Saturday, June 17, 2006

SAJAK-SAJAK BARU


Photo Courtesy of Joseph Rueben Elsinger,
Iowa, USA


KATA SEORANG LELAKI KEPADA LILY*)

Kata Lily: kau tentu butuhkan istri
Mari kucarikan pacar dari daftar koneksi
Kata Lelaki: terima kasih kawan baik hati

Ku masih terlalu puisi untuk jadi suami

Lagi pula ia telah terjangkit sejak awal kelahiran
Penyakit tanpa tangkal tawar tak bisa dilawan
Bisa fatal kapan saja tanpa ada pemberitahuan
Namanya (barangkali anda kenal) : kefanaan

n.b: tokoh Lily bisa jadi fiktif; dipilih semata karena pertimbangan rima & irama


SANTAP SIANG SEORANG FILSUF

Saya telah melihat anak tak bersalah
Menderita sakit parah lantas tergeletak mati
Mesti ada penjelasan atas ini masalah
Kezaliman yang sungguh menyakitkan hati

Setelah tercenung sejenak di ujung renung
Ia memutuskan kembali nikmati lezat santapan
Menu sajian favoritnya: kerang segar bertempurung
Yang diperasi jeruk hingga mengerut perlahan


HAYLI

Hayli tinggal di negeri Idaba
Juwita jelita idaman bebangsa
Para kesatria, pangeran, dan raja
Bertengkar perang perebutkannya

Dua lima nama yang berbeda
Adalah sebutannya di lima benua
Enam dua lima gambar parasnya
Digubah rupa oleh para perupa

Tetapi pejalan menuju Idaba
Hanya menyebutnya dengan: Ia
Adapun yang telah jumpa
Terpana hilang bahasa


MATAMU

Sepasang liang kesedihan
Dinaungi dua alis
Tergaris letih
Dan sepi

Lebih dari meja kursi
Teronggok tak terisi
Pada satu pojok dalam
Di kafe temaram itu

Lebih dari helai daun
Ditelantarkan angin
Atas aspal jalan
Jelang hujan

Lebih dari pohon musim gugur
Telanjang terpapar kabut
Tengah taman
Tanpa tamu

Lebih dari lampu jalan
Berpendar pudar
Murung terkurung
Deras derai

Tolong,
Pejamkanlah
Atau kupalingkan
Muka

Agar tak meledak
Berkeping
Dadaku
Pecah


RIMBUN EMBUN

Mendung memang merundungi
Langit pagi
Namun rimbun buliran embun
Di rumpun pinus muda
Yang menggantung lena
Pada dahan dan rantingnya
Telah menyimpan
Seribu mentari

No comments:

SAJAK JALAN PAGI BERSAMA

  Pagi seputih seragam baru dan sesegar rambut basah para bocah ketika kita berjalan menyusur tembok yang mengendapkan waktu di perkampu...