Thursday, January 24, 2008

ENGKAU BEGITU LEMBUT

(sajak lama ini dimuat memenuhi permintaan kawan sejak mahasiswa, Bung Amir PR, insinyur yang asyik dengan karir jurnalistik dan penerbitan--Apa kabarnya, Bos? Meski sering mengaku hanya sebagai penikmat, dari sikapnya saat menikmati sajak yang ia baca, saya curiga, dia justru jauh lebih penyair dari saya, yang sering mengaku sebagai penyair ini)

Seperti desau angin
lirih kabarkan datangnya musim gugur,
Engkau begitu lembut.

Seperti seuntai serenada
mengalun merdu ketika turun senja,
Engkau begitu lembut.

Seperti harum rumputan lembah yang basah
meruah setelah reda hujan tumpah tercurah,
Engkau begitu lembut.

Seperti tudung-tudung cendawan
gemetar membuka perlahan,
Engkau begitu lembut.

Seperti cahaya redup hari subuh
ketika mentari menggeliat di cakrawala jauh,
Engkau begitu lembut.

Seperti temaram sinar bulan di langit malam
mengembang tenang di atas telaga kelam,
Engkau begitu lembut.

Seperti kucing mengeong-ngeong manja
sembari menggosok-gosokkan tubuh di kaki tuannya,
Engkau begitu lembut.

Seperti jemari kabut mengelus-elus pipi
dan kelopak mataku yang pejam bermimpi,
Engkau begitu lembut.

Seperti hitam tebal rambut dara
lepas tergerai di atas bantal sutra,
Engkau begitu lembut.

Seperti bulu-bulu halus di tengkuk perawan kencana
meremang menerima sentuhan pertama,
Engkau begitu lembut.

Mautku, sungguh engkau begitu lembut.
Tajam belati yang kau tikamkan tanpa ampun itu
tak terasa menyusup kian dalam di tubuhku,

No comments:

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...