FRAGMEN KECIL DI BERANDA
Sudah selesai hujan
Meski sisa gerimis
Masih juga berjatuhan
Membasahi beranda
Di mana kita berdua
Sama berada
Barisan lampu kota di jauhan
Mulai semarak lagi
Berlomba cahayanya
Suara klakson samar meriuh
Kembali ribut saling sahut
Melanjutkan malam
Angin berkesiur
Merisikkan dedaun
Meliuk di rumpun perdu
Lalu dengan sendu
Meluruhkan bunga jambu
Di halaman rumahmu
Pada genangan air
Bayang terpencar
Warna berpendar
Sama samarnya
Kenangan masa lalu
Yang silam mengelam
Bahkan hujan juga
Berkesudahan, bukan
Begitu pula kesedihan
Kehidupan dan bahkan
Kematian itu: kita akan
Selalu berlalu
Aku pamit pergi
Setelah teguk teh terakhir
Meski tak berkata
Kau anggukkan juga kepala
Dan dengan perlahan
Merapikan kerah jaketku
STASIUN LAMA
Tanpa desis, derak dan lengking
Tanpa harap cemas dan debar damba
Tanpa ada yang sampai dan yang melambai
Stasiun lama kini jadi begitu hening
Loko hitam teronggok merongsok hampa
Di sana-sini sisa kabel putus jatuh terjuntai
Meski penuh jejaring lelaba, tai tikus, bau pesing
Sekali dua pelacur tua datang gelar tikarnya
Bagi si berandal muda, jagoan berambut rumbai
Dan akan bercinta juga mereka, abaikan sekeliling
Sebab larat nasib dan deret gerbong nyaris sama
Tak lagi merangkak, tinggal tunggu habis membangkai
.....yang hadir mengisi di antara dua kesunyian--kelahiran dan kematian..... (An Indonesian poems corner ; the poet : Hendragunawan)
Sunday, December 17, 2006
Saturday, December 09, 2006
SAJAK BARU JELANG TAHUN BARU
THE BALLAD OF JOHN DOE
Kelam kalbu kalut akal
Keluyuran ia dengan niat nakal
Bir murahan di tangan masih dingin
Kretek di bibir padam diusik angin
Di simpang empat ia berhenti
Merah lampu macet tak berganti
Sambil mengumpat ia putuskan jalan
Berharap sial biar mampus sekalian
Namun maut pun memalingkan muka
Merasalah ia mahluk paling celaka
Di seberang jalan geram meludah
Berang hatinya si haram jadah
Tak sekali itu berhasrat mati
Tetapi malang, berulang terlewat lagi
Maka sempoyongan ia terus melangkah
Meski hingga belulang lelah lungkrah
Tujuh tahun lalu diusir dari panti
Kerap kedapatan nyuri dana donasi
Sekarang ia hidup hanya sendirian
Masak buat mampus mesti ikut antrian
Tibalah ia di depan bar langganan
Pintu putar tertutup dengan pengumuman:
“Sorry, we're closed for christmas day
The lord took our woman away.”
BULAN BARU
Dari balik kelambu langit kelam biru
Yang bersulam awan putih kelabu
Sekilas kilau samar membayang ragu
Dari punggung pualam bulan yang baru
Pohonan senyap tak lagi berbual lagu
Punguk di dahan randu diam termangu
Beribu tahun bertahan dalam tunggu
Telah lelah bisu ia ditikam rindu
SISA BINTANG
Berguguran jatuh sisa bintang
Bergayut di pucuk batang lalang
Mama, di mana terserak mimpi kemarin hari
Yang pernah engkau lipat rapi di rak almari
Sisa bintang jatuh berguguran
Berayun bertahan di daun dahan
Helai almanak telah berganti lagi
Anak ini masih termangu menanti pagi
BUNGA DAN KUMBANG
Sebatang bunga rumput
Tumbuh menjulang rekah
Kelopaknya membuka perlahan
Menadah curah cerah cahaya
Adakah asalmu dari acak kekacauan
Dan kelak musnahmu tanpa tujuan
Ah, betapa mengerikan hadirmu di situ
Jika memang sungguh begitu
Seekor kumbang mendengung
Terbang beredar mengitari
Sayap-sayapnya bergetar
Disepuh kilau matahari
Adakah asalmu dari acak kekacauan
Dan kelak musnahmu tanpa tujuan
Kelam kalbu kalut akal
Keluyuran ia dengan niat nakal
Bir murahan di tangan masih dingin
Kretek di bibir padam diusik angin
Di simpang empat ia berhenti
Merah lampu macet tak berganti
Sambil mengumpat ia putuskan jalan
Berharap sial biar mampus sekalian
Namun maut pun memalingkan muka
Merasalah ia mahluk paling celaka
Di seberang jalan geram meludah
Berang hatinya si haram jadah
Tak sekali itu berhasrat mati
Tetapi malang, berulang terlewat lagi
Maka sempoyongan ia terus melangkah
Meski hingga belulang lelah lungkrah
Tujuh tahun lalu diusir dari panti
Kerap kedapatan nyuri dana donasi
Sekarang ia hidup hanya sendirian
Masak buat mampus mesti ikut antrian
Tibalah ia di depan bar langganan
Pintu putar tertutup dengan pengumuman:
“Sorry, we're closed for christmas day
The lord took our woman away.”
BULAN BARU
Dari balik kelambu langit kelam biru
Yang bersulam awan putih kelabu
Sekilas kilau samar membayang ragu
Dari punggung pualam bulan yang baru
Pohonan senyap tak lagi berbual lagu
Punguk di dahan randu diam termangu
Beribu tahun bertahan dalam tunggu
Telah lelah bisu ia ditikam rindu
SISA BINTANG
Berguguran jatuh sisa bintang
Bergayut di pucuk batang lalang
Mama, di mana terserak mimpi kemarin hari
Yang pernah engkau lipat rapi di rak almari
Sisa bintang jatuh berguguran
Berayun bertahan di daun dahan
Helai almanak telah berganti lagi
Anak ini masih termangu menanti pagi
BUNGA DAN KUMBANG
Sebatang bunga rumput
Tumbuh menjulang rekah
Kelopaknya membuka perlahan
Menadah curah cerah cahaya
Adakah asalmu dari acak kekacauan
Dan kelak musnahmu tanpa tujuan
Ah, betapa mengerikan hadirmu di situ
Jika memang sungguh begitu
Seekor kumbang mendengung
Terbang beredar mengitari
Sayap-sayapnya bergetar
Disepuh kilau matahari
Adakah asalmu dari acak kekacauan
Dan kelak musnahmu tanpa tujuan
Monday, December 04, 2006
SAJAK-SAJAK JAWA KUNA
[Tiga sajak di bawah ini berasal dari terjemahan sajak-sajak karya pujangga Jawa Kuna dalam bahasa Inggris oleh Tom Hunter, yang diterbitkan sebagai buku berjudul Blossoms of Longing: Poems of Love and Lament from the Old Javanese, oleh Yayasan Lontar, Jakarta. Penulis memperolehnya atas kebaikan Mbak Hapsari K.]
LET THEM BE THE REMINDER OF MY LONGING
How can you go away,
you,
who were so single-minded in love making,
and exchanging the gift of life?
Where now shall I seek the charming things
you whispered to me
when we shared a single sleeping cloth?
Look back now and see my chignon
that has fallen open,
no more to be combed by four fingers
that would fall to the nape of my neck,
I will preserve with gentle care
the nail mark you inflicted on my breast-
let them be a reminder of my longing.
*Arjunawiwaha - canto xxxv - 12
PENANDA RINDU
Bagaimana bisa engkau berlalu,
Sayangku, Engkau
Yang dulu sungguh khusuk syahdu dalam cumbu rayu
Dan bertukar padu rasa asmara?
Kemana lagi akan kucari, pesona
Yang kau bisikkan lirih lembut menenung
Ketika kita berdua masih berbagi selimut?
Tengok dan lihatlah, gelung sanggulku
Telah jatuh kusut terburai
Tak lagi disentuh halus oleh sisir jemarimu
Yang slalu akan mluncur turun tuk mengelus tengkukku
Akan kusimpan penuh sayang
Kenangan digoreskan kukumu pada dadaku
Sbagai peneguh sugguh rinduku, untukmu
MY BELOVED
Indifferent am I to the love in my heart -
my thoughts race this way and that,
Indifferent am I to the art of make up -
for powders or perfumes I have no taste,
Indifferent am I to food or sleep -
so intent am I on what is in my heart,
Indifferent am I to life or death -
for all I ca recall are the charms
of my beloved.
*Bhasa Tanakung - canto IX - 1
KEKASIHKU
tak kuacuhkan cinta di hatiku-
fikirku rusuh berkesiur gelisah
tak kuacuhkan rias hias wajah-
pada parfum dan pupur ku tak peduli
tak kuacuhkan nampan dan tilam-
hanyutku oleh arus dalam kalbu
tak kuacuhkan hidup dan mati-
satu hanya yang kukenang: pesona tenung
Kekasihku
WHEN I HAVE DIED
As you wander along the seashore
and admit the beauty of distant mountains,
Trough dark, shrouding clouds
that change to delicate misting rain,
You may hear a sweet, rumbling thunder,
faint and restless its sound,
That will be the trasformation of my weeping
when I have died,
exhauted from the pain of longing.
*Bhasa Tanakung - canto VII - 1
BILA NANTI KU MATI
bila kelak engkau berjalan menyusur pesisir
jatuh terpana pada indah gunung menjulang jauh
dan dari sela gemulung kelam mendung
yang terburai luruh jadi gerimis renyai,
mungkin kan kau dengar pula, gurih gemuruh guruh
menyayup resah dan redup bahananya
itulah titis ratap tangisku, kasih, terkuras letih
menjelma dari dahaga damba akanmu,
meski ragaku telah sirna direnggut maut
LET THEM BE THE REMINDER OF MY LONGING
How can you go away,
you,
who were so single-minded in love making,
and exchanging the gift of life?
Where now shall I seek the charming things
you whispered to me
when we shared a single sleeping cloth?
Look back now and see my chignon
that has fallen open,
no more to be combed by four fingers
that would fall to the nape of my neck,
I will preserve with gentle care
the nail mark you inflicted on my breast-
let them be a reminder of my longing.
*Arjunawiwaha - canto xxxv - 12
PENANDA RINDU
Bagaimana bisa engkau berlalu,
Sayangku, Engkau
Yang dulu sungguh khusuk syahdu dalam cumbu rayu
Dan bertukar padu rasa asmara?
Kemana lagi akan kucari, pesona
Yang kau bisikkan lirih lembut menenung
Ketika kita berdua masih berbagi selimut?
Tengok dan lihatlah, gelung sanggulku
Telah jatuh kusut terburai
Tak lagi disentuh halus oleh sisir jemarimu
Yang slalu akan mluncur turun tuk mengelus tengkukku
Akan kusimpan penuh sayang
Kenangan digoreskan kukumu pada dadaku
Sbagai peneguh sugguh rinduku, untukmu
MY BELOVED
Indifferent am I to the love in my heart -
my thoughts race this way and that,
Indifferent am I to the art of make up -
for powders or perfumes I have no taste,
Indifferent am I to food or sleep -
so intent am I on what is in my heart,
Indifferent am I to life or death -
for all I ca recall are the charms
of my beloved.
*Bhasa Tanakung - canto IX - 1
KEKASIHKU
tak kuacuhkan cinta di hatiku-
fikirku rusuh berkesiur gelisah
tak kuacuhkan rias hias wajah-
pada parfum dan pupur ku tak peduli
tak kuacuhkan nampan dan tilam-
hanyutku oleh arus dalam kalbu
tak kuacuhkan hidup dan mati-
satu hanya yang kukenang: pesona tenung
Kekasihku
WHEN I HAVE DIED
As you wander along the seashore
and admit the beauty of distant mountains,
Trough dark, shrouding clouds
that change to delicate misting rain,
You may hear a sweet, rumbling thunder,
faint and restless its sound,
That will be the trasformation of my weeping
when I have died,
exhauted from the pain of longing.
*Bhasa Tanakung - canto VII - 1
BILA NANTI KU MATI
bila kelak engkau berjalan menyusur pesisir
jatuh terpana pada indah gunung menjulang jauh
dan dari sela gemulung kelam mendung
yang terburai luruh jadi gerimis renyai,
mungkin kan kau dengar pula, gurih gemuruh guruh
menyayup resah dan redup bahananya
itulah titis ratap tangisku, kasih, terkuras letih
menjelma dari dahaga damba akanmu,
meski ragaku telah sirna direnggut maut
DUA SAJAK FLORA DAN FAUNA
1.
Pagi masih terlalu dini bagi bunga-bunga
Untuk bangun membuka mata
Merekahkan kelopak mereka
Menampung cahaya
Baiklah, sebentar lagi
Saya jenguk kembali
2.
Kecoak kecil merayap di atas meja
Biarkan saja; usia bangsanya jauh lebih purba
Lagi pula, adakah yang akan menghibur ibunya
Jika si kecil satu ini tak kunjung pulang ke sarangnya ?
Pagi masih terlalu dini bagi bunga-bunga
Untuk bangun membuka mata
Merekahkan kelopak mereka
Menampung cahaya
Baiklah, sebentar lagi
Saya jenguk kembali
2.
Kecoak kecil merayap di atas meja
Biarkan saja; usia bangsanya jauh lebih purba
Lagi pula, adakah yang akan menghibur ibunya
Jika si kecil satu ini tak kunjung pulang ke sarangnya ?
TESTAMEN (Dari Arsip Sajak Lama)
WASIAT TERAKHIR
Kalau bisa, hendaknya jangan tegakkan nisan
yang terus hadir berdiri mengisahkan perpisahan.
Tak usah pula taburkan kembang bunga
yang dicacah setelah dipatahkan dari batang tangkainya.
Sebenarnya tak ada yang berkurang ataupun hilang
mengapa duka harus dikarang, bayang terus dikenang.
Hanya si fakir malang yang menggelandang dihalau angin
telah menamatkan riwayat hidupnya yang teramat miskin
Cuma membawa catatan perjalanannya sekian lama
dalam buku nasib yang bulukan, menguning, dan bergelung sudutnya.
Biarkan saja, biar rumputan liar tumbuh tebal meriap
dalam curahan cahaya bulan biru yang dingin dan senyap.
Agar kelak sepasang kekasih dapat berbaring bermesraan di atasnya
atau seorang penyair datang duduk menulis membisikkan sajaknya.
PERNYATAAN TERAKHIR
Air sumur tiga ember bercampur kamper
dan bentangan kafan tak lebih dua meter
Mencuci dan membungkus sekujur sisa raga
Dari lumuran lumpur debu dunia
Agar kembali suci seperti dahulu
Sebelum kembali ke lubuk bumi yang menunggu
Tetapi jejak kenangan dalam dada
Dapatkah dihapus habis tak bertanda
Walau mata dikatupkan jemari ajal
Dan mulut disumpal tanah bergumpal
Rerumputan yang tumbuh dari bekas tubuhku
Akan meriap membelukar penuh rindu
Kembang yang ditanamkan akan merekah juga
Kelopaknya menyadap dunia penuh dahaga
NYANYIAN TERAKHIR
Kenangan hanya beban, harapan tinggal angan
Dan kini ia pilih menempuh kabut seorang diri
Walau dalam kembara kadang bersilang jalan
Masing insan datang dan pergi sendiri-sendiri
Dari kelam ke kelam, dari sepi ke sepi, tiada berteman
Samudera luas impian bertepi di tanah mati
Kalau bisa, hendaknya jangan tegakkan nisan
yang terus hadir berdiri mengisahkan perpisahan.
Tak usah pula taburkan kembang bunga
yang dicacah setelah dipatahkan dari batang tangkainya.
Sebenarnya tak ada yang berkurang ataupun hilang
mengapa duka harus dikarang, bayang terus dikenang.
Hanya si fakir malang yang menggelandang dihalau angin
telah menamatkan riwayat hidupnya yang teramat miskin
Cuma membawa catatan perjalanannya sekian lama
dalam buku nasib yang bulukan, menguning, dan bergelung sudutnya.
Biarkan saja, biar rumputan liar tumbuh tebal meriap
dalam curahan cahaya bulan biru yang dingin dan senyap.
Agar kelak sepasang kekasih dapat berbaring bermesraan di atasnya
atau seorang penyair datang duduk menulis membisikkan sajaknya.
PERNYATAAN TERAKHIR
Air sumur tiga ember bercampur kamper
dan bentangan kafan tak lebih dua meter
Mencuci dan membungkus sekujur sisa raga
Dari lumuran lumpur debu dunia
Agar kembali suci seperti dahulu
Sebelum kembali ke lubuk bumi yang menunggu
Tetapi jejak kenangan dalam dada
Dapatkah dihapus habis tak bertanda
Walau mata dikatupkan jemari ajal
Dan mulut disumpal tanah bergumpal
Rerumputan yang tumbuh dari bekas tubuhku
Akan meriap membelukar penuh rindu
Kembang yang ditanamkan akan merekah juga
Kelopaknya menyadap dunia penuh dahaga
NYANYIAN TERAKHIR
Kenangan hanya beban, harapan tinggal angan
Dan kini ia pilih menempuh kabut seorang diri
Walau dalam kembara kadang bersilang jalan
Masing insan datang dan pergi sendiri-sendiri
Dari kelam ke kelam, dari sepi ke sepi, tiada berteman
Samudera luas impian bertepi di tanah mati
SAJAK DALAM RANGKA MENYAMBUT DATANGNYA HUJAN PERTAMA (Dari Arsip sajak Lama)
MADAH HUJAN PERTAMA
selamat datang, hujan yang manis!
gempita nyanyianmu memeriahkan halaman rumahku petang ini,
engkau mengairi sumur dan sawah, mengaliri selokan dan saluran,
mengisi danau dan bendungan, memenuhi lembah dan padang
engkau mengilapkan atap-atap rumah dan pucuk-pucuk daun
hingga kembali cerlangnya, membersihkan bumi dari debu kotoran,
menjernihkan langit dari keruh karat, dan membasuh jiwa-jiwa
dari kusam dan noda
selamat datang, hujan yang jelita!
lubang-lubang perigi di kerak bumi bergerak membesar,
mulut-mulut bunga membuka, dan liang-liang pori di kulitku pun melebar
menyambut harum dinginmu yang lembut dan sejuk
setelah sekian lama haus dan hangus dibakar bara kemarau
kini lihatlah: hewan dan serangga, pohonan dan bunga-bunga,
saling merapat dan mengesekgesekkan badan mereka penuh sukacita
sementara para suami menggeser tubuhnya
lalu meraba dan menindih para istri dengan bahagia
semuanya mabuk oleh kemesraan sabdamu
selamat datang, hujan yang juwita!
seperti rusa gurun aku surup menyambut datangmu
menari berputar memekik dan bertempik
aku bahkan ingin menghambur ke jalanan dengan telanjang
membiarkan jari-jari kecilmu mencubiti sekujur tubuh
selamat datang utusan setia dari sang pencipta!
ternyata Ia belum berputus asa dari manusia! sebarkan berita baik ini!
tebarkan kabar suka cita ini! ke timur dan barat, ke selatan dan utara!
biar setiap rumput meliukliuk riang!
biar setiap kerikil terguncang dan bergelindingan gembira!
HAIKU DESEMBER 2003
langit kelam kelabu
namun hujan yang jatuh satu-satu
menenangkan geliat debu
LAGU MUSIM SEMI
nafas Tuhan menghembus dalam hutan hujan jatuh
berlarian tujuh hantu gigil mengaduh memanggil teduh
daun-daun di dahan pun terbangun dari jauh tidur kemarau
di hujung tahun huyung bertahan kini mereka semarak berkilau
DINGIN HUJAN ANGIN
Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa
Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba
Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada!
KEMARAU PANJANG
hujan turun malam-malam
ketika mata-mata pejam
dan semua telinga redam
bukan untuk para raja atau kawula
tetapi bagi sehelai rumput kering merana
yang mulut kecilnya tak putus terus mendoa
ya, hujan turun kala malam telah larut
dan insanpun terselamatkan dari jaring maut
bukan oleh malaikat, melainkan sehelai rumput
selamat datang, hujan yang manis!
gempita nyanyianmu memeriahkan halaman rumahku petang ini,
engkau mengairi sumur dan sawah, mengaliri selokan dan saluran,
mengisi danau dan bendungan, memenuhi lembah dan padang
engkau mengilapkan atap-atap rumah dan pucuk-pucuk daun
hingga kembali cerlangnya, membersihkan bumi dari debu kotoran,
menjernihkan langit dari keruh karat, dan membasuh jiwa-jiwa
dari kusam dan noda
selamat datang, hujan yang jelita!
lubang-lubang perigi di kerak bumi bergerak membesar,
mulut-mulut bunga membuka, dan liang-liang pori di kulitku pun melebar
menyambut harum dinginmu yang lembut dan sejuk
setelah sekian lama haus dan hangus dibakar bara kemarau
kini lihatlah: hewan dan serangga, pohonan dan bunga-bunga,
saling merapat dan mengesekgesekkan badan mereka penuh sukacita
sementara para suami menggeser tubuhnya
lalu meraba dan menindih para istri dengan bahagia
semuanya mabuk oleh kemesraan sabdamu
selamat datang, hujan yang juwita!
seperti rusa gurun aku surup menyambut datangmu
menari berputar memekik dan bertempik
aku bahkan ingin menghambur ke jalanan dengan telanjang
membiarkan jari-jari kecilmu mencubiti sekujur tubuh
selamat datang utusan setia dari sang pencipta!
ternyata Ia belum berputus asa dari manusia! sebarkan berita baik ini!
tebarkan kabar suka cita ini! ke timur dan barat, ke selatan dan utara!
biar setiap rumput meliukliuk riang!
biar setiap kerikil terguncang dan bergelindingan gembira!
HAIKU DESEMBER 2003
langit kelam kelabu
namun hujan yang jatuh satu-satu
menenangkan geliat debu
LAGU MUSIM SEMI
nafas Tuhan menghembus dalam hutan hujan jatuh
berlarian tujuh hantu gigil mengaduh memanggil teduh
daun-daun di dahan pun terbangun dari jauh tidur kemarau
di hujung tahun huyung bertahan kini mereka semarak berkilau
DINGIN HUJAN ANGIN
Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa
Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba
Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada!
KEMARAU PANJANG
hujan turun malam-malam
ketika mata-mata pejam
dan semua telinga redam
bukan untuk para raja atau kawula
tetapi bagi sehelai rumput kering merana
yang mulut kecilnya tak putus terus mendoa
ya, hujan turun kala malam telah larut
dan insanpun terselamatkan dari jaring maut
bukan oleh malaikat, melainkan sehelai rumput
Monday, November 20, 2006
SEORANG IBU MENJEMUR BAJU
-Terpantik oleh baris haiku jurnalis L. Yulianti (http://www.myfawwaz.multiply.com)
1/
Seorang ibu menjemur baju
Harum baunya
Diterjen baru
2/
Seorang ibu menjemur baju
Angin dan matahari
Turut membantu
3/
Seorang ibu menjemur baju
Si kecil bergulingan
Berlumur keringat debu
4/
Seorang ibu menjemur baju
Meski tahu akan kembali kusut kotor
Tak pernah marah jemu
5/
Seorang ibu menjemur baju
Sehelai setangannya sendiri
Tak kunjung kering dari air mata
1/
Seorang ibu menjemur baju
Harum baunya
Diterjen baru
2/
Seorang ibu menjemur baju
Angin dan matahari
Turut membantu
3/
Seorang ibu menjemur baju
Si kecil bergulingan
Berlumur keringat debu
4/
Seorang ibu menjemur baju
Meski tahu akan kembali kusut kotor
Tak pernah marah jemu
5/
Seorang ibu menjemur baju
Sehelai setangannya sendiri
Tak kunjung kering dari air mata
Sunday, November 19, 2006
SAJAK-SAJAK TERBARU, 2
POHON JAKARANDA
Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang hanya rangka
POKOK POHON ITU
Pokok pohon dari hutan itu
Terbaring kering dan kuyu
Sebagai sebatang kayu
Menanti datang waktu
Bangkit menjadi bangku
Setengah menantang berlagu
Setengah pula merayu
Manakah gergaji dan palu
Begitu ia seolah berseru
Kepada tukang tua itu
Tetapi sang tukang kayu
Hanya berdiri termangu lesu
Pesanan sekarang tak menentu
Juga hutang upah pada pembantu
Sudah ditangguh dua minggu
Dan tentang nasib si batang kayu
Teringat istrinya sedang menunggu
Hampir padam api di tungku
MENANGISLAH LANGIT
Menangislah langit
Sedih terlalu dalam
Begitu lama tersimpan
Jadi mengelam
Dalam bergumpal awan
Menangislah langit
Bahkan pohon flamboyan
Juga jakaranda dan akasia
Selalu meluruhkan bunga
Kala senja berlara hari
Menangislah langit
Menangislah
Biar bisa kusamarkan
Dalam gemuruh raungmu
Buraian bulir air mataku
TITIP PESAN
Bila engkau terlebih dulu
Sampai di sana, di kampung halaman
Yang lama, sampaikan salamku
Pada kerabat dan kenalan
Pesanku jangan saya dicemaskan
Meski bekal menipis dan hasil secuil hanya
Namun tawaku riang, langkahku ringan
Seperti iringan awan mega di cakrawala
Kadang memang tersuruk sesat di lebat belantara
Juga terjerumus jatuh di jurang dalam berbatu
Tetapi takut dan remuk hanya sebentar saja
Karena kutahu rumah lubuk siapa di sebalik itu
Perjalanan telah membawa ke berbagai negeri
Tetapi berangkat, singgah serta menetap diam
Semuanya semata bertempat di hati ini
Begitulah hikmah yang akhirnya kupaham
Tolong doakan selamat dan cepat sampai
Saya pun ingin segera bisa pulang
Kini pakaian badan ini kusut masai
Nanti ditinggal tanggal telanjang sisa tulang
KUATRIN MUSIM SEMI, 2
Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya
HEWAN TERLUKA
Apakah engkau sekarang berbahagia, sayang?
Panah yang kau arahkan padaku
Menancap tepat pada ceruk dada
Parah luka membuatku mabuk
Sepasang tandukku telah patah
Dalam demam panas kuerangkan namamu
Tetapi setiap pokok pohon dan rumpun rumput
Seperti berkeras menyamarkanmu
Siapa? Kami tak pernah tahu nama itu!
Di pelosok hutan mana kamu melihatnya?
Mengapa dahulu aku berlari ketika kau berseru: mari!
Berkedutan hulu nadi, merih menagih sembelih
Tuntaskan cintamu, Paduka
Biar lunas duka pada dadaku
Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang hanya rangka
POKOK POHON ITU
Pokok pohon dari hutan itu
Terbaring kering dan kuyu
Sebagai sebatang kayu
Menanti datang waktu
Bangkit menjadi bangku
Setengah menantang berlagu
Setengah pula merayu
Manakah gergaji dan palu
Begitu ia seolah berseru
Kepada tukang tua itu
Tetapi sang tukang kayu
Hanya berdiri termangu lesu
Pesanan sekarang tak menentu
Juga hutang upah pada pembantu
Sudah ditangguh dua minggu
Dan tentang nasib si batang kayu
Teringat istrinya sedang menunggu
Hampir padam api di tungku
MENANGISLAH LANGIT
Menangislah langit
Sedih terlalu dalam
Begitu lama tersimpan
Jadi mengelam
Dalam bergumpal awan
Menangislah langit
Bahkan pohon flamboyan
Juga jakaranda dan akasia
Selalu meluruhkan bunga
Kala senja berlara hari
Menangislah langit
Menangislah
Biar bisa kusamarkan
Dalam gemuruh raungmu
Buraian bulir air mataku
TITIP PESAN
Bila engkau terlebih dulu
Sampai di sana, di kampung halaman
Yang lama, sampaikan salamku
Pada kerabat dan kenalan
Pesanku jangan saya dicemaskan
Meski bekal menipis dan hasil secuil hanya
Namun tawaku riang, langkahku ringan
Seperti iringan awan mega di cakrawala
Kadang memang tersuruk sesat di lebat belantara
Juga terjerumus jatuh di jurang dalam berbatu
Tetapi takut dan remuk hanya sebentar saja
Karena kutahu rumah lubuk siapa di sebalik itu
Perjalanan telah membawa ke berbagai negeri
Tetapi berangkat, singgah serta menetap diam
Semuanya semata bertempat di hati ini
Begitulah hikmah yang akhirnya kupaham
Tolong doakan selamat dan cepat sampai
Saya pun ingin segera bisa pulang
Kini pakaian badan ini kusut masai
Nanti ditinggal tanggal telanjang sisa tulang
KUATRIN MUSIM SEMI, 2
Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya
HEWAN TERLUKA
Apakah engkau sekarang berbahagia, sayang?
Panah yang kau arahkan padaku
Menancap tepat pada ceruk dada
Parah luka membuatku mabuk
Sepasang tandukku telah patah
Dalam demam panas kuerangkan namamu
Tetapi setiap pokok pohon dan rumpun rumput
Seperti berkeras menyamarkanmu
Siapa? Kami tak pernah tahu nama itu!
Di pelosok hutan mana kamu melihatnya?
Mengapa dahulu aku berlari ketika kau berseru: mari!
Berkedutan hulu nadi, merih menagih sembelih
Tuntaskan cintamu, Paduka
Biar lunas duka pada dadaku
Saturday, November 11, 2006
SAJAK-SAJAK TERBARU
PRACTICAL GUIDE ON HOW TO LOVE YOUR BELOVEDS MORE AND MORE FROM DAY TO DAY AND GETTING HAPPIER
Tataplah dengan lebih mesra
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menatap mereka
Dengan jauh lebih mesra
Sedangkan mereka telah tiada
Sapalah dengan lebih hangat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menyapa mereka
Dengan jauh lebih hangat
Sedangkan mereka telah tiada
Dekaplah dengan lebih erat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin mendekap mereka
Dengan jauh lebih erat
Sedangkan mereka telah tiada
Cintailah mereka yang kau kasihi
Dengan cinta yang lebih besar
Dari hari ke hari
Sebelum tiba masa
Cinta sebesar apapun
Seolah tiada berarti lagi
KUATRIN KEMBARA
Ah, di bawah langit yang lain ini
Bahkan angin dan bulan
Berbeda dingin serta bulatnya
Dengan angin bulan kotaku!
AFTERGLOW, 2
Selepas hempas nafsu
Selewat lesat hasrat itu
Masih adakah lagi yang bisa
Diharap tersisa
Tinggal sepenggal pegal di pinggul
Seleret lesi dan lesu, menyusul
Hembus nafas yang bisu
Dan tatap kuyu
Suaramu samar memanggil, terdengar janggal
Seolah pernah kukenal
Bahkan wajahmu pun kian maya
menghambur kabur dalam udara
Tak terusut
Di pelupukku yang susut
Perlahan tenggelam, membuta
Diliput kabut gulita
Jalas, aku tak mungkin berharap
Engkau akan masih tetap
Berbelas dengan gelas kopi di tangan
Kelak, jika aku memilih bangun
PERCAKAPAN SEPELE
Permisi, Tuan
Hari apakah kini
Kamis
Anda yakin?
Hmm, sebenarnya tidak juga
Tergantung dari hari yang mana
Anda sebut sebagai Senin
Ah, ya!
Terima kasih
Telah mengingatkan saya
SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna mengeluh
Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?
MALAM SEBELUM PERPISAHAN
Tiga belas gelas kesedihan yang murni
Telah tandas kuteguk, namun tak juga mabuk
Esok pagi tujuh lautan akan memisahkan kami
Tak ingin kukehilangan wajahnya, biar sejenguk
NYANYIAN BERPUAS HATI
Telah sempat kukecap segala lezat nikmat yang mungkin
Dan kini, terhadap dunia yang ini, kehilangan ingin
Secuilpun tak memberi puas, kutinggal bagai ampas
Biarlah tersisa bagi mereka yang terus merasa miskin
Kupilih buku sajak lalu membaca hingga terlelap pulas
Di bawah guguran bunga Flamboyan yang makin menderas
Malam aku terbangun, purnama telah sempurna
Tataplah dengan lebih mesra
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menatap mereka
Dengan jauh lebih mesra
Sedangkan mereka telah tiada
Sapalah dengan lebih hangat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menyapa mereka
Dengan jauh lebih hangat
Sedangkan mereka telah tiada
Dekaplah dengan lebih erat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin mendekap mereka
Dengan jauh lebih erat
Sedangkan mereka telah tiada
Cintailah mereka yang kau kasihi
Dengan cinta yang lebih besar
Dari hari ke hari
Sebelum tiba masa
Cinta sebesar apapun
Seolah tiada berarti lagi
KUATRIN KEMBARA
Ah, di bawah langit yang lain ini
Bahkan angin dan bulan
Berbeda dingin serta bulatnya
Dengan angin bulan kotaku!
AFTERGLOW, 2
Selepas hempas nafsu
Selewat lesat hasrat itu
Masih adakah lagi yang bisa
Diharap tersisa
Tinggal sepenggal pegal di pinggul
Seleret lesi dan lesu, menyusul
Hembus nafas yang bisu
Dan tatap kuyu
Suaramu samar memanggil, terdengar janggal
Seolah pernah kukenal
Bahkan wajahmu pun kian maya
menghambur kabur dalam udara
Tak terusut
Di pelupukku yang susut
Perlahan tenggelam, membuta
Diliput kabut gulita
Jalas, aku tak mungkin berharap
Engkau akan masih tetap
Berbelas dengan gelas kopi di tangan
Kelak, jika aku memilih bangun
PERCAKAPAN SEPELE
Permisi, Tuan
Hari apakah kini
Kamis
Anda yakin?
Hmm, sebenarnya tidak juga
Tergantung dari hari yang mana
Anda sebut sebagai Senin
Ah, ya!
Terima kasih
Telah mengingatkan saya
SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna mengeluh
Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?
MALAM SEBELUM PERPISAHAN
Tiga belas gelas kesedihan yang murni
Telah tandas kuteguk, namun tak juga mabuk
Esok pagi tujuh lautan akan memisahkan kami
Tak ingin kukehilangan wajahnya, biar sejenguk
NYANYIAN BERPUAS HATI
Telah sempat kukecap segala lezat nikmat yang mungkin
Dan kini, terhadap dunia yang ini, kehilangan ingin
Secuilpun tak memberi puas, kutinggal bagai ampas
Biarlah tersisa bagi mereka yang terus merasa miskin
Kupilih buku sajak lalu membaca hingga terlelap pulas
Di bawah guguran bunga Flamboyan yang makin menderas
Malam aku terbangun, purnama telah sempurna
Thursday, November 09, 2006
KUATRIN MUSIM PANAS
Terik matahari menaik 40 derajat di atas nol;
Gelegak kepala bak tong anggur ngandung alkohol.
Pohonan di kejauhan membayang senyap seolah maya;
Bahkan mereka pun mohon menguap lenyap ke udara!
Gelegak kepala bak tong anggur ngandung alkohol.
Pohonan di kejauhan membayang senyap seolah maya;
Bahkan mereka pun mohon menguap lenyap ke udara!
BUNGA-BUNGA DESI
Bunga-bunga Desi telah bersemi seperti dari mimpi.
Di halaman belakang, tumbuh mereka dalam kabut pagi
yang kini tak begitu tebal lagi,
tak begitu tebal lagi.
Kelopak-kelopak kuning nampak mengambang berkembangan.
Bagai sayap kupu, mengepak perlahan
siap menari lepas beterbangan,
lepas beterbangan.
Di halaman belakang, tumbuh mereka dalam kabut pagi
yang kini tak begitu tebal lagi,
tak begitu tebal lagi.
Kelopak-kelopak kuning nampak mengambang berkembangan.
Bagai sayap kupu, mengepak perlahan
siap menari lepas beterbangan,
lepas beterbangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Materi promosi
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...
-
ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu tak henti-hentinya kupuja. Ketika musim hujan deras ...
-
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...