Tuesday, October 16, 2012

PROYEK 1000 HAIKU (kamis, 1/11/2012)


(Berdasar target waktu, proyek ini dapat dikatakan gagal karena tidak berhasil mencapai 1000 haiku baru dalam setahun sejak september lalu. Namun, karena tujuannya kesenangan, dengan enteng targetnya diubah menjadi target jumlah, 1000 haiku baru)

::

gerimis sore


klakson-klakson pun ingin
segera pulang

(444/2012)
*
senja nan basah
gadis berkerudung pun
menyingkap betis

(443/2012)
*
hamparan lahan
satu papan bertulis-
kan: milik anu

(442/2012)
*
deru lautan motor;
diseberangkan angin:
sehelai daun

(441/2012)
*
di tepi jalan
sejoli singgah berbantah
hal masa depan

(440/2012)
*
menjelang larut
sayu mata penjual,
melotot ikan

(439/2012)
*
meremang sore
tenda dan lapak mekar
di bahu jalan

(438/2012)
*
dandanan artis
berjongkok tepi parit
menanti teman

(437/2012)
*
restoran sepi
pramusaji mengisi
kursi-kursi vip

(436/2012)
*
jikapun bukan
haiku, biarlah ini hai-
ku, ya, rembulan

(435/2012)
*
berlindung dinding:
taman marak berbunga,
kolam berbulan

(434/2012)
*
kaktus, cemara
di taman depan rumah
tumbuh bersama

(433/2012)
*
tak nampak bulan
wangi sedap malam
kuhirup dalam

(432/2012)
*
segra terdiam—
ibu, adik wanita
di meja dapur

(431/2012)
*
terangnya bulan
cakap remaja tanggung
berjalan malam

(430/2012)
*
lampunya padam
dengan senter di tangan
menulis haiku

(429/2012)
*
lampunya padam
bayang cemara bulan
di taman depan

(428/2012)
*
terbirit lari
menghindari terang
si tikus gembrot

(427/2012)
*

hahahahaha
kucing tambun tergesa
selip di atap

(426/2012)
*
tasbih pertama
sebelum swara takbir
kicauan burung

(425/2012)
*
vas porselain
berlimpah bunga-bunga
dalam dadanya

(424/2012)
*
antara bangku
taman dan pohon kayu:
sayup bisikan

(423/2012)
*
ah, nostalgia...
taplak bersulam bunga
di meja kayu

(422/2012)`
*
 ‘ku coba lagi
menafsir desir angin
tanpa nokia

(421/2012)
*
vas porselain
oleh caya purnama
rona pipinya

(420/2012)
*
rindukan pulang
bayang daun bunga
di meja kayu

(419/2012)
*
besok lebaran
sepasang sapi saling
gesekkan pipi

(418/2012)
*


kasmaran lagi
pada wajah asingnya
awan berlayar

(417/2012)
*
kecup keningmu;
air mataku terjun
ke aliranmu

(416/2012)
*
laman majalah,
layar kaca di benak:
lagak remaja

(415/2012)
*
timbunan pantai
berapa banyak bukit
dicungkil lagi?

(414/2012)
*
ganggang menari
kibasannya geraikan
helaian rambut

(413/2012)
*
tatap matamu—
kupandangi diriku
seterang


 pagi

(412/2012)
*
rimbun pohonan— 
satu yang tak kukenal
ranggas sempurna

(411/2012)
*
lahan terlantar
tanpa nyanyian panen
penggarap ‘manen

(410/2012)
*
antara kembang-
merak kuning dan merah:
sepasang kupu!

(409/2012)
*
simpul dasiku
ketat menekan jakun—
ternak memamah

(408/2012)
*
tali helem
terlalu ketat mencekik—
qurban merumput

(407/2012)
*

ditumpuk angin
dedaun tak bertanya
akan ke mana

(406/2012)
*
semburat fajar
buliran embun di bibir
mawar paginya

(405/2012)
*
musim memetik
kilau apel meranum
di dada dara

(404/2012)
*
riak rambutnya
tempias hempas ombak
di lambung kapal

(403/2012)
*
sekilas pandang
di padang tandus, kilat
tanda ‘kan hujan

(402/2012)
*
sesungging senyum
walau samar, yakinnya
menampak hilal

(401/2012)
*
pembatik tua
bila malam meluluh
wujudlah bunga

(399/2012)
*
anggur hitam
manis masamnya dunia
menyembur padu

(398/2012)
*
ditebar angin
disiram hujan, benih
hijau cemerlang

(397/2012)
*
bila kembali?
bahkan sebelum ia
berbalik pergi

(396/2012)
*
hujan perdana
andai masih di ranting
daun kering kemarin

(395/2012)
*
perih mataku;
memicingkan yang kanan,
kubaca Basho

(394/2012)
*
di batas mimpi
separuh peri, liuk
cemara angin

(393/2012)
*
rak meja tamu
album memori tinggal
dalam memori

(392/2012)
*
berkali lebih
besar dari sosoknya:
citra baliho

(391/2012)
*
depan atm
pengamen tua itu
tanpa saingan

(389/2012)
*
kapan kembali?
bahkan sebelum engkau
beranjak pergi...

(388/2012)
*
daun balacai
mengering di keningmu
air mataku

(387/2012)
*
gerimis awal
apa yang dibisikkan
air pada pasir

(386/2012)
*
runduk kembang
sepatu tepi pagar—
tatap si dara...

(385/2012)
*
di samar senja
lembut senyuman itu
masih kukenali

(384/2012)
*

pembersih lantai
manekin yang berjajar
menatap abai

(383/2012)
*
tanggal tua
di dahan pohon jeruk
kilauan bulan

(382/2012)
*
terpaan dingin
melintasi pintu bank
dan tatap satpam

(381/2012)
*
kiriman ikan
tiba, saat menanak—
mengeong kucing

(380/2012)
*
lambaian lemah
di seberangnya lembah
o, kupu-kupu

(379/2012)
*
kabut membungkus—
hanya helaan halus
dari nafasmu...

(378/2012)
*
tanpa keluhan
tanjakan yang dipilih
terus ditempuh

(377/2012)
*
unggun api
menungguimu bangun
ke lingkar lengan

(376/2012)
*
permisi semut
bekas tumpahan kopi
segera dipel

(375/2012)
*
biasa sendiri
ditutupnya daun jendela
mengusir bayang

(374/2012)
*
bayang-bayang pun
bergoyang kiri-kanan
menyembah Tuhan

(373/2012)
*
gerbang tanpa pintu
si pengembara termangu
bimbang di ambangnya

(372/2012)
*
tanpa perabot
tumpahan cahya purnama
tertampung semua

(371/2012)
*
di rumah tua
sabarnya semut rayap
menggali liang

(370/2012)
*
menutup telpon
khawatir getar swara
rambaskan air mata

(369/2012)
*
birunya langit
kamera baruku pun
gagal merekam

(368/2012)
*
sengkarut sengketa—
dalam laci lemari arsip tua:
jejaring laba-laba

(367/2012)
*
dua patung keberuntungan
depan gedung bank yang bangkrut
bertahan gagah mengaum

(366/2012)
*
jalan batu tepi Pattongko
lembut ombak mendamparkan
samar bau ganggang

(365/2012)
*
kabut itukah yang
mengaburkan atau gunung
melebur biru?

(364/2012)
*
sudah jam tujuh pagi?
ah, ternyata baru lima sore!
dilelapkan gerimis oktober

(363/2012)
*
dengan selimut tebal
menikmati mahalnya
pendingin udara hotel

(362/2012)
*
tak bisa diselamatkan
semangkuk gulai ayam tersisa
telanjur basi tersia

(361/2012)
*
tumpukan buku
berlomba dengan rayap
menghabiskannya

(360/2012)
*
bingkai jendela
walaupun rengkah matahari
menyinarinya indah

(359/2012)
*
penerbangan malam
tak hanya awan, mimpi pun
terserak tak karuan

(358/2012)
*
derik jengkerik
pun digigirkan
dingin malam ini

(357/2012)
*
september ini
tanpa menunggu flamboyan
akasia berbunga sendiri

(356/2012)
*
hujan kabut pagi
membalut bumi, kutarik sarung
melungkar dalamnya

(355/2012)
*
cerah paras bang becak
pagi ini, berbatik coklat warna
dan celana senada

(354/2012)
*
terang pagi ini
si sinting pemberang pun
riang berlari-lari

(0353/2012)
*
buah cahaya
antara kita, pepucuk pagi
dibubuhkan surya

(0352/2012)
*
bunga mekar kembali
yang gugur kemarin
tak terganti

(0351/2012)
*
bunga mekar lagi
kumbang datang mengitari
pun bukan yang kemarin

(0350/2012)
*
plum dan aprikot
berkilau dingin
pagi musim semi

(0349/2012)
*
berlian biru
berkilauan cemerlang
langit Berlin

(0348/2012)
*
bulan mati
dingin gagang parang
menggantung di pinggang

(0347/2012)
*
buah bulan
cengkeram cakar kelelawar
moga tak mencederai

(0346/2012)
*
besok lebaran
calo dan pengemis sepi
libur ke kampung

(0345/2012)
*
baru terbangun
kicau burung pagi
terburu melantun

(0344/2012)
*
menjaga tanah air
biarpun melarut malam
bendera berkibar

(0343/2012)
*
melahap lapar,
menenggak dahaga: berpuas puasa
kepompong pertapa

(0342/2012)
*
siapa melintas
memahat sosoknya
kilau cahaya pagi

(0341/2012)
*
terjaga oleh purnama
riuh kokok ayam
bersahutan

(0340/2012)
*
bunga kana—
gelungan rambutmu
sebelum kuuraikan

(0339/2012)
*
para penjaja
dan pengemis suara
di jelang berbuka...

(0338/2012)
*
rumah gadai
wajah-wajah akrab
saling menyapa

(0337/2012)
*
baju lama
di hari fitri
jadi baru

(0336/2012)
*
hari-hari abu
hanya haiku melati
istirahat hatiku

(0335/2012)
*

Sunday, July 29, 2012

SAJAK-SAJAK


HOTEL ALBRECHTSHOF, BERLIN

Hampir pukul sepuluh;
ruang sarapanpun
menghampar sepi.

Pertempuran telah reda:
koran pagi kembali
tersampir rapi.

Tanpa denting
kuku runcing
pada jenjang leher gelas

atau kepulan asap
di atas lautan
secangkir kopi.

Piring dan pisau
terbaring bisu.
Meski bersisian.

Di nampan buah,
sepasang pir dan apel
tak terjamah

--selamat tersisa
dari mangsa
umat omnivora--

Berkilau dingin
putih dan merah
punggung mereka.

Tenteramlah, 
hingga keramaian
jam 12 nanti.


SIANG TERIK PANTAI KURI, MAROS
--bersama Nasir

Di kampung Pantai Kuri,
pada hamparan berhektar tambak
kita berjalan menyusuri pematang
ketika hari jelang jam dua belas siang
sembari berbincang tentang orang-orang beruang
yang mengintai celah peluang
menyulap petak-petak sawah serta tambak
menjadi kawasan industri atau perumahan minimalis.
Samar deru ombak, sampai juga terdengar
menyusupi telinga batinku.

Sementara aku terpana
pada gerumbul bunga taijangang
yang mempersembahkan tiga warna bersama:
jingga, kuning juga ungu. Di bawahnya,
tanah yang kurus mengerang terputus-putus
seperti ingin menyeberangkan kabar:
kami sudah beri segala subur gembur
sebab urea yang ditebar bertahun memerah habis
simpanan kami hingga ke rongga butir terakhir!

Hatiku limbung demi mendengarnya.
Dan aku cemas memikirkan kemungkinan
sepuluh tahun ke depan lagi
luas lepas lanskap ini akan disesaki
kotak-kotak beton pengap panas:
belukar dari kota besar yang menjalar
kian liar tak terkendali.

Tetapi aroma ikan bolu dan kepiting bakar
segera membuatku terjaga.
Segar racikan sambal mangga
mengejutkanku dari lamunan muram masa depan
dan pahit duka sebentaran.
Seraya dengan terampil menyisihkan duri-duri
dari rekahan daging putih manis itu,
aku sekalian membantu tiga ekor bandeng
menuntaskan tugas dan eksistensinya
di alam maya ini. Samar kudengar,
engkau bercerita: sekarang panen
setahun sekali hanya, dulu empat
dengan besar dua kali lipat.

Kini aku mengerti, mengapa
gadis-gadis manis kampungmu
melepas sarung dan menukarnya
dengan rok-rok mini sempit seragam pramuniaga
di mal-mal Kota Makassar.
Mengapa para pemuda perkasa
meninggalkan cangkul serta serok berjala
mengejar kesempatan jadi pekerja pabrik di Korea.
Sukur, saudara saudarimu sudah lepas sekolah
dan ayahmu telah ke tanah suci.
Sedangkan engkau sendiri, sobatku, sekarang
makin sibuk mengajarkan ilmu bisnis dan tata buku.

Angin dari arah pantai
membuat pohon-pohon pisang melambai
menepiskan terik tropika dari mentari tengah hari
yang menjangkau mencengkeram tengkuk-tengkuk kita.
Daun-daun pohonan bakau
yang berakar kokoh menjejak lumpur,
dengan sabar menapis gempuran garam
yang disemburkan laut ke daratan.
Tetapi aku hanya jatuh hati kepada bunga-bunga tahi ayam
yang terangguk-angguk mengantarku pergi
menyeret langkah kantuk sebab lambung yang sibuk,
menenteng dua kantung buah tangan
penuh berisi beras panen dan ikan-ikan

 
ANTARA TETIRAI

Telah tercerabut engkau
Dari kelam humus
Yang meringkus
Dan menumbuhkan sengitmu
Ungu yang menyemburat
Di setiap helai lapis gaun
Tentulah tidak terbit
Dari sungkan malu
Betapa mata hamba
Membuta setiap lengkap
Menanggalkan cemerlang
Yang membungkus tubuh
Dan bila tersibak tirai
Air mata dari pelupuk
Sejenak sahaya kenali kilau
Jejak lampau terang surya
Yang pernah engkau dekap
Sesiang nan purbawi
Hingga semakin ke dalam
Mengelupas sedap rahasia
Hanya rupa hampa
Menyapa pelukan hamba
Di jantung  sepi
Sesiung bawang

(2012)


DI DEPAN JENDELA

Jendela kamarku
bingkainya rengkah
tirainya pun kusam lusuh

Namun di balik kaca memburam
Tiga pohon ekor bajing
Merimbun tumbuh

Dan sering melambai kepadaku
Bagai tiga kemoceng hijau yang riang
Saban angin lalu membelai

Membuatku abai akan
Bingkai, tirai dan kaca
Jendela kamarku

(2012)



Proyek 1000 Haiku


::
sekali liukannya
dan daunan menguning
gugur bertaburan

(0334/2012)
*
melompat mundur
dan menutup kedua telinga
si penyulut petasan

(0333/2012)
*
retak berlubang
tabah ia menggenggam
bunga plastik

(0332/2012)
*
dikepung spiker
mercon dan raung klakson
terhuyung doa

(0331/2012)
*
berkilauan telaga:
mandi di bawah bulan,
para dara ayu

(0330/2012)
*
terik surya
betapa kering terpanggang
baret-miringku

(0329/2012)
*
jelang puasa
setumpuk undangan
pada bulan menua

(0328/2012)
*
jelang puasa
para pengantin
berkawinan

(0327/2012)
*
malam panas
orkes dangdut
bersahutan

(0326/2012)
*
malam gemetar
gaung gong tetabuhan
dari arah selatan

(0325/2012)
*
kuyup gemetar
dalam hujan subuh
suara azan

(0324/2012)
*
lembab bantal
air matanya diuraikan
mimpi jelang pagi

(0323/2012)
*
di tepi pekuburan
berhenti dan singgah
pak pos

(0322/2012)
*
jelang puasa
makin seksi aksi
gadis remaja

(0321/2012)
*
kicau burung-burung
berserak keperakan
remah rembulan

(0320/2012)
*
rindang cemara
embun ditadah semalam
dibagi ke rumput pagi

(0319/2012)
*
baru syakban
sinetron dan iklan
telah lebaran

(0325/2012)
*
senja berlarat
berat dan muram
sonata Brahms

(0324/2012)
*
surat tagihan bank
hujan menggigilkan hurufnya,
mengaburkan angkanya

(0323/2012)
*
paras purnama
begitu dekat namun jauh
gaib meskipun nyata

(0322/2012)
*
lumut di batu
hidup hanya berlapik
selapis debu

(0321/2012)
*
jalan lama telah berbeda
rumahmu pun berpindah tangan
namun gentar-getarku...

(0320/2012)
*
berapa perihmu
ya pokok kayu, demi
sesosok ayu?

(0319/2012)
*
biru guratan pedih
sketsa memudar: sesuatu
yang pernah kita

(0318/2012)
*
lembab air mata
ujung kebaya lusuhnya—
seduhan teh tak disentuh

(0317/2012)
*
ilalang menjulang
puncak pepucuknya hilang
sejingga senja

(0316/2012)
*
dingin pagi
menguap lengah
prajurit jaga

(0315/2012)
*
cahaya pagi
daun belum kebagian
hijau dingin

 (0314/2012)
*
datanglah september
di halaman sepasang pohon
akan berbunga mekar

(0313/2012)
*
o, tiny fragile earth
please, breath in and out
slowly, calmly

o, bumi kecil rapuh
hirup-hembuskanlah nafasmu
perlahan dan tenang

(0312/2012)
*
bunga-bunga hujan
bermekaran kala nyentuh aspal
sekejapan saja

(0311/2012)

::HGST::

Monday, June 25, 2012

KUATRIN MUSIM PANAS (2)

Kini di penghujung Juni, menjelang Juli
pohonan mulai ranggas menanggalkan gaun daun-daunnya.
Gemetar, belajar dari mereka, pun kutanggalkan diri 
demi cinta tak tertahankan dari sang surya.

SERUMPUN SAJAK CINTA

TANPA CINTA

Tanpa cinta, kita tak akan pernah ada.
Karena cinta kepada diriNya,
Tuhan ciptakan insan menurut citraNya.

Bagai pelukis dalam khusyuk berkarya,
setiap goresan dan sapuan kuas di atas kanvasnya
adalah cerminan dirinya bagi mata pengamat seksama.

Tanpa cinta, dada kita tinggal rongga menganga hampa :
wajah kekasih, tanda mata kenangan, dan setangkai bunga
tinggal kumpulan sedih materi sepi terperangkap ruang dan kala.

Karena cinta membuka semua pintu serta jendela,
memberikan tempat bagi yang lain untuk masuk berdiam bersama
jiwapun meluas dan mendalam, masing-masing jadi bermakna.


SEBUAH SAJAK BERSAHAJA

inilah sajakku yang bersahaja saja
untukmu : perempuan bermata telaga
dengan rimbun rumpun cemara
pada tepinya

inilah sajakku untukmu :
nyanyian hujan penghujung tahun kelabu,
yang jatuh di tengah hutan yang jauh itu
dan kau, tak pernah tahu


PERTEMUAN

Seperti gerimis yang bernyanyi perlahan
dalam temaram impian, engkau telah meledakkan
sesuatu dalam diriku ketika pada suatu senja
mendadak kau menyapa dan sejenak aku diam terpana.

Alangkah sedihnya, sejak saat itu
aku pun menjelma adam : yatim piatu
yang dikutuk untuk berdua, yang didera sepi
berduka, sejak Tuhan mengajarinya arti sendiri.


KARTU BERGAMBAR

masih dengan dada berdebar seperti waktu pertama dahulu,
lebaran ini kembali kukirimkan selembar kartu bergambar untukmu
dengan latar biru seperti tahun-tahun lalu
hanya tertera nama serta tandatanganku di situ
yang kugoreskan dengan jemari gemetar dan perasaan tak menentu
meski ada begitu banyak hal yang aku ingin kamu tahu
mesti menulis apa, aku selalu ragu
walau kuingin benar mendengar kabarmu
setelah sekian lama tiada pernah bertemu
balasannya tak lagi terlalu kutunggu
karena telah mengerti : itu tak perlu


TERBANGUN DARI TIDUR SORE

Aku tersentak bangun dari tidur pendek oleh sebuah lagu lama
begitu nglangut mengalun dari radio, membuatku tertegun
lalu termangu lesu. Sudah jam berapa ?

Di jendela: ada langit
sarung tua yang luntur oleh cucuran waktu
murung, usang, dan kelabu.

Juga ada angin,
meluncur dingin dari busur malam
memburu burung-burung.

Sedang di halaman, gerimis yang bergumam
mulai menjejakkan kaki-kaki kecilnya
dengan malu dan ragu-ragu.

Senyap dan gelap merayap. Senja muram
menyapa di buram kaca jendela. Dan entah mengapa
tiba-tiba saja, aku teringat padamu.


SAJAK KECIL

Aku selalu membisikkan namamu
dalam setiap doaku yang sederhana
dan tentu juga
bersama beberapa harapan lain yang lucu-lucu,
yang membuatku malu dan tersipu sendiri
karena merasa,
ketika kusebutkan semua itu,
mungkin saja
jauh di atas sana
Tuhan hanya mengulum senyum
dan menahan tawaNya.


DI PUNGGUNG GUNUNG

Kata Khairil, Nasib itu kesunyian masing-masing
maka ketika lambaianmu memanggil (betapa ajaib dan asing!),
aku hanya tertegun hingga engkaupun gaib di cakrawala jauh.
Entah apa yang menahan: takutkah atau angkuh
atau semata keengganan tak pasti. Tetapi matahari yang melindap
meninggalkan bisik rahasianya pada jajaran pohonan yang senyap.
Sebentar kemudian gelap yang merayap mengendus jejak telah tiba,
kunyalakan api menjaga bayangku tetap bersama.
Esok ketika kokok ayam hutan bergema bersahutan, aku harus terus lagi
meninggalkan tumpukan hangus kayu dan torehan di pokok jati.


DINGIN HUJAN ANGIN

Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa

Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba

Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada !


UNDANGAN

Cahaya Fajar bagi mataku yang menua, mari, rebahlah sebentar saja
bersandar pada lapang dada yang setia mendamba,
dan menyerahlah kepada sepasang lengan yang sedia menjaga.

Bila kau benar jawaban bagi sengal doa
akan kukekalkan engkau dari ajal,
kuluputkan dari lupa.

Biarkan sang Maut, pemburu yang cemburu itu,
sesat tak kuasa kehilangan alamatmu dan Waktu
sia-sia mengenduskan moncongnya melacak jejakmu

karena telah kuselamatkan engkau
ke dalam taman suaka rahasia
di hatiku.


PERMOHONAN MAAF

Maafkan,
Aku masih selalu mengingatmu
Ketika engkau telah merasa tenang dalam kenangan,
Aman tak terjangkau pada masa lampau.
Yang lebih terlalu lagi :
Aku mengingatmu dengan sesungging senyuman rahasia,
Keluh tertahan, dan hati berluruhan.

Maafkan,
Aku belum dapat melupakanmu
Setelah sekian lama silam berlalu.
Bagaimanakah ikan sanggup mengabaikan lautan,
Mampukah kupu-kupu menghalau angin,
Dan mungkinkah bunga menghapus cahaya
Dari ingatan
Setelah mereka terpisahkan ?

Maafkan,
Atau beri tahu aku caranya.


KARENA GADISKU SEMALAM

Maafkan
Karena hembusan nafas gadisku
Yang menyembur hangat
Di leher dan dadaku tadi malam
Membuatku membenci
Angin pagi yang datang
Mengetuk daun jendela

Maafkan
Karena merdu bisikan gadisku
Yang lirih mengalun telingaku semalam
Membuatku menyesali
Kicau burung-burung
Yang baru bangun dari sarangnya

Maafkan
Karena sayu tatapan mata gadisku
Yang menahanku tak terpejam sepanjang malam
Membuatku mengumpati
Matahari yang rekah
Di ufuk sana

Maafkan, maafkan
Karena dekapan erat gadisku
Yang menjerat tubuhku hingga subuh
Telah membuatku bertanya-tanya
Mengapa pagi
Kembali lagi


SAJAK CINTA

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Yang berarti ia telah meruh.
Jauh jarak ruang dan waktu
ia tempuh dengan angkuh
bagai bahtera dengan tiang layar tinggi kukuh
dan layar-layar putih lebar berkilauan disepuh mentari
melaju membelah ketujuh samudera,
sementara di kedua lambungnya gemulung gelombang ombak
menghantam dan pecah.
Namun ia tetap tabah tiada bimbang ragu
bertahan menuju pada arahnya
seakan tak kan pernah berubah.

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Kuhirup perlahan, dalam, dan berirama
saat duduk bersila memejamkan mata
di tengah larut malam buta.
Yang lalu menjadi energi
mengisi hampa rongga dada
dan meniup bara api hidup
yang dahulu perlahan redup
hingga kembali menggeletar berpijar
menyala berkobaran.

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Walau ia tak tampak bagi kedua mata
ia teramat nyata serta ada di mana-mana.
Menyentuh seluruh sudut dan penjuru,
meliputi segala sesuatu tanpa ada terluput,
dan dapat kau rasakan ia
merasuk sukma.


KEPADA ORANG ASING

Pagi tadi aku membuat segelas kopi saja
tanpa krim dan sedikit gula, seperti kesukaanmu. Betapa aneh
terasa, tanpa suara guyuran air dan senandung dari kamar mandi.
Aku lalu mencoba menonton pesawat televisi seharian seorang diri,
memain-mainkan remote control seperti seorang tolol
lalu merasa sewot sendiri. Tetapi aku tetap tak mampu berhenti
memikirkanmu.
Siapakah kamu, orang asing yang berbaring
di sampingku semalaman. Siapakah kamu.
Seperti sepasang ular jalang di liang sempit
kita telah saling melilit dan menggigit.
Telah kuhirup aroma khas kulitmu
dan bau harum rambutmu yang menyembur saat kau geraikan
telah membawaku ke tengah padang rumput di lembah
pada suatu pagi hari yang basah seusai reda
hujan musim semi yang pertama.
Setiap senti tubuhmu yang menerbitkan beribu mimpi
telah kutelusuri dengan jemari gemetar, dengan dada berdebar keras,
dan peluh yang menderas,
tetapi kau hanya tertawa serta mengangkat bahu
saat aku berkeras ingin tahu masa lalumu
dan meminta catatan alamat
ketika kau bergegas berkemas sebelum berangkat pergi.

Ah, seperti kali kecil, kau selalu menolak bercermin.
Seperti warna-warni mentari dalam lukisan impresionis,
kau beralih berganti tanpa letih.
Dan kemarin ketika aku meminta selembar gambarmu,
dengan ringan kau berkata tak acuh : ”Jangan menyimpan
kenangan masa lalu, itu semacam kecengengan yang tak perlu.”
Aduh ! Akupun tahu
hubungan kita tak punya masa depan. Harapan hanya impian.

Kini senja menyusut di jendela dan malam merambat perlahan.
Kurasakan betul
dingin menyelusup masuk lewat celah bawah pintu
mengendap dan menebal di lantai batu.

Untuk apa menyalakan lampu. Alangkah mengerikan
bila dalam terang aku hanya memergoki diri sendiri yang sepi.
Dalam temaram dan kelam aku merasa lebih tenteram dan aman. Seolah-olah
kau masih hadir di sini, diam di dekatku.
Menatap lekat dan lama tanpa berkata,
menemani.

Seperti seekor ikan menggelepar-gelepar
di atas pecahan-pecahan es, sukmaku yang telah menerima
kutukan itu akan menggeletar tak sabar menanti tiba
kabar berita darimu. Meski hanya selembar kartu pos,
mungkin dari suatu tempat yang jauh
di mana salju selalu jatuh dan matahari begitu pemalu
dan melulu berteduh.
Aku tidak berani memintamu untuk setia
--itu terlalu mustahil dan menggelikan bagimu, tentu--
hanya saja,
tolong, jangan lupakan saya...


MENANGISLAH DI DADAKU

menangislah di dadaku
tuangkan air mata ratapmu
ke dalam cawan senyap hatiku

di sini kita selamanya terasing
dari bising, desing, dan lengking sekeliling
jiwa kita : merpati di atas puing-puing

yang selamanya mendamba kembara
telah terlalu lama dibakar cinta membara
selalu rindu pada sarang di pohon purba

menangislah di dadaku
biar kuurapi rambutmu lembut beledu
dengan air mata kasihku

karena selain dari harum tubuhmu
dan lenganku kukuh merengkuhmu,
segalanya hanya bayang yang melintas semu


KEPADA PEREMPUAN YANG MENANGIS

Berhentilah membunuh diri
Cinta yang engkau tutupi
penuh kegugupan, sungguh
membuatku trenyuh.

Dik, jangan lagi
mengiris nadi
Jantung yang berdetak itu
melagukan pagi baru.

Tak ada padamu salah
selain percaya dan pasrah
-- bunda maria juga menyerah menerima
ketika cakrawala memberi bianglala.

Berhentilah membunuh diri
kini engkau tidak lagi sendiri,
Cinta yang bersemayam dalam tubuhmu
itu kristal embun langit jiwaku.


JANGAN HAPUS AIR MATAMU

Jangan hapus air matamu
ujung puncak segala rasa itu.
Segala suka, segala duka, segala luka
ujung puncaknya air mata juga.

Biarkan ia terbit mengalir
dan ricik nyanyiannya disebar angin semilir.
Biar ia basahkan lembah padas panas jiwamu
dan membelah bongkah cadas keras hatimu.

Biarkan terbit mengalir ia
lalu menggenang menjelma telaga.
Kobaran api neraka olehnya kan padam
dan menjelma kerindangan surga nan tentram.


MALAM BELUDRU

Lenganmu yang mengulur lemas bagai berduka
bagi kecemasan liarku, menjanjikan suaka.
Dalamnya pelukmu merengkuh lukaku
tentram dadamu menjadi Taman Getsemaniku• .

Kita begitu dekatnya, teramat lekat
hembusan nafasmu betapa hangat.
Tubuhku telah berpijar oleh baramu
namun masih juga kuserukan namamu.

Hingga kubenamkan matahariku
ke penghujung samudera malammu.
Berjuta bintangpun terbit di langit tinggi
malam raya semarak bertabur bunga api.


PARADISE REGAINED

Impian memadat dalam tubuhmu
sejak dipahat kau dari rusukku satu.
Dan taman surgapun jadi tak semenawan dahulu
Setelah pertama kali kujelajah perawan belantaramu.

Maka ketika lebar-lebar gerbang ke luar terbuka
kita melangkah turun namun tetap mengangkat kepala.
Dipermainkan angin, berkibaran jubah dan rambut kita
di hadapan : terhampar megah padang luas penuh bunga


KEINGINAN SEDERHANA PENGANTIN TUA

sedari pertama kali kita terpikat
sepasang sepi telah ditakdirkan untuk terlibat
dan akhirnya, bagai rumpun rambat, saling terikat

meski lenganku kekar tak kebal ajal
dan kembang dadamu tiada bakal kekal
tetapi sayang kita sungguh teramat bengal

kau tak ingin aku pergi, kau tak akan kubiarkan mati
seperti sepasang beringin, kita impikan abadi
berdiri berdampingan, melihat abad berganti


SUNGAI NAFASMU

sungai nafasmu
halus menjuntai di dadaku

arus rambutmu yang sejuk
menggerus bebatuan di perutku

dan riak-riak jemarimu
mengelus lembut relung purba itu

aku lembah yang rengkah
terima kasih telah membelahku


PEREMPUAN LAUT

Tubuhmu menyemburkan gelombang samudera
melanda dan menggulungku
hingga ke palung laut paling biru.

Tolong jangan biarkan arus membawaku
kembali ke atas sana; aku ingin terus
terbaring saja selamanya di sini

--di antara ganggang dan karang
bersama kerang dan ikan-ikan
yang tak pernah melihat terang,

selain biru yang paling kelam--
di lubuk terdalam
mautmu


QAYLA

Kami, Qays dan Layla,
bukanlah majenun;
tetapi kewarasan Cinta
adalah kegilaan bagi kalian
--apatah lagi bila kegilaannya!

Sejak Cinta menyapih kami
terbukalah kelopak dalam dada
kami pun melihat dunia yang kalian kenal
tak lagi dengan pandangan Dajjal
--mata dan hati kami sama bercahaya!

Jalan Cinta tidaklah meminta,
Jalan Cinta adalah memberi,
menyerahkan merih untuk disembelih
untuk jadi persembahan di altarNya
--yaitu meniada untuk mengada!

Bila kalian bertanya, inilah rahasia:
kelopak terpejam Ismail, tangan gemetar Ibrahim,
dan belati yang berkilatan dalam genggamannya,
adalah cinta semata juga yang menjelma
--untuk menuntunmu ke Jalan ini!

Materi promosi

 DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...