Thursday, May 31, 2007

SEHELAI SURAT BERSEGEL RINDU UNTUK CINTAKU

Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?

Tuesday, May 29, 2007

SENANDUNG BURUNG

Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa

Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri

Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu

SULUK KESUHUDAN

Aku tak lebih tinggi dari debu
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga

Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku

O, dunia

Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya

Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera

SULUK KESAMARAN

Apakah yang tersamar
Di balik tubuhmu yang telanjang
Apakah yang terkandung
Dalam nafasku yang terguncang

Ah, sekilas Keindahan
Mampir ngumpet di situ
Dan secuil Kehendak
Sejenak pijar di sini

Tiada lain

KOTA KUYUP DALAM HUJAN

Kota kuyup dalam hujan
Deru derum kendaraan
Jadi sayup sebelum senyap
Dan kerlap lampu-lampu
Pun redup gemetar
Berpendaran sayu
Para pejalan bergegas
Berlalu mencari teduh
Burung-burung terburu
Telah mendapati sarang
Sedari tadi
Namun si majenun
Hanya berdiri tercenung
Ditenung nyanyian
Derai hujan
Mengapa harus
Turut sembunyi berlindung
Dari karunia
Yang turun
Tercurah beruntun?

MERENUNGI RELUNG MATAMU

Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku

Monday, May 14, 2007

DI KUTA, DI KUTA

Di kuta, di kuta
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Kusut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi

DENPASAR MEI 2007

Bukan hanya
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan

Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana

Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka

Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati

Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara

Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan

Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta

Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika

SEBELUM SILAM PUKUL LIMA

Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi

Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?

Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti

Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu

Newcastle, Maret/2007.

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...