Sunday, February 12, 2012

Proyek 1000 Haiku

gelombang rambutmu:
lembut menerpa wajahku,
membadai dalam dada

(0297/2012)
*
terlalu cepat
berlalu lenyap ke barat—
gelapnya malam

(0296/2012)
*
selembaran hutan,
kabut dari danau di cangkirku—
sarapan pagi

(0295/2012)
*
rerumputan dan
cahaya sama-
sama mencari celah

(0294/2012)
*
hai, buah manggis,
pernahkah kau melihat
si buah persik?

(0292/2012)
*
putri malu—
dengan tangan angan,
ingin menyentuhnya

(0292/2012)
*
digarami air mata
gurih lembut daging pelupuk
ikan pallumara

(0291/2012)

n.b: pallumara, ikan masak kuah asam ala suku bugis makassar
*
menanti deraknya
pohon yang telah ditebang
tak pernah tumbang

(0290/2012)
*
menerobos hujan larut malam,
masih tersisa senyum
dari sudut bibirnya

(0289/2012)
*
berterbangan bangau
orang-orangan sawah
menyeringai bangga

(0288/2012)
*
belasan bolpen...
bekas pakai bapak
selalu lebih baik

(0287/2012)
*
gita melayu
merdu mendayu rayu—
masa kita masih bermalu dulu...

(0286/2012)
*
bulan purnama
menempuh ke tepi kota
menyepi dengannya

(0285/2012)
*
sejak sajak ini
engkau semestinya telah
dimaafkan

(0284/2012)
*
hembusan angin
menyuruki rumpun bambu
berhamburan burung-burung

(0283/2012)
*
embun di ubun
semerbak mekar mlati
di kebun hati

(0282/2012)
*
selada segar
gemeretaknya pagi
tiap gigitan

(0281/2012)
*
ramping sosoknya
hati megap menampung
musim bersemi

(0280/2012)
*
langit juli
lebat oleh awan
pohon ranggas

(0279/2012)
*
percakapan kapak
dengan pokok pohon—
mendingin senja

(0279/2012)
*
pesulap jalanan
gelap menangkupi bumi dan
hup, bulan

(0278/2012)
*
saatnya untuk ke luar
menunggu aku di sana
bunga-bunga mekar

(0277/2012)
*
Serakan keping vas porselin
bocah megap membungkam pecahnya
air mata

(0276/2012)
*
hiruk padat lalu lintas megapolitan
satu sentuhan lembut
di punggungku

(0275/2012)
*
barisan iklan
di tiap lipatan layar
koran elektronik

(0274/2012)
*
nenek pergi
dapur
dingin sepi

(0273/2012)
*
bekasnya paku
perumahan elitee
tuk para semut

(0272/2012)
*
merentang malam
bayang kita semua
dirangkum satu

(0271/2012)
*
di atas bagang
makan lawar tanpa sadar
dikepung berjuta tuna

(0270/2012)

n.b: lawar, lauk ikan segar yang dicincang dan dicampur dengan parutan mangga muda dan kelapa.
*
sekali lagi
si cecak mematuki
lubang di ubin

(0269/2012)
*
hai mu
dan hai ku
ka pan ke te mu

(0268/2012)
*
hujung penghujan
sumur berlimpah airnya
mencari timba

(0267/2012)
*
bayang memanjang
direntangkan matari
membidik kelam

(0266/2012)
*
kutu di buku
tak merasa lebih cerdas
dari bangsat di kursi

(0265/2012)
*
kursi dekat jendela
hanya mentari pagi
menghangatkannya

(0264/2012)
*
guguran dedaun
sekian nama lekati ingatan
berlepasan, terlupakan

(0263/2012)
*
semakin lemah
membelai punggungku basah
angin kampung halaman

(0262/2012)
*
naungan teduh,
bila kuberlalu, rumput tertindih
kan menegak kembali

(0261/2012)
*
di teluk dara
surya senja keemasan
menegaskan lekuk tubuhnya

(0260/2012)
*
tak risaukan kembalian
ngongkrong ngopi
di kantin mahasiswa

(0259/2012)
*
pada wajah putrinya
kujumpa paras kasihku
dua puluh tahun lalu

(0258/2012)
*
gelinding geledek
kemarahanmu sesenyap
sisa senja

(0257/2012)
*
tuntaskan dendam
di sisa musim, deras
membenam hari

(0256/2012)
*
kenangan silam
di dalam tenang arusnya
menenggelam ia

(0255/2012)
*
keriangan hujan
sembari berteduh, mari
menyeduh air mata

(0254/2012)
*
remahan timah
bertaburan menuba
sepi telaga

(0253/2012)
*
sungai perak
alirnya pun berujung
ditelan bulan

(0252/2012)
*
serpihan langit
terbalut perut bumi:
safir biru

(0251/2012)
*
di kemacetan jalan
memelas sirene petugas kawal
pejabat sok tinggi

(0250/2012)
*
serak gemetar
azan suara tua—
merinai gerimis

(0249/2012)
*
melungkar pulas
mimpi si abang becak
berpoles karbon

n.b: melungkar adalah pengindonesiaan dari kata dalam bahasa jawa, mlungker.

(0248/2012)
*
lepas dari satu pengemis
sigap menghadang-sergap
dua pengemis

(0247/2012)
*
apa yang dibisikkan
angin kepada rumput
membikin ia menari?

(0246/2012)
*
seusai hujan
nampak lebih kelam
jalur jalan membujur

(0245/2012)
*

Saturday, February 04, 2012

MADAH MAULIDIAH

Ah, adakah lagi yang dapat diungkapkan kata pujian
atas dirinya, Sang Mahkota Insan, Kesayangan Tuhan,
yang indah rupa parasnya melebihi cemerlang purnama,
yang agung perilakunya merupakan jabaran Kitab Cahaya?

(2012)

Monday, January 02, 2012

Proyek 1000 Haiku, Januari 2012

::
menanti sang idaman
si abang ojek cuek
akan lain penumpang

(0244/2012)
*
meskipun jalan lengang
ambulans terus laju
melengkingkan duka

(0243/2012)
*
“bulan itu ungu”
akupun mengangguk
kepada kasihku

(0242/2012)
*
makan ganggang;
akankah mujur nasib mujair
terlahir lagi jadi kadal?

(0241/2012)
*
menanak nasi
di depan barak tenda
buruh konstruksi

(0240/2012)
*
dangdut kawinan
turut bergoyang, kelap-kelip
pelita kaleng penjaja kacang

(0239/2012)
*
gerimis kecil
redalah debu jalan
cerah pula, bunga soka

(0238/2012)
*
pukul tiga malam
biru jingga keliran petir
nyaris tanpa penonton

(0237/2012)
*
malam gerimis
riuh suara jangkrik
menidurkanku

(0237/2012)
*
meliuk runduk
pohon tepi sungai
meraup sejuk

(0236/2012)
*
dinding kertasnya;
batas hakiki hanya
percaya, hormat

(0235/2012)
*
terbirit ciut nyeberangi jalan:
anjing, kucing, tikus
dan juga saya

(0234/2012)
*
merapikan rambut
yang dipermainkan angin
nenek di tepi jalan

(0233/2012)
*
sayup dan basah
di kejauhan pagi mendung
lengking penjaja ikan

(0232/2012)
*
hamparan sawah usai panen
seekor bangau
membasuh kakinya

(0231/2012)
*
jelang hujan:
siapa yang tahu berapa kelopak cempaka
akan terhempas ke tanah?

(0230/2012)
*
merebut celah ruang
bus pun melayang menembus
jelaga kabut karbon

(0229/2012)
*
depan pintu rumah
membersihkan kaki-kakinya
si lalat di keset

(0228/2011)
*
menderas banjir
daun nyangkut ikut
terangkut ke laut

(0229/2011)
*
berpupur dingin
perempuan penjaja asongan
di perempatan jalan

(0228/2011)
*
hitam lunak
tanah mimpi--diselipkan
malam: benih pagi

(0227/2012)
*
kelam dingin;
makin gemerlap kelap-
kelip lelampu kota

(0226/2012)
*
tak mau takluk,
tetap siap menangkis:
belalang remuk

(0225/2012)
*

Wednesday, December 21, 2011

Proyek 1000 Haiku, Desember 2011

::
bulan, O, bulan
jangan dulu, janganlah
berlalu pergi

(0224/2011)
*
tak datang bulan
si dara di beranda
merenda sepi

(0223/2011)
*
candra purnama
bunga wangi membuka
seputih doa

(0222/2011)
*
terang purnama
si penjual martabak
menanti lingsir

(0221/2011)
*
jangan diciduk—
mengandung bulan
air tempayan

(0220/2011)
*
baju lembab oleh kabut
lebih lekat ia memeluk
mencari hangat

(0219/2011)
*
terlalu larut bermimpi—
rumput liar juga
panjangnya bertepi

(0218/2011)
*
niat baik ditampik—
biarkan rimbun bunga
sembunyikan gembur tanahnya

(0217/2011)
*
harapan ditertawai—
ku sandarkan lesu
di bawah rindang pohon

(0216/2011)
*
perjalanan berliku mendaki—
sendiri saja,
beban pun ringan

(0215/2011)
*
perjalanan nan panjang—
semoga dapat menatap wajahmu,
kembali padamu

(0214/2011)
*

catatan: no. 0213-0186 sedang dalam proses editorial penerbitan sehingga belum dapat diumumkan

*
kicau yang berbeda;
angin, pada dahan lain mana kini
burung kemarin hinggap memainkan nada?

(0185/2011)
*
memetik sebiji jambu
turut berluruhan: bulir-bulir
sisa embun

(0184/2011)
*
paras dwi-matra
tanganku tak kuasa
mengenangmu

(0183/2011)
*
matamata kita
bersitatap melintas ruang;
mauku kautau

(0182/2011)
*
bulan sabit
berkilauan punggung ikan
di kelam kolam

(0181/2011)
*
bulan sabit
tumpukan padi
habis panen

(0180/2011)
*
dangdut mendayu
berapa lagu lagi didendangkan
bertaut bebulu mata?

(0179/2011)
*
bilah-bilah bintang
membelahi bulan merah
berkilatan gelombang

(0178/2011)
*
tanpa benar-salah...
semut-semut menghambur dari liang
merubungi cecak buntung

(0177/2011)
*
ranting telanjang
tanpa dedaun dan bunga
namun berbuahkan bulan

(0176/2011)
*
belukar kabut pagi
pada setangkup roti bakar saya
terperangkap kuning surya

(0175/2011)
*
bunga disunting
sisa bintang turut terhambur
dalam luruhan embun

(0174/2011)
*
pohon tumbang melintang
akarnya kiri dikebiri selokan
kanan disunat galian

(0173/2011)
*
riang pasar sore
dangdut dan shalawat
sahut-menyahut

(0172/2011)
*
berpose sopan dengan
mahkota cahaya para santo:
politikus hedon

(0171/2011)
*
sosok tubuhmu
rimbun rumpun bambu
berdesik dalam angin

(0170/2011)
*
sembari mengendarai motor
perempuan itu merapikan
tepi kerudungnya

(0169/2011)
*
genangan air di mana-mana:
sampeyan sudah sampai di Venesia,
dengan sampan dan pengamen

(0168/2011)
*
bibir tipis mengerucut
hidung runcing menjulang: pengemis tua
meludahi hari sepi

(0167/2011)
*
perempuan tertidur pulas
bersandar pada bahu kursi dekat jendela;
purnama menyepuh wajahnya

(0166/2011)
*
bulan purnama
katak di tepi sumur dangkal
mengerjapkan matanya

(0165/2011)
*
sinar terakhir surya
sebelum terbenam, pamit menimpa
rimbun soka

(0164/2011)
*
bakal berudu dalam cerek,
lima bangkai lalat di dasar mangkuk:
tangguh perut rakyat cilik

(0163/2011)
*
hutan nipah menjulang sepi
sepanjang tepi sungai mengalir kelam
sang dara mencari saudaranya

(0162/2011)
*
pantai tujuh kilo ke utara—
parfum beraroma laut disemburkannya
mendeburkan debar dada

(0161/2011)
*
arus dari arah pulaumu
singgahkah ia lebih dulu, mengelus
betis dan telapakmu?

(0160/2011)
*
lampu padam
sejenak napas pun
tertahan

(0159/2011)
*
listrik padam—
tuk temukan lampu darurat,
sibuk mencari korek api

(0158/2011)
*
lampu padam
menderu masuk angin
dari pintu terbuka

(0157/2011)
*
mendung berhari
tak kukeluhkan bila teringat
terik kemarau

(0156/2011)
*
musim genangan air
kaki berkerut lebih renta
dari wajahku

(0155/2011)
*
deru angin, celetar halilintar,
seru seram meluncur bersusulan:
mulut berbuih tabib jalanan

(0154/2011)
*
berkerut-kerak menua
pangkal kaktus namun pucuknya
terus bercabang-bunga

(0153/2011)
*
pohon nyaris rubuh
sebatang dahannya bertahan
mencabang hijau

(0152/2011)
*
sendal jepit biru
lama tergeletak di bawah kursi
tanpa sepasang kaki

(0151/2011)
*
merah merona senja
truk sampah bak terbuka
turut serta mewarnai

(0150/2011)
*
dua nenek renta
di teras duduk bercakap--
senja akhir tahun

(0149/2011)
*

Sunday, December 11, 2011

R.I.P: Sondang

telah lelah mengutuki
gelap bebal dinding batu
ia memilih menyalakan lilin
batang tubuhnya sendiri

namun nun, di balik tirai balkon
seorang pria malah bertanya manja:
bukankah ulang tahun Papa
tak jatuh di bulan ini, Mama?

Monday, October 31, 2011

Proyek 1000 Haiku, November/Desember 2011

::
trotoar dibongkar
pejalan dan pohonan nyingkir
bagi mobil parkir

(0148/2011)
*
genangan banjir
pagar dan sempadan
tak dibedakan

(0147/2011)
*
radio transistor
hangat benderang malam
meski listrik padam

(0146/2011)
*
cincin safir biru
matanya menyimpan tatapan bapak
kini asyik kupandangi

(0145/2011)
*
semalaman sesat terkurung
dalam kamar, pagi ini kembali
capung berisik ingin ke luar

(0144/2011)
*
bau busuk di setiap sudut;
mungkin harus rajin saya
membasuh hidung sendiri

(0143/2011)
*
serangga betah duduk
di gundukan kotoran sendiri--
nikmatnya berkuasa

(0142/2011)
*
berdiri canggung
segugus rumah mewah
dikepung kampung

(0141/2011)
*
sapa-menyapa
sebelum lenyap dalam kabut:
asap rokok dan ruap kopi

(0140/2011)
*
si batu api tergeletak
di tepi jalan aspal basah―
betapa sepinya

(0139/2011)
*
penari bergaun merah
berdandan meriah; jemarinya
runcing menjabat dingin

(0138/2011)
*
lepas dari dentam
musik malam, debur ombak
melebur kelam sukma

(0137/2011)
*
seekor kecoak berlari
mencari tempat yang tepat
menelentang mati

(0136/2011)
*
riuh klakson bersahutan
sayup di latar jauh
burung-burung berkicauan

(0135/2011)
*
menghambur gugur
dalam baluran kabut sore
bunga-bunga bungur

(0134/2011)
*
serakan puing benteng tua
lengking pekik burung
menghunjami bebatuan

(0133/2011)
*
serakan puing benteng tua
kelebat burung-burung senja
menutupi jejak surya

(0132/2011)
*
pohon akasia
bunga-bunga kuningnya
lebur dalam cahaya surya

(0131/2011)
*
oleh hembusan angin
debu merasuk rabu―
jejak raga siapa?

(0130/2011)
*
lebih rendah dan muda
hijaunya, pohon tanjung terlindung
dilingkungi kakak akasia

(0129/2011)
*
tak membedakan
penjaga dan penjaja malam
bulan purnama

(0127/11-2011)
*
purnama kini meninggi
tangkas tingkah penjual martabak
seiring lengking lagu hindi

(0126/11-2011)
*
di atas fly-over
berpasangan singgah berkencan
memandang sungai jalan raya

(0125/11-2011)
*
kemurahan hati
gubuk kumuh, istana si kaya
sama dilimpahi cahaya purnama

(0124/11-2011)
*
jajaran nisan
limpahan cahaya
ditumpahkan purnama

(0123/11-2011)
*
tenteramlah para rangka
malam ini purnama
mengilap seputih tulang

(0122/11-2011)
*
keindahan terlontar
dari getar jemari entah
hanya lantaran

(0121/11-2011)
*
pertempuran malam usai
berserakan bangkai nyamuk
ular hijau mengabu

(0120/11-2011)
*
jam lima sore
dan wanita pekerja ini
masih berwangi pagi

(0119/11-2011)
*
ruang pamer teknologi
menyilangkan kaki kedinginan
wiraniaga berok minim

(0118/11-2011)
*
disepak yang empunya rumah
mengangkat kepala, memicingkan mata
kucing kuning gempal melenggang

(0117/11-2011)
*
terbaring di pinggir jalan
si gila ini masih juga sempat
menikmati gemintang

(0116/11-2011)
*
tanah mengurai dedaunan
akankah kulihat wajahmu kembali
di musim semi mendatang?

(0115/11-2011)
*
becak perlahan menjalani senja
sepasang opa dan oma
duduk berpegangan tangan

(0114/11-2011)
*
embah mungil ringkih
si cucu bertubuh tambun
beriringan dari sekolah

(0113/11-2011)
*
gelisah dikisahkan
lewat igauan resahnya
gerimis semalaman

(0112/11-2011)
*
tergeletak basah
selembar sarung lusuh
pagi trotoar jalan

(0111/11-2011)
*
hanya celah rekahan
di dinding parit kering
merambat rumputan

(0110/11-2011)
*
nyaring kicauan
kilau kilap kaca jendela
menguapkan mimpi

(0109/11-2011)
*
kerut jemari tua
mencengkeram erat kehangatan
cangkir teh porselen

(0108/11-2011)
*
tempat kembali
tanpa tembok dan gembok
kembara termangu

(0107/11-2011)
*
gemulai tarian jemari:
merupa aksara mengalir makna
gerak raga rasa bersama

(0106/11-2011)
*
ketuk tunggal-nada
pada papan ketik: bayi terlahir
di layar kaca cair

(0105/11-2011)
*
terbangun oleh kicauan
meluncuri batang krisantenum
embun pagi

(0104/11-2011)
*
burung-burung bangau
gugusan awan cemerlang
peziarah gurun air mata

(0103/11-2011)
*
burung baru bangun
pun sisa kabut: masih ingin
berpeluk ranting pagi

(0102/11-2011)
*
kupu tanpa kepak,
mawar yang tawar: aman abadi
dalam kotak kaca

(0100/11-2011)
*
tanggal di hari mendung
kuning sehelai daun mangga
alangkah cemerlang!

(0099/11-2011)
*
kupu-kupu,
selain dari taman tangkar ini,
nun, lembah dan rimba...

(0098/11-2011)
::
Hg::
::

Friday, September 30, 2011

Proyek1000Hg, Oktober 2011

Prolog: para penikmat haiku (sajak klasik Jepang yang ringkas) mengenal nama Matsuo Munefusa 'Basho' dan Kobayashi Yataro 'Issa' sebagai dua master haiku awal, di samping beberapa nama lainnya <'Basho' dan 'Issa' sebenarnya nama pena/haigo dari pembuat haiku/haijin. 'Basho' adalah 'pohon pisang' sedangkan 'Issa', 'cangkir teh'>. Menurut para peneliti dan penulis biografi mereka, Basho mewariskan sekitar 1.000 haiku sedangkan Issa mencapai lebih dari 20.000! Sebagai penikmat dan pembuat haiku ala-Indonesia, untuk memotivasi dan melatih diri sendiri, mulai dari tanggal 30 September 2011 di rumah saya, di Makassar, saya mencanangkan proyek pribadi: Proyek1000Hg. Mudah-mudahan bisa menghasilkan 1.000 haiku baru dalam setahun ke depan. Bismillah...

::
tak silau dan tak hirau--
tuk dunia seonggok bangkai cacat
enggan hati turut bertikai

(0097/2011)
*
melintasi genangan air
gadis berok mini masih juga
sedikit mengangkat tepi kainnya

(0096/2011)
*
takut terantuk
pria itu ikut merunduk
meski tak jangkung

(0095/2011)
*
bening kicau burung
meyakinkan pagi
walau tak bermentari

(0094/2011)
*
melati di arus parit
akankah terus hanyut hingga muara
menemu laut, bahkan samudera?

(0093/2011)
*
pohon manggamu, Bapak
mengering dari akar ke puncak
bersama engkau pergi

(0092/2011)
*
kata-kata bapakku
fasih kini kuucapkan
kepada keponakan

(0091/2011)
*
sesampai di lereng ini
apa yang nampak di mataku kini
telah kau pandangi dahulu

(0090/2011)
*
sayapmu cemerlang baru
jangan sampai kuyup lekat
ya, capung berpayung daun

(0089/2011)
*
capung kecil berteduh
adakah sejam hujan, bagimu
terasa bagai sehari lamanya?

(0088/2011)
*
kelopak melati
di hitam selokan kering
tanggal berserakan

(0087/2011)
*
menyeruak kelam tanah
tudung jamur
dengan kilau pagi

(0086/2011)
*
hujan yang turun
di musim penghujan, juga bukti
sukses pimpinan kami

(0085/2011)
*
‘kita menempuh cuaca buruk’—
kukencangkan ikat pinggang, kembali
terkantuk diayun awan

(0084/2011)
*
rumah tua nan usang
bunga-bunga merah jambu
berseri di halamannya

(0083/2011)
*
guruh mengguncang langit
sejenak senyap lalu setetes hujan
jatuh dan setetes lagi

(0082/2011)
*
kelepak kepak elang
kembang mekar berpusing
jatuh disunting angin

(0081/2011)
*
temaram senyap taman
rindang pohon-pohon tua
gerimis mengarsir senja

(0080/2011)
*
sayup tahlil dan salawat
sampai bergetar angin malam
menyampaikan sayupnya

(0079/2011)
*
sudut sepi perpustakaan
ternyata juga bisa menyakitkan
saat melewatinya, sendirian

(0078/2011)
*
nyaring denting sendok
nyaris pecahkan mangkuk bakso
di sunyi malam gerimis

(0077/2011)
*
kuning akasia, merah ki hujan
di halaman parkir
mekar bersandingan, tak saling maki

(0076/2011)
*
hanya setapak daun
cukuplah lapang bagi si capung
bernaung di kuyup hari

(0075/2011)
*
dua bulir sisa hujan di pucuk daun--
si capung yang hinggap
mungkin ingin berganti kaca mata

(0074/2011)
*
gemerlap jembatan ampera
meskipun gelap bisu, di bawahnya
kutahu musi masih mengalir

(0073/2011)
*
hujan yang ditunggu, berguguran
akhirnya--sungguh,
sehari dua, tak kan kami mengeluh

(0072/2011)
*
menyergap kelam hari
berluruhan bunga akasia
disentakkan angin

(0071/2011)
*
paku di sekujur batang
ki hujan tegar
tugur di sepanjang tahun

(0070/2011)

*
jejak surya tenggelam
dalam abu pembakaran sampah
masih tersimpan putih

(0069/2011)

*
mekar bibirmu, dara, dan
sungguh ranum dadamu--namun takzim
kau cium punggung tanganku...

(0068/2011)
*
cuma selapis tipis debu
di tepi gaunmu, tepislah lembut
bila ingin melupakanku

(0067/2011)
*
hilir mudik berpesta malam
putra-putri taipan; gelandangan gila
ngelindur di tepi jalan

(0066/2011)
*
si bos pesolek gemar berpose
para kaki tangan sibuk
memoles rupa di spa dan salon

(0065/2011)
*
tampilan eksklusif di baliho
tegak menampak
disokong bambu dan rafia

(0064/2011)
*
pas foto selebar layar tancap
rebah tiarap
di hari hujan berangin

(0063/2011)
*
pas foto selebar layar tancap
tempat yang pas
pengemis jalanan duduk bernaung

(0062/2011)
*
berseri ceria hijaunya
dalam hujan maupun terik hari
pohon kolbanda

(0061/2011)
*
terhalang tepi tenda pengantinan
hanya paha betis si artis nampak bergoyang
‘dibelah bang, dibelah...’

(0060/2011)

*
sang abid berdahi memar
turnera subulata
cemerlang di gerbang pagi

(0059/2011)
*
tak bersembunyi
dari matahari
embun di ujung daun

(0058/2011)
*
sarang lelaba
terjalin di dahan berhias embun
bumi Tuhan, dunia insan

(0057/2011)
*
hanya setitik embun
dunia manusia
meneteskan air mataku

(0056/2011)
*
lebih tua dari Shiki
apa lagi Chairil
hampa terhampar, kertasku

(0055/2011)
*
datang dan pergi
angin
menyajikan wangi akasia

(0054/2011)
*
prospektus dan brosur terbabar
di meja—dedaun
berguguran dalam cahya senja

rev:
prospektus dan brosur terbabar
di meja—dedaun gugur
bertebaran dalam cahya senja

(0053/2011)
*
silang sengkarut
dahan ranting pohonan:
purnama sesat dan nyangkut

(0052/2011)
*
melantun dari menara
tilawah sendu
meraung lari, sepeda motor

(0051/2011)
*
di bawah lampu neon
sayur melayu
pun nampak merayu

(0050/2011)
*
pos penjagaan depan markas
pak polisi bersin
kembali posisi siap bersiaga

(0049/2011)
*
di antara jajaran rak belanjaan--
pemerah pipi dan bibir si pramuniaga
tetap menyala; tapi matanya...

(0048/2011)
*
meskipun alisnya dipertautkan kerut
hingga jam tiga jumat sore
kemeja si bankir selicin habis disetrika

(0047/2011)
*
di tengah semarak mekar bebungaan
terkenang taman lama
semerbaknya, merebakkan air mata

(0046/2011)
*
gedung bongkaran sengketa:
hanya purnama
leluasa menyinari tetiang puingnya

(0045/2011)
*
ngumpet di balik pajangan busana trendi
pramuniaga berok mini
menyantap mi instan siang ini

(0044/2011)
*
dinyalakannya tivi
hanya karena tak lagi kuasa
menahan senja sunyi

(0043/2011)
*
ujung jalan hanya lengang
ia berpaling sekali lagi
sebelum menutup pintu

(0042/2011)
*
diselipkan lewat celah pintu
hanya seberkas dingin
kabarmu ingin benar kutahu

(0041/2011)
*
menderu angin
dedaunan apa sajakah
turut dibawanya?

(0040/2011)
*
hujan pertama senja hari—
betapa lama
tiba menyapa, dambaan hati

(0039/2011)
*
gemerlapnya lelampu kota--
tak dapat membaca gemintang
juga guratan di tapak tangan

(0038/2011)
*
dibentuk oleh angin, dibekukan waktu
pohon kayu meliuk
dengan reranting terentang

(0037/2011)
*
tanpa kekaguman ataupun kasihan
ulat menggali liang
ke jantung ranum apel

(0036/2011)
*
Memucat-putih semangka
di kios tepi jalan
menunggu giliran terbeli

(0035/2011)
*
semburat merah jambu
di putih kelopak cempaka—amboi
pemalunya dara di anak tangga

(0034/2011)
*
gulita kota oleh listrik padam
bulan yang purnama
lebih besar dan terang dari biasanya

(0033/2011)
*
lelampu jalan, aksara neon dan papan iklan
membutakan mataku
akan bintang-bintang berkilauan

(0032/2011)
*
tepi redup cahaya lampu jalan
kini batas cakrawala
sepasang burung ketinggalan

(0031/2011)
*
telah raib merah dari magrib
di atas lampu jalan
dua burung terbang berputaran

(0030/2011)
*
kepak tanpa kicau
terdengar seiring jalan
harum guguran bungur

0029/2011
*
setapak ke puncak
licin berlumut--dan kabut
merimba rimbunnya

0028/2011
*
seciduk bening telaga--
sejak kapan ya capung itu
di kelopak padma

0027/2011
*
telaga yang lama
kusinggahi lagi, hijau teduhnya
tetaplah sama

0026/2011
*
duduk ngangkang di becak
si abang ngaso
dengan ponsel bervideo

0025/2011
*
berkilauan bilah paha
sang nasabah kaya;
juru parkir, menelan ludah

0024/2011
*
di pekuburan, bagi orang-orang mati
pohon-pohon
boleh tumbuh merindang

0023/2011
*
tak ada lagi ratapi perang--
betapa rapi bunga-bunga rumput
nutupi kerak darah kering

0022/2011
*
seluruh embun
terpejam pulas segala mata
tenteram pula, debu jalan

0021/2011
*
lenggok lekuk penari legong
di halaman tetangga
pohon mangga

0020/2011
*
telat bangun bersubuh
sampai jam sebeginipun
Engkau tetap Tuhan yang kutahu

0019/2011
*
kepik kepinding penghuni kasur tua
ku tabik harus tidur
sesukamulah terus asyik bersuka

0018/2011
*
ceriut burung malam
akan pejam kedua mataku
merekapun saling bersalaman

0017/2011
*
lenalah pensil, pulaslah kertas
esok pagi lagi ya
jalan mencari hutan kayu

0016/2011
*
rimbun di tepi jalan kotaku
serumpun bambu
Gunung Wudan, nun di selatan

0015/2011
*
pukul dua dini hari
namun haiku-haiku dari hatiku
menarik jemari menari

0014/2011
*
santapan sengaja disimpankan
habiskan, demi mereka
mungkin tadi masih menginginkan

0013/2011
*
coklat sate dan kari
tak terlihat lagi
jejak hijau padang rumput

0012/2011
*
jambonnya tersesap tuntas
jadi sepia
kembang kertas setipis itu

0011/2011
*
ku kan ke luar
dinginkan dirimu
ya, kipas anginku

0010/2011
*
‘mama, merah ini mata
cuma kerna debu kemarau’
tersenyum mahfum, Bunda

0009/2011
*
lunglai melayu kembang
tak sengaja...
erat hangat genggamanku

0008/2011
*
hanya semusim bunga
keindahan itupun
berlalu dari pelukan

0007/2011
*
benderang neon komidi putar
ramai tenda judi dadu
di seberang kuburan kampung

0006/2011
*
‘aaassalaamu aleikumm’
kian panjang dan nyaring sesiang ini
pengemis di luar pagar

0005/2011
*
‘banyak rezeki, panjang umur, Nona’
merogoh cari recehan
serba salah oleh sebab doa

0004/2011
*
jendela lebar restoran
para pengemis cilik
serius menilik calon mangsa

0003/2011
*
tempatnya lumayan nyaman
dan cukup ramai
pengemis ambil posisi

0002/2011
*
seribu haiku dari Basho
dua puluh, Issa
si bodoh inipun sok meniru

0001/2011
::

Thursday, September 29, 2011

HAIKU-HAIKU MUSIM HUJAN

10.
kelabu gelap pantai
dikejar lidah ombak, kepiting tertinggal
berlari menuju liang

9.
dalam kabut derai hujan
beraneka warna
payung mengembang, mengambang

8.
tanah kering perlahan basah
di siang berubah mendung
pejalan riang bersenandung

7.
dengkung doa kodok--
kian dermawan
langit menumpahkan hujan

6.
banjir kecil--
meja makan, kain sarung:
sang kapten arungi samudera

5.
gelegar guruh sebelum hujan;
telaga tua
mengerjap lega

4.
ditimpa hujan runtuh
pori-poriku dan sumur
sama memekik riang

3.
luruh hujan pertama;
menggeliat bangun
sungai mati

2.
dedaun dipotongi buat payung:
pokok pohon pisang, bagai lilin
menggigil dingin dalam hujan

1.
cacing di ambang pintu:
tamu pertama
bersama banjir kecil

DUA HAIKU MEMANDANG KOTA DARI ATAS OJEK

1. (malam)

lanskap rekayasa cahaya
akan padam
bahkan sebelum pagi

2. (siang)

jalanan macet, terik, dan hiruk
di papan pamer
tetap menyeringai: pengincar kuasa

Monday, September 12, 2011

BAHAYA SASTRA

Lebih memperdaya dari wanita, harta dan tahta
adalah rayuan nikmat kata indah nan tertata.
Po Chu I dan Kamo no Chomei pun tak berdaya
apatah lagi pria malang ini yang hanya saya!
::
Hg::
::

---------------------------------------------------------------------------------
Keterangan:
Po Chu I (772 - 846) adalah salah seorang penyair besar Cina Klasik. Pernah menjadi pegawai Kekaisaran Cina, namun beberapa kali ia pernah diasingkan dari negerinya karena terang-terangan mengkritik kebijakan penguasa di masanya. Adapun Kamo No Chomei (1155?-1216) adalah penulis syair waka dan petapa Jepang. Jenuh oleh kedudukan dalam istana, ia memutuskan mengabaikan kehidupan duniawi dan meninggalkan ibu kota kekaisaran. Namun demikian, dalam kesendiriannya ia terus menulis dan membaca sajak-sajak. Pada masa akhir hidupnya ia menulis esai tentang sajak, Mumyosho.

Kedua penyair yang dididik dalam tradisi Budhis ini mengakui, meskipun telah memahami doktrin ilusi dan kehampaan dalam ajaran Budha, mereka tetap tak dapat menahan diri untuk menulis sajak-sajak.

Dalam tradisi Islam, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) seorang mahaguru sufi yanng menganut mahzab sunni-hanafiah dan taat kepada syariat, juga mengakui bahwa sebenarnya ia tidak begitu menghargai sajak-sajak. Namun ketika keadaan ekstasi mistis meliputinya, ia akan menari berputar-putar sembari membacakan sajak-sajaknya, yang dicatat oleh para muridnya. Ulama besar ini mewariskan kepada dunia, antara lain, dua kumpulan sajak Matsnawi (isinya 26.000 sajak) dan Diwan (terdiri dari lebih 35.000 bait sajak).

Saturday, September 10, 2011

HAIKU-HAIKU JALAN RAYA

1.
sang empu puas menilik karya
di tepian jalan raya
tukang pelat nomor kendaraan

2.
kembang kertas berduri
mekar menyala
di batas jalan raya

3.
gemuruh geram air bah
siap melanda—
lampu merah perempatan

4.
“tak berhak berbahagia”—
di pelataran toko
terkapar dihajar impian

5.
berjajar jajakan badan
para banci
depan pekuburan umum

6.
supir sangar asal tenggara
turut berdendang dian piesesha
anak lelap di pangkuannya

Materi promosi

 DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...