Monday, June 25, 2012

KUATRIN MUSIM PANAS (2)

Kini di penghujung Juni, menjelang Juli
pohonan mulai ranggas menanggalkan gaun daun-daunnya.
Gemetar, belajar dari mereka, pun kutanggalkan diri 
demi cinta tak tertahankan dari sang surya.

SERUMPUN SAJAK CINTA

TANPA CINTA

Tanpa cinta, kita tak akan pernah ada.
Karena cinta kepada diriNya,
Tuhan ciptakan insan menurut citraNya.

Bagai pelukis dalam khusyuk berkarya,
setiap goresan dan sapuan kuas di atas kanvasnya
adalah cerminan dirinya bagi mata pengamat seksama.

Tanpa cinta, dada kita tinggal rongga menganga hampa :
wajah kekasih, tanda mata kenangan, dan setangkai bunga
tinggal kumpulan sedih materi sepi terperangkap ruang dan kala.

Karena cinta membuka semua pintu serta jendela,
memberikan tempat bagi yang lain untuk masuk berdiam bersama
jiwapun meluas dan mendalam, masing-masing jadi bermakna.


SEBUAH SAJAK BERSAHAJA

inilah sajakku yang bersahaja saja
untukmu : perempuan bermata telaga
dengan rimbun rumpun cemara
pada tepinya

inilah sajakku untukmu :
nyanyian hujan penghujung tahun kelabu,
yang jatuh di tengah hutan yang jauh itu
dan kau, tak pernah tahu


PERTEMUAN

Seperti gerimis yang bernyanyi perlahan
dalam temaram impian, engkau telah meledakkan
sesuatu dalam diriku ketika pada suatu senja
mendadak kau menyapa dan sejenak aku diam terpana.

Alangkah sedihnya, sejak saat itu
aku pun menjelma adam : yatim piatu
yang dikutuk untuk berdua, yang didera sepi
berduka, sejak Tuhan mengajarinya arti sendiri.


KARTU BERGAMBAR

masih dengan dada berdebar seperti waktu pertama dahulu,
lebaran ini kembali kukirimkan selembar kartu bergambar untukmu
dengan latar biru seperti tahun-tahun lalu
hanya tertera nama serta tandatanganku di situ
yang kugoreskan dengan jemari gemetar dan perasaan tak menentu
meski ada begitu banyak hal yang aku ingin kamu tahu
mesti menulis apa, aku selalu ragu
walau kuingin benar mendengar kabarmu
setelah sekian lama tiada pernah bertemu
balasannya tak lagi terlalu kutunggu
karena telah mengerti : itu tak perlu


TERBANGUN DARI TIDUR SORE

Aku tersentak bangun dari tidur pendek oleh sebuah lagu lama
begitu nglangut mengalun dari radio, membuatku tertegun
lalu termangu lesu. Sudah jam berapa ?

Di jendela: ada langit
sarung tua yang luntur oleh cucuran waktu
murung, usang, dan kelabu.

Juga ada angin,
meluncur dingin dari busur malam
memburu burung-burung.

Sedang di halaman, gerimis yang bergumam
mulai menjejakkan kaki-kaki kecilnya
dengan malu dan ragu-ragu.

Senyap dan gelap merayap. Senja muram
menyapa di buram kaca jendela. Dan entah mengapa
tiba-tiba saja, aku teringat padamu.


SAJAK KECIL

Aku selalu membisikkan namamu
dalam setiap doaku yang sederhana
dan tentu juga
bersama beberapa harapan lain yang lucu-lucu,
yang membuatku malu dan tersipu sendiri
karena merasa,
ketika kusebutkan semua itu,
mungkin saja
jauh di atas sana
Tuhan hanya mengulum senyum
dan menahan tawaNya.


DI PUNGGUNG GUNUNG

Kata Khairil, Nasib itu kesunyian masing-masing
maka ketika lambaianmu memanggil (betapa ajaib dan asing!),
aku hanya tertegun hingga engkaupun gaib di cakrawala jauh.
Entah apa yang menahan: takutkah atau angkuh
atau semata keengganan tak pasti. Tetapi matahari yang melindap
meninggalkan bisik rahasianya pada jajaran pohonan yang senyap.
Sebentar kemudian gelap yang merayap mengendus jejak telah tiba,
kunyalakan api menjaga bayangku tetap bersama.
Esok ketika kokok ayam hutan bergema bersahutan, aku harus terus lagi
meninggalkan tumpukan hangus kayu dan torehan di pokok jati.


DINGIN HUJAN ANGIN

Dingin yang menderu tiba
Di manakah sarang asalnya
Di lubuk hatimu yang terkuak luka
Atau dari nafasku menghembus hampa

Hujan yang turun pertama
Dari manakah gerangan datangnya
Dari hatimu yang diracun duka
Atau dari mataku dirabun damba

Dan angin yang menderu swaranya
Ke manakah ingin menuju ia
Ke kotamu melintasi laut utara
Atau hanya berpusing dalam dada !


UNDANGAN

Cahaya Fajar bagi mataku yang menua, mari, rebahlah sebentar saja
bersandar pada lapang dada yang setia mendamba,
dan menyerahlah kepada sepasang lengan yang sedia menjaga.

Bila kau benar jawaban bagi sengal doa
akan kukekalkan engkau dari ajal,
kuluputkan dari lupa.

Biarkan sang Maut, pemburu yang cemburu itu,
sesat tak kuasa kehilangan alamatmu dan Waktu
sia-sia mengenduskan moncongnya melacak jejakmu

karena telah kuselamatkan engkau
ke dalam taman suaka rahasia
di hatiku.


PERMOHONAN MAAF

Maafkan,
Aku masih selalu mengingatmu
Ketika engkau telah merasa tenang dalam kenangan,
Aman tak terjangkau pada masa lampau.
Yang lebih terlalu lagi :
Aku mengingatmu dengan sesungging senyuman rahasia,
Keluh tertahan, dan hati berluruhan.

Maafkan,
Aku belum dapat melupakanmu
Setelah sekian lama silam berlalu.
Bagaimanakah ikan sanggup mengabaikan lautan,
Mampukah kupu-kupu menghalau angin,
Dan mungkinkah bunga menghapus cahaya
Dari ingatan
Setelah mereka terpisahkan ?

Maafkan,
Atau beri tahu aku caranya.


KARENA GADISKU SEMALAM

Maafkan
Karena hembusan nafas gadisku
Yang menyembur hangat
Di leher dan dadaku tadi malam
Membuatku membenci
Angin pagi yang datang
Mengetuk daun jendela

Maafkan
Karena merdu bisikan gadisku
Yang lirih mengalun telingaku semalam
Membuatku menyesali
Kicau burung-burung
Yang baru bangun dari sarangnya

Maafkan
Karena sayu tatapan mata gadisku
Yang menahanku tak terpejam sepanjang malam
Membuatku mengumpati
Matahari yang rekah
Di ufuk sana

Maafkan, maafkan
Karena dekapan erat gadisku
Yang menjerat tubuhku hingga subuh
Telah membuatku bertanya-tanya
Mengapa pagi
Kembali lagi


SAJAK CINTA

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Yang berarti ia telah meruh.
Jauh jarak ruang dan waktu
ia tempuh dengan angkuh
bagai bahtera dengan tiang layar tinggi kukuh
dan layar-layar putih lebar berkilauan disepuh mentari
melaju membelah ketujuh samudera,
sementara di kedua lambungnya gemulung gelombang ombak
menghantam dan pecah.
Namun ia tetap tabah tiada bimbang ragu
bertahan menuju pada arahnya
seakan tak kan pernah berubah.

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Kuhirup perlahan, dalam, dan berirama
saat duduk bersila memejamkan mata
di tengah larut malam buta.
Yang lalu menjadi energi
mengisi hampa rongga dada
dan meniup bara api hidup
yang dahulu perlahan redup
hingga kembali menggeletar berpijar
menyala berkobaran.

Cintaku untukmu, Perempuan
adalah udara.
Walau ia tak tampak bagi kedua mata
ia teramat nyata serta ada di mana-mana.
Menyentuh seluruh sudut dan penjuru,
meliputi segala sesuatu tanpa ada terluput,
dan dapat kau rasakan ia
merasuk sukma.


KEPADA ORANG ASING

Pagi tadi aku membuat segelas kopi saja
tanpa krim dan sedikit gula, seperti kesukaanmu. Betapa aneh
terasa, tanpa suara guyuran air dan senandung dari kamar mandi.
Aku lalu mencoba menonton pesawat televisi seharian seorang diri,
memain-mainkan remote control seperti seorang tolol
lalu merasa sewot sendiri. Tetapi aku tetap tak mampu berhenti
memikirkanmu.
Siapakah kamu, orang asing yang berbaring
di sampingku semalaman. Siapakah kamu.
Seperti sepasang ular jalang di liang sempit
kita telah saling melilit dan menggigit.
Telah kuhirup aroma khas kulitmu
dan bau harum rambutmu yang menyembur saat kau geraikan
telah membawaku ke tengah padang rumput di lembah
pada suatu pagi hari yang basah seusai reda
hujan musim semi yang pertama.
Setiap senti tubuhmu yang menerbitkan beribu mimpi
telah kutelusuri dengan jemari gemetar, dengan dada berdebar keras,
dan peluh yang menderas,
tetapi kau hanya tertawa serta mengangkat bahu
saat aku berkeras ingin tahu masa lalumu
dan meminta catatan alamat
ketika kau bergegas berkemas sebelum berangkat pergi.

Ah, seperti kali kecil, kau selalu menolak bercermin.
Seperti warna-warni mentari dalam lukisan impresionis,
kau beralih berganti tanpa letih.
Dan kemarin ketika aku meminta selembar gambarmu,
dengan ringan kau berkata tak acuh : ”Jangan menyimpan
kenangan masa lalu, itu semacam kecengengan yang tak perlu.”
Aduh ! Akupun tahu
hubungan kita tak punya masa depan. Harapan hanya impian.

Kini senja menyusut di jendela dan malam merambat perlahan.
Kurasakan betul
dingin menyelusup masuk lewat celah bawah pintu
mengendap dan menebal di lantai batu.

Untuk apa menyalakan lampu. Alangkah mengerikan
bila dalam terang aku hanya memergoki diri sendiri yang sepi.
Dalam temaram dan kelam aku merasa lebih tenteram dan aman. Seolah-olah
kau masih hadir di sini, diam di dekatku.
Menatap lekat dan lama tanpa berkata,
menemani.

Seperti seekor ikan menggelepar-gelepar
di atas pecahan-pecahan es, sukmaku yang telah menerima
kutukan itu akan menggeletar tak sabar menanti tiba
kabar berita darimu. Meski hanya selembar kartu pos,
mungkin dari suatu tempat yang jauh
di mana salju selalu jatuh dan matahari begitu pemalu
dan melulu berteduh.
Aku tidak berani memintamu untuk setia
--itu terlalu mustahil dan menggelikan bagimu, tentu--
hanya saja,
tolong, jangan lupakan saya...


MENANGISLAH DI DADAKU

menangislah di dadaku
tuangkan air mata ratapmu
ke dalam cawan senyap hatiku

di sini kita selamanya terasing
dari bising, desing, dan lengking sekeliling
jiwa kita : merpati di atas puing-puing

yang selamanya mendamba kembara
telah terlalu lama dibakar cinta membara
selalu rindu pada sarang di pohon purba

menangislah di dadaku
biar kuurapi rambutmu lembut beledu
dengan air mata kasihku

karena selain dari harum tubuhmu
dan lenganku kukuh merengkuhmu,
segalanya hanya bayang yang melintas semu


KEPADA PEREMPUAN YANG MENANGIS

Berhentilah membunuh diri
Cinta yang engkau tutupi
penuh kegugupan, sungguh
membuatku trenyuh.

Dik, jangan lagi
mengiris nadi
Jantung yang berdetak itu
melagukan pagi baru.

Tak ada padamu salah
selain percaya dan pasrah
-- bunda maria juga menyerah menerima
ketika cakrawala memberi bianglala.

Berhentilah membunuh diri
kini engkau tidak lagi sendiri,
Cinta yang bersemayam dalam tubuhmu
itu kristal embun langit jiwaku.


JANGAN HAPUS AIR MATAMU

Jangan hapus air matamu
ujung puncak segala rasa itu.
Segala suka, segala duka, segala luka
ujung puncaknya air mata juga.

Biarkan ia terbit mengalir
dan ricik nyanyiannya disebar angin semilir.
Biar ia basahkan lembah padas panas jiwamu
dan membelah bongkah cadas keras hatimu.

Biarkan terbit mengalir ia
lalu menggenang menjelma telaga.
Kobaran api neraka olehnya kan padam
dan menjelma kerindangan surga nan tentram.


MALAM BELUDRU

Lenganmu yang mengulur lemas bagai berduka
bagi kecemasan liarku, menjanjikan suaka.
Dalamnya pelukmu merengkuh lukaku
tentram dadamu menjadi Taman Getsemaniku• .

Kita begitu dekatnya, teramat lekat
hembusan nafasmu betapa hangat.
Tubuhku telah berpijar oleh baramu
namun masih juga kuserukan namamu.

Hingga kubenamkan matahariku
ke penghujung samudera malammu.
Berjuta bintangpun terbit di langit tinggi
malam raya semarak bertabur bunga api.


PARADISE REGAINED

Impian memadat dalam tubuhmu
sejak dipahat kau dari rusukku satu.
Dan taman surgapun jadi tak semenawan dahulu
Setelah pertama kali kujelajah perawan belantaramu.

Maka ketika lebar-lebar gerbang ke luar terbuka
kita melangkah turun namun tetap mengangkat kepala.
Dipermainkan angin, berkibaran jubah dan rambut kita
di hadapan : terhampar megah padang luas penuh bunga


KEINGINAN SEDERHANA PENGANTIN TUA

sedari pertama kali kita terpikat
sepasang sepi telah ditakdirkan untuk terlibat
dan akhirnya, bagai rumpun rambat, saling terikat

meski lenganku kekar tak kebal ajal
dan kembang dadamu tiada bakal kekal
tetapi sayang kita sungguh teramat bengal

kau tak ingin aku pergi, kau tak akan kubiarkan mati
seperti sepasang beringin, kita impikan abadi
berdiri berdampingan, melihat abad berganti


SUNGAI NAFASMU

sungai nafasmu
halus menjuntai di dadaku

arus rambutmu yang sejuk
menggerus bebatuan di perutku

dan riak-riak jemarimu
mengelus lembut relung purba itu

aku lembah yang rengkah
terima kasih telah membelahku


PEREMPUAN LAUT

Tubuhmu menyemburkan gelombang samudera
melanda dan menggulungku
hingga ke palung laut paling biru.

Tolong jangan biarkan arus membawaku
kembali ke atas sana; aku ingin terus
terbaring saja selamanya di sini

--di antara ganggang dan karang
bersama kerang dan ikan-ikan
yang tak pernah melihat terang,

selain biru yang paling kelam--
di lubuk terdalam
mautmu


QAYLA

Kami, Qays dan Layla,
bukanlah majenun;
tetapi kewarasan Cinta
adalah kegilaan bagi kalian
--apatah lagi bila kegilaannya!

Sejak Cinta menyapih kami
terbukalah kelopak dalam dada
kami pun melihat dunia yang kalian kenal
tak lagi dengan pandangan Dajjal
--mata dan hati kami sama bercahaya!

Jalan Cinta tidaklah meminta,
Jalan Cinta adalah memberi,
menyerahkan merih untuk disembelih
untuk jadi persembahan di altarNya
--yaitu meniada untuk mengada!

Bila kalian bertanya, inilah rahasia:
kelopak terpejam Ismail, tangan gemetar Ibrahim,
dan belati yang berkilatan dalam genggamannya,
adalah cinta semata juga yang menjelma
--untuk menuntunmu ke Jalan ini!

Saturday, March 31, 2012

CATATAN PEJALAN, TAMALANREA

TAMALANREA, MALAM SEBELUM GERIMIS REDA

pohonan ki hujan dan jati belanda
juga flamboyan dan angsana
berjajar di sepanjang jalan
gemetar dijamah angin selatan

pendar cahaya lampu-lampu ukir
memang tak berdaya untuk mengusir
malam yang datang bawa senyap
menyihir kita jadi bayang gelap

sepasang wajah yang karib
sekarang musnah perlahan raib
saya takut, lembut cemasmu
pegang tanganku, sahutku

lenganmu yang penuh dan telanjang
sungguh membuatku meremang
rambutmu meruapkan wangi
lebih hunjam dari setanggi

maka selirih bisikan ada yang luruh
bersama rintik ketika tiba meruntuh
dan di halte kecil yang ditinggalkan
helai-helai kecupan pun bertanggalan...


EPISODE

Aku berjalan perlahan seorang diri
menyusuri tepi bulevar tamalanrea yang sepi
menembusi sisa-sisa gerimis
sehabis hujan sore hari.
Di tepi kanan-kiri jalan
lampu-lampu merkuri telah dinyalakan
membangkitkan kembali kenangan-kenangan lama
yang selama ini nyaris terhapus lupa.
Wangi tanah basah
dan harum rerumputan meruap
menggeletarkan seluruh atom tubuhku.
Sementara bunga-bunga merah kecil
dan dedaunan kuning tua
menderas berguguran dihembus angin senja
memenuhi batang jalan
--beberapa jatuh di atas kepalaku
dan sengaja tak kusapu.

Sebentar lagi malam.


PINTU DUA, TAMALANREA

Sayap-sayap langit kelam kelabu
menaungi rumah-rumah beratap merah bata
dan menyalakan cahaya kuning jingga
pada pucuk lampu-lampu jalan.
Lalu ia merentang dan mengepakkan sayap-sayapnya
karena mabuk oleh rasa senang yang entah datang dari mana
maka dengan tenang, bunga-bunga kuning mungil dari angsana
dan bunga-bunga merah kecil dari flamboyan
luruh berhamburan, cemerlang berbaur diaduk angin selatan.


TAMAN PARKIR REKTORAT UNHAS, TAMALANREA

oleh untaian tabir hujan
turun di akhir tahun
taman parkir kena sihir
seindah lukisan cat air

pohon-pohon samar
dan bangku-bangku gemetar
sedang di pelataran gedung
kami pun harus berlindung

ada yang mengumpat
oleh jadwal yang lat
ada yang resah cari arah
dan cara hindari basah

namun aku hanya tertegun
tak ingin bangun
dari pukau pesona
lukisanNya

(1992-2002)

CATATAN PEJALAN

1.
Seperti engkau kukenal melambai dan memanggil
Menghampir sesampai tapal penanggalan, antara april
Dan mei, dengan sengal dingin menggigit gigil

Hingga hijau warna hutan kecil bersalin suasana
Kuning jingga juga merah suasa, dan suara burung terdengar lain
Hingar melengking ke arah cuaca, namun lebih murung, mungkin

Meratap oleh ulah musim yang dikirim menggenapi
Upacara purba ini. Tetapi senyap sepimu menyekap surup hari;
Malam tumbuh kian larat lagi sedangkan redup pagi

Bertambah lambat, dari tiga kerat
Bulan yang sembab seolah selimut bulu, memberat
Disebabkan basah lembab dan gelap kelabu. Namun lihat,

Seperti ikal dedaun digelung surya
Tak mengeluh, bagai kelopak kemboja
Mengilaukan igal kilat terakhirnya

Saat tanggal berluruhan lalu terserak di tepian jalan
Aku pun akan tinggal tegak diam, membiarkan
Jemarimu kelak menelanjangi kelamku, kekal, perlahan.

2.
Pohonan berbisik di sepanjang lengang jalan ini
oleh rintik sesekali yang menorehkan melankoli
seakan sore bakal jadi sekekal rasa sesal
: jangan menoleh, atau engkau takkan sampai ke asal!

Tetapi kenapa sesal tiada kenal usai, kenapa sedih
bisa jadi lebih abadi dari harapan yang letih.
Dan memang, di penghujung jalan pun burung-burung
menghambur ke dalam jubah senja, sosok berselubung

yang turun berdiri menghadang dengan angkuh
merentangkan lengan-lengannya begitu kukuh
sehingga tiang-tiang lampu juga tak mampu menahan
jingga itu susut ke arah barat, perlahan.

Dan senja juga akan selesai sebelum ia tiba di sana,
akhirnya; membuat pohonan menggumamkan nubuat purba
yang telah lama terlupakan itu. Tirai-tirai gerimis lalu diturunkan
bersusun, menyihir jalan jadi lengang, kenangan sesepi impian

tuhan, tuanku, jangan aku kau tinggalkan...

3.
Sebelum silam
Pukul lima
Sebelum hilang
Hari dalam kelam
Bilah gerimis meruntuh
Dalam riuh hujan
Berjatuhan
Seakan langit
Tandaskan gemas
Bagi tandus liang bumi
Lewat sengit pagutan
Dan dengus nafas
Yang menderu
Burung-burung senyap
Terbang melenyap
Ke rimbun akasia
Sesusun rahasia
Yang hijau dan gelap
Mendekap sisa
Terang cahaya
Dari siang tadi
Pohon cemara jarum
Keramas di tepi jalan
Kelok yang menurun
Namun temaram
Teramatlah sepi

Di mana gerangan
Alamat rumahmu,
Kemanakah arah
Menujumu?

Arah menujumu
Lewati sebatang titian kayu
Berbalut lumut
Dibelit paku-paku
Licin oleh baluran hujan
Apakah aku
Akan selamat melalu
Adakah engkau
Kelak menyambut syahdu
Ah, harapan yang terlalu
Meski kerap menipu
Membuat malu tersipu
Tetap kuusap kusapu
Oleh janjimu
Sesudah kutanggalkan
Bayang yang mengaku-
Aku,
Setelah kutinggalkan
Hantu di tujuh anggauta
Dan perempuan tua
Berpupur tebal bermaskara
Dengan gincu merah nyala
Juga anjing kecil
Yang terus menjulur lidah
Dan mengucur liur itu
Serta segerombol orang
Yang memanggil melamabai
Kini nafasku terengah
Lutut gemetar goyah dan
Tatapan nanar oleh gamang
Namun tetapku meniti
Lalui ambang kabut
Sebatang jalan yang menelan
Dan menenggelamkan ini
Sepasti kau masih menanti

Selamatkanlah hatiku
Yang letih terpaku
Oleh kasihmu
Padamu

4.
Aku masih setia di jalan
Bertahan menyusur pelan
Malam yang renta
Meski bising angin
Meratap sedih
Dan tajam dinginnya
Menyayat perih

Baju yang kuyup
Erat mendekap punggung
Air di dalam sepatu
Berkecipak di setiap jejak
Dan batu-batu kerikil
Terguncang bergelindingan
Di dalam perut

Aku akan terus jalan
Menembus gelap dan kesunyian
Sampai kutemu
Rumah dengan jendela
Yang benderang oleh lampu
Serta pintu yang menunggu
Di baliknya:
Seseorang yang setengah termangu

5.
Lembut sayap-sayap kelam telah
Menyelubungi lengkung punggung bumi
Teduh rimbun malam pun luruh
Menudungi ubun hari yang lelah

Deras daras doa dalam darah
Mendebarkan kembali damba lama
Dengung lebah belantara kristal cahaya
Disebarkan angin semilir dingin membasah

Lalu kualirkan seribu daun perahu
Dari hulu hati ke arah hulu
Menuju pelukan cintaku yang dahulu
Kularung mereka dengan kemurungan

Yang sempurna, seakan bakal kekal
Bertarung mengarung arus digariskan
Sakal angin dan delapan cagak karang
Tegak menghadang garang dalam kegelapan

Selamatkanlah dedaun yang gerimis
Dari dadaku itu, masih kusebut namamu
Kekasih, meski sahutmu sungguh lembut
Mendesir lebih sembunyi dari sir rahasiaku

Selamatkanlah pula kenangan yang kian
Berkeping di tepi ingatan ini, sebelum
Menghambur debu, tinggal gaung hampa
Berulang meraung samar di relung lupa

Sayang, sekarang geletar pijar fajar mewarna
Di ufuk, bintang memudar sinarnya menyisih
Ke lubuk galaksi jauh, namun di tangkai tanganku
Tengah bermekaran: mawarmu

6.
Mataku yang murung dan sepi
Letih menggapai jejakmu
Hingga ke ujung tepi mimpi
Barangkali saja akan sempat
Kusapa parasmu lewat celah
Sempit yang terbayang di langit
Angan. Raung badai di utara
Tak setara dengan keluh kesahku
Di pantai ini. Arus, arus, arus
Haruskah terus menggeruskan alur rindu.
Angin, angin, angin, mestikah senantiasa
Menggiring pergi iringan awan kenangan
Beratus tahun berlalu lalu lampus
Di gerbang fajar namun tak mampu
Memupuskan geletar pijar damba. Bahkan
Tujuh lautan tiada sanggup lagi menghapus
Hausku akan untaian bulir air mengalir
Bening menderas dari antara jemarimu.
Cintaku yang memiliki telaga nikmat
Seluas lapisan langit dan bumi,
Adakah jerit sakitku ini
Sampai juga dan hikmat menciumi
Telapak kakimu?

7.
Merenungi relung matamu
Merenangi biru yang menggenang
Begitu tenang di tengah lengang alam
Juga mengenangkanku kepada langit
Yang diterangi mentari sepanjang hari
Namun tetap memandang selanskap padang
Dengan tatap yang betapa senyapnya
Terentang setia ia walaupun sakit
Dan senantiasa terluka
Oleh bilah pedang khianatku
Ya, merenungi relung matamu
Menelusuri lorong panjang
Berkelok berliku
Menurun mendaki
Murung dalam hujan senja hari
Menuju ujung nan nun
Namun bermula dari resah
Jantungku

8.
Apakah yang membawaku ke tempat ini:
Kerinduan yang menuntut bertemu,
Sepasang kaki yang menuntun tubuhku,
Ataukah senyum yang selalu membayang lembut
Di ujung garis bibirmu dan ramah
Yang mencerahi kelopak dan pelupuk matamu?

Aku tak tahu.Tetapi, kini, pohon-pohon begitu teduh
Dan burung-burung riuh mengiringi langkah
Dalam perjalanan. Putri malu pun melulu tersipu
Sementara kilat kelebat seekor kadal
Alangkah kontras dengan geliat malas cacing
Yang melata di sela bebatu. Bahkan
Bulir-bulir kerikil itu juga terguncang riang
Di sepanjang setapak yang kulalui

Siapakah yang menambatkanku di sini?
Entahlahlah. Masa depan
Menentukan apa yang terjadi
Di hari ini. Tujuan-tujuan
Mewujudkan sendiri jalan mereka.

Karena dalam pengetahuan Sang Maha Tahu
Segalanya telah selesai sebelum dimulai
Dan pejalan sudah sampai sejak saat
Sebelum lambaian pergi

(2005-2009)

Thursday, March 15, 2012

Proyek 1000 Haiku (Maret)

kaku kelabu kotak-
kotak ruko; seekor bangau
putih melintas terbang

(0310/2012)
*
kerlingan pertama
langit kemarau: kilau
hijau semangka

(0309/2012)
*
di sisi kembang sepatu
yang baru gugur daun satu,
hinggap bergeming: kupu kuning

(0308/2012)
*
cerah wajahnya
tak berjejak: amuk angin
semalam tadi

(0307/2012)
*
deru badai; akankah
ikan-ikan di akuarium
terus betah berabai?

(0306/2012)
*
bulan penuh
seorang nabi di tengah
para sahabatnya

(0305/2012)
*
bulan penuh
janganlah engkau berpaling
dari memandangku

(0304/2012)
*
bulan penuh
hembusan angin gurun
menimbuni rahasia

(0303/2012)
*
hutan malam
khusuk jemaah zikir
aneka satwa

(0302/2012)
*
setelah hujan
di lorong becek itu
derai tawanya

(0301/2012)
*
setelah hujan
apakah laut kini
terisi penuh?

(0300/2012)
*
deburan ombak
lapisan tepi gaunnya
dimainkan angin

(0299/2012)
*
rumah sengketa
rumput ilalang kembali
merebut lahannya

(0298/2012)
*

Sunday, February 12, 2012

Proyek 1000 Haiku

gelombang rambutmu:
lembut menerpa wajahku,
membadai dalam dada

(0297/2012)
*
terlalu cepat
berlalu lenyap ke barat—
gelapnya malam

(0296/2012)
*
selembaran hutan,
kabut dari danau di cangkirku—
sarapan pagi

(0295/2012)
*
rerumputan dan
cahaya sama-
sama mencari celah

(0294/2012)
*
hai, buah manggis,
pernahkah kau melihat
si buah persik?

(0292/2012)
*
putri malu—
dengan tangan angan,
ingin menyentuhnya

(0292/2012)
*
digarami air mata
gurih lembut daging pelupuk
ikan pallumara

(0291/2012)

n.b: pallumara, ikan masak kuah asam ala suku bugis makassar
*
menanti deraknya
pohon yang telah ditebang
tak pernah tumbang

(0290/2012)
*
menerobos hujan larut malam,
masih tersisa senyum
dari sudut bibirnya

(0289/2012)
*
berterbangan bangau
orang-orangan sawah
menyeringai bangga

(0288/2012)
*
belasan bolpen...
bekas pakai bapak
selalu lebih baik

(0287/2012)
*
gita melayu
merdu mendayu rayu—
masa kita masih bermalu dulu...

(0286/2012)
*
bulan purnama
menempuh ke tepi kota
menyepi dengannya

(0285/2012)
*
sejak sajak ini
engkau semestinya telah
dimaafkan

(0284/2012)
*
hembusan angin
menyuruki rumpun bambu
berhamburan burung-burung

(0283/2012)
*
embun di ubun
semerbak mekar mlati
di kebun hati

(0282/2012)
*
selada segar
gemeretaknya pagi
tiap gigitan

(0281/2012)
*
ramping sosoknya
hati megap menampung
musim bersemi

(0280/2012)
*
langit juli
lebat oleh awan
pohon ranggas

(0279/2012)
*
percakapan kapak
dengan pokok pohon—
mendingin senja

(0279/2012)
*
pesulap jalanan
gelap menangkupi bumi dan
hup, bulan

(0278/2012)
*
saatnya untuk ke luar
menunggu aku di sana
bunga-bunga mekar

(0277/2012)
*
Serakan keping vas porselin
bocah megap membungkam pecahnya
air mata

(0276/2012)
*
hiruk padat lalu lintas megapolitan
satu sentuhan lembut
di punggungku

(0275/2012)
*
barisan iklan
di tiap lipatan layar
koran elektronik

(0274/2012)
*
nenek pergi
dapur
dingin sepi

(0273/2012)
*
bekasnya paku
perumahan elitee
tuk para semut

(0272/2012)
*
merentang malam
bayang kita semua
dirangkum satu

(0271/2012)
*
di atas bagang
makan lawar tanpa sadar
dikepung berjuta tuna

(0270/2012)

n.b: lawar, lauk ikan segar yang dicincang dan dicampur dengan parutan mangga muda dan kelapa.
*
sekali lagi
si cecak mematuki
lubang di ubin

(0269/2012)
*
hai mu
dan hai ku
ka pan ke te mu

(0268/2012)
*
hujung penghujan
sumur berlimpah airnya
mencari timba

(0267/2012)
*
bayang memanjang
direntangkan matari
membidik kelam

(0266/2012)
*
kutu di buku
tak merasa lebih cerdas
dari bangsat di kursi

(0265/2012)
*
kursi dekat jendela
hanya mentari pagi
menghangatkannya

(0264/2012)
*
guguran dedaun
sekian nama lekati ingatan
berlepasan, terlupakan

(0263/2012)
*
semakin lemah
membelai punggungku basah
angin kampung halaman

(0262/2012)
*
naungan teduh,
bila kuberlalu, rumput tertindih
kan menegak kembali

(0261/2012)
*
di teluk dara
surya senja keemasan
menegaskan lekuk tubuhnya

(0260/2012)
*
tak risaukan kembalian
ngongkrong ngopi
di kantin mahasiswa

(0259/2012)
*
pada wajah putrinya
kujumpa paras kasihku
dua puluh tahun lalu

(0258/2012)
*
gelinding geledek
kemarahanmu sesenyap
sisa senja

(0257/2012)
*
tuntaskan dendam
di sisa musim, deras
membenam hari

(0256/2012)
*
kenangan silam
di dalam tenang arusnya
menenggelam ia

(0255/2012)
*
keriangan hujan
sembari berteduh, mari
menyeduh air mata

(0254/2012)
*
remahan timah
bertaburan menuba
sepi telaga

(0253/2012)
*
sungai perak
alirnya pun berujung
ditelan bulan

(0252/2012)
*
serpihan langit
terbalut perut bumi:
safir biru

(0251/2012)
*
di kemacetan jalan
memelas sirene petugas kawal
pejabat sok tinggi

(0250/2012)
*
serak gemetar
azan suara tua—
merinai gerimis

(0249/2012)
*
melungkar pulas
mimpi si abang becak
berpoles karbon

n.b: melungkar adalah pengindonesiaan dari kata dalam bahasa jawa, mlungker.

(0248/2012)
*
lepas dari satu pengemis
sigap menghadang-sergap
dua pengemis

(0247/2012)
*
apa yang dibisikkan
angin kepada rumput
membikin ia menari?

(0246/2012)
*
seusai hujan
nampak lebih kelam
jalur jalan membujur

(0245/2012)
*

Saturday, February 04, 2012

MADAH MAULIDIAH

Ah, adakah lagi yang dapat diungkapkan kata pujian
atas dirinya, Sang Mahkota Insan, Kesayangan Tuhan,
yang indah rupa parasnya melebihi cemerlang purnama,
yang agung perilakunya merupakan jabaran Kitab Cahaya?

(2012)

Monday, January 02, 2012

Proyek 1000 Haiku, Januari 2012

::
menanti sang idaman
si abang ojek cuek
akan lain penumpang

(0244/2012)
*
meskipun jalan lengang
ambulans terus laju
melengkingkan duka

(0243/2012)
*
“bulan itu ungu”
akupun mengangguk
kepada kasihku

(0242/2012)
*
makan ganggang;
akankah mujur nasib mujair
terlahir lagi jadi kadal?

(0241/2012)
*
menanak nasi
di depan barak tenda
buruh konstruksi

(0240/2012)
*
dangdut kawinan
turut bergoyang, kelap-kelip
pelita kaleng penjaja kacang

(0239/2012)
*
gerimis kecil
redalah debu jalan
cerah pula, bunga soka

(0238/2012)
*
pukul tiga malam
biru jingga keliran petir
nyaris tanpa penonton

(0237/2012)
*
malam gerimis
riuh suara jangkrik
menidurkanku

(0237/2012)
*
meliuk runduk
pohon tepi sungai
meraup sejuk

(0236/2012)
*
dinding kertasnya;
batas hakiki hanya
percaya, hormat

(0235/2012)
*
terbirit ciut nyeberangi jalan:
anjing, kucing, tikus
dan juga saya

(0234/2012)
*
merapikan rambut
yang dipermainkan angin
nenek di tepi jalan

(0233/2012)
*
sayup dan basah
di kejauhan pagi mendung
lengking penjaja ikan

(0232/2012)
*
hamparan sawah usai panen
seekor bangau
membasuh kakinya

(0231/2012)
*
jelang hujan:
siapa yang tahu berapa kelopak cempaka
akan terhempas ke tanah?

(0230/2012)
*
merebut celah ruang
bus pun melayang menembus
jelaga kabut karbon

(0229/2012)
*
depan pintu rumah
membersihkan kaki-kakinya
si lalat di keset

(0228/2011)
*
menderas banjir
daun nyangkut ikut
terangkut ke laut

(0229/2011)
*
berpupur dingin
perempuan penjaja asongan
di perempatan jalan

(0228/2011)
*
hitam lunak
tanah mimpi--diselipkan
malam: benih pagi

(0227/2012)
*
kelam dingin;
makin gemerlap kelap-
kelip lelampu kota

(0226/2012)
*
tak mau takluk,
tetap siap menangkis:
belalang remuk

(0225/2012)
*

Wednesday, December 21, 2011

Proyek 1000 Haiku, Desember 2011

::
bulan, O, bulan
jangan dulu, janganlah
berlalu pergi

(0224/2011)
*
tak datang bulan
si dara di beranda
merenda sepi

(0223/2011)
*
candra purnama
bunga wangi membuka
seputih doa

(0222/2011)
*
terang purnama
si penjual martabak
menanti lingsir

(0221/2011)
*
jangan diciduk—
mengandung bulan
air tempayan

(0220/2011)
*
baju lembab oleh kabut
lebih lekat ia memeluk
mencari hangat

(0219/2011)
*
terlalu larut bermimpi—
rumput liar juga
panjangnya bertepi

(0218/2011)
*
niat baik ditampik—
biarkan rimbun bunga
sembunyikan gembur tanahnya

(0217/2011)
*
harapan ditertawai—
ku sandarkan lesu
di bawah rindang pohon

(0216/2011)
*
perjalanan berliku mendaki—
sendiri saja,
beban pun ringan

(0215/2011)
*
perjalanan nan panjang—
semoga dapat menatap wajahmu,
kembali padamu

(0214/2011)
*

catatan: no. 0213-0186 sedang dalam proses editorial penerbitan sehingga belum dapat diumumkan

*
kicau yang berbeda;
angin, pada dahan lain mana kini
burung kemarin hinggap memainkan nada?

(0185/2011)
*
memetik sebiji jambu
turut berluruhan: bulir-bulir
sisa embun

(0184/2011)
*
paras dwi-matra
tanganku tak kuasa
mengenangmu

(0183/2011)
*
matamata kita
bersitatap melintas ruang;
mauku kautau

(0182/2011)
*
bulan sabit
berkilauan punggung ikan
di kelam kolam

(0181/2011)
*
bulan sabit
tumpukan padi
habis panen

(0180/2011)
*
dangdut mendayu
berapa lagu lagi didendangkan
bertaut bebulu mata?

(0179/2011)
*
bilah-bilah bintang
membelahi bulan merah
berkilatan gelombang

(0178/2011)
*
tanpa benar-salah...
semut-semut menghambur dari liang
merubungi cecak buntung

(0177/2011)
*
ranting telanjang
tanpa dedaun dan bunga
namun berbuahkan bulan

(0176/2011)
*
belukar kabut pagi
pada setangkup roti bakar saya
terperangkap kuning surya

(0175/2011)
*
bunga disunting
sisa bintang turut terhambur
dalam luruhan embun

(0174/2011)
*
pohon tumbang melintang
akarnya kiri dikebiri selokan
kanan disunat galian

(0173/2011)
*
riang pasar sore
dangdut dan shalawat
sahut-menyahut

(0172/2011)
*
berpose sopan dengan
mahkota cahaya para santo:
politikus hedon

(0171/2011)
*
sosok tubuhmu
rimbun rumpun bambu
berdesik dalam angin

(0170/2011)
*
sembari mengendarai motor
perempuan itu merapikan
tepi kerudungnya

(0169/2011)
*
genangan air di mana-mana:
sampeyan sudah sampai di Venesia,
dengan sampan dan pengamen

(0168/2011)
*
bibir tipis mengerucut
hidung runcing menjulang: pengemis tua
meludahi hari sepi

(0167/2011)
*
perempuan tertidur pulas
bersandar pada bahu kursi dekat jendela;
purnama menyepuh wajahnya

(0166/2011)
*
bulan purnama
katak di tepi sumur dangkal
mengerjapkan matanya

(0165/2011)
*
sinar terakhir surya
sebelum terbenam, pamit menimpa
rimbun soka

(0164/2011)
*
bakal berudu dalam cerek,
lima bangkai lalat di dasar mangkuk:
tangguh perut rakyat cilik

(0163/2011)
*
hutan nipah menjulang sepi
sepanjang tepi sungai mengalir kelam
sang dara mencari saudaranya

(0162/2011)
*
pantai tujuh kilo ke utara—
parfum beraroma laut disemburkannya
mendeburkan debar dada

(0161/2011)
*
arus dari arah pulaumu
singgahkah ia lebih dulu, mengelus
betis dan telapakmu?

(0160/2011)
*
lampu padam
sejenak napas pun
tertahan

(0159/2011)
*
listrik padam—
tuk temukan lampu darurat,
sibuk mencari korek api

(0158/2011)
*
lampu padam
menderu masuk angin
dari pintu terbuka

(0157/2011)
*
mendung berhari
tak kukeluhkan bila teringat
terik kemarau

(0156/2011)
*
musim genangan air
kaki berkerut lebih renta
dari wajahku

(0155/2011)
*
deru angin, celetar halilintar,
seru seram meluncur bersusulan:
mulut berbuih tabib jalanan

(0154/2011)
*
berkerut-kerak menua
pangkal kaktus namun pucuknya
terus bercabang-bunga

(0153/2011)
*
pohon nyaris rubuh
sebatang dahannya bertahan
mencabang hijau

(0152/2011)
*
sendal jepit biru
lama tergeletak di bawah kursi
tanpa sepasang kaki

(0151/2011)
*
merah merona senja
truk sampah bak terbuka
turut serta mewarnai

(0150/2011)
*
dua nenek renta
di teras duduk bercakap--
senja akhir tahun

(0149/2011)
*

Sunday, December 11, 2011

R.I.P: Sondang

telah lelah mengutuki
gelap bebal dinding batu
ia memilih menyalakan lilin
batang tubuhnya sendiri

namun nun, di balik tirai balkon
seorang pria malah bertanya manja:
bukankah ulang tahun Papa
tak jatuh di bulan ini, Mama?

Monday, October 31, 2011

Proyek 1000 Haiku, November/Desember 2011

::
trotoar dibongkar
pejalan dan pohonan nyingkir
bagi mobil parkir

(0148/2011)
*
genangan banjir
pagar dan sempadan
tak dibedakan

(0147/2011)
*
radio transistor
hangat benderang malam
meski listrik padam

(0146/2011)
*
cincin safir biru
matanya menyimpan tatapan bapak
kini asyik kupandangi

(0145/2011)
*
semalaman sesat terkurung
dalam kamar, pagi ini kembali
capung berisik ingin ke luar

(0144/2011)
*
bau busuk di setiap sudut;
mungkin harus rajin saya
membasuh hidung sendiri

(0143/2011)
*
serangga betah duduk
di gundukan kotoran sendiri--
nikmatnya berkuasa

(0142/2011)
*
berdiri canggung
segugus rumah mewah
dikepung kampung

(0141/2011)
*
sapa-menyapa
sebelum lenyap dalam kabut:
asap rokok dan ruap kopi

(0140/2011)
*
si batu api tergeletak
di tepi jalan aspal basah―
betapa sepinya

(0139/2011)
*
penari bergaun merah
berdandan meriah; jemarinya
runcing menjabat dingin

(0138/2011)
*
lepas dari dentam
musik malam, debur ombak
melebur kelam sukma

(0137/2011)
*
seekor kecoak berlari
mencari tempat yang tepat
menelentang mati

(0136/2011)
*
riuh klakson bersahutan
sayup di latar jauh
burung-burung berkicauan

(0135/2011)
*
menghambur gugur
dalam baluran kabut sore
bunga-bunga bungur

(0134/2011)
*
serakan puing benteng tua
lengking pekik burung
menghunjami bebatuan

(0133/2011)
*
serakan puing benteng tua
kelebat burung-burung senja
menutupi jejak surya

(0132/2011)
*
pohon akasia
bunga-bunga kuningnya
lebur dalam cahaya surya

(0131/2011)
*
oleh hembusan angin
debu merasuk rabu―
jejak raga siapa?

(0130/2011)
*
lebih rendah dan muda
hijaunya, pohon tanjung terlindung
dilingkungi kakak akasia

(0129/2011)
*
tak membedakan
penjaga dan penjaja malam
bulan purnama

(0127/11-2011)
*
purnama kini meninggi
tangkas tingkah penjual martabak
seiring lengking lagu hindi

(0126/11-2011)
*
di atas fly-over
berpasangan singgah berkencan
memandang sungai jalan raya

(0125/11-2011)
*
kemurahan hati
gubuk kumuh, istana si kaya
sama dilimpahi cahaya purnama

(0124/11-2011)
*
jajaran nisan
limpahan cahaya
ditumpahkan purnama

(0123/11-2011)
*
tenteramlah para rangka
malam ini purnama
mengilap seputih tulang

(0122/11-2011)
*
keindahan terlontar
dari getar jemari entah
hanya lantaran

(0121/11-2011)
*
pertempuran malam usai
berserakan bangkai nyamuk
ular hijau mengabu

(0120/11-2011)
*
jam lima sore
dan wanita pekerja ini
masih berwangi pagi

(0119/11-2011)
*
ruang pamer teknologi
menyilangkan kaki kedinginan
wiraniaga berok minim

(0118/11-2011)
*
disepak yang empunya rumah
mengangkat kepala, memicingkan mata
kucing kuning gempal melenggang

(0117/11-2011)
*
terbaring di pinggir jalan
si gila ini masih juga sempat
menikmati gemintang

(0116/11-2011)
*
tanah mengurai dedaunan
akankah kulihat wajahmu kembali
di musim semi mendatang?

(0115/11-2011)
*
becak perlahan menjalani senja
sepasang opa dan oma
duduk berpegangan tangan

(0114/11-2011)
*
embah mungil ringkih
si cucu bertubuh tambun
beriringan dari sekolah

(0113/11-2011)
*
gelisah dikisahkan
lewat igauan resahnya
gerimis semalaman

(0112/11-2011)
*
tergeletak basah
selembar sarung lusuh
pagi trotoar jalan

(0111/11-2011)
*
hanya celah rekahan
di dinding parit kering
merambat rumputan

(0110/11-2011)
*
nyaring kicauan
kilau kilap kaca jendela
menguapkan mimpi

(0109/11-2011)
*
kerut jemari tua
mencengkeram erat kehangatan
cangkir teh porselen

(0108/11-2011)
*
tempat kembali
tanpa tembok dan gembok
kembara termangu

(0107/11-2011)
*
gemulai tarian jemari:
merupa aksara mengalir makna
gerak raga rasa bersama

(0106/11-2011)
*
ketuk tunggal-nada
pada papan ketik: bayi terlahir
di layar kaca cair

(0105/11-2011)
*
terbangun oleh kicauan
meluncuri batang krisantenum
embun pagi

(0104/11-2011)
*
burung-burung bangau
gugusan awan cemerlang
peziarah gurun air mata

(0103/11-2011)
*
burung baru bangun
pun sisa kabut: masih ingin
berpeluk ranting pagi

(0102/11-2011)
*
kupu tanpa kepak,
mawar yang tawar: aman abadi
dalam kotak kaca

(0100/11-2011)
*
tanggal di hari mendung
kuning sehelai daun mangga
alangkah cemerlang!

(0099/11-2011)
*
kupu-kupu,
selain dari taman tangkar ini,
nun, lembah dan rimba...

(0098/11-2011)
::
Hg::
::

Materi promosi

 DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...