Thursday, September 29, 2011

HAIKU-HAIKU MUSIM HUJAN

10.
kelabu gelap pantai
dikejar lidah ombak, kepiting tertinggal
berlari menuju liang

9.
dalam kabut derai hujan
beraneka warna
payung mengembang, mengambang

8.
tanah kering perlahan basah
di siang berubah mendung
pejalan riang bersenandung

7.
dengkung doa kodok--
kian dermawan
langit menumpahkan hujan

6.
banjir kecil--
meja makan, kain sarung:
sang kapten arungi samudera

5.
gelegar guruh sebelum hujan;
telaga tua
mengerjap lega

4.
ditimpa hujan runtuh
pori-poriku dan sumur
sama memekik riang

3.
luruh hujan pertama;
menggeliat bangun
sungai mati

2.
dedaun dipotongi buat payung:
pokok pohon pisang, bagai lilin
menggigil dingin dalam hujan

1.
cacing di ambang pintu:
tamu pertama
bersama banjir kecil

DUA HAIKU MEMANDANG KOTA DARI ATAS OJEK

1. (malam)

lanskap rekayasa cahaya
akan padam
bahkan sebelum pagi

2. (siang)

jalanan macet, terik, dan hiruk
di papan pamer
tetap menyeringai: pengincar kuasa

Monday, September 12, 2011

BAHAYA SASTRA

Lebih memperdaya dari wanita, harta dan tahta
adalah rayuan nikmat kata indah nan tertata.
Po Chu I dan Kamo no Chomei pun tak berdaya
apatah lagi pria malang ini yang hanya saya!
::
Hg::
::

---------------------------------------------------------------------------------
Keterangan:
Po Chu I (772 - 846) adalah salah seorang penyair besar Cina Klasik. Pernah menjadi pegawai Kekaisaran Cina, namun beberapa kali ia pernah diasingkan dari negerinya karena terang-terangan mengkritik kebijakan penguasa di masanya. Adapun Kamo No Chomei (1155?-1216) adalah penulis syair waka dan petapa Jepang. Jenuh oleh kedudukan dalam istana, ia memutuskan mengabaikan kehidupan duniawi dan meninggalkan ibu kota kekaisaran. Namun demikian, dalam kesendiriannya ia terus menulis dan membaca sajak-sajak. Pada masa akhir hidupnya ia menulis esai tentang sajak, Mumyosho.

Kedua penyair yang dididik dalam tradisi Budhis ini mengakui, meskipun telah memahami doktrin ilusi dan kehampaan dalam ajaran Budha, mereka tetap tak dapat menahan diri untuk menulis sajak-sajak.

Dalam tradisi Islam, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) seorang mahaguru sufi yanng menganut mahzab sunni-hanafiah dan taat kepada syariat, juga mengakui bahwa sebenarnya ia tidak begitu menghargai sajak-sajak. Namun ketika keadaan ekstasi mistis meliputinya, ia akan menari berputar-putar sembari membacakan sajak-sajaknya, yang dicatat oleh para muridnya. Ulama besar ini mewariskan kepada dunia, antara lain, dua kumpulan sajak Matsnawi (isinya 26.000 sajak) dan Diwan (terdiri dari lebih 35.000 bait sajak).

Saturday, September 10, 2011

HAIKU-HAIKU JALAN RAYA

1.
sang empu puas menilik karya
di tepian jalan raya
tukang pelat nomor kendaraan

2.
kembang kertas berduri
mekar menyala
di batas jalan raya

3.
gemuruh geram air bah
siap melanda—
lampu merah perempatan

4.
“tak berhak berbahagia”—
di pelataran toko
terkapar dihajar impian

5.
berjajar jajakan badan
para banci
depan pekuburan umum

6.
supir sangar asal tenggara
turut berdendang dian piesesha
anak lelap di pangkuannya

Friday, September 02, 2011

HAIKU-HAIKU PESISIR


1.
semakin dalam dan jauh
udang dan ikan; menjemput lampau:
Pulau Barrallompo

2.
bukan akar bakau,
goyah mencekau pantai:
kaki tetiang rumah

3.
empat belas ratus tahun
—lebih abadi dari si kura-kura—
hamparan sampah plastik

4.
bukan turis
bukan pula ikan duyung
penyelam lumpuh, dijemur terik

5.
dara di pesisir pulau—
lelampu kota, gemerlap menyihir
arus, rakus mengikis pantai

6.
disengat deduri matahari
dijilati tajam lidah laut
mengempis pulau

7.
padat oleng pulau
diombang gelombang, disenggol arus
--nganga rahang kota

Tuesday, August 30, 2011

HAIKU-HAIKU HARI LEBARAN,2


1.
meluncur takbir
dari langit, hinggap di bibir
tergelincir ke hati

2.
selepas takbir
betapa senyap tak bertepi
kelapangan hati

3.
selepas puasa
betapa luas terasa
Rumah Tuhan

4.
menyimak takbir
merebak air matanya:
janda tua

5.
kuhaturkan terima kasih--
tetapi bunga-bunga putihpun
berluruhan tanpa ampun

HAIKU-HAIKU HARI LEBARAN

1.
mereguk kopi, fanta:
masa kiniku merengkuh
masa kanakku rindu

2.
bocah berseri parasnya:
kue di tangan, permen dikulum
dan amplop dalam saku

3.
menziarahi bapak:
sebelum menerima tetamu
temui ia nan tak mati

4.
Keningnya basah
bekas basuhan; setitik air
di lentik bulu mata--
di antara ramai tetamu Rumah Tuhan
segera punggungnya, aku kehilangan.

HAIKU MALAM LEBARAN


kesekian malam takbiran--
sumbat batu di kerongkongan
kabut gerimis pada mata

Sunday, August 28, 2011

HAIKU-HAIKU LEBARAN


1.
setumpuk salju di jendela--
takbir dan bedug bertalu
dari pemutar mp3

2.
pagi hari raya
baju tahun kemarin
terasa lebih lega

3.
jubah cahaya
dibasuh sungai air mata
hiasan hari raya

4.
pun saling berampunan:
meski tak kenal,
tanpa ada kesalahan

5.
sehalnya orang-orang,
rumah-rumah
berbaju baru juga

KUATRIN MINGGU MALAM


Pada minggu malam, malam termurung
gemerlap kota redup kehilangan tenung.
Wahai, pelancong, tugas belum selesai
waktu berleha, sayang telah usai!


EMPAT TANKA


1.
Lupa perang lalu,
sekarang kita bercinta
mesra dan syahdu--
tanpa perlu lama menunggu
ribuan tahun berevolusi.

2.
Kepala ban mundur
dua titik: susut kusantap
isi badan sendiri--
makan buah jantung pada dada
minum telaga darah di hati.

3.
Ke mana gerangan
mengembara dalam angin
cinta yang kemarin?
Fajar yang janji pagi berbinar
ditelan kelam berkabut dingin!

4.
Tak terduga berjumpa
tergagap ia
menanya kabar cerita:
perempuan yang lama dikenalnya
tampak bercahaya kala hamil muda.

Materi promosi

 DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...