Thursday, January 24, 2008

SAJAK ANAK-ANAK BERAHI

Anak-anak yang lahir hanya dari berahi
Dibesarkan oleh asuhan televisi
Diberi makan dari hasil korupsi dan pungli
Yaitu hak orang yang dicuri dan dikebiri
Dan kini mereka tumbuh jadi generasi
Yang kalah telak dengan diri sendiri
Mereka selalu sanggup membuat terhenyak ngeri
Setiap kali kita membuka halaman koran pagi.

Lihat betapa tak berdayanya mereka
Lihat betapa mindernya mereka
Sehingga menghambur dalam tawuran
Di tengah jalan-jalan yang semrawut
Sehingga berpesta menghirup serbuk tahi setan
Dalam kamar-kamar kontrakan yang sempit
Sehingga cuek bersebadan dengan pasangan
Di tempat-tempat keramaian
Sekedar untuk melepaskan
Geliat gelisah hajat

Lihatlah, betapa mereka bergelimpangan
Remaja-remaja yang memuja dan mengejar kesenangan
Yang mabuk untuk menyempurnakan kesenangan
Hingga ambruk melupakan segalanya
Bahkan rasa senang itu sendiri
Dan baru mampu terbangun
Ketika matahari telah jatuh tergelincir
Dengan kepala pening
Dan mata sakit oleh cahaya
Dengan hati getun
Dan mulut pahit
Mereka tertegun dan membatin
Setengah menyesal setengah bertanya:
Kok bagaimana bisa
Ku jadi sehina ini, ya?

Betapa menyedihkan
Generasi insan yang gagal
Memanusiakan dirinya
Yang tak kuasa
Mencahayakan jiwanya
Yang telah menyia-nyiakan
Kesempurnaan dan ketinggian derajatnya
Yang meluncur jatuh dengan bahagia
Menuju jurang kebinasaan
Dan akhirnya malah memilih
Menjadi binatang ternak
Yaitu golongan hewan terendah
Yang telah tercerabut dari habitatnya
Hanya bisa tinggal menanti
Memasrahkan merih untuk disembelih
Sembari membenamkan diri
Dalam lumpur hitam
Genangan kotoran sendiri
Dan mengunyahnya
Dengan tatapan hampa
Tanpa muak ataupun selera

Aih, betapa menyedihkannya
Anak-anak yang lahir hanya dari berahi
Kini telah tumbuh jadi generasi
Yang kalah dengan diri sendiri
Kelak mereka pun akan seperti kita
Melahirkan turunan baru
Yang jauh lebih hina.

No comments: