Makin malam hari matamu
Makin penuh hujan hutan malam di matamu
Berjatuhan malai-malai berkilauan
Malam matamu betapa kelam gemerlapan
.....yang hadir mengisi di antara dua kesunyian--kelahiran dan kematian..... (An Indonesian poems corner ; the poet : Hendragunawan)
Sunday, September 09, 2007
Tuesday, August 14, 2007
KUSENTUH LEKUK BIBIRMU
Kusentuh
Lekuk bibirmu
Yang melengkung indah
Maka merekahlah ia
Membuka diri
Dengan sepenuh bahagia
Sebelum kulepas
Pergi
Kusisipkan rahasiaku
Lembut dan perlahan
Ke dalam celahmu
Yang menelannya
Seperti kupercayakan
Seluruh usiaku
Beserta perasaan
Yang mungkin sia-sia
Dan tak bakal kekal
Biarlah
Setelah kujilati
Lidahmu yang lekat
Mulutmu akan menutup
Seperti mata yang terkatup
Oleh kantuk, seperti jemari
Menguncup dalam ucap doa
Di larut remang
Telapakku yang gemetar
Meraba seutuh hasrat
Merambati sudut-sudutmu
Yang kini memeluk hatiku
Teramat erat seolah pasti
Menepati janji
Lebih kukuh dari mati :
Sampaikanlah berita segala
Yang selain derita
Sampul suratku yang biru,
Berangkatlah dengan selamat
Dalam perjalanan yang lamban
Seperti bulan di lamun lautan
Semoga tangan-tangan jawatan pos indonesia
Mampu menampung amanat
Dan memperlakukanmu
Dengan khidmat dan bermartabat
Lekuk bibirmu
Yang melengkung indah
Maka merekahlah ia
Membuka diri
Dengan sepenuh bahagia
Sebelum kulepas
Pergi
Kusisipkan rahasiaku
Lembut dan perlahan
Ke dalam celahmu
Yang menelannya
Seperti kupercayakan
Seluruh usiaku
Beserta perasaan
Yang mungkin sia-sia
Dan tak bakal kekal
Biarlah
Setelah kujilati
Lidahmu yang lekat
Mulutmu akan menutup
Seperti mata yang terkatup
Oleh kantuk, seperti jemari
Menguncup dalam ucap doa
Di larut remang
Telapakku yang gemetar
Meraba seutuh hasrat
Merambati sudut-sudutmu
Yang kini memeluk hatiku
Teramat erat seolah pasti
Menepati janji
Lebih kukuh dari mati :
Sampaikanlah berita segala
Yang selain derita
Sampul suratku yang biru,
Berangkatlah dengan selamat
Dalam perjalanan yang lamban
Seperti bulan di lamun lautan
Semoga tangan-tangan jawatan pos indonesia
Mampu menampung amanat
Dan memperlakukanmu
Dengan khidmat dan bermartabat
KUTUNGGU KAU SELEWAT SIMPANG ITU
Dari simpang itu
Ke arah matahari tujuh pagi
Menujulah ke sana
Tanpa mesti tergesa
Dan sebelum langkah
Membuat nafasmu terengah
Akan kau temukan tanda
Di kaki pokok kemboja
Tanda yang sederhana
Seperti bukan dari dunia
Tanda bahwa aku pernah ada
Dan telah telanjur
Mencinta
Ke arah matahari tujuh pagi
Menujulah ke sana
Tanpa mesti tergesa
Dan sebelum langkah
Membuat nafasmu terengah
Akan kau temukan tanda
Di kaki pokok kemboja
Tanda yang sederhana
Seperti bukan dari dunia
Tanda bahwa aku pernah ada
Dan telah telanjur
Mencinta
KOTA SETENGAH TUJUH
Lihatlah
Kota yang semalam
Berdosa besar
Di pagi ini
Lihai benar
Berdusta
Dengan wajah bayi
Di pasar lama
Yang lebih perkasa
Dari sekian walikota
Riuh telah meriah
Sejak sebelum luruh
Embun terakhir
Meskipun sekarang
Agak mereda
Derumnya
Nenek tua
Dengan jualan seadanya
Bisa ngaso sebentar
Ngisap rokok
Dengan mok kopi besar
Sisa setengah terisi
Sementara pak haji
Setelah subuh dan mengaji
Kini menunggu dagangan
Sembari tasbih
Terus berputar di tangan
Parasnya masih berbekaskan
Jejak pijar fajar
Polisi memulai aksi
Di simpang yang semrawut
Dengan harapan sederhana
Semoga pungli hari ini
Lebih baik dari kemarin
Mencoba berdiri tegap ia
Dalam sikap sempurna
Setelah sibuk
Menaikkan ikat pinggang
Membetulkan posisi sarung pistol
Tergantung miring
Berisi handuk muka
Di tepi jalan itu
Anak sekolah
Dengan wangi sampo
Mengepul dari rambut kepang
Gelisah menunggu angkutan
Henpon berkerlip genit
Di genggaman segar jemari lentik
Dan seorang pekerja muda
Tersenyum profesional
Sigap penuh energi
Dalam setelan tersetrika rapi
Koran telah tiba
Tuhan
Semoga hari ini
Tak ada korban bencana
Kota yang semalam
Berdosa besar
Di pagi ini
Lihai benar
Berdusta
Dengan wajah bayi
Di pasar lama
Yang lebih perkasa
Dari sekian walikota
Riuh telah meriah
Sejak sebelum luruh
Embun terakhir
Meskipun sekarang
Agak mereda
Derumnya
Nenek tua
Dengan jualan seadanya
Bisa ngaso sebentar
Ngisap rokok
Dengan mok kopi besar
Sisa setengah terisi
Sementara pak haji
Setelah subuh dan mengaji
Kini menunggu dagangan
Sembari tasbih
Terus berputar di tangan
Parasnya masih berbekaskan
Jejak pijar fajar
Polisi memulai aksi
Di simpang yang semrawut
Dengan harapan sederhana
Semoga pungli hari ini
Lebih baik dari kemarin
Mencoba berdiri tegap ia
Dalam sikap sempurna
Setelah sibuk
Menaikkan ikat pinggang
Membetulkan posisi sarung pistol
Tergantung miring
Berisi handuk muka
Di tepi jalan itu
Anak sekolah
Dengan wangi sampo
Mengepul dari rambut kepang
Gelisah menunggu angkutan
Henpon berkerlip genit
Di genggaman segar jemari lentik
Dan seorang pekerja muda
Tersenyum profesional
Sigap penuh energi
Dalam setelan tersetrika rapi
Koran telah tiba
Tuhan
Semoga hari ini
Tak ada korban bencana
PEJALAN KAKI
Aku masih setia di jalan
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih
Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut
Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih
Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut
Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu
NARSISI
Bertahun-tahun
Betah aku membonsai
Diri sendiri
Kutolak tawaran
Meninggalkan malaikat
Terpaku di batas tertinggi
Kupilih derajat
Lebih rendah dari ternak
Lebih bebal dari batu
Yang ilusi dianggap hakiki
Yang sejati dicemooh
Dipandang cuma bayang fantasi
Yang remeh-temeh
Didekap segenap hati
Yang berharga dibengkalaikan
Kalaupun perlu tuhan
Atau semacam sesembahan
Bayanganku cukup membantu
Bila sedih dan sepi
Kuhibur diriku
Dengan filsafat humanisme
Ataupun puisi paling murung
Untuk membenarkan
Kecenderungan diri
Nyaman aku berkubang
Di tengah genangan
Kotoran sendiri
Mari, temanilah aku
Menikmati hari ini
Sebelum mati
Betah aku membonsai
Diri sendiri
Kutolak tawaran
Meninggalkan malaikat
Terpaku di batas tertinggi
Kupilih derajat
Lebih rendah dari ternak
Lebih bebal dari batu
Yang ilusi dianggap hakiki
Yang sejati dicemooh
Dipandang cuma bayang fantasi
Yang remeh-temeh
Didekap segenap hati
Yang berharga dibengkalaikan
Kalaupun perlu tuhan
Atau semacam sesembahan
Bayanganku cukup membantu
Bila sedih dan sepi
Kuhibur diriku
Dengan filsafat humanisme
Ataupun puisi paling murung
Untuk membenarkan
Kecenderungan diri
Nyaman aku berkubang
Di tengah genangan
Kotoran sendiri
Mari, temanilah aku
Menikmati hari ini
Sebelum mati
Sunday, July 15, 2007
KELUHAN PRIA TUA (DARI ARSIP SAJAK LAMA)
Musik yang sedih
dan lirik yang lirih
adalah racun sempurna
di senja yang segera.
Yang bayang terbayang
wajah yang tersayang:
parasnya betapa ranum
tubuhnya begitu harum.
Tetapi, kemana gerangan pergi
dara manja berkawat gigi
matanya bundar cemerlang
dan lengannya berpendar telanjang.
Atau perempuan beraut serius
dengan rambut panjang lurus
yang darinya kuberpaling
saat meminta harus terus seiring.
Dan, ah, betina garang
beserta pagutan dalam dan panjang
kini ibu panutan, ketua darmawanita,
setelah diperistri walikota.
Seluruhnya sisa kisah lalu
walau indah sudah berlalu
Tinggal aku seorang lelaki tua
masih terlunta, tiada berdua.
Sekarang kukenang mereka
semua dalam kepedihan yang sama;
tetapi aku tentu takkan pernah mengaku
kepada si jelita yang tengah kupangku!
dan lirik yang lirih
adalah racun sempurna
di senja yang segera.
Yang bayang terbayang
wajah yang tersayang:
parasnya betapa ranum
tubuhnya begitu harum.
Tetapi, kemana gerangan pergi
dara manja berkawat gigi
matanya bundar cemerlang
dan lengannya berpendar telanjang.
Atau perempuan beraut serius
dengan rambut panjang lurus
yang darinya kuberpaling
saat meminta harus terus seiring.
Dan, ah, betina garang
beserta pagutan dalam dan panjang
kini ibu panutan, ketua darmawanita,
setelah diperistri walikota.
Seluruhnya sisa kisah lalu
walau indah sudah berlalu
Tinggal aku seorang lelaki tua
masih terlunta, tiada berdua.
Sekarang kukenang mereka
semua dalam kepedihan yang sama;
tetapi aku tentu takkan pernah mengaku
kepada si jelita yang tengah kupangku!
DELAPAN SAJAK
KEPADA BAPAK IBU
Bapak ibu yang terhormat
Kepada siapakah gerangan
Engkau pasrahkan
Nasib dunia akhirat
Anak-anakmu?
Kepada pengasuh bayaran
Berusia belasan
Yang upahnya kau aniaya?
Kepada tenung televisi
Yang menolongmu tak perlu bicara
Meski seharian duduk berdampingan?
Kepada guru-guru sekolah
Bersama puluhan murid lain
Yang mengajar
Sembari mencemaskan
Rumah tangga mereka sendiri?
Kepada teman-teman sepermainan
Yang mengajarinya menyuntik lengan
Dan mengumbar kelamin?
Kepada labirin mal dan jajaran etalase
Yang mengajarinya belanja
Demi menjadi orang lain?
Bapak ibu yang terhormat
Sungguhkah mereka
Anak-anakmu?
TELAGA RAHASIA
Paku dukamu menancap dalam
Dan dalam dekapan liang dadaku
Lukapun memawar merah
Semerbak segar merebak rekah
Linangan air mata yang menggenang
Menjelma jadi sendang, tenang dan bening
Berkilauan dibelai bulan
Para peri berdendang sendu di tepinya
Bila suatu saat kelak
Kau datang melintas lewat
Tak akan kau lihat lagi
Jejakku terbenam guguran bunga
Akan kutahan erat
Hatiku
Yang ingin melesat
Bersama jerit perihnya
SEBILAH BELATI
Sebilah belati
Yang diselipkan malam hari
Di sela lipatan hati
Betapa nyaring
Menyanyikan nyerinya
Bagi setiap mimpi
Dentingnya
Kilaunya
Dinginnya
Teramat nyata
Bagi mata
Kataku
RAKYAT NEGERIKU BERHAMBURAN
Rakyat negeriku berhamburan
Ibu-ibunya
Merumput di trotoar
Dengan gerobak lapak seadanya
Yang kelak dibongkar
Kobaran api
Bapak-bapaknya berhimpitan
Di lambung pesawat
Menuju hutan negeri orang
Dan pulangnya limbung jadi rebutan
Diperas habis-habisan
Para aparat pelabuhan
Sedangkan anak-anaknya:
Menadahkan tangan
Menodongkan pisau
Menawarkan badan
Di simpang-simpang jalan
Nanti gantian digilir keamanan
Berakrobat jungkir balik, kalang kabut
Rakyat negeriku
Mesti mengurus nasib sendiri, setelah dikhianati
Orang-orang culas dan tak becus
Yang dahulu pernah bersumpah mati
Mampu mengurus nasib mereka
Para penipu dan pencuri ulung
Atasannya korupsi besar-besaran
Bawahannya pungli kecil-kecilan
Dalamannya minta ampun
Sedangkan kaki tangannya
Rakus dan kerasnya bukan main
Diperdaya sekian lama
Dirampok berkali-kali
Dibunuh berulang-ulang
Mereka hanya tegak diam
Dengan mata pejam
Dan basah di pipi kusam
Mereka yang telah
Kehilangan suara
Akan menuntut balik
Menggugat dengan kebisuan
Yang lebih tajam dan mencekam
Daripada sejuta mata lembing
SURAT RAHASIA
Kutulis surat ini
Justru karena tahu
Kau tak akan pernah membacanya
Semalamam mataku mencair
Memikirkan kepergianmu
Semalaman lamanya
Kau tak melihatnya, tentu
Keburu telah kuhapus sebelum kau
Menghardikku agar tak sentimental
Aku tidak semurung ini
Sebelum bertemu kau
Sebelum mulutku mengulum madu katamu
Telah pernah kudengar katak merdu bernyanyi
Tetapi tak sekalipun engkau sudi
Melontarkan sepatah janji
Meski engkau akan berdusta
Tak mengapa, berdustalah saja
Aku akan rela
Tetapi
Janganlah pergi
Seperti ini
Semalaman hatiku mengembun
Tak henti menyesali kemalanganku
Semalaman lamanya
Maka kutuliskan surat ini
Meski tahu
Kau takkan pernah membacanya
SELAMAT JALAN MUSIM DINGIN
Segera pergi dan selamat jalan, musim dingin
Semoga tak perlu bertemu pula di tahun depan
Kawan pemurung yang baik sebenarnya,
Sayang ia tamu yang datang berkunjung terlalu lama
Berminggu-minggu memunggungi matahari
Semoga silam malam-malam melamun di bawah 5 derajat
Dalam kamar lembab berdinding kayu tanpa penghangat
Berteman selimut dilipat dua yang lembut namun melulu
Serba salah: mencari panjang, kurang lebar ia
Mencari lebar, kurang panjangnya
Semoga berlalu pula hari-hari kelabu dan sendu
Dengan angin yang meratap dan menyayat selalu
Hampir seminggu sudah termangu tanpa sekeping dolar
Pun sekedar untuk interlokal:
“Halo, apa kabar. Beta baik-baik saja di sini”
Segera pergi dan selamat jalan, kawan
Adios, Compadre. Adieu. Goodbye, my friend.
Biarlah tinggal berkarat sebagai kenangan
Cerek perengek yang pekikannya memekakkan telinga
Dan panci dadar yang telah sudi jadi pemanas portebelku
TIGA KUNTUM HITAM
Tiga kuntum kembang hitam menyala
dalam kekelaman malam. Gelombang hangat cahaya
bagai gerombol ombak yang mengayunayunkan jiwa
dengan lidah lembutnya. Akan terkenang lewat desir
rahasia menjamah pantai tua yang meremang
karena senja. Meski hanya pasir
dan sisa cangkang terserak di pesisir, bila tiba
musim, marilah kembali ke sini, menjilati
kaki karang yang retak ini. Hempasan buih
memutih akan cukup memulihkan perihnya.
Abad demi abad berkelebat di pelupuknya
Namun mata yang pejam hanya melihat kalian:
Tiga kuntum hitam yang akan terus menyala dalam
Kekelaman arus malam
TESTIMONI
Aku tahu
Tanpa setitik ragu
Semuanya
Akan baik-baik saja
Semuanya
Akan baik-baik saja
Meskipun langit meruntuh
Dan bumi berkeping
Biar langit bumi binasa
Semuanya pasti baik-baik saja
Selama Kasihku
Masih tersenyum padaku
Bapak ibu yang terhormat
Kepada siapakah gerangan
Engkau pasrahkan
Nasib dunia akhirat
Anak-anakmu?
Kepada pengasuh bayaran
Berusia belasan
Yang upahnya kau aniaya?
Kepada tenung televisi
Yang menolongmu tak perlu bicara
Meski seharian duduk berdampingan?
Kepada guru-guru sekolah
Bersama puluhan murid lain
Yang mengajar
Sembari mencemaskan
Rumah tangga mereka sendiri?
Kepada teman-teman sepermainan
Yang mengajarinya menyuntik lengan
Dan mengumbar kelamin?
Kepada labirin mal dan jajaran etalase
Yang mengajarinya belanja
Demi menjadi orang lain?
Bapak ibu yang terhormat
Sungguhkah mereka
Anak-anakmu?
TELAGA RAHASIA
Paku dukamu menancap dalam
Dan dalam dekapan liang dadaku
Lukapun memawar merah
Semerbak segar merebak rekah
Linangan air mata yang menggenang
Menjelma jadi sendang, tenang dan bening
Berkilauan dibelai bulan
Para peri berdendang sendu di tepinya
Bila suatu saat kelak
Kau datang melintas lewat
Tak akan kau lihat lagi
Jejakku terbenam guguran bunga
Akan kutahan erat
Hatiku
Yang ingin melesat
Bersama jerit perihnya
SEBILAH BELATI
Sebilah belati
Yang diselipkan malam hari
Di sela lipatan hati
Betapa nyaring
Menyanyikan nyerinya
Bagi setiap mimpi
Dentingnya
Kilaunya
Dinginnya
Teramat nyata
Bagi mata
Kataku
RAKYAT NEGERIKU BERHAMBURAN
Rakyat negeriku berhamburan
Ibu-ibunya
Merumput di trotoar
Dengan gerobak lapak seadanya
Yang kelak dibongkar
Kobaran api
Bapak-bapaknya berhimpitan
Di lambung pesawat
Menuju hutan negeri orang
Dan pulangnya limbung jadi rebutan
Diperas habis-habisan
Para aparat pelabuhan
Sedangkan anak-anaknya:
Menadahkan tangan
Menodongkan pisau
Menawarkan badan
Di simpang-simpang jalan
Nanti gantian digilir keamanan
Berakrobat jungkir balik, kalang kabut
Rakyat negeriku
Mesti mengurus nasib sendiri, setelah dikhianati
Orang-orang culas dan tak becus
Yang dahulu pernah bersumpah mati
Mampu mengurus nasib mereka
Para penipu dan pencuri ulung
Atasannya korupsi besar-besaran
Bawahannya pungli kecil-kecilan
Dalamannya minta ampun
Sedangkan kaki tangannya
Rakus dan kerasnya bukan main
Diperdaya sekian lama
Dirampok berkali-kali
Dibunuh berulang-ulang
Mereka hanya tegak diam
Dengan mata pejam
Dan basah di pipi kusam
Mereka yang telah
Kehilangan suara
Akan menuntut balik
Menggugat dengan kebisuan
Yang lebih tajam dan mencekam
Daripada sejuta mata lembing
SURAT RAHASIA
Kutulis surat ini
Justru karena tahu
Kau tak akan pernah membacanya
Semalamam mataku mencair
Memikirkan kepergianmu
Semalaman lamanya
Kau tak melihatnya, tentu
Keburu telah kuhapus sebelum kau
Menghardikku agar tak sentimental
Aku tidak semurung ini
Sebelum bertemu kau
Sebelum mulutku mengulum madu katamu
Telah pernah kudengar katak merdu bernyanyi
Tetapi tak sekalipun engkau sudi
Melontarkan sepatah janji
Meski engkau akan berdusta
Tak mengapa, berdustalah saja
Aku akan rela
Tetapi
Janganlah pergi
Seperti ini
Semalaman hatiku mengembun
Tak henti menyesali kemalanganku
Semalaman lamanya
Maka kutuliskan surat ini
Meski tahu
Kau takkan pernah membacanya
SELAMAT JALAN MUSIM DINGIN
Segera pergi dan selamat jalan, musim dingin
Semoga tak perlu bertemu pula di tahun depan
Kawan pemurung yang baik sebenarnya,
Sayang ia tamu yang datang berkunjung terlalu lama
Berminggu-minggu memunggungi matahari
Semoga silam malam-malam melamun di bawah 5 derajat
Dalam kamar lembab berdinding kayu tanpa penghangat
Berteman selimut dilipat dua yang lembut namun melulu
Serba salah: mencari panjang, kurang lebar ia
Mencari lebar, kurang panjangnya
Semoga berlalu pula hari-hari kelabu dan sendu
Dengan angin yang meratap dan menyayat selalu
Hampir seminggu sudah termangu tanpa sekeping dolar
Pun sekedar untuk interlokal:
“Halo, apa kabar. Beta baik-baik saja di sini”
Segera pergi dan selamat jalan, kawan
Adios, Compadre. Adieu. Goodbye, my friend.
Biarlah tinggal berkarat sebagai kenangan
Cerek perengek yang pekikannya memekakkan telinga
Dan panci dadar yang telah sudi jadi pemanas portebelku
TIGA KUNTUM HITAM
Tiga kuntum kembang hitam menyala
dalam kekelaman malam. Gelombang hangat cahaya
bagai gerombol ombak yang mengayunayunkan jiwa
dengan lidah lembutnya. Akan terkenang lewat desir
rahasia menjamah pantai tua yang meremang
karena senja. Meski hanya pasir
dan sisa cangkang terserak di pesisir, bila tiba
musim, marilah kembali ke sini, menjilati
kaki karang yang retak ini. Hempasan buih
memutih akan cukup memulihkan perihnya.
Abad demi abad berkelebat di pelupuknya
Namun mata yang pejam hanya melihat kalian:
Tiga kuntum hitam yang akan terus menyala dalam
Kekelaman arus malam
TESTIMONI
Aku tahu
Tanpa setitik ragu
Semuanya
Akan baik-baik saja
Semuanya
Akan baik-baik saja
Meskipun langit meruntuh
Dan bumi berkeping
Biar langit bumi binasa
Semuanya pasti baik-baik saja
Selama Kasihku
Masih tersenyum padaku
Thursday, May 31, 2007
SEHELAI SURAT BERSEGEL RINDU UNTUK CINTAKU
Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?
Tuesday, May 29, 2007
SENANDUNG BURUNG
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa
Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bertahun aku di dahan dunia
Murung mengicaukan duka nestapa
Bidik aku tepat di sini
Di jantung-hati ini
Sembelih merih ini
Dengan jemarimu sendiri
Jadikan aku mangsamu
Wahai, Sang Pemburu Ulung
Bidik aku dengan cintamu
Sembelih aku dengan kasihmu
SULUK KESUHUDAN
Aku tak lebih tinggi dari debu
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga
Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku
O, dunia
Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya
Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera
Dan nilaimu itu nihil :
Sebelah helai sayap nyamuk
Bahkan masih jauh lebih berharga
Tetapi kuangkat juga hidungku
Dan kau menggelendot di leherku
O, dunia
Kalau tidak karena dinampakkan indah
Di pelupuk mataku yang mudah terperdaya
Terpukau bujuk segala yang maya
Tentu kau sudah sampah tersia
Dan aku tak akan pernah berselera
Subscribe to:
Posts (Atom)
Materi promosi
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...
-
ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu tak henti-hentinya kupuja. Ketika musim hujan deras ...
-
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...