Monday, November 23, 2015

REQUIEM FOR PAPUA



Di ujung timur sana
Kaki Ibunda Pertiwi dipaksa
Ngangkang

Dan jari-jari putih
Dan jari-jari coklat
Dan jari-jari hitam
Dan jari-jari kuning

Mengorek-ngorek
Liang termulianya
Setelah terlebih dulu
Anak-anaknya, kakak dan adik kita
Dihalau bagai kerbau lumpur
Melompat terjun
Ke rawa malaria
Tanpa kina

Tapi ibu tak lagi merintih
Tak juga ia menjerit
Hanya bening air mata
Bergulir pelan dari sudut mata

Sedangkan liang termulianya
Telah mengalirkan lendir hijau
Yang ditadah dan diseruput
Oleh mulut mesum para hina

Oh,
Berpuluh tahun kita
Yang seharusnya membela
Hanya berpangku malas
Hanya terlongo bego
Terpaku takjub
Menyaksikan para hina
Ganti berganti menindihnya

Dan kita hanya mampu
Menadahkan tangan
Memohon wang sewa
Setelahnya

Tak ada siksa
Yang mampu membersihkan
Kedurjanaan mereka,

Kedurhakaan kita.