Thursday, March 23, 2006

SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR


Photo: Webshots.com


EPISODE

Aku berjalan perlahan seorang diri
menyusuri tepi bulevar tamalanrea yang sepi
menembusi sisa-sisa gerimis
sehabis hujan sore hari.
Di tepi kanan-kiri jalan
lampu-lampu merkuri telah dinyalakan
membangkitkan kembali kenangan-kenangan lama
yang selama ini nyaris terlupa.
Wangi tanah basah
dan harum rerumputan meruap
menggeletarkan seluruh atom tubuhku.
Sementara bunga-bunga merah kecil
dan dedaunan kuning tua
menderas berguguran dihembus angin senja
memenuhi batang jalan
--beberapa jatuh di atas kepalaku
dan sengaja tak kusapu.

Sebentar lagi malam.

1992-1996

CATATAN
- Kepada kawan-kawan anggota Sanggar Merah Putih Cabang Soppeng

Segelas kopi susu, semangkuk mi dan sebutir telur rebus
telah cukup menenangkan gelepar lapar kita
lewat tengah malam itu, di emperan pusat pertokoan yang sepi
saat dingin berhembus, ubun-ubun basah oleh embun dan kabut
bergelayutan di tiang-tiang lampu jalan.

Kota kami bersih, indah, dan rapih menyembunyikan
lirih rintihan kami dengan pekik semboyan dan slogan
pada papan pengumuman serta patung-patung taman.
Juara Adipura dua kali. Di sini sapu lidi dan bak sampah
menjadi obsesi Ibu Datu dan Bapak Bupati.
Seperti mencuci jemari tangan sendiri
berkali-kali,
katamu dengan mata merah dan basah.
Lalu kita bercerita bertukar kabar berita
tentang puisi, politik, kecurigaan, dan besarnya
dana anggaran belanja daerah yang tercurah
untuk menjaga kebersihan. Juga
tentang Lembah WalanaE, Gelisah Kembara,
dan kisah lelaki yang tersuruk mencari wajahnya
sendiri.

Perempuan bermuka pucat di meja seberang
mengerang tertahan. Lalu dengan suara gemetar
diiringi petikan gitar ia nyanyikan balada-balada
yang membuat kenangan demi kenangan menggeliat terjaga.
Aku terdiam, bersandar. Mendadak senyap.
Dan kitapun terpana menatap kelam menjelma
telaga beraneka warna di pelupuk mata.

Pukul tiga telah lewat. Hampir jam empat.
Kami mesti berangkat pulang ke penginapan.
Besok siang kembali. Di Ujung Pandang
kami tunggu kalian datang bertandang. Berjanjilah,
kirimi puisi-puisimu. Nanti kami kirimkan.
Ini kertas dan ballpoint. Buat kenang-kenangan, dari Anto.
Setelah subuh, pagi-pagi sekali, kita bertiga
jalan kaki ke waduk dekat Ompo. Dari sini hanya sekilo.
Agus, Dedi, dan Rusli jangan berhenti
menorehkan kata-kata cinta di tembok-tembok kokoh
yang mendindingi kotamu dengan putra-putrinya. Teruslah
menjaga ibu yang sunyi sendiri, meniup seruling
menabuh gendang, dan menyanyi menari
selalu
kami pergi dulu.


KUATRIN WADUK OMPO, SOPPENG

Pagi-pagi sekali kami berjalan kaki sekilo ke danau
masih sepi & berkabut, kami lalu menyeberang ke pulau.
Membayang ganggang di dasar, lukisan pohonan di wajahnya
saat duduk beristirahat, di telinga mengiang sebuah sajak cina.


TORAJA, SEBUAH KUATRIN

inilah tanah asal muasal para raja
di tebing-tebing tinggi dan terjal mereka bertahta
ketika telah lelap tidur seluruh desa, di atas sana
mereka tetap nyalangkan mata, setia menjaga


MALINO

di sini, langit lembut menciumi wajah bumi yang tengadah
kabut putih pun melayang ringan di pagi hari yang basah
bagai para peri dan bidadari dengan jubah lebar berkibar megah
di sela-sela pohonan kayu tinggi, mereka merendah dan singgah


BANTIMURUNG, LARUT MALAM

ada nyanyian bening sungai dari bawah sana
dan serangga malam memainkan musik indah mempesona
di atas rumputan basah oleh embun aku berbaring tenang
memandangi bintang-bintang hingga mereka tenggelam menghilang

1992-1996

SAJAK-SAJAK DARI PATTONGKO•
- untuk Farid dkk.

I. Talise

Antara kaki bukit menjulang
dan bibir laut yang berdendang
dusun kami terbentang.
Di tengahnya tanah lapang
tenteram dan tenang.
Sekali kau datang
Akan abadi terkenang.

Di atas bukit ada sawah ada ladang
di luas laut perahu dengan layar terkembang
sedang di sepanjang pantai berkilau cemerlang
ada satu jalan batu menjulur panjang
berkelok mendaki dan bergelombang.
Di tepian rimbun tetumbuhan liar dan ilalang
bebungaannya mekar disentuh angin bergoyang.

Setiap pagi alam raya mulai damai berdendang
ada suara ayam dan bebek ramai di kandang,
juga ringkik kuda serta lembu melenguh panjang.
Dan ketika cakrawala menjelma cahya gemilang
laut dan langitpun luluh menyatu dalam pandang.
Sementara burung-burung camar terbang rendah melayang
jauh di utara, samar Pulau Sembilan•• indah membayang.

Bila senja tiba , semesta perlahan temaram lengang
dan di kejauhan nampaklah nyala lampu-lampu bagang.
Akupun berjalan perlahan sendiri dengan kaki telanjang
menyusuri pesisir landai berpasir berkarang
menikmati mentari yang perlahan hilang.
Dan saat bulan terbit meninggi gelombang pasang datang
bunyi ombaknya di sunyi malam menjadi mimpi kepayang.

Antara kaki bukit menjulang
dan bibir laut yang berdendang
demikian syair bersajak ini kukarang
mengabadikan kenangan tak berulang
sebelum aku berangkat pulang.
Meski jarak akan merentang
Namun hatiku disana berkalang.

II. Kuatrin - Kuatrin Pattongko

1.
Kami tinggal di rumah panggung kayu tak berlampu
di pesisir pantai yang damai, di lekuk teluk.
Sepanjang hari lautan bernyanyi begitu merdu
dan dari cakrawala mengalirlah hawa sejuk.

2.
Setiap menaiki satu rumah kami dijamu selalu
walau telah kenyang kuhabiskan juga karena tahu :
apa yang diberikan kepadamu karena cinta
terimalah pula dengan cinta semata.

3.
Gadis-gadis yang manis mencuri pandang
kilatan hitam mata mereka setajam pedang.
Gadis-gadis yang tersipu menunduk bimbang malu
wajahnya merah bersemu runduk kembang sepatu.

III. Catatan Ketika Terbangun Pukul Satu Malam

Aku terbangun tengah malam pukul satu
lalu turun berjalan ke tepi pantai. Ketika itu
bulan tengah purnama dan mencurahkan
cahayanya di sepanjang pesisir sepi, tak tertahankan.

Laut lalu jadi memutih berkilatan dan makin menggelora
ditimpa sinar keemasannya yang menyala-nyala.
Sementara di barat sana, bukit-bukit hitam samar
membayang di balik kabut putih tipis, diam bersabar.

Dan ketika pepohonan rimbun mendesir halus
disapu angin semilir sejuk menghembus,
bayang-bayangpun bergoyang perlahan.
Di kejauhan : kelap-kelip lampu nelayan.

(Aku berdiri gemetar sendiri
menyaksikan segala kemegahan ini
dan terpikir membangunkan kawan-kawan
yang nyenyak tidur sepanjang malam )

IV. Catatan Pukul Enam

Pagi pukul enam, di beranda
aku duduk sendiri saja
menulis sajak bersahaja.

Di hadapan ombak melantun
dan matahari baru bangun
sedang pasang belum lagi turun.

Lima belas menit berselang
unggas ribut di kandang
dan cicit burung jadi dendang.

Maka, ketika rampung ia
kutuliskan, matahari serta merta
melimpahkan cahya keemasannya.

V. Catatan Tengah Hari

Pada rumah panggung kayu di tepi pantai
Kami berbaringan di lantai, bertelanjang dada.
Jendela lebar tak bertirai membuka diri
menampung angin,
debur ombak, dan cakrawala,
dengan leluasa.

“Kerja di mana nanti setelah rampung studi ?”
“Langsung menikah dan menumpang mertua
atau mau kemana dulu ?”
“Bagaimana dengan anak kepala desa ?”
Tanya sahut menyahut tanpa jawab
Hanya tawa ngakak pecah bersama

Ah, masa depan yang panjang dan jauh
Aku bersedia menggantimu
Dengan sesaat singkat disini

VI. Stanza Senja Di Laut

Menatap warna-warna lembut senja temaram
di laut yang perlahan tenang menjemput malam
adalah menatap wajahmu yang selalu tersenyum itu
yang telah membuatku terpana sejak beribu tahun lalu
dan tak henti henti memancarkan rahasia
yang senantiasa sia-sia kuuraikan disepanjang usia
maka redalah reda, wahai badai dalam dada
maka teduhlah teduh, wahai rusuh pada jiwa.

VII. Menatap Lautan

Apa yang dapat membuatku bosan
saat menatap lautan.
Warnanya beraneka memadu
coklat, hijau, biru, dan ungu.
Selalu bergerak bernyanyi ia
berganti marah, sedih, dan gembira.
Juga pasang serta surutnya
membuat lain setiap hari wajahnya.
Adapun keluasan dan kedalamannya
menyimpan rahasia tanya senantiasa.
Mengingatkanku
kepadamu.

VIII. Kuatrin - Kuatrin Laut

1.
Karena segala yang hidup dari air asal awalnya
maka samudera adalah bunda purba kita
Gelora gelombang dan deru ombaknya yang tiada henti
adalah seruan rindunya memanggil-manggil kita tuk kembali.

2.
Akhirnya sampai juga kepadaku seluruh keluh
yang engkau kirimkan lewat ombak dari samudera jauh.
Siang dan malam aku duduk sendiri di beranda
dengan mata basah dan amuk badai dalam dada.

3.
Di depan rumah sepanjang malam
lautan dan angin bernyanyi.
Gemanya menjelma mimpi kelam
tentang kristal garam yang menjerit sunyi.

IX. Stanza Laut

Biarkan aku hanyut tenggelam
lalu larut di laut dalam nan kelam.
Rambutku ikal mayang jadi ganggang lembut
bakal membayang kala tenang air surut.
Megap napasku akan menjelma buih
yang menghempas pecah di pasir putih.
Sedang kerinduanku yang gemuruh begitu
berulang bangkit selalu, menderu sepanjang waktu.

X. Haiku Bulan Mati

Bulan mati --
laut
terus bernyanyi.

XI. Matahari

Cintamu yang tulus
memancar tiada putus
dari lubuk hati nan kudus
segala kelam dendam pun pupus.

Tanpa menunggu alasan
tanpa menuntut balasan
tanpa membedakan
berabad-abad bertahan.

Di hadapanmu aku
berdiri terpaku
menatap tak jemu
membuta, terpukau wajahmu.

XII. Ode

Kupuja
ibu-ibu desa yang separuh baya dan yang tua
yang kurus, yang langsing, dan yang gemuk badannya
yang memadati pedati besi tua bermesin dengan barang dagangan beraneka
yang bicara dan tertawa dengan suara keras perkasa
yang matanya berkacakaca bangga waktu bercerita tentang sekolah anaknya
yang tak cakap membaca namun mahir menghitung jumlah harga
yang menghitam kerna nikotin rokok kretek bibir dan gigi-giginya
yang mengenakan arloji lelaki di pergelangan tangannya
yang berhiaskan cincin batu akik besar-besar jemarinya
Sungguh penuh kagum kupuja
terpesona aku pada sinar hidup yang nyala dalam mata
isarat semangat yang lebih gagah dan besar dari segala
yang mengatasi saat-saat maut duka dan kiamat dunia.

XIII. Kembali dari Pulau Sembilan

Berangkat ke Pulau Sembilan pagi tadi
kini pulang kembali selepas senja hari
derum motor perahu berpadu debur ombak pasang
tak ada yang bercakap, hanya diam takjub memandang
bulan purnama perlahan naik dari cakrawala malam
daratan di depan masih jauh dan nampak hanya kelam
sedangkan di belakang tinggal hamparan lautan
biru berkilatan ditimpa cahaya keemasan.

XIV. Malam Perpisahan

Sehabis makan malam sederhana
yang hangat nikmat diselingi senda,
berenam kita duduk di beranda yang luasnya tak seberapa.
Bau tembakau dan harum aroma kopi
tercium memenuhi rumah panggung kayu.
Sinar lampu petromaks yang melemah dari ruang tengah
masih juga mampu menerangi wajah kita.
Di halaman, malam tambah menebal
menghapus jejak unggas-unggas
yang terbang melintasi pantai senja tadi.
Tak ada bulan di malam itu
seperti ketika awal kedatangan kita 2 bulan lalu.
Hanya gelisah laut yang tinggal
terdengar menghempas berulang
seperti nyanyian maut yang kekal.

“Jadi, kalian akan kembali ke Ujungpandang,”
suara tua gemetar memecah sunyi
“Iyek, besok pagi ,”
jawabku pendek agak terbata.
Sudah itu tak ada yang berkata,
hanya mata kita yang nampak berkaca-kaca.
Lelaki tua itu lalu bangkit.
Tubuhnya yang sedikit bungkuk terguncang oleh batuk
saat ia pamit tidur lebih dulu
dan mengingatkan agar tidak begadang terlalu larut.

Sisa berlima kita di beranda,
tak ada yang berselera main kartu
seperti yang biasa kita lakukan
di malam-malam kemarin.
Dalam hati aku bertanya-tanya :
Besok, kembali pulang --
atau justru berangkat pergi ?

1996
*) Desa di Kecamatan Sinjai Timur, Sulawesi Selatan, Lokasi KKN Mahasiswa Unhas


KUATRIN CATATAN PERJALANAN
(Ujung Pandang - Gorontalo, Januari 1994)

1.
betapa jalan trans sulawesi menjulur panjang
berkelok mendaki, menurun menyusur tepi jurang berulang
ribuan kilometer merentang jauh dari ujung pandang
tetap terkenang teduh wajahmu, & suaramu lembut kerap mengiang

2.
langit terang berhias gemintang dan purnama emas
di bawahnya hamparan sawah dan ladang membentang luas
bus terus merayap perlahan di atas jalan lurus
setiap jarak merebak, membakar rindu tiada pupus

3.
cahaya bulan jatuh di pangkuanku dari jendela kaca
pada pulas lain penumpang, hanya aku dan supir masih jaga
sebuah balada mengalun rendah dalam temaram dari tape mobil
kucoba pejamkan mata, membayang kau melambai memanggil

4.
di punggung gunung berkabut, bus merangkak perlahan saja
di kiri tebing tinggi, di kanan jurang dalam menganga
dari kelam lubuknya menjulang lebat pohonan tua penuh rahasia
ibu khusyuk berdoa, ada yang tunduk, ada yang palingkan muka

ah, betapa langkah maut tak dapat dicegah
bila bisa memilih, kusuka mati di tempat begini indah

5.
hampir magrib kami tiba di terminal
naik bendi bertiga kami mencari alamat kerabat
bercerita nenek tentang sejumlah nama tak kukenal
kupaksa mengangguk dengan mata yang makin berat

6.
kata orang keluarga bagai pohon besar
karenanya anak cucu mesti diajar mengenal akar
tetapi aku adam, sekian lama tersasar berputar di pusar kota
tanpa masa silam, telah lupa pula bahasa surga


CATATAN PERTAMA KALI MENGINJAKKAN KAKI DI TANAH LELUHUR PADA UMUR 20

Di hadapan kubur salah satu leluhur
dengan gelar kepahlawanan pada nisan
dalam aksara & bahasa asing tak kumengerti,
aku termangu. Tak tahu harus berbuat apa.

Hanya kikuk mengikuti tindak-tanduk ibu,
berpura-pura sibuk mencabuti rumputan liar lalu menyentuh
batu hitam. Ibu kemudian khusuk berdoa,
aku ikut menundukkan kepala dan memejamkan mata

tetapi tak berdoa.
Hanya berkata dalam hati : “Maafkanlah.
Semoga kau mengerti. Aku tiada mengenalmu
sama sekali.”

(Sebentar lagi aku akan pesiar, berputar-putar
keliling kota diantar seorang sepupu
yang baru kemarin dulu kukenal
dan membuatku tersipu.)

Berapa besar keluarga kita di sini. Siapa dan di mana saja mereka berada.
Begitu aku bertanya-tanya saat ibu mengajak beranjak pergi.
Di hadapan kubur salah satu leluhur yang tak kukenal,
ku nanar tersadar betapa banyak kehilangan selama ini.

CATATAN PERJALANAN KEDUA
- Trans Sulawesi, poros Poso-Palopo, 23 Desember 1996

Di bawah, di perut lembah, ada hutan
begitu hijau mengelam, rimbun lebat, dan perawan.
Gemuruh air terjun yang terdengar dari kejauhan itu,
bagai hingar beribu gajah berlari menyerbu.

Segalanya masih sempurna seperti awal permulaan
megah, bagai tawa Insan Kanak di tengah Taman.
Dan samar-samar menggaung gema kekal Sabda
di antara dinding tebing terjal dan dingin rongga gua.

Yang menginjakkan kaki di sana hanyalah bidadari
tubuhnya suci telah terbasuh dari belitan birahi.
Atau burung, mahluk bersayap di punggung
yang hakikat ruhnya senandung kidung agung.

KENDURI

Para penghuni rumpun bambu kuning
Bernyanyi menari di dalam curahan sinar bulan pucat
Gemuruh tetabuhan, hentak kaki, dan pekik melengking
Riuhnya menyebar dibawa angin barat

Jangan mendekat mahluk berdarah berdaging
Jasad yang mengganggu bakal kena laknat.
Berpusaran aroma bunga di sekeliling
Malam jadi keramat


LAGU LOSARI

Pukul sebelas malam
Losari bercadar dan hitam.
Membayang rembulan seperenam
di wajahnya mengerang demam.

Satu dua bintang redup bersinar
nampak jauh tinggi dan gemetar.
Kapal-kapal nelayan tak berlayar
terapung lelap di dadanya bersandar.

Dari selatan datanglah awan
berbeban berat simpanan curahan hujan.
Suram & kusam wajah perempuan serta gelandangan
pulang berpindah menyumpahi malam tanpa penghasilan.

Selepas pukul dua belas langitpun gugur
kota lelap tidur di bawah deras hujan mengguyur.
Namun ombak Losari di tanggul terus membentur
Meski keras deburnya perlahan kian mengabur.

Bulan seperenam hanyut jauh di laut sepi
Losari yang kuyup tinggal sendiri.
Bulan seperenam luluh larut di laut bermimpi
Losari yang sayup tetap lirih bernyanyi.


CATATAN LOSARI

Dini hari, seusai baca sajak di Stasiun RRI,
seperti halnya ombak-ombak Losari
kita pun mendamparkan diri.
Depan Fort Rotterdam tua yang lumutan dan mengerang
di salah satu warung kecil dengan lampu petromaks yang remang
bertujuh duduk menghirup gelas kopi dan berbincang.

( Sebuah antologi akan terbit sebulan nanti ;
masihkan Arge dan Husni menulis puisi kini ;
bagaimana caranya menyembunyikan kata di depan polisi ?
Roel mengomel, “Kasihan mereka yang tanpa bapa mengembara sendirian,
menjerit menggugat menyayat malam tanpa ada jawaban,
sampai kapan kalian akan bertahan ?” )

Aslan & Bahar yang bosan iseng menggoda perempuan penjaga warung itu
masih belasan tahun, manis, & senyumnya terus tak lepas, namun jelas palsu
mengaku datang dari Surabaya, baru beberapa bulan yang lalu.
Seorang tentara yang singgah ia sambut juga dengan senyum yang sama
dan tawa mengikik, katanya hampir setiap malam bapak itu mampir berjaga
Bahar mendesis, “Jangan mengumbar tawa pada siapa saja selagi saya ada !“

Waktu itu, apakah yang coba kita kekalkan
: cinta yang bengal walau tanpa harapan
atau sekedar keisengan dangkal tanpa satu tujuan.
Kota yang kini bangkit mengaum tak lagi butuh doa mantera dan misteri
yang penyair silakan menepi merapal jampi dan bernyanyi sendiri
atau tersuruk bermimpi di kaki gedung-gedung tinggi.

Sudah setengah empat pagi , kita akan kemana lagi singgah
dengan baju yang basah dan mata yang memerah
tak ada yang mengucap salam saat berpisah.
Jalanan perlahan sepi menguap di bawah lampu-lampu merkuri
pasangan-pasangan berkencan telah berangkat menahan taksi
dan seperti ombak Losari, walau tanpa tujuan pasti, kita pun pergi.


LOSARI, LOSARI

Losari, Losari
sukmaku bernyanyi
menujumu yang menanti.

Aku menyusuri lorong kecil berbau amis
penuh dengan perempuan bertopeng yang mendesis,
lelaki pemabuk bertatto & si gila yang sendiri meringis.

Aku telah menempuh hutan batu yang suram
yang ditutupi gumpalan-gumpalan kabut timah hitam,
dan taburan hujan serbuk logam yang masam lagi tajam.

Aku telah lepas dari cakar-cakar yang mencengkeram
dari belitan jalan-jalan besar bagai naga menggeram,
dari lubuk jantung kota yang memendam dendam.

Dan kini mendekati ujung perjalanan
kulihat kau di kejauhan bermandi cahaya bulan
bergerak perlahan, bagai perak gemerlapan.

Losari, Losari
sukmaku berlari
menujumu yang menanti.


HAIKU MENYUSURI TEPI JLN. DR RATULANGI, U.P.

Dari celah-celah bata kelabu trotoar jalan
rumputan kecil hijau
bermahkota butiran air sisa hujan
meriap berkilau.


KUATRIN JALAN MALINO-UJUNGPANDANG

Di sepanjang jalan adalah pesona yang purba :
pucuk-pucuk cemara dari lembah di bawah sana
bagai sosok-sosok mahluk berselubung kabut sunyi
menyembul mengepungmu dari lubuk jurang mimpi.

JAKARTA

Kota beton-beton kelabu,
Lempeng baja, dan dinding kaca
Yang terbakar menyala

Udara menyengat penuh karat
Bertabur serbuk-serbuk logam
Hitam, asam, dan tajam

Meleleh wajah-wajah kusam
Yang menatap suram
Menanti bis penghabisan

Jangan tinggal terlalu lama
Singgahi saja
seperlunya

1997

ANGIN MAMMIRI

Wahai,
Seperti kukenal
Angin yang semilir
Menghampiri
dan mengelusku !

Adakah ia angin yang sama
Yang pernah membelaiku juga
Di kotaku yang lama
Di seberang laut sana
Pada suatu waktu
tujuh tahun lalu ?

1999


CATATAN MALAM TAHUN BARU
-braga, 2000

Di sebuah kota yang asing
Tanpa cinta yang meminta setia
atau janji menanti dipenuhi
Ia menyusuri seruas jalan tua
Dengan bangunan-bangunan bergaya belanda
Dan lampu-lampu kuning pucat
Menyirami dinding merah batanya
Serta tiga pria tionghoa tua
Tak acuh bermain kartu
Bertaruh dengan waktu
Bertarung dengan sendu

Malam tahun baru,
Dan setahun kembali berlalu
Tetapi sengaja memang
Ia menghindar dari keramaian
Dari riuh pesta di pusat kota
Dan dari pasangan-pasangan muda
Yang melangkah berangkulan mesra
Sembari sesekali saling memagut.
Kegembiraan mereka
Adalah lecut rasa sakit baginya.

Ia menyenangi suasana itu :
Jalan tua yang lengang,
Cuaca yang tenang,
Arsitektur lama
(yang ketika larut malam tiba
hanya dihuni bayang hantu-hantu masa silam
yang teramat sayang kepada kenangan),
dan sinar kuning pucat dari lampu-lampu hias
yang berpendaran membias gemetar di trotoar
dalam udara malam yang dingin,
seperti lingkaran cahaya
di sekeliling kepala para santa
yang dalam selubung jubah ungu
berdiri khusuk dan murung
mematung dalam kontemplasi :
renungan tentang yang fana
dan yang abadi.

Lelah berjalan, ia pun dahaga.
Setelah menghitung uang sisa di kantung celana
Dan sejenak tertegun,
Ia menyeberang perlahan
Dengan kedua tangan dalam saku
Masuk ke satu warung kedai
Yang tanpa pengunjung dan terabaikan
Memesan segelas kopi hitam kental
Lalu duduk menikmatinya
Dengan gerak lamban dan senyap
Dengan hirupan yang dalam
Sebagaimana ia juga menikmati
Menyiksa diri dengan sepi

Kawan-kaman lama
Telah memilih menyerahkan diri
Dan kini ditawan dalam rumah-rumah mungil
Dengan pelat nama tembaga
Berkilat di atas ambang pintunya
Ia lantas menyadari
Ia telah bertambah tua
Dan sendiri.
Dua tiga helai uban
Membubuhkan warna kelabu perak
Pada rambut ubun-ubun kepala
Dan garis-garis kerut
yang diguratkan oleh tahun-tahun lampau
kian dalam terukir
pada raut wajahnya yang letih.
Ya, masa lalu selalu membelenggu
Dan harapan kerap menipu,

Tak terasa,
Tuntas sudah di reguknya gelas kopi kedua
yang sekental luka, sepahit duka,
dan sehitam maut.
Dan dua milenium tanpa terasa
pun berlalu bagai lamunan.

2000

KENANGAN KANAK-KANAK

Telah kutelusuri kembali jalur hidupmu,
mundur ke tujuh puluh dua tahun lalu
yang seperti lembar halaman buku cerita
penuh gambar-gambar beraneka warna.

Di situ kutemukan kisah putri salju, telaga yang menggenang
dari sebatang lidi, malingkundang si pendurhaka, dan oedipus
yang berkelana serta ramayana dan mahabharata.
Juga cita-cita jadi presiden, mimpi tentang seorang nabi
yang dahaga dan terluka, angan superman,
dan pilot pesawat tempur yang perkasa,
hingga rasa kangen yang mendesak aneh untuk pertama kali
yang telah memaksamu menguntitnya setiap pulang sekolah
seperti kucing yang setia.
Dan juga,
basah pada celana
yang membuatmu resah malu ketika bangun pagi.

Sekarang engkau di sini : cemas menyilangi penanggalan
di dinding kamar yang dingin memar oleh lembab hujan,
dan gemar mendengar lagu-lagu lama serta membaca kisah
dengan tema-tema sederhana : semua yang sekedar gema,
bukan gempar gempa. Juga suka duduk termangu di ambang pintu,
tetapi bukan untuk menunggu seorang tamu
yang lama diimpikan bertemu,
karena telah lelah dan tahu : harapan hanya menipu
dan semuanya cuma semu.

Tetapi tak usah bersedih hati : tak ada mimpi
yang mati, tak ada angan yang tumbang
karena di sejumlah dunia yang lain sama sekali, saat ini,
engkau adalah semua yang pernah kau inginkan.
Sesuatu yang kini dikenangkan, dahulu telah menjadi riwayat
yang memilih berpisah dari kenyataan sehari-hari
kemudian berjalan merentangkan sejarahnya sendiri.
Sekarang, di sana, engkau adalah seorang presiden yang
telah dikalahkan, superman yang memilih kerja wartawan lalu menikah
dengan Lana, serta seorang pengiring nabi yang sejuk di tengah api.
Juga ada satu pesawat tempur jatuh kena gempur lalu terkubur
di tengah samudera yang mengabur dalam kabut.

Jadi, tak usah takut dan berduka. Mengapa tertunduk kuyu dan
menghela lesu. Berbaringlah setelah menutup pintu, menurunkan tirai,
dan memadamkan lampu. Tenanglah, tak akan lama perihnya.
Hanya sebentar saja. Telah kubaca semuanya.
Betapa nafasmu yang terengah kian perlahan tertahan-tahan
bersama tubuhmu yang terbujur lemas di pembaringan kayu
semakin melecut gemasku untuk melucuti hidupmu.

Kita akan pergi ke tengah samudera jauh,
menengok pilot pesawat tempur yang terjatuh itu ;
Kasihan, ia kesepian di sana,
hanya berteman ikan-ikan yang suka tak acuh
Ayo,

Nii-na bobo…
ooo nii-na bobo…

2001
SUKABUMI

Geraknya sungai yang mengalir
Gelaknya angin yang semilir
Tetapi kerudung pada wajah purnama
Tak kuasa menyembunyikan
Helai-helai anak rambut
Kecil dan manja
Di keningnya

2001

KERETA BANDUNG-JAKARTA

1.
Dari Bandung ke Jakarta
Melaju menderu kereta
Suaranya meraung menyeru
Menyebut hanya namamu


2.
Dari Jakarta ke Bandung
Kereta bergerak perlahan dengan murung
Menembus hujan senja dan gelap malam
Derak sepinya membuat mata tak dapat terpejam

2001

SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR

masih belum tidur, sayang?
ketika aku berjalan kaki
di sepanjang jalan ahmad yani
yang telah dibongkar trotoarnya
matamu yang nyalang menyorot-nyorot
bagai lampu menara penjara
sementara di wajahmu semut-semut besi berapi
merayap dan menderum mengepulkan asap dan debu

manisku, siapa namanya si walikota
yang telah berani menggunduli habis
pohon-pohon asam dan akasia di kedua alismu?
keisengan atau kebodohankah yang telah meringankan tangannya?
siapa namanya si pengusaha
yang dengan bebal meruntuhkan rumah dan gedung belandamu,
menggantinya dengan mal dan gudang
dan bahkan ingin mendirikan asrama di lapanganmu?

aku pergi tidak begitu lama
dan ketika kembali aku terperangah
melihat engkau begitu jauh berubah
ular-ular aspal melilit tubuhmu
mal dan markas orang bersenjata
tumbuh memenuhi dadamu
sementara anak-anakmu
memaparkan pusar mereka
dan memamerkan belahan bokong
bercintaan di pojok angkutan kota

Betapa mencekam,
ketika mendadak disekelilingku
bermunculan pasar dan plasa
timbul dari lubuk bumi
bagaikan para siluman raksasa
nongol membelah perut ibunya
lalu tumbuh sebagai raksasa tambun
dengan perut buncit dan punggung membungkuk
yang bangun terhuyung-huyung
sembari meraung minta makan
dan para liliput mengalir
datang dari setiap sudut-sudut kota
memasuki mulut mereka yang menganga lebar
dan menebarkan bau aneh

aih, aih, aih, sedihnya sayang,
keningmu berkerut merut
dan matamu keruh berkabut
jadi engkau juga harus ikut menjual diri
demi dolar dan rupiah
demi catatan prestasi pejabat
menggaet dana investasi
demi komisi dan promosi
demi masa jabatan kedua kali
sementara aku justru merasa
lebih aman dan nyaman
dengan kesederhanaanmu yang dulu?

lihatlah, aku berjalan kaki di ahmad yani
dengan perasaan takut serta asing
setelah daeng-daeng becak
yang dahulu mangkal di sini
sembari minum jerigen ballo dan main domino
telah digusur pergi
jalananmu ini bukan untukku lagi
percintaan kita telah jadi mimpi
sejak trotoarmu dicungkil pepohonanmu dicukur
jalan-jalan lama diperlebar dan jalan-jalan baru dibuka
sementara pejalan kaki dibiarkan
dicincang tajamnya panas mentari
dilumuri debu dan polutan
diintai sambaran maut dari semut-semut besi berapi
yang melaju angkuh dan perkasa

masih belum tidur, sayang?
berapa butir penenang yang mesti kau tenggak lagi
sebelum cemas dan gegasmu dapat reda dalam alun tidur
tatapanmu kian jauh dan tak acuh
seperti papan-papan iklan
yang megah tinggi tak tersentuh
mengangkangi si gila yang tersedu-sedu
duduk mencangkung dibawahnya
kau mungkin bahkan tak peduli
bahwa aku telah kembali
dan kehilangan kamu

aku menangis,
manisku

2002


TAMALANREA, MALAM SEBELUM GERIMIS REDA

pohonan ki hujan dan jati belanda
juga flamboyan dan angsana
berjajar di sepanjang jalan
gemetar dijamah angin selatan

pendar cahya lampu-lampu ukir
memang tak berdaya untuk mengusir
malam yang datang bawa senyap
menyihir kita jadi bayang gelap

sepasang wajah yang karib
sekarang musnah perlahan gaib
saya takut, lembut cemasmu
pegang tanganku, sahutku

lenganmu yang penuh dan telanjang
sungguh membuatku meremang
rambutmu meruapkan wangi
lebih hunjam dari setanggi

maka selirih bisikan ada yang luruh
bersama rintik ketika tiba meruntuh
dan di halte kecil yang ditinggalkan
helai-helai kecupan pun bertanggalan...


JALAN SETAPAK

jalan setapak yang terlupakan
terkapar dibakar matahari
semak belukar di kedua tepi
berlomba menghapusnya

sejak jalan aspal datang
mengiris punggung bukit bunga
para peladang di hutan
lama tak lagi melintasi

ia berharap semoga ada bocah
yang tersesat di padang sana
biar nanti para pencari
kembali lalulalang di atasnya

di mulutnya dulu aku berdiri terpaku
tak tahu arah mana menuju rumahku
bila kini kalian datang mencari
temukan aku di dahan pohon kayu

MADAH HUJAN PERTAMA

selamat datang hujan yang manis
gempita nyanyianmu memeriahkan halaman rumahku petang ini,
engkau mengairi sumur dan sawah, mengaliri selokan dan saluran,
mengisi danau dan bendungan, memenuhi lembah dan padang
engkau mengilapkan atap-atap rumah dan pucuk-pucuk daun
hingga kembali cerlangnya, membersihkan bumi dari debu kotoran,
menjernihkan langit dari keruh karat, dan membasuh jiwa-jiwa
dari kusam dan noda

selamat datang hujan yang jelita
lubang-lubang perigi di kerak bumi bergerak membesar,
mulut-mulut bunga membuka, dan liang-liang pori di kulitku pun melebar
menyambut harum dinginmu yang lembut dan sejuk
setelah sekian lama haus dan hangus dibakar bara kemarau
kini lihatlah: hewan dan serangga, pohonan dan bunga-bunga,
saling merapat dan mengesekgesekkan badan mereka penuh sukacita
sementara para suami menggeser tubuhnya
lalu meraba dan menindih para istri dengan bahagia
semuanya mabuk oleh kemesraan sabdamu

selamat datang hujan yang juwita!
seperti rusa gurun aku surup menyambut datangmu
menari berputar memekik dan bertempik
aku ingin menghambur ke jalanan dengan telanjang
membiarkan jari-jari kecilmu mencubiti sekujur tubuh
selamat datang utusan setia dari sang pencipta!
ternyata ia belum berputus asa dari manusia! sebarkan berita baik ini!
tebarkan kabar suka cita ini! ke timur dan barat, ke selatan dan utara!
biar setiap rumput meliukliuk riang!
biar setiap kerikil terguncang dan bergelindingan gembira!

KUATRIN- KUATRIN BULUDUA, SOPPENG

1.
jalang panjang mendaki lagi berliku
merentang menyusuri kaki sepasang bukit batu
awan kabut datang berkumpul selalu
lalu berguguran dalam hujan malu-malu

2.
kali kecil ini buihnya begitu cemerlang putih
dan bebatuannya begitu berkilau hitam
padahal kemarin ia begitu kering dan letih
terkapar sekarat menunggu hujan datang menyiram

3.
gelas-gelas kopi hitam, lepat ketan merah, & telur asin,
untuk mengusir dingin dihadapan kita tersaji
tetapi kabut dari atas bukit sana ikut meluncur turun
masuk berbaur dengan asap kretek serta uap kopi

2004

PINTU DUA, TAMALANREA

Sayap-sayap langit kelam kelabu
menaungi rumah-rumah beratap merah bata
dan menyalakan cahaya kuning jingga
pada pucuk lampu-lampu jalan.
Lalu ia merentang dan mengepakkan sayap-sayapnya
karena mabuk oleh rasa senang yang entah datang dari mana
maka dengan tenang, bunga-bunga kuning mungil dari angsana
dan bunga-bunga merah kecil dari flamboyan
luruh berhamburan, cemerlang berbaur diaduk angin selatan.

DI PEREMPATAN JALAN MESJID RAYA

Cuaca sore membiru, kelopak cakrawala memberat
lalu luruh dikatupkan oleh kantuk di pelupuknya.
Gegas lalu lintas mendesak-desak ke batas tepi
menakutimu ke seberang jalan itu. Hujan bertaburan

mengaburkan pandang, menggiring pejalan kaki
menyusuri koridor pertokoan yang telah tutup lebih cepat.
Anak-anak kecil bernyanyi dangdut dalam kuyup, sementara
seorang orang tua membereskan serakan keping recehan.

Dan klakson-klakson saling bersahutan memekakkan telinga,
seakan pekik terakhir dari sisa laskar yang terusir putus asa,
sebelum akhirnya mereka mereda menyerah senyap
dan rebah menerima malam dengan dada reda,

membiarkan lampu-lampu meledakkan mata mereka
melubangi kota dengan tikaman-tikaman cahaya.

2004

KENANGAN HUTAN KECIL, PACCERAKKANG, DAYA

Dahulu jalan itu hanya setapak kecil yang berliku
meliuk di antara lebat pohon-pohon nangka dan mangga liar
yang bagai raja yang royal membiarkan buah mereka
buat para pelintas dan hewan hutan.

Dan guguran kapas dari kapuk randu dan sisa kabut semalam
bertaburan melayang lepas lalu meluncur turun
untuk mendekap bunga-bunga rumput
sebelum bergegas melenyap.

Seperti kekasih gelap yang tergesa
meninggalkan para dara dan janda bersungut-sungut
membetulkan kain yang kusut,
menenangkan nafas yang memburu.

Lalu kemanakah pergi para peri dan hantu
yang dahulu bergelantungan di dahan pohon itu?
Di mana gerangan mereka
sekarang?

DI TENGAH KEMACETAN LALU LINTAS KOTA
-bersama Muhary

Orang-orang menjual dirinya
demi memiliki segalanya
agar dapat merasa percaya
bahwa mereka telah bahagia
sedangkan engkau telah bergembira
hanya dengan seberkas cahaya surya.

Orang-orang menjagal sesamanya
agar dapat meraup emas permata
sementara engkau telah bersukur bersuka
melihat sebutir embun di bibir bunga
berkilau cemerlang menyilaukan mata
dibasuh siraman cahaya purnama.

Siapakah engkau sesungguhnya:
orang gila atau pemabuk kurang kerja,
mahluk setengah dewa yang menjelma
atau hanya kanak yang menolak dewasa?
Di tengah kemacetan lalu lintas kota,
kita asyik bercerita tentang pukau kata!

2004

DI KOTAKU

Kotaku belantara toko-toko raksasa
Terisi penuh segala ada di pasaraya
Semuanya tersedia, terpajang menggoda
Semuanya, kecuali uang di saku saya

2004

DI RIMBA MAL

Di dalam labirin pusat belanja ini
engkau adalah tikus yang digiring
meski lelah dipaksa terus berjalan mengendus
melewati etalase demi etalase, harus melihat
dan mencatat belantara benda-benda.

Suara-suara berirama bergema,
wewangian bergulung menyebar,
dan warna-warna berpendar,
membuat terpana. Berapa lantai lagi
mesti ditempuh?

Tubuh-tubuh indah, harum, dan mahal
bagai hantu melayang-layang cepat
--dua senti di atas lantai mengilat--
membuatmu kepayang. Jimat leluhurmu,
masihkah mengalungi leher?

2004

MEDITASI DI ATRIUM MALL

sosok tinggi kurus semampai
roknya mini halus melambai
duhai siapakah engkau perempuan
puan hantu ataukah tuhan

2004

TAMAN PARKIR REKTORAT UNHAS, TAMALANREA

oleh untaian tabir hujan
turun di akhir tahun
taman parkir kena sihir
seindah lukisan cat air

pohon-pohon samar
dan bangku-bangku gemetar
sedang di pelataran gedung
kami pun harus berlindung

ada yang mengumpat
oleh jadwal yang lat
ada yang resah cari arah
dan cara hindari basah

namun aku hanya tertegun
tak ingin bangun
dari pukau pesona
lukisanNya

2004

REPORTASE DARI MAL BARU

Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar

Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya diam acuh

Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya

Mei 2005

PENARI PAKARENA

gemuruh tunrung pakanjara*
gemulai gerakmu dalam akarena**
meski ombak beruntun membantun
mesti tindak selamban alun

kerawang bodo*** biru nan terang
membawa angan jauh menerawang
wahai, sekilas liriknya adik
lebih ngiris dari bilah badik


Mei 2005

4 comments:

Luckinez4U said...

Dik Hendra,

Cantik nian pulasan sajakmu Merenda hari meramu rindu
Kapan jemu menggebu, asah batu
renangi kalbu

Bali tak kau jangkau
Mungkin tak ada waktu
Biarlah sosok rautmu
Menggapai goda menggayut sendu

Itulah makna pengalamanmu...

hendragunawan sardjan thayf said...

Bali nanti nyusul yaaa...Thx 4 the poem

kasman said...

kanda hendra... anda ruarrrrrrr biasa
boleh aku belajar bikin puisi?

aku dulu kuliah di fe-uh angk 97
nggak sempat ketemu ama kanda

hendragunawan sardjan thayf said...

waduh kanda kak kasman..gak boleh belajar...bertukar pikiran boleh...saya malah mo belajar menulis esai kayak makassar metropolis