Monday, October 17, 2016

MADAH PAGI BAGI PIPIT KEPODANG

Burung-burung yang berloncatan riang hati
Bagai pelompat tali di antara berkas cahaya pagi hari

Semoga kalian dapat pulang dengan paruh
Letih dan lambung penuh sebelum senja meluruh

Karena kemurungan turun bergegas merundungi dadaku
Setelah sempat terbuai alunan kicau merdu

Di tempat sesak ini, masih adakah bulir tercecer dari tampahan,
Madu di kantung bunga, buah bergantung di dahan pepohonan?

Pada tebaran palma plastik yang buruk, tiang iklan-kampanye pembujuk
Yang murahan, dan menara seluler menjulang seram

Masihkan Tuhan sudi menitipkan rezeki kalian
Setelah segala apa yang aku dan kaumku lakukan?

Masihkah ada, sehingga para nabi tetap absah bersabda:
“lihatlah burung-burung itu…”

Seolah salib salah dan malu pada punggungku menimpa membebani
Ku membungkuk sekedar mempersembahkan secabik remah roti

Beruntungnya kalian tanpa mulut rakus menganga
Dan sepasang tangan serakah menganiaya

Kaki-kaki kalian memang serapuh ranting kayu
Namun mampu menanggung tubuh sarat mengandung lagu

Walau tak kalian peduli, terima kasih beribu kali
Untuk penghiburan dan pengajaran sekalian

Terbanglah meninggi jauh, berkitaran bebas
Mengatasi kepala-kepala angkuh kami


(Yogyakarta, September 2016)