Tuesday, August 14, 2007

KUSENTUH LEKUK BIBIRMU

Kusentuh
Lekuk bibirmu
Yang melengkung indah
Maka merekahlah ia
Membuka diri
Dengan sepenuh bahagia
Sebelum kulepas
Pergi

Kusisipkan rahasiaku
Lembut dan perlahan
Ke dalam celahmu
Yang menelannya
Seperti kupercayakan
Seluruh usiaku
Beserta perasaan
Yang mungkin sia-sia
Dan tak bakal kekal

Biarlah
Setelah kujilati
Lidahmu yang lekat
Mulutmu akan menutup
Seperti mata yang terkatup
Oleh kantuk, seperti jemari
Menguncup dalam ucap doa
Di larut remang

Telapakku yang gemetar
Meraba seutuh hasrat
Merambati sudut-sudutmu
Yang kini memeluk hatiku
Teramat erat seolah pasti
Menepati janji
Lebih kukuh dari mati :
Sampaikanlah berita segala
Yang selain derita

Sampul suratku yang biru,
Berangkatlah dengan selamat
Dalam perjalanan yang lamban
Seperti bulan di lamun lautan
Semoga tangan-tangan jawatan pos indonesia
Mampu menampung amanat
Dan memperlakukanmu
Dengan khidmat dan bermartabat

KUTUNGGU KAU SELEWAT SIMPANG ITU

Dari simpang itu
Ke arah matahari tujuh pagi
Menujulah ke sana
Tanpa mesti tergesa
Dan sebelum langkah
Membuat nafasmu terengah
Akan kau temukan tanda
Di kaki pokok kemboja
Tanda yang sederhana
Seperti bukan dari dunia
Tanda bahwa aku pernah ada
Dan telah telanjur
Mencinta

KOTA SETENGAH TUJUH

Lihatlah
Kota yang semalam
Berdosa besar
Di pagi ini
Lihai benar
Berdusta
Dengan wajah bayi

Di pasar lama
Yang lebih perkasa
Dari sekian walikota
Riuh telah meriah
Sejak sebelum luruh
Embun terakhir
Meskipun sekarang
Agak mereda
Derumnya

Nenek tua
Dengan jualan seadanya
Bisa ngaso sebentar
Ngisap rokok
Dengan mok kopi besar
Sisa setengah terisi
Sementara pak haji
Setelah subuh dan mengaji
Kini menunggu dagangan
Sembari tasbih
Terus berputar di tangan
Parasnya masih berbekaskan
Jejak pijar fajar

Polisi memulai aksi
Di simpang yang semrawut
Dengan harapan sederhana
Semoga pungli hari ini
Lebih baik dari kemarin
Mencoba berdiri tegap ia
Dalam sikap sempurna
Setelah sibuk
Menaikkan ikat pinggang
Membetulkan posisi sarung pistol
Tergantung miring
Berisi handuk muka

Di tepi jalan itu
Anak sekolah
Dengan wangi sampo
Mengepul dari rambut kepang
Gelisah menunggu angkutan
Henpon berkerlip genit
Di genggaman segar jemari lentik
Dan seorang pekerja muda
Tersenyum profesional
Sigap penuh energi
Dalam setelan tersetrika rapi

Koran telah tiba
Tuhan
Semoga hari ini
Tak ada korban bencana

PEJALAN KAKI

Aku masih setia di jalan
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih

Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut

Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu

NARSISI

Bertahun-tahun
Betah aku membonsai
Diri sendiri

Kutolak tawaran
Meninggalkan malaikat
Terpaku di batas tertinggi

Kupilih derajat
Lebih rendah dari ternak
Lebih bebal dari batu

Yang ilusi dianggap hakiki
Yang sejati dicemooh
Dipandang cuma bayang fantasi

Yang remeh-temeh
Didekap segenap hati
Yang berharga dibengkalaikan

Kalaupun perlu tuhan
Atau semacam sesembahan
Bayanganku cukup membantu

Bila sedih dan sepi
Kuhibur diriku
Dengan filsafat humanisme

Ataupun puisi paling murung
Untuk membenarkan
Kecenderungan diri

Nyaman aku berkubang
Di tengah genangan
Kotoran sendiri

Mari, temanilah aku
Menikmati hari ini
Sebelum mati

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...