Musik yang sedih
dan lirik yang lirih
adalah racun sempurna
di senja yang segera.
Yang bayang terbayang
wajah yang tersayang:
parasnya betapa ranum
tubuhnya begitu harum.
Tetapi, kemana gerangan pergi
dara manja berkawat gigi
matanya bundar cemerlang
dan lengannya berpendar telanjang.
Atau perempuan beraut serius
dengan rambut panjang lurus
yang darinya kuberpaling
saat meminta harus terus seiring.
Dan, ah, betina garang
beserta pagutan dalam dan panjang
kini ibu panutan, ketua darmawanita,
setelah diperistri walikota.
Seluruhnya sisa kisah lalu
walau indah sudah berlalu
Tinggal aku seorang lelaki tua
masih terlunta, tiada berdua.
Sekarang kukenang mereka
semua dalam kepedihan yang sama;
tetapi aku tentu takkan pernah mengaku
kepada si jelita yang tengah kupangku!
.....yang hadir mengisi di antara dua kesunyian--kelahiran dan kematian..... (An Indonesian poems corner ; the poet : Hendragunawan)
Sunday, July 15, 2007
DELAPAN SAJAK
KEPADA BAPAK IBU
Bapak ibu yang terhormat
Kepada siapakah gerangan
Engkau pasrahkan
Nasib dunia akhirat
Anak-anakmu?
Kepada pengasuh bayaran
Berusia belasan
Yang upahnya kau aniaya?
Kepada tenung televisi
Yang menolongmu tak perlu bicara
Meski seharian duduk berdampingan?
Kepada guru-guru sekolah
Bersama puluhan murid lain
Yang mengajar
Sembari mencemaskan
Rumah tangga mereka sendiri?
Kepada teman-teman sepermainan
Yang mengajarinya menyuntik lengan
Dan mengumbar kelamin?
Kepada labirin mal dan jajaran etalase
Yang mengajarinya belanja
Demi menjadi orang lain?
Bapak ibu yang terhormat
Sungguhkah mereka
Anak-anakmu?
TELAGA RAHASIA
Paku dukamu menancap dalam
Dan dalam dekapan liang dadaku
Lukapun memawar merah
Semerbak segar merebak rekah
Linangan air mata yang menggenang
Menjelma jadi sendang, tenang dan bening
Berkilauan dibelai bulan
Para peri berdendang sendu di tepinya
Bila suatu saat kelak
Kau datang melintas lewat
Tak akan kau lihat lagi
Jejakku terbenam guguran bunga
Akan kutahan erat
Hatiku
Yang ingin melesat
Bersama jerit perihnya
SEBILAH BELATI
Sebilah belati
Yang diselipkan malam hari
Di sela lipatan hati
Betapa nyaring
Menyanyikan nyerinya
Bagi setiap mimpi
Dentingnya
Kilaunya
Dinginnya
Teramat nyata
Bagi mata
Kataku
RAKYAT NEGERIKU BERHAMBURAN
Rakyat negeriku berhamburan
Ibu-ibunya
Merumput di trotoar
Dengan gerobak lapak seadanya
Yang kelak dibongkar
Kobaran api
Bapak-bapaknya berhimpitan
Di lambung pesawat
Menuju hutan negeri orang
Dan pulangnya limbung jadi rebutan
Diperas habis-habisan
Para aparat pelabuhan
Sedangkan anak-anaknya:
Menadahkan tangan
Menodongkan pisau
Menawarkan badan
Di simpang-simpang jalan
Nanti gantian digilir keamanan
Berakrobat jungkir balik, kalang kabut
Rakyat negeriku
Mesti mengurus nasib sendiri, setelah dikhianati
Orang-orang culas dan tak becus
Yang dahulu pernah bersumpah mati
Mampu mengurus nasib mereka
Para penipu dan pencuri ulung
Atasannya korupsi besar-besaran
Bawahannya pungli kecil-kecilan
Dalamannya minta ampun
Sedangkan kaki tangannya
Rakus dan kerasnya bukan main
Diperdaya sekian lama
Dirampok berkali-kali
Dibunuh berulang-ulang
Mereka hanya tegak diam
Dengan mata pejam
Dan basah di pipi kusam
Mereka yang telah
Kehilangan suara
Akan menuntut balik
Menggugat dengan kebisuan
Yang lebih tajam dan mencekam
Daripada sejuta mata lembing
SURAT RAHASIA
Kutulis surat ini
Justru karena tahu
Kau tak akan pernah membacanya
Semalamam mataku mencair
Memikirkan kepergianmu
Semalaman lamanya
Kau tak melihatnya, tentu
Keburu telah kuhapus sebelum kau
Menghardikku agar tak sentimental
Aku tidak semurung ini
Sebelum bertemu kau
Sebelum mulutku mengulum madu katamu
Telah pernah kudengar katak merdu bernyanyi
Tetapi tak sekalipun engkau sudi
Melontarkan sepatah janji
Meski engkau akan berdusta
Tak mengapa, berdustalah saja
Aku akan rela
Tetapi
Janganlah pergi
Seperti ini
Semalaman hatiku mengembun
Tak henti menyesali kemalanganku
Semalaman lamanya
Maka kutuliskan surat ini
Meski tahu
Kau takkan pernah membacanya
SELAMAT JALAN MUSIM DINGIN
Segera pergi dan selamat jalan, musim dingin
Semoga tak perlu bertemu pula di tahun depan
Kawan pemurung yang baik sebenarnya,
Sayang ia tamu yang datang berkunjung terlalu lama
Berminggu-minggu memunggungi matahari
Semoga silam malam-malam melamun di bawah 5 derajat
Dalam kamar lembab berdinding kayu tanpa penghangat
Berteman selimut dilipat dua yang lembut namun melulu
Serba salah: mencari panjang, kurang lebar ia
Mencari lebar, kurang panjangnya
Semoga berlalu pula hari-hari kelabu dan sendu
Dengan angin yang meratap dan menyayat selalu
Hampir seminggu sudah termangu tanpa sekeping dolar
Pun sekedar untuk interlokal:
“Halo, apa kabar. Beta baik-baik saja di sini”
Segera pergi dan selamat jalan, kawan
Adios, Compadre. Adieu. Goodbye, my friend.
Biarlah tinggal berkarat sebagai kenangan
Cerek perengek yang pekikannya memekakkan telinga
Dan panci dadar yang telah sudi jadi pemanas portebelku
TIGA KUNTUM HITAM
Tiga kuntum kembang hitam menyala
dalam kekelaman malam. Gelombang hangat cahaya
bagai gerombol ombak yang mengayunayunkan jiwa
dengan lidah lembutnya. Akan terkenang lewat desir
rahasia menjamah pantai tua yang meremang
karena senja. Meski hanya pasir
dan sisa cangkang terserak di pesisir, bila tiba
musim, marilah kembali ke sini, menjilati
kaki karang yang retak ini. Hempasan buih
memutih akan cukup memulihkan perihnya.
Abad demi abad berkelebat di pelupuknya
Namun mata yang pejam hanya melihat kalian:
Tiga kuntum hitam yang akan terus menyala dalam
Kekelaman arus malam
TESTIMONI
Aku tahu
Tanpa setitik ragu
Semuanya
Akan baik-baik saja
Semuanya
Akan baik-baik saja
Meskipun langit meruntuh
Dan bumi berkeping
Biar langit bumi binasa
Semuanya pasti baik-baik saja
Selama Kasihku
Masih tersenyum padaku
Bapak ibu yang terhormat
Kepada siapakah gerangan
Engkau pasrahkan
Nasib dunia akhirat
Anak-anakmu?
Kepada pengasuh bayaran
Berusia belasan
Yang upahnya kau aniaya?
Kepada tenung televisi
Yang menolongmu tak perlu bicara
Meski seharian duduk berdampingan?
Kepada guru-guru sekolah
Bersama puluhan murid lain
Yang mengajar
Sembari mencemaskan
Rumah tangga mereka sendiri?
Kepada teman-teman sepermainan
Yang mengajarinya menyuntik lengan
Dan mengumbar kelamin?
Kepada labirin mal dan jajaran etalase
Yang mengajarinya belanja
Demi menjadi orang lain?
Bapak ibu yang terhormat
Sungguhkah mereka
Anak-anakmu?
TELAGA RAHASIA
Paku dukamu menancap dalam
Dan dalam dekapan liang dadaku
Lukapun memawar merah
Semerbak segar merebak rekah
Linangan air mata yang menggenang
Menjelma jadi sendang, tenang dan bening
Berkilauan dibelai bulan
Para peri berdendang sendu di tepinya
Bila suatu saat kelak
Kau datang melintas lewat
Tak akan kau lihat lagi
Jejakku terbenam guguran bunga
Akan kutahan erat
Hatiku
Yang ingin melesat
Bersama jerit perihnya
SEBILAH BELATI
Sebilah belati
Yang diselipkan malam hari
Di sela lipatan hati
Betapa nyaring
Menyanyikan nyerinya
Bagi setiap mimpi
Dentingnya
Kilaunya
Dinginnya
Teramat nyata
Bagi mata
Kataku
RAKYAT NEGERIKU BERHAMBURAN
Rakyat negeriku berhamburan
Ibu-ibunya
Merumput di trotoar
Dengan gerobak lapak seadanya
Yang kelak dibongkar
Kobaran api
Bapak-bapaknya berhimpitan
Di lambung pesawat
Menuju hutan negeri orang
Dan pulangnya limbung jadi rebutan
Diperas habis-habisan
Para aparat pelabuhan
Sedangkan anak-anaknya:
Menadahkan tangan
Menodongkan pisau
Menawarkan badan
Di simpang-simpang jalan
Nanti gantian digilir keamanan
Berakrobat jungkir balik, kalang kabut
Rakyat negeriku
Mesti mengurus nasib sendiri, setelah dikhianati
Orang-orang culas dan tak becus
Yang dahulu pernah bersumpah mati
Mampu mengurus nasib mereka
Para penipu dan pencuri ulung
Atasannya korupsi besar-besaran
Bawahannya pungli kecil-kecilan
Dalamannya minta ampun
Sedangkan kaki tangannya
Rakus dan kerasnya bukan main
Diperdaya sekian lama
Dirampok berkali-kali
Dibunuh berulang-ulang
Mereka hanya tegak diam
Dengan mata pejam
Dan basah di pipi kusam
Mereka yang telah
Kehilangan suara
Akan menuntut balik
Menggugat dengan kebisuan
Yang lebih tajam dan mencekam
Daripada sejuta mata lembing
SURAT RAHASIA
Kutulis surat ini
Justru karena tahu
Kau tak akan pernah membacanya
Semalamam mataku mencair
Memikirkan kepergianmu
Semalaman lamanya
Kau tak melihatnya, tentu
Keburu telah kuhapus sebelum kau
Menghardikku agar tak sentimental
Aku tidak semurung ini
Sebelum bertemu kau
Sebelum mulutku mengulum madu katamu
Telah pernah kudengar katak merdu bernyanyi
Tetapi tak sekalipun engkau sudi
Melontarkan sepatah janji
Meski engkau akan berdusta
Tak mengapa, berdustalah saja
Aku akan rela
Tetapi
Janganlah pergi
Seperti ini
Semalaman hatiku mengembun
Tak henti menyesali kemalanganku
Semalaman lamanya
Maka kutuliskan surat ini
Meski tahu
Kau takkan pernah membacanya
SELAMAT JALAN MUSIM DINGIN
Segera pergi dan selamat jalan, musim dingin
Semoga tak perlu bertemu pula di tahun depan
Kawan pemurung yang baik sebenarnya,
Sayang ia tamu yang datang berkunjung terlalu lama
Berminggu-minggu memunggungi matahari
Semoga silam malam-malam melamun di bawah 5 derajat
Dalam kamar lembab berdinding kayu tanpa penghangat
Berteman selimut dilipat dua yang lembut namun melulu
Serba salah: mencari panjang, kurang lebar ia
Mencari lebar, kurang panjangnya
Semoga berlalu pula hari-hari kelabu dan sendu
Dengan angin yang meratap dan menyayat selalu
Hampir seminggu sudah termangu tanpa sekeping dolar
Pun sekedar untuk interlokal:
“Halo, apa kabar. Beta baik-baik saja di sini”
Segera pergi dan selamat jalan, kawan
Adios, Compadre. Adieu. Goodbye, my friend.
Biarlah tinggal berkarat sebagai kenangan
Cerek perengek yang pekikannya memekakkan telinga
Dan panci dadar yang telah sudi jadi pemanas portebelku
TIGA KUNTUM HITAM
Tiga kuntum kembang hitam menyala
dalam kekelaman malam. Gelombang hangat cahaya
bagai gerombol ombak yang mengayunayunkan jiwa
dengan lidah lembutnya. Akan terkenang lewat desir
rahasia menjamah pantai tua yang meremang
karena senja. Meski hanya pasir
dan sisa cangkang terserak di pesisir, bila tiba
musim, marilah kembali ke sini, menjilati
kaki karang yang retak ini. Hempasan buih
memutih akan cukup memulihkan perihnya.
Abad demi abad berkelebat di pelupuknya
Namun mata yang pejam hanya melihat kalian:
Tiga kuntum hitam yang akan terus menyala dalam
Kekelaman arus malam
TESTIMONI
Aku tahu
Tanpa setitik ragu
Semuanya
Akan baik-baik saja
Semuanya
Akan baik-baik saja
Meskipun langit meruntuh
Dan bumi berkeping
Biar langit bumi binasa
Semuanya pasti baik-baik saja
Selama Kasihku
Masih tersenyum padaku
Thursday, May 31, 2007
SEHELAI SURAT BERSEGEL RINDU UNTUK CINTAKU
Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?
Tuesday, May 29, 2007
SENANDUNG BURUNG
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa
Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa
Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu
SULUK KESUHUDAN
Aku tak lebih tinggi dari debu
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga
Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku
O, dunia
Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya
Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga
Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku
O, dunia
Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya
Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera
SULUK KESAMARAN
Apakah yang tersamar
Di balik tubuhmu yang telanjang
Apakah yang terkandung
Dalam nafasku yang terguncang
Ah, sekilas Keindahan
Mampir ngumpet di situ
Dan secuil Kehendak
Sejenak pijar di sini
Tiada lain
Di balik tubuhmu yang telanjang
Apakah yang terkandung
Dalam nafasku yang terguncang
Ah, sekilas Keindahan
Mampir ngumpet di situ
Dan secuil Kehendak
Sejenak pijar di sini
Tiada lain
KOTA KUYUP DALAM HUJAN
Kota kuyup dalam hujan
Deru derum kendaraan
Jadi sayup sebelum senyap
Dan kerlap lampu-lampu
Pun redup gemetar
Berpendaran sayu
Para pejalan bergegas
Berlalu mencari teduh
Burung-burung terburu
Telah mendapati sarang
Sedari tadi
Namun si majenun
Hanya berdiri tercenung
Ditenung nyanyian
Derai hujan
Mengapa harus
Turut sembunyi berlindung
Dari karunia
Yang turun
Tercurah beruntun?
Deru derum kendaraan
Jadi sayup sebelum senyap
Dan kerlap lampu-lampu
Pun redup gemetar
Berpendaran sayu
Para pejalan bergegas
Berlalu mencari teduh
Burung-burung terburu
Telah mendapati sarang
Sedari tadi
Namun si majenun
Hanya berdiri tercenung
Ditenung nyanyian
Derai hujan
Mengapa harus
Turut sembunyi berlindung
Dari karunia
Yang turun
Tercurah beruntun?
MERENUNGI RELUNG MATAMU
Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku
Monday, May 14, 2007
DI KUTA, DI KUTA
Di kuta, di kuta
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Kusut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Kusut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi
DENPASAR MEI 2007
Bukan hanya
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan
Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana
Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka
Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati
Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara
Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan
Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta
Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan
Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana
Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka
Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati
Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara
Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan
Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta
Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika
SEBELUM SILAM PUKUL LIMA
Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi
Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?
Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti
Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu
Newcastle, Maret/2007.
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi
Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?
Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti
Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu
Newcastle, Maret/2007.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Materi promosi
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...
-
ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu tak henti-hentinya kupuja. Ketika musim hujan deras ...
-
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...