsung menikah dan menumpang mertua
atau mau kemana dulu ?”
“Bagaimana dengan anak kepala desa ?”
Tanya sahut menyahut tanpa jawab
Hanya tawa ngakak pecah bersama

Ah, masa depan yang panjang dan jauh
Aku bersedia menggantimu
Dengan sesaat singkat disini

8.
Menatap warna-warna lembut senja temaram
di laut yang perlahan tenang menjemput malam
adalah menatap wajahmu yang selalu tersenyum itu
yang telah membuatku terpana sejak beribu tahun lalu
dan tak henti henti memancarkan rahasia
yang senantiasa sia-sia kuuraikan disepanjang usia
maka redalah reda, wahai badai dalam dada
maka teduhlah teduh, wahai rusuh pada jiwa.

9.
Apa yang dapat membuatku bosan
saat menatap lautan.
Warnanya beraneka memadu
coklat, hijau, biru, dan ungu.
Selalu bergerak bernyanyi ia
berganti marah, sedih, dan gembira.
Juga pasang serta surutnya
membuat lain setiap hari wajahnya.
Adapun keluasan dan kedalamannya
menyimpan rahasia tanya senantiasa.
Mengingatkanku
kepadamu.

10.
Karena segala yang hidup dari air asal awalnya
maka samudera adalah bunda purba kita
Gelora gelombang dan deru ombaknya yang tiada henti
seruan rindunya memanggil-manggil tuk kembali.

11.
Akhirnya sampai juga kepadaku seluruh keluh
yang engkau kirimkan lewat ombak dari samudera jauh.
Siang dan malam aku duduk sendiri di beranda
dengan mata basah dan amuk badai dalam dada.

12.
Di depan rumah sepanjang malam
lautan dan angin bernyanyi.
Gemanya menjelma mimpi kelam
tentang kristal garam yang menjerit sunyi.

13.
Biarkan aku hanyut tenggelam
lalu larut di laut dalam nan kelam.
Rambutku ikal mayang jadi ganggang lembut
bakal membayang kala tenang air surut.
Megap napasku akan menjelma buih
yang menghempas pecah di pasir putih.
Sedang kerinduanku yang gemuruh begitu
berulang bangkit selalu, menderu sepanjang waktu.

14.
Bulan mati --
laut
terus bernyanyi.

15.
Cintamu yang tulus
memancar tiada putus
dari lubuk hati nan kudus
segala kelam dendam pupus.

Tanpa menunggu alasan
tanpa menuntut balasan
tanpa membedakan
berabad-abad bertahan.

Di hadapanmu aku
berdiri terpaku
menatap tak jemu
membuta, terpukau wajahmu.

16.
Kupuja
ibu-ibu desa yang separuh baya dan yang tua
yang kurus, yang langsing, dan yang gemuk badannya
yang memadati pedati besi tua bermesin dengan barang dagangan beraneka
yang bicara dan tertawa dengan suara keras perkasa
yang matanya berkacakaca bangga waktu bercerita tentang sekolah anaknya
yang tak cakap membaca namun mahir menghitung jumlah harga
yang menghitam kerna nikotin rokok kretek bibir dan gigi-giginya
yang mengenakan arloji lelaki di pergelangan tangannya
yang berhiaskan cincin batu akik besar-besar jemarinya
Sungguh penuh kagum kupuja
terpesona aku pada sinar hidup yang nyala dalam mata
isarat semangat yang lebih gagah dan besar dari segala
yang mengatasi saat-saat maut duka dan kiamat dunia.

17.
Berangkat ke Pulau Sembilan pagi tadi
kini pulang kembali selepas senja hari
derum motor perahu berpadu debur ombak pasang
tak ada yang bercakap, hanya diam takjub memandang
bulan purnama perlahan naik dari cakrawala malam
daratan di depan masih jauh dan nampak hanya kelam
sedangkan di belakang tinggal hamparan lautan
biru berkilatan ditimpa cahaya keemasan.

18.
Sudah jauh lewat tengah malam
Seisi kamar dalam lelap telah tenggelam
Hanya ditemani debur ombak tanpa henti
Dan sorot senter yang meredup sesekali
Aku bersila duduk di lantai kayu tua
Dan dua buah sajak telah lahir ke dunia

19.
Sehabis makan malam sederhana
yang hangat nikmat diselingi senda,
berenam kita duduk di beranda yang luasnya tak seberapa.
Bau tembakau dan harum aroma kopi
tercium memenuhi rumah panggung kayu.
Sinar lampu petromaks yang melemah dari ruang tengah
masih juga mampu menerangi wajah kita.

Di halaman, malam tambah menebal
menghapus jejak unggas-unggas
yang terbang melintasi pantai senja tadi.
Tak ada bulan di malam itu
seperti ketika awal kedatangan kita 2 bulan lalu.
Hanya gelisah laut yang tinggal
terdengar menghempas berulang
seperti nyanyian maut yang kekal.

“Jadi, kalian akan kembali ke Ujungpandang,”
suara tua gemetar memecah sunyi
“Iyek, besok pagi ,”
jawabku pendek agak terbata.
Sudah itu tak ada yang berkata,
hanya mata kita yang nampak berkaca-kaca.
Lelaki tua itu lalu bangkit.
Tubuhnya yang sedikit bungkuk terguncang oleh batuk
saat ia pamit tidur lebih dulu
dan mengingatkan agar tidak begadang terlalu larut.

Sisa berlima kita di beranda,
tak ada yang berselera main kartu
seperti yang biasa kita lakukan
di malam-malam kemarin.
Dalam hati aku bertanya-tanya :
Besok, kembali pulang --
atau justru berangkat pergi ?

(1996)

No comments: