Sunday, July 29, 2012

SAJAK-SAJAK


HOTEL ALBRECHTSHOF, BERLIN

Hampir pukul sepuluh;
ruang sarapanpun
menghampar sepi.

Pertempuran telah reda:
koran pagi kembali
tersampir rapi.

Tanpa denting
kuku runcing
pada jenjang leher gelas

atau kepulan asap
di atas lautan
secangkir kopi.

Piring dan pisau
terbaring bisu.
Meski bersisian.

Di nampan buah,
sepasang pir dan apel
tak terjamah

--selamat tersisa
dari mangsa
umat omnivora--

Berkilau dingin
putih dan merah
punggung mereka.

Tenteramlah, 
hingga keramaian
jam 12 nanti.


SIANG TERIK PANTAI KURI, MAROS
--bersama Nasir

Di kampung Pantai Kuri,
pada hamparan berhektar tambak
kita berjalan menyusuri pematang
ketika hari jelang jam dua belas siang
sembari berbincang tentang orang-orang beruang
yang mengintai celah peluang
menyulap petak-petak sawah serta tambak
menjadi kawasan industri atau perumahan minimalis.
Samar deru ombak, sampai juga terdengar
menyusupi telinga batinku.

Sementara aku terpana
pada gerumbul bunga taijangang
yang mempersembahkan tiga warna bersama:
jingga, kuning juga ungu. Di bawahnya,
tanah yang kurus mengerang terputus-putus
seperti ingin menyeberangkan kabar:
kami sudah beri segala subur gembur
sebab urea yang ditebar bertahun memerah habis
simpanan kami hingga ke rongga butir terakhir!

Hatiku limbung demi mendengarnya.
Dan aku cemas memikirkan kemungkinan
sepuluh tahun ke depan lagi
luas lepas lanskap ini akan disesaki
kotak-kotak beton pengap panas:
belukar dari kota besar yang menjalar
kian liar tak terkendali.

Tetapi aroma ikan bolu dan kepiting bakar
segera membuatku terjaga.
Segar racikan sambal mangga
mengejutkanku dari lamunan muram masa depan
dan pahit duka sebentaran.
Seraya dengan terampil menyisihkan duri-duri
dari rekahan daging putih manis itu,
aku sekalian membantu tiga ekor bandeng
menuntaskan tugas dan eksistensinya
di alam maya ini. Samar kudengar,
engkau bercerita: sekarang panen
setahun sekali hanya, dulu empat
dengan besar dua kali lipat.

Kini aku mengerti, mengapa
gadis-gadis manis kampungmu
melepas sarung dan menukarnya
dengan rok-rok mini sempit seragam pramuniaga
di mal-mal Kota Makassar.
Mengapa para pemuda perkasa
meninggalkan cangkul serta serok berjala
mengejar kesempatan jadi pekerja pabrik di Korea.
Sukur, saudara saudarimu sudah lepas sekolah
dan ayahmu telah ke tanah suci.
Sedangkan engkau sendiri, sobatku, sekarang
makin sibuk mengajarkan ilmu bisnis dan tata buku.

Angin dari arah pantai
membuat pohon-pohon pisang melambai
menepiskan terik tropika dari mentari tengah hari
yang menjangkau mencengkeram tengkuk-tengkuk kita.
Daun-daun pohonan bakau
yang berakar kokoh menjejak lumpur,
dengan sabar menapis gempuran garam
yang disemburkan laut ke daratan.
Tetapi aku hanya jatuh hati kepada bunga-bunga tahi ayam
yang terangguk-angguk mengantarku pergi
menyeret langkah kantuk sebab lambung yang sibuk,
menenteng dua kantung buah tangan
penuh berisi beras panen dan ikan-ikan

 
ANTARA TETIRAI

Telah tercerabut engkau
Dari kelam humus
Yang meringkus
Dan menumbuhkan sengitmu
Ungu yang menyemburat
Di setiap helai lapis gaun
Tentulah tidak terbit
Dari sungkan malu
Betapa mata hamba
Membuta setiap lengkap
Menanggalkan cemerlang
Yang membungkus tubuh
Dan bila tersibak tirai
Air mata dari pelupuk
Sejenak sahaya kenali kilau
Jejak lampau terang surya
Yang pernah engkau dekap
Sesiang nan purbawi
Hingga semakin ke dalam
Mengelupas sedap rahasia
Hanya rupa hampa
Menyapa pelukan hamba
Di jantung  sepi
Sesiung bawang

(2012)


DI DEPAN JENDELA

Jendela kamarku
bingkainya rengkah
tirainya pun kusam lusuh

Namun di balik kaca memburam
Tiga pohon ekor bajing
Merimbun tumbuh

Dan sering melambai kepadaku
Bagai tiga kemoceng hijau yang riang
Saban angin lalu membelai

Membuatku abai akan
Bingkai, tirai dan kaca
Jendela kamarku

(2012)



No comments:

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...