ELEGI BAGI KOTA MENJELANG PAGI
Telah terlalu larut kini untuk berdusta, kotaku.
Etalase yang memajang mimpi sepanjang hari
Kini telah terpejam sepi di balik tebal pintu tarik besi
Bahkan para waria juga berkemas pergi
Karena pura-pura telah luntur bersama pupur
Dan genit pun pudar pendarnya dari kikik
Tetapi sudahkah engkau menuntaskan doa malammu, kotaku
Mengadukan duka yang mengaduk dadamu
Kepada Paduka Yang Bertahta di Atas Arasi
Karena gerombolan pedagang telah membagi-bagi wajah bumimu
Bersekongkol dengan para calo dan penguasa yang rakus
Bagai tikus yang lihai namun serakah mereka mengerkah tanahmu
Lalu menggali lorong di bawahmu demi mendirikan pasar
Sesudah terlebih dahulu berhasil mengangkangi jalan raya
Sementara itu, jalan-jalanmu yang makin kasar dan mengancam
Kini dicemari wajah-wajah pecandu kedudukan
Dengan slogan janji yang payah logika dan bahasanya
Mengemis kepercayaan dan kesempatan mengabdi
Semoga Tuhan kita menyelamatkanmu
Dari kepengurusan para calo, preman dan pengumbar nafsu
Dan mengamankan Rahasiamu serta melindungi nasib pendudukmu
Dari jamahan cemar jemari mereka
Bertahun lalu aku takutkan kutukan ini akan dijatuhkan
Menjadi kota besar yang hiruk, angkuh, dan gempita
Dan tahu-tahu kini engkau telah menyambutnya
Justru dengan bangga dan suka cita
Engkau telah merentang jarak dari kami
Menarik garis batas untuk mengantarai kita
Hanya mereka yang mampu membeli air kemasan
Yang berhak meneguk jernih segar airmu
Hanya mereka yang bermobil dengan kaca tebal
Yang diizinkan menghirup dingin sejuk anginmu
Adakah arwah tujuh wali kini juga tengah mencemaskan
Marwah yang kian redup dari wajahmu
Kukhawatirkan selat makassar yang gemas
Akan loncat menerkam untuk membasuh busuk
Yang dilumurkan para pengurus dan wargamu yang durhaka
Atau gunung yang merentang menjulang akan meluncur runtuh
Untuk menutup aib yang kian karib dengan kisahmu
Telah terlalu larut kini untuk berdusta, kotaku.
Embun telah dibubuhkan langit purba
Anak-anak tanpa rumah meringkuk di trotoar
Janin dalam kantung pengaman terapung-apung di selokan
Seorang tukang becak melipat tubuhnya dalam sarung
Dan Bapak Tua Penyapu Jalan, bersiap membersihkanmu
Setelah menyeka kedua pelupuk matanya
(2009)
REPORTASE DARI MAL BARU
Pusat niaga telah berdiri tegak perkasa
Ia bahkan tega mengangkangi jalan raya
Pedestrian dan trotoar pun terbongkar
Jadi jalur parkir tempat taksi berjajar
Barisan pohonan habis hingga ke akar
Diganti tetiang lampion iklan berpijar
Yang bersinar menenung kala gelap jatuh
Namun di terang hari hanya membuta acuh
Tak ada kini guguran kembang runtuh
Tak dapat lagi jadi naungan teduh
Tak bisa pula digurati pesan cinta
Hendra & Dara: bersama selamanya
(2005)
SURAT CINTA UNTUK MAKASSAR
masih belum tidur, sayang?
ketika aku berjalan kaki
di sepanjang jalan ahmad yani
yang telah dibongkar trotoarnya
matamu yang nyalang menyorot-nyorot
bagai lampu menara penjara
sementara di wajahmu semut-semut besi berapi
merayap dan menderum mengepulkan asap dan debu
manisku, siapa namanya si walikota
yang telah berani menggunduli habis
pohon-pohon asam dan akasia di kedua alismu?
keisengan atau kebodohankah yang telah meringankan tangannya?
siapa namanya si pengusaha
yang dengan bebal meruntuhkan rumah dan gedung belandamu,
menggantinya dengan mal dan gudang
dan bahkan ingin mendirikan asrama di lapanganmu?
aku pergi tidak begitu lama
dan ketika kembali aku terperangah
melihat engkau begitu jauh berubah
ular-ular aspal melilit tubuhmu
mal dan markas orang bersenjata
tumbuh memenuhi dadamu
sementara anak-anakmu
memaparkan pusar mereka
dan memamerkan belahan bokong
bercintaan di pojok angkutan kota
dan betapa mencekam,
ketika mendadak disekelilingku
bermunculan pasar dan plasa
timbul dari lubuk bumi
bagaikan para siluman raksasa
nongol membelah perut ibunya
lalu tumbuh sebagai raksasa tambun
dengan perut buncit dan punggung membungkuk
yang bangun terhuyung-huyung
sembari meraung minta makan
dan para liliput mengalir
datang dari setiap sudut-sudut kota
memasuki mulut mereka yang menganga lebar
dan menebarkan bau aneh
aih, aih, aih, sedihnya sayang,
keningmu berkerut merut
dan matamu keruh berkabut
jadi engkau juga harus ikut menjual diri
demi dolar dan rupiah
demi catatan prestasi pejabat
menggaet dana investasi
demi komisi dan promosi
demi masa jabatan kedua kali
sementara aku justru merasa
lebih aman dan nyaman
dengan kesederhanaanmu yang dulu?
lihatlah, aku berjalan kaki di ahmad yani
dengan perasaan takut serta asing
setelah daeng-daeng becak
yang dahulu mangkal di sini
sembari minum jerigen ballo dan main domino
telah digusur pergi
jalananmu ini bukan untukku lagi
percintaan kita telah jadi mimpi
sejak trotoarmu dicungkil pepohonanmu dicukur
jalan-jalan lama diperlebar dan jalan-jalan baru dibuka
sementara pejalan kaki dibiarkan
dicincang tajamnya panas mentari
dilumuri debu dan polutan
diintai sambaran maut dari semut-semut besi berapi
yang melaju angkuh dan perkasa
masih belum tidur, sayang?
berapa butir penenang yang mesti kau tenggak lagi
sebelum cemas dan gegasmu dapat reda dalam alun tidur
tatapanmu kian jauh dan tak acuh
seperti papan-papan iklan
yang megah tinggi tak tersentuh
mengangkangi si gila yang tersedu-sedu
duduk mencangkung dibawahnya
kau mungkin bahkan tak peduli
bahwa aku telah kembali
dan kehilangan kamu
aku menangis,
manisku
(2002/03)
.....yang hadir mengisi di antara dua kesunyian--kelahiran dan kematian..... (An Indonesian poems corner ; the poet : Hendragunawan)
Wednesday, April 22, 2009
PENAHBISAN
Trilyunan tahun dalam hitunganmu
Telah berlalu, semenjak mahadaya itu menggeliat
Bergerak dan menari, menebarkan mineral kosmik
Yang berpusar tanpa henti untuk melahirkanmu,
Kesadaran diri insani yang hakikatnya adalah penyaksian:
Alastu, alastu, kami mengaku, segala ciptaan
Bukanlah kesiasiaan.
Dan hari ini engkau berdiri
terpukau oleh ufuk yang seolah tak terjangkau
geletar halus menjalari tubuhmu, menelusuri
sekujur sungai syaraf di tulang belakang
mengalirkan arus dari tulang ekor
meretas tembus rintangan cakra
untuk bermekaran di ubun-ubunmu
Sungguh, benih itu harus pecah menjadi mawar
Yang dasar haruslah menuju luhur
Dan kelam di lubuk itu mestilah melahirkan terang
Mahkota mawar cahaya cemerlang
Yang menghiasi kepalamu,
Wahai, Engkau, puncak segala ciptaan.
2009
Telah berlalu, semenjak mahadaya itu menggeliat
Bergerak dan menari, menebarkan mineral kosmik
Yang berpusar tanpa henti untuk melahirkanmu,
Kesadaran diri insani yang hakikatnya adalah penyaksian:
Alastu, alastu, kami mengaku, segala ciptaan
Bukanlah kesiasiaan.
Dan hari ini engkau berdiri
terpukau oleh ufuk yang seolah tak terjangkau
geletar halus menjalari tubuhmu, menelusuri
sekujur sungai syaraf di tulang belakang
mengalirkan arus dari tulang ekor
meretas tembus rintangan cakra
untuk bermekaran di ubun-ubunmu
Sungguh, benih itu harus pecah menjadi mawar
Yang dasar haruslah menuju luhur
Dan kelam di lubuk itu mestilah melahirkan terang
Mahkota mawar cahaya cemerlang
Yang menghiasi kepalamu,
Wahai, Engkau, puncak segala ciptaan.
2009
PENAHBISAN
Trilyunan tahun dalam hitunganmu
Telah berlalu, semenjak mahadaya itu menggeliat
Bergerak dan menari, menebarkan mineral kosmik
Yang berpusar tanpa henti untuk melahirkanmu,
Kesadaran diri insani yang hakikatnya adalah penyaksian:
Alastu, alastu, kami mengaku, segala ciptaan
Bukanlah kesiasiaan.
Dan hari ini engkau berdiri
terpukau oleh ufuk yang seolah tak terjangkau
geletar halus menjalari tubuhmu, menelusuri
sekujur sungai syaraf di tulang belakang
mengalirkan arus dari tulang ekor
meretas tembus rintangan cakra
untuk bermekaran di ubun-ubunmu
Sungguh, benih itu harus pecah menjadi mawar
Yang dasar haruslah menuju luhur
Dan kelam di lubuk itu mestilah melahirkan terang
Mahkota mawar cahaya cemerlang
Yang menghiasi kepalamu,
Wahai, Engkau, puncak segala ciptaan.
2009
Telah berlalu, semenjak mahadaya itu menggeliat
Bergerak dan menari, menebarkan mineral kosmik
Yang berpusar tanpa henti untuk melahirkanmu,
Kesadaran diri insani yang hakikatnya adalah penyaksian:
Alastu, alastu, kami mengaku, segala ciptaan
Bukanlah kesiasiaan.
Dan hari ini engkau berdiri
terpukau oleh ufuk yang seolah tak terjangkau
geletar halus menjalari tubuhmu, menelusuri
sekujur sungai syaraf di tulang belakang
mengalirkan arus dari tulang ekor
meretas tembus rintangan cakra
untuk bermekaran di ubun-ubunmu
Sungguh, benih itu harus pecah menjadi mawar
Yang dasar haruslah menuju luhur
Dan kelam di lubuk itu mestilah melahirkan terang
Mahkota mawar cahaya cemerlang
Yang menghiasi kepalamu,
Wahai, Engkau, puncak segala ciptaan.
2009
Sunday, March 22, 2009
DUDUK BERDUA DI RESTORAN

(foto: pribadi)
Begitu jauh dan sulitnya
Perjalanan untuk menemukanmu
Tersuruk dan terengah megap aku
Untuk mencapaimu nun di sana, di tepi meja
Percakapan hanya kesantunan yang gagap
Sedangkan sentuhan yang gugup
Tidak cukup mampu meyakinkanku bahwa aku
Dan kau memang tengah duduk bersama
Berapa hampir lagi aku sampai
padamu? Sungguh berliku dan menipu:
Piring dan sendok garpu, daftar menu
Dan bunga palsu, seperti bersepakat menyesatkanku
Sementara engkau kian tak terjangkau
Melipat tempat dan saat, melompat ke benua
Yang lain di utara, lalu meniti lengkung cahaya
Ke pelukan hantu pucat putih yang menenungkan lupa
Pandanganku berkunang, parasmu pupus membayang
Seolah cahaya lilin telah menghapus garis tepi pipi,
Lalu membaurkanmu ke udara yang berat. Aku tercekam
Pitam pada beri hitam keparat itu, yang mengedip genit
Tercengkeram manja, dalam belit erat jemari lentikmu
Tuesday, March 10, 2009
SYAIR PUJAAN BAGI SEEKOR CACING
dari semua mahluk yang ada
aku paling kagum kepada cacing
tubuhnya teramat sederhana
khusuk cuek terhadap sekeliling
anatominya minimal berkesan familiar dan praktis
tak punya tangan bercakar untuk merebut menjambak
tak punya gigi bertaring untuk menyeringai bengis
pun tak ada kaki bertaji untuk menginjak menyepak
ia tak punya gading atau cula yang runcing berkilat
tak punya tanduk kokoh untuk menyeruduk ngamuk
tak punya sengat tajam atau ekor yang menyabet sebat
ia bahkan tak punya tempurung perisai diri anti remuk
dan biarpun ia termasuk salah satu leluhur kita yang purba
dari udara senantiasa burung-burung jadi ancaman
di darat ia sering dimangsa ayam dan dicari manusia
sedang di dalam air diincar ikan-ikan
tetapi ia tetap melata perlahan lembut
gerakannya alangkah tenang anggun
membelah tanah menyusupi rerumput
berjuta tahun bekerja gemburkan kebun
ia tahu pasti dari lubang mana berasal
dan ke lubang mana mesti menuju
ia kenali rupa manusia setelah ajal
karena itu ia tak menderita minder malu
dari semua mahluk yang ada di dunia
aku paling kagum kepada cacing
tubuhnya teramat sederhana namun mulia
khusuk cuek namun bermanfaat bagi sekeliling
aku paling kagum kepada cacing
tubuhnya teramat sederhana
khusuk cuek terhadap sekeliling
anatominya minimal berkesan familiar dan praktis
tak punya tangan bercakar untuk merebut menjambak
tak punya gigi bertaring untuk menyeringai bengis
pun tak ada kaki bertaji untuk menginjak menyepak
ia tak punya gading atau cula yang runcing berkilat
tak punya tanduk kokoh untuk menyeruduk ngamuk
tak punya sengat tajam atau ekor yang menyabet sebat
ia bahkan tak punya tempurung perisai diri anti remuk
dan biarpun ia termasuk salah satu leluhur kita yang purba
dari udara senantiasa burung-burung jadi ancaman
di darat ia sering dimangsa ayam dan dicari manusia
sedang di dalam air diincar ikan-ikan
tetapi ia tetap melata perlahan lembut
gerakannya alangkah tenang anggun
membelah tanah menyusupi rerumput
berjuta tahun bekerja gemburkan kebun
ia tahu pasti dari lubang mana berasal
dan ke lubang mana mesti menuju
ia kenali rupa manusia setelah ajal
karena itu ia tak menderita minder malu
dari semua mahluk yang ada di dunia
aku paling kagum kepada cacing
tubuhnya teramat sederhana namun mulia
khusuk cuek namun bermanfaat bagi sekeliling
Monday, December 01, 2008
SAJAK-SAJAK MINI
PERTANYAAN BAGI SEBUTIR DEBU
Adakah engkau terasing sendiri dari Tuhan;
Ataukah sedang berpusing di dalam Tuhan?
KESIMPULAN TERAKHIR
alam raya, dimanakah intinya?
adam saya, dimanakah tepinya?
PENYERAHAN
telah kuserahkan kepadamu, sebuah telaga kata
seperti cermin kaca, tak kan kau jumpai lain wajah
TANTANGAN ADAM KEPADA SETAN
sanggupkah api membakar lempung musnah?
bahkan melaluinya lahirlah tembikar indah!
NYANYIAN ANGGUR
Anggur di dalam pialaku melimpah ruah
kepada cawan siapa harus kutumpah.
PACAR
Teduh tatapnya mengelus dukaku
Seulas senyumnya mengulum lukaku
(2008)
ANAK-BAPAK
Sekian lama rakus kumakan dari akarnya
Kini kubiarkan ia mencabuti bebuahku
(2008)
TRANSAKSI
Ambillah seluruhnya, kumiliki kau sepenuhnya
(2008)
TERSASAR DI HUTAN BAMBU
ke mana bulanku?
(2008)
RAHASIA TERDALAM YANG INGIN KUSAMPAIKAN KEPADAMU
(2008)
Adakah engkau terasing sendiri dari Tuhan;
Ataukah sedang berpusing di dalam Tuhan?
KESIMPULAN TERAKHIR
alam raya, dimanakah intinya?
adam saya, dimanakah tepinya?
PENYERAHAN
telah kuserahkan kepadamu, sebuah telaga kata
seperti cermin kaca, tak kan kau jumpai lain wajah
TANTANGAN ADAM KEPADA SETAN
sanggupkah api membakar lempung musnah?
bahkan melaluinya lahirlah tembikar indah!
NYANYIAN ANGGUR
Anggur di dalam pialaku melimpah ruah
kepada cawan siapa harus kutumpah.
PACAR
Teduh tatapnya mengelus dukaku
Seulas senyumnya mengulum lukaku
(2008)
ANAK-BAPAK
Sekian lama rakus kumakan dari akarnya
Kini kubiarkan ia mencabuti bebuahku
(2008)
TRANSAKSI
Ambillah seluruhnya, kumiliki kau sepenuhnya
(2008)
TERSASAR DI HUTAN BAMBU
ke mana bulanku?
(2008)
RAHASIA TERDALAM YANG INGIN KUSAMPAIKAN KEPADAMU
(2008)
Sunday, July 20, 2008
8 HAIKU
HAIKU BUNGA DI POT
Semakin kering tanahmu
Kian runcing
Merahmu
(2008)
HAIKU METROPOLITAN
Dalam kantung si pemabuk malam,
Sekeping bulan
Terguncang
Riang
(2008)
HAIKU SEUSAI HUJAN
Setelah hujan pergi
Berdenyut menggeliat lagi
Sungai mati
(2008)
HAIKU JALAN SUNYI
Di jalan yang jarang dilalui orang
Oleh tapak langkahku, berdesik terusik
guguran daun kering
(2008)
HAIKU HARUM PEREMPUAN
Diselundupkan angin malam
Lewat celah pintu : harum perempuan habis mandi
Lalu di jalan depan
(2008)
HAIKU MENJELANG HUJAN
Awan berarak perlahan
Sekawanan burung bergerak ke selatan—
Di manakah gerangan ia sekarang?
(2008)
HAIKU MENUNGGU SESEORANG
Setangan basah oleh air mata
Semoga kering segera ia
Sebelum engkau keburu datang
(2008)
HAIKU KASIH IBU
Meskipun tak sakit
Ibu turut makan
Bubur dimasakkannya untukku
(2008)
Semakin kering tanahmu
Kian runcing
Merahmu
(2008)
HAIKU METROPOLITAN
Dalam kantung si pemabuk malam,
Sekeping bulan
Terguncang
Riang
(2008)
HAIKU SEUSAI HUJAN
Setelah hujan pergi
Berdenyut menggeliat lagi
Sungai mati
(2008)
HAIKU JALAN SUNYI
Di jalan yang jarang dilalui orang
Oleh tapak langkahku, berdesik terusik
guguran daun kering
(2008)
HAIKU HARUM PEREMPUAN
Diselundupkan angin malam
Lewat celah pintu : harum perempuan habis mandi
Lalu di jalan depan
(2008)
HAIKU MENJELANG HUJAN
Awan berarak perlahan
Sekawanan burung bergerak ke selatan—
Di manakah gerangan ia sekarang?
(2008)
HAIKU MENUNGGU SESEORANG
Setangan basah oleh air mata
Semoga kering segera ia
Sebelum engkau keburu datang
(2008)
HAIKU KASIH IBU
Meskipun tak sakit
Ibu turut makan
Bubur dimasakkannya untukku
(2008)
Wednesday, February 13, 2008
A THEIST MANIFESTO—SATU SAJAK DIDAKTIS
(Inspirasi judul dari buku filsuf Perancis, Michael Onfray, ‘Atheist Manifesto: The Case Against Christianity, Judaism and Islam’, dan dari karya filsuf Inggris, Julian Baggini, ‘Atheism’. Paparan tentang atheisme-kuno di Yunani dan India dapat ditemui dalam buku R.C. Solomon dan K.M. Higgins ‘A Short History of Philosophy’, buku G.S. Kirk dan J.E. Raven ‘The Presocratic Philosophers’, dan K.M. Sen, ‘Hinduism’. Kisah cincin hilang dari khazanah sastra sufi dan kisah Hamam dan Ibrahim serta beberapa baris lainnya dari Al-Quran dan hadits Nabi SAWAW)
I.
Pahami kisah lama ini: seorang yang kehilangan
Memilih mencari cincinnya di sekitar lampu jalan
Ketika ditanya di mana gerangan ia hilang
Jawabnya: di sana—namun di sini lebih terang!
Berapa tinggi julang langit telah engkau daki
Berapa jauh lebat belantara telah kau tempuhi
Berapa dalam samudera engkau pernah menyelam
Bekal tahu secuil kau sangkal Sang Alim Pencipta Alam
Sungguh nyata insan lemah dan tergesa-gesa
Namun malang ia juga pembangkang dan pembangga
Meski gerbang kenabian telah lama sempurna dan ditutup
Dengan Tuhan langsung masih menuntut untuk menatap
Seperti Hamam yang mendirikan menara tinggi
Terhadap Tuhannya Musa ia ingin mencari bukti
Padahal yang buta bukanlah mata di kepala
Tetapi yang mati adalah hati dalam dada
Dan bukankah sudah digariskan dalam firman
Si angkuh budak nafsu tak akan pernah beriman
Meskipun gunung terbelah dan mayat bangun kembali
Biarpun malaikat telah dilihatnya dengan mata sendiri
II.
Tuhan tidak dapat dijangkau pandangan
Tak dapat diliputi pengetahuan insan
Bahkan terhadap surga dan ruh mahluk-Nya
Insan cuma diberi amsalan, tahu sedikit saja
Karenanya nabi wahyu kitab suci diturunkan
Tak cukup filsuf, ilmuwan atau seniman
Akal dapat menerima keterangan adanya
Tidak menemukan dan membuktikan adanya
Karena apa yang dapat dibuktikan akal
Tentu dapat pula diingkari akal
Apa yang hari ini dianggap akal muskil
Esok hari mungkin terbukti bukan hal ganjil
Sejak masa pra-Sokrates serta para penulis Veda
Debat tengkarnya tetap saja tak jauh berbeda
Yang percaya mengatakan Ia Ada dan Satu
Yang kafir mengatakan itu semata ilusi semu
Hidup insan singkat dan hanya sekali
Dugaan bergeser jangan jadi pijakan kaki
Mata akal hanya mampu kenali yang zahir
Sedang nafsu pun terus membayang menabir
III.
Jika engkau alergi dan benci akan religi
Atas dirimu sendiri tilik periksalah lagi
Siapakah yang engkau anti sesungguhnya
Gagasan tuhan, lembaga agama atau penganutnya
Lalu selidiki dari mana datangnya antipati
Jangan sekedar mengikuti tren masa kini
Adakah ia berasal dari kedangkalan akalmu
Ataukah semata bujukan nakal hasrat nafsu
Pahami kisah Ibrahim Alayhissalama tuk teladan
Setelah dengan mata dan akal mencari tuhan
Akhirnya kepada kaumnya iapun berkata:
Tanpa tuntunan Tuhan, tentu aku telah celaka!
Bila engkau memandang keindahan
Dari segala yang adalah ciptaan
Alangkah tersianya bila kau tak teringat
Kepada kekuasaan Sang Pembuat
Namun mengandalkan semata akal
Beserta tangkapan indra yang dangkal
Seraya angkuh menolak keterangan wahyu
Akan mengandaskanmu pada sekedar haru
Bila tanpa wahyu turun mengajar
Maka insan akan terus sesat terputar
Dalam lingkar sangka dan sangkal
Tinggal tak tahu hingga tiba saat ajal
IV.
Dalam hadits telah disampaikan nabi
Kiamat tak akan sampai terjadi
Selama masih ada meskipun seorang saja
Menyebut nama Tuhan yakin percaya
Inilah berita gembira dan juga kabar duka:
Ingatan pada Tuhan mengulur umur semesta
Namun manusia terburuk pada masa akhir
Akan ditinggal jauh terpuruk ke lubuk nadir
Agama akan dipandang janggal
Segala ritual pasti bakal ditinggal
Kakbah kelak rebah, mushaf terhapus
Ibarat yang tersisa cuma kerak hangus
Mereka yang bermegah menuruti birahi
Kepada yang lain tak pernah peduli
Dan yang merasa risih mendengar kata Tuhan
Disebut dalam percakapan yang sopan
Dengan demikian cukuplah alasan
Bagi Tuhan mengakhirkan semesta ciptaan
Bila masih terdapat iman setitik pasir cuma
Tak akan pernah rela Ia tamatkan alam raya
Karenanya diminta setiap insan beriman
Menjaga diri keluarga dan keturunan
Sebelum nyawa dicabut tanyailah anak-anakmu
Siapa yang akan kalian sembah sepeninggalku
Februari/Maret 2008
I.
Pahami kisah lama ini: seorang yang kehilangan
Memilih mencari cincinnya di sekitar lampu jalan
Ketika ditanya di mana gerangan ia hilang
Jawabnya: di sana—namun di sini lebih terang!
Berapa tinggi julang langit telah engkau daki
Berapa jauh lebat belantara telah kau tempuhi
Berapa dalam samudera engkau pernah menyelam
Bekal tahu secuil kau sangkal Sang Alim Pencipta Alam
Sungguh nyata insan lemah dan tergesa-gesa
Namun malang ia juga pembangkang dan pembangga
Meski gerbang kenabian telah lama sempurna dan ditutup
Dengan Tuhan langsung masih menuntut untuk menatap
Seperti Hamam yang mendirikan menara tinggi
Terhadap Tuhannya Musa ia ingin mencari bukti
Padahal yang buta bukanlah mata di kepala
Tetapi yang mati adalah hati dalam dada
Dan bukankah sudah digariskan dalam firman
Si angkuh budak nafsu tak akan pernah beriman
Meskipun gunung terbelah dan mayat bangun kembali
Biarpun malaikat telah dilihatnya dengan mata sendiri
II.
Tuhan tidak dapat dijangkau pandangan
Tak dapat diliputi pengetahuan insan
Bahkan terhadap surga dan ruh mahluk-Nya
Insan cuma diberi amsalan, tahu sedikit saja
Karenanya nabi wahyu kitab suci diturunkan
Tak cukup filsuf, ilmuwan atau seniman
Akal dapat menerima keterangan adanya
Tidak menemukan dan membuktikan adanya
Karena apa yang dapat dibuktikan akal
Tentu dapat pula diingkari akal
Apa yang hari ini dianggap akal muskil
Esok hari mungkin terbukti bukan hal ganjil
Sejak masa pra-Sokrates serta para penulis Veda
Debat tengkarnya tetap saja tak jauh berbeda
Yang percaya mengatakan Ia Ada dan Satu
Yang kafir mengatakan itu semata ilusi semu
Hidup insan singkat dan hanya sekali
Dugaan bergeser jangan jadi pijakan kaki
Mata akal hanya mampu kenali yang zahir
Sedang nafsu pun terus membayang menabir
III.
Jika engkau alergi dan benci akan religi
Atas dirimu sendiri tilik periksalah lagi
Siapakah yang engkau anti sesungguhnya
Gagasan tuhan, lembaga agama atau penganutnya
Lalu selidiki dari mana datangnya antipati
Jangan sekedar mengikuti tren masa kini
Adakah ia berasal dari kedangkalan akalmu
Ataukah semata bujukan nakal hasrat nafsu
Pahami kisah Ibrahim Alayhissalama tuk teladan
Setelah dengan mata dan akal mencari tuhan
Akhirnya kepada kaumnya iapun berkata:
Tanpa tuntunan Tuhan, tentu aku telah celaka!
Bila engkau memandang keindahan
Dari segala yang adalah ciptaan
Alangkah tersianya bila kau tak teringat
Kepada kekuasaan Sang Pembuat
Namun mengandalkan semata akal
Beserta tangkapan indra yang dangkal
Seraya angkuh menolak keterangan wahyu
Akan mengandaskanmu pada sekedar haru
Bila tanpa wahyu turun mengajar
Maka insan akan terus sesat terputar
Dalam lingkar sangka dan sangkal
Tinggal tak tahu hingga tiba saat ajal
IV.
Dalam hadits telah disampaikan nabi
Kiamat tak akan sampai terjadi
Selama masih ada meskipun seorang saja
Menyebut nama Tuhan yakin percaya
Inilah berita gembira dan juga kabar duka:
Ingatan pada Tuhan mengulur umur semesta
Namun manusia terburuk pada masa akhir
Akan ditinggal jauh terpuruk ke lubuk nadir
Agama akan dipandang janggal
Segala ritual pasti bakal ditinggal
Kakbah kelak rebah, mushaf terhapus
Ibarat yang tersisa cuma kerak hangus
Mereka yang bermegah menuruti birahi
Kepada yang lain tak pernah peduli
Dan yang merasa risih mendengar kata Tuhan
Disebut dalam percakapan yang sopan
Dengan demikian cukuplah alasan
Bagi Tuhan mengakhirkan semesta ciptaan
Bila masih terdapat iman setitik pasir cuma
Tak akan pernah rela Ia tamatkan alam raya
Karenanya diminta setiap insan beriman
Menjaga diri keluarga dan keturunan
Sebelum nyawa dicabut tanyailah anak-anakmu
Siapa yang akan kalian sembah sepeninggalku
Februari/Maret 2008
Tuesday, February 05, 2008
RENCANA MASA DEPAN
Bila tiba suatu saat
Aku harus terbujur sekarat
Relakan aku menikmati
Khidmatnya mati
Jauhkan sentuhan gawat
Dari dokter juru rawat
Dengan segala bius suntik
Juga selang sentak listrik
Biar bisa segera beres
Baris sisa nasib digores
Jangan lain turut campur
Ingin ngatur agar mundur
Tak tahukah engkau
Tiap peralihan senantiasa memukau
Seperti fajar senja mengatasi
Indah siang malam hari
Dan sebagai mantan seniman
Itulah kelak kali penghabisan
Aku ingin jenak sendiri
Menikmati Sunyi
Februari 2008
Aku harus terbujur sekarat
Relakan aku menikmati
Khidmatnya mati
Jauhkan sentuhan gawat
Dari dokter juru rawat
Dengan segala bius suntik
Juga selang sentak listrik
Biar bisa segera beres
Baris sisa nasib digores
Jangan lain turut campur
Ingin ngatur agar mundur
Tak tahukah engkau
Tiap peralihan senantiasa memukau
Seperti fajar senja mengatasi
Indah siang malam hari
Dan sebagai mantan seniman
Itulah kelak kali penghabisan
Aku ingin jenak sendiri
Menikmati Sunyi
Februari 2008
ADAKAH ITU
Adakah itu sinar bulan
Atau pantulan paras kekasihku berbinar berkilauan?
Adakah ini semerbak malam musim semi
Atau harum tubuh kekasihku menyembur wangi?
Adakah itu merdu nyanyian burung balam
Atau suara lembut kekasihku menyebut salam?
Adakah semua ini semata semu impian –
Karena kurasakan kekasihku tengah perlahan menghampiri!
Februari 2008
Atau pantulan paras kekasihku berbinar berkilauan?
Adakah ini semerbak malam musim semi
Atau harum tubuh kekasihku menyembur wangi?
Adakah itu merdu nyanyian burung balam
Atau suara lembut kekasihku menyebut salam?
Adakah semua ini semata semu impian –
Karena kurasakan kekasihku tengah perlahan menghampiri!
Februari 2008
Friday, February 01, 2008
SAJAK PENGANTAR MINUM KOPI
Di jendela sehampar kota
Tadi gempita gemerlap
Kini terkapar perlahan
Senyap dan lelap
Di kedai tua
ada dua tiga tamu
Tapi ia sendiri saja
Di sudut itu
Matanya lelah
Ditudung tepi topi
Seolah ingin
Berlindung sembunyi
Dengan musik
paling murung
Dan cahaya
paling suram
Dinikmatinya
secangkir kopi
Dengan teguk kecil
dan sepi
Yang pahit
seperti hidupnya
Yang kelam
seperti mautnya
Namun sebelum
terminum ampas
Ingin ia hirup
sedalam napas
Februari 2008
Tadi gempita gemerlap
Kini terkapar perlahan
Senyap dan lelap
Di kedai tua
ada dua tiga tamu
Tapi ia sendiri saja
Di sudut itu
Matanya lelah
Ditudung tepi topi
Seolah ingin
Berlindung sembunyi
Dengan musik
paling murung
Dan cahaya
paling suram
Dinikmatinya
secangkir kopi
Dengan teguk kecil
dan sepi
Yang pahit
seperti hidupnya
Yang kelam
seperti mautnya
Namun sebelum
terminum ampas
Ingin ia hirup
sedalam napas
Februari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
Materi promosi
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...
-
ODE KEPADA POHON FLAMBOYAN Pohon flamboyan di tepi sungai coklat di bawah jembatan itu tak henti-hentinya kupuja. Ketika musim hujan deras ...
-
DURIAN PROFESSOR ingin mudah Menikmati durian bermutu global? Dagingnya tebal, kering dan cerah Manis dan harum tak kalah Ingin durian Sian...