-Terpantik oleh baris haiku jurnalis L. Yulianti (http://www.myfawwaz.multiply.com)
1/
Seorang ibu menjemur baju
Harum baunya
Diterjen baru
2/
Seorang ibu menjemur baju
Angin dan matahari
Turut membantu
3/
Seorang ibu menjemur baju
Si kecil bergulingan
Berlumur keringat debu
4/
Seorang ibu menjemur baju
Meski tahu akan kembali kusut kotor
Tak pernah marah jemu
5/
Seorang ibu menjemur baju
Sehelai setangannya sendiri
Tak kunjung kering dari air mata
.....yang hadir mengisi di antara dua kesunyian--kelahiran dan kematian..... (An Indonesian poems corner ; the poet : Hendragunawan)
Monday, November 20, 2006
Sunday, November 19, 2006
SAJAK-SAJAK TERBARU, 2
POHON JAKARANDA
Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang hanya rangka
POKOK POHON ITU
Pokok pohon dari hutan itu
Terbaring kering dan kuyu
Sebagai sebatang kayu
Menanti datang waktu
Bangkit menjadi bangku
Setengah menantang berlagu
Setengah pula merayu
Manakah gergaji dan palu
Begitu ia seolah berseru
Kepada tukang tua itu
Tetapi sang tukang kayu
Hanya berdiri termangu lesu
Pesanan sekarang tak menentu
Juga hutang upah pada pembantu
Sudah ditangguh dua minggu
Dan tentang nasib si batang kayu
Teringat istrinya sedang menunggu
Hampir padam api di tungku
MENANGISLAH LANGIT
Menangislah langit
Sedih terlalu dalam
Begitu lama tersimpan
Jadi mengelam
Dalam bergumpal awan
Menangislah langit
Bahkan pohon flamboyan
Juga jakaranda dan akasia
Selalu meluruhkan bunga
Kala senja berlara hari
Menangislah langit
Menangislah
Biar bisa kusamarkan
Dalam gemuruh raungmu
Buraian bulir air mataku
TITIP PESAN
Bila engkau terlebih dulu
Sampai di sana, di kampung halaman
Yang lama, sampaikan salamku
Pada kerabat dan kenalan
Pesanku jangan saya dicemaskan
Meski bekal menipis dan hasil secuil hanya
Namun tawaku riang, langkahku ringan
Seperti iringan awan mega di cakrawala
Kadang memang tersuruk sesat di lebat belantara
Juga terjerumus jatuh di jurang dalam berbatu
Tetapi takut dan remuk hanya sebentar saja
Karena kutahu rumah lubuk siapa di sebalik itu
Perjalanan telah membawa ke berbagai negeri
Tetapi berangkat, singgah serta menetap diam
Semuanya semata bertempat di hati ini
Begitulah hikmah yang akhirnya kupaham
Tolong doakan selamat dan cepat sampai
Saya pun ingin segera bisa pulang
Kini pakaian badan ini kusut masai
Nanti ditinggal tanggal telanjang sisa tulang
KUATRIN MUSIM SEMI, 2
Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya
HEWAN TERLUKA
Apakah engkau sekarang berbahagia, sayang?
Panah yang kau arahkan padaku
Menancap tepat pada ceruk dada
Parah luka membuatku mabuk
Sepasang tandukku telah patah
Dalam demam panas kuerangkan namamu
Tetapi setiap pokok pohon dan rumpun rumput
Seperti berkeras menyamarkanmu
Siapa? Kami tak pernah tahu nama itu!
Di pelosok hutan mana kamu melihatnya?
Mengapa dahulu aku berlari ketika kau berseru: mari!
Berkedutan hulu nadi, merih menagih sembelih
Tuntaskan cintamu, Paduka
Biar lunas duka pada dadaku
Pohon Jakaranda kini ungu berbunga
Tandanya musim semi telah tiba
Sekarang ia berseri penuh bangga
Kemarin telanjang hanya rangka
POKOK POHON ITU
Pokok pohon dari hutan itu
Terbaring kering dan kuyu
Sebagai sebatang kayu
Menanti datang waktu
Bangkit menjadi bangku
Setengah menantang berlagu
Setengah pula merayu
Manakah gergaji dan palu
Begitu ia seolah berseru
Kepada tukang tua itu
Tetapi sang tukang kayu
Hanya berdiri termangu lesu
Pesanan sekarang tak menentu
Juga hutang upah pada pembantu
Sudah ditangguh dua minggu
Dan tentang nasib si batang kayu
Teringat istrinya sedang menunggu
Hampir padam api di tungku
MENANGISLAH LANGIT
Menangislah langit
Sedih terlalu dalam
Begitu lama tersimpan
Jadi mengelam
Dalam bergumpal awan
Menangislah langit
Bahkan pohon flamboyan
Juga jakaranda dan akasia
Selalu meluruhkan bunga
Kala senja berlara hari
Menangislah langit
Menangislah
Biar bisa kusamarkan
Dalam gemuruh raungmu
Buraian bulir air mataku
TITIP PESAN
Bila engkau terlebih dulu
Sampai di sana, di kampung halaman
Yang lama, sampaikan salamku
Pada kerabat dan kenalan
Pesanku jangan saya dicemaskan
Meski bekal menipis dan hasil secuil hanya
Namun tawaku riang, langkahku ringan
Seperti iringan awan mega di cakrawala
Kadang memang tersuruk sesat di lebat belantara
Juga terjerumus jatuh di jurang dalam berbatu
Tetapi takut dan remuk hanya sebentar saja
Karena kutahu rumah lubuk siapa di sebalik itu
Perjalanan telah membawa ke berbagai negeri
Tetapi berangkat, singgah serta menetap diam
Semuanya semata bertempat di hati ini
Begitulah hikmah yang akhirnya kupaham
Tolong doakan selamat dan cepat sampai
Saya pun ingin segera bisa pulang
Kini pakaian badan ini kusut masai
Nanti ditinggal tanggal telanjang sisa tulang
KUATRIN MUSIM SEMI, 2
Betapa perkasa sang surya
Bertahta penuh kuasa memaksa
Mengerang tertahan bunga-bunga
Kelopak mereka rekah dikelupak cahaya
HEWAN TERLUKA
Apakah engkau sekarang berbahagia, sayang?
Panah yang kau arahkan padaku
Menancap tepat pada ceruk dada
Parah luka membuatku mabuk
Sepasang tandukku telah patah
Dalam demam panas kuerangkan namamu
Tetapi setiap pokok pohon dan rumpun rumput
Seperti berkeras menyamarkanmu
Siapa? Kami tak pernah tahu nama itu!
Di pelosok hutan mana kamu melihatnya?
Mengapa dahulu aku berlari ketika kau berseru: mari!
Berkedutan hulu nadi, merih menagih sembelih
Tuntaskan cintamu, Paduka
Biar lunas duka pada dadaku
Saturday, November 11, 2006
SAJAK-SAJAK TERBARU
PRACTICAL GUIDE ON HOW TO LOVE YOUR BELOVEDS MORE AND MORE FROM DAY TO DAY AND GETTING HAPPIER
Tataplah dengan lebih mesra
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menatap mereka
Dengan jauh lebih mesra
Sedangkan mereka telah tiada
Sapalah dengan lebih hangat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menyapa mereka
Dengan jauh lebih hangat
Sedangkan mereka telah tiada
Dekaplah dengan lebih erat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin mendekap mereka
Dengan jauh lebih erat
Sedangkan mereka telah tiada
Cintailah mereka yang kau kasihi
Dengan cinta yang lebih besar
Dari hari ke hari
Sebelum tiba masa
Cinta sebesar apapun
Seolah tiada berarti lagi
KUATRIN KEMBARA
Ah, di bawah langit yang lain ini
Bahkan angin dan bulan
Berbeda dingin serta bulatnya
Dengan angin bulan kotaku!
AFTERGLOW, 2
Selepas hempas nafsu
Selewat lesat hasrat itu
Masih adakah lagi yang bisa
Diharap tersisa
Tinggal sepenggal pegal di pinggul
Seleret lesi dan lesu, menyusul
Hembus nafas yang bisu
Dan tatap kuyu
Suaramu samar memanggil, terdengar janggal
Seolah pernah kukenal
Bahkan wajahmu pun kian maya
menghambur kabur dalam udara
Tak terusut
Di pelupukku yang susut
Perlahan tenggelam, membuta
Diliput kabut gulita
Jalas, aku tak mungkin berharap
Engkau akan masih tetap
Berbelas dengan gelas kopi di tangan
Kelak, jika aku memilih bangun
PERCAKAPAN SEPELE
Permisi, Tuan
Hari apakah kini
Kamis
Anda yakin?
Hmm, sebenarnya tidak juga
Tergantung dari hari yang mana
Anda sebut sebagai Senin
Ah, ya!
Terima kasih
Telah mengingatkan saya
SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna mengeluh
Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?
MALAM SEBELUM PERPISAHAN
Tiga belas gelas kesedihan yang murni
Telah tandas kuteguk, namun tak juga mabuk
Esok pagi tujuh lautan akan memisahkan kami
Tak ingin kukehilangan wajahnya, biar sejenguk
NYANYIAN BERPUAS HATI
Telah sempat kukecap segala lezat nikmat yang mungkin
Dan kini, terhadap dunia yang ini, kehilangan ingin
Secuilpun tak memberi puas, kutinggal bagai ampas
Biarlah tersisa bagi mereka yang terus merasa miskin
Kupilih buku sajak lalu membaca hingga terlelap pulas
Di bawah guguran bunga Flamboyan yang makin menderas
Malam aku terbangun, purnama telah sempurna
Tataplah dengan lebih mesra
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menatap mereka
Dengan jauh lebih mesra
Sedangkan mereka telah tiada
Sapalah dengan lebih hangat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin menyapa mereka
Dengan jauh lebih hangat
Sedangkan mereka telah tiada
Dekaplah dengan lebih erat
Mereka yang kau kasihi
Karena akan tiba masa
Kau ingin mendekap mereka
Dengan jauh lebih erat
Sedangkan mereka telah tiada
Cintailah mereka yang kau kasihi
Dengan cinta yang lebih besar
Dari hari ke hari
Sebelum tiba masa
Cinta sebesar apapun
Seolah tiada berarti lagi
KUATRIN KEMBARA
Ah, di bawah langit yang lain ini
Bahkan angin dan bulan
Berbeda dingin serta bulatnya
Dengan angin bulan kotaku!
AFTERGLOW, 2
Selepas hempas nafsu
Selewat lesat hasrat itu
Masih adakah lagi yang bisa
Diharap tersisa
Tinggal sepenggal pegal di pinggul
Seleret lesi dan lesu, menyusul
Hembus nafas yang bisu
Dan tatap kuyu
Suaramu samar memanggil, terdengar janggal
Seolah pernah kukenal
Bahkan wajahmu pun kian maya
menghambur kabur dalam udara
Tak terusut
Di pelupukku yang susut
Perlahan tenggelam, membuta
Diliput kabut gulita
Jalas, aku tak mungkin berharap
Engkau akan masih tetap
Berbelas dengan gelas kopi di tangan
Kelak, jika aku memilih bangun
PERCAKAPAN SEPELE
Permisi, Tuan
Hari apakah kini
Kamis
Anda yakin?
Hmm, sebenarnya tidak juga
Tergantung dari hari yang mana
Anda sebut sebagai Senin
Ah, ya!
Terima kasih
Telah mengingatkan saya
SEORANG TUA DI MALAM TAHUN BARU
Tubuhku menambun, rambutku beruban
Mataku rabun, geligi belulangku rapuh
Di luar sana, parade tahun baru riuh bersahutan
Tak kuasa lelap, tiada guna mengeluh
Anak mantu cucu nanti pulang jelang pagi
Di sebelah, hidangan dan susu tak tersentuh
Berapa puluh purnama berulang lagi
Hidup ini harus kutempuh?
MALAM SEBELUM PERPISAHAN
Tiga belas gelas kesedihan yang murni
Telah tandas kuteguk, namun tak juga mabuk
Esok pagi tujuh lautan akan memisahkan kami
Tak ingin kukehilangan wajahnya, biar sejenguk
NYANYIAN BERPUAS HATI
Telah sempat kukecap segala lezat nikmat yang mungkin
Dan kini, terhadap dunia yang ini, kehilangan ingin
Secuilpun tak memberi puas, kutinggal bagai ampas
Biarlah tersisa bagi mereka yang terus merasa miskin
Kupilih buku sajak lalu membaca hingga terlelap pulas
Di bawah guguran bunga Flamboyan yang makin menderas
Malam aku terbangun, purnama telah sempurna
Thursday, November 09, 2006
KUATRIN MUSIM PANAS
Terik matahari menaik 40 derajat di atas nol;
Gelegak kepala bak tong anggur ngandung alkohol.
Pohonan di kejauhan membayang senyap seolah maya;
Bahkan mereka pun mohon menguap lenyap ke udara!
Gelegak kepala bak tong anggur ngandung alkohol.
Pohonan di kejauhan membayang senyap seolah maya;
Bahkan mereka pun mohon menguap lenyap ke udara!
BUNGA-BUNGA DESI
Bunga-bunga Desi telah bersemi seperti dari mimpi.
Di halaman belakang, tumbuh mereka dalam kabut pagi
yang kini tak begitu tebal lagi,
tak begitu tebal lagi.
Kelopak-kelopak kuning nampak mengambang berkembangan.
Bagai sayap kupu, mengepak perlahan
siap menari lepas beterbangan,
lepas beterbangan.
Di halaman belakang, tumbuh mereka dalam kabut pagi
yang kini tak begitu tebal lagi,
tak begitu tebal lagi.
Kelopak-kelopak kuning nampak mengambang berkembangan.
Bagai sayap kupu, mengepak perlahan
siap menari lepas beterbangan,
lepas beterbangan.
Tuesday, November 07, 2006
MEDITASI DALAM AKSI (Dari arsip sajak lama)
NYANYIAN SI PENIDUR
Kilat yang menyayatkan ketakutan
Dan menorehkan harapan,
Angin yang berhembus membawa kabar
Dan membuat benih tersebar,
Air yang tercurah membawa kehidupan
Dan membersihkan noda kotoran,
Kutampung semuanya, kurengkuh lengkap
Dalam tidur yang dalam dan lelap
Ketika raga yang rapuh fana terbujur tinggal
ruh kembali luruh ke dalam genggaman Yang Tunggal
Indra telah disenyapkan, kesadaran insan dilenyapkan,
Pengalaman dan pengamatan pun terendapkan
Diri menjelma sehelai daun melayang dihembus angin,
Jadi batang kayu mengambang hanyut di arus sungai
Maka dadapun terbuka menjelma lembah
Terhampar menerima rahmat yang tercurah
Langit menyentuh bumi dengan perlahan mesra
Menumbuhkan bunga dan buah beraneka rupa
Karena hujan yang melantunkan mantera mistis
Telah menghanyutkanku menyatu dengan gelombang kosmis
MEDITASI BERJALAN KAKI
Kesadaran insan adalah badai puting beliung
Yang berputar berpusing menghisap sekeliling
Maka untuk menemukan diri yang hakiki
Aku menempuh kota sendirian berjalan kaki
Dengan berjalan kaki kuselami samudera semesta
Dalam senyap meditasi di tengah gegap suasana
Khusuk kualami alam yang mengitari
Untuk memilah memilih mana sampah mana sejati
Kubedah kesadaran yang telah hitam menggelembung
Dengan pisau perhatian yang tajam mengacung
Kemudian kukembalikan segalanya kepada yang berhak
Kuserahkan suara kepada irama, irama kepada gerak,
Gerak kepada daya, daya kepada kehendak saya
Kuserahkan pula warna kepada cahaya, cahaya kepada surya
Hingga yang tersisa hanyalah telapak yang menjejak tanah
Dengan otot yang berkelojot, nadi yang mengompa darah
Namun masih juga kucincang otot-otot, kurajang nadi-nadi
Lalu keselisik setiap sel tubuh dengan hati-hati
Hingga kutemukan ia dalam kesempurnaan hening :
Diri yang diam bersemayam di pusat kening
Namun sebelum sempat kupersembahkan salam
Bagai dewa yang sekejap menjelma, ia keburu silam
Tetapi badai yang berpilin sekarang telah usai berakhir
Tinggal aku yang berjalan tenang bagai angin semilir
PERHATIAN PENUH
Perhatikan dengan
tenang dan sayang
setan mungil di nadi
anjing kecil yang terus berliur
api reda yang seketika dapat melunjak
gelombang yang membubung
hanya untuk jadi buih di ujung pantai.
Perhatikan dengan
tenang dan sayang
seperti maling yang tertegun malu
saat melihat bayang diri di cermin
begitu juga nafsu perlahan padam
saat disadari dan dipandangi
dengan tenang dan sayang.
TUNTUNAN IBADAH MAKAN
Sebelum mulai makan
sebutkan dahulu Nama Tuhan.
Karena makan bukan untuk hidup semata
ia ritual yang sakral dan teramat mulia.
Di hadapan kita selain tersaji ikan ayam dan sayuran
juga ikut terhidang cacing yang dimakan ayam dan bebatuan.
Dunia mineral, tumbuhan, dan hewan melata,
menanti saat pembebasan dan kelahiran kembali mereka.
Perhatikan dulu apa-apa yang kau makan
perhatikan juga bagaimana ia kau dapatkan.
Lalu duduklah sopan tunduk khidmat tanpa bicara
segala yang dimakan akan turut membangun raga.
Santaplah yang halal baik tiada berlebihan
karena semua itu akan ikut menyusun kesadaran.
Apa-apa saja yang kau santap di meja
akan terangkat derajatnya jadi manusia.
Ya, betapa agung hakekat makan
ia ucapan syukur dan ibadah sembahyang kehidupan
Lebih daripada untuk menyambung nyawa,
ia lestarikan putaran roda eksistensi ciptaanNya.
Sesudahnya jangan lupa ucapkan
puji bagi Pemilik Semesta Kenyataan
di dalam perutmu, penuh riang-haru mereka
juga khusyuk bersyukur memujaNya.
Kilat yang menyayatkan ketakutan
Dan menorehkan harapan,
Angin yang berhembus membawa kabar
Dan membuat benih tersebar,
Air yang tercurah membawa kehidupan
Dan membersihkan noda kotoran,
Kutampung semuanya, kurengkuh lengkap
Dalam tidur yang dalam dan lelap
Ketika raga yang rapuh fana terbujur tinggal
ruh kembali luruh ke dalam genggaman Yang Tunggal
Indra telah disenyapkan, kesadaran insan dilenyapkan,
Pengalaman dan pengamatan pun terendapkan
Diri menjelma sehelai daun melayang dihembus angin,
Jadi batang kayu mengambang hanyut di arus sungai
Maka dadapun terbuka menjelma lembah
Terhampar menerima rahmat yang tercurah
Langit menyentuh bumi dengan perlahan mesra
Menumbuhkan bunga dan buah beraneka rupa
Karena hujan yang melantunkan mantera mistis
Telah menghanyutkanku menyatu dengan gelombang kosmis
MEDITASI BERJALAN KAKI
Kesadaran insan adalah badai puting beliung
Yang berputar berpusing menghisap sekeliling
Maka untuk menemukan diri yang hakiki
Aku menempuh kota sendirian berjalan kaki
Dengan berjalan kaki kuselami samudera semesta
Dalam senyap meditasi di tengah gegap suasana
Khusuk kualami alam yang mengitari
Untuk memilah memilih mana sampah mana sejati
Kubedah kesadaran yang telah hitam menggelembung
Dengan pisau perhatian yang tajam mengacung
Kemudian kukembalikan segalanya kepada yang berhak
Kuserahkan suara kepada irama, irama kepada gerak,
Gerak kepada daya, daya kepada kehendak saya
Kuserahkan pula warna kepada cahaya, cahaya kepada surya
Hingga yang tersisa hanyalah telapak yang menjejak tanah
Dengan otot yang berkelojot, nadi yang mengompa darah
Namun masih juga kucincang otot-otot, kurajang nadi-nadi
Lalu keselisik setiap sel tubuh dengan hati-hati
Hingga kutemukan ia dalam kesempurnaan hening :
Diri yang diam bersemayam di pusat kening
Namun sebelum sempat kupersembahkan salam
Bagai dewa yang sekejap menjelma, ia keburu silam
Tetapi badai yang berpilin sekarang telah usai berakhir
Tinggal aku yang berjalan tenang bagai angin semilir
PERHATIAN PENUH
Perhatikan dengan
tenang dan sayang
setan mungil di nadi
anjing kecil yang terus berliur
api reda yang seketika dapat melunjak
gelombang yang membubung
hanya untuk jadi buih di ujung pantai.
Perhatikan dengan
tenang dan sayang
seperti maling yang tertegun malu
saat melihat bayang diri di cermin
begitu juga nafsu perlahan padam
saat disadari dan dipandangi
dengan tenang dan sayang.
TUNTUNAN IBADAH MAKAN
Sebelum mulai makan
sebutkan dahulu Nama Tuhan.
Karena makan bukan untuk hidup semata
ia ritual yang sakral dan teramat mulia.
Di hadapan kita selain tersaji ikan ayam dan sayuran
juga ikut terhidang cacing yang dimakan ayam dan bebatuan.
Dunia mineral, tumbuhan, dan hewan melata,
menanti saat pembebasan dan kelahiran kembali mereka.
Perhatikan dulu apa-apa yang kau makan
perhatikan juga bagaimana ia kau dapatkan.
Lalu duduklah sopan tunduk khidmat tanpa bicara
segala yang dimakan akan turut membangun raga.
Santaplah yang halal baik tiada berlebihan
karena semua itu akan ikut menyusun kesadaran.
Apa-apa saja yang kau santap di meja
akan terangkat derajatnya jadi manusia.
Ya, betapa agung hakekat makan
ia ucapan syukur dan ibadah sembahyang kehidupan
Lebih daripada untuk menyambung nyawa,
ia lestarikan putaran roda eksistensi ciptaanNya.
Sesudahnya jangan lupa ucapkan
puji bagi Pemilik Semesta Kenyataan
di dalam perutmu, penuh riang-haru mereka
juga khusyuk bersyukur memujaNya.
SERUMPUN SAJAK TENTANG SEJUMLAH PEREMPUAN (Dari arsip sajak lama)
PEREMPUAN
1.
Beri aku cermin kaca yang rata tak retak
atau telaga bening yang tenang airnya
atau genangan embun di telapak tangan bunga
atau bundar bola mata dara yang berbinar berpendaran
: untuk meyakinkan diri
bahwa aku memang nyata ada.
2.
Ketika pertama aku mendengar lembut suaramu menyapa
dan menatap teduh wajahmu bagai telaga kaca kala senja,
aku merasa ruh kita telah lama bersitatap sebelumnya
sejak dahulu kala, berjuta-juta tahun lamanya.
3.
Jangan pejamkan matamu sepanjang malam,
tetaplah menatapku agar aku senantiasa jaga.
Jangan pula berpaling muka begitu kejam,
pada telaga di matamu, biarkan aku berkaca.
4.
Menyimak wajahmu
bagai mengeja sebuah sajak
: senantiasa ada yang tak tergapai,
selalu ada yang tak selesai.
5.
Perempuan,
sekuntum maut putih
terselip di harum hitam rambutmu,
izinkan aku menciumnya !
ODE KEPADA TUBUH PEREMPUAN
Perempuan,
karena tubuhmu yang penuh
dan berkilatan oleh sepuhan kencana itu
memancarkan sinar cahaya
yang kemilaunya betapa menyilaukan mata,
maka
kutundukkan pandanganku.
Tubuhmu
adalah rahmat yang keramat.
Ia adalah rumah
bagi Nafas Tuhan.
Sucikan
dan muliakan Ia.
Tuhan
telah menciptakannya sendiri
sarat dengan pesona dan misteri.
Seluruh halus lekuknya
adalah sentuhan kelembutan Jemari Suci
WajahNya yang mulia tersenyum
tanganNya yang perkasa gemetar,
dan dadaNya gemuruh berdebar,
ketika membentukmu
di tengah Taman Kudus Surgawi.
Bahkan ia telah rela
meletakkan surgaNya
di bawah telapak kakimu.
Pelihara dan rahasiakan ia.
Ingatlah selalu,
tubuhmu yang jelita itu
telah jadi pelita bagi Adam dahulu
ketika ia tersuruk meraba-raba
dalam kelam gulita,
membangkitkan semangatnya
menempuh Padang Arafah
menuju Jabal Rahmah •)
Jangan biarkan ia
dijamah oleh cemar noda.
Betapa mahal dan sakral ia,
jangan kau jual dan rendahkan
sebagai barang obralan.
Jangan begitu gampang kau pajang ia
di trotoar sepanjang jalan,
di kebyar papan-papan iklan,
di lembar-lembar koran,
dan di layar televisi.
Tuhan terlalu cemburu
dan begitu menyayangimu.
Ia akan marah
bila hasil karyanya yang terindah
diperlakukan murah
dan serampangan.
Maka sucikan
dan muliakan Ia
dalam rahasia.
VANIA
Bagaikan semburat merah
pada buah apel yang ranum
bagaikan semburat merah
pada kuntum anggrek yang rekah
dan bagai semburat merah
pada wajah cakrawala senja
begitulah pula semburat merah
yang merebak di wajahnya setiap tertawa
karena guratan darah kehidupan menyembur deras
mengaliri seluruh urat pembuluh di paras gadingnya
ia, perempuan sutra, lemas dan lembut
namun kuasa mengusap tajam wajah pedang
perempuan sutra, halus dan gemulai
namun mampu meliuk menari dalam badai
seperti porselin ia
dalam keagungan rahasia, tegak diam sendiri
nampak rapuh hampa
namun telah ditempa dalam tungku api
dan sungguh penuh terisi ia
oleh padat kerasnya sunyi
SYAIR PUJAAN KEPADA KEINDAHAN
alangkah indahnya
senyum merekah merah
yang kelak terkatup membiru
dan murung melengkung pilu
alangkah indahnya
dendang merdu gelak tawa
yang kelak senyap bisu
tinggal angin meraung sendu
alangkah indahnya
pandang bening bola mata
yang kelak muram terpejam kelopaknya
dan tergulir jatuh tinggal rongga hampa
alangkah indahnya
tubuh semampai melenggang gemulai
yang kelak layu tumbang terkulai
lalu amis membangkai
alangkah indahnya
rambut hitam tebal tergerai
yang kelak putih kusam
dan kusut terburai
alangkah indahnya
kulit halus mulus kencang
yang kelak mengerut mengendur
lalu terkelupas berlepasan
alangkah indahnya
padat sintal daging
yang kelak leleh terurai
dirubung beribu belatung
alangkah indahnya
hangat gelegak darah
yang kelak surut
kering disadap bumi
alangkah indahnya
kukuh tegak tulang belulang
yang kelak luruh lungkrah
berserakan ditimpa sinar bulan
alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya
ENIGMA
Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Senantiasa nampak anggun pantas serta sempurna
Melihatnya pertama pasti tersentak oleh pesona
Begitu ramah ia bergaul, begitu luwes bertingkah
Di tengah gerumbul mawar ia termerah dan terindah
Namun di balik senyuman yang terbentuk ceria
Ada rapi tersimpan setumpuk rahasia
Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Samudera menyimpan pusaran dalam di lubuknya
Gunung mengandung bara magma pada lambungnya
KEPADA PEREMPUAN DENGAN LENGAN BERAJAH
kau tak pernah cerita
dan tiada kudengar berita
tetapi dari jerit mata
kutahu kau menderita
rambutmu adalah belukar
kulitmu sabana terbakar
sukmamu ringkik kuda liar
memekik luka sebelum terkapar
wahai, perempuan dengan lengan berajah
mari, biar kukatupkan dadamu terbelah
dan kukucup lukamu yang bernanah
hingga kuncuplah matamu yang marah
janganlah menampik sangat
jika kuminta sekedar nomor alamat
tak kau inginkankah ada yang sempat tercatat
dari kelumit percintaan kita yang gawat
sedang pada setiap lekuk landai
masih ada saja ceruk luput tertandai
dan selalu tersisa lembut dari belai
yang senantiasa tak kunjung sampai
dan biarkanlah kuda yang terluka
berlari nyari suaka di lembahku saja
berbaring tenang di samping telaga
semoga padam gelegak dahaganya.
TENTANG SEORANG WANITA
ia sudah tiga puluh dua
tetapi belum juga berdua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim perlahan bersalin
ketika kutanya kasihnya siapa
dan dimana gerangan dia berada
bibirnya tipis menggaris senyum
enggan seperti luka yang dikulum
ketika kutanya ada apa
ia hanya diam menatap saja
tetapi ketika aku terus mendesak
ia menjawab setelah tertawa ngakak :
jangan tanyakan tentang kekasih
karena aku cuaca yang beralih
bianglala di cakrawala telah pudar
lautan yang dulu kini tenang tawar
sudah jangan bertanya lagi
temani saja aku semalaman ini
tolong tuangkan lagi segelas
tetapi jangan padaku kau berbelas
toh, kita bersama takkan lama
dan kau hanya salah satu nama
kebetulan tubuhku rindu berbincang
dalam seru percakapan di ranjang
selanjutnya adalah sentuhan lembut
yang saling menyahut, saling menyambut
hingga datang gempa mengguncang gempar
dan sepasang mata bersitatap nanar
astaga, ia sudah tiga puluh dua
tetapi tetap kanak yang menolak tua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim telah jadi lain
PEREMPUAN BERJALAN MALAM
Ia melangkah terhuyung
Berjalan seperti orang linglung
Mengikuti arah angin kemana pergi
Kakinya diayun tak bertuju pasti
Sementara senja telah merona kota
Mulai jatuh pula hujan pertama
Orang-orang berlarian mencari teduh
Burung-burung berpulangan berhenti riuh
Namun ia hanya terus tak acuh
Meski dingin perlahan meringkus tubuh
Hujan yang jatuh mengendapkan debu
Air mata yang luruh menyingkapkan sendu
Bila dalam gelap kau jumpa ia
Akan kau tahu ia mendekap sendiri rahasia
Di tengah danau ada sepi terapung
biduk kecil patah dayung
NYANYIAN PEREMPUAN MERINDU
I.
Tahun demi tahun terus beredar
bagaimana kabarmu tak lagi kutahu
aku telah banyak belajar sabar
tak lagi sangat hasrat untuk bertemu.
Aku tiada yakin benar
apakah kau masih dapat mengenaliku
tetapi tetap saja dadaku berdebar
setiap mengiang sebutan namamu.
Betapa dahulu ingin kubersandar
pada bidang dada tegapmu
dan dalam rengkuhan lenganmu kekar
biar kupasrahkan diri dan nasibku.
Kadang pandang sayuku menyinar berpendar
saat di antara pejalan kulihat kelebat punggungmu
bergegas kuayun langkah untuk mengejar
berharap dapat sekedar menyapamu.
Tetapi, sungguh tatapanmu surya membakar
bagai bunga sepatu ku hanya menunduk malu
dan alangkah suaramu berat membawa getar
membuat lidahku kelu dan bibir mengatup bisu.
Seperti mawar di rumpun belukar
kupendam dalam perasaanku padamu
setelah bertahun, berita dirimu ingin kudengar
aku masih mengagumimu, seperti dahulu.
Waktu yang angkuh tak acuh saja berputar
kini pupus angan jadi kenangan lalu
tetapi bagai langit yang birunya tiada pudar
bayanganmu tinggal kekal menaungi sukmaku.
II.
Tetapi di manakah kamu, Sayang
di manakah alamat tempatmu berada sekarang
surat terakhir kau kirim dari negeri seberang
kubaca berulang-ulang dengan dada terguncang
setiap hari satu angka di penanggalan kusilang
mungkinkah engkau kembali setelah sekian tahun berbilang
kata orang cinta sejati tak akan pernah hilang
cintaku padamu tumbuh lebat menjulang berbunga bagai ilalang
di bawah langit senja bergoyang melambai bagai gelombang.
Tetapi di manakah kamu, Sayang
wajahmu tetap terbayang, swaramu kerap terngiang
mengenangmu membuat mataku basah berlinang
seperti telaga kesedihanku dalam diam menggenang
siang dan malam hari terasa lamban lagi panjang
terik matahari meradang garang, angin kelam tak henti mengerang
tak pernah kusut dan tetap bersih kain penutup ranjang
aku tak dapat berbaring tidur menunggumu kembali pulang
hanya duduk menunduk dalam redup cahaya dan remang ruang.
III.
Tangan halus manakah
yang akan membelai rambutku
Kembang bibir lembut manakah
yang sudi mengecup lukaku
Dan sepasang lengan hangat mana
yang sedia mendekap dukaku.
Hujan angin menjerit malam hari
tetapi lebih nyaring lengking rindu hamba
Badai menggila seakan tanpa henti
tetapi lebih amuk kecamuk hasrat damba
Betapa pembaringan terlalu luas untuk sendiri
dingin lembabnya menggeletarkan jiwa.
NYANYIAN ISTRI YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA
Sudah lewat tiga senja
tetapi aku masih di sini saja
duduk membisu dekat jendela
menatap nanap dan hampa.
Kunanti menginjak halaman langkah kakinya
kutunggu terdengar siulan dan senandungnya
kuharap di pintu depan berulang ketukannya
kudamba suaranya memanggil-manggil namaku mesra.
Telah berganti berkali nasihat keluarga dan tetangga
harus kurelakan ia istirah dengan tenang di alam baka
tetapi kutahu benar, salah besar mereka
lakiku tak mati, ia pergi kerja, sebentar lagi pasti tiba.
Memang tak biasanya ia pulang begini lama
namun kuyakin selalu hatinya senantiasa setia
entah hingga berapa kali lagi lewat senja
entah sampai kapanpun tetap kupercaya akan kembali ia.
Karena siapakah yang akan membuka pintu untuknya
bila ia tiba-tiba datang mengetuk di malam buta
ketika kantuk menusuki kedua matanya
dan angin dingin menampari wajahnya.
Siapakah pula yang akan menyiapkan meja untuknya
jika ia datang dengan lapar dahaga
dan siapa lagi yang akan menemani tidurnya
menyelimuti sukmanya dengan cinta tak bertara.
Sudah lewat tiga senja, sekarang telah malam pula
tetapi aku masih bertahan berjaga dekat jendela
duduk mematung menatap pekat gulita
sebentar lagi, tak lama lagi, ia pasti tiba, pasti tiba.
NYANYI UNTUK PERAWAN MENUA SENDIRI
Ia tanggungkan semua
sendiri saja, tiada berdua :
pilunya sembilu sendu dan rindu
yang bertahan bisu,
derita kecewa hampa dan damba
yang dipendam rahasia.
Ia tanggungkan semua
dengan sabar dada bunda
seperti kerang menyimpan pendar mutiara
dalam cangkangnya jauh di dasar laut raya,
seperti magma yang bergelung
di relung perut gunung.
Ia tanggungkan semua
walau senyum letih wajah tua tak dusta
jadi tuba direguk, jadi luka dikunyah
nikmat laknatnya sepi membarah
sampai suatu ketika, bumi
menyimpan dirinya jadi abadi, sendiri.
BALADA PEREMPUAN TUA YANG KECEWA
Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.
Sekarang matanya nanar
dan tangannya gemetar
tiap menatap gambar album
masa muda harum dan ranum.
Lelaki itu tinggi besar
tegap ia lagi kekar
tindak lakunya satria
tutur katanya cendikia.
Siapa tak tertawan
dan sanggup melawan
ia pun pasrah tak berdaya
menyerah pada tipu daya.
Dialah Laila Gila
yang telah serahkan segala
tetapi sehabisnya Malaikat Pemikat
lantas menjelma Iblis Jahat.
Sakit dan sesal
jadi siksa kekal
luka dan kecewa
hingga tua terbawa.
Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.
Iapun terus diam
memendam arus dendam
sedih dan pedih
ditelan tanpa rintih.
Hari demi hari
perlahan mati
tahun demi tahun
duka lara menimbun.
Kendur dan kerut
membalut tubuh susut
duhai, kemana pergi
kembang yang wangi.
Hingga di suatu senja
maut menjemput sempurna
ia diam kaku terbaring
tanpa ada yang mendamping.
Langit waktu itu gerimis
seakan turut nangis
sedang di sudut matanya
menitik jatuh sisa air mata.
PEREMPUAN YANG MEMBISU
“Aku telah bersalah,
maki dan tamparlah aku !”
hiba lelaki itu sembari bersimpuh
dihadapan perempuan yang membisu.
“Aku telah berselingkuh mengkhianatimu,
sumpahi dan jambaklah aku !”
rengek lelaki itu sampai bersujud
mencium kaki perempuan yang membisu.
Tetapi perempuan itu lebih perkasa
dari segala luka dan derita.
Sekian lama ia berdarah-darah setiap bulan
bahkan Ia telah merobek tubuhnya untuk lelaki itu
dan membelah dirinya berkali-kali
bagi kehadiran mahluk baru.
“Kutuki dan apa sajakanlah aku !”
jerit histeris lelaki itu dalam tangisnya
sembari berguling-guling di lantai
memukulmukuli kepalanya sendiri
dan menyentaknyentakkan kakinya.
Namun perempuan itu tetap membisu
kesenyapannya lebih mendera terasa
hingga membuat lelaki itu semakin putus asa.
Iapun bangkit sembari meraung-raung keras
berlari ke dapur, meraih pisau di atas meja
lalu menikam-nikam lambungnya.
HAWA, TENTANG ADAM
kulihat dia: si iblis,
tokoh antagonis
yang angkuh dan empiris,
menyamar sebagai ular
melingkar dari pangkal pohon
membujukku memetik khuldi
katanya inilah buah pengetahuan
memberi jalan ke arah keabadian
mengangkat derajat setara malaikat
begitu desis si penghasut
kepalanya menegak bergoyang di dekat buah
lidahnya menjulur menyembur goda
kuminta adam memetiknya untuk kami
demi pengetahuan, bagi keabadian,
dan kehidupan bagai malaikat tinggi
tetapi adam, dasar bocah lelaki,
ia lebih memilih buah dadaku
serta berpuas diri di pangkal paha saja
maka kuputuskan mengulurkan tanganku ...
1.
Beri aku cermin kaca yang rata tak retak
atau telaga bening yang tenang airnya
atau genangan embun di telapak tangan bunga
atau bundar bola mata dara yang berbinar berpendaran
: untuk meyakinkan diri
bahwa aku memang nyata ada.
2.
Ketika pertama aku mendengar lembut suaramu menyapa
dan menatap teduh wajahmu bagai telaga kaca kala senja,
aku merasa ruh kita telah lama bersitatap sebelumnya
sejak dahulu kala, berjuta-juta tahun lamanya.
3.
Jangan pejamkan matamu sepanjang malam,
tetaplah menatapku agar aku senantiasa jaga.
Jangan pula berpaling muka begitu kejam,
pada telaga di matamu, biarkan aku berkaca.
4.
Menyimak wajahmu
bagai mengeja sebuah sajak
: senantiasa ada yang tak tergapai,
selalu ada yang tak selesai.
5.
Perempuan,
sekuntum maut putih
terselip di harum hitam rambutmu,
izinkan aku menciumnya !
ODE KEPADA TUBUH PEREMPUAN
Perempuan,
karena tubuhmu yang penuh
dan berkilatan oleh sepuhan kencana itu
memancarkan sinar cahaya
yang kemilaunya betapa menyilaukan mata,
maka
kutundukkan pandanganku.
Tubuhmu
adalah rahmat yang keramat.
Ia adalah rumah
bagi Nafas Tuhan.
Sucikan
dan muliakan Ia.
Tuhan
telah menciptakannya sendiri
sarat dengan pesona dan misteri.
Seluruh halus lekuknya
adalah sentuhan kelembutan Jemari Suci
WajahNya yang mulia tersenyum
tanganNya yang perkasa gemetar,
dan dadaNya gemuruh berdebar,
ketika membentukmu
di tengah Taman Kudus Surgawi.
Bahkan ia telah rela
meletakkan surgaNya
di bawah telapak kakimu.
Pelihara dan rahasiakan ia.
Ingatlah selalu,
tubuhmu yang jelita itu
telah jadi pelita bagi Adam dahulu
ketika ia tersuruk meraba-raba
dalam kelam gulita,
membangkitkan semangatnya
menempuh Padang Arafah
menuju Jabal Rahmah •)
Jangan biarkan ia
dijamah oleh cemar noda.
Betapa mahal dan sakral ia,
jangan kau jual dan rendahkan
sebagai barang obralan.
Jangan begitu gampang kau pajang ia
di trotoar sepanjang jalan,
di kebyar papan-papan iklan,
di lembar-lembar koran,
dan di layar televisi.
Tuhan terlalu cemburu
dan begitu menyayangimu.
Ia akan marah
bila hasil karyanya yang terindah
diperlakukan murah
dan serampangan.
Maka sucikan
dan muliakan Ia
dalam rahasia.
VANIA
Bagaikan semburat merah
pada buah apel yang ranum
bagaikan semburat merah
pada kuntum anggrek yang rekah
dan bagai semburat merah
pada wajah cakrawala senja
begitulah pula semburat merah
yang merebak di wajahnya setiap tertawa
karena guratan darah kehidupan menyembur deras
mengaliri seluruh urat pembuluh di paras gadingnya
ia, perempuan sutra, lemas dan lembut
namun kuasa mengusap tajam wajah pedang
perempuan sutra, halus dan gemulai
namun mampu meliuk menari dalam badai
seperti porselin ia
dalam keagungan rahasia, tegak diam sendiri
nampak rapuh hampa
namun telah ditempa dalam tungku api
dan sungguh penuh terisi ia
oleh padat kerasnya sunyi
SYAIR PUJAAN KEPADA KEINDAHAN
alangkah indahnya
senyum merekah merah
yang kelak terkatup membiru
dan murung melengkung pilu
alangkah indahnya
dendang merdu gelak tawa
yang kelak senyap bisu
tinggal angin meraung sendu
alangkah indahnya
pandang bening bola mata
yang kelak muram terpejam kelopaknya
dan tergulir jatuh tinggal rongga hampa
alangkah indahnya
tubuh semampai melenggang gemulai
yang kelak layu tumbang terkulai
lalu amis membangkai
alangkah indahnya
rambut hitam tebal tergerai
yang kelak putih kusam
dan kusut terburai
alangkah indahnya
kulit halus mulus kencang
yang kelak mengerut mengendur
lalu terkelupas berlepasan
alangkah indahnya
padat sintal daging
yang kelak leleh terurai
dirubung beribu belatung
alangkah indahnya
hangat gelegak darah
yang kelak surut
kering disadap bumi
alangkah indahnya
kukuh tegak tulang belulang
yang kelak luruh lungkrah
berserakan ditimpa sinar bulan
alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya
alangkah indahnya
ENIGMA
Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Senantiasa nampak anggun pantas serta sempurna
Melihatnya pertama pasti tersentak oleh pesona
Begitu ramah ia bergaul, begitu luwes bertingkah
Di tengah gerumbul mawar ia termerah dan terindah
Namun di balik senyuman yang terbentuk ceria
Ada rapi tersimpan setumpuk rahasia
Ia bercerita lantas tertawa riang
Ia tercenung hampa dan menatap gamang
Samudera menyimpan pusaran dalam di lubuknya
Gunung mengandung bara magma pada lambungnya
KEPADA PEREMPUAN DENGAN LENGAN BERAJAH
kau tak pernah cerita
dan tiada kudengar berita
tetapi dari jerit mata
kutahu kau menderita
rambutmu adalah belukar
kulitmu sabana terbakar
sukmamu ringkik kuda liar
memekik luka sebelum terkapar
wahai, perempuan dengan lengan berajah
mari, biar kukatupkan dadamu terbelah
dan kukucup lukamu yang bernanah
hingga kuncuplah matamu yang marah
janganlah menampik sangat
jika kuminta sekedar nomor alamat
tak kau inginkankah ada yang sempat tercatat
dari kelumit percintaan kita yang gawat
sedang pada setiap lekuk landai
masih ada saja ceruk luput tertandai
dan selalu tersisa lembut dari belai
yang senantiasa tak kunjung sampai
dan biarkanlah kuda yang terluka
berlari nyari suaka di lembahku saja
berbaring tenang di samping telaga
semoga padam gelegak dahaganya.
TENTANG SEORANG WANITA
ia sudah tiga puluh dua
tetapi belum juga berdua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim perlahan bersalin
ketika kutanya kasihnya siapa
dan dimana gerangan dia berada
bibirnya tipis menggaris senyum
enggan seperti luka yang dikulum
ketika kutanya ada apa
ia hanya diam menatap saja
tetapi ketika aku terus mendesak
ia menjawab setelah tertawa ngakak :
jangan tanyakan tentang kekasih
karena aku cuaca yang beralih
bianglala di cakrawala telah pudar
lautan yang dulu kini tenang tawar
sudah jangan bertanya lagi
temani saja aku semalaman ini
tolong tuangkan lagi segelas
tetapi jangan padaku kau berbelas
toh, kita bersama takkan lama
dan kau hanya salah satu nama
kebetulan tubuhku rindu berbincang
dalam seru percakapan di ranjang
selanjutnya adalah sentuhan lembut
yang saling menyahut, saling menyambut
hingga datang gempa mengguncang gempar
dan sepasang mata bersitatap nanar
astaga, ia sudah tiga puluh dua
tetapi tetap kanak yang menolak tua
dan di parasnya yang porselin
kulihat musim telah jadi lain
PEREMPUAN BERJALAN MALAM
Ia melangkah terhuyung
Berjalan seperti orang linglung
Mengikuti arah angin kemana pergi
Kakinya diayun tak bertuju pasti
Sementara senja telah merona kota
Mulai jatuh pula hujan pertama
Orang-orang berlarian mencari teduh
Burung-burung berpulangan berhenti riuh
Namun ia hanya terus tak acuh
Meski dingin perlahan meringkus tubuh
Hujan yang jatuh mengendapkan debu
Air mata yang luruh menyingkapkan sendu
Bila dalam gelap kau jumpa ia
Akan kau tahu ia mendekap sendiri rahasia
Di tengah danau ada sepi terapung
biduk kecil patah dayung
NYANYIAN PEREMPUAN MERINDU
I.
Tahun demi tahun terus beredar
bagaimana kabarmu tak lagi kutahu
aku telah banyak belajar sabar
tak lagi sangat hasrat untuk bertemu.
Aku tiada yakin benar
apakah kau masih dapat mengenaliku
tetapi tetap saja dadaku berdebar
setiap mengiang sebutan namamu.
Betapa dahulu ingin kubersandar
pada bidang dada tegapmu
dan dalam rengkuhan lenganmu kekar
biar kupasrahkan diri dan nasibku.
Kadang pandang sayuku menyinar berpendar
saat di antara pejalan kulihat kelebat punggungmu
bergegas kuayun langkah untuk mengejar
berharap dapat sekedar menyapamu.
Tetapi, sungguh tatapanmu surya membakar
bagai bunga sepatu ku hanya menunduk malu
dan alangkah suaramu berat membawa getar
membuat lidahku kelu dan bibir mengatup bisu.
Seperti mawar di rumpun belukar
kupendam dalam perasaanku padamu
setelah bertahun, berita dirimu ingin kudengar
aku masih mengagumimu, seperti dahulu.
Waktu yang angkuh tak acuh saja berputar
kini pupus angan jadi kenangan lalu
tetapi bagai langit yang birunya tiada pudar
bayanganmu tinggal kekal menaungi sukmaku.
II.
Tetapi di manakah kamu, Sayang
di manakah alamat tempatmu berada sekarang
surat terakhir kau kirim dari negeri seberang
kubaca berulang-ulang dengan dada terguncang
setiap hari satu angka di penanggalan kusilang
mungkinkah engkau kembali setelah sekian tahun berbilang
kata orang cinta sejati tak akan pernah hilang
cintaku padamu tumbuh lebat menjulang berbunga bagai ilalang
di bawah langit senja bergoyang melambai bagai gelombang.
Tetapi di manakah kamu, Sayang
wajahmu tetap terbayang, swaramu kerap terngiang
mengenangmu membuat mataku basah berlinang
seperti telaga kesedihanku dalam diam menggenang
siang dan malam hari terasa lamban lagi panjang
terik matahari meradang garang, angin kelam tak henti mengerang
tak pernah kusut dan tetap bersih kain penutup ranjang
aku tak dapat berbaring tidur menunggumu kembali pulang
hanya duduk menunduk dalam redup cahaya dan remang ruang.
III.
Tangan halus manakah
yang akan membelai rambutku
Kembang bibir lembut manakah
yang sudi mengecup lukaku
Dan sepasang lengan hangat mana
yang sedia mendekap dukaku.
Hujan angin menjerit malam hari
tetapi lebih nyaring lengking rindu hamba
Badai menggila seakan tanpa henti
tetapi lebih amuk kecamuk hasrat damba
Betapa pembaringan terlalu luas untuk sendiri
dingin lembabnya menggeletarkan jiwa.
NYANYIAN ISTRI YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA
Sudah lewat tiga senja
tetapi aku masih di sini saja
duduk membisu dekat jendela
menatap nanap dan hampa.
Kunanti menginjak halaman langkah kakinya
kutunggu terdengar siulan dan senandungnya
kuharap di pintu depan berulang ketukannya
kudamba suaranya memanggil-manggil namaku mesra.
Telah berganti berkali nasihat keluarga dan tetangga
harus kurelakan ia istirah dengan tenang di alam baka
tetapi kutahu benar, salah besar mereka
lakiku tak mati, ia pergi kerja, sebentar lagi pasti tiba.
Memang tak biasanya ia pulang begini lama
namun kuyakin selalu hatinya senantiasa setia
entah hingga berapa kali lagi lewat senja
entah sampai kapanpun tetap kupercaya akan kembali ia.
Karena siapakah yang akan membuka pintu untuknya
bila ia tiba-tiba datang mengetuk di malam buta
ketika kantuk menusuki kedua matanya
dan angin dingin menampari wajahnya.
Siapakah pula yang akan menyiapkan meja untuknya
jika ia datang dengan lapar dahaga
dan siapa lagi yang akan menemani tidurnya
menyelimuti sukmanya dengan cinta tak bertara.
Sudah lewat tiga senja, sekarang telah malam pula
tetapi aku masih bertahan berjaga dekat jendela
duduk mematung menatap pekat gulita
sebentar lagi, tak lama lagi, ia pasti tiba, pasti tiba.
NYANYI UNTUK PERAWAN MENUA SENDIRI
Ia tanggungkan semua
sendiri saja, tiada berdua :
pilunya sembilu sendu dan rindu
yang bertahan bisu,
derita kecewa hampa dan damba
yang dipendam rahasia.
Ia tanggungkan semua
dengan sabar dada bunda
seperti kerang menyimpan pendar mutiara
dalam cangkangnya jauh di dasar laut raya,
seperti magma yang bergelung
di relung perut gunung.
Ia tanggungkan semua
walau senyum letih wajah tua tak dusta
jadi tuba direguk, jadi luka dikunyah
nikmat laknatnya sepi membarah
sampai suatu ketika, bumi
menyimpan dirinya jadi abadi, sendiri.
BALADA PEREMPUAN TUA YANG KECEWA
Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.
Sekarang matanya nanar
dan tangannya gemetar
tiap menatap gambar album
masa muda harum dan ranum.
Lelaki itu tinggi besar
tegap ia lagi kekar
tindak lakunya satria
tutur katanya cendikia.
Siapa tak tertawan
dan sanggup melawan
ia pun pasrah tak berdaya
menyerah pada tipu daya.
Dialah Laila Gila
yang telah serahkan segala
tetapi sehabisnya Malaikat Pemikat
lantas menjelma Iblis Jahat.
Sakit dan sesal
jadi siksa kekal
luka dan kecewa
hingga tua terbawa.
Pernah ia beri nikmat cinta
penuh percaya serta setia
telah diterimanya khianat
o, betapa laknat.
Iapun terus diam
memendam arus dendam
sedih dan pedih
ditelan tanpa rintih.
Hari demi hari
perlahan mati
tahun demi tahun
duka lara menimbun.
Kendur dan kerut
membalut tubuh susut
duhai, kemana pergi
kembang yang wangi.
Hingga di suatu senja
maut menjemput sempurna
ia diam kaku terbaring
tanpa ada yang mendamping.
Langit waktu itu gerimis
seakan turut nangis
sedang di sudut matanya
menitik jatuh sisa air mata.
PEREMPUAN YANG MEMBISU
“Aku telah bersalah,
maki dan tamparlah aku !”
hiba lelaki itu sembari bersimpuh
dihadapan perempuan yang membisu.
“Aku telah berselingkuh mengkhianatimu,
sumpahi dan jambaklah aku !”
rengek lelaki itu sampai bersujud
mencium kaki perempuan yang membisu.
Tetapi perempuan itu lebih perkasa
dari segala luka dan derita.
Sekian lama ia berdarah-darah setiap bulan
bahkan Ia telah merobek tubuhnya untuk lelaki itu
dan membelah dirinya berkali-kali
bagi kehadiran mahluk baru.
“Kutuki dan apa sajakanlah aku !”
jerit histeris lelaki itu dalam tangisnya
sembari berguling-guling di lantai
memukulmukuli kepalanya sendiri
dan menyentaknyentakkan kakinya.
Namun perempuan itu tetap membisu
kesenyapannya lebih mendera terasa
hingga membuat lelaki itu semakin putus asa.
Iapun bangkit sembari meraung-raung keras
berlari ke dapur, meraih pisau di atas meja
lalu menikam-nikam lambungnya.
HAWA, TENTANG ADAM
kulihat dia: si iblis,
tokoh antagonis
yang angkuh dan empiris,
menyamar sebagai ular
melingkar dari pangkal pohon
membujukku memetik khuldi
katanya inilah buah pengetahuan
memberi jalan ke arah keabadian
mengangkat derajat setara malaikat
begitu desis si penghasut
kepalanya menegak bergoyang di dekat buah
lidahnya menjulur menyembur goda
kuminta adam memetiknya untuk kami
demi pengetahuan, bagi keabadian,
dan kehidupan bagai malaikat tinggi
tetapi adam, dasar bocah lelaki,
ia lebih memilih buah dadaku
serta berpuas diri di pangkal paha saja
maka kuputuskan mengulurkan tanganku ...
SESISIR SYAIR (Dari arsip sajak lama)
SYAIR BERDANDAN
aku berdandan
untuk perhelatan agung
menanggalkan badan
gua gairah tinggal gaung
terik matari menyapukan
perak uban di kusut rambut
lalu waktu mengukirkan
alur kerut di kendur raut
darah telah bening
tersuling murni
daging telah kering
tersucikan kini
ngilu angin ngisi hampa tulang
iris pilu ingin yang tersia
damba lama pupus membayang
harus pula kulepas ia
langit tanpa awan
bulan di jendela
sempurna sudah riasan
kekasih kapankah tiba
SYAIR PURNAMA
Bulannya emas bulat penuh
Langitnya luas teramat biru
Bak perawan minta disentuh
Tergolek molek di tilam beledu
Berkilatan lantai beranda kayu
Oleh cahaya tercurah jatuh
Meskipun rumah tiada berlampu
Dan malam bertambah jauh
Namun lelaki memandang tak jenuh
Lamun ditingkah balam berlagu haru
Terpana begitu hingga jelang subuh
Paginya ditemukan terlentang biru
SYAIR KERIS
Sang Empu khusuk berkarya
pada malam lalu ia tak hirau.
Karena bulan begitu bercahaya
dan telaga bak kaca berkilau.
Dengan kepalan tangan
dan ujung jemari Sang Empu
logam ditempa di landasan
dan dibentuk jadi luk berliku
Diberinya kandungan wibawa
yang memancar-mancar bersinar.
Oleh bekal olah tapa rapal mantra
menyatu alam kembar kecil-besar.
Kini telah rampung ia
meski belum bersarung;
di lambung siapa kiranya
kelak ia mesti bersarang?
SYAIR DI BAWAH BULAN
di bawah bulan
kami hanya berduaan
berjalan perlahan
mengulur tujuan
tiada terlontar ucapan
diredam oleh degupan
dan dedaun bergesekan
pun mengalun nyanyian
maka ketika tiba di kelokan
terlindung lebat bayangan
kuseret ia ke rimbunan
kubekap ia dengan ciuman
awalnya: pekik tertahan
akhirnya: usahlah dikatakan
karena kami telah berduaan
luput dari intai bulan
SYAIR ANAK DARA
belaian busung dada perawan
bara bulan kembar bagi rawan angan
bualan cabul dan buaian gumul
bubung asap pada ubun mengepul
membangkit bukit di atas lembah pualam
angan membawa kembara ke ceruk curam
maka ingin jualah yang menuntun tangan
menelusur lengkung lembut dua jembatan
cumbu rayu kami saling bertukar
ciuman panjang-dalam membakar
cukuplah dengus keluh bicara
cuma untuk sehari saja
SYAIR BULAN BIRU
Bulan yang biru, bulan yang biru
bisu menatap di tinggi jauh
bak putri angkuh tak terengkuh
Bulan yang biru, bulan yang biru
buaian kabut selembut beludru
bualan lelembut bermata ungu
Bulan yang biru, bulan yang biru
buahan langit di gerumbul awan
burung bulbul hinggap di dahan
Bulan yang biru, bulan yang biru
bisu menatap di tinggi jauh
bagi baginda hati lah jatuh
aku berdandan
untuk perhelatan agung
menanggalkan badan
gua gairah tinggal gaung
terik matari menyapukan
perak uban di kusut rambut
lalu waktu mengukirkan
alur kerut di kendur raut
darah telah bening
tersuling murni
daging telah kering
tersucikan kini
ngilu angin ngisi hampa tulang
iris pilu ingin yang tersia
damba lama pupus membayang
harus pula kulepas ia
langit tanpa awan
bulan di jendela
sempurna sudah riasan
kekasih kapankah tiba
SYAIR PURNAMA
Bulannya emas bulat penuh
Langitnya luas teramat biru
Bak perawan minta disentuh
Tergolek molek di tilam beledu
Berkilatan lantai beranda kayu
Oleh cahaya tercurah jatuh
Meskipun rumah tiada berlampu
Dan malam bertambah jauh
Namun lelaki memandang tak jenuh
Lamun ditingkah balam berlagu haru
Terpana begitu hingga jelang subuh
Paginya ditemukan terlentang biru
SYAIR KERIS
Sang Empu khusuk berkarya
pada malam lalu ia tak hirau.
Karena bulan begitu bercahaya
dan telaga bak kaca berkilau.
Dengan kepalan tangan
dan ujung jemari Sang Empu
logam ditempa di landasan
dan dibentuk jadi luk berliku
Diberinya kandungan wibawa
yang memancar-mancar bersinar.
Oleh bekal olah tapa rapal mantra
menyatu alam kembar kecil-besar.
Kini telah rampung ia
meski belum bersarung;
di lambung siapa kiranya
kelak ia mesti bersarang?
SYAIR DI BAWAH BULAN
di bawah bulan
kami hanya berduaan
berjalan perlahan
mengulur tujuan
tiada terlontar ucapan
diredam oleh degupan
dan dedaun bergesekan
pun mengalun nyanyian
maka ketika tiba di kelokan
terlindung lebat bayangan
kuseret ia ke rimbunan
kubekap ia dengan ciuman
awalnya: pekik tertahan
akhirnya: usahlah dikatakan
karena kami telah berduaan
luput dari intai bulan
SYAIR ANAK DARA
belaian busung dada perawan
bara bulan kembar bagi rawan angan
bualan cabul dan buaian gumul
bubung asap pada ubun mengepul
membangkit bukit di atas lembah pualam
angan membawa kembara ke ceruk curam
maka ingin jualah yang menuntun tangan
menelusur lengkung lembut dua jembatan
cumbu rayu kami saling bertukar
ciuman panjang-dalam membakar
cukuplah dengus keluh bicara
cuma untuk sehari saja
SYAIR BULAN BIRU
Bulan yang biru, bulan yang biru
bisu menatap di tinggi jauh
bak putri angkuh tak terengkuh
Bulan yang biru, bulan yang biru
buaian kabut selembut beludru
bualan lelembut bermata ungu
Bulan yang biru, bulan yang biru
buahan langit di gerumbul awan
burung bulbul hinggap di dahan
Bulan yang biru, bulan yang biru
bisu menatap di tinggi jauh
bagi baginda hati lah jatuh
ANGIN CERMIN RUMAH TUA (Dari arsip sajak lama)
RIWAYAT ANGIN
Angin yang senantiasa mengembara tanpa henti
selalu sama kapan dan dimana saja ia lalu,
berjuta tahun ia telah mengelilingi bumi ini
menengok setiap pelosok, menyusupi sudut-sudut sepi itu.
Ia mengendapkan segenap peristiwa
ia mencatat segala kata yang pernah terucap
semenjak saat yang pertama
ketika terang mentari menyingkap gelap.
Dipendamnya semua rahasia : jerit serta tawa kecil hawa
kala adam menariknya ke balik rumpun pohonan taman,
juga hiruk pikuk dahsyat perang purba yang sama sekali terlupa,
bahkan bau harum tubuh para peri yang pernah menghuni perbukitan.
Dan ketika kau terlelap di pembaringan malam hari ini
iapun menghembus masuk di terali jendela, perlahan
mengelilingi kamar tidurmu sekali, kemudian berhenti
lalu bergelung lembut di telingamu, membisikkan impian.
SAJAK-SAJAK CERMIN
1.
Apakah cermin juga menyimpan kenangan?
Berapa banyak wajah dan peristiwa telah menguap
di hadapannya. Dan meskipun ia jendela yang memperlihatkan
diriku padamu, engkau tetap menolak menjawabku ketika aku
bertanya kepadanya. Engkau hanya mengabur
mengubur rahasianya, ketika ia
mendekat kepadaku, katamu,
apakah aku juga menyimpan kenangan?
2.
Ia hanya mengilap di sana
diterpa cahaya ditimpa gelap
tetap setia menerima segalanya,
melepas tanpa bekas
semuanya
lenyap tak lekat padanya
3.
hatiku, cerminmu
RUMAH TUA
dinding-dinding daging mendingin fana
sulur-sulur urat terjulur lena
dan tiang-tiang belulang yang lekang
hampa kini kian merenggang
lumut menyelimuti di pojok sana
di sudut situ lelaba merajut rumahnya
meskipun sesekali angin yang datang
bikin jendela menjerit, pintu mengerang
Angin yang senantiasa mengembara tanpa henti
selalu sama kapan dan dimana saja ia lalu,
berjuta tahun ia telah mengelilingi bumi ini
menengok setiap pelosok, menyusupi sudut-sudut sepi itu.
Ia mengendapkan segenap peristiwa
ia mencatat segala kata yang pernah terucap
semenjak saat yang pertama
ketika terang mentari menyingkap gelap.
Dipendamnya semua rahasia : jerit serta tawa kecil hawa
kala adam menariknya ke balik rumpun pohonan taman,
juga hiruk pikuk dahsyat perang purba yang sama sekali terlupa,
bahkan bau harum tubuh para peri yang pernah menghuni perbukitan.
Dan ketika kau terlelap di pembaringan malam hari ini
iapun menghembus masuk di terali jendela, perlahan
mengelilingi kamar tidurmu sekali, kemudian berhenti
lalu bergelung lembut di telingamu, membisikkan impian.
SAJAK-SAJAK CERMIN
1.
Apakah cermin juga menyimpan kenangan?
Berapa banyak wajah dan peristiwa telah menguap
di hadapannya. Dan meskipun ia jendela yang memperlihatkan
diriku padamu, engkau tetap menolak menjawabku ketika aku
bertanya kepadanya. Engkau hanya mengabur
mengubur rahasianya, ketika ia
mendekat kepadaku, katamu,
apakah aku juga menyimpan kenangan?
2.
Ia hanya mengilap di sana
diterpa cahaya ditimpa gelap
tetap setia menerima segalanya,
melepas tanpa bekas
semuanya
lenyap tak lekat padanya
3.
hatiku, cerminmu
RUMAH TUA
dinding-dinding daging mendingin fana
sulur-sulur urat terjulur lena
dan tiang-tiang belulang yang lekang
hampa kini kian merenggang
lumut menyelimuti di pojok sana
di sudut situ lelaba merajut rumahnya
meskipun sesekali angin yang datang
bikin jendela menjerit, pintu mengerang
SERUMPUN SAJAK CINTA (Dari arsip sajak lama)
TANPA CINTA
Tanpa cinta, kita tak akan pernah ada.
Karena cinta kepada diriNya,
Tuhan ciptakan insan menurut citraNya.
Bagai pelukis dalam khusyuk berkarya,
setiap goresan dan sapuan kuas di atas kanvasnya
adalah cerminan dirinya bagi mata pengamat seksama.
Tanpa cinta, dada kita tinggal rongga menganga hampa :
wajah kekasih, tanda mata kenangan, dan setangkai bunga
tinggal kumpulan sedih materi sepi terperangkap ruang dan kala.
Karena cinta membuka semua pintu serta jendela,
memberikan tempat bagi yang lain untuk masuk berdiam bersama
jiwapun meluas dan mendalam, masing-masing jadi bermakna.
SEBUAH SAJAK BERSAHAJA
inilah sajakku yang bersahaja saja
untukmu : perempuan bermata telaga
dengan rimbun rumpun cemara
pada tepinya
inilah sajakku untukmu :
nyanyian hujan penghujung tahun kelabu,
yang jatuh di tengah hutan yang jauh itu
dan kau, tak pernah tahu
PERTEMUAN
Seperti gerimis yang bernyanyi perlahan
dalam temaram impian, engkau telah meledakkan
sesuatu dalam diriku ketika pada suatu senja
mendadak kau menyapa dan sejenak aku diam terpana.
Alangkah sedihnya, sejak saat itu
aku pun menjelma adam : yatim piatu
yang dikutuk untuk berdua, yang didera sepi
berduka, sejak Tuhan mengajarinya arti sendiri.
KARTU BERGAMBAR
masih dengan dada berdebar seperti waktu pertama dahulu,
lebaran ini kembali kukirimkan selembar kartu bergambar untukmu
dengan latar biru seperti tahun-tahun lalu
hanya tertera nama serta tandatanganku di situ
yang kugoreskan dengan jemari gemetar dan perasaan tak menentu
meski ada begitu banyak hal yang aku ingin kamu tahu
mesti menulis apa, aku selalu ragu
walau kuingin benar mendengar kabarmu
setelah sekian lama tiada pernah bertemu
balasannya tak lagi terlalu kutunggu
karena telah mengerti : itu tak perlu
TERBANGUN DARI TIDUR SORE
Aku tersentak bangun dari tidur pendek oleh sebuah lagu lama
begitu nglangut mengalun dari radio, membuatku tertegun
lalu termangu lesu. Sudah jam berapa ?
Di jendela: ada langit
sarung tua yang luntur oleh cucuran waktu
murung, usang, dan kelabu.
Juga ada angin,
meluncur dingin dari busur malam
memburu burung-burung.
Sedang di halaman, gerimis yang bergumam
mulai menjejakkan kaki-kaki kecilnya
dengan malu dan ragu-ragu.
Senyap dan gelap merayap. Senja muram
menyapa di buram kaca jendela. Dan entah mengapa
tiba-tiba saja, aku teringat padamu.
SAJAK KECIL
Aku selalu membisikkan namamu
dalam setiap doaku yang sederhana
dan tentu juga
bersama beberapa harapan lain yang lucu-lucu,
yang membuatku malu dan tersipu sendiri
karena merasa,
ketika kusebutkan semua itu,
mungkin saja
jauh di atas sana
Tuhan hanya mengulum senyum
dan menahan tawaNya.
DI PUNGGUNG GUNUNG
Kata Khairil, Nasib itu kesunyian masing-masing
maka ketika lambaianmu memanggil (betapa ajaib dan asing!),
aku hanya tertegun hingga engkaupun gaib di cakrawala jauh.
Entah apa yang menahan: takutkah atau angkuh
atau semata keengganan tak pasti. Tetapi matahari yang melindap
meninggalkan bisik rahasianya pada jajaran pohonan yang senyap.
Sebentar kemudian gelap yang merayap mengendus jejak telah tiba,
kunyalakan api menjaga bayangku tetap bersama.
Esok ketika kokok ayam hutan bergema bersahutan, aku harus terus lagi
meninggalkan tumpukan hangus kayu dan torehan di pokok jati.
DINGIN HUJAN ANGIN
Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa
Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba
Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada !
UNDANGAN
Cahaya Fajar bagi mataku yang menua, mari, rebahlah sebentar saja
bersandar pada lapang dada yang setia mendamba,
dan menyerahlah kepada sepasang lengan yang sedia menjaga.
Bila kau benar jawaban bagi sengal doa
akan kukekalkan engkau dari ajal,
kuluputkan dari lupa.
Biarkan sang Maut, pemburu yang cemburu itu,
sesat tak kuasa kehilangan alamatmu dan Waktu
sia-sia mengenduskan moncongnya melacak jejakmu
karena telah kuselamatkan engkau
ke dalam taman suaka rahasia
di hatiku.
PERMOHONAN MAAF
Maafkan,
Aku masih selalu mengingatmu
Ketika engkau telah merasa tenang dalam kenangan,
Aman tak terjangkau pada masa lampau.
Yang lebih terlalu lagi :
Aku mengingatmu dengan sesungging senyuman rahasia,
Keluh tertahan, dan hati berluruhan.
Maafkan,
Aku belum dapat melupakanmu
Setelah sekian lama silam berlalu.
Bagaimanakah ikan sanggup mengabaikan lautan,
Mampukah kupu-kupu menghalau angin,
Dan mungkinkah bunga menghapus cahaya
Dari ingatan
Setelah mereka terpisahkan ?
Maafkan,
Atau beri tahu aku caranya.
KARENA GADISKU SEMALAM
Maafkan
Karena hembusan nafas gadisku
Yang menyembur hangat
Di leher dan dadaku tadi malam
Membuatku membenci
Angin pagi yang datang
Mengetuk daun jendela
Maafkan
Karena merdu bisikan gadisku
Yang lirih mengalun telingaku semalam
Membuatku menyesali
Kicau burung-burung
Yang baru bangun dari sarangnya
Maafkan
Karena sayu tatapan mata gadisku
Yang menahanku tak terpejam sepanjang malam
Membuatku mengumpati
Matahari yang rekah
Di ufuk sana
Maafkan, maafkan
Karena dekapan erat gadisku
Yang menjerat tubuhku hingga subuh
Telah membuatku bertanya-tanya
Mengapa pagi
Kembali lagi
SAJAK CINTA
Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Yang berarti ia telah meruh.
Jauh jarak ruang dan waktu
ia tempuh dengan angkuh
bagai bahtera dengan tiang layar tinggi kukuh
dan layar-layar putih lebar berkilauan disepuh mentari
melaju membelah ketujuh samudera,
sementara di kedua lambungnya gemulung gelombang ombak
menghantam dan pecah.
Namun ia tetap tabah tiada bimbang ragu
bertahan menuju pada arahnya
seakan tak kan pernah berubah.
Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Kuhirup perlahan, dalam, dan berirama
saat duduk bersila memejamkan mata
di tengah larut malam buta.
Yang lalu menjadi energi
mengisi hampa rongga dada
dan meniup bara api hidup
yang dahulu perlahan redup
hingga kembali menggeletar berpijar
menyala berkobaran.
Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Walau ia tak tampak bagi kedua mata
ia teramat nyata serta ada di mana-mana.
Menyentuh seluruh sudut dan penjuru,
meliputi segala sesuatu tanpa ada terluput,
dan dapat kau rasakan ia
merasuk sukma.
KEPADA ORANG ASING
Pagi tadi aku membuat segelas kopi saja
tanpa krim dan sedikit gula, seperti kesukaanmu. Betapa aneh
terasa, tanpa suara guyuran air dan senandung dari kamar mandi.
Aku lalu mencoba menonton pesawat televisi seharian seorang diri,
memain-mainkan remote control seperti seorang tolol
lalu merasa sewot sendiri. Tetapi aku tetap tak mampu berhenti
memikirkanmu.
Siapakah kamu, orang asing yang berbaring
di sampingku semalaman. Siapakah kamu.
Seperti sepasang ular jalang di liang sempit
kita telah saling melilit dan menggigit.
Telah kuhirup aroma khas kulitmu
dan bau harum rambutmu yang menyembur saat kau geraikan
telah membawaku ke tengah padang rumput di lembah
pada suatu pagi hari yang basah seusai reda
hujan musim semi yang pertama.
Setiap senti tubuhmu yang menerbitkan beribu mimpi
telah kutelusuri dengan jemari gemetar, dengan dada berdebar keras,
dan peluh yang menderas,
tetapi kau hanya tertawa serta mengangkat bahu
saat aku berkeras ingin tahu masa lalumu
dan meminta catatan alamat
ketika kau bergegas berkemas sebelum berangkat pergi.
Ah, seperti kali kecil, kau selalu menolak bercermin.
Seperti warna-warni mentari dalam lukisan impresionis,
kau beralih berganti tanpa letih.
Dan kemarin ketika aku meminta selembar gambarmu,
dengan ringan kau berkata tak acuh : ”Jangan menyimpan
kenangan masa lalu, itu semacam kecengengan yang tak perlu.”
Aduh ! Akupun tahu
hubungan kita tak punya masa depan. Harapan hanya impian.
Kini senja menyusut di jendela dan malam merambat perlahan.
Kurasakan betul
dingin menyelusup masuk lewat celah bawah pintu
mengendap dan menebal di lantai batu.
Untuk apa menyalakan lampu. Alangkah mengerikan
bila dalam terang aku hanya memergoki diri sendiri yang sepi.
Dalam temaram dan kelam aku merasa lebih tenteram dan aman. Seolah-olah
kau masih hadir di sini, diam di dekatku.
Menatap lekat dan lama tanpa berkata,
menemani.
Seperti seekor ikan menggelepar-gelepar
di atas pecahan-pecahan es, sukmaku yang telah menerima
kutukan itu akan menggeletar tak sabar menanti tiba
kabar berita darimu. Meski hanya selembar kartu pos,
mungkin dari suatu tempat yang jauh
di mana salju selalu jatuh dan matahari begitu pemalu
dan melulu berteduh.
Aku tidak berani memintamu untuk setia
--itu terlalu mustahil dan menggelikan bagimu, tentu--
hanya saja,
tolong, jangan lupakan saya...
MENANGISLAH DI DADAKU
menangislah di dadaku
tuangkan air mata ratapmu
ke dalam cawan senyap hatiku
di sini kita selamanya terasing
dari bising, desing, dan lengking sekeliling
jiwa kita : merpati di atas puing-puing
yang selamanya mendamba kembara
telah terlalu lama dibakar cinta membara
selalu rindu pada sarang di pohon purba
menangislah di dadaku
biar kuurapi rambutmu lembut beledu
dengan air mata kasihku
karena selain dari harum tubuhmu
dan lenganku kukuh merengkuhmu,
segalanya hanya bayang yang melintas semu
KEPADA PEREMPUAN YANG MENANGIS
Berhentilah membunuh diri
Cinta yang engkau tutupi
penuh kegugupan, sungguh
membuatku trenyuh.
Dik, jangan lagi
mengiris nadi
Jantung yang berdetak itu
melagukan pagi baru.
Tak ada padamu salah
selain percaya dan pasrah
-- bunda maria juga menyerah menerima
ketika cakrawala memberi bianglala.
Berhentilah membunuh diri
kini engkau tidak lagi sendiri,
Cinta yang bersemayam dalam tubuhmu
itu kristal embun langit jiwaku.
JANGAN HAPUS AIR MATAMU
Jangan hapus air matamu
ujung puncak segala rasa itu.
Segala suka, segala duka, segala luka
ujung puncaknya air mata juga.
Biarkan ia terbit mengalir
dan ricik nyanyiannya disebar angin semilir.
Biar ia basahkan lembah padas panas jiwamu
dan membelah bongkah cadas keras hatimu.
Biarkan terbit mengalir ia
lalu menggenang menjelma telaga.
Kobaran api neraka olehnya kan padam
dan menjelma kerindangan surga nan tentram.
MALAM BELUDRU
Lenganmu yang mengulur lemas bagai berduka
bagi kecemasan liarku, menjanjikan suaka.
Dalamnya pelukmu merengkuh lukaku
tentram dadamu menjadi Taman Getsemaniku• .
Kita begitu dekatnya, teramat lekat
hembusan nafasmu betapa hangat.
Tubuhku telah berpijar oleh baramu
namun masih juga kuserukan namamu.
Hingga kubenamkan matahariku
ke penghujung samudera malammu.
Berjuta bintangpun terbit di langit tinggi
malam raya semarak bertabur bunga api.
PARADISE REGAINED
Impian memadat dalam tubuhmu
sejak dipahat kau dari rusukku satu.
Dan taman surgapun jadi tak semenawan dahulu
Setelah pertama kali kujelajah perawan belantaramu.
Maka ketika lebar-lebar gerbang ke luar terbuka
kita melangkah turun namun tetap mengangkat kepala.
Dipermainkan angin, berkibaran jubah dan rambut kita
di hadapan : terhampar megah padang luas penuh bunga
KEINGINAN SEDERHANA PENGANTIN TUA
sedari pertama kali kita terpikat
sepasang sepi telah ditakdirkan untuk terlibat
dan akhirnya, bagai rumpun rambat, saling terikat
meski lenganku kekar tak kebal ajal
dan kembang dadamu tiada bakal kekal
tetapi sayang kita sungguh teramat bengal
kau tak ingin aku pergi, kau tak akan kubiarkan mati
seperti sepasang beringin, kita impikan abadi
berdiri berdampingan, melihat abad berganti
SUNGAI NAFASMU
sungai nafasmu
halus menjuntai di dadaku
arus rambutmu yang sejuk
menggerus bebatuan di perutku
dan riak-riak jemarimu
mengelus lembut relung purba itu
aku lembah yang rengkah
terima kasih telah membelahku
PEREMPUAN LAUT
Tubuhmu menyemburkan gelombang samudera
melanda dan menggulungku
hingga ke palung laut paling biru.
Tolong jangan biarkan arus membawaku
kembali ke atas sana; aku ingin terus
terbaring saja selamanya di sini
--di antara ganggang dan karang
bersama kerang dan ikan-ikan
yang tak pernah melihat terang,
selain biru yang paling kelam--
di lubuk terdalam
mautmu
QAYLA
Kami, Qays dan Layla,
bukanlah majenun;
tetapi kewarasan Cinta
adalah kegilaan bagi kalian
--apatah lagi bila kegilaannya!
Sejak Cinta menyapih kami
terbukalah kelopak dalam dada
kami pun melihat dunia yang kalian kenal
tak lagi dengan pandangan Dajjal
--mata dan hati kami sama bercahaya!
Jalan Cinta tidaklah meminta,
Jalan Cinta adalah memberi,
menyerahkan merih untuk disembelih
untuk jadi persembahan di altarNya
--yaitu meniada untuk mengada!
Bila kalian bertanya, inilah rahasia:
kelopak terpejam Ismail, tangan gemetar Ibrahim,
dan belati yang berkilatan dalam genggamannya,
adalah cinta semata juga yang menjelma
--untuk menuntunmu ke Jalan ini!
Tanpa cinta, kita tak akan pernah ada.
Karena cinta kepada diriNya,
Tuhan ciptakan insan menurut citraNya.
Bagai pelukis dalam khusyuk berkarya,
setiap goresan dan sapuan kuas di atas kanvasnya
adalah cerminan dirinya bagi mata pengamat seksama.
Tanpa cinta, dada kita tinggal rongga menganga hampa :
wajah kekasih, tanda mata kenangan, dan setangkai bunga
tinggal kumpulan sedih materi sepi terperangkap ruang dan kala.
Karena cinta membuka semua pintu serta jendela,
memberikan tempat bagi yang lain untuk masuk berdiam bersama
jiwapun meluas dan mendalam, masing-masing jadi bermakna.
SEBUAH SAJAK BERSAHAJA
inilah sajakku yang bersahaja saja
untukmu : perempuan bermata telaga
dengan rimbun rumpun cemara
pada tepinya
inilah sajakku untukmu :
nyanyian hujan penghujung tahun kelabu,
yang jatuh di tengah hutan yang jauh itu
dan kau, tak pernah tahu
PERTEMUAN
Seperti gerimis yang bernyanyi perlahan
dalam temaram impian, engkau telah meledakkan
sesuatu dalam diriku ketika pada suatu senja
mendadak kau menyapa dan sejenak aku diam terpana.
Alangkah sedihnya, sejak saat itu
aku pun menjelma adam : yatim piatu
yang dikutuk untuk berdua, yang didera sepi
berduka, sejak Tuhan mengajarinya arti sendiri.
KARTU BERGAMBAR
masih dengan dada berdebar seperti waktu pertama dahulu,
lebaran ini kembali kukirimkan selembar kartu bergambar untukmu
dengan latar biru seperti tahun-tahun lalu
hanya tertera nama serta tandatanganku di situ
yang kugoreskan dengan jemari gemetar dan perasaan tak menentu
meski ada begitu banyak hal yang aku ingin kamu tahu
mesti menulis apa, aku selalu ragu
walau kuingin benar mendengar kabarmu
setelah sekian lama tiada pernah bertemu
balasannya tak lagi terlalu kutunggu
karena telah mengerti : itu tak perlu
TERBANGUN DARI TIDUR SORE
Aku tersentak bangun dari tidur pendek oleh sebuah lagu lama
begitu nglangut mengalun dari radio, membuatku tertegun
lalu termangu lesu. Sudah jam berapa ?
Di jendela: ada langit
sarung tua yang luntur oleh cucuran waktu
murung, usang, dan kelabu.
Juga ada angin,
meluncur dingin dari busur malam
memburu burung-burung.
Sedang di halaman, gerimis yang bergumam
mulai menjejakkan kaki-kaki kecilnya
dengan malu dan ragu-ragu.
Senyap dan gelap merayap. Senja muram
menyapa di buram kaca jendela. Dan entah mengapa
tiba-tiba saja, aku teringat padamu.
SAJAK KECIL
Aku selalu membisikkan namamu
dalam setiap doaku yang sederhana
dan tentu juga
bersama beberapa harapan lain yang lucu-lucu,
yang membuatku malu dan tersipu sendiri
karena merasa,
ketika kusebutkan semua itu,
mungkin saja
jauh di atas sana
Tuhan hanya mengulum senyum
dan menahan tawaNya.
DI PUNGGUNG GUNUNG
Kata Khairil, Nasib itu kesunyian masing-masing
maka ketika lambaianmu memanggil (betapa ajaib dan asing!),
aku hanya tertegun hingga engkaupun gaib di cakrawala jauh.
Entah apa yang menahan: takutkah atau angkuh
atau semata keengganan tak pasti. Tetapi matahari yang melindap
meninggalkan bisik rahasianya pada jajaran pohonan yang senyap.
Sebentar kemudian gelap yang merayap mengendus jejak telah tiba,
kunyalakan api menjaga bayangku tetap bersama.
Esok ketika kokok ayam hutan bergema bersahutan, aku harus terus lagi
meninggalkan tumpukan hangus kayu dan torehan di pokok jati.
DINGIN HUJAN ANGIN
Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa
Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba
Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada !
UNDANGAN
Cahaya Fajar bagi mataku yang menua, mari, rebahlah sebentar saja
bersandar pada lapang dada yang setia mendamba,
dan menyerahlah kepada sepasang lengan yang sedia menjaga.
Bila kau benar jawaban bagi sengal doa
akan kukekalkan engkau dari ajal,
kuluputkan dari lupa.
Biarkan sang Maut, pemburu yang cemburu itu,
sesat tak kuasa kehilangan alamatmu dan Waktu
sia-sia mengenduskan moncongnya melacak jejakmu
karena telah kuselamatkan engkau
ke dalam taman suaka rahasia
di hatiku.
PERMOHONAN MAAF
Maafkan,
Aku masih selalu mengingatmu
Ketika engkau telah merasa tenang dalam kenangan,
Aman tak terjangkau pada masa lampau.
Yang lebih terlalu lagi :
Aku mengingatmu dengan sesungging senyuman rahasia,
Keluh tertahan, dan hati berluruhan.
Maafkan,
Aku belum dapat melupakanmu
Setelah sekian lama silam berlalu.
Bagaimanakah ikan sanggup mengabaikan lautan,
Mampukah kupu-kupu menghalau angin,
Dan mungkinkah bunga menghapus cahaya
Dari ingatan
Setelah mereka terpisahkan ?
Maafkan,
Atau beri tahu aku caranya.
KARENA GADISKU SEMALAM
Maafkan
Karena hembusan nafas gadisku
Yang menyembur hangat
Di leher dan dadaku tadi malam
Membuatku membenci
Angin pagi yang datang
Mengetuk daun jendela
Maafkan
Karena merdu bisikan gadisku
Yang lirih mengalun telingaku semalam
Membuatku menyesali
Kicau burung-burung
Yang baru bangun dari sarangnya
Maafkan
Karena sayu tatapan mata gadisku
Yang menahanku tak terpejam sepanjang malam
Membuatku mengumpati
Matahari yang rekah
Di ufuk sana
Maafkan, maafkan
Karena dekapan erat gadisku
Yang menjerat tubuhku hingga subuh
Telah membuatku bertanya-tanya
Mengapa pagi
Kembali lagi
SAJAK CINTA
Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Yang berarti ia telah meruh.
Jauh jarak ruang dan waktu
ia tempuh dengan angkuh
bagai bahtera dengan tiang layar tinggi kukuh
dan layar-layar putih lebar berkilauan disepuh mentari
melaju membelah ketujuh samudera,
sementara di kedua lambungnya gemulung gelombang ombak
menghantam dan pecah.
Namun ia tetap tabah tiada bimbang ragu
bertahan menuju pada arahnya
seakan tak kan pernah berubah.
Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Kuhirup perlahan, dalam, dan berirama
saat duduk bersila memejamkan mata
di tengah larut malam buta.
Yang lalu menjadi energi
mengisi hampa rongga dada
dan meniup bara api hidup
yang dahulu perlahan redup
hingga kembali menggeletar berpijar
menyala berkobaran.
Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Walau ia tak tampak bagi kedua mata
ia teramat nyata serta ada di mana-mana.
Menyentuh seluruh sudut dan penjuru,
meliputi segala sesuatu tanpa ada terluput,
dan dapat kau rasakan ia
merasuk sukma.
KEPADA ORANG ASING
Pagi tadi aku membuat segelas kopi saja
tanpa krim dan sedikit gula, seperti kesukaanmu. Betapa aneh
terasa, tanpa suara guyuran air dan senandung dari kamar mandi.
Aku lalu mencoba menonton pesawat televisi seharian seorang diri,
memain-mainkan remote control seperti seorang tolol
lalu merasa sewot sendiri. Tetapi aku tetap tak mampu berhenti
memikirkanmu.
Siapakah kamu, orang asing yang berbaring
di sampingku semalaman. Siapakah kamu.
Seperti sepasang ular jalang di liang sempit
kita telah saling melilit dan menggigit.
Telah kuhirup aroma khas kulitmu
dan bau harum rambutmu yang menyembur saat kau geraikan
telah membawaku ke tengah padang rumput di lembah
pada suatu pagi hari yang basah seusai reda
hujan musim semi yang pertama.
Setiap senti tubuhmu yang menerbitkan beribu mimpi
telah kutelusuri dengan jemari gemetar, dengan dada berdebar keras,
dan peluh yang menderas,
tetapi kau hanya tertawa serta mengangkat bahu
saat aku berkeras ingin tahu masa lalumu
dan meminta catatan alamat
ketika kau bergegas berkemas sebelum berangkat pergi.
Ah, seperti kali kecil, kau selalu menolak bercermin.
Seperti warna-warni mentari dalam lukisan impresionis,
kau beralih berganti tanpa letih.
Dan kemarin ketika aku meminta selembar gambarmu,
dengan ringan kau berkata tak acuh : ”Jangan menyimpan
kenangan masa lalu, itu semacam kecengengan yang tak perlu.”
Aduh ! Akupun tahu
hubungan kita tak punya masa depan. Harapan hanya impian.
Kini senja menyusut di jendela dan malam merambat perlahan.
Kurasakan betul
dingin menyelusup masuk lewat celah bawah pintu
mengendap dan menebal di lantai batu.
Untuk apa menyalakan lampu. Alangkah mengerikan
bila dalam terang aku hanya memergoki diri sendiri yang sepi.
Dalam temaram dan kelam aku merasa lebih tenteram dan aman. Seolah-olah
kau masih hadir di sini, diam di dekatku.
Menatap lekat dan lama tanpa berkata,
menemani.
Seperti seekor ikan menggelepar-gelepar
di atas pecahan-pecahan es, sukmaku yang telah menerima
kutukan itu akan menggeletar tak sabar menanti tiba
kabar berita darimu. Meski hanya selembar kartu pos,
mungkin dari suatu tempat yang jauh
di mana salju selalu jatuh dan matahari begitu pemalu
dan melulu berteduh.
Aku tidak berani memintamu untuk setia
--itu terlalu mustahil dan menggelikan bagimu, tentu--
hanya saja,
tolong, jangan lupakan saya...
MENANGISLAH DI DADAKU
menangislah di dadaku
tuangkan air mata ratapmu
ke dalam cawan senyap hatiku
di sini kita selamanya terasing
dari bising, desing, dan lengking sekeliling
jiwa kita : merpati di atas puing-puing
yang selamanya mendamba kembara
telah terlalu lama dibakar cinta membara
selalu rindu pada sarang di pohon purba
menangislah di dadaku
biar kuurapi rambutmu lembut beledu
dengan air mata kasihku
karena selain dari harum tubuhmu
dan lenganku kukuh merengkuhmu,
segalanya hanya bayang yang melintas semu
KEPADA PEREMPUAN YANG MENANGIS
Berhentilah membunuh diri
Cinta yang engkau tutupi
penuh kegugupan, sungguh
membuatku trenyuh.
Dik, jangan lagi
mengiris nadi
Jantung yang berdetak itu
melagukan pagi baru.
Tak ada padamu salah
selain percaya dan pasrah
-- bunda maria juga menyerah menerima
ketika cakrawala memberi bianglala.
Berhentilah membunuh diri
kini engkau tidak lagi sendiri,
Cinta yang bersemayam dalam tubuhmu
itu kristal embun langit jiwaku.
JANGAN HAPUS AIR MATAMU
Jangan hapus air matamu
ujung puncak segala rasa itu.
Segala suka, segala duka, segala luka
ujung puncaknya air mata juga.
Biarkan ia terbit mengalir
dan ricik nyanyiannya disebar angin semilir.
Biar ia basahkan lembah padas panas jiwamu
dan membelah bongkah cadas keras hatimu.
Biarkan terbit mengalir ia
lalu menggenang menjelma telaga.
Kobaran api neraka olehnya kan padam
dan menjelma kerindangan surga nan tentram.
MALAM BELUDRU
Lenganmu yang mengulur lemas bagai berduka
bagi kecemasan liarku, menjanjikan suaka.
Dalamnya pelukmu merengkuh lukaku
tentram dadamu menjadi Taman Getsemaniku• .
Kita begitu dekatnya, teramat lekat
hembusan nafasmu betapa hangat.
Tubuhku telah berpijar oleh baramu
namun masih juga kuserukan namamu.
Hingga kubenamkan matahariku
ke penghujung samudera malammu.
Berjuta bintangpun terbit di langit tinggi
malam raya semarak bertabur bunga api.
PARADISE REGAINED
Impian memadat dalam tubuhmu
sejak dipahat kau dari rusukku satu.
Dan taman surgapun jadi tak semenawan dahulu
Setelah pertama kali kujelajah perawan belantaramu.
Maka ketika lebar-lebar gerbang ke luar terbuka
kita melangkah turun namun tetap mengangkat kepala.
Dipermainkan angin, berkibaran jubah dan rambut kita
di hadapan : terhampar megah padang luas penuh bunga
KEINGINAN SEDERHANA PENGANTIN TUA
sedari pertama kali kita terpikat
sepasang sepi telah ditakdirkan untuk terlibat
dan akhirnya, bagai rumpun rambat, saling terikat
meski lenganku kekar tak kebal ajal
dan kembang dadamu tiada bakal kekal
tetapi sayang kita sungguh teramat bengal
kau tak ingin aku pergi, kau tak akan kubiarkan mati
seperti sepasang beringin, kita impikan abadi
berdiri berdampingan, melihat abad berganti
SUNGAI NAFASMU
sungai nafasmu
halus menjuntai di dadaku
arus rambutmu yang sejuk
menggerus bebatuan di perutku
dan riak-riak jemarimu
mengelus lembut relung purba itu
aku lembah yang rengkah
terima kasih telah membelahku
PEREMPUAN LAUT
Tubuhmu menyemburkan gelombang samudera
melanda dan menggulungku
hingga ke palung laut paling biru.
Tolong jangan biarkan arus membawaku
kembali ke atas sana; aku ingin terus
terbaring saja selamanya di sini
--di antara ganggang dan karang
bersama kerang dan ikan-ikan
yang tak pernah melihat terang,
selain biru yang paling kelam--
di lubuk terdalam
mautmu
QAYLA
Kami, Qays dan Layla,
bukanlah majenun;
tetapi kewarasan Cinta
adalah kegilaan bagi kalian
--apatah lagi bila kegilaannya!
Sejak Cinta menyapih kami
terbukalah kelopak dalam dada
kami pun melihat dunia yang kalian kenal
tak lagi dengan pandangan Dajjal
--mata dan hati kami sama bercahaya!
Jalan Cinta tidaklah meminta,
Jalan Cinta adalah memberi,
menyerahkan merih untuk disembelih
untuk jadi persembahan di altarNya
--yaitu meniada untuk mengada!
Bila kalian bertanya, inilah rahasia:
kelopak terpejam Ismail, tangan gemetar Ibrahim,
dan belati yang berkilatan dalam genggamannya,
adalah cinta semata juga yang menjelma
--untuk menuntunmu ke Jalan ini!
SAJAK-SAJAK BENCANA (Dari arsip sajak lama)
KETIKA BERITA BENCANA TIBA
ketika berita bencana tiba
dengan segera saya merasa prihatin
sembari dalam batin diam-diam bersukur
karena jatuh nun jauh di sana
dan bukannya terjadi di sekitar saya
tidak hanya itu
dengan segera saya merasa perlu mengusut
apakah ini buah dari ulah serakah manusia
ataukah tulah dari Tuhan atas kaum durhaka
atau mungkin hanya polah dari alam semesta
yang semakin ringkih oleh usia renta
ketika berita bencana tiba
saya tetap tidak berani bertanya
“bagaimana kalau saya...?” apalagi meminta
“mengapa harus dia dan bukan saya...?”
SEUSAI BADAI DI TELUK
Langit mendengus geram
Dan menghunus dendam kelamnya
Untuk ditikamkan berulang ke busung dadamu
Yang putih terbuka menantang malam
Amuk belalai badai membantai, gemuruh
Beribu guruh menyerbu, cambuk petir mengamuk,
Dan berjuta panah hujan susul-menyusul
Menggempur gempar telukmu, tak berampun.
Tetapi cagak karang hitam itu
Yang menyimpan karat waktu berabad-abad
Tetap tegak terpejam membisu di tengah seru deru
Bersabar menerima bagai biksu tua yang telah tahu
Maka setelah lelah segala tumpah
Kembali, dari balik rumpun pohonan yang terpilin,
Keluar dari semak belukar yang terbongkar,
Hening perlahan merayap menyisir pasir dan mengendap
Di wajahmu yang kuyup menyimpan denyut sisa geletar
Tinggal mengapung berserak pecahan papan,
Patahan tiang, dan sobekan layar : jejak yang sebentar
Akan diraup hapus oleh arus laut ke selatan
Sementara langit jadi lebih pias dari semula
Lebih kuyu dan sayu, lalu bergulung menjauh, letih
Oleh lampias liar dari amarah gairah sendiri
Kini, ia merasa bertambah dingin dan semakin sepi
RINTIHAN BUMI
Betapa pedihnya
pukulan cangkul, irisan linggis,
dan garukan garumu
betapa perihnya
kucur cuka, tabur serbuk tuba,
dan jalar api bakarmu
di wajahku
kurasakan,
kutahankan
maka, ngalir air mata
dari pelupukku
untuk menghapus hausmu
menggumpal nanah luka
dalam umbi ubiku
untuk menebus laparmu
dan menyembur darah kental hitam
dari lubuk jantungku
nyalakan pelita untukmu
bagimu
kuserahkan
kupasrahkan
BAHTERA NUH
Bumi yang purba,
Bahtera nuh kita,
Bertahan mengapung
Di samudera waktu
Di dera arus dan gelombang
Murung termangu
Seperti jantung berlemak
Yang ungu kehitamhitaman
Helaan nafasnya
Perlahan, dangkal, dan berat
Kelopak matanya mengatup
menghindari cahaya matahari
yang kejam merajam
tubuhnya
kita cacah kita sayat
kita garuk kita cakar
wajahnya
kita injaki kita ludahi
kita kencingi kita beraki
ia diam saja
bertahan setia
meski menderita
hanya terkadang sekali dua
bersin dan batuknya
(yang susah payah coba ditelannya)
pecah tak kuasa tertahankan
dan kita lalu menjerit-jerit melengking
menudingnya
tak lagi mau bersahabat
dengan kita manusia
Lihat,
pada pelupuknya
yang diseliputi lendir tebal katarak tua,
Air mata keruh berlinang
Ia tak lagi bisa berkata-kata
Membela diri
Tetapi dari kernyit retak keningnya,
Denyutan di kerut kelopaknya,
Dan dari suara erangnya
Yang serak oleh dahak mengerak
Adalah isyarat tanda
Yang memberitakan derita
Lebih jelas tegas
dari kata
Astagafirullah !
Bagaimana kalau suatu waktu
Ia memutuskan untuk menyerah takluk saja
Kepada gerogot usia,
Menyahuti jemputan maut,
Mengangguk kepada telunjuk ajal
Kemudian memejamkan mata selamanya
Lalu melenyap tenggelam ke dasar samudera tiada
Damai terbaring dalam cahaya biru temaram
Tenteram senyap
dari arus dan gelombang waktu
Jika kapal layar karam
di laut berpalung
Dengan apa kita
mengapung bergantung,
Bagaimana kita
sampai mencapai tanjung ?
BAGI BOCAH YANG MATI
Maafkan, aku tak bermaksud untuk luruh
lalu menggulung dan menindih bocah itu
dalam runtuhanku. Sungguh, aku telah mencoba
bertahan bergantung di punggung gunung sana,
aku bahkan telah menggigit kaki-kaki rumput
yang kering itu setelah orang-orang kampung
datang membuntungi lengan-lenganku
dan membakar sisa-sisa akar.
Akupun mencintainya.
Bocah lincah dan lucu itu
dahulu sering bermain di lerengku
memetik bunga-bunga.
Biarkan aku menyelimuti jasadnya
yang kedinginan sendiri di kaki gunung ini
dengan rumput paling lembut wangi.
Bunga-bunga kesayangan terindah
akan kutumbuhkan untuk menghiasi tidurnya.
PERCOBAAN
Belati yang diulurkan kekasih
bagaimana bisa dielakkan.
Cawan tuba yang disodorkannya
bagaimana bisa ditolakkan.
Mendung dan badai
akhirnya tergulung dan usai: sekedar bukti
insan lebih tinggi dari gelapnya
lebih besar dari hempasannya.
Dan kini tinggallah ia sendiri berdiri tegak
di bawah surya berpijar. Hanya tubuhnya telanjang
berkilatan, bagai patung tembaga, dengan rambut tergerai
dimainkan angin yang lembut dan ringan,
yang bertambah lemah dan perlahan.
2004
PROKLAMASI ADAM
aku satu dari bermilyar jasad renik
yang merayapi setitik partikel debu
mengitari secuil sel cahaya
walau pijar surya betapa mudah membinasakan
aku tahu
masing-masing kami berbahaya
kami bukan bibit kanker
bagi semesta
semoga saja
DONGENG LAUT
Setelah gerak di kerak samudera
lautpun bangkit memagut kota
sedangkan siut sapuan ekornya
membongkar pesisir jauh.
Bukit terungkit, jalan terpilin.
Kota terserak mengerang
oleh sisa bisa bibirnya.
Maut berpesta, bagai capung
di tengah telaga, memungut ruh
dari tubuh-tubuh yang terapung busung
dan membusuk setelah hanyut tergulung.
Cuaca bercadar, surya seakan cedera.
Hari pun kuyu dalam kuyup.
Sisa pekik dari dada yang pecah
dan nanap tatap tak percaya
dari mata yang membeliak itu
masih menggantung di kaki langit
bersama bau yang sengit.
Lanskap tinggal bingkai bagi
bangkai dan sampah bengkalai.
Namun sehari kemudian, gelombang akan
tenang seperti si pelamun tua: mengantuk dan
melupa. Sementara seorang anak, akan duduk
di hujung perahu, bersenandung “lautku nan biru...”
ARITMATIKA PENDERITAAN
Di dalam derita
terasa insan
betapa sendiri
dan sepi.
Kesedihan
tak dapat dibandingkan.
Juga tak terganti
tak terbagi.
Tak ada duka bersama,
selain dari sejumlah orang
yang sama berduka
sendiri-sendiri.
Simpati dan empati
tak dapat mengurangi.
Tetapi pengabaian
pasti jadi siksaan.
Keprihatinan
adalah penebus batin
dari rasa sesal oleh malu dan salah
bagi mereka yang aman selamat.
Luka di badanku
tak berdarah padamu,
tangis di mataku
bukanlah air matamu.
Ulurkanlah tanganmu, Tuan Penolong
akan kusambut jemarimu.
Bila itu memang membantu
menenangkan hatimu.
SAYA INGIN PERCAYA
Saya ingin percaya
bukanlah ayun pedang itu
yang menebas pokok pohon.
Batang kayu sendirilah
yang telah rela membelah diri
demi memberi celah bagi bilah baja tajam
agar dapat melewatinya.
Saya ingin percaya
bukanlah hembusan musim
yang merontokkan bunga-bunga.
Kuntum-kuntum itulah yang menggigil hatinya
terjun dari ketinggian tebing angin
meninggalkan rangka tangkai sendiri
ingin bermain bermandikan cahaya di bawah sana.
Ya, saya ingin percaya.
THE HISTORY OF SIPILIZATION
Di atas serakan kerak setipis ari dari segumpal api yang terus bergerak dalam proses evolusi sejumlah jasad renik bekerja keras membangun koloni tanpa henti sepanjang siang dan malam hari mereka harus mendirikan surga di bumi karena hidup hanya sekali sudah itu lewat dan tak ada kebangkitan setelah mati apalah lagi surga sehingga lezat paling nikmat harus tamat direguk jasad selama berhayat di dunia mereka mesti mewujudkan supremasi diri karena tak ada tuhan yang zat sedangkan ilah hanyalah kemungkinan tertinggi dari manifestasi potensi insani akal universal yang kekal mereka menulis kitab sendiri karena yakin bahwa kitab langit hanyalah kumpulan dongeng yang koyak moyak oleh sayatan pisau analisis kritis dan porak poranda oleh strategi pembacaan dari para ahli mimpi mereka tanpa tepi meski ukuran dan umur mereka hanya senoktah cahaya perak di layar hitam sinema maka alam jadi lain dan inferior ketika di atas lapisan labil dari sistem geologis yang tertutup mereka mendirikan menara-menara babel dan hamam yang mencuat tinggi dan runcing bagai hamparan paku setelah mereka pangkas habis rambutnya lebih dulu lalu mereka kentuti sejengkal ruang udara yang mereka hirup sendiri mereka ludahi jantung nadi dan hati dimana mengalir air asal kelahiran sendiri seperti para pemabuk mereka obokobok mulut rongga rahimnya mereka tusuk dan sayat kulitnya mereka keruk dagingnya mereka kerkah rangkanya mereka sesap sumsumnya hingga menggerowong mereka hisap sari madu mereka muntahkan sampah mereka.tabur tuba dan curah cuka pada liang lukalukanya, ya:
dengan terencana dan sistematis mereka sedang menghabisi diri sendiri.
STATISTIK KORBAN
1000 tewas oleh bencana
dan warga dunia guncang karenanya
seorang pengemis terbujur ditutupi koran
kita menyerahkannya pada dinas kebersihan
1000 nyawa dicabut secara massal
dan 1 nyawa meregang sepi di bangsal
tentu dengan berita yang pertama kita tersentak
dan Maut lantas jadi selebritas mendadak
karena dalam statistik negara
dan matematika demokrasi sederhana
1000 jelas lebih signifikan dan dominan
jika dengan hanya 1 dibandingkan
tetapi dalam timbangan keadilan
duka seorang ataupun 1000 kurban
sama besar dan beratnya
sama sedih dan sepinya
maka hormatilah
setiap tetes air mata yang tumpah
setiap titik darah dari luka
: ia keramat dan mulia
KEMARAU PANJANG
hujan turun malam-malam
ketika mata-mata pejam
dan semua telinga redam
bukan untuk para raja atau kawula
tetapi bagi sehelai rumput kering merana
yang mulut kecilnya tak putus terus mendoa
ya, hujan turun kala malam telah larut
dan insanpun terselamatkan dari jaring maut
bukan oleh malaikat, melainkan sehelai rumput
MUNAJAT BENCANA
Bila dalam sejuk semilir dan rinai rintik
tak kami lihat senyumMu ramah menyapa,
adakah amuk badai dan arus bah melanda ini
seringai amarahMu? Bila lirih himbauMu
tak juga dihiraukan para hamba,
inikah geram mautMu yang menghalau kembali?
Dan bila pemuliaanMu atas lempung hina ini
hanya membuatnya angkuh bangga,
akankah kau hempaskan ia ke atas tanah
hingga nyaris binasa agar mampu mengakui rapuhnya?
Wahai, Sang Pencurah Rahmat,
jadilah kehendakMu
dalam kemahalembutanMu!
MEDITASI SETELAH BENCANA
setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa bersukur dan percaya
berada pada golongan yang benar
karena darinya dapat terhindar
sementara di atas langit, malaikat bala
menatap prihatin dan menggelengkan kepala:
justru karena dan untuk kalianlah petaka ditimpakan
agar dapat sadar dan mengambil pelajaran!
setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa diperlakukan dengan semena
yang tak berdosa bergelimpangan mati dan sekarat
sedangkan yang keji malah aman dan selamat
hingga malaikat bala berbisik kepadaku
adakah aturan ciptaan pada pencipta berlaku
sementara kalian kepada sesama berbuat tak patut
pun tanpa tanya dan pilih, membakar sarang semut
setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa kecewa dan gundah gulana
apakah sia-sia saja telah beriman
mengapa percaya tak membawa keselamatan
dan malaikat bala tertawa menggema lalu bersabda
apa keyakinan kalian menuntut balas jasa dan imbal guna
seperti pedagang ajimat bermain tawar menawar
bila merugi lantas gusar dan ingin ingkar!
SAJAK RINO
kalau tiba musim hujan
dan banjir datang
Rino suka main air genangan
atau tanding bola di lumpur berkubang
biasanya sekolah akan tutup
barang sehari dua
Rino dan kawan puas berkuyup
tertawa-tawa bersama
kadang ayah marah datang mencari
dengan membawa sebatang lidi pecut
dan di rumah ibu akan menyuruh mandi
lalu menghukum di bawah selimut
pagi ini Rino bangun kesiangan
lihat orang sedusun basah berlumpur
kemanakah ayah ibu gerangan
mereka terus tidur seperti bulan libur
BILA DATANG DUKA BENCANA
Bila datang duka bencana
Janganlah keburu berburuk sangka
Mengira Tuhan sedang menghinakanmu
Dan alam mengkhianatimu
Sungguh kemuliaan dan kedekatan
Tidaklah terkait dengan kesenangan
Lihatlah dulu siapa dirimu sendiri
Dan bagaimana sikapmu menghadapi
Satu bencana yang sama
Berbeda makna dan manfaatnya
Sakit perih yang mendera diri
Adalah azab bagi pendosa keji
Bagi yang lalai khilaf teguran peringatan
Namun jadi ujian di hati yang beriman
Sedangkan untuk para wali rezeki
Dan perhiasan mahkota bagi nabi
IA TAK LAGI BERANI MENDUGA-DUGA TENTANG ANGIN
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang angin
Sejak gelisah yang berpusing itu datang
Menerjang membuat terban rebah
Segala yang pernah ditegakkannya
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang tanah
Sejak kesabaran itu retak rekah
Menelan lenyap segala
Yang pernah disemainya
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang api
Sejak amarah yang menyembur itu
Menghangusmusnahkan segala
Yang pernah dipunyainya
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang air
Sejak ketenangan itu bangkit menggelombang
Menyapu pupus segala yang pernah
Ia sebut sebagai kesayangan
Ia tak lagi berani menduga-duga
Tentang angin, tanah, api dan juga air
Sejak ia merasa bahwa keempatnya kini
Sedang bersiasat untuk mengingatkannya
SANTAP SIANG SEORANG FILSUF
Saya telah melihat anak tak bersalah
Menderita sakit parah lantas tergeletak mati
Mesti ada penjelasan atas ini masalah
Kezaliman yang sungguh menyakitkan hati
Setelah tercenung sejenak di ujung renung
Ia memutuskan kembali nikmati lezat santapan
Menu sajian favoritnya: kerang segar bertempurung
Yang diperasi jeruk hingga mengerut perlahan
ketika berita bencana tiba
dengan segera saya merasa prihatin
sembari dalam batin diam-diam bersukur
karena jatuh nun jauh di sana
dan bukannya terjadi di sekitar saya
tidak hanya itu
dengan segera saya merasa perlu mengusut
apakah ini buah dari ulah serakah manusia
ataukah tulah dari Tuhan atas kaum durhaka
atau mungkin hanya polah dari alam semesta
yang semakin ringkih oleh usia renta
ketika berita bencana tiba
saya tetap tidak berani bertanya
“bagaimana kalau saya...?” apalagi meminta
“mengapa harus dia dan bukan saya...?”
SEUSAI BADAI DI TELUK
Langit mendengus geram
Dan menghunus dendam kelamnya
Untuk ditikamkan berulang ke busung dadamu
Yang putih terbuka menantang malam
Amuk belalai badai membantai, gemuruh
Beribu guruh menyerbu, cambuk petir mengamuk,
Dan berjuta panah hujan susul-menyusul
Menggempur gempar telukmu, tak berampun.
Tetapi cagak karang hitam itu
Yang menyimpan karat waktu berabad-abad
Tetap tegak terpejam membisu di tengah seru deru
Bersabar menerima bagai biksu tua yang telah tahu
Maka setelah lelah segala tumpah
Kembali, dari balik rumpun pohonan yang terpilin,
Keluar dari semak belukar yang terbongkar,
Hening perlahan merayap menyisir pasir dan mengendap
Di wajahmu yang kuyup menyimpan denyut sisa geletar
Tinggal mengapung berserak pecahan papan,
Patahan tiang, dan sobekan layar : jejak yang sebentar
Akan diraup hapus oleh arus laut ke selatan
Sementara langit jadi lebih pias dari semula
Lebih kuyu dan sayu, lalu bergulung menjauh, letih
Oleh lampias liar dari amarah gairah sendiri
Kini, ia merasa bertambah dingin dan semakin sepi
RINTIHAN BUMI
Betapa pedihnya
pukulan cangkul, irisan linggis,
dan garukan garumu
betapa perihnya
kucur cuka, tabur serbuk tuba,
dan jalar api bakarmu
di wajahku
kurasakan,
kutahankan
maka, ngalir air mata
dari pelupukku
untuk menghapus hausmu
menggumpal nanah luka
dalam umbi ubiku
untuk menebus laparmu
dan menyembur darah kental hitam
dari lubuk jantungku
nyalakan pelita untukmu
bagimu
kuserahkan
kupasrahkan
BAHTERA NUH
Bumi yang purba,
Bahtera nuh kita,
Bertahan mengapung
Di samudera waktu
Di dera arus dan gelombang
Murung termangu
Seperti jantung berlemak
Yang ungu kehitamhitaman
Helaan nafasnya
Perlahan, dangkal, dan berat
Kelopak matanya mengatup
menghindari cahaya matahari
yang kejam merajam
tubuhnya
kita cacah kita sayat
kita garuk kita cakar
wajahnya
kita injaki kita ludahi
kita kencingi kita beraki
ia diam saja
bertahan setia
meski menderita
hanya terkadang sekali dua
bersin dan batuknya
(yang susah payah coba ditelannya)
pecah tak kuasa tertahankan
dan kita lalu menjerit-jerit melengking
menudingnya
tak lagi mau bersahabat
dengan kita manusia
Lihat,
pada pelupuknya
yang diseliputi lendir tebal katarak tua,
Air mata keruh berlinang
Ia tak lagi bisa berkata-kata
Membela diri
Tetapi dari kernyit retak keningnya,
Denyutan di kerut kelopaknya,
Dan dari suara erangnya
Yang serak oleh dahak mengerak
Adalah isyarat tanda
Yang memberitakan derita
Lebih jelas tegas
dari kata
Astagafirullah !
Bagaimana kalau suatu waktu
Ia memutuskan untuk menyerah takluk saja
Kepada gerogot usia,
Menyahuti jemputan maut,
Mengangguk kepada telunjuk ajal
Kemudian memejamkan mata selamanya
Lalu melenyap tenggelam ke dasar samudera tiada
Damai terbaring dalam cahaya biru temaram
Tenteram senyap
dari arus dan gelombang waktu
Jika kapal layar karam
di laut berpalung
Dengan apa kita
mengapung bergantung,
Bagaimana kita
sampai mencapai tanjung ?
BAGI BOCAH YANG MATI
Maafkan, aku tak bermaksud untuk luruh
lalu menggulung dan menindih bocah itu
dalam runtuhanku. Sungguh, aku telah mencoba
bertahan bergantung di punggung gunung sana,
aku bahkan telah menggigit kaki-kaki rumput
yang kering itu setelah orang-orang kampung
datang membuntungi lengan-lenganku
dan membakar sisa-sisa akar.
Akupun mencintainya.
Bocah lincah dan lucu itu
dahulu sering bermain di lerengku
memetik bunga-bunga.
Biarkan aku menyelimuti jasadnya
yang kedinginan sendiri di kaki gunung ini
dengan rumput paling lembut wangi.
Bunga-bunga kesayangan terindah
akan kutumbuhkan untuk menghiasi tidurnya.
PERCOBAAN
Belati yang diulurkan kekasih
bagaimana bisa dielakkan.
Cawan tuba yang disodorkannya
bagaimana bisa ditolakkan.
Mendung dan badai
akhirnya tergulung dan usai: sekedar bukti
insan lebih tinggi dari gelapnya
lebih besar dari hempasannya.
Dan kini tinggallah ia sendiri berdiri tegak
di bawah surya berpijar. Hanya tubuhnya telanjang
berkilatan, bagai patung tembaga, dengan rambut tergerai
dimainkan angin yang lembut dan ringan,
yang bertambah lemah dan perlahan.
2004
PROKLAMASI ADAM
aku satu dari bermilyar jasad renik
yang merayapi setitik partikel debu
mengitari secuil sel cahaya
walau pijar surya betapa mudah membinasakan
aku tahu
masing-masing kami berbahaya
kami bukan bibit kanker
bagi semesta
semoga saja
DONGENG LAUT
Setelah gerak di kerak samudera
lautpun bangkit memagut kota
sedangkan siut sapuan ekornya
membongkar pesisir jauh.
Bukit terungkit, jalan terpilin.
Kota terserak mengerang
oleh sisa bisa bibirnya.
Maut berpesta, bagai capung
di tengah telaga, memungut ruh
dari tubuh-tubuh yang terapung busung
dan membusuk setelah hanyut tergulung.
Cuaca bercadar, surya seakan cedera.
Hari pun kuyu dalam kuyup.
Sisa pekik dari dada yang pecah
dan nanap tatap tak percaya
dari mata yang membeliak itu
masih menggantung di kaki langit
bersama bau yang sengit.
Lanskap tinggal bingkai bagi
bangkai dan sampah bengkalai.
Namun sehari kemudian, gelombang akan
tenang seperti si pelamun tua: mengantuk dan
melupa. Sementara seorang anak, akan duduk
di hujung perahu, bersenandung “lautku nan biru...”
ARITMATIKA PENDERITAAN
Di dalam derita
terasa insan
betapa sendiri
dan sepi.
Kesedihan
tak dapat dibandingkan.
Juga tak terganti
tak terbagi.
Tak ada duka bersama,
selain dari sejumlah orang
yang sama berduka
sendiri-sendiri.
Simpati dan empati
tak dapat mengurangi.
Tetapi pengabaian
pasti jadi siksaan.
Keprihatinan
adalah penebus batin
dari rasa sesal oleh malu dan salah
bagi mereka yang aman selamat.
Luka di badanku
tak berdarah padamu,
tangis di mataku
bukanlah air matamu.
Ulurkanlah tanganmu, Tuan Penolong
akan kusambut jemarimu.
Bila itu memang membantu
menenangkan hatimu.
SAYA INGIN PERCAYA
Saya ingin percaya
bukanlah ayun pedang itu
yang menebas pokok pohon.
Batang kayu sendirilah
yang telah rela membelah diri
demi memberi celah bagi bilah baja tajam
agar dapat melewatinya.
Saya ingin percaya
bukanlah hembusan musim
yang merontokkan bunga-bunga.
Kuntum-kuntum itulah yang menggigil hatinya
terjun dari ketinggian tebing angin
meninggalkan rangka tangkai sendiri
ingin bermain bermandikan cahaya di bawah sana.
Ya, saya ingin percaya.
THE HISTORY OF SIPILIZATION
Di atas serakan kerak setipis ari dari segumpal api yang terus bergerak dalam proses evolusi sejumlah jasad renik bekerja keras membangun koloni tanpa henti sepanjang siang dan malam hari mereka harus mendirikan surga di bumi karena hidup hanya sekali sudah itu lewat dan tak ada kebangkitan setelah mati apalah lagi surga sehingga lezat paling nikmat harus tamat direguk jasad selama berhayat di dunia mereka mesti mewujudkan supremasi diri karena tak ada tuhan yang zat sedangkan ilah hanyalah kemungkinan tertinggi dari manifestasi potensi insani akal universal yang kekal mereka menulis kitab sendiri karena yakin bahwa kitab langit hanyalah kumpulan dongeng yang koyak moyak oleh sayatan pisau analisis kritis dan porak poranda oleh strategi pembacaan dari para ahli mimpi mereka tanpa tepi meski ukuran dan umur mereka hanya senoktah cahaya perak di layar hitam sinema maka alam jadi lain dan inferior ketika di atas lapisan labil dari sistem geologis yang tertutup mereka mendirikan menara-menara babel dan hamam yang mencuat tinggi dan runcing bagai hamparan paku setelah mereka pangkas habis rambutnya lebih dulu lalu mereka kentuti sejengkal ruang udara yang mereka hirup sendiri mereka ludahi jantung nadi dan hati dimana mengalir air asal kelahiran sendiri seperti para pemabuk mereka obokobok mulut rongga rahimnya mereka tusuk dan sayat kulitnya mereka keruk dagingnya mereka kerkah rangkanya mereka sesap sumsumnya hingga menggerowong mereka hisap sari madu mereka muntahkan sampah mereka.tabur tuba dan curah cuka pada liang lukalukanya, ya:
dengan terencana dan sistematis mereka sedang menghabisi diri sendiri.
STATISTIK KORBAN
1000 tewas oleh bencana
dan warga dunia guncang karenanya
seorang pengemis terbujur ditutupi koran
kita menyerahkannya pada dinas kebersihan
1000 nyawa dicabut secara massal
dan 1 nyawa meregang sepi di bangsal
tentu dengan berita yang pertama kita tersentak
dan Maut lantas jadi selebritas mendadak
karena dalam statistik negara
dan matematika demokrasi sederhana
1000 jelas lebih signifikan dan dominan
jika dengan hanya 1 dibandingkan
tetapi dalam timbangan keadilan
duka seorang ataupun 1000 kurban
sama besar dan beratnya
sama sedih dan sepinya
maka hormatilah
setiap tetes air mata yang tumpah
setiap titik darah dari luka
: ia keramat dan mulia
KEMARAU PANJANG
hujan turun malam-malam
ketika mata-mata pejam
dan semua telinga redam
bukan untuk para raja atau kawula
tetapi bagi sehelai rumput kering merana
yang mulut kecilnya tak putus terus mendoa
ya, hujan turun kala malam telah larut
dan insanpun terselamatkan dari jaring maut
bukan oleh malaikat, melainkan sehelai rumput
MUNAJAT BENCANA
Bila dalam sejuk semilir dan rinai rintik
tak kami lihat senyumMu ramah menyapa,
adakah amuk badai dan arus bah melanda ini
seringai amarahMu? Bila lirih himbauMu
tak juga dihiraukan para hamba,
inikah geram mautMu yang menghalau kembali?
Dan bila pemuliaanMu atas lempung hina ini
hanya membuatnya angkuh bangga,
akankah kau hempaskan ia ke atas tanah
hingga nyaris binasa agar mampu mengakui rapuhnya?
Wahai, Sang Pencurah Rahmat,
jadilah kehendakMu
dalam kemahalembutanMu!
MEDITASI SETELAH BENCANA
setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa bersukur dan percaya
berada pada golongan yang benar
karena darinya dapat terhindar
sementara di atas langit, malaikat bala
menatap prihatin dan menggelengkan kepala:
justru karena dan untuk kalianlah petaka ditimpakan
agar dapat sadar dan mengambil pelajaran!
setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa diperlakukan dengan semena
yang tak berdosa bergelimpangan mati dan sekarat
sedangkan yang keji malah aman dan selamat
hingga malaikat bala berbisik kepadaku
adakah aturan ciptaan pada pencipta berlaku
sementara kalian kepada sesama berbuat tak patut
pun tanpa tanya dan pilih, membakar sarang semut
setelah terjadi bencana entah di mana
kita merasa kecewa dan gundah gulana
apakah sia-sia saja telah beriman
mengapa percaya tak membawa keselamatan
dan malaikat bala tertawa menggema lalu bersabda
apa keyakinan kalian menuntut balas jasa dan imbal guna
seperti pedagang ajimat bermain tawar menawar
bila merugi lantas gusar dan ingin ingkar!
SAJAK RINO
kalau tiba musim hujan
dan banjir datang
Rino suka main air genangan
atau tanding bola di lumpur berkubang
biasanya sekolah akan tutup
barang sehari dua
Rino dan kawan puas berkuyup
tertawa-tawa bersama
kadang ayah marah datang mencari
dengan membawa sebatang lidi pecut
dan di rumah ibu akan menyuruh mandi
lalu menghukum di bawah selimut
pagi ini Rino bangun kesiangan
lihat orang sedusun basah berlumpur
kemanakah ayah ibu gerangan
mereka terus tidur seperti bulan libur
BILA DATANG DUKA BENCANA
Bila datang duka bencana
Janganlah keburu berburuk sangka
Mengira Tuhan sedang menghinakanmu
Dan alam mengkhianatimu
Sungguh kemuliaan dan kedekatan
Tidaklah terkait dengan kesenangan
Lihatlah dulu siapa dirimu sendiri
Dan bagaimana sikapmu menghadapi
Satu bencana yang sama
Berbeda makna dan manfaatnya
Sakit perih yang mendera diri
Adalah azab bagi pendosa keji
Bagi yang lalai khilaf teguran peringatan
Namun jadi ujian di hati yang beriman
Sedangkan untuk para wali rezeki
Dan perhiasan mahkota bagi nabi
IA TAK LAGI BERANI MENDUGA-DUGA TENTANG ANGIN
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang angin
Sejak gelisah yang berpusing itu datang
Menerjang membuat terban rebah
Segala yang pernah ditegakkannya
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang tanah
Sejak kesabaran itu retak rekah
Menelan lenyap segala
Yang pernah disemainya
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang api
Sejak amarah yang menyembur itu
Menghangusmusnahkan segala
Yang pernah dipunyainya
Ia tak lagi berani menduga-duga tentang air
Sejak ketenangan itu bangkit menggelombang
Menyapu pupus segala yang pernah
Ia sebut sebagai kesayangan
Ia tak lagi berani menduga-duga
Tentang angin, tanah, api dan juga air
Sejak ia merasa bahwa keempatnya kini
Sedang bersiasat untuk mengingatkannya
SANTAP SIANG SEORANG FILSUF
Saya telah melihat anak tak bersalah
Menderita sakit parah lantas tergeletak mati
Mesti ada penjelasan atas ini masalah
Kezaliman yang sungguh menyakitkan hati
Setelah tercenung sejenak di ujung renung
Ia memutuskan kembali nikmati lezat santapan
Menu sajian favoritnya: kerang segar bertempurung
Yang diperasi jeruk hingga mengerut perlahan
Subscribe to:
Posts (Atom)
Materi promosi
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...
-
ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu tak henti-hentinya kupuja. Ketika musim hujan deras ...
-
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...