Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?
.....yang hadir mengisi di antara dua kesunyian--kelahiran dan kematian..... (An Indonesian poems corner ; the poet : Hendragunawan)
Thursday, May 31, 2007
Tuesday, May 29, 2007
SENANDUNG BURUNG
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa
Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa
Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu
SULUK KESUHUDAN
Aku tak lebih tinggi dari debu
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga
Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku
O, dunia
Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya
Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga
Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku
O, dunia
Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya
Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera
SULUK KESAMARAN
Apakah yang tersamar
Di balik tubuhmu yang telanjang
Apakah yang terkandung
Dalam nafasku yang terguncang
Ah, sekilas Keindahan
Mampir ngumpet di situ
Dan secuil Kehendak
Sejenak pijar di sini
Tiada lain
Di balik tubuhmu yang telanjang
Apakah yang terkandung
Dalam nafasku yang terguncang
Ah, sekilas Keindahan
Mampir ngumpet di situ
Dan secuil Kehendak
Sejenak pijar di sini
Tiada lain
KOTA KUYUP DALAM HUJAN
Kota kuyup dalam hujan
Deru derum kendaraan
Jadi sayup sebelum senyap
Dan kerlap lampu-lampu
Pun redup gemetar
Berpendaran sayu
Para pejalan bergegas
Berlalu mencari teduh
Burung-burung terburu
Telah mendapati sarang
Sedari tadi
Namun si majenun
Hanya berdiri tercenung
Ditenung nyanyian
Derai hujan
Mengapa harus
Turut sembunyi berlindung
Dari karunia
Yang turun
Tercurah beruntun?
Deru derum kendaraan
Jadi sayup sebelum senyap
Dan kerlap lampu-lampu
Pun redup gemetar
Berpendaran sayu
Para pejalan bergegas
Berlalu mencari teduh
Burung-burung terburu
Telah mendapati sarang
Sedari tadi
Namun si majenun
Hanya berdiri tercenung
Ditenung nyanyian
Derai hujan
Mengapa harus
Turut sembunyi berlindung
Dari karunia
Yang turun
Tercurah beruntun?
MERENUNGI RELUNG MATAMU
Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku
Monday, May 14, 2007
DI KUTA, DI KUTA
Di kuta, di kuta
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Kusut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi
Kita menanti
Matinya surya
Di kuta, di kuta
Pasangan-pasangan bercinta
Dari kota-kota dunia
Saling berdusta
Dalam tujuh bahasa
Di antara gemulung ombak
Saling menjebak
Siapa gerangan
Lebih dulu ngelantur
Aku akan kangen
Saling menebak
Siapa yang bakal
Berangkat lebih pagi
Meninggalkan
Kusut bantal
Di kuta, di kuta
Kita tak boleh
Menjalin janji
Atau saling mengusut
Kusut kisah hidup
Karena tak akan ada
Kecup perpisahaan
Terlebih lagi
Titik air mata
Dan kini
Sebelum pagi
Ketika kau masih
Tergeletak tanpa mimpi
Di lembab pembaringan
Aku telah meluncur
Pergi menuju sanur
Mencari matahari
Mencairkan sepi
DENPASAR MEI 2007
Bukan hanya
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan
Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana
Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka
Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati
Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara
Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan
Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta
Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika
Wangi bunga
Dan asap dupa
Membubung
Membuatmu tinggi
Dan melupa
Di tiap simpang jalan
Perempuan berkulit coklat
Dengan rambut kemerahan
Aduh, betapa santainya
Menanggalkan luaran
Lalu duduk abai
Seolah acuh mengangkang
Memampangkan bilah paha
Menantangkan belah dada
Sejarak satu loncatan
Di meja seberang sana
Tera di pinggul pribumi
Apakah maknanya gerangan
Adakah itu rajah
Tangkal peluluh teluh
Atau motif eksotik
Dari indian arizona
Seperti kau kenal corak warnanya
Merujukkan peta ke wilayah rahasia
Menunjuk ke daerah paling peka
Ya, ia juga membuatmu mabuk
Lebih keparat
Dari sebotol arak tua
Postur rajayoga
Dan jalinan mudra rahasia
Semoga masih berbisa
Membuyarkan murka
Menebus samsara
oleh amuk samodra syahwati
Gemuruh tetabuhan
Di banjar-banjar
Riuh kegaduhan
Di bar-bar murahan
Seorang pemijat setengah tua
Duduk menanti di tangga terasnya
Dengan mata cekung redup
Sisa usapan nafas sang naga
Sastra suci dinyanyikan
Biksuni berambut perak
Dengan tubuh ceking penuh puasa
Masih terdengar nyaring melengking
Meski terkadang serak
Dari spiker menara
Bersaing
Dengan bising
Berisik musik disko retro
Tebaran kotoran
Anjing kampung yang jinak
Tawaran lugas supir taksi
Untuk mencarikan teman
Setelah sepotong basa-basi
Tentang cuaca dan arus turis
Babi guling
Gule kambing madura
Sisa canang layu
Dengan gula-gula
Dan sebatang ji sam su
Menyengatmu dengan ingatan
Kemana lagi kiranya
Arwah para prajurit puputan
Akan arahkan mata keris dan tombak
Ke langit mana, aras berapa
Beribu pura persembahyangan
Menjulang membawa saji doa
Bayang-bayang kahyangan
Bergoyang dalam remang
Bagai pelangi psikadelik
Bagai pusaran warna
Lukisan dekoratif di kios-kios kuta
Merah hitam merah
Hijau kuning ungu
Biru biru biru
Terngungu pasrah pun kau
Oleh pukau seru cumbu
Dijarah jemari paling cemburu
Diombang-ambing
Liar gelora pinggul pribumi
Bertarif dolar amerika
SEBELUM SILAM PUKUL LIMA
Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi
Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?
Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti
Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu
Newcastle, Maret/2007.
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi
Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?
Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti
Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu
Newcastle, Maret/2007.
Monday, January 08, 2007
TERJEMAHAN SAJAK ROBERT FROST
STOPPING BY WOODS ON A SNOWY EVENING
Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.
BERHENTI DI TEPI HUTAN KALA SENJA BERSALJU
Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.
Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.
Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.
Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.
Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.
BERHENTI DI TEPI HUTAN KALA SENJA BERSALJU
Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.
Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.
Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.
Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.
Tuesday, January 02, 2007
KONTEMPLASI TAHUN BARU
KALENDER BARU DI DINDING LAMA
-anno 2006
Toko-toko besar sedang
Berlomba obral cuci gudang
Paket travel akhir pekan
Kembali meriah ditawarkan
Meriuh karnaval di jalan
Kian macet pula kendaraan
Tetapi tak mampu menipu:
Hanya rutin berikut yang menunggu
Hanya rotasi dan revolusi
Dari bumi dan matahari
Yang telah bersama
Sejak kita belum bernama
Memang, kekalahan yang sama
Mari coba kita sejenak lupa
Harapan yang usang
Digumamkan berulang
Yang berbeda hanya
Kalender di dinding lama
SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
-anno 2006
Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna pula mengeluh
Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?
PANTUN TAHUN BARU 2001
Bunga api dan pesta mercon
Jerit trompet dan pekik klakson
Betapa makin dekat saat penghabisan
Sedangkan harapan, kian samar di kejauhan
CATATAN MALAM TAHUN BARU
-jalan braga, bandung, 2000
Di sebuah kota yang asing
Tanpa cinta yang meminta setia
Atau janji menanti dipenuhi
Ia menyusuri seruas jalan tua
Dengan bangunan-bangunan bergaya belanda
Dan lampu-lampu kuning pucat
Menyirami dinding merah batanya
Serta tiga pria tionghoa tua
Tak acuh bermain kartu
Bertaruh dengan waktu
Bertarung dengan sendu
Malam tahun baru,
Dan setahun kembali berlalu
Tetapi sengaja memang
Ia menghindar dari keramaian
Dari riuh pesta di pusat kota
Dan dari pasangan-pasangan muda
Yang melangkah berangkulan mesra
Sembari sesekali saling memagut.
Kegembiraan mereka
Adalah lecut rasa sakit baginya.
Ia menyenangi suasana itu :
Jalan tua yang lengang,
Cuaca yang tenang,
Arsitektur lama
Yang remang
(yang ketika larut malam tiba
hanya dihuni bayang hantu-hantu masa silam
yang teramat sayang kepada kenangan),
dan sinar kuning pucat dari lampu-lampu hias
yang berpendaran membias gemetar di trotoar
dalam udara malam yang dingin,
seperti lingkaran kuning cahaya
di sekeliling kepala para santa
yang dalam selubung jubah ungu
berdiri khusuk dan murung
mematung dalam kontemplasi :
renungan tentang yang fana
dan yang abadi.
Lelah berjalan, ia pun dahaga.
Setelah menghitung uang sisa di kantung celana
Dan sejenak tertegun,
Ia menyeberang perlahan
Dengan kedua tangan dalam saku
Masuk ke satu warung kedai
Yang tanpa pengunjung dan terabaikan
Memesan segelas kopi hitam kental
Lalu duduk menikmatinya
Dengan gerak lamban dan senyap
Dengan hirupan yang dalam
Sebagaimana ia juga menikmati
Menyiksa diri dengan sepi
Kawan-kaman lama
Telah memilih menyerahkan diri
Dan kini ditawan dalam rumah-rumah mungil
Dengan pelat nama tembaga
Berkilat di atas ambang pintunya
Ia lantas menyadari
Ia telah bertambah tua
Dan sendiri.
Dua tiga helai uban
Membubuhkan warna kelabu perak
Pada rambut ubun-ubun kepala
Dan garis-garis kerut
yang diguratkan oleh tahun-tahun lampau
kian dalam terukir
pada raut wajahnya yang letih.
Ya, masa lalu selalu membelenggu
Dan harapan kerap menipu,
Tak terasa,
Tuntas sudah diminumnya gelas kopi kedua
Dan dua milenium tanpa terasa
pun berlalu dalam lamunan.
MALAM TAHUN BARU
-1996
Malam ini malam tahun baru
seisi kota merayakannya penuh haru.
Dalam kamar aku mlungker di ranjangku
tidak tidur, hanya tak mau tahu.
Bukankah setiap hari adalah tahun baru
jika dihitung mulai dari setahun yang lalu.
Atau setiap hari bukanlah tahun baru
kecuali genap setahun dari saat lahirmu.
NAFAS WAKTU
-anno 2006
Nafas waktu menyentuh besi
Dan terali pagar itu berkarat
Nafas waktu menyentuh batu
Dan dinding bata itu lumutan
Nafas waktu menyentuh kayu
Dan kursi ayun itu melapuk
Nafas waktu menyentuh bunga
Dan melati di meja itu layu
Nafas waktu menyentuh insan
Dan aku terpaku di depan cermin
PERLAHAN, PERLAHAN
-anno 2006
Perlahan
Perlahan
Kami datang
Turun menghambur
Ke pengkuanmu
Yang terhampar terbuka
Dan gembur
Oleh cinta nan purba
Bumi yang lembut
Gelap dan basah
Ke pangkuanmulah
Resah kami menuju
Di musim ketiga
Ketika kita sepakat
Bertemu
Bercumbu
Menyatu
Keluh kecil terlontar
Dari mulut-mulut mungil kami
Sebelum kelu
Dibungkam kelam
Pelukan lenganmu
Tak pernah kami sangka
Akan begini
Nyatanya
Perlahan
Perlahan
Daun-daun
Tahun
Berjatuhan
Tak tertahan
RUANG WAKTU AKU
I.
Di manakah bertepi kegelapan ini
(ia membayangkan tujuh anak tangga
sampai mencapai singgasana dan di anak tangga pertama
bertebaran berlaksa-laksa piringan galaksi)
Tetapi setiap benda berada dalam ruang
yang mesti berbatas tepi dan setiap ruang materi
pasti dibaliknya terdapat ruang yang lebih besar lagi.
Berlapis-lapis ruang hingga tak terhingga, ‘kan begitu?
Kecuali jika memang benar semua itu
hanya ada di dalam dada-
nya sendiri. Begitu
bukan?
II.
Ia menyilang penanggalan,
menunggu minggu berlalu, membilang bulan,
dan menanti tahun berganti dengan setia, sampai mati.
Tetapi yang ada hanya matahari itu,
siklus dalam ruang yang kembali tanpa putus
bagai gelang api dalam gelanggang sirkus abadi.
Dan ia hanya keledai tolol--bukan singa--
yang harus bolak-balik menerobosnya sia-sia.
III.
Kalau begitu, siapa sih sampean di situ,
sampai berani-beraninya menanyakan ini dan menyangka itu.
Kok bisa-bisanya, meragukan segala sesuatu
dan bahkan meragukan keraguan itu sendiri;
memandang segalanya dan bahkan memandang
pandangan itu sendiri.
Hanya senoktah jasad renik pada satu sel semesta raya
ataukah memang pangeran mahkota dari sang maharaja?
USAHA MEMBEKUKAN WAKTU
Kita semua menyangka
Telah berhasil memerangkap waktu
Menyekapnya di kalender, memberikannya nama
Dan menghitung-hitung usianya
Tetapi, seperti arloji dalam lukisan Salvador Dali,
Waktu selalu lolos dari lubang kunci
Dan bagaikan tali-tali yang lentur terentang
Ia memanjang memendek bagi masing-masing orang.
Dan tiap-tiap kita, sendiri meniti di atasnya
Dari satu lubang gelap ke lubang gelap yang lain lagi
Melintasi jurang dalam kelam
Yang menganga seram dan hampa.
KENANGAN KANAK-KANAK
Telah kutelusuri kembali jalur hidupmu,
mundur ke tujuh puluh dua tahun lalu
yang seperti lembar halaman buku cerita
penuh gambar-gambar beraneka warna.
Di situ kutemukan kisah putri salju, telaga yang menggenang
dari sebatang lidi, malingkundang si pendurhaka, dan oedipus
yang berkelana serta ramayana dan mahabharata.
Juga cita-cita jadi presiden, mimpi tentang seorang nabi
yang dahaga dan terluka, angan superman,
dan pilot pesawat tempur yang perkasa,
hingga rasa kangen yang mendesak aneh untuk pertama kali
yang telah memaksamu menguntitnya setiap pulang sekolah
seperti kucing yang setia.
Dan juga,
basah pada celana
yang membuatmu resah malu ketika bangun pagi.
Sekarang engkau di sini : cemas menyilangi penanggalan
di dinding kamar yang dingin memar oleh lembab hujan,
dan gemar mendengar lagu-lagu lama serta membaca kisah
dengan tema-tema sederhana : semua yang sekedar gema,
bukan gempar gempa. Juga suka duduk termangu di ambang pintu,
tetapi bukan untuk menunggu seorang tamu
yang lama diimpikan bertemu,
karena telah lelah dan tahu : harapan hanya menipu
dan semuanya cuma semu.
Tetapi tak usah bersedih hati : tak ada mimpi
yang mati, tak ada angan yang tumbang
karena di sejumlah dunia yang lain sama sekali, saat ini,
engkau adalah semua yang pernah kau inginkan.
Sesuatu yang kini dikenangkan, dahulu telah menjadi riwayat
yang memilih berpisah dari kenyataan sehari-hari
kemudian berjalan merentangkan sejarahnya sendiri.
Sekarang, di sana, engkau adalah seorang presiden yang
telah dikalahkan, superman yang memilih kerja wartawan lalu menikah
dengan Lana, serta seorang pengiring nabi yang sejuk di tengah api.
Juga ada satu pesawat tempur jatuh kena gempur lalu terkubur
di tengah samudera yang mengabur dalam kabut.
Jadi, tak usah takut dan berduka. Mengapa tertunduk kuyu dan
menghela lesu. Berbaringlah setelah menutup pintu, menurunkan tirai,
dan memadamkan lampu. Tenanglah, tak akan lama perihnya.
Hanya sebentar saja. Telah kubaca semuanya.
Betapa nafasmu yang terengah kian perlahan tertahan-tahan
bersama tubuhmu yang terbujur lemas di pembaringan kayu
semakin melecut gemasku untuk melucuti hidupmu.
Kita akan pergi ke tengah samudera jauh,
menengok pilot pesawat tempur yang terjatuh itu ;
Kasihan, ia kesepian di sana,
hanya berteman ikan-ikan yang suka tak acuh
Ayo,
Nii-na bobo…
ooo nii-na bobo…
NYANYIAN AKHIR TAHUN
Mendung memang menggantung bagai helai-helai tirai tua
yang mengandung rahasia kemurungan di setiap lipatannya.
Tetapi geriap cahaya tak terbendung
meskipun cakrawala lindap bagai pelupuk perempuan,
mengembung oleh sisa kantuk persetubuhan malam.
Rebahkanlah kepalamu yang lelah pada dingin bantal.
Kelam ini sebentar dan tak mungkin kekal;
tak lama lagi badai selesai dan akan kau jumpai
pelangi yang kau kenal beserta seri bunga-bunga
yang basah gemerlap oleh basuhan hujan.
Lihatlah mereka pun telah bersiap
untuk sebuah pesta.
Tentu, segalanya akan kembali:
yang pahit dan yang manis,
pastilah berlalu.
Selalu begitu.
-anno 2006
Toko-toko besar sedang
Berlomba obral cuci gudang
Paket travel akhir pekan
Kembali meriah ditawarkan
Meriuh karnaval di jalan
Kian macet pula kendaraan
Tetapi tak mampu menipu:
Hanya rutin berikut yang menunggu
Hanya rotasi dan revolusi
Dari bumi dan matahari
Yang telah bersama
Sejak kita belum bernama
Memang, kekalahan yang sama
Mari coba kita sejenak lupa
Harapan yang usang
Digumamkan berulang
Yang berbeda hanya
Kalender di dinding lama
SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
-anno 2006
Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna pula mengeluh
Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?
PANTUN TAHUN BARU 2001
Bunga api dan pesta mercon
Jerit trompet dan pekik klakson
Betapa makin dekat saat penghabisan
Sedangkan harapan, kian samar di kejauhan
CATATAN MALAM TAHUN BARU
-jalan braga, bandung, 2000
Di sebuah kota yang asing
Tanpa cinta yang meminta setia
Atau janji menanti dipenuhi
Ia menyusuri seruas jalan tua
Dengan bangunan-bangunan bergaya belanda
Dan lampu-lampu kuning pucat
Menyirami dinding merah batanya
Serta tiga pria tionghoa tua
Tak acuh bermain kartu
Bertaruh dengan waktu
Bertarung dengan sendu
Malam tahun baru,
Dan setahun kembali berlalu
Tetapi sengaja memang
Ia menghindar dari keramaian
Dari riuh pesta di pusat kota
Dan dari pasangan-pasangan muda
Yang melangkah berangkulan mesra
Sembari sesekali saling memagut.
Kegembiraan mereka
Adalah lecut rasa sakit baginya.
Ia menyenangi suasana itu :
Jalan tua yang lengang,
Cuaca yang tenang,
Arsitektur lama
Yang remang
(yang ketika larut malam tiba
hanya dihuni bayang hantu-hantu masa silam
yang teramat sayang kepada kenangan),
dan sinar kuning pucat dari lampu-lampu hias
yang berpendaran membias gemetar di trotoar
dalam udara malam yang dingin,
seperti lingkaran kuning cahaya
di sekeliling kepala para santa
yang dalam selubung jubah ungu
berdiri khusuk dan murung
mematung dalam kontemplasi :
renungan tentang yang fana
dan yang abadi.
Lelah berjalan, ia pun dahaga.
Setelah menghitung uang sisa di kantung celana
Dan sejenak tertegun,
Ia menyeberang perlahan
Dengan kedua tangan dalam saku
Masuk ke satu warung kedai
Yang tanpa pengunjung dan terabaikan
Memesan segelas kopi hitam kental
Lalu duduk menikmatinya
Dengan gerak lamban dan senyap
Dengan hirupan yang dalam
Sebagaimana ia juga menikmati
Menyiksa diri dengan sepi
Kawan-kaman lama
Telah memilih menyerahkan diri
Dan kini ditawan dalam rumah-rumah mungil
Dengan pelat nama tembaga
Berkilat di atas ambang pintunya
Ia lantas menyadari
Ia telah bertambah tua
Dan sendiri.
Dua tiga helai uban
Membubuhkan warna kelabu perak
Pada rambut ubun-ubun kepala
Dan garis-garis kerut
yang diguratkan oleh tahun-tahun lampau
kian dalam terukir
pada raut wajahnya yang letih.
Ya, masa lalu selalu membelenggu
Dan harapan kerap menipu,
Tak terasa,
Tuntas sudah diminumnya gelas kopi kedua
Dan dua milenium tanpa terasa
pun berlalu dalam lamunan.
MALAM TAHUN BARU
-1996
Malam ini malam tahun baru
seisi kota merayakannya penuh haru.
Dalam kamar aku mlungker di ranjangku
tidak tidur, hanya tak mau tahu.
Bukankah setiap hari adalah tahun baru
jika dihitung mulai dari setahun yang lalu.
Atau setiap hari bukanlah tahun baru
kecuali genap setahun dari saat lahirmu.
NAFAS WAKTU
-anno 2006
Nafas waktu menyentuh besi
Dan terali pagar itu berkarat
Nafas waktu menyentuh batu
Dan dinding bata itu lumutan
Nafas waktu menyentuh kayu
Dan kursi ayun itu melapuk
Nafas waktu menyentuh bunga
Dan melati di meja itu layu
Nafas waktu menyentuh insan
Dan aku terpaku di depan cermin
PERLAHAN, PERLAHAN
-anno 2006
Perlahan
Perlahan
Kami datang
Turun menghambur
Ke pengkuanmu
Yang terhampar terbuka
Dan gembur
Oleh cinta nan purba
Bumi yang lembut
Gelap dan basah
Ke pangkuanmulah
Resah kami menuju
Di musim ketiga
Ketika kita sepakat
Bertemu
Bercumbu
Menyatu
Keluh kecil terlontar
Dari mulut-mulut mungil kami
Sebelum kelu
Dibungkam kelam
Pelukan lenganmu
Tak pernah kami sangka
Akan begini
Nyatanya
Perlahan
Perlahan
Daun-daun
Tahun
Berjatuhan
Tak tertahan
RUANG WAKTU AKU
I.
Di manakah bertepi kegelapan ini
(ia membayangkan tujuh anak tangga
sampai mencapai singgasana dan di anak tangga pertama
bertebaran berlaksa-laksa piringan galaksi)
Tetapi setiap benda berada dalam ruang
yang mesti berbatas tepi dan setiap ruang materi
pasti dibaliknya terdapat ruang yang lebih besar lagi.
Berlapis-lapis ruang hingga tak terhingga, ‘kan begitu?
Kecuali jika memang benar semua itu
hanya ada di dalam dada-
nya sendiri. Begitu
bukan?
II.
Ia menyilang penanggalan,
menunggu minggu berlalu, membilang bulan,
dan menanti tahun berganti dengan setia, sampai mati.
Tetapi yang ada hanya matahari itu,
siklus dalam ruang yang kembali tanpa putus
bagai gelang api dalam gelanggang sirkus abadi.
Dan ia hanya keledai tolol--bukan singa--
yang harus bolak-balik menerobosnya sia-sia.
III.
Kalau begitu, siapa sih sampean di situ,
sampai berani-beraninya menanyakan ini dan menyangka itu.
Kok bisa-bisanya, meragukan segala sesuatu
dan bahkan meragukan keraguan itu sendiri;
memandang segalanya dan bahkan memandang
pandangan itu sendiri.
Hanya senoktah jasad renik pada satu sel semesta raya
ataukah memang pangeran mahkota dari sang maharaja?
USAHA MEMBEKUKAN WAKTU
Kita semua menyangka
Telah berhasil memerangkap waktu
Menyekapnya di kalender, memberikannya nama
Dan menghitung-hitung usianya
Tetapi, seperti arloji dalam lukisan Salvador Dali,
Waktu selalu lolos dari lubang kunci
Dan bagaikan tali-tali yang lentur terentang
Ia memanjang memendek bagi masing-masing orang.
Dan tiap-tiap kita, sendiri meniti di atasnya
Dari satu lubang gelap ke lubang gelap yang lain lagi
Melintasi jurang dalam kelam
Yang menganga seram dan hampa.
KENANGAN KANAK-KANAK
Telah kutelusuri kembali jalur hidupmu,
mundur ke tujuh puluh dua tahun lalu
yang seperti lembar halaman buku cerita
penuh gambar-gambar beraneka warna.
Di situ kutemukan kisah putri salju, telaga yang menggenang
dari sebatang lidi, malingkundang si pendurhaka, dan oedipus
yang berkelana serta ramayana dan mahabharata.
Juga cita-cita jadi presiden, mimpi tentang seorang nabi
yang dahaga dan terluka, angan superman,
dan pilot pesawat tempur yang perkasa,
hingga rasa kangen yang mendesak aneh untuk pertama kali
yang telah memaksamu menguntitnya setiap pulang sekolah
seperti kucing yang setia.
Dan juga,
basah pada celana
yang membuatmu resah malu ketika bangun pagi.
Sekarang engkau di sini : cemas menyilangi penanggalan
di dinding kamar yang dingin memar oleh lembab hujan,
dan gemar mendengar lagu-lagu lama serta membaca kisah
dengan tema-tema sederhana : semua yang sekedar gema,
bukan gempar gempa. Juga suka duduk termangu di ambang pintu,
tetapi bukan untuk menunggu seorang tamu
yang lama diimpikan bertemu,
karena telah lelah dan tahu : harapan hanya menipu
dan semuanya cuma semu.
Tetapi tak usah bersedih hati : tak ada mimpi
yang mati, tak ada angan yang tumbang
karena di sejumlah dunia yang lain sama sekali, saat ini,
engkau adalah semua yang pernah kau inginkan.
Sesuatu yang kini dikenangkan, dahulu telah menjadi riwayat
yang memilih berpisah dari kenyataan sehari-hari
kemudian berjalan merentangkan sejarahnya sendiri.
Sekarang, di sana, engkau adalah seorang presiden yang
telah dikalahkan, superman yang memilih kerja wartawan lalu menikah
dengan Lana, serta seorang pengiring nabi yang sejuk di tengah api.
Juga ada satu pesawat tempur jatuh kena gempur lalu terkubur
di tengah samudera yang mengabur dalam kabut.
Jadi, tak usah takut dan berduka. Mengapa tertunduk kuyu dan
menghela lesu. Berbaringlah setelah menutup pintu, menurunkan tirai,
dan memadamkan lampu. Tenanglah, tak akan lama perihnya.
Hanya sebentar saja. Telah kubaca semuanya.
Betapa nafasmu yang terengah kian perlahan tertahan-tahan
bersama tubuhmu yang terbujur lemas di pembaringan kayu
semakin melecut gemasku untuk melucuti hidupmu.
Kita akan pergi ke tengah samudera jauh,
menengok pilot pesawat tempur yang terjatuh itu ;
Kasihan, ia kesepian di sana,
hanya berteman ikan-ikan yang suka tak acuh
Ayo,
Nii-na bobo…
ooo nii-na bobo…
NYANYIAN AKHIR TAHUN
Mendung memang menggantung bagai helai-helai tirai tua
yang mengandung rahasia kemurungan di setiap lipatannya.
Tetapi geriap cahaya tak terbendung
meskipun cakrawala lindap bagai pelupuk perempuan,
mengembung oleh sisa kantuk persetubuhan malam.
Rebahkanlah kepalamu yang lelah pada dingin bantal.
Kelam ini sebentar dan tak mungkin kekal;
tak lama lagi badai selesai dan akan kau jumpai
pelangi yang kau kenal beserta seri bunga-bunga
yang basah gemerlap oleh basuhan hujan.
Lihatlah mereka pun telah bersiap
untuk sebuah pesta.
Tentu, segalanya akan kembali:
yang pahit dan yang manis,
pastilah berlalu.
Selalu begitu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Materi promosi
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...
-
ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu tak henti-hentinya kupuja. Ketika musim hujan deras ...
-
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...