Monday, December 04, 2006

TESTAMEN (Dari Arsip Sajak Lama)

WASIAT TERAKHIR

Kalau bisa, hendaknya jangan tegakkan nisan
yang terus hadir berdiri mengisahkan perpisahan.
Tak usah pula taburkan kembang bunga
yang dicacah setelah dipatahkan dari batang tangkainya.
Sebenarnya tak ada yang berkurang ataupun hilang
mengapa duka harus dikarang, bayang terus dikenang.
Hanya si fakir malang yang menggelandang dihalau angin
telah menamatkan riwayat hidupnya yang teramat miskin
Cuma membawa catatan perjalanannya sekian lama
dalam buku nasib yang bulukan, menguning, dan bergelung sudutnya.
Biarkan saja, biar rumputan liar tumbuh tebal meriap
dalam curahan cahaya bulan biru yang dingin dan senyap.
Agar kelak sepasang kekasih dapat berbaring bermesraan di atasnya
atau seorang penyair datang duduk menulis membisikkan sajaknya.


PERNYATAAN TERAKHIR

Air sumur tiga ember bercampur kamper
dan bentangan kafan tak lebih dua meter
Mencuci dan membungkus sekujur sisa raga
Dari lumuran lumpur debu dunia
Agar kembali suci seperti dahulu
Sebelum kembali ke lubuk bumi yang menunggu
Tetapi jejak kenangan dalam dada
Dapatkah dihapus habis tak bertanda
Walau mata dikatupkan jemari ajal
Dan mulut disumpal tanah bergumpal
Rerumputan yang tumbuh dari bekas tubuhku
Akan meriap membelukar penuh rindu
Kembang yang ditanamkan akan merekah juga
Kelopaknya menyadap dunia penuh dahaga


NYANYIAN TERAKHIR

Kenangan hanya beban, harapan tinggal angan
Dan kini ia pilih menempuh kabut seorang diri
Walau dalam kembara kadang bersilang jalan
Masing insan datang dan pergi sendiri-sendiri
Dari kelam ke kelam, dari sepi ke sepi, tiada berteman
Samudera luas impian bertepi di tanah mati

No comments:

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...