Friday, September 17, 2021

HAIKU-HAIKU DARI INTENSIVE CARE UNIT

 

1.

Daun kering

dilirik dan dibolakbalikkan

angin kemarau


2.

Bayi pertama istriku:

suaminya


3.

dari binar dan sembab

bola mata yang menyayangi

kuintip hari setiap pagi


4.

gemuruh air terjun

menyeruak: oksigen dimasak

untuk nafasku


5.

sebongkah batu

di mulut gua berair terjun:

kepalaku itu


6.

lorong isolasi

derak brankar didorong

membekukan malam


7.

ingin ke tanah seberang

istri keras menuntutku

jalan pulang bersama


Monday, April 05, 2021

REFLEKSI ASMAUL HUSNA AL-WASI

 



Perjalanan menuju hadirat yang tak terbatas

betapakah mengenal istirahat dan tuntas;

Namun jika dia yang dituju memang al-wasi

bagaimana bisa kumerasa di luar wilayah suci!



Oh, diri yang kerdil; oh, mata yang buta;

tiada terpikir menyukuri rangkulan yang setia.

Adakah pejalan telah sampai di tujuan

bahkan sebelum sempat dilambaikan tangan?

BERNAFAS DALAM MUSIM WABAH

 

bismillah kala menarik nafas

alhamdulillah saat melepas

di musim wabah begini

baru dihayati betapa berarti

sehelai hawa lembut

berlalu antara hidung mulut



Sunday, January 24, 2021

Banjir Makassar 2019

 

(Haiku ini telah diterbitkan sebagiannya selama tahun 2020 lalu. Berhubung tahun itu tahun pemilihan kepala daerah, demi menghindari haiku ini digunakan orang jahat untuk mendiskredit saingan dalam pemilu maka belum semua haiku diterbitkan. Kini diterbitkaan lengkap sebagai pengingat agar jangan sampai terulang lagi.)


2019 tahunnya

Makassar kembali

Dibilas banjir


(0769/2019)

*

Berpuluh tewas

Tak usahlah diusut

Jangan digugat


(0768/2019)

*

Hutan tercukur

Ulah mantan serdadu

Bermain kayu


(0767/2019)

*

Lembah jeneberang

Sodagar mencincang batu

Mengisap pasir


(0766/2019)

*

Kota dunia

Pupus pupurnya, dilumur

Lumpur parasnya


(0765/2019)

*

Pinggiran kota

Pengembang membajak sawah

Menabur beling beton


(0764/2019)

*

Belakang tembok

Jelata digusur tak bertanah

Panen air mata


(0763/2019)

*


Pantai losari

Kapal kompeni buang jangkar

Membantai pantai


(0762/2019)

*

Laut kita

Jadi kolam balita

Diobok-obok


(0761/2019)

*

Tanah lapang

Berpalang, cakrawala terhalang

Di kota dunia-mu


(0760/2019)

*

Jalan-jalan

Diluberi mobil jepang

Terbirit pejalan


(0759/2019)

*

Halte tempelan

bus berjalur macet

jadwalnya ngaret


(0758/2019)

*

Sampah bertebar

Gendang dua kabur

Tanpa kabar


(0757/2019)

*

Big data: para bro

Menonton kemiskinan

Dari menara kontrol


(0756/2019)

*

Aliran modal

Dajjal tertawa, ditangannya

Surga menyala


(0755/2019)

*

Aliran modal

Datangnya membawa banjir

Perginya paceklik


(0754/2019)

*

Masyarakat tercacah

Dan lingkungan terjajah

Impian pemodal


(0753/2019)

*

O pembangunan

Hanya berarti perubahan

Bukan kemajuan


(0752/2019)

*

O kemajuan

Membawamu melaju

Ke jurang binasa


(0751/2019)

*

Kemajuan sejati

Kehidupan berkeadilan

Di alam lestari


(0750/2019)

*

Jika ke alam kau takzim

terhadap sesama tak lalim

niscaya aman mukim


(0749/2020)

*

iklim berubah

meski limbung, tak tumbang

bila adil-lestari


(0748/2020)

*

2019 tahunnya

Kaki selebes terendam

Hati pun redam


(0747/2019)

*

Tuesday, October 20, 2020

Saturday, October 17, 2020

INVESTASI

 

pekarangan dan ladangmu
harus berpindah tangan
sedangkan engkau beralih
ke petak kontrakan dan
menyewakan badan di pabrik


(itu kemajuan, kata ekonom
yang kepalanya cetakan Amrik)


karena yang terpendam di lahanmu
akan dijual oleh seseorang di Hongkong
kepada seseorang lain di London
dan seseorang di Jakarta, boleh dong
turut main menangguk keuntungan


(tanpa peduli, engkau berkubur
di mana jikalau mati)


Wednesday, August 19, 2020

KRONIKA 2019 [HAIKU GUGAT REKLAMASI PANTAI MAKASSAR]

 

2019 tahunnya

Makassar kembali

Dibilas banjir


(0767/2019)

*

Kota dunia

Pupus pupurnya, dilumur

Lumpur parasnya


(0766/2019)

*

Hutan tercukur

Ulah mantan serdadu

Bermain kayu


(0765/2019)

*

Lembah jeneberang

Sodagar mencincang batu

Mengisap pasir


(0764/2019)

*

Pinggiran kota

Pengembang membajak sawah

Menabur beling beton


(0763/2019)

*

Belakang tembok

Jelata digusur tak bertanah

Panen air mata


(0762/2019)

*

Pantai losari

Kapal kompeni buang jangkar

Membantai pantai


(0761/2019)

*

Laut kita

Jadi kolam balita

Diobok-obok


(0760/2019)

*

Tanah lapang

Berpalang, cakrawala terhalang

Di kota dunia-mu


(0759/2019)

*

Jalan-jalan

Diluberi mobil jepang

Terbirit pejalan


(0758/2019)

*


Aliran modal

Dajjal tertawa, ditangannya

Surga menyala


(0755/2019)

*

Aliran modal

Datangnya membawa banjir

Perginya paceklik


(0754/2019)

*

Masyarakat tercacah

Dan lingkungan terjajah

Impian pemodal


(0753/2019)

*

O pembangunan

Hanya berarti perubahan

Bukan kemajuan


(0752/2019)

*

O kemajuan

Membawamu melaju

Ke jurang binasa


(0751/2019)

*

Kemajuan sejati

Kehidupan berkeadilan

Di alam lestari


(0750/2019)

*

Jika ke alam kau takzim

terhadap sesama tak lalim

niscaya aman mukim


(0749/2020)

*

perubahan iklim

kalaupun limbung, tak tumbang

bila adil-lestari


(0748/2020)

*

2019 tahunnya

Kaki selebes terendam

Hati pun redam


(0747/2019)

*


Tuesday, September 10, 2019

KISAH PESANAN HOROR DI WARUNG KENARI (Edisi Khusus)

Suatu malam, Gungun mencari warung makan yang agak mahalan tarifnya karena mulai jemu dengan menu kombinasi nasi rames dan indomie selama hampir seminggu. Gungun masuk ke sebuah rumah makan yang biasanya ramai oleh pengunjung yang menyukai lotek dan gado-gado tetapi nampak sepi pada malam Jumat yang agak larut itu. Selain tiga pengunjung yang duduk di meja berpencar dan wajahnya tidak nampak dengan jelas, hanya ada seorang kasir bertubuh kurus dan tukang masak di dapur-terbuka nampak sibuk bekerja. Gungun pun memesan menu spesialnya: gado-gado.

Tunggu punya tunggu, pesanan tak kunjung tersaji walaupun sudah hampir tiga puluh menit Gungun duduk manis dan tabah. Perutnya mulai genit mendendangkan lagu dangdut pantura. Mengapa pengunjung begitu sepi di warung sebesar itu dan tukang masaknya nampak sibuk mengolah bahan tetapi pesanan tak kunjung tersaji? Jangan-jangan sosok-sosok manusia itu hanya jelmaan saja. Atau bahan yang diolah di dapur bukanlah kentang, wortel dan tauge, melainkan...tahu sendiri kan bahan-bahan menjijikkan yang dinampakkan sebagai makanan lezat oleh kekuatan sihir para jin di dalam cerita-cerita horor lainnya?

Dengan agak ciut berhubung belum sempat yasinan di malam Jumat itu Gungun memberanikan diri untuk bertanya kepada kasir yang duduk seolah tepekur dengan mata agak terpejam di hadapan kotak hitam kecil yang mirip batu berhala. Samar-samar tercium bau pesing dari toilet, bukannya bau kacang sangrai ataupun tumisan saus.

Karena was-was, dengan nada suara dibuat-buat agak memelas, Gungun akhirnya bertanya: Mbak, mbaaak, maaf, bukan saya bermental penjajah, tetapi koq pesanan saya belum datang juga ya?

Mbak itu mengangkat wajahnya dan dengan mata malas berkata lirih:

maaf masss, banyak pesanan on-line iniiii...

Thursday, August 22, 2019

INVESTIGASI


Apakah salah lampu merah
Hingga motor-motor mendengus marah
Apakah salah pejalan kaki
Hingga mobil-mobil ketus memaki
Apakah salah si abang koran
Hingga legam belum sampai setoran
Apakah salah pohon angsana itu
Dijangkiti poster masa pemilu
Apakah salah bahu pedestrian
Disulap jadi parkiran hotel restoran
Apakah salah tiang listrik
Di kakinya pup bleki menumpuk apik
Apakah salah tikus selokan
Bangkainya kering disablon aspal jalan
Apakah salahku terhadap kita
Hingga sendiri menyusur trotoar kota

[Jogja, Juli 2019]

Saturday, November 03, 2018

DUA HAIKU DARI PROYEK 1000 HAIKU




Sepatu baru
Bunyi ketukannya
Bikin ngeri

(0704/2018)
*
Di jalan sepi, hanya berdua
Aku, engkau, cempaka yang
Tengah mekar berbunga

(0703/2018)
*

Friday, January 27, 2017

edisi khusus: Ringkasan Panduan ber- Haiku


Penyusun: Hendragunawan

Bersajak tanpa aturan bagai bermain tenis tanpa net (Robert Frost)

Keberlimpahan emosi, bahkan kegarangannya, 
telah terkendali dan ditinggikan oleh disiplin yang tak kenal ampun (D. Paul)

Pelajari aturan lalu lupakan (Basho)

Pengantar

Dalam penulisan haiku, sebagaimana halnya dalam penulisan puisi secara umum, ada tiga tahapan untuk ditempuh. Pertama, bagaimana menulis sesuatu yang dapat dinilai sebagai haiku oleh sebanyak mungkin pembaca berpengalaman (kriteria esensial). Tahapan selanjutnya, bagaimana agar haiku yang telah ditulis memenuhi cita rasa umum dalam hal keindahan (kriteria estetis). Terakhir, bagaimana menulis haiku dengan gaya dan nada tertentu yang khas (kriteria identitas/eksistensial).

A - Definisi:
  1.  “Puisi Jepang yang biasanya menggunakan sindiran dan perbandingan dalam menggambarkan sesuatu sehingga dapat membangkitkan emosi dan pandangan spiritual tertentu. Sajak haiku selalu sugestif, terdiri atas tujuh belas suku kata yang terbagi menjadi tiga larik, pertama lima suku kata, kedua tujuh suku kata, dan larik ketiga lima suku kata” (Kamus Istilah Sastra, Balai Pustaka)
  2. “Haiku is a short poem that uses imagistic language to convey the essence of an experience of nature or the season intuitively linked to the human condition” atau “haiku adalah puisi singkat yang menggunakan bahasa citraan untuk membungkus esensi dari sebuah pengalaman terkait alam atau musim yang secara naluriah terkait dengan keadaan manusiawi” (Haiku Society of America)
  3. Bentuk puisi klasik Jepang yang terdiri dari 17 on (gugus bunyi), memiliki kigo (penanda musim) dan kire (bunyi pematah).

B - Prinsip Filosofis

1.   Bertolak dari materialitas: benda yang berada dalam konteks ruang dan waktu tertentu, ditampilkan se-Ada-nya.
2.   Ditulis ketika perhatian penulis terpusat pada  dan tersedot oleh benda melalui jalan indrawi: penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pencecapan. Begiu pula, ketika dibaca meninggalkan jejak dan gema dalam benak pembaca, dan membuka kemungkinan lapis pemaknaan yang lebih mendalam terkait hakikat kenyataan dan kemanusiaan.
3.   Ketika kondisi kepenulisan di atas tercapai, semestinya ke-aku-an tidak lagi tegak dan kaku melainkan mengabur/melebur/beririsan dengan alam luar. Konkritnya: hindari kata aku, komentar/evaluasi, curahan hati.
4.   Spontanitas dalam penghayatan atas momen; ditulis dalam satu sapuan, juga dapat dibaca dalam satu hembusan nafas.

C - Prinsip Teknis

1.   Tulis dalam satu baris tetapi hendaknya jangan sampai menjadi satu kalimat sempurna S+P+O+K. Jane Reichhold mengembangkan teori fragmen-frasa. Fragmen terdiri dari satu atau dua patah kata, sedangkan frasa merupakan kalimat tidak lengkap.
2.   Sebaiknya terdapat jeda halus sesudah sepertiga awal atau sebelum sepertiga akhir. Jika memakai celah sepertiga awal, bagian selanjutnya biasanya berisi deskripsi. Sedangkan jika menggunakan celah sebelum sepertiga akhir, bagian terakhir biasanya merupakan solusi/sintesis tak terduga.
3.   Pangkas kata yang tidak perlu, yang abstrak. Perhatikan susunan kalimat atau pemunculan imaji.
4.   Patahkan kalimat yang telah dipangkas dan ditata menjadi tiga bagian: pendek-panjang-pendek. Syukur-syukur bisa memenuhi hitungan 5-7-5 suku kata.
5.   Disarankan, sebuah haiku tidak memiliki judul, tidak menggunakan huruf besar, dan tidak memakai tanda baca.

Contoh penerapan teori fragmen-frasa:

Contoh fragmen di awal:

hujan menderai
aliran listrik pun
nyala-padam

(Jane Reichhold)

Contoh fragmen di akhir:

pagar kuburan
tak dapat menahan
lili putih

(Jane Reichhold)

D - Pantangan
·       
1.  Hindari kata sifat (seperti: sepi, sedih, meriah), kata cara (contoh: lembut, anggun), kata konseptual (misal: keadilan, kebahagiaan).
2.  Hindari citraan jamak. Jika menggunakan citraan lebih dari satu, pastikan terdapat hubungan perbandingan/pertentangan/persesuaian/penjabaran  antara keduanya, yang dipadukan dalam citraan/suasana/peristiwa pada bagian awal atau akhir haiku.
3. Hindari dekorasi dan pengejaran efek. Dekorasi: penggunaan persanjakan, diksi arkais, personifikasi, perumpamaan. Efek: berupaya liris, sur-realis, pernyataan filosofis/ideologis/religius, penghakiman, curahan hati.

E - Teknik

Dari masa klasik, Fujiwara Teika memperkenalkan kepada para sastrawan semasanya, 10 teknik penulisan tanka, yang merupakan cikal bakal haiku. Jane Reichhold mengembangkan 24 teknik haiku dalam bukunya Writing and Enjoying Haiku. Berikut ini empat teknik dasar, yang diringkas, digabungkan dengan teknik lain, ataupun ditambahkan, beserta contoh penggunaannya:

1.     Jukstaposisi. Menggabungkan dua citraan yang tidak berhubungan, memiliki kemiripan, atau bahkan nampak berlawanan.

Contoh:
bunga azalea bermekaran
di desa gunung terpencil ini
nasi tanaknya putih

(Yosa Buson, 1715-1783)

sisir dan jepitan lucu
semuanya milik masa lalu—
guguran kamelia

(Nozawa Uko, wanita murid Basho, menceritakan menceritakan
  perubahannya menjadi biksuni yang berambut gundul,
  terj. Ing. Makoto Ueda)

2.     Teka-teki. Melontarkan pertanyaan yang tidak biasa untuk dijawab dengan hal yang biasa saja, secara langsung atau tidak langsung

bunga gugur
terbang kembali ke rantingnya!
oh, kupu-kupu

(Moritake, 1452-1549)

Kemana pergi
Bunga-bunga di setapak
Seusai musim panas

(Jane Reichhold)

3.     Observasi naif. Teknik ini diterapkan dengan melihat lanskap atau alam latar sebagai satu bidang datar. Mirip seperti yang dilakukan oleh anak Taman kanak-Kanak ketika menggambar di atas kertas gambarnya: gunung, jalan, sawah, pohonan  dan matahari nampak sama besar tanpa pembedaan perspektif jauh-dekat maupun kontur tinggi-rendah. Contoh:

langit juli
melebat oleh awan
pohon nan ranggas

Hendragunawan  (0279/2012)

memandangi bintang
kunang-kunang bergabung di
rasi kasiopea

(Jeanne Emrich)

4.     Reportase datar. Melaporkan suatu benda/peristiwa/suasana yang luar biasa, secara sambil lalu. Dalam haiku berikut, derita penyakit yang dialami penyairnya, diungkapkan tanpa melankoli dan bahkan cenderung mengundang kuluman senyum.

mata kananku
tak dapat melihat istriku
kutatap dengan yang kiri

(Hino Sojo, 1901-1956)

F – Kesan

Gabungan pemilihan objek, teknik, dan sudut pandang, akan menghasilkan kesan keseluruhan dalam sebuah karya. Berikut beberapa kesan penting yang berakar dalam estetika bangsa Jepang:

1.Wabi (keindahan dari kesederhanaan)

bazar akhir tahun
aku akan pergi dan membeli
obat nyamuk bakar

(Matsuo Basho, 1644-1694)

2.Sabi (keanggunan dari keusangan dan keterpencilan)

pagar bambu tua
seakan  mempersembahkan
bunga Keria.
(Issa, terj ing. Mackenzie).

3.Yugen (keagungan yang misterius)

di dahan ranggas
gagak hinggap
senja musim gugur

(Basho, terj ing. Henderson)

4.Shibumi (keanggunan yang timbul dari penggunaan teknik secara hemat, tepat, dan sempurna)

telaga
katak nyem-
plung

(Basho, terj. Ing. Blyth)

5.Karumi (keentengan hati, timbul dari sikap tawakal dan ridha)

lebih tinggi dari bulan
tak terbelenggu apapun
elang bernyanyi

(Basho, terj. Ing. Makoto Ueda)

G – Penutup

Demikian panduan dasar penulisan haiku. Jika ingin melanggar pantangan ataupun anjuran yang telah menjadi patokan klasik, lakukan dengan sebaik mungkin.


Yogyakarta, 29 Januari 2017

Materi promosi

 DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...